SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Selasa, 09 Februari 2016

MASALAH SEPUTAR ABG DAN REMAJA



Ketika memasuki usia remaja, mengapa anak berubah jadi cuek, sensitif dan pemarah?

Riana sedang muram. Pasalnya, ia merasa putranya makin lama makin jauh darinya. Riana ingat, ketika Bart masih kecil, mereka sangat dekat. Bart selalu mengikuti Riana ke mana pun. Pulang sekolah, Bart langsung memeluk Riana dan ceriwis menceritakan berbagai kejadian di sekolah.

Namun perlahan-lahan, ketika Bart telah menginjak usia remaja, ia menjauh. Jangankan memeluk Riana, diajak jalan berdua saja tak mau. Jangankan bercerita panjang lebar seperti dahulu, kalau ditanya saja jawabannya hanya satu atau dua patah kata. Bila dipaksa bicara lebih panjang, ia malah sebal.

Ayah Edy, bagaimana ini?

Jawaban Ayah Edy:

Ayah Bunda tercinta,

Ini kasus yang menarik. Anak kita berubah, tapi kita –orangtuanya—tidak berubah. Orangtua masih memperlakukan remajanya seperti bocah kecil, padahal mereka sama sekali bukan kanak-kanak lagi. Tak heran, mereka jadi sensitif karena merasa diperlakukan seperti anak kecil terus. Petunjuk yang paling mudah bagi orangtua adalah jika anak sering mengucapkan kallimat: “Aku kan bukan anak kecil lagi Maaaa...”

Nah, saat itulah kita harus sadar bahwa selama ini remaja kita merasa diperlakukan seperti bocah kecil oleh orangtuanya. Dan si remaja tak menyukai perlakuan semacam ini.

Lalu bagaimana seharusnya orangtua memperlakukan anak remajanya?
Perlakukanlah remaja seperti peer atau sahabat kita. Selama ini orangtua biasanya bicara pada anak remajanya secara top-down. Maksudnya, orangtua menempatkan diri di atas anak. Orangtua memberikan nasehat, petunjuk dan perintah lalu anak diharapkan menerima dan menjalannya begitu saja. Bagaikan atasan dan bawahan.

Namun jika orangtua menempatkan remaja sebagai sahabat, berarti hubungannya adalah friend to friend. Orangtua tidak akan menggunakan kalimat ‘kamu harus begini...’ atau ‘pokoknya kamu wajib begitu...’.

Sebaliknya, orangtua akan mengajak remajanya berdiskusi. Daripada menyuruh dan memerintah, orangtua akan lebih banyak bertanya ‘bagaimana menurutmu?’, ‘apa pendapatmu?’, ‘menurutmu, apa positif dan negatifnya?’, ‘bagaimana solusinya?’.

Jika Ayah Bunda melakukan ini, berarti Ayah Bunda sedang mendidik anak untuk mengambil keputusan sendiri. Menurut saya, ini wajib dilakukan orangtua ketika anak telah remaja.

Bagaimanapun, orangtua takkan bisa mendampingi anak selama-lamanya. Semakin dewasa seorang anak (dan seiring bertambahnya usia kita), waktu kebersamaan kita dengan anak akan semakin berkurang.

Perlahan-lahan, keterlibatan kita dalam kehidupannya pun tak sebanyak dahulu. Karena itu, inilah saat yang tepat bagi kita untuk mendidik anak mengambil keputusan, menjadi dirinya sendiri dan belajar mengarungi hidup tanpa orangtuanya. Bila kita tak melakukannya sekarang, kapan lagi?

Namun bagaimana jika orangtua takut jika anak mengambil keputusan yang salah?

Pertama, saya menggarisbawahi kata ‘takut’. Apakah ‘takut’ di sini bermakna ‘rasa’ atau ‘fakta’? Saya yakin Anda akan menjawab ‘rasa’, padahal yang kita butuhkan adalah fakta.

Kedua, life is only a lesson. Dalam hidup hanya ada pelajaran, pelajaran dan pelajaran. Jika remaja Anda mengambil keputusan yang salah lalu ia harus menanggung risiko kesalahannya, itu adalah pelajaran berharga baginya.

Jika semua orang takut salah, tidak akan ada yang berani berdagang. Dari sepuluh kali mengambil keputusan, seorang pedagang mungkin tujuh kali salah.

Saya sendiri mengambil keputusan-keputusan yang salah sebelum akhirnya memutuskan terjun ke dunia parenting. Jadi salah adalah bagian penting untuk mengetahui mana yang benar. Jadi jangan pernah takut salah.

Karena kesalahanlah maka kita akan tahu yang benar.

dipetik dari buku Ayah Edy Menjawab Problematik orang tua ABG dan Remaja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar