SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Sabtu, 21 Februari 2015

HIDUP INI TIDAK ADA YANG GRATIS DAN HARUS DI PEROLEH MELALUI PROSES DAN USAHA


Kebiasaan itu adalah sebuah proses panjang yang di latihkan dan tidak bisa dilakukan secara instant.

Sahabat keluarga Indonesia yang berbahagia,

Dirumah kami segala sesuatu tidak ada yang gratis, kecuali kebutuhan dasar anak (Pangan, Papan dan Sandang).

Setiap keinginan anak didapat harus dengan usaha, semisal untuk membeli mainan atau buku yang diinginkan anak kami, maka mereka harus mengumpulkan koin-koin rupiah 500 yang di konversi sesuai tingkat kesulitan pekerjaan yang dilakukannya. Semakin sulit semakin banyak koin yang mereka terima.

Dan tiap malam atau paling tidak tiap akhir pekan mereka akan menghitung perolehan hasil kerja mereka.
Bahkan jika anak kami ingin berekreasi kita satu keluarga akan urunan anggaran sesuai budget tujuan rekreasi tersebut, jadi mereka benar2 merasakan bahwa apa yang mereka beli, mereka sewa, mereka miliki, mereka nikmati adalah hasil jerih payah mereka sendiri dengan di bantu subsidi dari orang tuanya jika angkanya terlalu tinggi untuk bisa mereka jangkau.

Itulah mengapa setiap kali anak-anak kami ingin membeli sesuatu make mereka akan benar2 menghitung dan berhitung tingkat efisiensi dan kebutuhannya, apakah ini akan benar2 di butuhkan, terlebih jika ini akan menguras budget kocek tabungan mereka (dari uang yang mereka kumpulkan sendiri).
Jadi secara tidak langsung anak-anak kami sejak kecil sudah belajar berhitung secara logis matematis (tanpa harus belajar matematika), sesuai kepentingan dan kebutuhan.

Termasuk jika ia berencana untuk membeli barang yang mereka ingin beli atau pergi ke tempat2 yang mereka ingin kunjungi mereka akan berunding dengan saudaranya dan dengan kami orang tuanya.
Nah... jika ternyata budget tempat atau tujuan mereka pergi itu terlalu mahal untuk di jangkau, maka kami selaku orang tua akan memberikan subsidi tambahan biaya bagi mereka untuk bisa menjangkaunya.

Bahkan pernah anak-anak kami ikut urun bayar listrik karena saya katakan listrik sekarang mahal sekali dan naik sampai 3 kali berturut2 dan katanya masih akan naik terus entak berapa kali lipat lagi.

Dan alhamdullilah anak-anak kami jadi anak yang tidak pernah menekan orang tuanya untuk harus pergi ke tempat ini atau membeli mainan itu, atau gadget2 tertentu. Karena mereka tahu benar bahwa setiap keinginan memiliki sesuatu harus ada usaha dan keringat yang di keluarkan untuk mendapatkannya. Mereka jadi lebih sering membuat sendiri mainannya dengan cara-cara yang unik dan kreatif tanpa harus membelinya.

Ada sebagaian orang tua yang menilai ini sebagai bentuk kekejaman atau ekploitasi, tapi kami lebih percaya ini adalah sebuah bentuk pembelajaran real bagi anak tentang kehidupan sesungguhnya yang kelak akan mereka hadapi ketimbang sebuah ekploitasi, Seperti kata pepatah, jangan tinggalkan warisan harta bagi anakmu tapi tinggalkanlah warisan ilmu dan kemampuan untuk mendapatkan harta bagi anak-anakmu.

Sy tidak pernah berpikir ini adalah sebuah ekploitasi atau kekejaman, karena saya sama sekali tidak menarik keuntungan dari mereka tapi merekalah yang kelak akan menarik manfaat dan keuntungan dari model pembelajaran hidup ini.

Karena saya telah banyak melihat bukti2 betapa banyak orang tua yang memberikan kemudahan dan fasilitas bagi anak-anaknya di sebabkan karena orang tuanya merasa mampu, lalu ketika orang tua mereka telah tiada, anak-anak mereka hidup berantakan karena tidak memiliki kemampuan seperti yang dulu di miliki orang tua mereka.

Dan orang-orang ini adalah para sahabat dekat saya sendiri yang dulu orang tua mereka adalah orang-orang berada yang lupa mewariskan pengalaman suksesnya dulu pada anaknya.
"Saya tidak ingin anak saya mengalami kesulitan yang dulu saya alami semasa kecil saya" itulah kira2 ucapan para orang tua ini.

Padahal jika kita telaah secara logika, justru kesulitan-demi kesulitan yang dulu di alami oleh orang tuanya itulah yang telah membuat mereka menjadi orang yang sukses seperti sekarang ini. Jadi menurut saja jika kita ingin anak-anak kita sukses maka ajarilah caranya untuk hidup sukses dan bukan memberikan berbagai kemudahan dari hasil sukses yang kita capai. Persis seperti para binatang yang mengajari anak mereka sejak kecil untuk belajar berburu mencari mangsa atau makan bagi kelangsungan hidup mereka kelak.

Ada lagi yang merasa tidak tega untuk melakukan ini pada anaknya, tapi mari kembali kita pikirkan, tegakah kita jika suatu saat nanti saat kita tiada anak-anak kita tidak memiliki kemampuan untuk mencari nafkah untuk dirinya sendiri atau untuk keluarga dan anak dan istri mereka ?

Saya belajar dan di ajari metode ini oleh ibu saya dulu sejak masih berusia 7 tahun, hingga akhirnya ketika kuliah kami tidak mampu melanjutkan karena alasan biaya dari orang tua macet, maka saya langsung terjun menjadi pedagang keliling di kampus menawarkan barang2 dagangan dan menjadi guru les privat akuntansi untuk membiayayai kuliah saya sampai selesai.

Apakah ada keluarga Indonesia yang tertarik untuk mencobanya ? atau malah lebih tertarik untuk memperdebatkannya?

Silahkan pilih mana yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan kita masing-masing dan manakah yang lebih memberikan manfaat bagi kita dan anak kita.

Salam hangat,
ayah edy
www.ayahkita.com


Latar belakang foto, Dimas menawarkan diri untuk mencuci sepeda kami untuk bisa mendapatkan koin untuk menambah tabungannya. Dan foto akhir pekan saat mereka menghitung hasil coin-coin yang mereka kumpulkan masing-masing

1 komentar:

  1. Ayah, usia berapakah anak mulai bisa di ajari untuk mengenal dan mengerti bahwa apa yg mereka inginkan itu perlu usaha???? Anak saya masi berumur 2 thn 1 bln. Tapi sudah bisa minta dibelikan icecream dan coklat. Saya sebagai ibu sering mengabulkan permintaannya dg alasan gak tega n gak pengen seperti saya kecil dulu yg gak bsa makan coklat n eskrim karena keterbatasan finansial orag tua.

    BalasHapus