SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Sabtu, 16 Januari 2016

Anakku selalu memaksa dan tarik-tari baju, mengamuk untuk dibelikan sesuatu di tempat umum




TANYA:

Ayah, Please Help...me...

Nama saya Indah Laksmi, bunda dari 1 orang anak laki-laki kini 18 bulan. Anak saya ini aktif sekali, benar-benar tidak bisa diam. Seringkali saya terus mengingatkan diri saya bahwa dia aktif berarti dia sehat dan cerdas, dan dia sedang proses eksplorasi.

Yang mengkhawatirkan adalah lebih ke emosinya. Ketika anak saya marah atau tidak mendapatkan apa yg dia inginkan, apakah dilarang atau dia tidak berhasil melakukan sesuatu, dia selalu berteriak-teriak. Saya masih berpikir mungkin karena dia belum bisa bicara/komunikasi, jadi dia mengekspresikannya dengan teriak-teriak.

Tapi, lama-lama mengkhawatirkan juga Ayah padahal ketika dia berteriak pun saya dan ayahnya tidak menuruti kemauannya, karena bisa lama sekali dia nangis plus teriak-teriak.

Pertanyaan saya lebih pada, apa ya yg bisa saya lakukan lagi (kegiatan/aktifitas) untuk anak saya yg aktif dan juga apa yg bisa saya lakukan agar anak saya tidak perlu berteriak-teriak ketika ngambek/marah?

Terima Kasih.
Indah Laksmi

Bu Indah yang baik hati,

Anak kita membawa kesempurnaan dari Tuhan dalam setiap prilakunya, dan sebenarnya Tuhan memberikan tanda-tanda akan potensi yang tersimpan dalam diri buah hati kita. Apa yang ibu lakukan dalam melihat prilakunya yang aktif sebagai pertanda anak ibu sehat dan cerdas sungguh sangat baik sekali, begitu juga dengan emosinya yang meledak-ledak serta suka teriak itu juga sesungguhnya sebuah pertanda bahwa anak ibu adalah tipe anak yang verbal dan memiliki tekad yang kuat sebagai sorang pemimpin yang selayaknya kita syukuri.

Namun demikian buah hati kita juga perlu kita ajari bagaimana mewujudkan prilakunya sebagai calon pemimpin masa depan dengan cara yang lebih positif.

Anak yang aktif pada dasarnya adalah anak yang memiliki energi fisik diatas anak rata-rata, yang dia butuhkan adalah bukannya larangan demi larangan dari kita orang tuanya, melainkan ide-ide kreatif untuk menyalurka energi kreatifnya tersebut, oleh karena itu mari setiap saat kita cari ide-ide kreatif apa yang cocok untuk menyalurkan energi anak kita, supaya aktifitas pembelajarannya menjadi jauh lebih positif dan sehat. Saya memberikan kesemptan kepada anak saya untuk melakukannya di rumah.

Apa yang saya lakukan dirumah adalah membuat kesepakatan bersama istri bahwa rumah kita akan kita jadikan sebagai lahan ekplorasi bagi anak-anak, dan saya juga mengajak istri untuk tidak berharap hidup “normal” seperti umumnya standar normal orang dewasa yang penuh dengan keindahan dan kerapihan hingga anak-anak berusia 8-12 tahun. Oleh karena itu kami untuk sementara ini berusaha untuk tidak memiliki barang atau pernik-pernik yang “antik” yang menyebabkan kami melarang anak-anak kami untuk memainkannya.

Benda apa saja yang tersisa dirumah adalah yang boleh untuk di eksplorasi, bahkan rumahnya pun kami pilih yang boleh di eksplorasi, kami sudah Ikhlas rumah kami di jadikan penyaluran energi kreatif anak-anak kami mulai dari bangun pagi hingga tidur malam hari.

Cara berikutnya adalah dengan membawanya ke tempat “Kids Play Ground” yang belakangan ini marak di sediakan di pusat-pusat perbelanjaan dsb.

Sedangkan masalah emosinya yang sering meledak-ledak dengan teriakan, pada dasarnya berkaitan dengan tipe sifat dasarnya yakni Verbal & Keras (Watak Seorang Pemimpin), yang biasanya diwarisi dari salah satu orang tuanya. Oleh karena itu cara kita mendidikpun harus di sesuaikan dengan tipenya yang pemimpin tsb. yakni; Bicara singkat, tidak perlu panjang lebar, gunakan metoda reward and punishment. Lebih lengkapnya ibu bisa membaca buku kami yang berjudul 37 kebiasaan ortu yang menghasilkan prilaku buruk anak, diterbitkan oleh Grasindo.

Namun demikian melihat usianya yang baru 18 bulan, sebenarnya apa yang terjadi pada buah hati ibu adalah proses yang sangat alamiah yang dialami setiap anak yang sedang berada di fase Ego Sentris, dimana dia merasa bahwa dirinya adalah pusat kehidupan sehingga orang-orang disekitarnya harus mengikutinya.

Pada fase ini anak juga belum begitu jelas memahami komunikasi, dia sedang dalam upaya mempelajari lingkungannya dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan respon yang diterima dari lingkungannya. Oleh karena itu cara mendidik kita terhadap prilakunya akan membuat dia memilih apakah akan mengulangi lagi prilaku yang sama atau menggantinya dengan prilaku baru. Ambil contoh pada saat ia teriak-teriak akan sesuatu apakah kita segera terpancing untuk memenuhinya..? jika “Ya” maka ia akan belajar bahwa cara itu efektif dan akan diulanginya lagi.

Kemudian pada saat ia teriak-teriak sementara ibu berusaha tidak memenuhinya dengan tujuan untuk mendidiknya, namun sayangnya lama kelamaan karena tidak tega akhirnya ibu mengalah. Apa kira-kira yang di pelajarinya..... ya persis..! dia berpikir..., jadi kalo kemauanya tidak dipenuhi maka aku harus menangis dan kalo menangis juga belum di kabulkan maka aku tambah dengan berteriak-teriak yang keras. Dan bisa sampai disini ibu tidak tega dan mengalah maka ia akan berfikir bahwa cara ini ternyata sangat efektif. Tentu saja ia akan mengulanginya lagi di lebih banyak kesempatan.

Begitulah cara anak kita belajar pada fase-fase pertama kehidupannya. Jadi apa bila ibu sudah mengambil sikap untuk tidak menuritinya maka tetaplah konsisten, biarkan ia menangis hingga akhirnya berhenti sendiri dan mulai menunjukkan tanda-tanda berdamai dengan kita. Katakan padanya jika kamu seperti ini lagi kamu tidak akan mendapat apa yang kamu inginkan tapi jika kamu mau bicara baik-baik maka ibu akan pertimbangkannya. Arahkan selalu anak kita yang berteriak-teriak untuk bicara dan mau menyampaikan secara baik.

Nah jika kita tidak cepat mengetahui cara mendidik kita yang tanpa sadar ternyata keliru , maka prilaku buruk ini akan terus terbawa oleh anak hingga besar, dan semakin bertambah usianya akan semakin sulit untuk mengubahnya, untuk itulah saya menuliskan dalam buku tersebut satu persatu apa saja cara mendidik kita yang keliru dan hal-hal yang perlu kita lakukan untuk mendidik secara tepat. Mengingat banyaknya poin-poin yang perlu di pelajari, paling tidak ada 37 poin, sepertinya kami tidak mungkin menuliskannya pada kolom in satu demi satu maka kami anjurkan ibu untuk memiliki, mempelajari dan mempraktekkan apa yang ada di buku tersebut.

Banyak orang tua yang telah berhasil dalam waktu yang relatif singkat, kuncinya adalah jika kita mau pasti bisa, betapapun sulitnya ternyata mengubah prilaku kita sendiri dalam mendidik anak.

Mari kita bangun Indonesia yang Kuat dari keluarga melalui anak-anak kita tercinta !

Selamat mencoba !

Ayah Edy
www.ayahkita.blogspot.com
www.ayahedy.tk (download parenting gratis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar