SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Kamis, 23 Juli 2009

Pelajaran Berharga untuk para guru dan pendidik




Miss Phillips, You were Wrong...!
adalah judul sebuah buku “best seller” di Australia yang ditulis oleh Peter Daniels.

Buku ini menceritakan kisah perjalanan sukses seorang anak yang saat bersekolah dianggap oleh gurunya sebagai anak yang gagal, namun ternyata ia berhasil membuktikan bahwa Peter adalah orang yang sangat sukses di bidang bisnis. Usahanya merambah ke hampir seluruh dunia, memiliki rekan-rekan mulai dari multi jutawan, bangsawan, kepala negara sampai agamawan.

Peter terkenal sebagai seorang sangat sukses, kaya raya sekaligus penyantun. Ia sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial juga keagamaan untuk membantu sesamanya.Para orang tua dan guru yang saya cintai..,Siapa yang sangka bahwa Peter akan menjadi sesukses ini...? Padahal menurut kisahnya dulu saat masih bersekolah ia dianggap sebagai anak yang bermasalah dan gagal.

Peter dialahirkan di Australia, orang tuanya adalah generasi ketiga yang hidup dari tunjangan karena miskin. Peter bersekolah di Sekolah Dasar Adelaide. Ia sering mengalami masalah dalam belajar; ia kesulitan memahami serta menggabungkan kata-kata; ia juga kurang suka menulis. Peter kecil lebih gemar kegiatan bebas diluar kelas, mencari tahu hal-hal baru dan kerap kali kurang menuruti perintah gurunya yang selalu memberinya tugas-tugas tertulis atau duduk diam dikursinya. Gelar yang telah diberikan kepadanyapun cukup beragam mulai dari Diseleksia, Anak nakal, anak pemalas sampai Attention Deficit Disorder (ADD).Miss Phillips adalah guru yang paling dikenangnya.

Diantara semua guru Miss Phillipslah yang paling sering menghukum Peter untuk berdiri didepan kelas, dimana Miss Phillips sering berucap; Anak-anak..., ini adalah contoh anak nakal.., jika kalian nakal maka ibu akan menghukum kalian seperti ini!Ada satu ucapan yang begitu menancap di lubuk hati Peter yang paling dalam, sehingga ia tidak akan pernah bisa melupakannya meskipun sudah lebih dari dua puluh tahun tidak bersama gurunya lagi.

Apa katanya;Saya ingat betul, dulu setiap kali menghukum Miss Phillips selalu mangatakan pada saya; Peter kamu anak nakal, kamu tidak pernah mau nurut sama perintah ibu..., lihat saja nanti.... kamu tidak akan pernah menjadi apa-apa..!

Miss Phillips you were wrong...!Itulah buku yang begitu menyentuh dan penuh emotional yang ditulis oleh Peter Daniels sang multi jutawan terkenal di negeri kanguru, Australia. Yang didedikan khusus untuk guru yang dulu pernah merendahkannya sedemikian rupa.

Para orang tua dan guru yang saya cintai.....Saya tidak tahu apakah fenomena ini juga terjadi di negeri kita..?

Tapi anehnya mengapa anak-anak yang memiliki gejala seperti ini dan sering kali dianggap bermasalah, justru kebanyakan lebih berhasil dalam kehidupan...? sebut saja Thomas Alva Edison, John Lennon serta Peter Daniels sendiri.

Para pakar ilmu Holistic Learning; mencoba untuk menjelaskan fenomena ini pada kita;Begini katanya;Anak-anak ini sesungguhnya adalah anak yang sangat kreatif dan eksploratif, cara berpikirnya banyak didominasi oleh otak kanan dan indra dominannya pada umumnya adalah visual (mata). Sementara sistem pendidikan kita pada umumnya lebih mengarah pada pola berpikir logis dengan cara berpikir yang didominasi oleh otak kiri dan menggunakan indra dominan Auditori (telinga). Itu artinya anak yang berotak kanan harus hidup didunia yang berotak kiri.Anak-anak yang seperti ini menggunakan cara dan jalan yang berbeda dalam menerima dan memproses informasi dan umumnya sangat bertentangan dengan cara guru-guru mengajar disekolah.

Para orang tua dan guru yang saya cintai......Hal yang tak kalah aneh adalah...mengapa anak-anak yang seperti ini ternyata justru lebih banyak sukses di kehidupan..?

Para pakar Ilmu Holistic Learning kembali menjelaskan;Sesungguhnya kehidupan nyata lebih menuntut proses kreatif ketimbang proses logis. Sehingga untuk bisa sukses dalam kehidupan, anak-anak lebih banyak dituntut untuk mampu berpikir kreatif ketimbang berpikir logis.

Bukti-bukti banyak ditemukan dari perjalanan orang-orang sukses, Mereka adalah orang-orang yang sangat kreatif dalam mensiasati proses kehidupan dalam mencapai suksesnya.Pandangan ini sejalan dengan ajaran Sang Jenius Legendaris sepanjang jaman, Leonardo Da Vinci.

Vasari adalah penulis biografi dari Leonardo Da Vinci; mengatakan bahwa Leonardo Mengajarkan pada kita bahwa jika anda ingin menghasilkan karya-karya yang spektakuler....maka proses berpikir harus dimulai dari proses kreatif baru dilanjutkan pada prosese logis.

Ajaran ini dikenal dalam bahasa Aslinya Arte & Scienca. Arte & Scienca merupakan prinsip ke tiga dari ajaran Leonardo Da Vinci untuk mencetak anak menjadi seorang maestro.

Bukan main.....ternyata anak-anak yang sering dinyatakan bermasalah ini justru sudah memiliki insting belajar alami seperti yang diajarkan oleh Leonardo Da Vinci

Wahai para guru dan orang tua..... Akankah anda masih berani untuk menghakimi anak-anak yang seperti ini sebagai anak yang bermasalah dan gagal...?


Sumber: Buku Ayah Edy Judul: I love you Ayah, Bunda Penerbit: Hikmah, Mizan Group

Selasa, 21 Juli 2009

Perkutut di sangkar emas


Suatu hari ada seorang saudagar kaya yang hobinya memelihara burung perkutut. Ia cukup banyak sekali memelihara burung perkutut, dan burung-burung itu dipelihara dalam sebuah kurungan/sangkar yang berbentuk sangat indah sekali. Melihat indahnya sangkar tersebut bisa dipastikan bahwa harganya pasti cukup mahal.

Bahkan ada beberapa burung yang mendapatkan fasilitas sangkar yang paling mahal yang konon katanya berlapis emas....karena konon juga burung-burung itu dapat bicara seperti manusia.

Wow sungguh luar biasa betapa seekor burung bisa mendapatkan rumah yang berlapiskan emas....mungkin hal ini karena rasa cinta sang saudagar yang begitu besar terhadap burung peliharaannya tersebut.

sebelum pergi setiap pagi sang saudagar selalu memberi makan burung-burungnya terlebih dahulu....betapa senang hatinya telah bisa memberikan segala yang terbaik bagi burung-burung peliharaannya....

Pada suatu hari sang saudagar ingin mengetahui apakah burung-burung peliharaanya tersebut juga merasa bahagia seperti dirinya. Maka untuk itu saudagar itu mendatangi burung-burung perkutut yang berada di sangkar yang berlapis emas yang konon bisa bicara pada manusia tersebut.

Wahai burung-burung perkututku yang tercinta apakah kamu bahagia dengan segala yang telah aku berikan kepada kalian....? Diluar dugaan sang saudagar...burung-burung itu menjawab...wahai tuanku yang baik hati.... sesungguhnya kami semua belum merasa bahagia dengan keadaan kami. Bukan main kagetnya sang saudagar....lalu dengan penasaran ia bertanya....lagi, kalau begitu apa yang harus aku lakukan untuk membuat kalian semua lebih bahagia...?

Jika tuan benar-benar sayang pada kami maka lepaskanlah kami, agar kami bisa hidup di alam bebas.... agar kami bisa bebas melakukan apa yang terbaik bagi kami, semua itu jauh lebih berharga dari apapun juga.

Meskipun dengan hati berat pada akhirnya sang sudagar mau juga untuk melepaskan burung-burung perkututnya itu satu persatu ke alam bebas.. Namun jauh dilubuk hatinya yang paling dalam sang saudagar tadi benar-benar baru menyadari bahwa makna kebahagiaan bagi dirinya ternyata sangatlah jauh berbeda dengan yang dimaksud burung-burung tadi.

Para orang tua dan guru yang berbahagia dimanapun anda berada... begitu juga dengan kita dengan anak-anak kita.... karena rasa sayang kita yang begitu besarnya sering kali kita banyak mengekang anak kita seperti burung dalam sangkar, kita pikir jika kita telah memberikan segala barang-barang yang mahal dan terbaik, maka anak-anak kita akan merasa bahagia....
Demikian juga halnya dengan para guru di sekolah....kita telah mengurung kebebasan anak-anak didik kita seperti burung dalam sangkar...dengan maksud yang baik...para guru mengajarkan apa saja yang dianggapnya baik dan berguna pada murid-muridnya, memberikan tugas-tugas yang wajib dikerjakan setiap hari.....memerintahkan untuk menghapal nama-nama kota dlsb, tapi apakah hal ini semua membuat murid-murid kita bahagia...., sesungguhnya murid-murid kita jauh lebih menginginkan kebebasan dalam belajar....kebebasan dalam berpikir, kebebasan memilih pelajaran-pelajaran yang mereka sukai, kebebasan memilih ekspresi mereka masing-masing, kebebasan untuk belajar sesuai dengan gaya mereka masing-masing.

Namun pernahkan kita bertanya pada anak-anak dan anak didik kita apakah semua yang telah kita berikan itu semua telah membuat mereka bahagia, apakah kita pernah bertanya pada anak-anak kita...apakah yang membuat kalian berbahagia....? maka bisa jadi semua jawabannya akan membuat anda tercengang.

Mari biasakanlah untuk selalu bertanya apakah anak kita bahagia dengan apa yang kita berikan kepadanya....apakah yang susungguhnya bisa membuat dia bahagia dan apakah yang sesungguhnya dia inginkan dari kita para orang tua atau gurunya.....

Mari kita berikan kebebasan pada anak-anak kita untuk bisa mengespresikan keunggulan masing-masing agar mereka bisa terbang untuk mencapai puncak cita-citanya yang tertinggi, hidup mandiri dan tidak hanya bisa hidup di dalam sangkar emas yang selalu tergantung pada orang lain yang memberinya makan setiap hari......