SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Jumat, 25 Januari 2013

PELAJARAN HIDUP DARI BANJIR 5 TAHUNAN



Tadi malam sms demi sms berdatangan dari teman dan kerabat untuk menujukkan rasa empati dan menanyakan nasib keluarga kami di musim banjir kali ini, dan salah satu sms itu datang dari pimpinan tertinggi di SMART FM Jakarta. Alhamdullilah masih banyak yg menaruh simpati pada kami.

Maklum mungkin saya adalah satu2nya pembicara di Smart fm yg rumahnya selalu menjadi langganan banjir. Dan selalu izin tidak siaran karena rumah dan jalan akses keluar dari rumahnya kebanjiran. Jadi sepertinya teman2 dan kerabat sangat khawatir dengan keluarga kami terutama di musim penghujan seperti ini.

Mengenang kembali masa lalu;

Zaman Orang-orang Jakarta lainnya masih terbebas dari Banjir, rumah kami sudah menjadi langganan Banjir, maklum tinggalnya di Jakarta Utara dekat dengan sungai dan pantai tempat perhelatan terakhir air dari segala penjuru.

Saya ingat waktu masih kanak2 dulu saat terjadi banjir besar 1977, Rumah kami sudah kebanjiran sepinggang orang dewasa selama lebih kurang 1 pekan. hingga akhirnya kami tidur di Ranjang tingkat dan tidak bisa kemana-mana, kecuali di gendong di pundak oleh orang tua kami.

Namun sy ingat saat itu saya senang karena mengkhayalkan sedang berada di atas kapal pesiar dan berlayar mengarungi samudera luas. Kami isi sebagian waktu kami dengan memancing di dalam rumah.

25 Tahun lebih kami kebanjiran.....

Dulu kami sempat merasa sengsara dan menderita karenanya. Sampai akhirnya kami sadar bahwa nasib ini tidak akan pernah berubah jika kami sendiri tidak berusaha merubahnya.

Akhirnya setelah berkeluarga kami memutuskan untuk meninggalkan daerah banjir tersebut dan mencari rumah di daerah yg agak tinggi yakni di daerah Gunung Puteri, Bogor

Belum genap 1 tahun kami menempati rumah tersebut ternyata pada tahun 2003 kami di hantam banjir yg ternyata bersumber dari sungai Cikeas yg meluap tumpah hingga setinggi dada orang dewasa.

Naiknya air luar biasa cepatnya hingga kami tak sempat lagi menyelamatkan barang2 berharga termasuk beberapa dokumen penting kami hancur karena banjir.

Sambil tersenyum getir kami berpikir, wah padahal kami sudah berusaha mengubah nasib untuk menghindari banjir tapi ternyata malah dapat yg jauh lebih besar dan dahsyat, hanya dalam hitungan menit air merambat dari setinggi mata kaki hingga setinggi dada orang dewasa.

Hal ini terulang lagi pada tahun 2007, dengan intensitas banjir yg sedikit lebih besar dari tahun2 sebelumnya, datang tiba2 jam 3 dinihari. Segera merendam rumah dan barang2 yg ada didalamnya.

Meskipun barang2 berharga banyak yg tidak terselamatkan, Untunglah kami masih dilindungi Tuhan dan dapat menyelamatkan anak2 kami yg waktu itu baru berusia berlum genap 2 tahun.

Tuhan tidak akan mengubah nasib kami jika kami sendiri tidak berusaha untuk mengubahnya, begitu pikir saya malam itu dalam batin, "ayo jangan pernah menyerah untuk keluar dari nasib kebajiran ini. teruslah berjuang !!!". Begitulah kami berusaha menyemangati dari kami sendiri.

Hingga kamipun tidak pernah menyerah untuk terus berdoa pada Tuhan sambil mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. hingga akhirnya kami berhasil pindah rumah tidak jauh hanya kira-kira 500 meter dari rumah kami sebelumnya ke tanah perkampungan yg lebih tinggi dari tanah perumahan yg rendah.

"Ah.... selamatlah sudah, saya, anak-anak dan keluarga"; pikir saya dalam batin.

Tiba pada banjir besar berikutnya akhirnya kami sudah tidak lagi terkena banjir... "Alhamdullilah !!!"

Tapi apakah benar jika banjir itu musibah ? sebagaimana yg sering di asosiasikan oleh orang dewasa ?

Ternyata tidak, bagi anak-anak kami.

Suatu hari saat banjir besar melanda daerah sekitar kami, kami berdua panik, karena kedua anak kami yg baru berusia 3 dan 4 tahun lebih tiba2 hilang entah kemana, padahal baru saja dia bermain bersama teman2nya di depan pekarangan rumah.

Bundanya panik luar biasa, menangis mencari kemana gerangan perginya ke dua anak kami, segera saja ramai satu kampung membantu mencari-cari anak kami yg hilang.

Hingga akhirnya bertemu anak kami bersama teman2nya berjalan sejauh 500 meter dari rumah, untuk bermain banjir di jalanan yg kebanjiran.

OMG... !!!

Kami orang tuanya begitu stress dan khawatir ternyata mereka berdua dan teman2nya malah sedang asyik bermain air banjir sambil tertawa2 kegirangan. Rupanya anak2 kami rindu bermain air banjiran. Oalah nak....

Sejak saat itulah saya belajar banyak tentang arti hidup dan arti sebuah musibah yg ternyata hanya ada dipikiran saya saja dan tidak ada di pikiran anak-anak kami.

Singkat cerita karena satu dan lain hal kami terpaksa harus pindah rumah lagi, dan kembali kena banjir lagi. Namun kali ini agak sedikit berbeda, menyambut banjir dengan senyum dan semangat, seperti semangatnya anak-anak kami bermain banjir-banjiran.

Kembali kami sekeluarga berdoa pada Tuhan bahwa kami ingin keluar dari nasib kami yg kebanjiran terus-menerus mulai sejak anak2 hingga kini sudah memiliki 2 orang anak.

Ah... akhirnya doa kami dikabulkan juga; TUHAN akhirnya "Menganugrahkan" sebuah rumah yg hari ini tidak kebanjiran lagi.

Ternyata ajaran agamaku benar sekali;

"TUHAN tak akan pernah merubah nasib kita, jika kita sendiri tidak berusaha untuk mengubahnya."

Saya akhirnya tersadarkan bahwa menanti Empati dan uluran tangan orang lain terus menerus tidaklah cukup untuk menyelesaikan masalah, dibutuhkan sebuah PERUBAHAN PIKIRAN DAN TINDAKAN NYATA untuk bisa merubah nasib kita. Persis seperti yg di Firmankan Tuhan melalui buku suciNya.

"Tidak akan berubah nasib satu kaum jika kaum itu tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri"

Dan yang juga selalu teringat di benak saya adalah;

"Man jada wa Jadda !!!" siapa yg bersungguh2 ingin mengubah nasibnya pasti ia akan berhasil .

Salam bahagia dan selamat berlibur akhir pekan,
ayah edy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar