SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Selasa, 06 September 2016

POKOKNYA KAMU HARUS....!!!!!



Pernahkah kita mendengar orang berkata "Pokoknya saya gak mau tahu ya...!!!"

Atau mungkin malah kita yang sering sekali menggunakan kata "Pokoknya", pokoknya....dan pokoknya...?

apa efeknya bagi anak kita ?

Yuk simak deh kisah berikut ini....

“Pokoknya aku mau itu!!” teriak Marcell sambil menunjuk buku tebal milik papinya.

“Ini buku kerja Papi. Marcell main mobil­mobilan yang ini saja, ya ...,” Remon berusaha membujuk anaknya.

“Nggak mau!! Pokoknya itu!” Teriak Marcell, ngotot. Ia me­ rampas buku katalog dari tangan ayahnya dan melempar mobil­ mobilan yang masih baru itu.

Remon menghela napas. Katalog itu baru saja selesai cetak dan akan ia pakai untuk presentasi rapat besok pagi. Akan ditunjukkan kepada kliennya. Masak sudah lecek? Tidak sopan, kan?

Bergidik ia melihat Marcell meremas beberapa lembar katalog itu.

“Aduuhhh ....” Ia meringis. Istrinya pun cuma bisa menarik
napas panjang dan mengelus bahunya.

“Bujukin Marcell doooonggg ...,” ungkap Remon putus asa pada Novi, istrinya.

“Gimana???” Novi kebingungan mencari ide.

Begitulah keseharian Marcell. Semua serba “pokoknya”. Itu sudah kata pamungkasnya, artinya semua keinginannya harus dituruti. Kalau tidak, repotlah dunia!

Kalau sekali­dua kali mungkin masih dimaklumi. Namun, kalau keseringan, bikin kesal! Remon senewen jadinya. Mana dia hanya pegang satu katalog pula! Bagaimana ya, mengatasi anak seperti Marcell? Helppppp ....



Jawaban Ayah Edy:

Ayah­Bunda yang budiman dan sabar, egosentris adalah sebuah fase yang harus dilalui anak untuk menghindari ketumpulan otak. Jadi, itu sudah desain Tuhan kalau seorang anak Balita itu suka memaksa. Latar belakangnya adalah karena ia memiliki program memaksa dalam otaknya.

Kenapa?

Ketika dilahirkan, otak manusia ada sekitar 200 miliar dengan bentuk seperti ranting­ranting pohon. Seorang anak akan tumbuh cerdas kalau ranting­ranting  saraf itu tumbuh lebat. Caranya dengan belajar sesuatu yang baru. Misalnya, mengambil benda, mencoret­coret kertas, dan sebagainya. Biasanya itu terjadi pada usia 3 hingga 5 tahun masa emas pertama.

Masalahnya, setiap kali saraf otak anak mau tumbuh, biasanya orangtua melarang anak melakukan sesuatu. Dan, Tuhan tahu itu. Misalnya, ketika anak datang mau memegang laptop mamanya. Lalu Mama langsung melarang, “Aduuuh jangan pegang­pegang laptop Mama ya, Nak. Ini mahal harganya ... nanti rusaaaak ....“

Begitu juga waktu anak mau pegang gelas, “Jangan pegang nanti gelas Mama pecah semua …,” atau “Jangan pegang, nanti pecah, tanganmu bisa luka ....”

Nah, saat anak dilarang dan tidak jadi melakukan, sarafnya tidak jadi tumbuh. Akhirnya oleh Tuhan, diberi program egosentris. Program yang memaksa anak untuk melakukan. Kalau tidak di­ penuhi ia akan menangis. Ini sebenarnya bahasa Tuhan supaya jangan mengganggu pertumbuhan saraf­-saraf dasar anak di usia dini.

Dalam wawancaranya di BBC, Sakhuntala Devi, seorang genius dari India di bidang Matematika yang dijuluki “Manusia Kalkulator” karena kepandaiannya berhitung, berkata bahwa sebelum anak berusia 12 tahun, sebaiknya di rumah tidak perlu ada barang­barang berharga dan pecah belah.

Isilah rumah dengan benda­benda yang boleh disentuh atau dijadikan sebagai objek eksplorasinya. Itulah yang dulu dilakukan orangtua dan kakek Sakhuntala Devi sehingga kini ia bisa menjadi seorang yang jenius.

Sakhuntala Devi yang lahir di Bangalore tahun 1939 ini, bisa menghitung perkalian 13 digit, 7,686,369,774,870 x 2,465,099,745,779 yang dipilih secara acak oleh komputer Department of Imperial College, London, pada 18 Juni 1980. Dalam waktu 28 detik ia menjawab dengan benar jumlahnya, yakni 18,947,668,177,995,426,462,773,730.

Fase egosentris  biasanya berlangsung  dari 0 hingga 5 tahun, tergantung di usia berapa mau kita cairkan. Biasanya dicairkan di usia TK. Bagaimana caranya?

Tahap awal, izinkan ia untuk melakukan proses eksplorasi apa pun tanpa segera diintervensi. Misalnya ketika mau memainkan remote TV. Tunggulah sampai minimal tiga kali ia melakukannya. Setelah ia mengetahui fungsinya, barulah kita boleh mengarahkan untuk tidak lagi melakukannya. Lalu ajarkan cara yang baik untuk menggunakan remote TV tersebut.



Namun, apabila yang ia mainkan adalah benda-­benda  ber­ bahaya dan tajam seperti pisau atau garpu, tentu ini perlu segera diinter­ vensi karena khawatir bisa melukai atau membahayakan dirinya.

Orangtua biasanya membeli mainan yang sama untuk masing-masing anak untuk menghindari pertengkaran.

Langkah kedua setelah ia berusia 3 tahun atau telah mema­ hami bahasa orang dewasa, mulailah perkenalkan ia dengan kon­ sep tentang hak milik orang lain. Ini milik Kakak, itu milik Bunda, bahkan milik pengasuhnya sekalipun.

Tunjukkan mana yang boleh ia ambil atau pegang, dan mana yang tidak, atau mana yang harus dengan izin terlebih dahulu. Karena masih di fase egosentris, biasanya perlakuan ini akan membuatnya menangis atau tetap memaksakan kehendaknya.

Untuk melatih konsep tentang hak milik, orangtua dapat membelikan satu mainan untuk dua anak. Misalnya minggu ini membelikan mainan untuk Kakak dan minggu depan membelikan satu mainan untuk adiknya saja.

Kalau adiknya merebut, katakan bahwa ini adalah mainan milik Kakak. Jadi, kalau mau meminjam, bilang dulu ke Kakak.
“Dedek, ini punya Kakak, tanya dulu ya sama Kakak, kalau Dedek mau pinjam.”

Mungkin ia akan memaksa dan menangis. Tidak mengapa, Ayah dan Bunda terus lakukan hal itu. Katakan bahwa sebaiknya minta izin kakaknya dulu. Lakukanlah dengan sabar, hingga ia perlahan­lahan mengerti maksudnya.

Begitu juga sebaliknya, jika kakaknya ingin merebut mainan adiknya, jelaskan hal yang sama, sehingga lama­lama mereka akan belajar arti hak milik dan pinjam­ meminjam. Pada akhirnya, mereka juga belajar konsep berbagi.

Itu sebabnya, kurang tepat jika orangtua membiasakan mem­ beli mainan yang sama untuk masing­masing anak karena tidak mau anaknya bertengkar atau berebut. Ini kesalahan fatal, seolah­olah tidak ada masalah padahal justru dapat menjadi pemicu masalah.

Anak menjadi tidak belajar tentang hak milik, pinjam­ meminjam, dan bermain bersama. Mereka tidak belajar apa pun, tetap akan bertengkar dan tidak akan mencairkan egosentris. Egosentris, bagaimanapun  memang sebaiknya dicairkan. Bisa dimulai saat anak berusia 5 tahun, agar tidak terbawa hingga ia dewasa.



Lihat saja kondisi masyarakat kita. Betapa banyak orang yang berani menyerobot tanah orang lain tanpa merasa bersalah, meskipun ia tahu itu bukan hak miliknya.

Betapa banyak orang yang tidak suka berbagi pada orang lain. Mungkin orangtuanya dulu lupa mengajarkan konsep hak milik dan berbagi padanya.

Oleh karena itu, Ayah dan Bunda, belikanlah satu mainan untuk dua orang anak, agar mereka belajar tentang hak milik dan ber­ bagi. Kelak kemampuan berbagi ini akan terbawa hingga mereka dewasa.

Tidak usah khawatir soal iri hati karena setiap anak memiliki kebutuhan dan selera yang berbeda. Ketika mengajak mereka ke pasar, si Kakak ingin dibelikan mobil­mobilan, si Adik ingin robot­robotan. Sampai di rumah, bisa saja mendadak  si Adik lebih tertarik mobil­mobilan si Kakak dan ingin memainkannya.

Jelaskan padanya untuk minta izin. Kalau Adik memintanya sebagai hak milik, tanamkan pengertian bahwa itu punya Kakak, punya Adik adalah robot­robotan. Kalau Adik mau main mobil­mobilan, bisa pinjam pada kakaknya. Demikian pula sebaliknya jika si Kakak ngotot hendak meminta mainan adiknya.

Sebagai tambahan,  jika Ayah dan Bunda ingin anak tidak lagi mengatakan kata “pokoknya”, kita pun harus mencontohkan dengan tidak menggunakan kata “pokoknya” pada mereka. Minta­ lah anak untuk membantu mengingatkan, jika pada saat bicara padanya, kita masih menggunakan kata “pokoknya”. 

Sesungguhnya perilaku anak adalah cermin langsung dari perilaku orangtuanya.

by ayah edy dari buku Ayah Edy menjawab warna hijau.

4 komentar:

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus
  2. Pokoknya ayah Edy mantap ��

    BalasHapus
  3. Emejing ayah edy... Terimakasih ayah penjelasannya superr sekali...

    BalasHapus
  4. Penjelsannya mantapp. Kapn keluarin buku lagi

    BalasHapus