SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Senin, 03 Oktober 2016

Ajari anak usia dini berpikir dan beretika bukan menghapal dan CALISTUNG

KETIKA KITA BERADA PADA SEBUAH SISTEM PENDIDIKAN YANG HANYA BISA MEMAKSA ANAK BACA TANPA MENGERTI APA YANG MEREKA BACA DAN YANG PENTING BISA BACA





Ketika guru dan sekolah mewajibkan anak usia dini harus sudah bisa membaca sebelum bersekolah...? (lantas apa gunanya sekolah?)

Di zaman para orang tua yang sibuk membimbelkan baca anaknya, yang seharusnya masih senang-senangnya bermain bebas...

Anak-anak yang masih dalam fasenya bermain dan bermain, dipaksa harus sudah belajar baca dan bisa baca agar tidak dibilang sebagai anak yang ketinggalan zaman atau bahkan malah nanti tidak bisa masuk sekolah SD....? (apa gunanya Sekolah Dasar?)  bukankah membaca adalah bagian dari dasar-dasar pendidikan...?

Ini komentar saya, melalui sebuah kisah dan gambar-gambar jenaka....

Abu Nawas adalah orang yang sangat di sayangi oleh Baginda Sultan, karena kecerdikan dan kebijaksanaannya.

Namun demikian hal ini tidak membuat semua orang yang ada di Istana suka akan hal ini.

Terutama seorang menteri yang sangat membenci Abu Nawas dan terus berusaha menjatuhkan namanya dengan berbagai macam cara agar sanga raja tidak terlalu sayang padanya.

Satu hari sang menteri mendapat akal bagaimana membuat Abunawas tampak bodoh didepan Raja.

Ia datangi rumah Abu Nawas dan ia katakan bahwa Sultan ingin mengetahui kehebatan Abu Nawas dalam mengajari Keledai Membaca..., yang sesungguhnya ini hanyalah akal-akalan saja agar dirinya bisa menjatuhkan reputasi Abu Nawas di depan Raja.

Sang menteri ini yakin bahwa tugas ini adalah tugas yang sangat mustahil untuk bisa dipenuhi oleh Abu Nawas, oleh karen itu ia katakan sang raja memberimu waktu 1 minggu untuk kau tunjukkan hasilnya di Istana dan disaksikan oleh orang banyak.

Wah bukan main kagetnya Abu Nawas mendapatkan tugas yang tidak masuk akal ini. Ia yakin ini sesungguhnya hanyalah akal-akalan sang meteri saja untuk bisa menjatuhkan namanya di hadapan sang Raja.

Namun bukan Abu Nawas namanya kalau ia sampai kehabisan akal.

Tibalah waktu yang ditentukan; dan Abu Nawas datang menghadap Sang Meteri dengan membawa keledainya, dan di ruang tersebut ternyata sudah duduk Sang Raja di singgasananya bersama para pejabat istana dan masyarakat yang ingin menyaksikannya.

Sang menteri langsung membuka acara dan berkata;  "Baginda yang mulia, hari ini katanya Abu Nawas ingin menunjukkan kepada kita semua bahwa Keledai yang dimilikinya bisa membaca."

"Nah sekarang silahkan buktikan hai Abu" kata sang menteri.

Lalu segera diserahkan sebuah buku/kitab tebal kepada Abu Nawas untuk di baca oleh keledainya.

Oleh Abu Nawas keledainyapun di tarik ke atas meja mendekati kitab tersebut, dan mulai menjulurkan lidahnya, membuka halaman pertama, lalu setelah itu masih menggunakan lidahnya sang keledai membuka halaman berikutnya satu demi satu halaman hingga akhir....

Dan hadirinpun bertepuk tangan riuh menyaksikan keledai tersebut membaca.

Tampak wajah sang Meteri Pucat Pasi, namun ia tak kehabisan akal... dan berkata... , "Saya melihat keledai itu hanya membalik-balikan halaman saja tapi saya yakin ia tidak paham makna apa yang dibacanya." tukas sang Menteri.

"Oh iya benar tuan" jawab Abu Nawas penuh keyakinan.

"Begitulah memang cara keledai membaca, ia hanya membalik-balikkan halaman namun tidak paham apa makna dan isinya"

"Jadi jika kalian membaca buku atau membaca apapun...., namun tidak berhasil menangkap isi dan maknanya maka kalian sama saja dengan Keledai ini."  ujar Abu Nawas sambil tersenyum.

Dan ucapan ini benar-benar membuat sang Menteri semakin pucat pasi wajahnya.

Dan kembali hadirinpun bertepuk tangan membenarkan apa yang di katakan oleh Abu Nawas.

Sang Rajapun penasaran dan bertanya;  "Bagaimana kamu bisa mengajarinya membalik-balikan halaman itu ya Abu Nawas."

"Oh itu mudah saja Yang Mulia,  saya letakkan biji gandum di setiap halaman dan saya latih ia untuk makan gandum yang ada di buku dengan membalikan setiap halaman dengan lidahnya."

Dan Rajapun bertepuk tangan dan berkata, Engkau memang tidak hanya cerdik ya Abu Nawas, namun juga bijaksana dan cerdas.

====



apa kira-kira makna yang kita bisa petik dari kisah ini menurut sahabat-sahabatku sekalian....?

Di tulis oleh Ayah Edy
untuk direnungkan oleh kita bersama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar