SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Kamis, 30 Desember 2010

Akankah pada tahun 2011 hidup saya menjadi lebih baik dan bahagia..?

-----------------------------------------------------------------------------
Dikisahkan ada sepasang suami istri setiap hari kemana-mana selalu dengan mobil mewah. Mereka adalah pasangan yang begitu sibuk dengan berbagai aktivitas. Maklum sang suami adalah seorang pengusaha sukses dan istri adalah wanita karir. Dan anak merekapun disekolahkan di tempat yang terbaik dengan segala fasilitas yang serba mewah. Tentunya si anak juga disediakan sopir yang mengantarnya kemana ia pergi. Mereka terkenal di sekitar tempat tinggal mereka dan hampir semua orang mengenalnya termasuk mengenal semua kendaraan yang mereka pakai. Mereka memang tidak tinggal dilingkungan khusus orang kaya. Para tetangga masih banyak hidup sederhana. Tidak masalah mereka tetap dapat hidup rukun berdampingan. Dan masing-masing mempunyai kehidupan sendiri.

Seperti biasanya mereka berangkat pagi dan baru pulang menjelang malam dan itu berlangsung entah sudah berapa lama. ”Pak, lihat betapa bahagianya mereka. Jam segini mereka sudah ada dirumah, bercengkrama dengan keluarga sedangkan kita masih sibuk dengan segudang pekerjaan” Ucap sang istri ketika melintasi sebuah keluarga sederhana yang sedang berbincang-bincang diteras rumah. ”Iya...ya...ma. kapan yach kita bisa seperti mereka yang setiap saat bisa menikmati waktu santai dengan keluarga” Dan suaminya pun mengiyakan sambil menarik nafas dalam-dalam. Begitu terasa ada beban yang begitu berat menghimpit dada mereka berdua. ”Kadang-kadang mama rasanya ingin meninggalkan semua ini dan hidup bahagia seperti mereka”

Sementara disisi lain, dari teras rumah keluarga yang dianggap berbahagia tadi juga merasakan hal yang sama, Begitu sang istri melihat mobil tetangganya melitas di depan rumahnya tiba2 dia berkata. ”Pak, kapan yach kita bisa seperti mereka? Kemana-mana selalu naik mobil mewah. Ibu yakin hidup mereka pasti sangat bahagia” Ucap istri Sang peimilik rumah sederhana sambil menunjuk mobil yang baru melintasi depan rumahnya. ”Bapak bisa merasakan hal yang sama bu, kapan yah kita menjadi orang kaya seperti mereka, bapak selalu ingin berkerja keras hingga larut malam dan mendapat penghasilan lebih besar tapi tidak ada yang harus dikerjakan” Pandangannya menerawang jauh kedalam.

Dilain waktu anak orang kaya itu tidak kalah gelisahnya ketika menyaksikan anak-anak sebayanya diantar jemput sama orang tua mereka kesekolah sambil berboncengan motor dengan bahagianya, tidak seperti dirinya yang selalu diantar jemput sama sopir. ”Alangkah bahagianya jadi seperti mereka, kemana-mana selalu diantar orang tua mereka, sedangkan kedua orang tuaku tidak pernah melakukannya. Mereka terlalu sibuk dengan bisnis mereka. Aku iri dengan mereka” Anak itu mengeluh dan menitikkan air mata.

Sementara sambil berlalu anak yg sedang di bonceng orang tuanya di motor tadi berpikir dalam hatinya, ”Aku ingin seperti anak yang ada di mobil bagus itu. Kemana-mana ada yang antar kalau hujan tidak kehujanan dan kalau panas tidak kepanasan. Begitu pula anak-anak yg sedang berjalan kaki dan di antar orang tuanya, mereka dalam hati juga berpikir seandainya aku bisa jadi seperti anak orang kaya itu, selalu diantar mobil kemana-mana dan tidak perlu capek berjalan kaki berkilo-kilo meter dan berbecek-becek ria”


Ayah Bunda yang tercinta.......,
Cerita diatas menggambarkan bahwa manusia pada umumnya selalu melihat orang lain lebih baik dan bahagia daripada darinya. Dan kita juga sering mendengar bahwa ”Manusia memang tidak pernah ada puasnya” Omongan ini benar bagi orang-orang yang memang dikendalikan oleh pikiran yg tidak bersyukur, karena kalau kita mau mengikuti pikiran kita maka tidak akan merasa cukup. Sebelum kaya ingin menjadi kaya setelah kaya ingin menjadi lebih kaya lagi. Dan saat merasa dirinya benar-benar kewalahan mempertahankan segala efek yang ditimbulkan oleh kekayaannya dirinya merasa lelah, merasa tidak ada waktu lagi untuk berkumpul dengan keluarga. Contoh lainnya misalnya sebelum menjadi orang terkenal ingin menjadi orang yang terkenal begitu terkenal, dirinya mengeluh lagi, merasakan ruang geraknya menjadi terbatas dan tidak memiliki privacy lagi. Karena kemanapun mereka pergi selalu ada orang yg memandangi, meminta tanda tangan atau ingin berfoto dengannya.

Saat menjadi pengangguran seseorang hidup begitu stress, ketika mendapatkan pekerjaan, mengeluh lagi karena kerjaannya tidak cocok, gajinya terlalu kecil, jam kerjanya dan kantornya terlalu jauh, merasakan tidak ada waktu bersantai dan seterusnya.

Pengangguran ingin menjadi karyawan, karyawan ingin menjadi bos sedangkan bos selalu stress merasakan beban yang dipikul terlalu berat dan merasakan dirinya selalu bekerja keras sementara dia memandang anak buahnya tidak, ia marah pada semua orang.

Apasih yg kira..kira bisa mengatasi kondisi semacam ini...?

Salah satunya adalah Memili Rasa Syukur terhadap apa yang sudah kita miliki dan tidak membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, setiap manusia pasti mempunyai masalah dan beban masing-masing yang tidak diketahui oleh orang lain. Orang hanya bisa melihat sisi luarnya saja dalam hati siapa yang tahu.?

Kita melihat orang lain hidupnya lebih enak sementara orang lain melihat hidup kita enak. Kita ingin menjadi seperti mereka demikian juga sebaliknya, ketahuilah kita tidak bisa menjadi orang lain. Nikmatilah apa yg ada, apa yg kita miliki, karena yg kita miliki adalah apa yg terbaik bagi kita menurut Tuhan.

Namun manusia bersyukur bukan berarti orang yg mudah menyerah kepada keadaan. Manusia yang bersyukur adalah manusia yang selalu lapang dada menerima hasil dari usahanya yang optimal. Sedangkan manusia yang menerima nasibnya tanpa ada usaha adalah manusia yang putus asa. Apapun dan berapapun yang didapatkan dari hasil usahanya bagi manusia yang bersyukur selalu berkecukupan. Karena Manusia yang selalu bersyukur tahu berapapun yang di dapatkan dalam dunia ini tidak akan perna cukup. Kalau sudah seperti itu kenapa kita harus memaksakan diri untuk mengejar sesuatu yang memang tidak pernah cukup ?

Mari kita ingat selalu sebuah pepatah kuno yang mengatakan bahwa “Kekayaan bisa mendatangkan kesenangan tapi tidak kebahagian. Kebahagiaan hanya datang dari Rasa Bersyukur dan Berkecukupan atas apa yg kita miliki.

SELAMAT TINGGAL TAHUN 2010...
SELAMAT DATANG TAHUN BARU 2011

Mari kita sambut dengan ceria hidup ini dan ucapkanlah syukur dan terimakasih pada Tuhan setiap hari atas semua yg telah kita miliki dan kita bisa lakukan.... tersenyumlah selalu maka hidup ini akan menjadi jauh lebih indah dan penuh arti.

Rabu, 15 Desember 2010

Anak yang bermasalah atau kita yang bermasalah...?

========================================================
Seorang ibu, kenalan baik saya minta agar saya menolongnya menangani kasus anak gadis kecilnya yang berusia 10 tahun. ”Tolonglah, anakku ini sudah kubawa ke psikolog, tapi belum juga ada tanda2 mau berubah, dia anak yang pandai, IQ-nya 140. Tapi tingkah lakunya benar-benar memprihatinkan. Tempo hari, anakku itu berada di kamar terus, kerjanya hanya baca komik saja... Setelah aku marahi, eh! Dia sudah tidak baca komik lagi, tapi nonton TV melulu berjam-jam kayak tidak ada kerjaan lain.. Nanti kalau sudah dimarahi, baru dia belajar di meja makan. Aku nggak tahu apa saja yang dikerjakannya di meja makan tersebut, kerjanya hanya mencorat-coret meja, benar-benar bikin kepalaku pusing.. Belakangan setelah aku marahi lagi, sekarang dia jadi suka berteriak-teriak histeris, suka berbohong dan suka memukul adiknya. Aku lihat, anak ini memang aneh dan selalu bikin aku stress....!!!”

”Nah sekarang coba jawab pertanyaan saya!” Potong saya. Tampaknya, jika saya tidak memotong pembicaraanya, ibu ini tidak akan berhenti berbicara. “Sebenarnya, apa yang harus dilakukan anakmu itu supaya bisa membuatmu senang?” Tanya saya. Pertanyaan saya membuat suasana menjadi sunyi, ibu itu berpikir keras untuk menjawab pertanyaan saya. Jika tadi tampaknya ia mau bersahabat mencurahkan isi hatinya pada saya, kini tampak raut wajahnya cemberut karena saya bertanya demikian.

“Kamu sendiri saja tidak tahu apa yang kamu inginkan, itulah yang membuat anakmu juga menjadi bingung. Kebingunganmu sudah sedemikian parahnya, sehingga anakmu menjadi frustrasi, itulah mengapa ia mulai melakukan hal yang tidak baik. Tidakkah engkau mampu melihat anakmu menuruti setiap perkataanmu, tapi akhirnya selalu kaumarahi juga? Semua yang ia lakukan, selalu salah di matamu!” Jelas saya.

“Aku benci kehamilanku yang pertama...” Sahut ibu itu sambil tertunduk dan terisak. Oh...! Aku benci karena suamiku tidak ada di sampingku pada saat ia dilahirkan, aku benci suamiku tidak pernah membantuku saat ia sering menangis di tengah malam, sakit2an, saat masih bayi aku sering begadang sendirian kebingungan, aku benci...suamiku yg tak pernah peduli pada keluarganya...oh.. aku stress ia sering pulang larut dan gila kerja..!!!

Ternyata, ada masa lalu dan masalah lain yang harus didamaikan, sesungguhnya anaknya sama sekali tidak bermasalah kata hati kecil saya.

Kisah ibu ini hanya salah satu dari sebegitu banyak kisah menyedihkan dimana anak-anak yang tidak mengerti apa-apa telah menjadi korban masalah pribadi orangtuanya.

Banyak anak-anak pandai tidak dapat mencapai hasil yang maksimal justru karena ketidakmampuan diri orangtuanya berdamai dengan masalah pribadinya, anak-anak itu dipaksa untuk merasakan kesedihan dan kemarahan orangtuanya dan menjalani rutinitas hidup yang ’sakit’ di dalam raga yang seharusnya sehat.

Menurut saya kedua orang tuanyalah yg sesungguhnya bermasalah dan lebih membutuhkan terapi.

Para orang tua yg berbahagia...
Jika ada masalah dengan anak kita mari kita sadari segera apa sesungguhnya yg sedang terjadi, Anak kita yang bermasalah atau malah justru kitalah yang sedang bermasalah..?

Mungkin sepertinya kita para orang tua perlu lebih banyak belajar dari anak...?

----------------------------------------------------------------------
Berikut adalah pengalaman seorang guru Les Piano tentang salah seorang muridnya yang bernama Wo Jin Yu .

Suatu ketika dia mendapatkan seorang murid yang bernama Wo jin yu yang berusia 12 tahun, Pada saat pertama kali mendaftar les ia di antar oleh ayahnya.

Pada hari pertama mengikuti kursus seperti biasa sang guru piano mengatakan bahwa ia senang sekali menerima Wo sebagai muridnya, karena usia Wo masih sangat muda dan itu akan sangat baik sekali karena pada usia dini biasanya seseorang akan sangat mudah sekali untuk di ajari seuatu terutama musik katanya.

Maka sejak hari itu Wo kecil mulai belajar bermain piano, namun saya melihat sepertinya dia kaku sekali, jari-jemarinya sulit sekali di gerakkan, selain itu sang guru piano juga mendapati bahwa Wo sangat tidak peka dengan bunyi-bunyi nada. Tapi tak apalah pikirnya karena mungkin ini hari pertamanya.

Namun demikian sepertinya Wo terus berusaha dengan keras untuk memainkan jari-jarinya di atas piano tersebut dengan bunyi yang tidak beraturan dan agak memekakan terlinga.

Beberapa bulan Wo telah mencoba mempelajari segala yang saya wajibkan untuk dipelajarinya, namun sepertinya tidak ada kemajuan yang begitu berarti. Sampai suatu ketika sempat terlontar kata dari saya bahwa sepertinya Wo tidak memiliki bakat yang cukup untuk menjadi seorang pianis yang baik. Namun Wo mengatakan bahwa ia ingin bisa bermain piano karena ibunya ingin sekali ia bisa bermain piano. Dan Wo mengatakan bahwa ia sesungguhnya kurang menyukai piano namun ia begitu mencintai Ibunya. Sehingga ia akan terus berusaha untuk bisa bermain piano.

Karena sepertinya sulit sekali saya mengajarinya untuk bermain piano, suatu ketika saya katakan padanya bahwa mungkin ia bisa mempelajari alat musik lainya, Namun Wo dengan tegas mengatakan Tidak, saya harus bisa bermain piano, suatu saat ibu saya akan bisa mendengar saya bermain piano dengan baik. katanya mantap.

Setiap hari semangat Wo untuk bermain piano semakin tinggi dan ia terlihat semakin bekerja keras untuk bermain piano. Belakangan saya mengetahui bahwa dirumah pun ia terus berlatih piano siang dan malam. Setiap hari Wo selalu di antar jemput oleh ayahnya. Namun sudah beberapa hari ini sepertinya Wo tidak datang untuk berlatih piano lagi, ada apa gerangan, dalam bathin saya bertanya-tanya. Tapi saya berpikir tak apalah mungkin saja pada akhirnya dia menyadari bahwa memang dia tidak berbakat untuk bermain piano dan memutuskan untuk berhenti. Ahrinya saya memutuskan untuk tidak menghubunginya.

Enam bulan setelah kejadian itu saya membagikan brosus pada para murid piano saya untuk memberitahukan bahwa dua minggu lagi akan di adakan konser musik piano di balai kota yang akan dimainkan oleh anak-anak murid asuhan saya. Namun saya agak terkejut ketika tiba-tiba Wo datang dan menyatakan ia ingin ikut serta dalam pertunjukan konser tersebut.

Lalu saya katakan sebenarnya pertunjukan konser itu hanya untuk murid-murid les saya saja, dan karena Wo sudah lama tidak les maka sepertinya Wo tidak bisa mengikutnya. Namun dengan nada serius dan setengah memaksa Wo meminta saya agar ia bisa mengikutinya. Ia berkata bahwa selama enam bulan ini ia tidak bisa datang Les karena ibunya sedang sakit dan ia tidak mau meninggalnya sendirian di rumah. Lalu dia juga meyakinkan saya bahwa meskipun tidak ikut les ia terus berlatih keras siang dan malam untuk bisa bermain piano. Dan dengan nada memelas dia berkata... Tolonglah bu beri saya kesempatan untuk bisa ikut serta dalam pertunjukan tersebut.

Saya berpikir jika Wo ikut mungkin bisa merusak pertunjukan yang ada nanti, tapi entah mengapa dari dalam bathin saya kok seperti ada dorongan kuat untuk memberikan kesempatan pada anak ini untuk mengikutinya hingga pada akhirnya saya pun mengijinkan Wo untuk ikut.

Malam pertunjukan datang. Balai Kotapun dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi. Saya menempatkan Wo pada urutan terakhir persis sebelum saya tampil ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir dari konser malam itu. Saya rasa jika terjadi kesalahan yang buat oleh Wo di akhir acara nanti saya bisa menutupinya dengan permainan saya.

Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah. Murid-murid telah berlatih dan hasilnya sangat bagus. Lalu tibalah kini giliran Wo naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya agak berantakan saya berpikir dalam hati. "Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?" dan. "Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini saja..?"

Wo menarik kursi piano dan mulai bicara. Saya terkejut ketika Wo menyatakan bahwa dia telah memilih untuk memainkan karya Mozart's Concerto #21 in C Major. Jantung saya berdebar keras menantikan apa yang akan terjadi karena saya tahu itu adalah tidak mudah apa lagi bagi seorang anak seperti Wo. Namun tiba-tiba saja terdengar alunan nada yang begitu indah, terlihat ayunan jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari nari dengan indah dan gesitnya. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo... dari allegro ke virtuoso. sungguh sangat mengagumkan!

Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur anak 12 tahun sebagus dan seindah itu! Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar, dan tanpa sadar telah membuat semua orang terpana seolah tidak percaya pada apa yang mereka saksikan dan mereka dengar...namun taklama setelah itu terdengar tepuk tangan yang riuh dan sangat meriah.

Segera saja mata saya berlinangan air mata, saya segera naik ke panggung dan memeluk Wo dengan penuh rasa haru dan sukacita."Saya belum pernah mendengar kau bermain piano seindah itu, Wo! Bagaimana kau melakukannya?" Melalui pengeras suara Wo menjawab, "Bu Yun Yi.. masih ingatkah ibu ketika saya berkata bahwa mama saya sedang sakit? Ya, sebenarnya mama saya sedang sakit kanker dan dia baru saja meninggal tadi pagi. Tahukah ibu bahwa sebenarnya... mama saya itu tuli sejak lahir jadi aku yakin malam inilah pertama kali ia bisa mendengar suara aku bermain piano. Permainanku malam ini sengaja aku persembahkan khusus bagi mama ku sebelum ia pergi menemui Tuhannya."

Tak satupun dari para penonton yang hadir malam itu yang kuasa untuk menahan airmatanya, bahkan dari beberapa sudut ruangan terdengar beberapa isak tangis penuh keharuan.

Ketika panitia membawa Wo turun dari panggung ke ruang istirahat, saya segera menyadari meskipun mata saya masih merah dan bengkak penuh keharuan, namun saya begitu bersyukur betapa hidup saya jauh lebih berarti karena pernah menerima Wo sebagai murid saya.

Selama ini saya selalu merasa saya adalah guru bagi mereka, tapi malam ini saya merasa menjadi seorang murid yang telah di beri pelajaran berharga oleh Wo. Dialah sesungguhnya gurunya, guru kehidupan bagi saya dan sayalah muridnya. Karena malam ini Wo mengajarkan pada saya arti sebuah kerja keras, cinta kasih dan keberhasilan.

Minggu, 12 Desember 2010

Apa yg harus saya lakukan jika anak sy bertanya tentang SEX..?

Tanya:
ayah edi yang baik... nama saya Bu Is, umur 26 thn. saya senang mendengarkan siaran ayah di radio smart fm. saya yakin karena ini akan berguna bagi saya nantinya, saya ingin bertanya tentang pendapat ayah mengenai sex. dan bagaimana cara menjelaskannya kepada anak-anak ataupun remaja tanpa ada unsur pornografi. Karena saya terkadang bingung untuk menjawabnya jika ada seorang anak kecil yang bertanya mengenai sex. sekian pertanyaan dari saya dan terimakasih untuk siaran ayah yang begitu bermanfaat.;



Jawab:
Bu Is yg baik, Sex itu sebenarnya Netral (tidak positif juga tidak negatif). Pada saat kita bicara sex maka kita akan meresponse dengan otak kita. Otak kita memiliki dua belahan yakni belahan kiri dan belahan kanan, pada saat belahan kiri kita yg lebih aktif merespon maka Sex akan diterjemahkan sebagai sebuah aktivitas Reproduksi Alamiah dari Mahluk Hidup dan pemikiran kita akan lebih mengarah pada bentuk proses sains biologis. Sementara pada saat otak belahan kanan yg lebih aktif merespon maka sex akan menjadi sebuah proses imaginasi proses reproduksi. Nah pada saat imaginasi ini melanglang buana dan tidak terkontrol maka ini akan mengarah pada PORNOGRAFI.

Sebenarnya ada maksud Tuhan terhadap proses respon otak kiri dan otak kanan manusia terhadap Sex, Aktivitas otak kiri bertujuan untuk Sains Biologis sementara aktivitas otak kanak untuk proses biologis itu sendiri. Proses otak kiri dibutuhkan untuk pengembangan sains biologi, sementara aktivitas otak kanan dibutuhkan bagi pasangan yg sudah menikah untuk proses harmonisasi hubungan suami istri.

Hanya saja ini menjadi sebuah proses penyimpangan atau Pornografi manakala penggunaan imaginasi otak kanak terjadi pada saat yang kurang tepat (belum menikah), terhadap orang yg tidak tepat (bukan istri sah) dan dengan cara yang kurang tepat (di videokan dan tersebar di masyarakat).

Jadi tugas kita bagi pendidikan sex anak adalah membawa pertanyaan dan obrolan sex untuk lebih mengaktifkan response otak kiri mereka, caranya dengan mengajaknya mempelajari proses reproduksi mahluk hidup dan meniliti apa yg terjadi pada proses reproduksi tersebut, mulai yg terjadi pada manusia, pada hewan, serangga hingga tumbuhan. Ajukan pertanyaan yg menantang misalnya bagaimana dengan proses reproduksi semut, lalu bagaimana pula dengan cacing ikan dsb. Mari kita cari tahu dari buku2 sains biologi. Selain itu kita juga bisa membahas dampak negatif dari aktivitas sex yang menyimpang dengan menggunakan buku2 kedokteran tentang penyakit seputar mulut dan kelamin.

Tanggapilah pertanyaan sex anak ini bukan sebagai hal yang tabu untuk di bicarakan melainkan sesuatu yg menarik untuk di bahas, di kaji dan di temukan dasar2 ilmiahnya. Sering-seringlah melatih otak kiri anak dalam merespon masalah sex ini, agar responnya kelak juga demikian saat ia dewasa.

Response seorang “Play Boy” dan serorang Dokter Ahli kelamin pastilah berbeda meskipun mereka membayangkan obyek yg sama, perbedaan ini ditentukan oleh otak mana yg lebih dominan dalam meresponsnya.

Coba anda tebak respon otak mana yg dimiliki seorang Play Boy dan response otak manakah yg biasa dimiliki oleh Dokter Ahli Kelamin..?

Jika anda bisa menjawabnya dengan tepat, itu artinya anda sudah memahami apa yg perlu kita lakukan pada anak dan remaja kita terhadap pertanyaan dan masalah seputar sex agar response mereka menjadi jauh lebih sehat.

Salam hangat,
ayah edy

Jumat, 26 November 2010

RENUNGAN AKHIR BULAN DALAM RANGKA HARI GURU NASIONAL

----------------------------------------------------------------
Socrates adalah Guru besar para filusuf yg hidup 2400 tahun sebelum masehi, beliau adalah perintis sekolah pertama yg didirikan oleh Plato yg diberinama Academia di Yunani. Prinsip dasar dibuatnya sekolah pada awalnya adalah untuk mengajarkan setiap murid akan “Wisdom of Life” (kebijaksanaan hidup) karena Socrates berpendapat pada dasarnya setiap manusia cerdas sementara untuk menjadi bijaksana manusia perlu belajar sepanjang hidupnya.

Smart is a gifted of our in born but Wisdom is a need a long learning process. Kecerdasan adalah pemberian Tuhan pada setiap anak, sementara Kebijaksanaan perlu proses pembelajaran yg lama (mungkin sepanjang hayat).

Pandangan Socrates tersebut secara sains ternyata di benarkan oleh seorang Professor dari Harvard University Dr. Howard Gardner 1992, melalui bukunya The Frame of Mind yang menyatakan setiap anak adalah cerdas pada bidangnya masing2, tugas kita bukan mengajarinya melainkan mengamati, menggali dan mengembangkannya untuk mencapai tingkatan yg terbaik.

Letak kekacauan pendidikan zaman sekarang adalah bahwa kita menganggap setiap anak yg terlahir adalah tidak cerdas dan sibuk untuk mengukur dan men-tes tingkat kecerdasannya serta berlomba2 merancangkan kurikulum yg terus di rombak untuk mencerdaskannya, sementara sekoah lupa mengajarkan kebijaksanaan di sepanjang hidup anak bersekolah (lebih kurang 18 tahun)

Padahal inti dari sebuah kecerdasan itu lahir dari sebuah kebijaksanaan hidup. Plato telah membuktikan hal ini melalu muridnya yg bernama Aristoteles, melalui kebijaksanaan Plato berhasil melahirkan seorang murid yg ahli di berbagai bidang mulai filsafat, kedokteran, matematika, geologi, ilmu falak dsb. Hingga Aristoteles mendapat julukan Bapaknya Ilmu Pengetahuan.

Namun sayangnya ajaran yg luar biasa ini telah di lupakan oleh sistem pendidikan zaman sekarang, sehingga kita bisa melihat akibat yang ditimbulkannya. Anak-anak kita yang pada awalnya sangat cerdas, kreatif, exploratif dan penuh rasa ingin tahu saat mereka masih usia balita, namun semua itu sirna pada saat mereka mulai bersekolah, semakin lama bersekolah mereka semakin menjadi anak yg pasif dan tak peduli.

Satu-satunya bentuk transformasi prilaku kecilnya yg kreatif dulu adalah maraknya kekerasan di kalangan anak & ramaja, penyimpangan prilaku sexual, munculnya generasi punk anak usia dini, ini semua terjadi karena mereka tidak memiliki kebijaksanaan hidup dan tidak pernah di ajari kebijaksanaan hidup melalui kurikulum sekolahnya. Sementara di kalangan dewasa kita jelas2 menyaksikan betapa banyak orang-orang yg tidak lagi memiliki rasa kebijaksanaan, berpelesiran keluar negeri dengan uang rakyat sementara saudara-saudara mereka sedang menderita di terjang berbagaimacam bencana, dan saling berdusta untuk menyangkalnya. Lengkap sudah....

Saya teringat dulu mengapa saya berada di tempat dan profesi saya yg sekarang sebagai pendidik, yakni karena seorang profesor mangatakan bahwa akar dari semua masalah yang di hadapi oleh bangsa mu adalah PENDIDIKAN. Ya... Mereka yg ada sekarang adalah cermin bagaimana mereka dulu di didik oleh orang tua mereka dan terutama oleh sistem kurikulum di sekolah-sekolah mereka. Begitu katanya...

Jika kita ingin bangsa ini berubah, marilah kita mulai dari pendidikan dan mulai dari keluarga kita sendiri, Jika setiap keluarga Indonesia mau melakukannya maka Indonesia akan menjadi negara yg kuat dan mulia dengan sendirinya tanpa perlu “orang PINTAR yang menggonta-ganti buku dan kurikulum setiap tahun, tanpa perlu anggaran yg membebani negara serta tanpa perlu konsep yg rumit dan berbelit-belit.

Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu bangsa jika bangsa itu tidak berusaha untuk mengubahnya sendiri.

Lets make Indonesian Strong from Home !!

Kamis, 25 November 2010

SEANDAINYA SEMUA GURU SEPERTI INI.....???


------------------------------------------------------

Para orang tua yang berbahagia.... Bersama seorang guru disuatu sekolah di Bogor kami biasanya sering mendiskukan berbagai macam permasalahan dan prilaku anak disekolah tersebut. Mulai dari yang ringan sampai yang terkadang agak berat.

Suatu ketika sang guru menceritakan salah seorang muridnya yang sangat sulit sekali di didik dan di ajar.... anak ini terlihat agak lambat menerima pelajaran katanya. Beberapa kali kita cobakan cara yang kira-kira tepat untuk membantu anak ini. Namun sepertinya belum membuahkan hasil yang membahagiakan.

Beberapa waktu berlalu, saya masih sering berkomunikasi, dan masih terus berusaha untuk membantu si murid agar bisa menjadi lebih baik; namun berbagai cara telah dicoba ternyata belum berhasil juga. Kali ini rupanya kami berdua sepertinya sedang di Uji oleh Tuhan.

Setelah lebih dari 1 tahun berselang kami bertemu lagi dengan guru tersebut; dengan wajah yang berbinar-binar menceritakan bahwa ia telah berhasil membuat kemajuan yang berarti bagi muridnya itu. Wah saya juga jadi ikut bahagia mendengar berita baik itu. Namun saya jadi penasaran metede apa yang telah ditemukan oleh si Guru tadi sehingga ia berhasil membuat muridnya menjadi lebih baik dan berprestasi lebih bagus....

Dengan penuh penasaran saya bertanya padanya; Ibu bagaimana caranya sampai bisa berhasil.....?

Bagini ayah.... suatu malam saat saya sedang beribadat saya teringat murid saya itu; kemudian seketika itu saya coba membayangkan wajahnya baik-baik....lalu perlahan-lahan saya mengadukan hal ini pada Tuhan; Saya berkata, "ya Tuhan....kami sudah berupaya keras untuk membuat anak ini menjadi lebih baik, kami sudah menggunakan berbagai macam cara untuk membantunya, Tapi toh kami belum berhasil juga....; Kami sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, Ya Tuhan tolonglah kami, kami hanya ingin anak ini menjadi lebih baik.....", lalu saya bersujud sambil menitikkan air mata berharap supaya permohonan saya dikabulkan......

Lalu ibu guru itu melanjutkan, Sungguh diluar dugaan katanya; keesokan harinya mulai terjadi perubahan dan peningkatan yang sangat signifikan terhadap kemampuan belajar si anak; saya bukan main girangnya; betapa begitu banyak misteri dalam diri anak kita yang masih belum berhasil kita ketahui dan begitu banyak misteri dalam diri murid kita yang belum berhasil di kupas oleh pengetahuan. Namun ternyata tidaklah demikian bagi Tuhan; segala yang tidak mungkin bagi kita selalu mungkin bagi Tuhan.

Para orang tua.... Saya sungguh terharu mendengarkan penuturan sang ibu guru tadi; tak sadar airmata sayapun menitik membahasahi pipi; Lalu pada malam harinya dalam sujud kepada Tuhan....saya merenung ...,

.....Wahai Tuhan....Seandainya saja di negeri ini ada lebih banyak guru yang begitu mencintai muridnya; dan mau mendoakan muridnya secara sungguh-sungguh, saya yakin sebesar apapun persoalan yang kita hadapi akan mampu kita pecahkan.....

*True Story yang saya alami bersama dengan seorang guru salah satu sekolah di Bogor.

IRONI PENDIDIKAN DI NEGERI KU - Karya Agus Sardjono


==========================================================

Para orang tua yang berbahagia suatu hari saya menghadiri sebuah acara simposium pendidikan yang diselenggarakan di Jakarta, oleh Forum Pengajar, Dokter dan Psikolog bagi Ibu Pertiwi.

Acara itu sungguh luar biasa dan dihadiri oleh lebih dari 1500 orang peserta yang sebagian besar adalah pendidik dan guru. Pembicara yang hadir juga merupakan orang-orang yang luar biasa peduli di bidang pendidikan, mulai dari wakil guru yang ada di hutan rimba alias Butet Manurung, hingga wakil tokoh besar pendidikan Yayasan Perguruan Taman Siswa, Ki Hajardewantara,. Di forum ini juga tidak ketinggalah hadir Tokoh Lintas agama Bapak Anand Krishna, seniman, budayawan artis dan lain sebagainya.

Menurut saya sebenarnya simposium ini nyaris sempurna, seandainya saja waktu itu Mentri Pendidikan dan Menteri Kesehatan sebagai tokoh sentral yang di undang sempat menyaksikan langsung acara simposium ini. Tapi apa mau dikata The Show Must Go On! begitu kira-kira kata salah seorang pembicara.

Namun ada satu hal yang paling menarik bagi saya dari seluruh acara, yakni sebuah puisi yang di bacakan oleh seorang seniman, namanya Mas Agus Sarjono, yang isinya betul-betul membuat hati saya tergelitik, puisi ini merupakan sebuah kritik sosial yang dibuat sangat cantik dan mengena bagi kita semua, terutama para tokoh pendidikan yang ada di negeri ini....

Dan dengan kerendahan hati serta ijin dari Mas Agus Sarjono yang saya dapatkan melalui Pengurus Forum tersebut, saya ingin anda juga bisa mendengar dan sekaligus merenungkannya. Mari kita simak bersama isinya;
===========================================================

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu. Lalu mereka pun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu.

Di akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop, berisi perhatian dan rasa hormat palsu.

Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru.

Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu. Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman yang juga palsu.

Dengan gairah tinggi mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu. Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan berbagai barang kelontong kualitas palsu.

Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus palsu dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri yang dijaga pejabat-pejabat palsu.

Masyarakat pun berniaga dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan gagasan-gagasan palsu di tengah seminar dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring dan palsu.
========================================================

Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada...., Demikianlah puisi yang dibuat dan dibacakan langsung oleh Mas Agus Sarjono, Pada acara simposium besar Forum Pengajar, Dokter dan Psikolog yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25 Oktober 2007.

Meskipun ini hanyalah sebuah puisi, tapi paling tidak puisi ini bisa menjelaskan mengapa begitu banyak kita menemukan kepalsuan yang terjadi di negeri ini.

Mari kita renungkan bersama.......

Jumat, 19 November 2010

Anda Stress.. Karena anak anda lebih suka bermain dari pada belajar...?

--------------------------------------------------------------------------------
Apakah kita sering bermain saat sedang bekerja..? Mungkin karena dulu kita termasuk anak-anak yg kurang bermain karena terpaksa/dipaksa harus belajar, belajar tiada henti dan mengerjakan PR yg bertumpuk tiada habisnya. Padahal saat itu Tuhan merancang kita sebagai mahluk kecil yg tugasnya bermain.

Mengapa kita alergi melihat anak kita bermain. Yang pertama karena dulu orang tua kita juga alergi melihat kita bermain (faktor warisan orang tua). Yg kedua perngaruh lingkungan yg mengatakan bahwa jika anak rajin belajar maka jd orang sukses dan jika anak terlalu banyak bermain jadi orang gagal. Kita lupa pada fakta sejarah, seolah-olah orang-orang yg sukses saat ini dulu waktu kecilnya tidak pernah bermain dan selalu belajar.

Fakta sejarah justru menunjukkan sebaliknya; Leonardo da Vinci sang Jenius Dunia di segala bidang, dulu waktu kecilnya selalu bermain keliling kota Vinci bersama kakeknya. Thomas Edison selalu bermain di Garasinya yg dia katakan sebagai Laboratorium, Albert Einstein selalu bermain di danau bersama perahunya, saat ia tidak menyukai pelajaran di sekolahnya, dan banyak lagi tokoh sukses lainnya yang pada masa kecilnya justru sangat puas bermain. Davinci, Edison dan Einstein kecil ini tidak menyadari bahwa malalui bermain itulah justru sebenarnya mereka banyak belajar.

Itulah mengapa AS Neil mendirikan sebuah sekolah di Inggris “THE SUMMER HILL” School, yg membolehkan setiap anak untuk bermain dan memilih aktivitas harian yg ingin dipelajarinya, dan bahkan belajarpun dilakukan sambil bermain. Itulah sekolah yg sangat di sukai anak dan di cintai oleh para alumnusnya namun sekaligus di benci oleh Dewan Pendidikan Kota

Begitu pula dengan Sosaku Kobayashi di Jepang dengan sekolah Tomoegakuen, sekolah yg berhasil membuat semua dan seluruh siswanya menjadi orang sukses di dalam dan di luar negeri, menjadi Duta Kemanusiaan di PBB, menjadi Ahli Nuklir di AS, Menjadi Ahli Ruang angkasa di Nasa. Sekolah yg selalu mengajak anaknya bermain dan bermain, dan mereka menyebutnya itu adalah belajar.

Oleh karena itu jika anak anda berusia balita hingga SD ijinkanlah ia untuk bermain, karena bermain adalah bagian dari fitrah alami seorang anak. Belajarlah sambil bermain, dan mengerjakan Tugas sambil bermain. Pilihkanlah permainan yg sehat bagi mereka.

Tahukah anda bahwa mayoritas permainan tradisional Indonesia sangat sehat dan mendidik seperti Congklak (strategi, kejujuran, kesabaran, hitungan), “Yeye” Karet lompat atau Karet Putar (Motorik, konsentrasi, prestasi, euritmik), Mobil-mobilan kulit jeruk (kreativitas, inovasi, non toxic, pemanfaatan limbah, Wayang (filosofi, etika moral). dsb.

Michel Jackson adalah contoh Tragis dari seorang anak yang “di renggut” masa kanak-kanaknya oleh sebuah ambisi sukses orang tua. Anak kecil ini telah di paksa dengan kekerasan untuk melalukan latihan serius ala orang dewasa dan tidak di ijinkan untuk menikmati masa kanak-kanaknya secara alami.

Betul memang MJ secara kasat mata kelihatan sebagai orang yg sangat “SUKSES” bergelimang harta dan ketenaran, namun tahukah anda bahwa jiwanya begitu rapuh dan selalu rindu akan masa kanak-kanaknya yg hilang terampas dan tidak pernah bisa kembali lagi. Itulah mengapa dirinya juga sekaligus bergelimang masalah.

Ya...!! masalah yg berawal dari ambisi orang tua dengan alasan agar kelak anaknya menjadi orang sukses.

Mari kita renungkan bersama...

Selamat ber-akhirpekan dan selamat bermain bersama putra-putri tercinta.

Salam hangat,
ayah edy

Kamis, 18 November 2010

BELAJAR DARI BINATANG











===============================================
Ternyata Siput saja mau mengasuh anaknya dengan penuh kasih sayang, bagaimana dengan kita...?

Jumat, 12 November 2010

Ayah saya bingung kenapa anak saya yang nomer dua tidak sepandai kakaknya ya..? padahal kami memberikan segala sesuatunya serba sama.

----------------------------------------------------------------------
Ayah, nama saya Fransisca, ibu dari 3 orang anak, nomer satu berusia 8 tahun, nomer dua berusia 5 tahun dan paling kecil baru 2 tahun. Saya bingung mengapa anak saya yang kedua ini kok sepertinya tidak sepandai kakaknya ya...? saya lihat dia sulit sekali untuk diajari sesuatu terutama mengenali huruf-huruf, maunya hanya main sendiri dan menggambar coretan-coretan saja. Padahal saya merasa sejak kecil tidak pernah membedakan satu dengan yang lain dalam berbagai hal terutama asupan gizinya.

Bu Fransisca yang baik, mulai hari ini ibu tidak usah bingung lagi, karena memang sebenarnya sangatlah alamiah jika setiap anak berbeda. Menurut pandangan Ilmu Multiple Intelligence yang di pelopori oleh Dr. Howard Gardner sesungguhnya setiap anak itu terlahir cerdas, tidak ada yang bodoh. Hanya mereka cerdas pada bidang yang berbeda-beda. Bahkan pada anak-anak yang telah di nyatakan terbatas “disable” sekalipun masih bisa digali kecerdasannya; contoh yang paling nyata dari temuan zaman ini adalah kisah He Ah Lee, The four Finger Pianist dari Korea. Pianis dengan 4 jari karena mengalmi “Sindrom Jari Capit Kepiting” plus Down Syndrome secara bersamaan, namun berkat kegigihan Ibunya akhirnya ia mampu memainkan partitur tersulit dari musik klasik dan mendapatkan pengakuan Dunia International.

Selama ini masyarakat pada umumnya telah memandang anak hanya dalam bentuk Hitam-Putih, kalau tidak pandai maka bodoh, kalo tidak bisa tenang maka hiperaktif. Padahal anak-anak kita itu sungguh berwarna-warni. Mereka semua adalah Mahakarya dari Tuhannya. Jadi sebenarnya yang kita perlu lakukan adalah membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam diri anak kita, dan bukannya memberikan label-label negatif karena ketidakmampuan kita menterjemahkan pesan-pesan Tuhan dalam diri mereka.

Menurut Howard Gardner, kekeliruan terbesar kita dalam memandang kecerdasan adalah bahwa kita telah menetapkan bahwa anak yang cerdas adalah anak-anak yang memiliki kemampuan lebih di bidang Baca Tulis dan Hitung, dan lebih mengerucut pada pemahaman anak yang unggul dalam bidang hitungan atau eksakta. Oleh karena itu setiap anak akan diukur berdasarkan barometer yang salah ini, sehingga tentu saja akan banyak anak kita yang masuk kategori tidak cerdas. Padahal menerut penelitian saya selama lebih dari 20 tahun, bekerjasama dengan para ahli syaraf (neuroscientist), ternyata kami menemukan bahwa kecerdasan itu sungguh sangat beragam dan kemampuan berhitung itu (yang di anggap sebagai satu-satunya kecerdasan saat ini) hanyalah salah satu saja dari berbagai jenis kemampuan otak manusia; yang saya menyebutnya sebagai kecerdasan Logis Matematis. Sesungguhnya Otak kita memiliki berbagai kecerdasan yang luar biasa dan tidak hanya terbatas pada kemampuan eksakta saja. Bahkan sejarah telah mencatat bahwa kemampuan kecerdasan yang paling besar pada manusia adalah “KECERDASAN BERBAHASA” yakni pada saat otak manusia mampu menciptakan bahasa beserta simbol-simbolnya, yang menyebabkan berkembang pesatnya peradaban manusia di bumi.

Bu Fransica yang baik, Sesungguhnya dalam setiap prilaku anak, merupakan petunjuk bagi kita tentang kecerdasan apa yang dimilikinya. Misalnya, anak ibu yang lebih tertarik membuat oret-oretan gambar dari pada mengenali huruf, ini menunjukkan tanda-tanda awal munculnya kecerdasan desin ruang, imajinasi gambar. Kesukaan anak ibu untuk bermain sendiri itu lebih menunjukkan bahwa ia sedang mengemambangkan kemampuan Imajinasi Cerita dan sama sekali bukan menunjukkan ia tidak pandai.

Jadi sekali lagi ibu tidak perlu khawatir, mulai hari ini mari kita berfokus untuk menggali jenis kecerdasan apa yang sesungguhnya tersimpan dalam diri anak ibu yang ke2 juga mungkin yang ke 3.

Pada edisi mendatang, kami akan lebih mengupas tentang kecerdasan-kecerdasan apa saja yang tersimpan dalam masing-masing anak beserta cara mengetahuinya, sehingga ibu dan para orang tua dapat mengasah dan mengembangkannya sejak usia dini, agar kelak anak kita bisa menjadi anak-anak yang unggul di bidangnya masing-masing dan tidak lagi terperangkap pada pandangan pintar dan bodoh terhadap anak kita.

Rabu, 03 November 2010

Kado Terbaik Perkawinan, Bacaan terbaik untuk para calon Mempelai dan Ayah Bunda

----------------------------------------------------------------------


Tersedia di Toko Buku Gramedia dan toko buku lainnya di kota anda, atau dapat pesan langsung, silahkan Kontak Mba Leni 021-861-2656 Syarif : 0813-9506-7878

Selasa, 02 November 2010

Mendengarkan siaran ayah di Smart FM via Internet? Yook kita coba !!!


---------------------------------------------------------------------------------------
Selasa malam ini pukul 20.00-22.00 WIB, ayah akan membahas secara live di SMART FM 95.9, tentang -APAKAH ANDA TERMASUK ORANG TUA YG SUDAH TERJANGKIT PENYAKIT KOMPLEKS SINDROM"..?

Acara ini akan di siarkan ulang setiap Sabtu pukul 20-00-12.00 WIB di SMART FM Jakarta, atau waktunya disesuaikan dengan siar ulang Smart FM di kota masing-masing.

Temukan Frekwensi SMART FM dan radio yang merelaynya di kota anda di Blog ini.

Jika dilokasi anda tinggal tidak terdapat station Radio Smart fm, anda masih bisa mendengerkannya via Internet Radio Streaming dengan mengetik : http://www.smartfm.co.id/ lalu tekan tombol "PLAY" dan selamat mendengarkan.

Mari kita bangun Indonesia yang kuat dari keluarga melalui anak-anak kita tercinta !!!

Salam Hormat,
AE Mgmt

Jumat, 29 Oktober 2010

RENUNGAN AKHIR PEKAN DI NEGERI 1001 MASALAH


---------------------------------------------------------------------------
Orang tua dan sekolah paling khawatir jika anakyna tidak pintar. Kita tidak pernah khawatir jika anak kita tidak jujur dan berkarakter. Tidak ada tempat bagi raport anak disekolah untuk masalah karakter melainkan hanya sebatas kolom Alpha-Ijin dan Sakit. Ukuran karakter bagi anak kita adalah sebatas seberapa banyak dia Alpha dan Ijin.

Kita gencar melakukan Remedial bagi nilai-nilai anak kita yang merosot dibawah standar, namun kita tidak pernah sibuk melakukan REMEDIAL bagi Karakter anak yang dibawah tandar. Kita sibuk mengirim anak kita ke kursus dan les agar nilai kepintaran anak kita meningkat, tapi kita santai-santai saja melihat nilai akhlak anak kita yang merosot jauh dibawah standar.

Padahal kita sudah punya contoh yang "terang benderang", gamblang segamblang-gamblangnya tentang sebuah negeri, yg orang2nya pintar tapi tidak jujur dan berkarakter. Namun sayangnya kita masih tidak juga sadar. Raport zaman kita dulu bersekolah dan Raport zaman anak kita bersekolah sekarang masih sama saja, nilai karakter yang tercermin di raportnya masih sebatas kolom Alpha-Ijin & Sakit.

Dalam kehidupan nyata kita mendapati bahwa untuk bisa menjadi seorang pembantu rumah tangga saja agar bisa bisa di cintai oleh majikannya, yang dibutuhkan bukanlah KEPINTARANNYA melainkan karena ia JuJur dan Rajin. Jujur dan rajin adalah sebagian kecil saja dari unsur karakter. Jika anda Bos, saya yakin dan bisa di jamin pasti lebih suka memilih Assisten yang jujur ketimbang yang pintar tapi tidak jujur.

Tapi sayangnya mengapa kita belum juga sadar, bahwa dgn Karakter atau Ahlak orang bisa menjadi Besar, Terkenal & Panutan manusia sepanjang Zaman. Kita memuja dan memuji org yg berkarakter mulia ini disetiap doa kita, namun setelahnya kembali lagi fokus pertanyaan kita pada anak adalah berapa nilai ujian kamu dan bukan berapa banyak kebaikan yang telah kamu lakukan hari ini?

Kita rindu pemimpin bangsa yang berkarakter seperti Bapak Pendiri Bangsa ini, tapi bagaimana mungkin pemimpin yang seperti ini akan datang di negeri ini jika anak-anak kita terus di didik untuk mendapatkan nilai yang tinggi dan bukan karakter yang mulia?? bagaimana mungkin ia akan hadir jika target2 sekolah dan Pengambil Kebijakan di Negeri 1001 masalah ini masih pada hasil ujian & nilai yg tinggi bukan akhlak yang tinggi dan mulia?

Semoga kita segera tersadarkan atas kekeliruan kita selama ini dalam mendidik putra-putri kita tercinta dirumah dan disekolah. Agar negeri ini bisa segera keluar dari 1001 masalah yang setiap hari terus mendera silih berganti tanpa jelas kapan akan berakhir.

Jumat, 22 Oktober 2010

SAKSIKAN JUM'AT MALAM INI , TALKSHOW AYAH EDY DI INDOVISION/SUN TV DAN TV LOKAL DI KOTA ANDA !



---------------------------------------------------------------------------------------------
Kabarkan berita baik ini kepada sanak keluarga anda di daerah.

Ayah Edy akan hadir secara "LIVE" mengunjungi anda melalui stasion TV Lokal yang ada di kota anda, mulai Bulan Maret 2010 setiap Jum'at malam mulai pukul 21.00-22.00 WIB.

ANDA BISA BERINTERAKSI LANGSUNG DENGAN AYAH MELALUI TELEPON INTERAKTIF SAAT ACARA BERLANGSUNG, JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN BERHARGA INI.

Berikut adalah kota-kota yang akan di kunjungi oleh Ayah:

1. Denpasar Bali melalui BMC TV Denpasar.
2. Banyumas melalui BMS TV
3. Medan melalui Deli TV
4. Bandung melalui IM TV
5. Pontianak melalui KC TV
6. Lampung melalui LTV
7. Surabaya melalui MH TV
8. Magelang melalui MG TV.
9. Padang melalui Minang TV.
10. Semarang melalui Pro TV.
11. Palembang melalui SKY TV
12. Tangerang melalui TV3
13. Batam melalui U TV
14. Jakarta melalui TOP TV
15. Jakarta dan Seluruh Indonesia melalui Indovision Ch.83 & Oke Vision Ch. 101

Catat nomer on line kami untuk dapat berinteraksi dengan Ayah Edy saat live talkshow berlangsung: 021- 392-2121 atau sms ke nomor 0813-8-945-945

fb: Komunitas Ayah Edy atau Motivatalk Suntv

MARI KITA BANGUN INDONESIA YANG KUAT DARI KELUARGA MELALUI ANAK-ANAK KITA TERCINTA!
KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI, KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI..?

Salam Hormat
AE Management.

Senin, 18 Oktober 2010

BELAJAR DARI SEMUT


Suatu hari ada seorang ibu yang selalu mengeluh tentang semut, ya setiap kali ia meletakan makanan beberapa lama kemudian sudah di kerumuni oleh semut. Kebetulan ibu ini memang senang dan ahli memasak, jadi selalu saja ia berusaha menyajikan masakan-masakan yang lezat bagi keluarga.

Apa lagi bulan ini adalah bulan Puasa, jadi ia lebih semangat lagi untuk menyajikan hidangan-hidangan istimewa bagi keluarganya. Namun ada satu hal yang kerap kali membuatnya kesal dan marah yakni manakala hendak menyantap hidangan puasa selalu saja semut mencicipinya terlebih dahulu.

Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengusir para semut pengganggu ini dari rumahnya, namun tak ayal semut itu tidak pernah mau beranjak dari rumahnya. Berbagai upaya keras dilakukan, semakin keras usahanya untuk mengusir semut sepertinya malah semakin keras juga semut-semut itu menunjukkan perlawannannya.
Saking bingunnya akhirnya ibu ini meminta nasihat dari seorang kerabat yang kebetulan paling di tuakan dalam keluarga karena memang orangnya begitu arif dan bijaksana.

Pada saat bertemu si ibu mulai menceritakan panjang lebar tentang prilaku semut dirumahnya dan berbagai upaya yang telah ditempuhnya untuk menghentikan prilaku semut di rumahnya. Namun semut juga tidak juga ada perubahan yang berarti, sehingga ia sering dibuat jengkel dan marah karenanya.

Setelah selesai dengan semua uneg-unegnya tentang semut akhirnya ia berkata “Jadi apa yang terbaik harus saya lakukan untuk bisa mengatasi masalah ini..?”
Diluar dugaanya sang bijak berkata, begini jika kamu tidak menyukai semut dan hal itu telah membuat kamu jengkel dan marah, nah mengapa kamu sekarang tidak belajar untuk menyukainya. Ya yang kamu butuhkan adalah menerima semut itu apa adanya dan berusaha untuk menyukainya, jadikan semut itu adalah bagian dari pada kehidupan kita. Karena memang dimanapun kita berada dimuka bumi ini kita akan selalu menemukan semut bersama kita.

Lalu kemudian si Ibu itu bertanya lagi; bagaimana mungkin aku bisa menyukai semut yang terus menggangguku..? Lalu saudaranya yang bijak itu kembali berkata: Orang yang membenci sesuatu selalu akan merasa terganggu danga apapun yang dilakukan oleh orang yang dibencinya tersebut, tapi orang yang menyukai sesuatu dia tidak akan pernah merasa terganngu, karena memang perasaan mengganggu itu terlahir dari tidak adanya rasa cinta.

Coba perhatikan, seorang ibu yang bagitu mencintai bayinya, karena bayi tersebut telah lama dinanti-nantikannya, ibu ini sama sekali tidak merasa terganggu jika bayinya menangis di tengah malam karena pipis atau lapar ingin menyusu meskipun ia sedang terlelap tidur karena lelah telah mengurusnya selama seharian penuh, mengapa karena dia begitu mencintai bayinya, tapi bagi seorang baby sitter yang tidak mencintai bayi tersebut, dengan kejadian yang sama mungkin ia akan merasa terganggu sekali.

Jadi bukan sesuatu yang membuat kita terganggu melainkan tidak adanya rasa suka dan cintalah yang telah mengganggu perasaan kita. Maka agar kita tidak merasa terganggu sukailah apa yang sebelumnya kamu benci dan bangunlah rasa cinta antar sesama mahluk, maka jika kita berhasil melakukannya kita tidak akan pernah merasa terganggu lagi selamanya.

Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada, jika selama ini ada yang merasa terganggu oleh prilaku anak atau anak murid-murid kita di sekolah maka mulailah menyukai dan mencintainya dengan sepenuh hati, percayalah setelah itu perlahan-lahan kita tidak akan merasa terganggu lagi oleh prilaku mereka.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Pelajaran Berharga untuk kita para guru di Tanah Air tercinta

----------------------------------------------------------------------
Berikut adalah pengalaman seorang guru Les Piano tentang salah seorang muridnya yang bernama Wo Jin Yu .

Suatu ketika dia mendapatkan seorang murid yang bernama Wo jin yu yang berusia 12 tahun, Pada saat pertama kali mendaftar les ia di antar oleh ayahnya.

Pada hari pertama mengikuti kursus seperti biasa sang guru piano mengatakan bahwa ia senang sekali menerima Wo sebagai muridnya, karena usia Wo masih sangat muda dan itu akan sangat baik sekali karena pada usia dini biasanya seseorang akan sangat mudah sekali untuk di ajari seuatu terutama musik katanya.

Maka sejak hari itu Wo kecil mulai belajar bermain piano, namun saya melihat sepertinya dia kaku sekali, jari-jemarinya sulit sekali di gerakkan, selain itu sang guru piano juga mendapati bahwa Wo sangat tidak peka dengan bunyi-bunyi nada. Tapi tak apalah pikirnya karena mungkin ini hari pertamanya.

Namun demikian sepertinya Wo terus berusaha dengan keras untuk memainkan jari-jarinya di atas piano tersebut dengan bunyi yang tidak beraturan dan agak memekakan terlinga.

Beberapa bulan Wo telah mencoba mempelajari segala yang saya wajibkan untuk dipelajarinya, namun sepertinya tidak ada kemajuan yang begitu berarti. Sampai suatu ketika sempat terlontar kata dari saya bahwa sepertinya Wo tidak memiliki bakat yang cukup untuk menjadi seorang pianis yang baik. Namun Wo mengatakan bahwa ia ingin bisa bermain piano karena ibunya ingin sekali ia bisa bermain piano. Dan Wo mengatakan bahwa ia sesungguhnya kurang menyukai piano namun ia begitu mencintai Ibunya. Sehingga ia akan terus berusaha untuk bisa bermain piano.

Karena sepertinya sulit sekali saya mengajarinya untuk bermain piano, suatu ketika saya katakan padanya bahwa mungkin ia bisa mempelajari alat musik lainya, Namun Wo dengan tegas mengatakan Tidak, saya harus bisa bermain piano, suatu saat ibu saya akan bisa mendengar saya bermain piano dengan baik. katanya mantap.

Setiap hari semangat Wo untuk bermain piano semakin tinggi dan ia terlihat semakin bekerja keras untuk bermain piano. Belakangan saya mengetahui bahwa dirumah pun ia terus berlatih piano siang dan malam. Setiap hari Wo selalu di antar jemput oleh ayahnya. Namun sudah beberapa hari ini sepertinya Wo tidak datang untuk berlatih piano lagi, ada apa gerangan, dalam bathin saya bertanya-tanya. Tapi saya berpikir tak apalah mungkin saja pada akhirnya dia menyadari bahwa memang dia tidak berbakat untuk bermain piano dan memutuskan untuk berhenti. Ahrinya saya memutuskan untuk tidak menghubunginya.

Enam bulan setelah kejadian itu saya membagikan brosus pada para murid piano saya untuk memberitahukan bahwa dua minggu lagi akan di adakan konser musik piano di balai kota yang akan dimainkan oleh anak-anak murid asuhan saya. Namun saya agak terkejut ketika tiba-tiba Wo datang dan menyatakan ia ingin ikut serta dalam pertunjukan konser tersebut.

Lalu saya katakan sebenarnya pertunjukan konser itu hanya untuk murid-murid les saya saja, dan karena Wo sudah lama tidak les maka sepertinya Wo tidak bisa mengikutnya. Namun dengan nada serius dan setengah memaksa Wo meminta saya agar ia bisa mengikutinya. Ia berkata bahwa selama enam bulan ini ia tidak bisa datang Les karena ibunya sedang sakit dan ia tidak mau meninggalnya sendirian di rumah. Lalu dia juga meyakinkan saya bahwa meskipun tidak ikut les ia terus berlatih keras siang dan malam untuk bisa bermain piano. Dan dengan nada memelas dia berkata... Tolonglah bu beri saya kesempatan untuk bisa ikut serta dalam pertunjukan tersebut.

Saya berpikir jika Wo ikut mungkin bisa merusak pertunjukan yang ada nanti, tapi entah mengapa dari dalam bathin saya kok seperti ada dorongan kuat untuk memberikan kesempatan pada anak ini untuk mengikutinya hingga pada akhirnya saya pun mengijinkan Wo untuk ikut.

Malam pertunjukan datang. Balai Kotapun dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi. Saya menempatkan Wo pada urutan terakhir persis sebelum saya tampil ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir dari konser malam itu. Saya rasa jika terjadi kesalahan yang buat oleh Wo di akhir acara nanti saya bisa menutupinya dengan permainan saya.

Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah. Murid-murid telah berlatih dan hasilnya sangat bagus. Lalu tibalah kini giliran Wo naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya agak berantakan saya berpikir dalam hati. "Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?" dan. "Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini saja..?"

Wo menarik kursi piano dan mulai bicara. Saya terkejut ketika Wo menyatakan bahwa dia telah memilih untuk memainkan karya Mozart's Concerto #21 in C Major. Jantung saya berdebar keras menantikan apa yang akan terjadi karena saya tahu itu adalah tidak mudah apa lagi bagi seorang anak seperti Wo. Namun tiba-tiba saja terdengar alunan nada yang begitu indah, terlihat ayunan jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari nari dengan indah dan gesitnya. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo... dari allegro ke virtuoso. sungguh sangat mengagumkan!

Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur anak 12 tahun sebagus dan seindah itu! Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar, dan tanpa sadar telah membuat semua orang terpana seolah tidak percaya pada apa yang mereka saksikan dan mereka dengar...namun taklama setelah itu terdengar tepuk tangan yang riuh dan sangat meriah.

Segera saja mata saya berlinangan air mata, saya segera naik ke panggung dan memeluk Wo dengan penuh rasa haru dan sukacita."Saya belum pernah mendengar kau bermain piano seindah itu, Wo! Bagaimana kau melakukannya?" Melalui pengeras suara Wo menjawab, "Bu Yun Yi.. masih ingatkah ibu ketika saya berkata bahwa mama saya sedang sakit? Ya, sebenarnya mama saya sedang sakit kanker dan dia baru saja meninggal tadi pagi. Tahukah ibu bahwa sebenarnya... mama saya itu tuli sejak lahir jadi aku yakin malam inilah pertama kali ia bisa mendengar suara aku bermain piano. Permainanku malam ini sengaja aku persembahkan khusus bagi mama ku sebelum ia pergi menemui Tuhannya."

Tak satupun dari para penonton yang hadir malam itu yang kuasa untuk menahan airmatanya, bahkan dari beberapa sudut ruangan terdengar beberapa isak tangis penuh keharuan.

Ketika panitia membawa Wo turun dari panggung ke ruang istirahat, saya segera menyadari meskipun mata saya masih merah dan bengkak penuh keharuan, namun saya begitu bersyukur betapa hidup saya jauh lebih berarti karena pernah menerima Wo sebagai murid saya.

Selama ini saya selalu merasa saya adalah guru bagi mereka, tapi malam ini saya merasa menjadi seorang murid yang telah di beri pelajaran berharga oleh Wo. Dialah sesungguhnya gurunya, guru kehidupan bagi saya dan sayalah muridnya. Karena malam ini Wo mengajarkan pada saya arti sebuah kerja keras, cinta kasih dan keberhasilan.

Kamis, 30 September 2010

Saat anda sedang MARAH, Hati-hati dengan kata-kata anda !!!

-------------------------------------------------------------------
Para orang tua yang berbahagia Suatu ketika saya berkunjung kerumah seorang teman, kebetulan profesinya adalah seorang Therapist berbasiskan pada Neuro Language Programming atau NLP.

Dia menceritakan seuatu yang sangat menarik, betapa ternyata potensi dan jalan hidup yang di tempuh seseorang dimasa datang, ternyata bisa di prediksikan dari sugesti atau hal-hal yang dia yakininya. Dan bahkan yang menarik adalah seluruh potensi dalam tubuh manusia sampai pada level terkecil itu akan mendukung apa yang diyakini oleh seseorang. Jadi keyakinan itu bisa menjadi segala-galanya yang menentukan hidup dan masa depan seseorang.

Hal ini juga sekaligus mematahkan pandangan-pandangan kuno tentang test-test yang katanya bisa mengukur potensi kecerdasan anak dsb. kata kawan saya menambahkan.

Dia ternyata juga membuktikan bahwa telah banyak kliennya yang terdiri dari orang-orang yang test IQnya biasa-biasa saja namun setelah di berikan keyakinan-keyakinan postitif berubah menjadi orang yang luar biasa sesuai dengan keyakinan baru yang dimilkinya.

Kawan saya juga mengatakan bahwa sebagian besar keyakinan ini banyak di bentuk terutama dari kata-kata yang dia dengar sehari-hari tentang dirinya atau test-test yang mengukur tentang kemampuan dirinya . Jika kata-kata buruk yang sering dia terima tentang dirinya maka bisa dipastikan perlahan-lahan dia akan mulai berprilaku buruk, dan pada saat kata-kata yang berkesan dia bodoh, maka perlahan-lahan ia akan menjadi orang yang bodoh. Begitu juga jika hasil test yang dia terima di bahwa rata-rata maka prestasinya akan terus turun dibawah rata-rata. Jadi hati-hati dengan kata-kata dan test-test yang katanya bisa mengukur kemampuan seseorang karena hal itu akan berakibat sangat besar terhadap masa depan seorang anak. Kata kawan saya dengan nada sangat serius.

Cerita kawan saya ini jadi mengingatkan saya pada kisah Thomas Edison yang pada usia 7 tahun dinyatakan sebagai anak yang bodoh dan tidak mampu bersekolah. Namun ibunya Nancy Alliot meyakinkan Thomas bahwa dirinya adalah anak yang pandai dan luar biasa. Hingga akhirnya meskipun tidak pernah bersekolah Thomas mampu untuk menjadi salahs eorang Jenius Besar dunia dengan 1000 temuan yang di patenkan.

Taklama setelah itu tanpa sengaja saya membaca sebuah tulisan yang berjudul The Toxic Words – Kata-kata beracun, yakni sebuah hasil interview terhadap anak-anak yang di penjaara, yang isinya mengenai kata-kata apa saja yang sering mereka dengar tentang diri mereka dari lingkungannya dulu sebelum masuk penjara.

Lalu dari sana disusunlah kata-kata beracun yang telah menggiring mereka untuk mendapat tiket ke penjara.

Berikut adalah 10 kata paling sering didengar sebelum mereka masuk penjara:
1. Mengapa kamu selalu saja menyusahkan orang tua...
2. Dasar kamu anak pembawa sial.
3. Kamu memang tidak pernah bisa menjadi lebih baik.
4. Lihat saja nanti hidupmu akan berakhir di penjara.
5. Kamu memang anak terkutuk.
6. Aku menyesal melahirkan kamu..
7. Pergilah kamu ke neraka.
8. Dasar anak setan....
9. Lihat saja nanti....hidupmu pasti akan hancur..
10. Jangan pernah berharap hidupmu akan sukses...

Sungguh saya jadi merinding melihat fakta yang membuktikan betapa kuatnya hubungan antara kata-kata terhadap masa depan anak-anak kita. Segera saya jadi berpikir keras untuk mengingat-ingat kembali kata-kata yang selama ini pernah saya ucapkan pada istri dan anak-anak saya....

Ya......Tuhan.....Saya jadi menitikkan air mata...., seandainya saja bayak guru dan orang tua mengetahui hal ini... pasti mereka akan jauh lebih berhati-hati dengan kata-kata mereka.

Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada....Mari kita bangun masa depan anak-anak kita melalui kata-kata yang postitif...

Rabu, 08 September 2010

Anak yang tidak bisa di didik atau orang tua yang tidak bisa mendidik..?

---------------------------------------------------------------------

Mau jadi Pilot ada sekolahnya, Mau jadi Dokter ada sekolahnya. Kita pasti akan dilarang menerbangkan pesawat jika Tidak Lulus Ujian sebagai seorang Pilot yang “LAYAK TERBANG”. Namun jika tetap di paksakan juga Pilot yang tidak layak tadi, untuk menerbangkan pesawat , coba tebak kira-kira resiko apa yang mungkin akan terjadi.?

Tapi sayangnya untuk menjadi Orang Tua yang “LAYAK” tidak ada sekolahnya ! kita tiba-tiba saja menjadi orang tua manakala istri kita melahirkan anak kita. Pertanyaan besar buat kita semua para orang tua, apakah kita sesungguhnya sudah LAYAK untuk menjadi orang tua bagi anak-anak kita..? Kita adalah orang tua tanpa sekolah, tanpa ujian dan tiba-tiba saja di paksa harus mengelola anak kita dengan pengetahuan yang seadanya. Coba tebak resiko-resiko apa yang mungkin di alami oleh anak kita yang di didik oleh orang tua yang tidak pernah belajar menjadi orang tua dan kemungkinan besar malah “Belum Layak” menjadi orang tua?

Ya..., tentu saja akan banyak sekali masalah. Namun sayangnya pada saat masalah tersebut timbul apakah kita lantas tersadar akan ketidakmampuan kita dan minimnya pengetahuan sebagai orang tua..? Atau malah sebaliknya, kita dengan bertubi-tubi mempersalahkan anak, seperti anak yang susah di atur, anak yang keras kepala, anak yang pemalas, begini dan begitu.. dsb. Kita lupa bahwa kita adalah orang tua yang tidak pernah bersekolah untuk menjadi orang tua, Kita lupa jika kita percaya bahwa anak itu terlahir sempurna, fitrah, suci, menyerupai bentuk dan rupa Tuhan. Kita juga lupa jika sesungguhnya anak kita itu adalah Maha Karya dari Tuhannya.

Jadi apa bila terjadi konflik antara kita dan anak kita, apa yang sebenarnya sedang terjadi..? Anak yang tidak bisa didik atau kita orang tuanya yang tidak bisa mendidik..?

Kalau begitu ayo segera belajar menjadi orang tua yang “Layak” bagi anak kita, agar kita bisa mengubah konflik yang terjadi dengan anak menjadi sebuah kerjasama yang harmonis.

Kami akan jabarkan secara berseri dalam CD untuk membantu orang tua belajar menjadi orang tua yang “LAYAK”. Kita bisa dengarkan CD ini kapanpun ada waktu luang, saat kita terjebak macet di mobil atau saat sedang santai diruang tidur dsb. Segera miliki Cdnya dan segera dapatkan manfaatnya. Jadilah Orang tua yang “Layak Terbang” bagi anak-anaknya.

Kamis, 26 Agustus 2010

SELAMAT HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER 2010



-------------------------------------------------------------------------
INDONESIA TAHOEN 1945

-------------------------------------------------------------------------------
INDONESIA TAHUN 2010

--------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------
INDONESIA TAHUN 2020 - INDONESIAN STRONG FROM HOME -
-------------------------------------------------------------------------------------


Mari kita bangun Indonesia yang kuat dari Keluarga melalui anak-anak kita tercinta.
Kalau bukan kita siapa lagi..? kalau bukan sekarang kapan lagi...?

Senin, 26 Juli 2010

Sudahkah Saya menyekolahkan anak saya di tempat yang tepat..?

----------------------------------------------------------------------
Pada hari Senin 5 Juli 2010 telah di buka Sekolah Ayah Edy yang bernama Star International, di Kranggan Cibubur. Pada acara pembukaan di adakan SEMINAR PARENTING Gratis bagi para orang tua dengan pembicara Ayah Edy. Meliputi Program Play Group, Kindergarten dan SD Persiapan tingkat 1.

Sekolah ini adalah satu-satunya sekolah di Indonesia yang menerapkan sistem Multiple Intelligence dan Holistic Learning secara penuh dengan berbasiskan pada Child Creativity Development, Character Building dan Entrepreneurship Development yang telah di buktikan langsung oleh banyak orang tua di wilayah Bogor dan Jakarta telah membuat anak-anak mereka dan juga orang tuanya jauh lebih baik dari pada sebelumnya.

Sekolah tersebut beralamat di Jl. Pertamina, Blok B, No.72A, Jati Raden, Jati Sampurna Telp: 021-8431-1876/7077-3637, 08111-9889-1 Patokan POM Bensin Pertamina yang posisinya di tengah antara Cibubur dan Kranggan. Jalan masuk persis di sebelah POM Bensin atau ikuti petunjuk.

Sekolah ini dibangun dan dikembangkan selama lebih dari 8 tahun, sebagai bagian dari cita-cita ayah edy untuk membangun Indonesia yang kuat dari keluarga melalui anak-anak kita tercinta.

Kapasitas siswa yang dapat kami terima amat sangat terbatas, oleh karena itu segeralah mendaftarkan putra-putri anda sekarang juga.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi:

Telp 021-8431-1876 atau 7077-3637, Hp. 08111-9889-1

Mari kita bangun Indonesia yang kuat dari keluarga melalui anak-anak kita tercinta !!

Pastikan putra-putri anda menjadi bagian dari program THE INDONESIAN STRONG FROM HOME !

Hormat kami,
AE Management

Promo Akhir Tahun !

----------------------------------------------------------------------
Sekolah Masterpiece Bumi Serpong Damai adalah sekolah yang di asuh langsung oleh Ayah Edy dan Team, Saat ini menerima siswa-siswi baru atau pindahan, untuk Play Group dan Kinder Garten.

Kami juga membuka program Sit In or Trial bagi anak-anak yang ingin membandingkan program belajar ditempat kami dengan di sekolah mereka saat ini.

Sekolah Masterpiece memberikan Promo Lebaran Bebas Uang Pangkal bagi putra-putri anda yang mendafatarSelama Bulan September s/d November.

Manfaatkan kesempatan terbatas ini, Segera hubungi atau kunjungi sekolah kami di: www.masterpiece-school.com/

Jl. Batam I Blok 3 No.1 Sektor 14, Nusa Loka, BSD City Tangerang, Telp ((021) 537-5887 (021) 703-00245 atau 0856-19191-40 att: Miss Liza

Hormat kami,
AE Management

Rabu, 30 Juni 2010

Ibu aku hanya ingin dipahami

--------------------------------------------------------------------------

Ibu,
Bukannya aku malas dan suka melamun, tapi aku lagi menyiapkan diriku menerima seluruh keindahan alam semesta. Beri aku kesempatan berdiam sejenak karena gambar-gambar kehidupan yang sedang kurekam akan membuatku bisa memahami simfoni dan harmoni. Ingin sekali aku menciptakan melodi yang indah agar Ibu bisa menikmatinya sambil membuatkan aku masakan yang enak.

Ibu,
Bukannya aku tak bisa menjumlah 2 + 0 + 4, tapi aku lagi melihat seekor bebek berenang di kolam yang indah dengan deretan kursi cantik di sekelilingnya. Beri aku kesempatan merekamnya di alam kesadaranku karena ingin sekali aku membuatkan Ibu sebuah kolam renang yang indah dan kita duduk bersama di kursi yang empuk dan cantik sambil menikmati bahagianya bebek berenang.

Ibu,
Bukannya aku tak mau mendengar dan menatap mata Ibu ketika dongeng-dongeng itu dibacakan dan lagu nina bobo dinyanyikan, tapi aku lagi merasakan indahnya suara Ibu berpadu dengan suara-suara lain di kamar ini. Beri aku kesempatan menikmatinya karena suatu hari nanti akan kubuatkan sebuah ruangan agar Ibu bisa menyanyi dan mengaji. Di Ruangan itu kita bisa bernyanyi bersama dan selalu bisa kunikmati suara Ibu yang merdu melantunkan ayat-ayatNya.

Ibu,
Bukannya aku tak bisa membaca kata demi kata yang ibu ajarkan, tapi aku lagi merekam taburan kata-kata agar terangkai sebuah kalimat yang indah, layak dan sopan. Beri aku kesempatan melihat kata-kata itu saling merangkai, karena aku ingin menulis sebuah puisi yang indah yang spesial untuk aku persembahkan di hari ulang tahun Ibu.

Ibuku Sayang,
Kalau Ibu marah dan mencubit, tangis dan air mataku itu bukanlah karena aku benci atau marah. Aku hanya sedih jika cubitan dan amarah Ibu mengikis rasa sayang, cinta, dan potensiku untuk menghadiahi Ibu sebuah rumah mungil dengan kolam renang, ruang bernyanyi dan dapur yang indah. Dan hatiku akan sangat menyesal jika tak tak sanggup merangkai dan membacakan puisi indah di hari spesial Ibu. Karena bagiku : IBU ADALAH SEGALANYA.


Suara Hati dari Seorang Anak yang dominan otak kanan.
Ditulis dan Dikirim oleh: Pak Muliadi Saleh

Sabtu, 29 Mei 2010

10 TANDA KEHANCURAN SEBUAH BANGSA


-----------------------------------------


Suatu ketika di bulan Juli tahun 90-an, di negara bagian Massachusetts, Amerika Serikat tengah berlangsung sebuah konfrensi besar pendidikan, dihadiri oleh sebagian besar kalangan pendidikan, mulai dari pengamat, praktisi, pakar hingga penentu kebijakan dibidang pendidikan.

Tema yang diambil. kali itu adalah mengenai “Evaluasi Sistem Pendidikan dalam Menghasilkan Generasi Unggul”

Tema ini sengaja diangkat, karena ternyata berdasarkan penelitian, selama 60 terakhir sistem pendidikan lebih banyak menghasilkan generasi yang gagal dan bahkan cenderung bermasah ketimbang yang unggul

Banyak sekali tokoh-tokoh yang diminta bicara menyampaikan pikiran, pandangan juga hasil penelitian mereka.

Dari semua pembicara, ada salah seorang yang pemaparannya begitu dahsyat, tajam dan mengena, hingga mendapatkan simpati dan dukungan yang luar biasa dari hampir semua peserta konferensi tersebut.

Tepuk tangan yang riuh serta dukungan antusiasme terus mengalir hingga sang pembicara ini turun. Apa saja yang di paparkan oleh si pembicara ini…? marilah kita simak cuplikan utama dari pemaparannya;

“Saudara-saudaraku tercinta sebangsa dan setanah air, saya sungguh prihatin melihat perkembangan generasi kita dari tahun ke tahun, sehingga saya begitu tertantang untuk membuat suatu pengamatan untuk mengetahui akar pemasalahannya.”

“Lebih dari 30 tahun saya melakukan pengamatan terhadap para pelajar dan para lulusan sekolah di tiap jenjang mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. dan ternyata dari tahun-ke tahun menunjukkan suatu peningkatan grafik jumlah anak-anak yang bermasalah ketimbang anak-anak yang berhasil.”

Salah satu yang membuat saya menangis adalah ketika saya mengunjungi beberapa Lembaga Pemasyarakatan yang ada di beberapa negara bagian; yang dulu pada tahun 60an mayoritas di huni oleh orang-orang yang berusia antara 40-60an, namun apa yang terjadi pada tahun 90, penjara-penjara kita penuh di isi oleh anak remaja antara usia 14 s/d 25 tahun. Jumlah peningkatan yang drastis juga terjadi pada penjara anak dan remaja.

Fenomena apakah gerangan yang sedang terjadi di negara kita……? Akan jadi apakah kelak negara ini jika kita semua tidak mengambil peduli dan merasa bertanggung jawab…?

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air….., Dari pengamatan panjang yang saya lakukan akhirnya saya mengetahui bahwa sumber dari semua masalah ini ada pada Harmonisasi hubungan Keluarga dan Sistem Pendidikan kita.

Sebagian besar anak-anak yang bermasalah ternyata juga memiliki orang tua yang bermasalah atau keluarga yang berantakan dan yang memperparah ini semua adalah bahwa Lembaga yang kita agung-agungkan selama ini, yang kita sebut sekolah ternyata sama sekali tidak mampu menjadi jalan keluar bagi anak-anak yang mengalami permasalahan di rumah.

Sekolah yang mestinya bertanggung jawab pada pendidikan anak (kerena mengklaim sebagai lembaga pendidikan) ternyata sama sekali tidak melakukan proses pendidikan, melainkan hanya menjadi lembaga yang memaksa anak untuk mengikuti kurikulum yang kaku dan sudah ketinggalan zaman. Guru-guru yang diharapkan menjadi pengganti orang tua yang bermasalah tapi ternyata tidaklah lebih baik dari pada orang tua si anak yang bermasalah tadi. Guru lebih suka memberikan pelajaran dari pada mendidik dan melakukan pendekatan psikologis untuk bisa membantu memecahkan masalah anak-anak muridnya. Guru-guru juga lebih suka saling melempar tanggungjawab ketimbang merasa ikut bertanggung jawab sebagai seorang pendidik.

Dan yang sungguh menyakitkan adalah ternyata Pemerintah kita khusunya yang bertanggung jawab pada bidang pendidikan hanya mementingkan masalah nilai, angka-angka dan Ujian-Ujian Tulis. Pemerintah seolah menutup mata terhadap menurunya prilaku moral, rusaknya anak-anak sekolah dan meningkatnya prilaku kekerasan di kalangan remaja.

Ukuran keberhasilan pendidikan lebih diletakkan pada menjawab soal-soal ujian dan target-target perolehan nilai, bukan pada Indikator Moral dan Pengembangan Karakter Anak. Sehingga pada akhirnya kita mendapati banyaknya anak-anak yang mendapat nilai tinggi namun moralnya justru begitu rendah.

Inilah saya pikir yang menjadi biangkeladi dari permasalahan meningkatnya jumlah anak-anak yang menjadi penghuni penjara di hampir seluruh negara bagian di negara kita.

Saya melihat bahwa sesunguhnya jauh lebih penting mengajarakan anak kita Nilai Kejujuran dari pada Nilai matematika, Fisika dan sejinisnya, yang pada umumnya telah membuat anak kita stress dan mulai membeci sekolahnya. Sungguh jauh lebih penting mengajarkan pada mereka tentang kerjasama dan saling tolong menolong ketimbang persaingan merebut posisi juara di kelas. Sekolah kita hanya mampu membuat 3 anak sebagai juara ketimbang membuat mereka semua menjadi juara. Sekolah kita memang tanpa sadar telah dirancang untuk mencetak anak yang gagal jauh lebih banyak dari yang berhasil. Sekolah kita juga telah dirancang untuk lebih banyak memberi lebel anak yang bermasalah ketimbang memberi lebel anak yang berpotensi unggul di bidangnya.

Lihatlah fakta di lapangan, betapa banyaknya anak-anak yang dinyatakan oleh sekolah sebagai anak lambat belajar, tidak bisa berkonsentrasi, Diseleksia, Hiperaktif dsb. Hingga ada seorang pengamat pendidikan yang pernah menyindir “sesungguhnya anaknya yang hiperaktif atau sekolahnya yang “Hiper Pasif”. Bayangkan anak-anak kita telah di paksa untuk duduk di kursi yang keras selama berjam-jam dari pagi hingga petang, tanpa adanya pergerakan sedikitpun. Yang sesungguhnya tidak hanya membahayakan mental mereka bahkan juga fisik mereka. Berapa banyak anak-anak kita yang katanya termasuk golongan anak-anak pandai harus menderita “bungkuk” di usia mereka yang masih relatif muda karena proses belajar yang hiper pasif ini.

Saya pikir sudah saatnya kita sadar akan hal ini semua. Saudara-saudaraku tercinta, sungguh berdasarkan penelitian yang saya lakukan telah menunjukkan bahwa jauh lebih penting mengajari anak kita tentang moral, attitude, dan Character Building dari pada hanya mementingkan nilai-nilai yang tinggi. Karena kehidupan lebih mengharapkan orang-orang yang bermoral dan berkarakter untuk membangun tatanan kehidupan yang jauh lebih baik. Orang-orang yang mencintai sesama, menolong sesama dan menjaga kelestarian lingkungan tempat mereka hidup.

Berdasarkan penelitian saya terhadap sejarah bangsa-bangsa yang mengalami kemunduran atau kehancuran, saya telah menemukan ciri-ciri yang sangat jelas untuk bisa kita jadi kan Indikator dan petunjuk bagi kita apakah negara kita juga sedang menuju ke titik kemajuan atau justru ke hancuran.

Paling tidak saya telah menemukan ada 10 tanda-tanda dari suatu bangsa yang akan mengalami kemunduran dan bahkan kehancuran; dan jika ternyata ke sepuluh tanda ini muncul di negara kita maka sudah saatnyalah kita untuk melakukan perubahan besar-besaran terhadap sistem pendidikan bagi anak-anak kita.

Mari kita teliti bersama kesepuluh tanda-tanda tersebut, apakah telah muncul dinegara kita;

1. Peningkatnya prilaku kekerasan dan merusak dikalangan remaja, Pelajar
2. Penggunaan kata atau bahasa yang cenderung memburuk (seperti ejekan, Makian, celaan, bhs slank dll)
3. Pengaruh Teman Jauh lebih kuat dari pada orang tua dan guru.
4. Meningkatnya prilaku penyalahgunaan sex, merokok dan obat-obat telarang dikalangan pelajar dan remaja.
5. Merosotnya prilaku moral dan meningkatnya egoisme pribadi/mementingkan dirisendiri.
6. Menurunya rasa bangga, cinta bangsa dan tanah air (Patriotisme).
7. Rendahnya rasa hormat pada orang lain, orang tua dan guru.
8. Meningkatnya prilaku merusak kepentingan Publik.
9. Ketidak Jujuran terjadi dimana-mana
10. Berkembangnya rasa saling curiga, membenci dan memusuhi diantara sesama warga negara (kekerasan SARA)

Bagaimana kesimpulan kita….? Apakah kita melihat ke 10 tanda tersebut telah muncul di negeri tercinta kita ini…? atau mungkin malah sudah muncul pada anak-anak kita tercinta dirumah…?

Saudaraku…., dengan melihat fakta dan kenyataan yang ada, wahai para pendidik dan pengambil kebijakan di bidang pendidikan serta segenap kita semua; Apakah kita masih akan mementingkankan angka-angka sebagai Indikator kesuksesan Pendidikan di sekolah-sekolah..?

Semoga logika dan nurani kita masih mampu bicara untuk mendobrak sistem pendidikan yang selama ini terbukti telah menghasilkan lebih banyak kegagalan bagi anak-anak tercinta.

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air…., Jika kita tidak juga mau bertindak…., maka saya tidak tahu berapa banyak lagi penjara-penjara yang harus kita bangun bagi anak-anak kita tercinta, yang semestinya ini semua bisa kita cegah dari sekarang..!

Melalui Harmonisasi Hubungan Keluarga dan Sekolah-sekolah yang lebih berorientasi membangun moral dan bukan hanya angka-angka semata.

Thomas Lickona.

=========================================

Saudara-saudaraku sebangsa-dan setanah air di Indonesia….., Mari kita renungkan cerita ini.

18 Tahun yang lalu mereka sudah menyadari kesalahan besar yang terjadi pada sistem pendidikan di negaranya, lalu bagaimana dengan sistem pendidikan kita di Indonesia….?

Akankah peristiwa tragis yang terjadi di Amerika akan kita biarkan untuk terjadi lagi pada anak-anak kita di Indonesia..?

SELAMAT HARI PENDIDIKAN DAN KEBANGKITAN NASIONAL 2010 !!!


BERSAMA-SAMA.., MARI KITA BANGUN INDONESIA YANG KUAT DARI KELUARGA, MELALUI ANAK-ANAK KITA TERCINTA !!

Senin, 26 April 2010

KUMPULAN EVALUASI FUNDAMENTAL SISTEM PENDIDIKAN DUNIA

------------------------------------------------------

POTRET PENDIDIKAN AMERIKA SERIKAT YANG DIILUSTRASIKAN OLEH THOMAS AMSTRONG Phd. PADA DEKADE 90-AN

Syahdan di tengah-tengah hutan belantara Sumatera berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status “disamakan dengan manusia”, sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia.

Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah standar dan telah ditetapkan untuk manusia.

Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah ; setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 pada masing-masing mata pelajaran.

Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah; Terbang, Berenang, Memanjat, Berlari dan Menyelam

Mengingat bahwa sekolah ini berstatus “Disamakan dengan manusia”, maka para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainya, sehingga berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana; mulai dari; Elang, Tupai, Bebek, Rusa dan Katak

Proses belajar mengajarpun akhirnya dimulai, terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu;

Elang sangat unggul dalam pelajaran terbang; dia memiliki kemampuan yang berada diatas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger didahan sebuah pohon yang tertinggi.

Tupai sangat unggul dalam pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu.

Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang, dengan gayanya yang khas ia berhasil menyebrangi dan mengitari kolam yang ada didalam hutan tersebut.

Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari; kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di sana. Larinya tidak hanya cepat melainkan sangat indah untuk dilihat.

Lain lagi dengan Katak, ia sangat unggul dalam pelajaran menyelam; dengan gaya berenangnya yang khas, katak dengan cepatnya masuk kedalam air dan kembali muncul diseberang kolam.

Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa dimata pelajaran tertentu.

Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah.

Inilah awal dari semua kekacauan.itu; Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya.

Burung elang mulai belajar cara memanjat, berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja ia gagal; dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam.
Tupaipun demikian; ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasil bukannya bisa terbang tapi tubuhnya malah penuh dengan luka dan memar disana-sini.

Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti pelajaran berlari meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang; tapi ia kelihatan hampir putus asa pada saat mengikuti pelajaran memanjat, berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh, luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu.

Demikian juga dengan binatang lainya; meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik.

Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya; perlahan-lahan Elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya; tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik, sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat. Katak juga tidak kuat lagi menyelam karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Dan yang paling malang adalah Rusa, ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang, karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.

Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah itu; dan yang sangat menyedihkan adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah. Mereka tidak bisa lagi hidup dilingkungan dimana mereka dulu tinggal, ya.... kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang dimilikinya..

Tidakkah kita menyadari bahwa sistem persekolahan manusia yang ada saat inipun tidak jauh berbeda dengan sistem persekolahan binatang dalam kisah ini. Kurikulum sekolah telah memaksa anak-anak kita untuk menguasai semua mata pelajaran dan melupakan kemampuan unggul mereka masing-masing. Kurikulum dan sistem persekolahan telah memangkas kemampuan alami anak-anak kita untuk bisa berhasil dalam kehidupan menjadi anak yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.

Akankah nasib anak-anak kita kelak juga mirip dengan nasib para binatang yang ada disekolah tersebut?

Bila kita kaji lebih jauh produk dari sistem pendidikan kita saat ini bahkan jauh lebih menyeramkan dari apa yang digambarkan oleh fabel tersebut; bayangkan betapa para lulusan dari sekolah saat ini lebih banyak hanya menjadi pencari kerja dari pada pencipta lapangan kerja, betapa banyak para lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang digelutinya selama bertahun-tahun, sebuah pemborosan waktu, tenaga dan biaya. Betapa para lulusan sekolah tidak tahu akan dunia kerja yang akan dimasukinya, jangankan kemapuan keahlian, bahkan pengetahuan saja sangatlah pas-pasan, betapa hampir setiap siswa lanjutan atas dan perguruan tinggi jika ditanya apa kemampuan unggul mereka, hampir sebagian besar tidak mampu menjawab atau menjelaskannya. Atau bahkan untuk sekedar membuat CV yang bagus saja tidak banyak lulusan perguruan tinggi yang mampu melakukannya.

Begitupun setelah mereka berhasil mendapatkan pekerjaan, berapa banyak dari mereka yang tidak memberikan unjuk kerja yang terbaik serta berapa banyak dari mereka yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaanya. Belum lagi kita bicara tentang carut marut dunia pendidikan yang kerapkali dihiasi tidak hanya oleh tawuran pelajar melainkan juga tawuran mahasiswa. Luar biasa “Maha Siswa” julukan yang semestinya dapat dibanggakan dan begitu agung karena Mahasiswa adalah bukan siswa biasa melainkan siswa yang “Maha”. Namun nyatanya ya Tawuran juga, malah belakangan ini yang tawuran adalah mahasiswa para calon guru. Mau jadi apa anak-anak muridnya kelak.

Apa yang menjadi biang keladi dari kehancuran sistem pendidikan di dunia pada umumnya..?

1. Sistem yang tidak menghargai proses

Belajar adalah proses dari tidak bisa menjadi bisa. Hasil akhir adalah buah dari kerja setiap proses yang dilalui. Sayangnya proses ini sama sekali tidak dihargai; siswa tidak pernah dinilai seberapa keras dia berusaha melalui proses. Melainkan hanya semata-mata ditentukan oleh ujian akhir. Oleh karenanya ada seorang teman yang kuliah di perguruan tinggi di Bandung, hanya masuk seminggu menjelang ujian saja. Apa katanya... percuma masuk tiap hari yang penting ujian bisa sudah nilai kita bagus dan pasti lulus.

2. Parrot Learning System yakni Sistem yang hanya mengajari anak untuk menghafal bukan belajar dalam arti sesunguhnya

Apa buktinya? coba ingat-ingat seberapa lama kita ingat materi ujian yang kita pelajari setelah di ujikan..? seminggu..? atau malah besoknya sudah lupa..? Apa beda belajar dengan menghafal; Produk dari sebuah pembelajaran kemampuan atau keahlian yang dikuasai terus menerus. Contoh yang paling sederhana adalah pada saat anak belajar sepeda. Mulai dari tidak bisa menjadi bisa, dan setelah bisa ia akan bisa terus sepanjang masa. Sementara produk dari menghafal adalah ingatan jangka pendek yang dalam waktu singkat akan cepat dilupakan. Perbedaan lain bahwa belajar membutuhkan waktu lebih panjang sementara menghafal bisa dilakukan hanya dalam 1 malam saja. Menghafal bukanlah sesuatu yang harus dipelajari, hafal adalah produk dari kebiasaan yang berulang-ulang dan tidak perlu menggunakan effort yang melelahkan otak. Sebut saja jalan kekantor dan pulang kerumah, karena setiap hari kita lakukan maka kita hafal betul lika-likunya hingga jam-jam macetnya tanpa perlu memeras otak seperti kebanyakan anak-anak yang harus menghafal untuk menghadapi ulangan mereka.

Padahal pada hakekatnya Manusia dianugrahi susunan otak yang paling tinggi derajadnya dibanding mahluk manapun didunia. Fungsi tertinggi dari otak manusia tersebut disebut sebagai cara berpikir tingkat tinggi atau HOT; yang direpresentasikan melalui kemampuan kreatif atau bebas mencipta serta berpikir analisis-logis; sementara fungsi menghafal hanyalah fungsi pelengkap. Keberhasilan seorang anak kelak bukan ditentukan oleh kemampuan hafalannya melainkan oleh kemampuan kreatif dan berpikir kritis analisis.

3. Sistem sekolah yang berfokus pada nilai
Nilai yang biasanya diwakili oleh angka-angka biasanya dianggap sebagai penentu hidup dan matinya seorang siswa. Begitu sakral dan gentingnya arti sebuah nilai pelajaran sehingga semua pihak mulai guru, orang tua dan anak akan merasa rasah dan stress jika melihat siswanya mendapat nilai rendah atau pada umumnya dibawah angka 6 (enam).

Setiap orang dikondisikan untuk berlomba-lomba mencapai nilai yang tinggi dengan cara apapun tak perduli apakah si siswa terlihat setangah sekarat untuk mencapainya. Nyatanya toh dalam kehidupan nyata, nilai pelajaran yang begitu dianggung-anggungkan oleh sekolah tersebut tidak berperan banyak dalam menentukan sukses hidup seseorang. Dan lucunya sebagian besar kita dapati anak yang dulu saat masih bersekolah memiliki nilai pas-pasan atau bahkan hancur, justru lebih banyak meraih sukses dikehidupan nyata.

Mari kita ingat-ingat kembali saat kita masih bersekolah dulu; betapa bangganya seseorang yang mendapat nilai tinggi dan betapa hinanya anak yang medapat nilai rendah; dan bahkan untuk mempertegas kehinaan ini, biasanya guru menggunakan tinta dengan warna yang lebih menyala dan mencolok mata.

Sementara jika kita kaji lagi; apakah sesungguhnya representasi dari sebuah nilai yang diagung-agungkan disekolah itu...?

Nilai sesungguhnya hanyalah representasi dari kemampuan siswa dalam “menghapal” pelajaran dan “subjektifitas” guru yang memberi nilai tersebut terhadap siswanya.

Meskipun kerapkali guru menyangkalnya, cobalah anda ingat-ingat; berapa lama anda belajar untuk mendapatkan nilai tersebut; apakah 3 bulan...? 1 bulan..? atau cukup hanya semalam saja..?

Kemudian coba ingat-ingat kembali, jika dulu saat bersekolah, ada diantara anda yang pernah bermasalah dengan salah seorang guru; apakah ini akan mempengaruhi nilai yang akan anda peroleh..?

Jadi wajar saja; meskipun kita banyak memiliki orang “pintar” dengan nilai yang sangat tinggi; negeri ini masih tetap saja tertinggal jauh dari negara-negara maju. Karena pintarnya hanya pintar menghafal dan menjawab soal-soal ujian.

4. Sistem pendidikan yang Seragam-sama

Siapapun sadar bahwa bila kita memiliki lebih dari 1 atau 2 orang anak; maka bisa dipastikan setiap anak akan berbeda-beda dalam berbagai hal. Andalah yang paling tahu perbedaan-perbedaanya.

Namun sayangnya anak yang berbeda tersebut bila masuk kedalam sekolah akan diperlakukan secara sama, diproses secara sama dan diuji secara sama.

Menurut hasil penelitian Ilmu Otak/Neoro Science jelas-jelas ditemukan bahwa satiap anak memiliki kelebihan dan sekaligus kelemahan dalam bidang yang berbeda-beda. Mulai dari Instingtif otak kiri dan kanan, Gaya Belajar dan Kecerdasan Beragam.

Sementara sistem pendidikan seolah-oleh menutup mata terhadap perbedaan yang jelas dan nyata tersebut yakni dengan mengyelenggaraan sistem pendidikan yang sama dan seragam. Oleh karena dalam setiap akhir pembelajaran akan selalu ada anak-anak yang tidak bisa/berhasil menyesuaikan dengan sistem pendidikan yang seragam tersebut.

5. Sekolah adalah Institusi Pendidikan yang tidak pernah mendidik (Knowing vs Being)
Sekilas judul ini tampaknya membingungkan; tapi sesungguhnya inilah yang terjadi pada lembaga pendidikan kita.

Apa beda mendidik dengan mengajar...?

Ya.. tepat!, mendidik adalah proses membangun moral/prilaku atau karakter anak sementara mengajar adalah mengajari anak dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa.

Produk dari pengajaran adalah terbangunnya cara berpikir kritis dan kreatif yang berhubungan dengan intelektual sementara produk dari pendidikan adalah terbangunnya prilaku/akhlak yang baik.

Ya..! memang betul dalam kurikulum ada mata pelajaran Agama, Moral Panca Sila, Civic dan sebagainya namun dalam aplikasinya disekolah guru hanya memberikan sebatas hafalan saja; bukan aplikasi dilapangan. Demikian juga ujiannya dibuat berbasiskan hafalan; seperti hafalan butir-butir Panca Sila dsb. Tidak berdasarkan aplikasi siswa dilapangan seperti praktek di panti-panti jompo; terjun menjadi tenaga sosial, dengan sistem penilaian yang berbasiskan aplikasi dan penilaian masyarakat (user base evaluation).

Jadi wajar saja jika anak-anak kita tidak pernah memiliki nilai moral yang tertanam kuat di dalam dirinya; melainkan hanya nilai moral yang melintas semalam saja dikepalanya dalam rangka untuk dapat menjawab soal-soal ujian besok paginya.

6. Sistem Pendidikan berbasiskan kelas dan teori
Bayangkan betapa menakutkannya sistem sekolah yang ada saat ini; setiap siswanya yang kelak akan hidup di dunia yang beragam diluar sana, namun selama bertahun-tahun hanya mengenal suatu ruangan dengan meja dan bangku yang berderet-deret. Ruang yang sakral ini diberi nama dengan “Kelas”. Mereka tidak pernah diajak untuk menjelajahi berbagai kehidupan nyata diruang kelas, sementara kehidupan mereka kelak menuntut mereka bisa berkiprah diluar ruang kelas. Sungguh kasihan nasib anak-anak kita.

Siswa yang kelak akan berhadapan dengan realitas hidup dan tantangan yang multi dimensi ini pun sayangnya hanya diajarkan untuk mengetahui sebatas buku dan teori. Bahkan sebagian besar teori yang diajarkan adalah teori masa lalu yang sebagian besar telah usang karena begitu cepatnya perubahan zaman. Sehingga sering kali mereka mempelajari sesuatu yang sudah kadaluarsa dan ditinggalkan oleh dunia.

Jadi wajar saja jika anda mendapati para lulusan terbaik dari perguruan tinggi terbaik sekalipun masih membutuhkan waktu untuk belajar lagi untuk bekerja atau bahkan perlu pelatihan berbulan-bulan agar bisa menggunakan alat-alat yang belum pernah dikenalnya.

Sungguh pendidikan dengan realitas hidup ibarat sebuah pepatah “jauh panggang dari api”.

Perhatikan Fakta berikut dari riset yang dilakukan oleh Dale Carnigie Insitute ....
SISTEM -------------------------REALITAS
PEMBELAJARAN--------------KEHIDUPAN

> 90% di ruang kelas-----30% - 50% diruangan mirip kelas
> 90% teori--------------------Berapa persen teori..?

7. Sekolah yang menghakimi anak dengan sistem rangking

Aneh sekali sistem pendidikan di negeri ini; setiap orang tua mengirim anaknya kesekolah pasti dengan satu tujuan dan harapan, yakni agar anaknya berhasil. Tapi sayangnya harapan orang tua banyak yang justru kandas disekolah. Mengapa...? karena ternyata fungsi sekolah yang ada hanyalah untuk menghasilkan dua kelompok anak yakni yang Berhasil dan yang Gagal. Bukan menjadikan setiap anak berhasil.

Ternyata faktanya dari tahun-ketahun rata-rata jumlah yang gagal jauh lebih banyak dari jumlah yang berhasil...? Tapi anehnya orang tua masih saja berbondong-bondong mengirim anaknya kesekolah meskipun hanya untuk sekedar mendapatkan pembenaran bahwa anaknya masuk kelompok yang berhasil atau yang gagal. Berapa banyak juara dalam setiap kelas...?

Tak bisakah sekolah itu menjadikan semua anak menjadi sukses..? Tak mampukah sekolah menjadikan setiap muridnya menjadi anak yang berhasil..? Masih maukah para orang tua mengirim anaknya ke sekolah semacam ini..?

8. Sistem Pendidikan yang tidak memiliki tujuan jelas

Saya sering mengajukan pertanyaan yang sederhana pada para siswa sekolah, untuk apa kalian bersekolah..? jawaban mereka biasanya hampir sama seperti biar jadi anak pintar, biar jadi orang berhasil dan sejenisnya. Tapi maksud saya adalah apa persisnya tujuan akhir bersekolah bagi kehidupanmu kelak. Apakah hanya untuk lulus saja kemudian kebingungan mencari kerja dan akhirnya menjadi pengangguran baru atau persisnya bagaimana?

Mulailah para siswa kebingungan dengan pertanyaan semacam ini. Yah wajar mereka kebingungan karena memang mereka tidak pernah diajak untuk memikirkan hal ini, atau mungkin para guru dan pembuat kebijakan pendidikan juga tidak terpikir tentang hal ini.

Bayangkan sejak kita bersekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi begitu banyak mata pelajaran yang harus kita perlajari dan kuasai namun ternyata hanya sedikit sekali yang kita gunakan dalam kehidupan nyata. Padahal kita perlu usaha keras dan biaya yang tidak sedikit untuk mempelajarinya. Lalu untuk apa semua yang ada dikurikulum itu kita pelajari kalo ternyata kelak kita tidak menggunakannya. Ambil saja contoh sejak SMP kita diajarkan matematika Sinus, Cosinus dan Tangen, tapi nyatanya dalam hidup kita hanya gunakan Tambah, Kali, Kurang dan Bagi saja. Mengapa ini tidak diajarkan saja pada jenjang perguruan tinggi jurusan matematika, yang jelas-jelas mereka akan gunakan bagi profesinya kelak. Itupun kalau digunakan..?

Tapi sayangnya jika kita ajukan pertanyaan ini pada para guru, merekapun kebingungan untuk menjawabnya dan bahkan jikapun ini kita tanyakan pada perwakilan Diknas setempat mereka juga sama tidak tahunya.

Sementara begitu banyak pelajaran yang diperlukan oleh siswa untuk meraih sukses dalam kehidupannya kelak justru tidak diajarkan disekolah. Sebut saja mata pelajaran kewirausahaan, etos kerja, cara berpikir kritis dan kreatif, pengendalian emosi, mengenal potensi diri, berpikir positif dsb.
Jadi wajar saja jika para lulusan SMA dari masa-kemasa terus merasa kebingungan untuk menentukan tujuan atau jurusan sekolahlanjutan bagi dirinya.

9. Sistem ujian berbasiskan tulisan
Bayangkan dalam kehidupan nyata, sebagian besar anak-anak kita kelak harus berkarya dengan berbagai cara dan alat untuk bisa sukses dalam kehidupan.

Sementara selama lebih dari 18 tahun mereka bersekolah, mereka hanya dididik untuk tulis menulis, seluruh pelajaran hingga ujian disusun berdasarkan tulisan. Ini jelas sebuah sistem yang tidak masuk akal.

Sistem inilah yang telah membuat anak-anak lulusan sekolah canggung menghadapi kehidupan nyata yang ternyata tidak hanya sebatas tulis menulis saja, melainkan kombinasi dari banyak hal mulai dari berpikir, bergerak, tampil didepan umum, memotivasi menyusun strategi dan sebagainya. Sementara tulis menulis hanyalah salah satu bidang/profesi dari berjuta-juta profesi yang ada didunia ini. Namun sayangnya anak-anak kita hanya mengetahui tulis-menulislah dari kegiatan bersekolahnya selama bertahun-tahun, dan tidak pernah diajari untuk mengetahui lebih banyak kegiatan baik dari mencoba langsung ataupun kunjungan, kecuali 1 kali dalam sekian tahun yakni Jalan-jalan Belajar atau yang lebih dikenal dengan “Study Tour” yang nyatanya lebih banyak rekreasinya dari pada belajarnya.


SISTEM SEKOLAH------versus -------REALITAS KEHIDUPAN


> 90%UJIAN TULISAN sementara realitas kehidupan 80% PRAKTEK DENGAN BERBAGAI METODE DAN ALAT

KEMAMPUAN AKHIR MAMPU MENJAWAB SOAL TERTULIS SAJA sementara realitas kehidupan menuntut KEMAMPUAN DAN KEAHLIAN KHUSUS DENGAN BERBAGAI METODE DAN ALAT bukan dengan tulisan saja.


10. Pandangan yang rendah terhadap mata pelajaran NON EKSAKTA

Selama sekian puluh tahun telah pengkotak-kotakan ilmu pengetahuan dan seni, seolah-olah satu ilmu lebih penting dari lainnya serta sains lebih penting dari pada seni. Hal ini sangat bertentangan dengan pernyataan Leonardo Da Vinci sang jenius sepanjang zaman yang mengatakan bahwa Seni dan Sains adalah keahlian dan kemampuan manusia yang setara dan bahkan beliau menyatakan bahwa untuk bisa memahami Sains manusia perlu lebih dahulu memahami Seni.

Akibat proses pengkotak-kotakan yang dilakukan oleh sistem pendidikan dalam bingkai kurikuler dan ekstra kulikuler akibatnya kita ikut-ikutan melakukan pengkotak-kotakan yang sama. Padahal nyatanya dalam kehidupan orang yang ahli sains kehidupannya tidak jauh lebih baik dengan para maestro dibidang seni seperti Deni Malik, Guruh Sukarno Putera, Basuki Abdullah, Krisdayanti dsb.
FAKTA..!
BERAPA BANYAK TOKOH SUKSES YANG ANDA KENAL
PADA BIDANG NON EKSAKTA…?
PENYANYI…?
KOREOGRAFER..?
FOTO GRAFER..?
SUTRADARA..?
NOVELIS..?
PRESENTER..?
OLAHRAGAWAN..?
PELUKIS..?
PERANCANG BUSANA..?
AGAMAWAN..?
BUDAYAWAN...?
JURU MASAK...?

11. Fenomena sekolah Unggulan
Saya bingung mengapa ada yang disebut sebagai sekolah unggulan/favorit, bukankah setiap sekolah harusnya menjadi tempat favorit bagi siswanya untuk belajar..? dan mampu mencetak setiap anak menjadi anak unggulan..?

Saya juga menjadi bertambah bingung, sesungguhnya apa hebatnya satu sekolah bisa menjadi favorit/unggulan..? Lah wong sekolahnya sendiri saja sudah menseleksi calon siswanya dan hanya mau menerima siswa-siswa dengan kategori unggul.

Tentu saja memang sudah sepantasnya, jika satu mesin yang bahannya memang sudah unggul hasilnya juga harus unggul. Jadi kalau begitu sesungguhnya sekolah favorit/unggulan itu ya biasa-biasa saja tidak ada yang hebat. Mungkin sebuah sekolah favorit/unggulan baru dapat dibilang hebat jika dia berhasil mencetak anak-anak dari yang biasa-biasa saja menjadi anak-anak yang berprestasi dan unggul.

Seperti kata pepatah mesin cetak yang hebat adalah bila ia bisa mengubah loyang menjadi emas. tapi hanya mampu mengubah emas menjadi emas juga ya semua tukan emas di pasar juga mampu melakukannya.

ARTIKEL INI DIMUAT BUKAN UNTUK DI PERDEBATKAN, MELAINKAN UNTUK BAHAN RENUNGAN, BIARKAN HATI NURANI DAN PENGALAMAN KITA YANG BERBICARA. SEMOGA KITA BISA SEGERA MENGIKUTI JEJAK NEGARA-NEGARA MAJU UNTUK MEMBUAT PERUBAHAN YANG FUNDAMENTAL BAGI PENDIDIKAN ANAK-ANAK KITA KEDEPAN DAN TIDAK HANYA SEKEDAR MENGUBAH SMA MENJADI SMU DAN KINI KEMBALI DI UBAH MENJADI SMA KEMBALI, ATAU TES PERINTIS, YANG DIUBAH MENJADI SIPENMARU, KEMUDIAN UMPTN, KEMUDIAN MENJADI SPMB DAN ENTAH APA LAGI..?

Catatan: Artikel ini telah di bahas oleh Ayah Edy LIVE di SMART FM pada Selasa Malam 4 Mei 2010 sebagai bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional. Bagi para guru dan orang tua yang belum sempat mendengarkannya pastikan untuk mendengarkan Rekamannya yang akan di tayang ulang pada Sabtu Pagi pukul 10.00-12.00 WIB.