SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Sabtu, 27 Desember 2008

PESAN AKHIR TAHUN UNTUK PARA ORANG TUA TERCINTA


Suatu ketika ada seorang ibu yang memili anak berusia 16 tahun datang kepada saya, untuk mengeluhkan prilaku anaknnya katanya sangat bermasalah. Bayangkan katanya; anak saya ini sudah tidak bisa di atur lagi, bahkan jika dia bicara ke saya, sering memaki-maki dengan perkataan yang kotor, dan bahkan pernah beberapa kali dia memukul saya...., Sambil menagis si ibu ini terus melanjutkan ceritanya... Selain itu saya sama sekolah juga sering di panggil, karena anak ini sering memukul atau bahkan berkelahi disekolah.

Aduh saya sepertinya sudah tobat dengan perilaku anak saya ini....., saya tidak tahu lagi harus bagaimana....? rasanya saya sudah putus asa....., setiap kali saya mengadukan hal ini pada suami, malah yang saya dapat adalah kemarahan tambahan dari suami saya...

Sungguh pada akhirnya saya juga jadi bingung harus mulai dari mana untuk bisa membantu ibu ini......, yang pasti ini semua merupakan sebuah proses panjang dari suatu kesalah pengasuhan dan pendidikan dari kedua orang tuanya.

Para orang tua dan guru yang berbahagia namun kali ini saya tidak ingin membahas tentang bagaimana cara memperbaiki perilaku anak ini, melainkan, saya lebih ingin untuk mengajak para orang tua untuk tahu bagaimana mencegah agar hal yang sama tidak terjadi pada anak kita dirumah.

Para orang tua yang berbahagia, Tahukah kita bahwa kita hanya punya kesempatan mendidik anak kita untuk menjadi anak baik sangat terbatas sekali. Yakni sejak usia mereka balita hingga kira-kira di usia sekolah SMP akhir. Setelah itu kebanyakan anak akan sangat sulit sekali di ubah menjadi baik. Kecuali dengan cara-cara tertentu yang agak sedikit ekstrim.

Namun demikian sesungguhnya tiap orang tua dapat mencegahnya sebelum ini terjadi; yakni dengan menggunakan kesempatan emas mendidik anak teserbut.

Menurut penelitian Ibu Dawna Markova, diketahui bahwa prilaku anak itu mulai dibentuk sejak usia Balita; yakni mulai fase Ego Sentris dimana anak merasa paling benar, paling penting sendiri, tidak bisa memahami hak dan keberadaan orang lain.
Diharapkan pada fase ini peran orang tua adalah untuk mengajari anaknya untuk bisa berbagi dan memahami hak orang lain.

Kemudian berlanjut pada fase berikutnya yang di sebut sebagai gank age awal yakni usia SD yang di tandai dengan keinginan anak untuk di terima oleh orang lain atau kelompoknya; dengan cara meniru-niru prilaku teman-teman di kelompoknya. Pada fase ini peran orang tua di harapkan dapat mengajak anak berdiskusi mengenai nilai-nilai baik dan buruk dari sebuah prilaku yang ditiru oleh anaknya sampai ia paham betul. Tentunya tanpa harus memarahi anak, karena pada fase ini anak sering kali tidak tahu kalau yang ditirunya itu buruk, karena mereka memang belum memiliki acuan tentang baik dan buruk.

Setelah itu ia fasenya akan beranjak memasuki usia Gank Age Tengah pada usia SMP. Pada fase ini biasanya seorang anak tidak hanya masih meniru budaya kelompoknya tapi bahkan mulai tumbuh keinginan untuk tampil beda agar mendapat perhatian dari anggota kelompoknya atau orang-orang di sekitarnya; oleh karena itu anak-anak SMP kita yang tidak terkelola mulai menujukkan prilaku-prilaku seperti mengubah model rambut agar tampak agak nyentrik, kemudian menggunakan gelang, anting atau mulai mencoba merokok, tawuran dsbnya sampai yang terparah adalah perbuatan kriminal dan narkoba. Ini semua pada awalnya hanya dengan tujuan untuk menonjolkan diri di depan teman-temannya untuk mencari-cari perhatian namun pada akhirnya justru malah ke bablasan.

Pada fase ini orang tua dan guru diharapkan dapat membantu anak untuk menemukan keunggulan alaminya, agar ia bisa mendapat perhatian dari hal tersebut; seperti misalanya anak yang kuat di sport di dorong untuk masuk kursus/club sport, bagi anak yang suka tampil bicara berikan kesemptan untuk mengikuti lomba-lomba puisi, pidato,debat, untuk anak yang suka kekerasan dimasukkan ke klub bela diri dsb. Jadi mereka tahu apa yang menjadi keunggulan alami yang bisa dipamerkan pada kelompoknya untuk mendapatkan perhatian. Tidak harus mencari-cari yang pada akhirnya sering menjerumuskan mereka ke prilaku-prilaku terlarang.

Dan apa bila masa SMP ini tidak berhasil kita kelola dengan baik prilaku anak kita maka setelah itu akan sulit untuk mengubahnya. Kenapa....? karena setelah itu dia akan memasuki fase identitas; yakni sebuah fase penetapan nilai dan konsep diri seorang anak. Jika dia menganggap hal negatif seperti kebut-kebutan adalah hal yang oke bagi dirinya; maka dia akan mengakuinya itu sebagai hal baik, dan akan sulit bagi kita untuk mengubahnya..

Jadi sekali lagi mari kita kawal masa-masa perkembangan anak kita mulai dari BALITA hingga menjelang SMA. Jika anda berhasil melakukannya maka selamatlah anak kita; dan anda mulai bisa melepas dia untuk berpisah melanjutkan studinya di perguruan tinggi dengan relatif aman. Namun jika tidak dia akan cenderung terus membuat masalah dimanapun dia berada.

Bagaimana cara mencegahnya..? anda bisa belajar dari banyak hal,. terserah pada anda.... dan salah satu yang kami tawarkan adalah Program Talkshow Pendidikan Keluarga setiap sabtu pagi jam 10.00 -12.00 di radio Smart FM 95.9 Jakarta diulang pada Minggu Malam jam 19.00-21.00. Sebuah cara yang....murah dan mudah untuk belajar mendidik anak-anak kita secara tepat.

Pada kesempatan yang indah ini kami ingin mengucapkan:

"SELAMAT NATAL & TAHUN BARU MASEHI 2009 DAN SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1430"


Semoga ditahun mendatang kita dapat menjadi orang tua yang lebih baik lagi bagi anak-anak kita tercinta.

Mari segera bergabung bersama kami untuk mewujudkan mimpi kita Membangun Indonesia yang kuat melalui Keluarga.

Kalau bukan kita siapa lagi..? Kalau bukan sekarang Kapan Lagi..?

Salam Penuh Cinta Kasih,
Ayah Edy & Management

PERSEMBAHAN UNTUK PARA IBU DI TANAH AIR


Para orang tua dan guru yang berbahagia, untuk menyambut hari Ibu 22 Desember 2008, Ayah Edy baru saja meluncurkan buku ke-2 yang berjudul "MENDIDIK ANAK ZAMAN SEKARANG TERNYATA MUDAH LHO..." (asalkan tahu caranya) di terbitkan oleh Tangga Pustaka.

Buku ini akan sangat membantu para orang tua dan guru dalam mendidik anak Zaman Sekarang, yang sering kita rasakan lebih sulit di didik. Dan dapat diperoleh di Toko-Toko buku di kota anda.

Buku ini juga sekaligus sebagai lanjutan dari buku ke-1 yang berjudul "Ayah Edy, Mengapa anak saya sulit di atur dan suka malawan". Yang berisikan 37 kebiasaan utama orang tua yang menyebabkan anaknya sulit di atur dan suka melawan.

Kedua buku ini menjawab melalui langkah praktis bagaimana kita mengubah prilaku anak yang bermasalah, melalui perubahan prilaku orang tuanya. Sebagaimana ucapan Nanny Lilian Spelling dari Nanny 911 yang mengatakan bahwa anak yang bermasalah itu bukan bawaan lahir, melainkan dibentuk oleh orang tua dan lingkungannya.

Buku ini merupakan sarana bagi kita orang tua untuk belajar tentang ilmu cara mendidik anak yang tepat. Karena hampir semua profesi ada sekolahnya, namun sayangnya justru profesi untuk menjadi orang tualah yang belum ada sekolahnya. Padahal kemampuan dan keberhasilan orang tua dalam mendidik anak menjadi kunci utama majunya suatu bangsa.

Buku ini juga menjadi bagian dari program "INDONESIAN STRONG FROM HOME" - MEMBANGUN INDONESIA YANG KUAT DARI KELUARGA.

Mari kita bangun Indonesia yang kuat melalui anak-anak kita tercinta ! Kalau bukan kita siapa lagi..? kalau bukan sekarang kapan lagi...?

Salam Hangat,
Management Ayah Edy

SELAMAT HARI IBU 22 DESEMBER 2008


Si Budi adalah anak yang kebetulan terlahir cacad, satu dari dua telinganya tidak memiliki daun telinga. Pada saat usianya mulai menginjak lima tahun, Budi kecil sering sekali di ejek oleh teman-temannya. Hingga Budi yang tadinya adalah anak periang belakangan ini menjadi anak yang diam, pemurung, dan cenderung lebih suka menyendiri. Kedua orang tua Budi begitu sedih melihat hal ini terjadi pada anaknya. Ibunya yang begitu sayang padanya, kerap kali selalu memotivasi si Kecil Budi untuk tidak malu dan rendah diri akan kekurangannya tersebut. Namun usaha demi usaha yang dilakukan orang tuanya sepertinya sia-sia belaka. Dari hari ke hari Budi semakin tidak mengurung diri dan bertemu dengan teman-temannya.

Sampailah suatu ketika orang tuanya mengabari bahwa ada seorang dari surga yang akan membantu Budi untuk memperbaiki daun telinganya melalui proses operasi pencangkokan telinga... Budi kecil sangat bahagia sekali...mendengar berita itu meskipun dalam hati ia bertanya-tanya siapa gerangan orang ini dan apa bisa telinganya di cangkok menjadi bagus seperti telinga yang satunya lagi.

Singkat cerita operasi itupun berjalan lancar dan sukses. Kini Budi memiliki dua telinga yang normal seperti anak-anak lainnya. Dan tentu saja sejak saat itu Budi kembali menjadi anak yang periang dan kembali aktif seperti sedia kala. Akan tetapi didalam hati Budi ada satu pertanyaan yang belum terjawab. Siapakah Gerangan orang dari Surga tersebut yang telah begitu mulia mau mencangkokan telinga bagi dirinya. Namun setiap kali hal ini ditanyakan pada kedua orang tuanya, Budi selalu mendapat jawaban “Sayang kelak kamu akan tahu dengan sendirinya siapa orang itu.

Sampailah Budi kini sudah menjadi orang Dewasa yang sudah bekerja di luar daerah dan tinggal jauh dari kedua orang tuanya.

Suatu ketika Budi begitu kaget mendapat berita bahwa Ibunya dalam kondisi sakit keras dan Kritis. Segera saja Budi memutuskan untuk mengambil cuti dan segera menengok ibunya. Sayang sekali begitu Budi tiba dirumahnya Ibunya telah pergi mendahului untuk berpulang pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Budi bagitu sedih, kaget dan yang membuatnya lebih terpukul lagi manakala ia melihat Ibunya sedang dimandikan, dan menemukan bahwa salah satu daun telinga ibunya tidak ada....., Budi tidak pernah menyangka bahwa jika selama ini ibunya selalu memanjangkan rambut adalah untuk menutupi salah satu telinganya yang telah ia potong untuk di cangkokan pada dirinya. Budi mulai menitikkan Air Mata... betapa ia tidak pernah mengetahui bahwa orang yang datang dari Surga itu ternyata adalah ibunya sendiri dan kini tanpa sepengetahuannya pula orang tersebut telah kembali lagi ke Surga tanpa Budi berada disampingnya.

Para orang tua yang berbahagia....... sadarkah kita bahwa sesungguhnya begitu besar cinta seorang ibu pada anaknya....apapun rela ia korbankan demi anaknya tercinta....Ibu kita tidak pernah meminta apun sebagai imbalannya. Tapi mengapa terkadang hanya untuk mendengarkan atau mengikuti nasehatnya saja kita begitu sulitnya, meskipun sesungguhnya nasehat-nasehat itu hanya untuk kebaikan hidup kita dan sama sekali bukan untuk kebaikan ibu kita....

Jumat, 28 November 2008

Selamat Hari Guru Indonesia



KAMI PARA GURU MENGUCAPKAN TERIMAKASIH YANG TAK TERHINGGA KEPADA PARA ORANG TUA YANG TELAH DENGAN BANGGA MENGIJINKAN DAN MENDUKUNG ANAKNYA UNTUK MENJADI SEORANG GURU..!
SEHINGGA KAMI PUN MERASA BAHAGIA DAN BANGGA BERPROFESI SEBAGAI SEORANG GURU. KARENA KAMI MEMANG TELAH MEMILIH UNTUK MENJADI GURU DAN BUKANNYA TERPAKSA MENJADI GURU.

KARENA KAMI SADAR NASIB BANGSA INI ADA DI TANGAN GENERASI PENERUSNYA, DAN NASIB GENERASI PENERUS BANGSA ADA DI TANGAN KAMI PARA GURU.

SEMOGA TUHAN SELALU MEMBERIKAN KEKUATAN PADA KAMI AGAR BISA MENJADI TELADAN BAGI ANAK-ANAK KAMI DI SEKOLAH JUGA DIRUMAH. DAN SEMOGA AKAN LEBIH BANYAK LAGI PARA ORANG TUA YANG MENGIJINKAN DAN BANGGA ANAKNYA MENJADI SEORANG GURU.


SALAM BAHAGIA
DARI SEORANG GURU
UNTUK SELURUH GURU DI PELOSOK TANAH AIR.

Pesan Tuhan Melalui Air


Para orang tua dan guru yang saya cintai..... Pernahkah pada saat kita sedang emosi membentak anak kita...? atau pernahkan anda sempat berfikir atau bahkan terucap kata-kata yang negatif pada anak kita seperti; Bodoh, Malas, Nakal, dan sejenisnya...?

Jika ya.... itu wajar..karena kita juga manusia... itu kata sebuah cuplikan lagu yang cukup terkenal baru-baru ini...

Hanya saja mulai saat ini kita mungkin perlu lebih berhati-hati lagi dalam ucapan dan tindakan terhadap anak-anak kita; karena setiap ucapan kita itu ternyata direspon langsung oleh anak kita dan dapat menjadi bagian dari doa dan kebenaran.


Para orang tua dan guru yang berbahagia....
Begitulah pesan tersembunyi yang disampaikan oleh Masaru Emoto sorang peneliti Air, dari negeri sakura, yang hasil penelitiannya dituangkan dalam sebuah Artikel di salah satu Web Sitenya yang berjudul The Hidden Message in Water.

Masaru Emoto adalah orang ilmuan luar biasa yang telah berhasil menemukan bahwa sesungguhnya Air dapat bereaksi terhadap ucapan dan tulisan sesuai dengan isi ucapan atau tulisannya.

Melalui lensa mikroskop khusus yang diciptakannya, kita bisa melihat bahwa apa bila kita mengucapkan sesuatu atau menuliskan sesuatu di dekat air maka melalui lensa itu dapat dilihat air tersebut berubah, membentuk gambar sesuai dengan kata atau tulisan yang kita buat. Dan yang menarik adalah hasilnya tetap sama meskipun diucapkan dalam berbagai bahasa.

Apa bila kita mengucapkan terima kasih atau syukur maka air tersebut akan berubah membentuk kristal-kristal kecil yang demikian indahnya seindah kristal yang terbuat dari berlian; sementara apa bila kita ucapkan kata-kata negatif seperti “kamu bodoh!” maka air tersebut dibawah lensa mikroskop akan berubah membentuk gambar yang buruk dan tak beraturan.

Luar Biasa...! Sungguh suatu usaha keras yang tidak sia-sia, meskipun Masaru Emoto memerlukan waktu lebih dari 20 tahun untuk menemukannya. Dan.berkat hasil temuannya ini kini Masaru Emoto telah di undang untuk berbicara ke berbagai negara didunia.

Smart Listner...Ada sesuatu yang penting yang perlu diketahui oleh kita para orang tua tentang fakta-fakta yang berhasil ditemukan oleh Masaru Emoto berhubungan dengan kodrat kita dan anak-anak kita melalui air ini, mari kita simak pemaparannya.

Sesungguhnya apa yang saya temukan itu adalah sebuah keajaiban; sepertinya melalui air Tuhan ingin mengirimkan pesan-pesan tersembunyi kepada kita seluruh manusia.

Bayangkan bahwa kita telah mendapatkan bukti secara ilmiah bahwa air bisa merespon hal-hal yang positif ataupun negatif yang diterimanya; baik melalui kata-kata, tulisan, perlakuan dan pikiran. Jadi jelas-jelas bahwa semua itu; baik ucapan, tulisan, perlakuan dan pikiran akan direspon langsung oleh tubuh kita dan tubuh setiap orang yang menerimanya..

Saya juga telah menemukan fakta bahwa rata-rata 70% tubuh manusia terdiri atas air.

Mari kita lihat lebih dalam lagi; Ketika kita mulai hidup sebagai Janin, 99%nya adalah air, dan pada saat dilahirkan kira-kira 90% dari tubuh kita adalah air, ketika kita mencapai usia dewasa kira-kira 70% dari tubuh kita terdiri dari air sampai menjelang ajal kemungkinan kita masih memiliki 50% kandungan air dalam tubuh. Jadi dapat kita simpulkan bahwa kita adalah mahluk yang sebagian besar terbuat dari air.

Ketika yang melihat kenyataan ini dan mengaitkan dengan hasil temuan saya; maka saya mulai melihat kaitan dan bukti ilmiah; mengenai bagaimana prilaku seseorang itu bisa terbangun. Dan kini mulai terkuak sudah awal sebuah jawaban dari pertanyaan, mengapa dunia ini memiliki lebih sedikit orang-orang yang berwatak dan berprilaku positif..?, dan semoga temuan saya ini akan bisa membuka pintu hati banyak orang diseluruh dunia.

Smart Listner... sungguh sebuah pemaparan yang luar biasa...., Secara implisit Masaru Emoto ingin mengajak kita untuk mengevaluasi diri apakah selama ini kita lebih banyak mengucapkan dan memikirkan sesuatu yang positif atau sebaliknya, karena pada akhirnya secara kolektif itu akan sangat menentukan komposisi prilaku umat manusia didunia ini.

Secara spesifik; Masaru Emoto juga mengingatkan kepada kita; bahwa berdasarkan komposisi tubuh; pada usia dini, manusia jauh lebih banyak memiliki kandungan air bahkan hingga mencapai 90%. Itu berarti respon anak-anak terhadap ucapan, pikiran dan tindakan negatif yang diterimanya jauh lebih besar mempengaruhi dirinya dalam membangun konsep diri yang positif.

Jadi apabila kita menginginkan anak-anak kita kelak tumbuh menjadi baik dan bahagia, maka selalu penuhilah kehidupannya dengan kasih sayang, cinta dan rasa syukur; karena kristal-kristal air yang paling indah dan sempurna, muncul dari air yang di beri ucapan Sayang, Cinta dan Syukur...... Begitulah pesan yang sangat dalam dan menyentuh dari Masaru Emoto untuk kita para orang tua diseluruh dunia.

Para orang tua yang berbahagia...
Mari kita hentikan segala ucapan dan pikiran negatif pada anak-anak kita, dan mulai hari ini, mari kita didik dan kita besarkan anak-anak kita dengan segenap cinta kasih dan rasa syukur atas segala kelebihan dan kekurangannya.

Minggu, 23 November 2008

PERHATIAN...!


Bagi para orang tua yang tidak sempat mendengar talkshow Ayah pada hari Sabtu pagi, maka JANGAN LUPA, talkshow akan di ulang kembali pada HARI MINGGU MALAM, Pukul 19.00-21.00 WIB. Hanya di Radio Smart FM 95.9 JAKARTA.

Kabarkan berita baik ini segera kepada rekan-rekan dan kerabat terdekat kita. Agar kita bisa membangun Indonesia yang kuat dari Keluarga, secara bersama-sama.

Let's Make Indonesian Strong from Home !


Kalau bukan kita siapa lagi?! Kalau bukan sekarang kapan lagi..?!

Jumat, 14 November 2008

Sekilas mengenai HOME SCHOOLING



Suatu ketika saya pernah ditanya tentang Home Schooling; Lalu saya jawab Home schooling artinya Melakukan aktivitas Pembelajaran dirumah, tapi home schooling bukan berarti memindahkan kurikulum sekolah ke rumah. Home schooling juga merupakan pendidikan alternatif yang terjangkau oleh semua kalangan, memberikan kemerdekaan untuk memilih model dan waktu pembelajaran yang cocok bagi anak. Kurikulumnya bisa dibuat sesuai kebutuhan dan tujuan akhir pembelajaran bagi anak.

Dan berita baiknya adalah Home Schooling sudah mendapat restu dari pemerintah dan kalau tidak salah Kak Seto adalah sebagai ketuanya assosiasi Home Schooling di Indonesia.

Sebenarnya home schooling bukanlah barang baru, kalaupun mungkin masih barang baru di negeri kita namun di dunia sudah mulai dikenal lebih dari 20 tahun yang lalu. HS awalnya munculnya sekitar tahun 80an di Eropa dan Amerika, Home schooling muncul sebagai bentuk gejolak dan kegundahan orang tua terdidik terhadap kelayakan sekolah-sekolah yang saat itu. Karena dunia pendidikan saat itu dinilai lebih mementingkan nilai-nilai dan angka-angka semata ketimbang mendidik seorang anak secara utuh, yakni keseimbangan antara unsur intelektual, mental, dan moral/karakter..

Para orang tua yang peduli pendidikan kala itu menilai bahwa sekolah yang tidak peduli akan pendidikan Moral dan Karakter anak hanya akan menjadi tempat persemaian yang subur bagi penyebaran berbagai penyakit moral. Jika tidak salah sejak tahun 2000 di negara-negara maju Home Schooling sudah secara resmi diaku oleh Pemerintah masing-masing.

Lalu apakah home schooling ini efektif dan bisa menghasilkan anak-anak yang berkualitas...?

Berdasarkan bukti-bukti sejarah para jenius dunia seperti Leonardo Davinci dan Thomas Edison adalah anak-anak yang dulunya di didik dengan metode home schooling. Dan dalam buku Home Schooling yang ditulis oleh Kak Seto, menjelaskan bahwa di Indonesia sendiri tokoh-tokoh besar seperti Ki Hadjar Dewantoro, KH. Ahmad Dahlan, KH. Wachid Hasyim dan Buya Hamka dididik oleh orangtuanya dengan metode Home Schooling.

Dan yang menarik, di daerah Bantul Yogyakarta ada Seorang Dosen Pascasarjana Kimia UGM, Pak Djoko namanya, yang malah melakukan pendidikan Home Schooling terhadap ke 5 orang anaknya. Meskipun Pak Djoko sendiri adaah seorang yang sudah bergelar Doktor. Dan hasilnya ternyata sungguh luar biasa, Dalam usia yang begitu muda mereka berhasil menciptakan Bio Chip dan alat deteksi jantung untuk dunia kedokteran yang di patenkan di Jerman.

Selain itu Kak Seto sendiri selaku orang yang sangat senior dan sekaligus pakar di bidang pendidikan juga telah memilih home schooling bagi anaknya. Para orang tua yang berbahagia kiranya tokoh sekaliber Kak Seto tentunya tidak akan main-main dengan masa depan anak-anaknya. Bahkan jika tidak salah beliau juga secara langsung membawahi Asah Pena salah satu Home Schooling di Indonesia.

Apakah landasan berpikir ilmiah orang melakukan Home Schooling bagi anak-anaknya.

Hampir semua penelitian tentang otak dan anak selama 30 tahun terakhir menyatakan bahwa sebenarnya anak-anak adalah mahluk pembelajar yang luar biasa. Jadi yang dibutuhkan seorang anak dalam belajar adalah kesempatan untuk mengeksplorasi hal-hal yang menjadi minat terbesarnya, dan bukan harus mempelajari semua bidang mata pelajaran yang diwajibkan namun tidak diminatinya.

Seperti apa yang pernah dilakukan oleh Nancy Alliot Ibunda Thomas Edison. Beliau tidak mengajari apapun pada anaknya melainkan hanya bertanya dan mendukung apa yang ingin di ketahui anaknya, yakni dengan menjadikan Garasi rumah sebagai bengkel kerja bagi anaknya, serta mengajak Thomas untuk menemukan buku-buku yang ingin dipelajarinya atau mencari orang yang bisa menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh ibu Nancy sendiri.

Jadi setiap anak itu sebenarnya bisa menjadi manusia-manusia luar biasa asakan ia punya minat belajar yang kuat dan mau bekerja keras – Itulah yang di katakan Thomas Edison pada saat ia berhasil membuat bola lampu listrik.

Semoga uraian singkat ini ini bisa memberikan gambaran mengenai Home Schooling bagi orang tua yang berminat melakukan pendidikan berbasis rumah bagi anak-anaknya.

Bagaimana jika anak saya mulai bertanya tentang "SEX"...?


Suatu hari saya ditanya oleh seorang ayah, dia bingung karena anak perempuannya yang berusia 7 tahun sudah mulai mengajukan pertanyaan seputar SEX....

Apakah sudah tepat jika saya jawab...? kapan sich waktu yang tepat untuk mengajari anak-anak tentang sex...?

Pertama-tama kita perlu memandang arti Sex itu sendiri dalam kapasitas yang tepat. Selama ini jika kita menyebut sex, maka pandangan kita sudah melayang-layang ke sesuatu yang bersifat buruk atau miring.

Sesungguhnya Sex itu bersifat netral,=""> bagaimana kita mengarahkan dan menggunakannyalah yang menyebabkan sex itu baik atau buruk. Jadi syarat pertama sebelum kita bicara pada anak adalah jelaskan bahwa sex itu adalah proses alami mahluk hidup dalam melangsungkan kehidupan spesiesnya.

Kapankah saat yang tepat untuk mengajari anak tentang sex, adalah saat pertamakali anak mulai menanyakannya pada kita. Yah itulah saat yang tepat. Jangan sampai terlambat, karena jika tidak ia akan mencari tahu dari orang atau pihak lain yang tidak jelas.

Ingat jangan pernah memarahi anak yang bertanya dan ingin tahu tentang sex, terimalah ini sebagai proses alami, dan bersyukurlah ia bertanya pada orang tuanya.

Bagaimana acara, jelaskan apa adanya jangan di tutup-tutupi, bawalah arah pembicaraan pada hal-hal yang bersifat ilmiah, sains genetika kedokteran. Misalnya jika anak anda menanyakan apakah arti senggama dan berhubungan badan...? untuk apa itu dilakukan...? Maka jelaskanlah masing-masing fungsi alat reproduksi, apa tujuan mulia Tuhan memberikan alat ini, buka gambar fungsi reproduksi dari buku-buku kedokteran dan jelasakan pula bagaimana orang-orang sering melakukan tindakan yang keliru terhadap fungsi reproduksi ini. Jika kita adalah kalangan yang beragama, maka kita bisa kaitkan sedikit-demi sedikit bagaimana seharusnya fungsi-fungsi ini dilakukan berdasarkan ajaran-ajaran Tuhan melalui agama kita masing-masing.

Terus pancinglah pertanyaan dari anak anda, mengenai hal apa saja yang telah ia ketahui dari teman-temanya tentang sex, dan apa yang dilakukan teman-temannya apakah terjadi penyimpangan, ajak anak anda untuk membahasnya.

Ingat jadikanlah diri kita sebagai konsultan sex bagi anak-anak kita, kalau bukan kita siapa lagi. Dan sekali lagi sex itu adaah sesuatu yang netral dan alami yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup, jadi bahaslah sex dalam konteks yang netral dan mendidik.

Jika setiap orang tua mau untuk melakukan hal ini bagi anak-anak remajanya, maka Insya Allah anak-anak kita akan tahu menentukan pilihan yang benar sehingga kasus-kasus penyalahgunaan seksual di usia dini dan aborsi akan bisa cegah dan dikurangi.



Lihat tayangan videonya di : http://www.youtube.com/watch?v=ugKqhRyK5CU

Email Seorang Ibu yang Luar Biasa !


Suatu ketika saya mendapat kiriman email dari seorang ibu yang mengaku katanya pendengar setia acara Indonesian Strong from Home, yang di tayangkan tiap Sabtu pagi di Smart FM., beliau juga mengaku pembaca setia dari blog saya yakni www.ayahkita.blogspot.com. tak hanya sampai disitu beliau ini juga mengaku pembaca buku yang saya tulis dan telah memraktekkan pesan-pesan yang ada didalamnya satu demi satu...., ini bukan promo lho...tapi memang begitulah pembukaan isi suratnya.

Lalu pada bagian pembukaan kedua surat tersebut beliau juga memberikan beberapa pujian yang tidak perlu saya sebutkan tentunya, karena saya takut kepala saya benjol lagi karena waktu pertama kali saya baca pujian-pujian itu, tubuh saya tiba-tiba melayang ke atas hingga kepala saya sempat beberapa kali membentur atap.

Setelah itu si Ibu ini bercerita tentang bagaimana asyiknya ia membaca buku saya, yang katanya sampai tanpa sadar kepalanya mengaangguk-angguk tanda setuju, karena ternyata buku yang di bacanya ini berjudul 37 kebiasaan orang tua yang telah membuat anaknya suka melawan dan susah di atur. Jadi kelihatannya anggukan kepalanya itu sebagai pertanda setuju kalau beberapa diantaranya atau mungkin malah sebagian besar dari kebiasaan tersebut pernah dilakukannya.

