SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Minggu, 13 Oktober 2013

ANAK YG DIPAKSA TUMBUH DIPERCEPAT DAN MATANG DINI


“The hurried child; growing up to fast and too soon”

TANYA:

Halo Ayah Edy,
Nama saya Sherly.Saya memiliki 2 anak yang kini berusia 3,7 th dan 1 th.Anak saya yang berusia 3,7th sudah sekolah Preschool dari usia 2,5th.Yang membuat saya khawatir,sampai saat ini anak saya masih bingung membedakan warna-warna dasar ( red,blue,yellow,green).

Hampir setiap hari saya stimulasi tanya jawab warna,kadang dijawab dengan benar kadang salah.dan bila jawab benar kemudian .beberapa saat ditanya lagi bisa salah jawabnya.

Apakah anak saya punya kecenderungan buta warna.Bagaimana perkembangan anak diusia tersebut?Bagaimana pendapat Ayah?

JAWAB:

Bu Sherly yang baik hati,

Saya bisa memahami apa yang ibu khawatirkan tentang kemampuan buah hati ibu. Saya sering kali bertemu dengan para orang tua yang sering mengalami kekhawatiran yang serupa akan kemampuan anaknya.

Hal ini sangat wajar terjadi, fenemoena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan pada tahun 1989 Seorang pemerhati anak dari Amerika Serikat yang bernama David Elkind menuturkan dalam bukunya yang berjudul “The hurried child; growing up to fast and too soon” katanya, banyak sekali para orang tua Amerika pada zaman itu yang memiliki kecenderungan ingin anaknya serba bisa di usia yang belum waktunya.

Para orang tua berpikir apa bila semakin dini usia anaknya menguasai banyak hal termasuk membaca, menulis dan berhitung maka anaknya kelak akan jauh lebih sukses dari anak lainnya, bahkan ada pula sebagian orang tua yang mangajarkan hal ini pada anaknya sebenarnya hanya ingin memamerkan kemampuan anaknya pada orang lain, tetangga atau sanak saudaranya.

David Elkind juga mengatakan bahwa akibat dari hal ini banyak anak-anak yang kemudian tumbuh bermasalah, sehingga belakangan para ilmuan mulai sepakat untuk mengembalikan tumbuh kembang anak pada proses alamiah sebagaimana yang diinginkan Tuhannya dan bukan yang diinginkan oleh orang tuanya.

Satu contoh yang pernah dimaksudkan oleh David Alkind.tersebut adalah kasus Baby Walker, yang pernah dibuat dan dipasarkan untuk membantu balita bisa lebih dini berjalan, namun kemudian diketahui bahwa proses merangkak pada bayi adalah fase alamiah yang sangat vital dan tidak boleh terlewati, yang diciptakan Tuhan untuk melatih otot dan syaraf motorik wicara. Apa bila fase ini dipercepat atau mungkin di lewatkan maka banyak anak-anak yang mengalami kesulitan berbahasa. Hingga pada akhirnya baby walkerpun tidak lagi di anjurkan digunakan untuk melatih balita agar lebih cepat bisa berjalan.

Begitu pula orang tua yang berlomba-lomba memasukkan anaknya ke Sekolah Dasar dengan usia yang di bawah 7 tahun atau bahkan mungkin kurang dari 6 tahun, kelak sebagian dari mereka bisa mengalami Drop Syndrom atau Sindrom Mogok Sekolah atau Bosan Belajar.

Itulah sebabnya mengapa pemerintah Jerman menetapkan bahwa usia minimal anak masuk SD adalah 7 tahun persis, kurang 1 bulan saja tidak diperbolehkan. Jauh lebih baik masuk SD di usia 7 tahun lebih dari pada kurang, begitulah cerita sahabat saya yang tinggal di Jerman.

Setelah kami mempelajari banyak referensi mengenai perkembangan pendidikan dan tumbuh kembang anak akhirnya kamipun ikut sepakat bahwa akan jauh lebih baik kita mendidik anak sesuai dengan keinginan Tuhannya melalui proses tumbuh kembang alaminya masing-masing, karena antara satu anak dengan anak lainnya akan berbeda-beda. Tugas kita sebaiknya hanya sebatas merangsang dan menstimulasi saja dan bukan untuk memaksakan sesuai keinginan kita.

Saya menduga apa yang terjadi pada buah hati ibu adalah fenomena yang dulu pernah di jelaskan oleh David Elkind dalam bukunnya. Saya juga menduga bahwa apa yang dialami buah hati ibu adalah bukan gejala buta warna seperti yang ibu khawatirkan melainkan sebuah jawaban kebosanan seorang anak balita yang di tanya tentang hal sama berulang-ulang, itu lagi dan itu lagi. Persis seperti orang tua yg sering bertanya adek anak siapa? awalnya anak senang menjawab; "anak mama", tapi lama kelamaan ia bosan juga dengan pertanyaan yg berulang hampir setiap hari tsb.

Salah sebut warna tidak sama dengan buta warna, bahkan mungkin kita orang dewasa pun pernah sekali-sekali mengalami salah sebut warna misalnya lampu hijau dengan biru pada lampu lalu lintas.

Mari kita tunggu saja jika sudah tiba waktunya anak kita akan bisa mengetahui warna. Ada memang anak2 yg mengalami buta warna tapi itu sangat kecil sekali jumlahnya, jadi bersabarlah dan tenang-tenang saja. Jika seandainya terjadi buta warna sekalipun, anak2 kita masih besar sekali kemungkinannya untuk bisa menjadi orang sukses ketimbang apa bila ia mengalami buta hati.

Jadi mari kita berfokus untuk mendidik anak2 kita agar tidak menjadi orang yg buta hati dan mari kita dampingi tumbuh kembang anak kita sesuai proses alami yang di ciptakan oleh Tuhannya dan bukan atas ambisi keinginan kita orang tuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar