SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Minggu, 22 Februari 2009

Ayah saya bingung kenapa anak saya yang nomer dua tidak sepandai kakaknya ya..? padahal kami memberikan segala sesuatunya serba sama.




Suatu hari saya pernah menerima surat dari ibu Fransisca, berikut ini isi suratnya:
Ayah, nama saya Fransisca, ibu dari 3 orang anak, nomer satu berusia 8 tahun, nomer dua berusia 5 tahun dan paling kecil baru 2 tahun. Saya bingung mengapa anak saya yang kedua ini kok sepertinya tidak sepandai kakaknya ya...? saya lihat dia sulit sekali untuk diajari sesuatu terutama mengenali huruf-huruf, maunya hanya main sendiri dan menggambar coretan-coretan saja. Padahal saya merasa sejak kecil tidak pernah membedakan satu dengan yang lain dalam berbagai hal terutama asupan gizinya.

Berikut ini adalah jawaban saya pada bu Fransisca:
Bu Fransisca yang baik, mulai hari ini ibu tidak usah bingung lagi, karena memang sebenarnya sangatlah alamiah jika setiap anak berbeda. Menurut pandangan Ilmu Multiple Intelligence yang di pelopori oleh Dr. Howard Gardner sesungguhnya setiap anak itu terlahir cerdas, tidak ada yang bodoh. Hanya mereka cerdas pada bidang yang berbeda-beda. Bahkan pada anak-anak yang telah di nyatakan terbatas “disable” sekalipun masih bisa digali kecerdasannya; contoh yang paling nyata dari temuan zaman ini adalah kisah He Ah Lee, The four Finger Pianist dari Korea. Pianis dengan 4 jari karena mengalmi “Sindrom Jari Capit Kepiting” plus Down Syndrome secara bersamaan, namun berkat kegigihan Ibunya akhirnya ia mampu memainkan partitur tersulit dari musik klasik dan mendapatkan pengakuan Dunia International.

Selama ini masyarakat pada umumnya telah memandang anak hanya dalam bentuk Hitam-Putih, kalau tidak pandai maka bodoh, kalo tidak bisa tenang maka hiperaktif. Padahal anak-anak kita itu sungguh berwarna-warni. Mereka semua adalah Mahakarya dari Tuhannya. Jadi sebenarnya yang kita perlu lakukan adalah membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam diri anak kita, dan bukannya memberikan label-label negatif karena ketidakmampuan kita menterjemahkan pesan-pesan Tuhan dalam diri mereka.

Menurut Howard Gardner, kekeliruan terbesar kita dalam memandang kecerdasan adalah bahwa kita telah menetapkan bahwa anak yang cerdas adalah anak-anak yang memiliki kemampuan lebih di bidang Baca Tulis dan Hitung, dan lebih mengerucut pada pemahaman anak yang unggul dalam bidang hitungan atau eksakta. Oleh karena itu setiap anak akan diukur berdasarkan barometer yang salah ini, sehingga tentu saja akan banyak anak kita yang masuk kategori tidak cerdas. Padahal menerut penelitian saya selama lebih dari 20 tahun, bekerjasama dengan para ahli syaraf (neuroscientist), ternyata kami menemukan bahwa kecerdasan itu sungguh sangat beragam dan kemampuan berhitung itu (yang di anggap sebagai satu-satunya kecerdasan saat ini) hanyalah salah satu saja dari berbagai jenis kemampuan otak manusia; yang saya menyebutnya sebagai kecerdasan Logis Matematis. Sesungguhnya Otak kita memiliki berbagai kecerdasan yang luar biasa dan tidak hanya terbatas pada kemampuan eksakta saja. Bahkan sejarah telah mencatat bahwa kemampuan kecerdasan yang paling besar pada manusia adalah “KECERDASAN BERBAHASA” yakni pada saat otak manusia mampu menciptakan bahasa beserta simbol-simbolnya, yang menyebabkan berkembang pesatnya peradaban manusia di bumi.

Bu Fransica yang baik, Sesungguhnya dalam setiap prilaku anak, merupakan petunjuk bagi kita tentang kecerdasan apa yang dimilikinya. Misalnya, anak ibu yang lebih tertarik membuat oret-oretan gambar dari pada mengenali huruf, ini menunjukkan tanda-tanda awal munculnya kecerdasan desin ruang, imajinasi gambar. Kesukaan anak ibu untuk bermain sendiri itu lebih menunjukkan bahwa ia sedang mengemambangkan kemampuan Imajinasi Cerita dan sama sekali bukan menunjukkan ia tidak pandai.

Jadi sekali lagi ibu tidak perlu khawatir, mulai hari ini mari kita berfokus untuk menggali jenis kecerdasan apa yang sesungguhnya tersimpan dalam diri anak ibu yang ke2 juga mungkin yang ke 3.

Pada edisi mendatang, kami akan lebih mengupas tentang kecerdasan-kecerdasan apa saja yang tersimpan dalam masing-masing anak beserta cara mengetahuinya, sehingga ibu dan para orang tua dapat mengasah dan mengembangkannya sejak usia dini, agar kelak anak kita bisa menjadi anak-anak yang unggul di bidangnya masing-masing dan tidak lagi terperangkap pada pandangan pintar dan bodoh terhadap anak kita.

Sumber: Majalah Mother & Baby, Rubrik Ayah Edy Menjawab.

Ayah apa iya kalo anak saya test IQnya tinggi pasti pintar dan kalo tes IQnya rendah pasti bodoh dan jadi anak gagal...?


Suatu hari saya pernah ditanya oleh bu Deasy yang tinggal di Bandung, berikut adalah pertanyaan persisnya: Ayah Edy, Saya Deasy, Ibu dari tiga orang anak 9, 7 dan 2 tahun. Setelah membaca ulasan ayah sebelumnya saya jadi tergelitik untuk ikutan bertanya, mengenai test IQ. Anak saya yang pertama dan ke dua pernah mengikuti tes IQ dengan hasil yang berbeda, dimana kakaknya redah tapi adiknya justru tinggi sekitar 130. Pertanyaan saya adalah... apa iya kalo anak test IQnya tinggi pasti pintar dan kalo tes IQnya rendah pasti bodoh dan jadi anak gagal dikehidupan...? Bagaimana pandangan Ayah tentang hal ini..?

Inilah jawaban saya pada beliau...,
Bu Deasy yang baik, sebelumnya mari kita ketahui dulu sejarah mengenai apa dan untuk apa tes IQ, dilakukan. Tes IQ pertama kali di perkenalkan kira2 tahun 1911 oleh Alfred Binet, seorang psikolog berkebangsaan Prancis. Adapun tujuan dilakukan tes IQ waktu itu adalah untuk seleksi standar masuk militer atau pekerjaan. Kemudian tes ini berkembang keseluruh dunia sebagai tes seleksi standar dalam hampir semua bidang.

Menurut pandangan MI bahwa test ini sesungguhnya hanya mampu mengidentifikasi salah satu kecerdasan saja, yakni Logika Matematika, padahal kecerdasan manusia itu sangat bervariasi dan tak terhingga, tidak bisa semuanya teridentifikasi oleh tes IQ semacam ini. Contohnya bagaimana kita mengidentifikasi kecerdasan Pablo Picaso, Shakespeare, Thomas Edison, Steven Spielberg dan para jenius dunia lainnya.yang pada masa kecilnya dianggap sebagai anak yang biasa-biasa saja..?

Anak-anak yang mendapatkan skor tingggi dalam tes IQ, menunjukkan bahwa ia memiliki potensi intelegensia Logika Matematika yang bagus dan sebaliknya. Sementara pandangan multiple intteligence adalah Kecerdasan Manusia tidak dapat di ukur, karena sifat otak manusia yang terus berkembang dan dinamis. Hal ini bisa dibuktikan bahwa anak yang sama bila di tes IQ berulang-ulang dalam selang waktu yang berbeda akan menunjukkan hasil yang berbeda-beda, dan kerapkali faktor emotional juga ikut berperan di dalamnya.

Multiple Intelligence lebih menekankan pada aspek pengamatan potensi unggul anak dan bukan pada aspek pengukuran. Sehingga multiple intelligence pada aplikasinya akan selalu dapat mengetahui sisi-sisi keunggulan anak dan membantunya untuk mencapai hasil yang terbaik, sebaliknya tes IQ dalam aplikasinya terbatas hanya pada memberikan lebel-lebel pada anak seperti Cerdas, Rata-rata, Dibawah rata-rata dst. yang justru akan membuat pertumbuhan dinamis otak anak terganggu. Test IQ jika kita perhatikan hampir tidak pernah dapat memberikan jalan keluar bagi anak-anak yang mendapat skor rendah, bahkan mengesankan bahwa mereka yang mendapat skor rendah cenderung akan tervonis manjadi anak gagal.

Jadi sekali lagi perlu kita ingat bahwa dalam konsep Multiple Intelligence yang didukung oleh penelitian Sains Otak, mamandang bahwa tidak ada anak yang bodoh, semua anak terlahir pintar, ya.. pintar pada bidang-bidang yang menjadi keunggulannya masing-masing.

Bu Deasy yang baik, menjawab pertanyaan ibu apakah adiknya kelak akan jauh lebih sukses dari kakaknya dalam hidup, tentu saja saya tidak bisa memastikannya, karena kesuksesan hidup itu banyak sekali faktor penentunya, tidak hanya faktor IQ tinggi saja, malainkan juga faktor Emotional Intelligence, lingkungan pembentuknya, dsb.

Berikut ini ada sebuah guyonan terkenal yang mungkin juga baik untuk kita renungkan bersama.

Suatu ketika ada 3 orang sahabat yang kuliah di Universitas Harvard, dan pada saat mereka selesai ujian sahabat A mendapat nilai paling tinggi di tesnya, sahabat B sedang-sedang saja, kemudian sahabat C mendapat nilai paling rendah. Tak lama kemudian sahabat A karena nilainya sangat tinggi cepat mendapat pekerjaan, begitu juga sahabat B meskipun sulit akhirnya mendapatkan juga. Namun malangnya sahabat C sulit sekali mendapat pekerjaan dengan nilainya yang sedemikian rendah dan pas-pasan.

30 tahun berlalu sudah, tiba-tiba ketiga sahabat tersebut terkaget-kaget waktu bertemu di satu perusahaan. Eh ngomong-ngomong kok bisa ya kita ketemu disini, lalu sahabat yang paling rendah nilainya bertanya pada sahabat A, eh kamu di sini jadi apa...? Lalu dengan bangga sahabat A menjawab, oh kamu tidak tahu rupanya kalo aku adalah konsultan senior untuk perusahan ini, lalu kalo kamu jadi apanya tanya sahabat C pada sahabat B, Oh kamu juga enggak tau ya...kalo aku ini adalah salah satu Direktur diperusahaan ini. Sahabat C tampak terkagum-kagum, Oh kalian semua hebat, luar biasa katanya...., Lalu kedua sahabat A & B tertegun sejenak, dan secara bersamaan bertanya....lah kalo kamu sendiri ada disini sedang apa...? Lalu dengan santai sahabat C menjawab, Oh kalo saya sedang ada rapat komisaris pemegang saham di perusahaan saya ini.

Bill Gate adalah orang yang sangat menyukai guyonan ini. Meskipun Bill Gate tidak pernah lulus dari Harvard, namun ia telah membuktikan pada dunia bahwa sukses yang diraihnya tidak ditentukan oleh skoring nilai dan tes melainkan dari Potensi unggul yang berhasil di gali dan dikembangkan hingga menjadi yang terbaik di bidangnya.

SUMBER: Majalah Mother & Baby, Rubrik Ayah Edy Menjawab.