SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Selasa, 06 September 2016

Bagaimana agar Anak Kita Terhindar dari Narkoba?



“Ma, si Aldi dikeluarkan dari sekolah,” ucap Jerry pada mamanya sepulang sekolah.
“Hah? Aldi? Kenapa, Nak?” tanya Dita kaget.
“Aldi ketahuan ngobat, Ma.”
“Maksudnya?”
“Narkoba, Ma.”

“Ya Tuhan ....” Lutut Dita langsung lemas mendengarnya. Bagaimana tidak, ia mengenal Aldi sejak kecil. Aldi dan Jerry satu sekolah sejak SD hingga kini SMA. Jerry dan keluarganya juga bertetangga dengan mereka.

Dita selalu mengingat Aldi sebagai bocah gendut yang lucu. Namun sekarang, ia terjerat narkoba dan dikeluarkan dari sekolah?

Sekarang, jantung Dita berdebar kencang. Bila Aldi bisa terjerat narkoba, bukan tak mungkin putranya sendiri suatu hari mengalami hal serupa.

Bukankah Jerry dan Aldi tinggal dan bersekolah di tempat yang sama? Berarti, lingkungan dan teman-teman mereka juga sama.

Nah, lho ... Dita mulai paranoid dan berprasangka buruk terhadap anaknya sendiri. Dita tahu ini tidak baik, tetapi ia tak bisa menahan rasa khawatirnya. Apa yang harus ia lakukan agar Jerry tetap menjadi “anak manis”?

Aduh ... Ayah Edy, bagaimana menjauhkan anak dari bahaya narkoba? Toloooooooooooooooong ....

Jawaban Ayah Edy:
Ayah-Bunda pembelajar ....

Segala masalah anak biasanya bersumber dari ketidakharmonisan atau ketidakpandaian orangtua dalam mendidiknya. Mari kita bahas hal ini satu per satu:

Satu, ketidakharmonisan orangtua.

Mengapa pasangan suami-istri tidak harmonis? Menurut saya, karena konsep pacaran kita salah. Banyak pasangan yang sebelum menikah berpacaran, tetapi konsep pacarannya hanya “bersenang-senang”. Saya sangat tidak menyetujui konsep pacaran “senang-senang” ini. Pacaran adalah tahap penjajakan sebelum berumah tangga. Dalam tahap ini, pasangan seharusnya membicarakan hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum pernikahan. Tentu saja, yang saya maksud bukan sekadar persiapan resepsi pernikahan. Yang harus dilakukan adalah mengukur bagaimana respons pasangan jika mengalami berbagai masalah saat berumah tangga nanti. Dengan begitu, kita bisa menilai apakah kelak kita akan harmonis.

Tentang ini telah saya seang tuliskan sangat detail dalam buku Jangan Asal Memilih Pasangan Jika Tidak Ingin Menyesal di Kemudian Hari.
Dua, ketidakmampuan orangtua dalam mendidik anak.

Harmonis saja tidak cukup. Selanjutnya orangtua harus belajar parenting. Ini adalah proses yang panjang. Bukan berarti orangtua mengikuti seminar parenting lima kali, lalu langsung pintar. Saya sendiri baru belajar selama lebih dari 14 tahun dan masih terus berproses. Saya terus menemukan hal-hal baru dalam dunia parenting.

Jadi, yang penting, orangtua rutin menambah ilmu dan terus berkembang.

Pasangan suami-istri yang harmonis dan mau terus mempelajari ilmu parenting adalah modal untuk membangun kedekatan dengan anak. Harapan kita, anak akan lebih dekat dengan orangtuanya daripada lingkungannya.

Sebaliknya bila orangtua tidak harmonis dan malas belajar, anak akan cenderung lebih dekat dengan lingkungannya daripada ayah-ibunya. Selanjutnya, lihat saja lingkungan mana yang mendekatinya. Jika lingkungan pemakai narkoba yang mendekatinya, kemungkinan besar ia akan memakai narkoba juga. Jika lingkungan peminum yang mendekati, kemungkinan ia akan menjadi peminum juga. Bila lingkungan perokok, ya ia akan merokok.

Jadi, kembali ke pertanyaan di atas: Bagaimana menjauhkan anak dari narkoba?

Caranya, dekatilah anak. Upayakan agar anak dekat dengan kedua orangtuanya. Anak bermasalah biasanya karena ia tak dekat dengan orangtua sehingga melakukan kompensasi. Ia marah, tetapi tak bisa menyakiti orangtuanya. Ia membalas dendam dengan cara menyakiti dirinya sehingga orangtuanya pun tersakiti.

Bagaimana bila orangtua telanjur tidak harmonis dan tidak dekat dengan anak?

Ayah-Bunda, selama menjadi konsultan parenting, saya telah menemui berbagai macam kasus. Dari kasus anak alkoholik sampai transgender. Saran saya sama: minta maaf pada anak dan bertobat.

Ya, tundukkanlah ego kita sebagai orangtua yang merasa sebagai orang PALING BENAR. Bertobatlah dan meminta maaflah pada anak atas semua kesalahan dan dosa-dosa yang pernah kita lakukan padanya. Dan, ajaklah ia untuk memulai hidup baru yang lebih baik.

Pertama, minta maaf dengan tulus tanpa perlu merasa takut dan khawatir anak menjadi tidak respek pada orangtua. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, anak akan kaget, tidak percaya, dan akhirnya akan respek pada kerendahan hati orangtuanya.

Ratusan anak curhat pada saya menantikan orangtua mereka meminta maaf dan mengakui dengan jujur kesalahan mereka dalam mendidik. Namun, sayangnya amat  jarang orangtua yang mau melakukan hal ini, hingga akhirnya anaknya putus asa.

Namun, saya yakin dan Tuhan pun tahu jika Anda sedang membaca buku ini sekarang, itu menandakan Anda sudah mau menyadari kesalahan selama ini sebagai orangtua, siap untuk bertobat, dan minta maaf pada anak.

Menyadari kesalahan tentu takkan berarti bila Anda belum meminta maaf atas kesalahan yang Anda perbuat.

Dua, akuilah bahwa masalah apa pun yang terjadi pada anak, tidak terlepas dari kesalahan ayah dan bundanya. Saat orangtua menunjuk anak sebagai “pembuat onar” atau “tukang bikin gara-gara”, hanya satu jari yang menunjuk anak. Jemari lainnya menunjuk pada diri kita sendiri.

Permintaan maaf bukan sekadar kata-kata kosong. Sampaikan maaf Anda padanya dengan tulus dan ekspresi yang menunjukkan ketulusan itu. Kalaupun Anda tak dapat menahan air mata, tak perlu malu. Anak pasti bisa membedakan, mana permintaan maaf yang tulus dan mana yang tidak, atau PALSU.

“Nak, maafkan Ayah dan Bunda selama ini. Kami yang salah, kami yang berdosa. Selama ini, kami tidak becus menjadi orangtua buat kamu. Kami tak tahu caranya menjadi orangtua yang baik.

Segala pertengkaran kita selama ini, Ayah dan Bunda yang salah.”
“Apa pun masalah yang sedang kamu hadapi sekarang, kami juga ikut bertanggung jawab. Seandainya kami tidak lalai, kamu pasti takkan menghadapi masalah ini. Mau enggak kamu memaafkan Ayah dan Bunda, Sayang?”

Jika perlu peluklah anak saat berbicara dari hati ke hati ini. Anak mungkin akan kaget dan heran menerima permintaan maaf seperti ini. Namun, jika Anda benar-benar tulus meminta maaf, hatinya pasti tersentuh, walau ia sok cuek atau memasang wajah masa bodoh. Jika ia sudah mengangguk atau mengatakan, “Oke,” saatnya Ayah dan Bunda bertobat.




Tiga, bertobat dan libatkan anak dalam pertobatan ini.
Maaf dan tobat adalah dua hal berbeda. Maaf berarti menyadari kesalahan kita, sedangkan tobat adalah tekad untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Tobat menunjukkan keseriusan kita untuk berubah.

Ambil selembar kertas, lalu katakan pada anak, “Kamu mau membantu Ayah dan Bunda berubah, enggak? Tanpa bantuan kamu, kami tak mungkin bisa berubah. Tolong tuliskan sepuluh hal yang harus kami ubah, Nak. Atau sepuluh hal yang selama ini menyakiti kamu dan membuat kamu menderita. Kami tidak mau melakukannya lagi.”
Empat, tak perlu menolak atau membela diri.

Jika anak sudah menuliskan sepuluh hal yang menurutnya perlu diubah dari Anda, terimalah sepenuh hati. Tanyakan padanya, dari kesepuluh hal itu, mana yang menurutnya paling pertama harus diubah. Atau katakan Anda akan mencoba mengubah satu per satu, mulai dari yang Anda anggap paling bisa Anda lakukan terlebih dahulu.

Dalam proses ini, pasanglah mental baja untuk dikritik, diberi masukan, dan dievaluasi oleh anak. Misalnya bila anak menulis bahwa Anda selama ini pemarah, “tukang kritik” atau “sering menuduh yang bukan-bukan”, jangan sampai mengeluarkan reaksi, “Ah, masa sih Bunda seperti itu? Sepertinya enggak, deh. Kamu jangan mengarang, dong.”

Proses yang sedang kita lakukan ini sama saja dengan bercermin, lalu pantulan di cermin memperlihatkan ada cabai menyelip di gigi Anda, lalu Anda berkata, “Ah, masa sih ada cabai di gigiku. Sepertinya enggak ada, deh.” Kemudian, Anda menuding cerminnya yang tidak beres. 

Sekali lagi, terima saja. Terimalah apa pun yang dituliskan anak tentang diri Anda. Mengapa? Karena begitu orangtua rela dikritik oleh anak, anak akan bersedia dikritik oleh orangtua.

Pesan saya, bila Anda sudah mau dikoreksi dan berubah, jangan langsung meminta anak untuk berubah juga. Percayalah, anak otomatis akan berubah dengan sendirinya, karena anak adalah peniru yang ulung. Jika ia tidak berubah, nuraninya pasti terusik dan ia akan malu hati. Orangtuanya saja mau berubah, masa ia tidak?

Namun, sebagai penegasan, Ayah-Bunda boleh berkata padanya, “Bila Ayah dan Bunda berubah, kira-kira kamu juga mau berubah enggak ya, Sayang?”

Mengapa anak yang “rusak” tak mau berubah? Itu karena orangtuanya juga tidak mau berubah. Ketika anak bermasalah, orangtua datang ke terapis dan minta anaknya diterapi. Orangtua berkata, “Tolong perbaiki anak saya.” Namun, berapa banyak orangtua yang datang ke terapis dan bertanya, “Tolong perbaiki diri saya.”

Maukah Anda datang ke terapis dan berkata, “Ada apa dengan saya sehingga saya berperilaku seperti ini dan akibatnya anak saya bermasalah?”

Ayah-Bunda tersayang, ingatlah bahwa Tuhan Mahabaik. Segala yang terjadi pada kita sebenarnya bukan masalah, melainkan pelajaran. Tuhan memberi kita pelajaran dari cara yang terhalus sampai terkeras. Pelajaran ini diberikan secara bertahap oleh Tuhan.

Ketika anak mulai menjauh dari orangtuanya, sadarkah kita?
Ketika anak mulai bermasalah, sadarkah kita bahwa sumber masalahnya terletak pada diri kita, orangtuanya?

Bila orangtua tak kunjung sadar, maka teguran Tuhan akan semakin keras. Karena itu bukalah mata. Sadarlah. Rengkuhlah anak-anak kita. Jangan biarkan mereka menjauh dan terjatuh dalam lingkungan yang salah.

Perbaikilah diri kita maka anak akan memperbaiki dirinya.

ditulis ulang dari buku Mendidik Anak ABG, buku ayah edy warna Biru. tersedia di Gramedia dan semua toko buku




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar