SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Senin, 20 Juni 2016

"Apakah di rumahmu ada kemoceng?"



Tanya seorang Ustadz pada seorang pemuda. "Ada, ya Ustadz," jawab pemuda itu.

"Pulanglah. Besok kemarilah lagi dan bawa kemoceng itu. Kau harus berjalan kaki. Dalam perjalananmu, cabutilah bulu-bulu kemoceng itu, lalu buanglah di sepanjang perjalananmu kemari, satu helai demi satu helai." "Baik Ustadz." Pemuda itu pun pulang.

Dan keesokan harinya, dia pun kembali lagi menemui Ustadz tersebut. "Wahai ustadz, aku sudah mengikuti semua yang engkau perintahkan kemarin. Aku ke sini berjalan kaki. Dan semua bulu kemoceng ini sudah dicabuti dan dibuang seperti perintahmu." "Bagus.

Sekarang pulanglah. Tapi, dalam perjalanan pulang, kumpulkan kembali semua bulu-bulu kemoceng yang kau buang tadi. Besok kembalilah lagi." "Baik Ustadz". Dia sungguh tidak mengerti, apa maksud Ustadz ini memerintahkan ini dan itu.

Ada beberapa pertanyaan muncul. Namun pertanyaan terbesar adalah, apa pelajaran yang sedang diajarkan oleh Ustadz itu kepadanya. Dia pun pulang. Dalam perjalanan pulang, dia mulai melaksanakan perintah Ustadz itu: mengumpulkan kembali bulu-bulu kemoceng yang dibuangnya.

Sungguh bukan pekerjaan ringan. Karena bulu mudah tertiup angin. Terbang dan berpindah ke sana kemari, tanpa dia tahu ke mana arah yang dituju. Di mana tempat yang disinggahi.

Usaha untuk mencari sudah sangat maksimal. Dia pun menghitung, waktu yang dibutuhkan untuk pulang ternyata jauh lebih lama daripada waktu untuk berangkat.

Dia pun pulang dengan perasaan sedih, lelah, dan penuh tanda tanya. Sampai akhirnya, esok menjelang. Dia harus kembali menemui sang Ustadz. "Bagaimana, sudah terkumpul semua?" "Tidak Ustadz. Dari sekitar 500 helai yang saya buang saat berangkat, ternyata hanya ada 5 helai yang bisa saya kumpulkan kembali."

Perumpamaan pada ilustrasi diatas adalah fitnah itu bagaikan bulu kemoceng. Satu fitnah disebar, seperti membuang satu helai bulu kemoceng. Kemudian terbawa angin, terbang tak tentu arah, menuju ke tempat yang tidak kita tahu. Hinggap dari satu tempat, kemudian terbang ke tempat lain dengan membawa berita yang sama: YANG SERING KALI HANYA BERISI FITNAH TANPA BUKTI

Kita tidak tahu bagaimana cara meluruskannya. Karena kita juga tidak tahu sudah sampai mana dan ke mana menyebarnya.

Menyesal sudah tidak ada guna, walau yang difitnah sudah memaafkan. Tapi fitnah sudah menjadi fakta pergunjingan, yang sebarannya eksponensial.

Ditambah bumbu dengki, maka tak ayal fitnah mudah disebar. Apalagi ditambah juga dengan bumbu kepentingan, maka fitnah sering dijadikan senjata.

Pada intinya sama, kita tidak tahu bagaimana meluruskannya.

Allah SWT sendiri menyebut fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

Tapi, kisah diatas mungkin bisa menjadi ilustrasi.

Ketika kita memfitnah seseorang dengan menyebarkan kabar tidak benar tentangnya ke satu atau dua orang. Awalnya satu, dua, lalu menjadi empat, delapan, enambelas orang dan seterusnya.

Maka pada saat itu kita sedang membunuhnya secara perlahan dan sadis. Menganggapnya ada padahal tidak ada. Membuatnya menanggung dosa yang tidak dilakukannya.

Sampai akhirnya dia berpikir untuk tidak ingin hidup lagi. Semua mata memandangnya seperti seorang penjahat yang layak dibunuh. Sadis dan kejam.

Sumber: http://kisah-yang-penuh-hikmah.blogspot.co.id/2016/06/fitnah-bulu-kemoceng.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar