SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Sabtu, 16 Januari 2016

Ayah Gimana sih agar anakku tuh gak sosmed-an terus pagi, siang sore malem....?



Shanti sedang galau. Putrinya Irsa sudah berusia 16 tahun dan sedang ‘mekar-mekarnya’. Irsa cantik dan supel. Kawannya banyak. Satu lagi, Irsa sangat eksis di sosmed (social media).

Sebut saja Facebook, Twitter, Path, Instagram, pasti ada akun Irsa. Tidak cuma sekadar punya akunnya, Irsa juga aktif membuat status, nge-tweet dan mengunduh foto-foto. Friends Irsa di Facebook atau followers-nya di Twitter bukan hanya teman atau keluarga yang dikenal Irsa, tapi juga banyak orang asing yang entah siapa. Tiada hari tanpa sosmed bagi Irsa. Tiada kegiatan yang luput diberitakan via sosmed.

“Pokoknya Kak Irsa eksis berat, deh!” kata Tita, putri kedua Shanti.
Awalnya, Shanti sama sekali tak keberatan.

Namun belakangan ini ia sering membaca berita tentang penipuan, penculikan bahkan pemerkosaan remaja yang berawal dari sosmed. Si penjahat pura-pura menjadi kawan baru yang asyik di sosmed. Ketika si remaja sudah percaya, penjahat lalu meminta nomor ponsel dan pertemanan dilanjutkan dengan saling mengirim pesan.

Langkah berikutnya, si penjahat mengajak targetnya kopi darat alias ketemuan. Saat bertemu itulah, si penjahat melancarkan rencananya. Bisa terjadi bermacam-macam kejahatan.

Shanti ngeri membayangkannya. Ingin rasanya ia menyuruh Irsa menutup semua akun sosmednya. Namun, mana mungkin Irsa mau? Kalau Irsa tak mau berhenti main sosmed, Shanti merasa perlu membuat peraturan agar putrinya tidak kebablasan.

Apa ya, rambu-rambu yang harus diberikan pada Irsa?

Jawaban Ayah Edy:

Ayah Bunda yang penuh kasih

Langkah pertama dalam membuat rambu-rambu bersosmed adalah mencari informasi seputar kasus-kasus terkait. Coba saja googling di internet. Selanjutnya, berbagilah informasi itu pada anak kita. Lakukanlah sharing, bukan briefing. Misalnya begini:
“Kak Irsa, sini deh. Lihat deh, ada kasus, nih. Seram, deh.”

“Apa sih, Ma?”
“Ini..., ada penculikan anak SMA. Si penculiknya kenal korbannya dari sosmed.”

Selanjutnya, setelah sama-sama membaca berita itu, lontarkan pertanyaan pada anak:
“Kok bisa ya, Kak? Menurut kamu, gimana?”

Pertanyaan sangat penting, karena dengan pertanyaan kita bisa tahu pikiran anak kita. Tahan mulut Anda untuk segera berkata, “Tuuuh..., makanya nggak usah main-main sosmed deh” atau “Tuuuh, makanya kalau main sosmed jangan berteman dengan orang asing.” Cukup lontarkan pertanyaan dan dengarkan apa jawaban anak kita.

Mungkin saja, dia sudah mengetahui kasus-kasus semacam ini lebih dahulu. Mungkin saja dia menjawab:
“Iya Ma, temanku juga pernah hampir jadi korban.”
“O ya? Masa sih? Ceritanya bagaimana, Kak?”

Simak cerita anak baik-baik. Orangtua sering tak tahan dan langsung menimpali (atau menasehati) panjang lebar retetetetetet bagai senapan mesin.

Atau bila ia tak bercerita apa-apa atau tak pernah mendengar kasus semacam itu, pancinglah ia dengan cerita Anda:
“Kemarin, teman Mama juga hampiiir saja...” (ssst... nggak perlu cerita asli. Sekali-kali mengarang bebas demi kebaikan anak juga boleh, kok)

“Hampir apa, Ma?”
“Yaaa... begitu deh.”
“Begitu deh apa sih Ma?”
“Ngeri deh, pokoknya!”
“Si tante itu juga hampir jadi korban...”
“Terus? Gimana ceritanya?”

Nah, inilah salah satu teknik berkomunikasi dengan anak. Jangan langsung full. Berikan ia sepotong-sepotong. Jika ia bertanya ‘terus?’, berarti ia mendengarkan dan tertarik pada cerita kita.

Selanjutnya, putar-putar terus dan akhiri kembali dengan pertanyaan:
“Menurut kamu bagaimana, Sayang?” Tanyakan juga padanya, “Lalu, supaya kejadian seperti itu tidak terjadi pada kita, harus bagaimana ya Nak?”

Mungkin dia akan menjawab: “Yaaa..., jangan mau dong kalau diajak ketemu orang asing.”

Tanyakan lagi, “Kalau Kakak di sosmed bagaimana? Berteman dengan orang yang tak dikenal, nggak?”

Bangunlah sistem self-defense anak dengan pertanyaan-pertanyaan. Dampingi anak dalam ‘menyusun’ peraturannya sendiri.

Berdiskusilah dengannya. Anak-anak kita itu pintar lho. Mereka lebih jago dan lebih gaul dari orangtuanya. Lihat saja, soal gadget atau sosmed, biasanya mereka lebih mahir.

Orangtuanya tak perlu sok pintar. Semakin kita ‘bodoh’, semakin pandai mereka. Maksudnya, daripada menasehati blablabla (yang cenderung malah diabaikan anak), bertanyalah pada mereka dan diskusikan bersama.

Dipetik dari buku ayah edy menjawab problematika orang tua ABG dan Remaja

www.ayahkita.blogspot.com

1 komentar: