SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Sabtu, 12 Mei 2018

ANAK INGIN IKUT KE KANTOR


TIPS PARENTING AYAH EDY SETIAP HARI

Bagaimana cara mengatasi anak yang menangis ketika ditinggal orangtuanya bekerja?

Kembali ritual yang sama terulang pagi itu. Lana merengek dan menangis kencang dalam gendongan pengasuhnya.

“Mamaaaa.....” teriaknya nyaring dan meronta dengan gesit. Hampir saja pelukan pengasuhnya melonggar akibat aksi Lana yang lasak dan tak mau mengalah.

Wajahnya sudah bersimbah air mata dan sungguh, sebagai ibu, Vina tak tega melihatnya.

Kembali ia harus mencari strategi membujuk Lana agar mau ditinggal bekerja. Cara yang ia lakukan sebelumnya sudah tidak manjur lagi. Biasanya, ibu muda ini meminta pengasuh Lana untuk mengajaknya pergi ke taman depan kompleks, sehingga Vina bisa berangkat kerja secara diam-diam.

Namun teknik itu sudah dihafal Lana.

Beberapa hari belakangan, anak itu menolak diajak ke taman, karena ia tahu itu taktik ibunya untuk pergi bekerja tanpa sepengetahuannya.

Kini tinggallah Vina kelimpungan. Kepalanya sampai berdenyut nyeri dan emosinya menaik ke ubun-ubun. ia takut terlambat dan ditegur atasannya.

Bagaimana ini?
Padahal usia Lana sudah tiga tahun, tapi masih saja menangis jika ditinggal bekerja. Lelah juga Vina harus kucing-kucingan dengan Lana setiap pagi. Ritual yang amat menguras energinya.

“Apa yang harus saya lakukan agar Lana mengerti bahwa saya pergi untuk bekerja, bukan mengabaikannya?” Tanya Vina setengah putus asa.

Jawaban Ayah Edy

Ayah-Bunda yang berbahagia, memang sedih rasanya kalau buah hati di rumah kurang mengizinkan kita pergi mencari nafkah.

Tetapi, bukan berarti kita harus selalu bermain kucing-kucingan atau berbohong supaya mereka tidak menangis. Itu bukanlah tindakan yang ideal, karena malah mengajarkan mereka berbohong dalam bertindak.

Meskipun terasa berat dan tidak tega, Ayah-Bunda tetap perlu memberi pemahaman kepada anak, bahwa ada hari-hari Anda harus bekerja dan tidak bisa mengajak mereka.

Bunda bisa mengatakan, “Kakak yang baik, Bunda mau berangkat kerja dulu ya, sayang. Kalau Bunda kerja, Kakak nggak bisa ikut.Tapi kalau nanti Bunda dan Ayah mau jalan-jalan, Kakak boleh ikut.”

Sadarilah anak-anak itu tidak paham arti orang tua bekerja dan untuk apa orang tuanya bekerja, tapi coba perlahan-lahan jelaskan dan beri pengertian hingga ia paham apa itu bekerja dan jalan-jalan bersama.

Mungkin anak Anda akan menangis atau marah setelah mendengar penjelasan tersebut. Tidak mengapa, tetaplah tenang dan janganlah panik.

Sebab, kepanikan bisa membuat Anda bertindak gegabah. Tangisan atau kemarahan itu adalah sebuah proses yang harus dijalani.

Biasanya para orangtua tidak tega melihat anaknya menangis kencang atau malu pada tetangga saat anak terlihat mengamuk. Itu sebuah kekhawatiran yang wajar, namun berusahalah konsisten. Katakan pada anak,”Kakak boleh marah dan boleh menangis, tapi Bunda tetap harus berangkat kerja, kalau tidak nanti Bunda dan Ayah terlambat. 

Maaf, ya, Nak. Daaaaag Kakak....” lalu berilah kecupan pada dahi atau pipinya, sebagai tanda Anda tetap menyayanginya walaupun harus meninggalkannya di rumah.

Tetapi ingatlah, di waktu yang telah disepakati, Ayah dan Bunda harus memenuhi janji mengajak anak-anak jalan-jalan.

“Hayooo Kakak...ini kan hari Minggu. Ayah dan Bunda libur, maka kita akan pergi jalan-jalan... yuuukk,”

“Horeee...” lonjak anak Anda kegirangan karena merasa diperhatikan dan disayang.

“Mari kita siap-siap sayang, bawa jaketnya yaaa karena kita akan ke Puncak dan di sana dingin.”

Dengan mengajarinya seperti ini, perlahan-lahan tapi pasti, anak akan memahami kapan Ayah-Bundanya bekerja dan kapan hari libur. Mereka juga akan mengerti bahwa ada waktunya mereka bisa ikut orangtuanya pergi, dan kapan tidak.

Untuk mencapai tahap ini tentu diperlukan proses berlatih dan kesabaran.

Ayah dan Bunda yang budiman, hindarilah menggunakan taktik berbohong jika ingin berangkat kerja. “Dek, ballpoint Ayah ketinggalan di dalam.

Boleh minta tolong diambilkan, nggak?”
Saat anaknya masuk rumah, sang Ayah langsung cepat-cepat berangkat.

Atau, “Mama cuma pergi sebentar kok. ..” Padahal pergi bekerja tidak bisa satu-dua jam kan ya, Bunda?

Berbohong seperti ini tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Selain anak tidak belajar kapan ia boleh atau tidak ikut ke tempat tertentu, ini akan membuat orangtua lelah karena harus mencari kebohongan lain.

Lebih berbahaya lagi karena itu berarti Ayah dan Bunda telah mengajarkan anak untuk berbohong.

Maka, janganlah kaget kalau Ayah dan Bunda suatu ketika mendapati anak berbohong untuk mencapai keinginannya. Usah keburu marah padanya.

Instropeksilah ke dalam, karena perilaku anak sebagian besar adalah meniru perilaku orangtuanya.

Jadi kalau anak kedapatan berbohong, tanyakan pada diri Ayah dan Bunda terlebih dahulu, apakah telah mengajarkan kebohongan kepada mereka dalam tindakan keseharian?

Selamat mencoba, semoga berhasil.

Kuncinya sabar, tegas dan konsisten tidak perlu malu dilihat orang lain atau tetangga (yang sebenarnya punya masalah yg sama tapi tidak tahu cara mengatasinya)

Salam Indonesian Strong from Home !
Ayah Edy
Guru Parenting Indonesia
www.ayahkita.blogspot.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar