SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Selasa, 25 Agustus 2009

TIPS mengendalikan EMOSI MARAH saat mendidik anak.


Para ayah bunda yang berbahagia, tahukah kita apa faktor yang paling sering memancing emosi terhadap prilaku anak-anak kita...?

Ya persis yaitu Pikiran Negatif. Untuk itu jika kita ingin mendalikan emosi kita dalam mendidik anak maka ubahlah pikiran kita yang negatif ke arah yang lebih positif. Dibulan Ramadhan ini merupakan bulan yang paling tepat untuk melakukan dan melatihnya setiap hari. Karena tidak hanya kita akan mampu mendidik anak dengan lebih baik, dan Tuhanpun akan memberikan pahala yang berlimpah.

Bagaimana caranya....?

Pertama;
pada saat kita berpikir ada prilaku anak yang kita anggap tidak tidak baik/pantas, maka tubuh kita akan segera memberi signal-signal, seperti jantung mulai berdebar lebih cepat, nafas semakin berat & cepat. dada mulai agak sesak, kepala mulai tegang, tangan gemetaran. dsb. Kenali segera tanda-tanda ini sebelum menjurus pada tindakan marah yang akan menyakiti anak.

Kedua: Mintalah waktu pada anak untuk pergi ke kamar atau satu tempat dimana kita bisa menenangkan emosi kita barang beberapa menit (semacam time out dalam pertandingan Basket). Sekaligus untuk mengajari anak bagaimana mengendalikan emosi pada saat ia sedang marah.

Ketiga: Sambil berdiam diri di kamar atau di tempat tersebut, coba kaji ulang pikiran kita; yang telah menyebabkan kita terpancing emosi. (Salah satu kehebatan otak kita adalah bisa mengevaluasi pikiran yang sedang terjadi, seperti sebuah pikiran yang mengkaji pikiran lain dalam satu kepala kita – Mind in Mind)

Hasil kajian itu bisa jadi seperti ini ; “Saat ini saya ternyata sedang berpikir bahwa anak saya sedang susah sekali untuk makan..” “Oh ternyata Saya sedang berpikir kalo dia tidak mau makan nanti dia lapar, nanti dia kurus, nanti dia sakit, kalo sakit saya jadi repot, saya jadi harus merawat dia, saya jadi harus ambil cuti, padahal pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya.“

Akhirnya pikiran kedua kita berhasil menemukan penyebab munculnya emosi yang bersumber dari pikiran pertama yang cenderung mengarah pada hal-hal yang bersifat negatif. (dalam istilah psikologi ini disebut sebagai Self Talk, Mind in Mind)

Sambil terus berpikir coba kita ubah sudut pkitangnya menjadi: “Mengapa ya anak saya sekarang kok jadi tidak mau makan....?, “Jangan-jangan dia sedang tumbuh gigi hingga gusinya sakit dan tidak mau mengunyak, jangan-jangan dia ada gangguan di sistem pencernaannya atau cacingan, jangan-jangan dia bosan dengan menu yang itu-itu terus, jangan-jangan dia bosen dengan suasana makannya..” .dsb. carilah penyebabnya dari segala kemungkinan.

Maka perhatikanlah...., perlahan-lahan energi emosi kita akan berubah menjadi energi kreatif dan cinta kasih untuk memecahkan masalah anak kita yang tidak mau makan tadi. Menarik bukan....?

Contoh kasus lain misalnya: Pada saat anak kita sedang melakukan tindakan yang kita anggap “Nakal Luar Biasa”. Maka kembali lakukan perenungan yang sama seperti di atas.

Bisa jadi hasil renungan tersebut seperti ini;
‘Saya ternyata sedang berpikir ini anak kok nakal sekali ya tidak mau dengarkan omongan saya.” Lanjutkan perenungan maka bisa jadi kita akan menemukan..... “Oh ternyata kalo dia sedang nakal sebenarnya yang saya takutkan adalah nanti dia akan membuat suara-suara bising yang memekakkan telinga, saya takut nanti banyak barang-barang berharga saya yang dirusak, saya takut apa kata tangga sebelah rumah, saya takut dibilang tidak bisa mendidik anak....” dst.... hingga pada akhirnya pikiran kita yang kedua berhasil menemukan cara berpikir negatif dari pikiran pertama kita yang telah menjadi pemicu emosi kita.

Sambi terus berpikir coba ubah sudut pkitangnya menjadi; “Jangan-jangan ia bukan nakal tapi dia anak yang kreatif dan energik.?.”, “sepertinya mungkin dia memerlukan tempat untuk menyalurkan energi kreatifnya tapi sayangnya tidak ada, atau mungkin dia ingin punya teman bermain, bagaimana saya bisa membantunya, atau jangan-jangan dia bukannya nakal, tapi justru saya yang tidak tahu bagaimana mendidiknya, jadi bagaimana caranya saya bisa belajar untuk mengelola prilaku anak saya ya.., dimana ya saya bisa belajar tentang hal ini..”

Nah jika sudut pkitang ini yang kita miliki, maka bisa dipastikan emosi kita akan cepat sekali kembali normal dan tidak hanya itu saja sekaligus kita mendapatkan pemecahan masalah jangka panjang.

Jadi ingat selalu setiap kali kita mulai terpancing emosi, cepatlah mencari tempat yang nyaman untuk meredakannya (time out) sambil merenung dan mengubah pikiran. Saya yakin kita pasti mau dan jika kita mau maka kita pasti bisa!

Sumber: Buku Ayah Edy : Judul Mendidik Anak Zaman Sekarang ternyat mudah lho.., Penerbit: Tangga Pustaka

3 komentar:

  1. Maaf ayah.. perkenalkan saya ayu, saya seorang ibu baru, putri saya br berumur 14bln, saya senang bisa membaca artikel ini.. dan sblm saya membacanya saya sudah sering mencoba metode time out itu, dr dulu hingga skrg ketika saya merasa emosi saya meningkat dan ingin marah,, hanya saja suami saya susah untuk diajak kerja sama, dsaat saya sedang akan marah dan melakukan time out suami saya slalu mendatangi saya sambil membawa putri saya, brtnya knpa dan sbgainya smpai terkadang saya tak bisa menahan marah, padahal saya sudah beritahu dia saya butuh wktu sndiri sbntr saja nnti sya jlskan, ttp saja dia memaksa ingin tahu dan menyuruh saya agar jangan seperti ini, ga enak diliat anak katanya, hasilnya ank sy terkadang sperti takut dg saya, apalg kalo dia terbangun dr tdr dg menangis sy cb untuk menenangkan tp dia seperti takut dg saya stiap kali dia menangis dia susah untuk bersama saya. Sprti takut saya marah, padahal sya sudah bersikap sangat lembut. Memang ujung2nya anak saya pasti akan mencari saya lg dan bisa tenang lagi dipelukan saya, tp bukan ini yg saya harapkan, karena dulunya anak saya yg selalu menempel sama saya dan merasa aman dg saya smpai2 dia tdk mau di pisahkan dg saya jika sedang sedih jd berubah seperti ini. Saya merasa sedih sekali ayah... sampai sekarang saya masih berusaha membuat anak saya merasa nyaman kembali, tapi disaat baru sehari dua hari kejadian yg sm terulang lg. Tolong bantu saya ayah.. saya harus bgaimana? Disaat saya sdh bisa mngontrol emosi saya dan melakukan time out ketika saya hendak marah suami saya slalu saja bgtu saya sdh mencoba menjelaskan sblm2nya dan berkali2 jangan bawa anak saat saya sedang terlihat marah tggu sebentar saja agar saya tenang krna saya sedang berusaha membuat anak kembali nyaman dg saya kalo bgini trus anak jd beranggapan ibunya pemarah dan takut dg ibunya. Ditambah lg neneknya jg slalu mengambilnya disaat saya sedang mencoba menenangkannya dan sdh hampir berhasil. Dg alasan kasian daripada nangisnya lama. Sayapun sdh menjelaskan jg pada ibu saya, saya pun meminta biarkan sya yg tenangkan anak saya agar dia itu nyaman sm ibunya dan ga takut sm ibunya, Smpai kadang2 saya hrs memalingkan diri dan menerima omongan kasar dr ibu saya karna dia tidak mau mengerti. Saya mohon ayah.. bantu saya.. saya harus bagaimana sekarang? Saya ingin anak saya kembali seperti dulu.. yg slalu merasa nyaman dengan ibunya.. apalgi skrg dia mulai sering memukul saya kalo saya larang melakukan hal yg membahayakan seperti bermain kabel, memasukan benda2 kemulutnya tp saya melarangnya pun dg cara yg halus dan sya ambil kabel dan benda2 itu agar tidak lagi dia mainkan, saya terkadang berpikir apakah benar yg saya lakukan ini? bagaimana lgi saya harus menjelaskan ke suami dan ibu saya? Saya mohon bantu saya ayah... saya tidak mau ini berkelanjutan.. kasian anak saya...

    BalasHapus
  2. Saya jg mengalami hal yang sama..mohon sharingnya...

    BalasHapus
  3. “Saya stress dan bosan menghadapi kondisi anak saya. Saya merasa terbebani oleh anak, saya memiliki emosi berlebih terhadap anak dan saya takut menyakiti anak-anak saya.” Saya Harus Bagaimana? selengkapnya ada di https://goo.gl/Rq90x1

    BalasHapus