SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Jumat, 29 Oktober 2010

RENUNGAN AKHIR PEKAN DI NEGERI 1001 MASALAH


---------------------------------------------------------------------------
Orang tua dan sekolah paling khawatir jika anakyna tidak pintar. Kita tidak pernah khawatir jika anak kita tidak jujur dan berkarakter. Tidak ada tempat bagi raport anak disekolah untuk masalah karakter melainkan hanya sebatas kolom Alpha-Ijin dan Sakit. Ukuran karakter bagi anak kita adalah sebatas seberapa banyak dia Alpha dan Ijin.

Kita gencar melakukan Remedial bagi nilai-nilai anak kita yang merosot dibawah standar, namun kita tidak pernah sibuk melakukan REMEDIAL bagi Karakter anak yang dibawah tandar. Kita sibuk mengirim anak kita ke kursus dan les agar nilai kepintaran anak kita meningkat, tapi kita santai-santai saja melihat nilai akhlak anak kita yang merosot jauh dibawah standar.

Padahal kita sudah punya contoh yang "terang benderang", gamblang segamblang-gamblangnya tentang sebuah negeri, yg orang2nya pintar tapi tidak jujur dan berkarakter. Namun sayangnya kita masih tidak juga sadar. Raport zaman kita dulu bersekolah dan Raport zaman anak kita bersekolah sekarang masih sama saja, nilai karakter yang tercermin di raportnya masih sebatas kolom Alpha-Ijin & Sakit.

Dalam kehidupan nyata kita mendapati bahwa untuk bisa menjadi seorang pembantu rumah tangga saja agar bisa bisa di cintai oleh majikannya, yang dibutuhkan bukanlah KEPINTARANNYA melainkan karena ia JuJur dan Rajin. Jujur dan rajin adalah sebagian kecil saja dari unsur karakter. Jika anda Bos, saya yakin dan bisa di jamin pasti lebih suka memilih Assisten yang jujur ketimbang yang pintar tapi tidak jujur.

Tapi sayangnya mengapa kita belum juga sadar, bahwa dgn Karakter atau Ahlak orang bisa menjadi Besar, Terkenal & Panutan manusia sepanjang Zaman. Kita memuja dan memuji org yg berkarakter mulia ini disetiap doa kita, namun setelahnya kembali lagi fokus pertanyaan kita pada anak adalah berapa nilai ujian kamu dan bukan berapa banyak kebaikan yang telah kamu lakukan hari ini?

Kita rindu pemimpin bangsa yang berkarakter seperti Bapak Pendiri Bangsa ini, tapi bagaimana mungkin pemimpin yang seperti ini akan datang di negeri ini jika anak-anak kita terus di didik untuk mendapatkan nilai yang tinggi dan bukan karakter yang mulia?? bagaimana mungkin ia akan hadir jika target2 sekolah dan Pengambil Kebijakan di Negeri 1001 masalah ini masih pada hasil ujian & nilai yg tinggi bukan akhlak yang tinggi dan mulia?

Semoga kita segera tersadarkan atas kekeliruan kita selama ini dalam mendidik putra-putri kita tercinta dirumah dan disekolah. Agar negeri ini bisa segera keluar dari 1001 masalah yang setiap hari terus mendera silih berganti tanpa jelas kapan akan berakhir.

Jumat, 22 Oktober 2010

SAKSIKAN JUM'AT MALAM INI , TALKSHOW AYAH EDY DI INDOVISION/SUN TV DAN TV LOKAL DI KOTA ANDA !



---------------------------------------------------------------------------------------------
Kabarkan berita baik ini kepada sanak keluarga anda di daerah.

Ayah Edy akan hadir secara "LIVE" mengunjungi anda melalui stasion TV Lokal yang ada di kota anda, mulai Bulan Maret 2010 setiap Jum'at malam mulai pukul 21.00-22.00 WIB.

ANDA BISA BERINTERAKSI LANGSUNG DENGAN AYAH MELALUI TELEPON INTERAKTIF SAAT ACARA BERLANGSUNG, JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN BERHARGA INI.

Berikut adalah kota-kota yang akan di kunjungi oleh Ayah:

1. Denpasar Bali melalui BMC TV Denpasar.
2. Banyumas melalui BMS TV
3. Medan melalui Deli TV
4. Bandung melalui IM TV
5. Pontianak melalui KC TV
6. Lampung melalui LTV
7. Surabaya melalui MH TV
8. Magelang melalui MG TV.
9. Padang melalui Minang TV.
10. Semarang melalui Pro TV.
11. Palembang melalui SKY TV
12. Tangerang melalui TV3
13. Batam melalui U TV
14. Jakarta melalui TOP TV
15. Jakarta dan Seluruh Indonesia melalui Indovision Ch.83 & Oke Vision Ch. 101

Catat nomer on line kami untuk dapat berinteraksi dengan Ayah Edy saat live talkshow berlangsung: 021- 392-2121 atau sms ke nomor 0813-8-945-945

fb: Komunitas Ayah Edy atau Motivatalk Suntv

MARI KITA BANGUN INDONESIA YANG KUAT DARI KELUARGA MELALUI ANAK-ANAK KITA TERCINTA!
KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI, KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI..?

Salam Hormat
AE Management.

Senin, 18 Oktober 2010

BELAJAR DARI SEMUT


Suatu hari ada seorang ibu yang selalu mengeluh tentang semut, ya setiap kali ia meletakan makanan beberapa lama kemudian sudah di kerumuni oleh semut. Kebetulan ibu ini memang senang dan ahli memasak, jadi selalu saja ia berusaha menyajikan masakan-masakan yang lezat bagi keluarga.

Apa lagi bulan ini adalah bulan Puasa, jadi ia lebih semangat lagi untuk menyajikan hidangan-hidangan istimewa bagi keluarganya. Namun ada satu hal yang kerap kali membuatnya kesal dan marah yakni manakala hendak menyantap hidangan puasa selalu saja semut mencicipinya terlebih dahulu.

Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengusir para semut pengganggu ini dari rumahnya, namun tak ayal semut itu tidak pernah mau beranjak dari rumahnya. Berbagai upaya keras dilakukan, semakin keras usahanya untuk mengusir semut sepertinya malah semakin keras juga semut-semut itu menunjukkan perlawannannya.
Saking bingunnya akhirnya ibu ini meminta nasihat dari seorang kerabat yang kebetulan paling di tuakan dalam keluarga karena memang orangnya begitu arif dan bijaksana.

Pada saat bertemu si ibu mulai menceritakan panjang lebar tentang prilaku semut dirumahnya dan berbagai upaya yang telah ditempuhnya untuk menghentikan prilaku semut di rumahnya. Namun semut juga tidak juga ada perubahan yang berarti, sehingga ia sering dibuat jengkel dan marah karenanya.

Setelah selesai dengan semua uneg-unegnya tentang semut akhirnya ia berkata “Jadi apa yang terbaik harus saya lakukan untuk bisa mengatasi masalah ini..?”
Diluar dugaanya sang bijak berkata, begini jika kamu tidak menyukai semut dan hal itu telah membuat kamu jengkel dan marah, nah mengapa kamu sekarang tidak belajar untuk menyukainya. Ya yang kamu butuhkan adalah menerima semut itu apa adanya dan berusaha untuk menyukainya, jadikan semut itu adalah bagian dari pada kehidupan kita. Karena memang dimanapun kita berada dimuka bumi ini kita akan selalu menemukan semut bersama kita.

Lalu kemudian si Ibu itu bertanya lagi; bagaimana mungkin aku bisa menyukai semut yang terus menggangguku..? Lalu saudaranya yang bijak itu kembali berkata: Orang yang membenci sesuatu selalu akan merasa terganggu danga apapun yang dilakukan oleh orang yang dibencinya tersebut, tapi orang yang menyukai sesuatu dia tidak akan pernah merasa terganngu, karena memang perasaan mengganggu itu terlahir dari tidak adanya rasa cinta.

Coba perhatikan, seorang ibu yang bagitu mencintai bayinya, karena bayi tersebut telah lama dinanti-nantikannya, ibu ini sama sekali tidak merasa terganggu jika bayinya menangis di tengah malam karena pipis atau lapar ingin menyusu meskipun ia sedang terlelap tidur karena lelah telah mengurusnya selama seharian penuh, mengapa karena dia begitu mencintai bayinya, tapi bagi seorang baby sitter yang tidak mencintai bayi tersebut, dengan kejadian yang sama mungkin ia akan merasa terganggu sekali.

Jadi bukan sesuatu yang membuat kita terganggu melainkan tidak adanya rasa suka dan cintalah yang telah mengganggu perasaan kita. Maka agar kita tidak merasa terganggu sukailah apa yang sebelumnya kamu benci dan bangunlah rasa cinta antar sesama mahluk, maka jika kita berhasil melakukannya kita tidak akan pernah merasa terganggu lagi selamanya.

Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada, jika selama ini ada yang merasa terganggu oleh prilaku anak atau anak murid-murid kita di sekolah maka mulailah menyukai dan mencintainya dengan sepenuh hati, percayalah setelah itu perlahan-lahan kita tidak akan merasa terganggu lagi oleh prilaku mereka.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Pelajaran Berharga untuk kita para guru di Tanah Air tercinta

----------------------------------------------------------------------
Berikut adalah pengalaman seorang guru Les Piano tentang salah seorang muridnya yang bernama Wo Jin Yu .

Suatu ketika dia mendapatkan seorang murid yang bernama Wo jin yu yang berusia 12 tahun, Pada saat pertama kali mendaftar les ia di antar oleh ayahnya.

Pada hari pertama mengikuti kursus seperti biasa sang guru piano mengatakan bahwa ia senang sekali menerima Wo sebagai muridnya, karena usia Wo masih sangat muda dan itu akan sangat baik sekali karena pada usia dini biasanya seseorang akan sangat mudah sekali untuk di ajari seuatu terutama musik katanya.

Maka sejak hari itu Wo kecil mulai belajar bermain piano, namun saya melihat sepertinya dia kaku sekali, jari-jemarinya sulit sekali di gerakkan, selain itu sang guru piano juga mendapati bahwa Wo sangat tidak peka dengan bunyi-bunyi nada. Tapi tak apalah pikirnya karena mungkin ini hari pertamanya.

Namun demikian sepertinya Wo terus berusaha dengan keras untuk memainkan jari-jarinya di atas piano tersebut dengan bunyi yang tidak beraturan dan agak memekakan terlinga.

Beberapa bulan Wo telah mencoba mempelajari segala yang saya wajibkan untuk dipelajarinya, namun sepertinya tidak ada kemajuan yang begitu berarti. Sampai suatu ketika sempat terlontar kata dari saya bahwa sepertinya Wo tidak memiliki bakat yang cukup untuk menjadi seorang pianis yang baik. Namun Wo mengatakan bahwa ia ingin bisa bermain piano karena ibunya ingin sekali ia bisa bermain piano. Dan Wo mengatakan bahwa ia sesungguhnya kurang menyukai piano namun ia begitu mencintai Ibunya. Sehingga ia akan terus berusaha untuk bisa bermain piano.

Karena sepertinya sulit sekali saya mengajarinya untuk bermain piano, suatu ketika saya katakan padanya bahwa mungkin ia bisa mempelajari alat musik lainya, Namun Wo dengan tegas mengatakan Tidak, saya harus bisa bermain piano, suatu saat ibu saya akan bisa mendengar saya bermain piano dengan baik. katanya mantap.

Setiap hari semangat Wo untuk bermain piano semakin tinggi dan ia terlihat semakin bekerja keras untuk bermain piano. Belakangan saya mengetahui bahwa dirumah pun ia terus berlatih piano siang dan malam. Setiap hari Wo selalu di antar jemput oleh ayahnya. Namun sudah beberapa hari ini sepertinya Wo tidak datang untuk berlatih piano lagi, ada apa gerangan, dalam bathin saya bertanya-tanya. Tapi saya berpikir tak apalah mungkin saja pada akhirnya dia menyadari bahwa memang dia tidak berbakat untuk bermain piano dan memutuskan untuk berhenti. Ahrinya saya memutuskan untuk tidak menghubunginya.

Enam bulan setelah kejadian itu saya membagikan brosus pada para murid piano saya untuk memberitahukan bahwa dua minggu lagi akan di adakan konser musik piano di balai kota yang akan dimainkan oleh anak-anak murid asuhan saya. Namun saya agak terkejut ketika tiba-tiba Wo datang dan menyatakan ia ingin ikut serta dalam pertunjukan konser tersebut.

Lalu saya katakan sebenarnya pertunjukan konser itu hanya untuk murid-murid les saya saja, dan karena Wo sudah lama tidak les maka sepertinya Wo tidak bisa mengikutnya. Namun dengan nada serius dan setengah memaksa Wo meminta saya agar ia bisa mengikutinya. Ia berkata bahwa selama enam bulan ini ia tidak bisa datang Les karena ibunya sedang sakit dan ia tidak mau meninggalnya sendirian di rumah. Lalu dia juga meyakinkan saya bahwa meskipun tidak ikut les ia terus berlatih keras siang dan malam untuk bisa bermain piano. Dan dengan nada memelas dia berkata... Tolonglah bu beri saya kesempatan untuk bisa ikut serta dalam pertunjukan tersebut.

Saya berpikir jika Wo ikut mungkin bisa merusak pertunjukan yang ada nanti, tapi entah mengapa dari dalam bathin saya kok seperti ada dorongan kuat untuk memberikan kesempatan pada anak ini untuk mengikutinya hingga pada akhirnya saya pun mengijinkan Wo untuk ikut.

Malam pertunjukan datang. Balai Kotapun dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi. Saya menempatkan Wo pada urutan terakhir persis sebelum saya tampil ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir dari konser malam itu. Saya rasa jika terjadi kesalahan yang buat oleh Wo di akhir acara nanti saya bisa menutupinya dengan permainan saya.

Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah. Murid-murid telah berlatih dan hasilnya sangat bagus. Lalu tibalah kini giliran Wo naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya agak berantakan saya berpikir dalam hati. "Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?" dan. "Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini saja..?"

Wo menarik kursi piano dan mulai bicara. Saya terkejut ketika Wo menyatakan bahwa dia telah memilih untuk memainkan karya Mozart's Concerto #21 in C Major. Jantung saya berdebar keras menantikan apa yang akan terjadi karena saya tahu itu adalah tidak mudah apa lagi bagi seorang anak seperti Wo. Namun tiba-tiba saja terdengar alunan nada yang begitu indah, terlihat ayunan jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari nari dengan indah dan gesitnya. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo... dari allegro ke virtuoso. sungguh sangat mengagumkan!

Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur anak 12 tahun sebagus dan seindah itu! Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar, dan tanpa sadar telah membuat semua orang terpana seolah tidak percaya pada apa yang mereka saksikan dan mereka dengar...namun taklama setelah itu terdengar tepuk tangan yang riuh dan sangat meriah.

Segera saja mata saya berlinangan air mata, saya segera naik ke panggung dan memeluk Wo dengan penuh rasa haru dan sukacita."Saya belum pernah mendengar kau bermain piano seindah itu, Wo! Bagaimana kau melakukannya?" Melalui pengeras suara Wo menjawab, "Bu Yun Yi.. masih ingatkah ibu ketika saya berkata bahwa mama saya sedang sakit? Ya, sebenarnya mama saya sedang sakit kanker dan dia baru saja meninggal tadi pagi. Tahukah ibu bahwa sebenarnya... mama saya itu tuli sejak lahir jadi aku yakin malam inilah pertama kali ia bisa mendengar suara aku bermain piano. Permainanku malam ini sengaja aku persembahkan khusus bagi mama ku sebelum ia pergi menemui Tuhannya."

Tak satupun dari para penonton yang hadir malam itu yang kuasa untuk menahan airmatanya, bahkan dari beberapa sudut ruangan terdengar beberapa isak tangis penuh keharuan.

Ketika panitia membawa Wo turun dari panggung ke ruang istirahat, saya segera menyadari meskipun mata saya masih merah dan bengkak penuh keharuan, namun saya begitu bersyukur betapa hidup saya jauh lebih berarti karena pernah menerima Wo sebagai murid saya.

Selama ini saya selalu merasa saya adalah guru bagi mereka, tapi malam ini saya merasa menjadi seorang murid yang telah di beri pelajaran berharga oleh Wo. Dialah sesungguhnya gurunya, guru kehidupan bagi saya dan sayalah muridnya. Karena malam ini Wo mengajarkan pada saya arti sebuah kerja keras, cinta kasih dan keberhasilan.