Setelah dua kali menamatkan buku itu, kata si Ibu tadi, lalu ia mulai berusaha untuk mengubah kebiasaannya satu demi satu, tapi sayangnya ternyata itu tidak mudah..lho, selalu saja lupa dan kelepasan katanya....terutama untuk tidak marah dan membentak. Namun berkat niatnya yang begitu besar dan kerjasama yang erat dengan suami akhirnya beberapa bagian terberat bisa dia lewati dengan baik, artinya kebiasaan buruknya bisa ia ganti dengan yang baik. Dan ajaib katanya, anak saya prilakunya mulai berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari. Wah saya senengnya bukan main, dan jadi semakin tertantang untuk menerapkan semuanya nich...katanya.

Perlahan tapi pasti, si ibu ini terus berusaha untuk merubah kebiasaan buruk satu demi satu. Ibu ini mengatakan, ternyata semakin banyak kebiasaan yang saya perbaiki maka semakin anak saya juga berubah menjadi lebih baik lagi lho. Wow nggak nyangka katanya hampir seperti sulapan.

Namun sayangnya ketika tiba pada kebiasan yang ke- 36, yakni pada waktu saya berusaha mengikuti kebiasaan untuk tidak menonton tanyangan2 TV yang tidak mendidik dirumah, wah bukan main, rasanya ini sangat berat sekali...sempat terjadi dilema karena saya dan anak-anak saya termasuk penggemar berat TV dengan berbagai tayangannya. yang ternyata baru saya sadari belakangan ini kalau itu sangat berpengaruh terhadap prilaku dan gaya hidup anak-anak saya selama ini.

Namun katanya lagi, karena dia merasa telah berhasil menerapakn poin-poin sebelumnya, si ibu ini yakin di poin inipun ia pasti akan berhasil lagi. Maka dengan modal tekad dan juga nekad, si ibu berusaha mengikutinya, bahkan ia nekad untuk memutus kabel antena saluran TVnya. Bukan main... Lalu apa yang terjadi katanya; se isi rumah jadi heboh..., si ibu jadi banyak menuai protes dari anak-anaknya. Sudah saya sendiri juga merasa tersiksa tidak bisa melihat TV lagi, ditambah lagi protes dari anak-anak yang sangat keras, jadi memang kali ini terasa sungguh berat buat saya dan juga anak-anak. Tapi apapun yang terjadi saya harus tetap tegar. Kemudian dengan segenap kekuatan dan upaya katanya, saya coba jelaskan pada anak-anaknya mengapa keputusan ini sampai ia lakukan.

Sesuai saran dari buku itu lagi katanya segeralah ia mengajak anaknya untuk mencari kegiatan/aktifitas lain yang menjadi hobi mereka masing-masing, yang selama ini terpendam dan tidak tersalurkan akibat terlalu banyak duduk terhipnotis di depan TV.

Minggu-minggu berikutnya kata si ibu ini lagi, Protes-protes itu mulai mereda setelah anaknya mulai melakukan berbagai macam aktivitas. ada yang ikut kursus beladiri taekwondo, ada yang ikut les nari, ada yang ikut kursus musik dan tarik suara, bahkan ia juga kaget ternyata ada anaknya yang suka melukis dan lukisannya bagus sekali. Ia menceritakan pengalamannya yang katanya sungguh menakjubkan, setelah ia menerapkan kebiasaan tidak menonton TV, dan menggantinya dengan membaca aktif baik dari koran ataupun majalah.

Wah....anak-anak saya sekarang menjadi jauh lebih aktif, kemudian terjadi juga kebiasaan yang menarik dari anak saya yang paling kecil, yang biasanya dia cepat marah menjadi lebih lembut, yang biasanya suka memukul jadi tidak memukul lagi, mereka jadi lebih jarang bertengkar, melainkan lebih banyak diskusi, saya jadi kagum dengan kemampuan anak-anak saya yang selama ini tidak pernah saya ketahui, mereka ternyata sungguh anak-anak yang luar biasa katanya, lalu dalam bagian akhir surat si Ibu ini menulis; jika saja kita para orang tua mau merubah kebiasaan-kebiasaan kita dan mau mengambil tanggung jawab sebagai orang tua, tidak hanya melimpahkan pada pengasuh atau para suster atau siapapun, maka kita akan segera menemukan kepuasan tersendiri dalam mendidik anak-anak kita, terutama manakala melihat mereka tumbuh menjadi anak-anak yang luar biasa dan membanggakan.

Para orang tua dan guru yang berbahagia dimanpun anda berada. Dari semua uraian ibu ini saya hanya ingin menambahkan satu kalimat saja: Mari kita bangun Indonesia yang kuat melalui anak-anak kita tercinta ! kalau bukan kita siapa lagi? kalau bukan sekarang kapan lagi..?

Kamis, 16 Oktober 2008

Mengajari balita kita membaca, seberapa penting...?


Suatu hari saya di tanya apakah saya boleh mengajarkan anak saya membaca di usia dini...? Karena saat ini marak metode yang mengajarkan anak membaca di usia dini.

Agak sulit untuk menjawab pertanyaan ini, untuk itu mari kita tanya pada diri sendiri, Tujuan apa yang mendasari kita mengajari anak membaca. apakah kita ingin anak kita bisa membaca atau kita ingin anak kita menjadi gemar membaca..? Pertanyaan ini sangat penting, karena jelas sekali bedanya anak yang bisa membaca dengan anak yang suka/gemar membaca.

Kalau tujuan kita hanya agar anak kita bisa membaca, dan biasanya dengan salah satu tujuan lainya adalah untuk di pamerkan pada saudara, kerabat atau tetangga, sungguh ini sayang sekali dan tidak akan memberikan manfaat maksimal bagi anak kita.

Namun kalau tujuan kita adalah agar anak kita suka/gemar membaca maka mungkin jauh lebih bermanfaat bagi mereka kelak. Tapi sayangnya mengajarkan anak membaca diusia yang terlalu dini justru tidak membuat anak menjadi gemar membaca.

Hasil penelitian menjukkan bukti bahwa anak-anak yang diajari baca setelah usia 7-8 tahun justru membaca buku dan menulis jauh lebih banyak daripada anak yang di ajari baca sejak usia 5 tahun.

Kemudian hasil lain adalah bahwa kemampuan baca anak yang di ajari baca sejak usia 5 tahun dengan anak yang di ajari baca di usia 7-8 tahun akan sama kemampuannya pada saat mereka sama-sama berusia 10 tahun. Namun Minat baca anak yang diajari sejak usia lima tahun jauh lebih rendah dibanding anak yang diajari baca di usia 7-8 tahun.

Mengapa hal ini bisa terjadi...? Mari kita simak bersama penjelasannya.....

Otak anak pada usia dini itu bertumbuh sangat pesat, jika kita mengembangkan kemampuan kreatif mereka maka syaraf-syaraf kreatifnyslsh yang akan berkembang sangat pesat. Hal ini di tandai dengan rasa ingin tahu yang tinggi dari seorang anak. Namun jika tidak maka rasa ingin tahu atau syaraf-syaraf kreatifnya melemah, sehingga minat/rasa ingintahu anak pada berbagai hal juga melemah.

Oleh karena itu berdasarkan penelitian. Di ketahui bahwa jauh lebih penting mengajarkan anak kreatifitas sehingga syaraf-syaraf kreatifnya bertumbuh sempurna; syaraf kreatif yang tumbuh dgn sempurna ini akan akan membuat anak memiliki rasa ingin tahu yang besar akan berbagai hal, lalu setelah itu baru kemudian anak diajari bagaimana memenuhi rasa ingin tahunya tersebut melalu kemampuan membaca. Sehingga setelah dia bisa membaca maka dia akan gunakan kemampuan bacanya tersebut untuk mengeksplorasi segala informasi dari berbagai bahan bacaan untuk memenuhi rasa ingin tahunya tersebut. Begitulah penjelasan Kathy H Passeks, dalam bukunya yang berjudul Even Einstein did not learn a flash Card. atau Einstein ternyata tidak pernah belajar Flash Card.

Dari penjelasan tersebut ternyat di ketahui bahwa mengajari anak membaca di usaia dini justru kontra produktif terhadap pertumbuhan syaraf-syaraf kreatif yang dimilikinya. Sehingga pada saat anak sudah bisa membaca, dia tidak tahu untuk apa kemampuan itu dia gunakan, karena rasa ingin tahunya akan sesuatu tidak ada.

Oleh karena itu jika kita perhatikan pendidikan-pendidikan usia dini yang ada di negara-negara maju pada umumnya sebagian besar aktifitasnya di fokuskan untuk membangkitkan kreatifitas anak melalui berbagai macam permainan dan diskusi; mereka baru diperkenakan baca tulis hitung diusia kira-kira 7 atau 8 tahun.

Para orang tua dan guru yang saya cintai....

Coba perhatikan berapa banyak buku yang sudah kita baca dalam setahun...? apakah menurut anda minat membaca kita saat ini cukup besar...? Jika tidak, mungkin bisa jadi karena kita dulu sejak kecil sudah difokuskan untuk bisa membaca dan bukannya mengembangkan kreatifitas dan rasa ingin tahu kita.

Akan tetapi sekali lagi segalanya terpulang kembali pada masing-masing orang tua. Apakah kita ingin anak kita cepat bisa membaca saja atau kita ingin anak kita menjadi anak yang gemar membaca...

Belajar dari masa kecil Albert Einstein


Para orang tua dan guru yang berbahagia, Siapa yang tidak kenal Albert Einstain...sang jenius fisika penggagas terori relativitas, Mungkin sebagian besar kita semua belum mengetahui seperti apa Einstain kecil, dan seperti apa pada saat ia bersekolah, semoga dengan sedikit mengtahi masa kesilnya kita bisa mendapatkan pelajaran daripadanya.

Einstein seperti juga anak-anak lainnya adalah anak yang pada masa kecilnya biasa-biasa saja bahkan cerderung sebagai anak yang bermasalah dengan sekolah. Einstein adalah anak yang suka membangkang waktu bersekolah dia sering tidak mau mengikuti perintah gurunya malainkan hanya mau mengerjakan apa yang ia sukai yakni yang berhubungan dengan musik, membaca buku-buku sains, dan berlayar.

Einstain kecil tidak mau belajar apa bila ia tidak suka pelajarannya oleh karena itu ia sering bolos pada saat pelajaran bahasa, sastra dan menggambar. Ia membolos untuk melakukan aktivitas yang disukainya tadi. Sehingga pada akhirnya Einstein tidak berhasil lulus SMP, melainkan hanya mendapat keterangan pernah bersekolah SMP dari sekolahnya.

Berbekal surat keterangan tersebut ia nekad berusaha melamar di SMA, sebagian besar sekolah SMA yang didatanginya menolak, namun Einstein dan orang tuanya tidak pernah patah semangat untuk terus mencoba hingga akhirnya ada sekolah SMA yang menerimanya.

Setelah SMA kelakuannya masih sama saja tidak pernah berubah, ia hanya suka pelajaran Matematika dan Fisika saja, jadi Einstain masih sering membolos di pelajaran-pelajaran yang tidak dia sukai, sampai akhirnya ia kembali dinyatakan sebagai anak yang tidak tamat SMA. dan untuk kedua kalinya ia di nyatakan gagal lagi disekolah.

Namun hebatnya orang tua Einstein; tetap mendukung anaknya untuk terus berusaha melanjutkan sekolahnya; bahkan ia ikut membantu dengan berbagai hal agar anaknya bisa terus bersekolah.

Meskipun Einstein tahu ia tidak belum tamat SMA dan tidak punya pernah punya ijazah; ia tetap berani melamar ke perguruan tinggi; Nekad benar ya.... tapi kalau bukan nekad dan keras kepala bukan Einstein namanya.

Tahun 1895 ia melamar di Politeknik Federal, di Zurich Swiss tapi sayang ia gagal di ujian masuk dan menurut sekolah tsb, usianya pun masih terlalu muda. Lalu dia diminta menamatkan SMAnya terlebih dahulu, baru setelah itu ia melamar lagi dan akhirnya di terima sebagai mahasiswa di Politeknik Federal, Swiss.

Tahukah Einstain pada waktu ia ditanya Izajahnya, ia dengan tegas mengatakan bahwa saya tidak pernah punya Izajah tapi kemampuan saya boleh di uji, ya terutama di bidang Matematika dan Fisika. Saat itu kedua pelajaran itu memang sangat di perhitungkan

Kemudian setelah lulus Einstein kembali ke negara asalnya Jerman, dan setelah kembali ke sana ia banyak mengkritik sistem pendidikan di Jerman yang menurutnya banyak menghambat potensi unggul yang dimiliki oleh seorang anak. Ia juga banyak berseberangan dengan Otoritas Akademik di Jerman. Sehingga pada akhirnya dia memilih untuk tidak mau menjadi warga negara Jerman. Peristiwa ini terjadi pada saat Einstain berusia 20tahun.

Setelah itu Enstain mencari negara netral yang memberikan kebebasan warga negaranya untuk berekspresi, akhirnya pilihannya jatuh pada Negara Swiss. Akan tetapi karena pada perang dunia kedua dia merasa terdesak oleh Nazi di Swiss, dia juga mengajukan kewarganegaraan AS. Hingga akhir hayatnya dia memiliki 2 kewarganegaraan yakni Swiss dan AS.

Kalo kita perhatikan ciri-ciri Eistein ini mirip sekali dengan anak-anak yang cenderung dominan otak kanannya. Pertama Dia tahu apa yang dia mau dan dia juga tahu apa yang dia tidak mau. Yang kedua dia hanya mau mengerjakan apa yang dia mau, dan jika dipaksa dia cenderung akan melawan atau menghindar. Dan yang ketiga dia sangat fokus untuk bisa mencapai apa yang dia mau hingga akhirnya ia menjadi Ilmuwan besar dunia di abad 20.

Apa kira-kira Hikmah dari kisah ini.....mungkin beberap diantarnya adalah;

Yang pertama; Penting bagi kita semua orang tua dan guru untuk belajar memahami potensi unggul yang dimiliki oleh masing-masing anak. Yang kedua adalah; Kita tidak bisa lagi memaksaakan anak untuk bisa disemua bidang matapelajaran, dan melupakan kemampuan unggulnya. Dan yang ketiga adalah; Anak yang gagal di ujian bukan berarti dia gagal di kehidupan. karena bisa jadi justru soal-soal ujiannyalah yang keliru untuk menilai potensi unggul anak-anak kita.

Silahkan anda temukan sendiri apa bila masih ada hikmah lain dibalik kisah ini.

Kakak Adik yang suka bertengkar..?


Suatu hari saya ditanya orang tua yang mengatakan anaknya sering bertengkar karena berebut mainan. Lalu saya tanya apakah ibu sering membelikan mainan yang sama untuk masing-masing anak..? iya jawabnya.

Lalu apa yang ibu lakukan bila anak ibu tengah betengkar. Ya biasanya dua-duanya saya marahi, atau terkadang saya minta kakaknya mengalah pada adiknya.

Apakah ibu berhasil...? untuk saat itu kelihatanya berhasil, mereka berhenti bertengkar, cuma ya itu yang bikin pusing, kejadiannya berulang-ulang lagi.

Nah, kalau begitu mulai sekarang jangan pernah lagi membelikan mainan untuk masing-masing anak. cukup belikan 1 saja, berikan secara bergantian kadang untuk kakaknya dan gantian untuk adiknya.

Wah Nanti mereka bisa bertengkar hebat....? kata si ibu. Gak papa, bertengkar itu adalah sebuah proses pembelajaran yang baik bagi anak. Itu artinya anak kita belum mengenal konsep hak milik, dia juga belum tahu konsep bahwa sipemilik mempunyai hak lebih, selain itu juga menunjukkan anak kita belum tahu konsep meminjam dan meminjamkan, bermain bergantian/menunggu giliran atau berbain bersama-sama.

Oleh karena itu kita harus segera mengajarkannya; jika tidak maka nanti dia tidak akan pernah mengerti tentang konsep hak milik, lihatlah betapa banyak kita dengar di media orang dewasa yang merebut/menyerobot hak milik orang lain, itu pasti dulu waktu kecil tidak sempat di ajarkan konsep ini oleh orang tua atau guru di sekolahnya.

Nah nanti jika ibu beli mainan jelaskan pada mereka, ibu membelikan mainan ini untuk siapa misalnya untuk kakaknya dan ini hak milik siapa, misalnya hak milik kakaknya. Jika si adik berusaha merebutnya maka jelaskan dan larang adiknya merebut, jika si adik marah dan menangis jelaskan aturannya dan biarkan ia menumpahkan tangisannya hingga berhenti sendiri, jangan hiraukan, sebelum berhenti sendiri, begitu juga sebaliknya lain waktu bergantian ibu lakukan pada kakaknya.

Setelah mereka mamahami konsep hak milik, maka ajarkan pada mereka untuk mengucapkan “boleh pinjam ya” jika ia ingin meminjam mainan, dan jelaskan agar pihak satunya lagi mau meminjamkannya. Jika masing-masing pihak belum mau melakukannya, jangan paksakan, tunggu sampai mereka mau. Lama kelamaan mereka akan mau, karena masing-masing punya mainan yang berbeda dan ingin saling bertukar.

Setelah itu pelan-pelan ajari mereka untuk bermain bergantian; apa bila ingin bermain dengan alat yang sama, misalnya komputer. aturlah waktu pemakaian dengan alarm waktu hingga mereka paham. Jadi tidak harus ibu membeli 2 komputer untuk 2 anak. Dan yang terakhir mereka akan dengan sendirinya terlatih untuk mulai bisa bermain bersama. Kuncinya adalah tegakkan aturan secara tegas dan konsisten. Nanti ibu akan perhatikan hasilnya, Frekwensi pertengakaran merekapun dari hari kehari akan semakin jarang, karena mereka telah memahami konsep salaing meminjami dan bermain bersama.

Sabtu, 27 September 2008

Sekolah "KNOWING" vs "BEING"


Para orang tua dan guru yang berbahagia...., satu hari saya kedatangan seorang tamu dari negeri Eropa, dan seperti biasa setelah tugas-tugas utama kami selesai, saya selalu menawarkan dan mengajak rekan saya untuk berjalan-jalan melihat-lihat keindahan objek-objek wisata kota Jakarta dan sekitarnya. Dan sepanjang jalan kami terus berbincang-bincang mengenai berbagai hal. Dan pada saat kami ingin menyeberang jalan kawan saya ini selalu berusaha untuk mencari zebra cross untuk tempat kita menyebrang.

Berbeda dengan saya sendiri dan kebanyakan orang Jakarta pada umumnya yang dengan mudahnya menyeberang jalan dimana saja ia suka, bahkan tidak hanya menyebrang jalan, banyak dari mereka yang dengan santainya melompati pagar pembatas jalan yang tingginya hampir satu meter. Dan sungguh aneh bahwa teman saya ini tetap saja tidak terpengaruh oleh situasi, dan masih saja terus mencari zabra cross setiap kali dia mau menyeberang. Meskipun saya tahu bahwa di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dengan zebra cross. Dan yang lebih memalukan lagi adalah bahwa meskipun sudah ada zebra cross tetap saja para pengemudi tidak mau memberikan kita jalan dan tetap menancap gasnya sehingga rekan saya ini sering menggeleng-gelengkan kepalanya tanda begitu kagumnya terhadap prilaku bangsa kita.

Sebuah fenomena yang cukup menggelitik yang tampak nyata di depan saya, perbedaan antara teman saya yang dari Eropa ini dengan saya dan bangsa saya.

Dan pada saat kami sedang beristirahat disalah satu tempat wisata, akhirnya tak tahan lagi bagi saya untuk menanyakan pandangan teman saya ini mengenai fenomena menyebrang jalan tadi, meskipun sebenarnya dalam hati kecil saya merasa agak malu juga. Saya bertanya mengapa orang-orang di negara kami menyebrang tidak pada tempatnya, meskipun sesungguhnya jika ditanya mereka tahu bahwa Zebra Cross itu adalah tempat untuk menyebrang jalan. Sementara saya perhatikan, anda selalu konsisten mencari zebra Cross untuk tempat menyebrang meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dengan zebra cross, tanya saya padanya.

Setelah selesai menyantap makan siangnya lalu pelan-pelan dia mulai menjawab pertanyaan saya. Katanya.... Edy...Its all happen because of The Education System. Edy semua ini terjadi penyebabnya adalah karena sistem pendidikan, katanya. Wah.. bukan main kagetnya saya mendengar jawaban rekan saya ini, apa hubungannya antara menyebrang jalan sembarangan dengan sistem pendidikan...? dalam hati saya berpikir.

Lalu teman saya ini melanjutkan penjelasannya, Di dunia ini ada dua jenis sistem pendidikan, yang pertama adalah sistem pendidikan yang hanya menjadikan anak-anak kita menjadi mahluk “Knowing” atau sekedar tahu saja, sedangkan yang lainnya sistem pendidikan yang mencetak anak-anak menjadi mahluk “Being”. Lalu saya katakan apa maksudnya...., Ya kebanyakan sekolah yang ada hanya bisa mengajarkan banyak hal untuk diketahui para siswanya...sementara sekolah tadi tidak mampu membangun kesadaran siswanya untuk mau melakukan apa yang dia ketahui itu sebagai bagian dari kehidupannya. Sehingga anak-anak tumbuh hanya menjadi “Mahluk Knowing” hanya sekedar mengetahui bahwa zebra cross adalah tempat menyeberang, tempat sampah adalah untuk menaruh sampah tapi mereka tetap menyebrang dan membuang sampah sembarangan.

Ciri-ciri sekolah semacam ini biasanya memiliki banyak sekali mata pelajaran yang diajarkan pada siswanya...hingga tak jarang membuat para siswanya stress dan mogok sekolah, segala macam di ajarkan dan banyak hal yang di ujikan...tetapi tak satupun dari siswa yang menerapkannya setelah ujian dilakukan ya... karena ujiannyapun hanya sekedar tahu saja “Knowing”.

Sementara di negara kami... sistem pendidikan benar-benar di arahkan untuk mencetak manusia-manusia yang tidak hanya tahu apa yang benar akan tetapi mereka juga mau melakukan apa yang benar sebagai bagian dari kehidupannya. Di negara kami anak-anak hanya di ajarkan 3 mata pelajaran pokok yakni Basic Sains, Basic Art dan Social yang semuanya dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus terhadap kejadian nyata yang terjadi diseputar kehidupan mereka. sehingga mereka tidak hanya tahu, malainkan mereka juga mau menerapkan ilmu yang diketahuinya dalam keseharian kehidupan mereka.

Anak-anak ini juga tahu persis alasan mengapa mereka mau atau tidak mau melakukan sesuatu. Cara ini mulai di ajarkan pada anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yang kelak akan membentuk mereka menjadi mahluk “Being”. Yakni manusia-manusia yang melakukan apa yang mereka tahu benar.

Wow...! sungguh penjelasan yang luar biasa dan telah membuat saya begitu tercengang...! betapa sekolah itu sesungguhnya begitu memegang peran yang sangat penting bagi pembentukan prilaku dan mental anak-anak bangsa. Betapa sebenarnya sekolah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga sertifikasi yang hanya mampu memberi ijazah para anak bangsa.

Ya...kini saya mulai menyadari bahwa sekolah-sekolah kita mestinya lebih di arahkan untuk mencetak generasi yang tidak hanya sekedar tahu tentang hal-hal yang benar tapi jauh lebih penting untuk mencetak anak-anak yang mau melakukan apa-apa yang mereka ketahui itu benar.... Ya...Mencetak manusia-manusia yang “Being”.

Para orang-orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada..., mari kita renungkan bersama....apakah sekolah-sekolah kita...? ya..! tempat anak-anak kita bersekolah telah menerapkan sistem pendidikan dan kurikulum yang akan menjadikan anak-anak kita untuk menjadi mahluk “Being” atau hanya sekedar menjadi Mahluk “Knowing” saja..?

If you want to be RICH & HAPPY don't go to school..?



Para orang tua dan guru tercinta, pernahkah anda membaca sebuah buku karangan Robert T Kyosaki yang berjudul If you want to be rich and happy, don’t go to school..? Sebuah buku yang ditulis oleh seorang pengusaha dan pembicara sukses, anak seorang Kepala Sekolah, berkebangsaan Amerika-Jepang (Asian American)

Sungguh sebuah judul buku dan sekaligus pemikiran yang menggelitik hati saya, yang mestinya juga menggelitik dunia pendidikan kita.

Mengapa sampai pemikiran semacam ini muncul kepermukaan, bahkan disebuah negara yang teramat maju seperti Amerika...? dan yang jauh lebih menggelitik lagi adalah bahwa orang tua si pengarang buku ini dulunya juga berprofesi sebagai Kepala di sebuah sekolah yang juga sebagai guru...

Para orang tua dan guru tercinta......

Menurut saya ini adalah sebuah sindiran yang amat keras bagi dunia pendidikan di Amerika; Diakui atau tidak bukankah Rich (Berkecukupan) and Happy (Bahagia) itu merupakan dua hal yang menjadi impian hampir semua orang, tapi mengapa justru kita tidak akan bisa memperolehnya jika kita bersekolah..?

Namun ternyata pandangan ini bukanlah pandangan baru, jauh sebelum itu Soichiro Honda; Seorang pengusaha, pendiri perusahaan Honda Motor yang produknya kini merajai pasar mobil-mobil mewah di Amerika. Juga menyampaikan pandangan yang serupa tentang sekolah hanya saja dengan kalimat yang sedikit berbeda.

Dalam satu wawancara Sochiro pernah berkata;

“ Sekolah terlalu banyak memberi apa yang saya tidak ingin ketahui, tapi justru sangat sedikit memberikan apa yang sungguh-sungguh saya ingin ketahui. Oleh karena itu saya hanya pergi kesekolah apa bila saya merasa ingin mengetahui sesuatu yang tidak saya temukan diluar sekolah."

Begitu pula John Lennon; ia pernah menyampaikan hal yang senada tentang sekolah dan para gurunya;

Para orang tua dan guru tercinta...Mari kita simak apa yang pernah di Tulis John dalam buku hariannya;

Aku menyadari apa itu arti jenius pada usia 8 tahun

Aku selalu bertanya-tanya; mengapa tidak ada seorangpun yang menyadari kalau aku ini juga jenius..?

Disekolah, tidakkah mereka melihat bahwa aku jauh lebih pintar dari murid-murid lainya? Tidakkah mereka melihat bahwa para guru itulah sebenarnya yang bodoh..? Bahwa segala informasi yang mereka miliki dan ajarkan itu sama sekali tidak aku butuhkan. Ini sangat jelas bagiku.

Para orang tua dan guru tercinta.....

Bob Sadino; Seorang pengusaha yang menurut saya sangat cerdas pemikiran dan pandangan-pandangannya tentang kehidupan. juga pernah menyampaikan hal yang senada pada anaknya; lebih kurang beginilah kira-kira.... “Nak kamu boleh sekolah sejauh yang kamu mau, tapi jika kamu sudah tidak mau sekolah ya keluar saja; biar Papalah yang akan menjadi gurumu". Sungguh dalam sekali makna dari ucapan itu.....

Demikian juga dengan Gola Gong, sahabat baru saya, sang penulis novel terkenal, Direktur Media Cakrawala, TIM Creative di salah satu Station TV terkemuka dan sekaligus pemilik Rumah Dunia (sekolah menulis gratis bagi kaum dhuafa).

Pada saat Gola Gong berbicara bersama saya di sebuah acara di Bogor..., beliau sempat menyampaikan bahwa ia lebih memilih mengundurkan diri dari kampusnya untuk bisa lebih menggeluti bidang yang diminatinya.

Dan ternyata hingga saat ini Gola Gong telah berhasil mengukir banyak prestasi baik didunia bisnis maupun sosial pendidikan, Ceritanya mungkin mirip-mirip dengan Bill Gate sang raja softwere dunia yang juga mengundurkan diri dari sekolahnya, untuk menggeluti hobinya dan saat ini Bill Gate telah mulai melangkahkan kakinya untuk berbagi melalui Yayasan yang didirikannya.

Ternyata pandangan semacam ini bukanlah hal baru dan hanya dimiliki oleh satu orang saja, melainkan juga dimiliki oleh banyak orang sukses di hampir seluruh negara di dunia.

Para orang tua dan guru tercinta.......

Mari kita kaji lebih dalam lagi...apakah kurikulum sekolah di Indonesia yang ada saat ini juga lebih banyak mengajarkan pada anak-anak kita tentang apa yang mereka ingin ketahui dan perlukan bagi hidupnya kelak.....atau malah lebih banyak mengajarkan hal-hal yang bersifat mubazir..? Sebagaimana yang pernah disampaikan Soichiro Honda pada sekolah-sekolah di Jepang puluhan tahun silam..?

Adakah diantara anak kita yang mengalami gejala "ON" & "OFF" di Rumah atau Sekolah..?


Para orang tua dan guru yang berbahagia.... Tahukah kita apa yang dimaksud dengan gejala On & Off itu...?

Ya apa bila ada diantara anak kita yang jika dirumah cenderung aktif tapi jika disekolah berubah menjadi pasif, atau sebaliknya itulah salah satu yang dimaksud dengan gejala on & off, atau yang dalam istilah awam sering di katakan sebagai anak yang "jago kandang".

Contoh lainnya misalnya apa bila salah satu orang tua sedang pergi, si anak menjadi aktif dan kreatif namun tiba-tiba setelah salah satu dari orang tuanya pulang kerumah mereka segera berubah menjadi pasif dan tidak kreatif lagi. Ini juga termasuk gejala on & off.

Jadi gejala on & off terjadi apa bila disatu lingkungan atau kondisi anak kita aktif namun dilingkungan atau kondisi lainnya tiba-tiba dia berubah menjadi pasif atau acuh tak acuh.

Sesungguhnya prilaku anak yang sehat adalah on & on artinya dimanapun dia berada dia selalu dalam kondisi sama, mirip seperti hand phone yang kita miliki jika hp yang kita gunakan tiba-tiba mati tanpa sebab padahal batreenya masih penuh biasanya ada sesuatu yang tidak beres dengan signal disekitarnya.

Begitu pula dengan anak kita jika tiba-tiba saja prilakunya berubah tidak seperti biasanya tentu saja pasti ada yang tidak beres dengan orang-orang disekitarnya dalam memperlakukan dirinya sehingga ia meresponnya dengan meng offkan dirinya sendiri.

Hal ini banyak saya temui pada keluarga-keluarga yang orang tuanya memiliki prilaku berbeda secara ekstrim misalnya Ayahnya keras tapi Ibunya Lembut, Ibunya Perfectionist sementara Ayahnya cenderung Fleksible. Bisa juga Keluarganya oke di rumah, tapi guru-guru disekolahnya sering memarahi, menghukum atau mengucapkan kata-kata yang merendahkan harga diri si anak.

Para orang tua dan guru yang berbahagia......Prilaku Off si anak ini sesungguhnya akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dirinya khususnya yang berhubungan dengan aspek kecerdasan dan prilaku.

Anak yang cenderung Off maka akan terganggu proses perkembangan potensi berpikir kreatif dan berpikir logisnya; jika hal ini tidak segera kita atasi maka kelak anak yang dibesarkan dalam kondisi semacam ini akan menjadi generasi yang pasif, masa bodoh dan tidak kritis terhadap permasalahan karena softwere kecerdasan yang seharusnya berkembang saat ia sedang dalam kondisi on telah menjadi tumpul karena ia sering berada dalam kondisinya off.

Sementara Prilaku anak yang sering cenderung off ini kelak akan menyebabkan ia akan menjadi orang yang minder, tidak punya percaya diri, temperamental dan prilaku2 buruk lainnya.

Gejala on & off inilah yang dideteksi menjadi sumber pokok munculnya prilaku bermasalah bagi anak-anak dirumah ataupun disekolah.

Wahai para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada; mari bersama-sama kita perbaiki sikap kita dalam mendidik dan mengajar anak-anak kita, mari kita perbaiki juga pola asuh kita dirumah agar anak kita selalu dalam posisi On & On agar kelak mereka bisa menjadi generasi kritis, kreatif, dan peduli pada nasib bangsanya...!

Kamis, 04 September 2008

Kisah Menarik dibalik Tsunami di Asia


Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada; masih ingatkah Tragedi Tsunami yang pernah melanda negara-negara di asia mulai dari India, Srilanka, Thailand dan Aceh, negeri kita sendiri..?

Tidak diragukan lagi bahwa bencana itu sedemikian dasyatnya hingga menelan korban yang jumlahnya juga luar biasa dahsyat. Namun dibalik itu semua ternyata ada suatu cerita menarik dari rekan-rekan yang bekerja untuk penanggulangan bencana pasca Tsunami di Asia.

Sebelum masa rehabilitasi daerah-daerah yang terkena bencana tersebut, Teman-teman tersebut sempat mengadakan wawancara terhadap beberapa negara yang dilanda bencana Tsunami terparah; diantaranya India, Thailand dan Indonesia.

Pertanyaan yang diajukan sangatlah sederhana; dan pertanyaan ini sengaja diajukan pada korban yang terutama berasal dari anak-anak. Pertanyaannya adalah lebih kurang seperti ini; What do you expected me to do...? atau Apa yang paling anda harapkan dari kami untuk dilakukan saat ini...?

Sebagian besar anak-anak di India menjawabnya seperti ini; Kami ingin rumah-rumah dan sekolah-sekolah kami segera dibangun agar kami dapat segera beraktifitas kembali seperti dulu.

Sedangkan anak-anak dari Thailand sebagian besar menjawabnya begini; Kami ingin segera sekolah-sekolah kami dibangun dan fasilitas wisata segera diperbaiki agar kami dapat segera sekolah dan berjualan lagi disana.

Sementara sebagian besar anak-anak Indonesia menjawabnya seperti ini; Kami ingin diberi uang agar kami bisa membeli bahan-bahan makanan dan membangun rumah kami yang hancur...

Sekilas 3 jawaban anak-anak dari ketiga negara tersebut tidaklah terlalu jauh berbeda; namun bila kita perhatikan dengan cermat; ada perbedaan dari cara berpikir antara anak-anak negara kita dengan negara tetangga kita; yakni bahwa anak-anak kita lebih mengharapkan bantuan itu berupa ikannya dalam bentuk tunai langsung, sedangkan anak-anak di negara tetangga lebih mengharapkan bantuan dalam bentuk kail (perbaikan kembali fasilitas yang hancur) agar mereka bisa kembali segera mencari ikannya sendiri;

Jika kita cermati anak-anak dinegara tetangga kita itu ternyata jauh lebih matang cara berpikirnya, mereka tidak ingin menjadi anak-anak peminta yang selalu dikasihani melainkan ingin berusaha mandiri dan segera terbebas dari ketergantungan bantuan negara lain.

Saya jadi bertanya-tanya bagaimana negara tetangga kita itu bisa berhasil menanamkan pemikiran yang begitu luar biasa melalui sistem pendidikannya hingga dalam usia mereka yang relatif dini telah bisa berpikir sehebat itu. Saya juga jadi merenung, jika seandainya saja kita bisa melakukan hal yang sama pada anak-anak dinegeri kita; mungkin kita akan segera menjadi bangsa yang jauh lebih mandiri dan tidak selalu tergantung pada bantuan dan campur tangan negara-negara asing.

Tapi mungkin memang jika kita kaji, salah satunya kita memiliki budaya kasihan/memberi yang tidak mendidik dan kurang pada tempatnya, sehingga anak dan remaja kita menjadi terbiasa untuk hidup mudah/instant mendapatkan sesuatu tanpa mau bekerja keras secara terhormat. Mari kita perhatikan fenomena sosial yang ada di sekitar kita, semakin banyak saja anak-anak dan remaja yang menjadi “setengah mengemis dan setengah memaksa” dengan aksi penjaga parkir di ATM-ATM, Parkir di setiap warung makan, dan pengatur lalu lintas di perempatan dsb. Hampir tidak ada tempat yang terbebas dari pungutan liar yang pelakunya sudah merambah ke kalangan remaja dan anak-anak.

Kita boleh saja menyangkal fenomena sosial ini, tapi coba bandingkan dengan negara tetangga dan negara-negara maju, maka kita tidak akan temukan budaya semacam ini. Anak-anak sejak kecil sudah dibiasakan untuk bersifat kritis dan mau bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Lalu bagaimana dengan cara mendidik anak-anak kita dirumah..?

Tidak ada yang akan mengubah nasib suatu bangsa kecuali dia berusaha sendiri untuk mengubahnya.

Mari kita renungkan bersama...

Bagaimana Mengubah Bangsa ini...?


Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada, pernahkah kita merasa kesulitan untuk mengubah prilaku anak-anak kita yang sepertinya sudah agak-agak menyimpang dari yang kita harapkan. Atau mungkin kita juga pernah merasa kesulitan untuk mengubah prilaku pasangan kita yang selama ini selalu saja berbeda pendapat dan tidak pernah sepaham. Padahal salah satu yang menjadi prinsip dalam mendidik anak untuk bisa menjadi lebih baik, adalah kekompakan dari kita para orang tuanya.

Jika kita adalah salah satu dari orang merasa demikian; mungkin ada baiknya kita belajar dari sejarah, tetang bagaimana kita bisa mengubah orang lain melalui diri kita.

Para orang tua dan guru tercinta saya ingin mengajak anda untuk meluangkan waktu sejenak saja guna menyimak sebuah tulisan luar biasa yang tertera di atas Batu Nisan, makam seorang jenius besar dunia .....Westminster Abbey, seorang arsitek kerajaan Inggris yang telah merancang Maha Karya, Gereja Kathedral di London.

Mari kita simak bersama;

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia ini agar bisa menjadi lebih baik. Lalu Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tiada pernah menjadi lebih baik.

Maka cita-cita itupun agak kupersempit, lalu ku putuskan untuk hanya mengubah negeriku sendiri. Namun tampaknya hasrat itupun tiada membawa hasil.

Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, lalu kuputuskan untuk hanya mengubah keluargaku sendiri, yakni orang-orang yang paling dekat denganku, namun celakanya merekapun ternyata tidak mau berubah !

Dan hari ini sementara aku berbaring untuk menanti ajal, tiba-tiba saja kusadari;

Seandainya saja dulu aku berpikir bahwa yang pertama-tama kuubah adalah diriku sendiri, Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku akan bisa mengubah keluargaku terlebih dahulu. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi akupun akan mampu memperbaiki negeriku, Kemudian siapa tahu, dengan begitu aku bahkan bisa mengubah potret dunia ini !”

Tulisan ini, Terukir diatas batu nisan makam Westminster Abbey, Inggris, 1100 M.

Sungguh sebuah tulisan yang luar biasa..!
Para orang tua dan guru ....yang saya cintai, dimanapun anda berada, sesungguhnya kita tidak akan bisa siapapun sebelum kita mengubah diri kita sendiri, semoga kita mau belajar dari sejarah dan bisa memetik hikmah yang terkandung didalamnya.

Kamis, 21 Agustus 2008

SELAMAT HUT RI KE-63 SEMOGA KITA SEMAKIN BERGERAK MAJU BUKAN MALAH SEMAKIN MUNDUR...!


Pesan singkat Kemerdekaan dari Ayah....

Jika kita selama ini telah merasa begitu pesimis untuk bisa mengubah bangsa ini menjadi lebih baik lagi..., Berhentilah untuk PESIMIS ! karena kita masih punya satu kesempatan lagi yakni MEMBANGUN INDONESIA YANG KUAT MELALUI ANAK-ANAK KITA TERCINTA..!!

Dalam berbagai ajaran agama Tuhanpun telah memberi amanat, atau mungkin malah dalam salah satu ajaran agama besar di Indonesia, Tuhan bahkan telah memberi "perintah" pada setiap orang tua untuk menjaga anak-anaknya dari ganasnya "Api Neraka" (mungkin yang dimaksud "api neraka" adalah pengaruh pergaulan dan tayangan TV yang merusak) karena anak kita adalah aset satu-satunya yang masih kita miliki untuk bisa membangun generasi Indonesia berikutnya yang Unggul, Bersih dan Bermoral. untuk bisa menjadi GARDA bagi Republik tercinta ini.

Oleh karena itu kesempatan ini jangan pernah sampai lepas, jangan pernah sia-siakan amanat Tuhan pada kita, mari kita didik anak kita dengan sebaik-baiknya untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang pernah di buat oleh para generasi pendahulunya.

Saya telah memilih untuk terlibat di dalamnya untuk membangun program INDONESIAN STRONG FROM HOME (Indonesia yang kuat dari keluarga), bagi seluruh keluarga dan orang tua Indonesia.

Program ini telah kami kumandangkan ke hampir seluruh Indonesia sejak 5 tahun yang lalu, yang kami sampaikan melalui berbagai Media siar, pelatihan, seminar, workshop, tulisan-tulisan dan bahkan dari arisan ke arisan keluarga, dsb. Semoga ini bisa menjadi satu pilihan berharga bagi keluarga Indonesia untuk membangun keluarga dan anak-anak yang unggul dan berakhlak mulia.

Dipundak anak-anak kitalah Negeri ini menaruh harapan..... dan di tangan kita para orangtualah anak-anak kita bergantung.

Mari bersama-sama kita bangun Indonesia yang kuat dari Keluarga..!
Jangan harapkan orang lain dan jangan pernah berharap pada siapapun....!

Mulailah dari diri kita sendiri...., mulailah dari hal-hal kecil yang kita bisa....dan mulailah SEKARANG juga...!

Untuk dan atasnama anak-anak Indonesia.
SEKALI MERDEKA, TETAP MERDEKA..!




Rabu, 06 Agustus 2008

Kemampuan Berpikir Kritis Kreatif & Pro Aktif


Kali ini kita akan berbicara tentang kemampuan berpikir kritis, kreatif dan proaktif.

Para orang tua dan guru yang berbahagia mengapa saya sering sekali mengangkat masalah pembelajaran yang berbasiskan hafalan.....Karena cara pembelajaran ini akan berakibat sangat fatal terhadap kemampuan level berpikir otak anak-anak kita.

Ada 3 tingkatan kualitas otak dalam berpikir Yang pertama adalah berpikir Kritis, Yang Lebih Tinggi lagi adalah berpikir Kreatif dan yang paling tinggi adalah berpikir Pro aktif.

Para orang tua dan guru yang berbahagia.....Apa kira-kira perbedaan dari masing-masing level cara berpikir tersebut...?

Yang pertama Kritis; Kritis adalah suatu pola tingkatan berpikir kita yang selalu dapat melihat sisi-sisi kekurangan dari sebuah konsep atau pemikiran; terutama konsep dan pemikiran orang lain. Oleh karena itu pada tingkatan berpikir Kritis seseorang akan selalu melakukan Kritisi terhadap konsep atau hasil karya orang lain tanpa bisa memberikan solusinya.

Tingkatan yang lebih tinggi yakni Kreatif; Kreatif adalah suatu pola tingkatan berpikir kita yang tidak hanya bisa melihat sisi lemah sebuah konsep atau pemikiran namun sekaligus ia juga bisa mengusulkan berbagai ide yang dapat digunakan sebagai pemecahannya.

Oleh karena itu pada tingkatan berpikir kreatif seseorang tidak hanya berhasil menemukan sisi lemah dari sebuah konsep namun juga melahirkan konsep-konsep baru yang jauh lebih sempurna. Salah satu contoh buah pemikiran kreatif yang luar biasa adalah Kecerdasan Beragam atau Multiple Intelligence; yang dicetuskan oleh Howard Gardner pada tahun 1983.

Tingkatan yang paling tinggi dari semuanya adalah cara berpikir proaktif; Proaktif adalah suatu tingkatan pola berpikir manusia yang bisa memprakirakan hal-hal apa mungkin menjadi permasalahan manusia dimasa mendatang dan mulai mempersiapkan solusinya sejak masa sekarang.

Salah satu contoh pemikiran yang fenomenal tentang hal ini adalah Buku Karangan Alvin Tofler yang berjudul The Future Shock. Dengan Gamblang Tofler memberikan pandangan-pandangan bahwa akan terjadi pergeseran besar dalam sistem budaya manusia, dari sekian banyak pergeseran, salah satunya adalah pergeseran dari Budaya Mendengar menjadi Budaya Melihat ; Efek dari hal ini akan menimbulkan serentetan pergeseran di bidang-bidang lain dimana kita tidak hanya harus siap menghadapi bahkan sangat perlu mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi.

Ada lagi sebuah pemikiran yang luar biasa dasyat tentang berpikir proaktif ini telah dituangkan kedalam buku yang berjudul “Management by Two Thousand XXX” karangan George Berner.

George Berner secara garis besar melukiskan kemajuan perjalanan teknologi manusia sampai dengan tahun 2500 an, buku yang luar biasa dasyat ini telah melahirkan sebuah prediksi pemikiran bahwa pada tahun 2500; manusia sudah akan mulai bermigrasi ke Planet Mars, karena pada tahun 2400an ; manusia telah berhasil menciptakan teknologi pengatur Iklim, hal ini terjadi setelah kira-kira tahun 2300an manusia telah bisa membuat sistem tata udara dst.....

Anda mungkin bisa saja berpikir bahwa....”ah itu kan hanya sebuah khayalan dan impian manusia saja....?”

Namun ternyata di negara maju, buku ini telah mengispirasi banyak Ilmuan dan peneliti untuk semakin giat melakukan berbagai riset dan penelitiannya.

Luar biasa bukan......? Sementara bangsa-bangsa lain sudah berada pada tingkatan berpikir Pro Aktif..... jauh kedepan memikirkan suatu proses migrasi manusia untuk membentuk sebuah kehidupan baru di Planet Mars, sementara menurut anda sudah berada dilevel manakah pola berpikir mayoritas bangsa kita saat ini.....?

Para orang tua dan guru yang berbahagia...Edward De Bono menyatakan bahwa yang paling membuat saya sedih saat ini adalah bahwa sistem pembelajaran yang diterapkan disekolah pada umumnya yang cenderung bersifat hafalan ini bahkan telah membuat anak-anak kita sulit sekali untuk bisa mencapai tataran berpikir kritis sekalipun.

Para orang tua dan guru yang berbahagia......Sekali lagi mari kita renungkan kembali......kira-kira sudah berada dilevel manakah pola berpikir bangsa kita saat ini.......? dengan model pembelajaran hafalan yang masih terus dipertahankan oleh sekelah-sekolah anak kita sampai saat ini
Menurut anda, kira-kira akan mencapai level manakah pemikiran anak-anak generasi penerus bangsa kita kelak....?

Selasa, 05 Agustus 2008

Kisah Penjual Rujak


Para orang tua dan guru yang berbahagia...

Saya punya kisah menarik dari seorang teman baik, mengenai bagaimana seorang penjual Rujak berhasil membuat anaknya yang suka melawan, sulit di atur dan malas belajar... yang permasalahan yang dihadapi oleh hampir setiap orang tua di Indonesia.

Mari kita simak bersama kisahnya:
setahun lalu atau mungkin sekitar 10 bulan yang lalu, ketika saya
membeli rujak, saya bertanya kepada penjual rujak yang berjualan sambil membawa anaknya itu: "umur berapa anaknya", Lima Tahun. tapi itu mbak, sukanya menonton televisi melulu. jadi ndak pernah membaca atau apalah gitu. tiap hari kerjanya dhomblong aja di depan tv. kesel aku mbak."lalu saya bilang gini: Bu kalo saya sejak tahun 1997 tidak mempunyai televisi karena
siapa yang mau mengendalikan pembantu dirumah kalo saya lagi ke kantor. dan saya lebih suka anak saya kreatif atau ada kegiatan." rupanya pembicaraan itu diserap dengan baik oleh tukang rujak itu, mbak Sri namanya. sejak itu, kalo saya beli rujak, mbak Sri selalu tanya-tanya tentang
kegiatan yang biasanya saya buat untuk anak-anak saya bila tak ada televisi. ya saya bilang, buat dongeng, menulis, latihan drama, buat gambar, membaca, buat puisi, buat kertas daur ulang, buat hiasan pigura dari bahan bekas dan sebagainya. lalu saya sering berikan contoh serta buku-buku yang merupakan hasil karya anak saya dan buku yang biasa dibaca oleh anak-anak. ada beberapa buku yang saya berikan. senengnya bukan main, begitu mbak Sri.

Lalu teman saya ini berkata..., eh, 2 minggu lalu ketika saya beli rujak, mbak Sri bilang begini. "Mbak, ini rujaknya sekarang Gratis, Lho kenapa Bu Sri tanya sahabat saya ini. Iya ini sebagai hadiah dari nasehat-nasehat yang mba berikan pada saya. Sekarang saya udah ndak punya televisi lagi mba. wuahhh .. senengnya ..ternyata anak saya juga lebih seneng tidak punya televisi meski awalnya susah sekali. dia bahkan sekarang kalo belajar ndak perlu disuruh-suruh lagi."

Para orang tua dan guru yang berbahagia...., demikianlah petikan obrolan salah seorang sahabat kami dengan penjual Rujak langganannya. Sahabat kami ini sudah sejak tahun 1997 telah mengganti program-program tvn dirumahnya dengan program belajar interaktif.

Para orang tua dan guru yang berbahagia..., berdasarkan pengalaman kami menjadi konselor anak selama lebih dari 4 tahun, menemukan fakta banyak sekali penyimpangan prilaku anak yang bersumber dari tontonan program yang ditayangkan oleh televisi. Cobalah sekali-sekali anda catat apa yang di tayangkan station-station TV sejak pagi siang hingga malam hari. Maka saya jamin anda akan sadar betapa banyak program-program yang merusak mental dan cara berpikir anak kita. Tapi yang aneh justru sebagian besar dari para orang tua malah sengaja agar anaknya menonton TV dengan alasan supaya diam dan tenang....

Orang tua ini ternyata sama sekali tidak menyadari bahwa prilaku anaknya sedang di didik oleh tayangan-tanyangan televisi tersebut.

Mari kita renungkan..., jangan-jangan dirumah, kita dan anak kita juga mengalami hal yang serupa...?