SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Rabu, 06 Desember 2017

ANAK-ANAK YANG TERSESAT


Ayah bunda, tulisan saya ini memang agak panjang, dan hanya diperuntukkan bagi para orang tua yang tidak ingin anaknya tersesat mengambil jurusan sekolah, sebagaimana yang ditulis dalam kisah nyata ini.
Jadi jika ingin dapat manfaatnya silahkan baca perlahan-lahan sampai akhir...

Selamat membaca,

Beberapa waktu lalu, sepasang suami-istri datang menemui saya. Begitu kami duduk berhadap-hadapan, saya bisa melihat kegundahan yang terbayang jelas di wajah mereka.


“Kami bingung, Ayah Edy,” kata sang istri.


Nah, kalimat itu lagi. Selama delapan tahun ini, menghadapi orangtua-orangtua yang bingung memang menjadi makanan saya sehari-hari. Ada yang bingung karena anaknya dianggap bermasalah di sekolah, ada yang bingung karena anaknya mogok belajar, ada yang bingung karena anaknya susah diatur.


Benak saya mulai mereka-reka, kebingungan yang mana yang sedang dialami pasangan suami-istri ini.


“Anak kami (sebut saja bernama Intan) saat ini sudah kuliah tingkat akhir di Fakultas Hukum. Seharusnya ini semester terakhirnya.


Seharusnya dia sedang dalam proses menyelesaikan skripsi. Tapi boro-boro menyelesaikan skripsi, anak kami malah tidak mau meneruskan kuliahnya.


Dia tidak mau bekerja di bidang hukum. Padahal, kampusnya sudah memberi ultimatum, kalau semester ini skripsinya tidak selesai juga, dia harus drop out,” sang istri bercerita agak tersendat, menahan emosi.


Ah, rupanya kebingungan jenis ini yang sedang mereka alami. Kebingungan yang dirasakan oleh anak-anak—dan orangtua—yang ‘tersesat’.


Suaminya melanjutkan. “Kami sudah coba membujuknya dengan segala cara, Ayah. Kami sudah katakan, tanggung kalau dia berhenti sekarang. Toh tinggal sedikit lagi, dia bisa mendapat gelar Sarjana Hukum.


Dia cuma perlu bertahan sebentar lagi saja. Kalau dia keluar sekarang, berarti waktu bertahun-tahun yang dia habiskan di Fakultas Hukum, ya, sia-sia. Percuma saja. Belum lagi biaya yang kami keluarkan. Sia-sia semua.”


Saya mengangguk-angguk. Masih belum berkata sepatah pun. Biar mereka mengeluarkan seluruh unek-unek yang mengganjal selama ini.“Tapi anak kami itu susah dibujuk.


Katanya, dia tidak cocok di Fakultas Hukum. Kalau pun dia bisa lulus, dia tidak akan mau bekerja di bidang itu. Dia tidak suka. Itu bukan bidangnya,” tutur sang suami, menambahkan. Wajahnya terlihat semakin gundah.


Istrinya kembali angkat bicara. “Kalau dia tidak cocok kuliah di sana, kenapa baru sekarang sih, dia memberitahu kami? Kenapa tidak dari dulu? Kalau sudah begini, kan serba salah. Serba nanggung. Kalau pun dia keluar, terus dia mau sekolah di mana? Nanti kalau sudah kuliah di tempat lain, lalu dia merasa tidak cocok lagi, apa mau mogok lagi? Drop out lagi? Berarti kami harus keluar biaya lagi. Dia harus membuang waktu lagi. Lah kapan kerjanya?”


Ibu ini sudah tak bisa menyembunyikan emosinya lagi.
***


Ayah-Bunda tercinta ....


Bila saya diibaratkan seorang dokter, kasus yang saya hadapi ini mungkin sudah stadium lanjut.


Bayangkan, si anak sudah menghabiskan bertahun-tahun waktu hidupnya untuk mempelajari bidang yang tak ia sukai. Ia sudah tersiksa selama ratusan, bahkan ribuan jam dalam kelas-kelas yang tidak diminatinya. Ia belajar tanpa tahu akan jadi apa ia kelak.


Dan di ujung masa kuliahnya, ketika ia seharusnya tinggal selangkah lagi menyambut gerbang kelulusan, kesadaran mengentaknya. Ia tak suka, tak mau, dan tak cocok belajar dan bekerja dalam bidang itu.


Atau jangan-jangan, ia sudah lama memendam rasa tidak suka itu. Mungkin ia sudah lama menyadari kalau bidang itu memang bukan untuknya. Namun bisa jadi, ia sungkan memberitahu orangtuanya.


Takut melihat reaksi mereka. Atau mungkin ia tak tahu, bidang apa sebenarnya yang ia minati. Ia tak tahu apa sebenarnya cita-citanya.


Izinkan saya bertanya, akrabkah Anda dengan kisah nyata ini?


Saya tak heran bila Anda menjawab ‘ya’. Kasus semacam ini memang bukan hanya satu atau dua.


Kasus ini sangat banyak terjadi di antara kita. Ini mungkin terjadi pada anak Anda, keponakan, anak kawan, anak tetangga, atau ... jangan-jangan pada diri Anda sendiri?


Saya yakin kita sering melihat seorang anak yang didorong untuk belajar, belajar, belajar terus. Sejak SD sampai SMA, ia dituntut memperoleh nilai baik dalam semua ulangan dan mata pelajaran.


Karena, walaupun nilai bahasa Indonesianya delapan, jika matematikanya lima, ia bisa terancam tidak naik kelas. Ia akan dianggap lemah dalam bidang itu. Dan karena nilai matematikanya belum memenuhi standar, ia akan digempur oleh les tambahan untuk mendongkrak nilainya.


Menjelang kelulusan SMA, ketika semua anak harus menentukan universitas dan jurusan apa yang akan mereka pilih, ia kebingungan. Ia tak tahu apa cita-citanya. Ia juga tak tahu bidang apa sebenarnya yang ia minati.


Ketika ia bertanya kepada orangtuanya, jawaban mereka hanya, “Pilih dong, Nak, jurusan-jurusan favorit. Pilih fakultas yang begitu lulus, kamu bisa gampang mencari kerja, punya gaji tinggi. Jadi kamu bisa hidup senang.” Lalu orangtuanya menyebutkan beberapa jurusan.


Bukannya tertarik, si anak malah semakin bingung karena tak satu pun jurusan tadi yang benar-benar memikatnya.


Si anak lalu bertanya kepada teman-temannya. Ternyata banyak teman ‘segengnya’ yang memilih Jurusan X. “Kamu pilih Jurusan X juga, dong. Supaya kita bisa terus bareng-bareng pas kuliah nanti.”


Akhirnya, si anak memilih mengikuti teman-temannya. Atau, ia mungkin mengikuti saran orangtuanya. Namun, apa pun yang dipilih, ia tak memilih sesuai kata hatinya. Ia tak memilih bidang yang paling sesuai dengan potensi terunggulnya—yang hingga saat itu masih terpendam.


Di tengah-tengah masa kuliah, si anak semakin menyadari bahwa ini bukan jalannya, tetapi nasi sudah jadi bubur. Apa yang bisa ia lakukan?


Sebagian anak—seperti contoh kasus tadi—akhirnya mungkin tak tahan dan berterus terang kepada orangtuanya. Ia mogok melanjutkan kuliahnya.


Namun sebagian lagi mungkin memilih untuk melanjutkan kuliahnya walaupun tak meminati bidangnya. Bisa jadi, ia tak mau merepotkan orangtuanya yang telah mengeluarkan banyak biaya untuk studinya. Atau kemungkinan lain, kalaupun ia mundur dari kuliahnya saat ini, ia tak tahu bidang apa yang cocok baginya.
***


INGATLAH SELALU bahwa Perilaku anak sehari-hari adalah petunjuk tentang potensinya.


Tanpa Pemetaan, Sekolah adalah Expenses


Ayah dan Bunda terkasih, mengapa kerumitan ini bisa terjadi?
Jawaban satu-satunya adalah karena kita luput atau abai mengenali potensi terunggul anak-anak kita. Perilaku anak sehari-hari adalah petunjuk tentang potensinya. Tapi orangtua terkadang lebih sibuk mengkursuskan anak ini-itu atau bertanya, “Ada PR atau enggak?”, “Ujian sudah siap atau belum?”


(seorang anak kecil lelaki yang manjat pohon. Ibunya cemas di bawah pohon dan bilang ke suaminya,”Owala, anak kita tiap hari manjat pohon jadi apa gedenya nanti, Pak? Masa jadi spiderman?”)


Padahal setiap anak terlahir sesuai fitrahnya. Masing-masing anak menyimpan potensi unggul yang bila dikembangkan akan menjadi penghidupan sekaligus kehidupan yang ia jalani kelak.


Berapa banyak anak-anak yang hanya sibuk sekolah dan mengejar nilai, tanpa tahu apa minat dan cita-citanya, serta tak tahu harus kuliah di bidang apa? Lalu ketika ia bingung, orangtua hanya menasihati agar ia mengambil bidang favorit sehingga kelak mudah mencari pekerjaan bergaji tinggi?


Akhirnya, tanpa mengetahui sedikit pun tentang potensi terunggul anak, kita cemplungkan anak ke dalam bidang, entah apa yang kita pikir terbaik baginya. Syukur-syukur kalau si anak ternyata memang cocok dengan bidang itu. Bagaimana bila tidak? Yang terjadi adalah kasus di atas.


Lalu, bagaimana sebaiknya?
Bagaimana seharusnya Ayah dan Bunda meminimalisir kesalahan macam itu?


Mudah saja. Seharusnya, proses ini dibalik. Kita cari tahu dulu minat si anak, apa potensi terunggulnya, dan cita-citanya yang paling spesifik. Setelah itu, barulah bisa ditentukan sekolah atau jurusan apa yang paling tepat sesuai potensi dan cita-citanya itu.


Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita mengetahui potensi terunggul anak? Mungkin selama di sekolah, hampir semua nilai anak kita tinggi. Bahasa Inggris bagus, matematika bagus, IPA bagus, IPS bagus. Jadi, yang mana potensi unggulnya? Atau sebaliknya, mungkin selama ini ia hanya anak ‘rata-rata’. Anak yang setiap tahun selalu naik kelas, nilai-nilainya tak pernah merah, tetapi juga tak ada yang benar-benar menonjol.


Bingung?


Tenang saja. Ada cara yang terbukti efektif untuk mengetahui potensi buah hati kita, yaitu dengan “Pemetaan Potensi Unggul Anak”.


Tanpa pemetaan potensi, sedikitnya ada tiga akibat yang bisa terjadi. Antara lain, seperti digambarkan oleh kasus tadi: Sekolah menjadi expenses alias biaya. Biaya yang dimaksud salah satunya tentu bisa berarti uang.


Bayangkan berapa puluh juta—atau bahkan ratusan juta—yang telah keluar untuk menyekolahkan seorang anak bertahun-tahun, mengkursuskan ini itu, belum lagi ongkos transportasi sehari-hari.


Lalu bagaimana kalau kasus Intan terjadi pada anak Anda? Umumnya, orangtua hanya punya satu anggaran pendidikan untuk satu anak. Ketika terjadi hal di luar dugaan seperti ini, sanggupkah Anda menganggarkan biaya pendidikan lagi untuk anak?


Syukur-syukur kalau Anda menjawab ‘sanggup’. Syukur-syukur kalau anak Anda cuma satu, sehingga Anda tak perlu memikirkan biaya pendidikan adik-adiknya.


Bila seseorang bersekolah sesuai potensi, biaya yang dikeluarkan akan menjadi INVESTASI, tetapi bila tidak, akan menjadi EXPENSES.


Namun bagaimana kalau Anda tak sanggup?Apakah itu berarti Anda akan memaksa anak untuk menyelesaikan kuliahnya—walaupun itu berarti menyiksanya lebih lama lagi?


Lalu setelah kelulusan yang ‘dipaksakan’, anak Anda akan kebingungan mencari pekerjaan (karena ia tak menyukai bidang studinya), lalu akhirnya terdampar dalam jenis pekerjaan lain yang jauh berbeda dari bidangnya selama ini?


Berapa banyak lulusan Teknik Arsitektur yang bekerja di media?
Berapa banyak lulusan Biologi yang bekerja di bank?


Berapa banyak lulusan Pertanian yang bekerja sebagai Public Relation? Atau bisa jadi, ia memilih pekerjaan sesuai bidang studinya.


Tentu mungkin saja. Namun bagaimana pun, bila bidang itu bukanlah potensi unggulnya dan ia tak menyukainya, ia hanya akan menjadi pekerja yang pas-pasan.


Intinya, bila seseorang bersekolah atau mengambil kursus sesuai potensi, biaya yang dikeluarkan akan menjadi INVESTASI, tetapi bila tidak, akan menjadi EXPENSES.


Selain materi, expenses juga berarti waktu. Bila ditimbang-timbang, kerugian karena hilangnya waktu bertahun-tahun mungkin bahkan lebih berat daripada kehilangan uang.


Ada ungkapan, ‘It’s never too late to follow your passion’. Tak pernah terlambat untuk mengikuti passion Anda. Kita selalu bisa memulai di usia berapa pun.


Namun bayangkan apa jadinya bila potensi terunggul dipupuk sejak kecil?


Baca lanjutannya di buku Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak Sejak Dini.


Bisa di baca2 dulu saat kita mampir ke Gramedia atau toko buku lainnya.


by ayah edy
web resmi: www.ayahkita.blogspot.com



sumber gambar: kementrian humor indonesia fb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar