SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Minggu, 13 November 2016

TIDAK SEMUA KOMENTAR PERLU DI TANGGAPI




Saya selalu berusaha menulis dan membuat postingan yang edukatif dan menginspirasi,

Namun sebarapa baiknyapun isi postingan yang kami buat selalu saja ada yang komentar negatif dan bahkan cenderung menghujat.

Dulu kami sering menanggapi komentar semacam ini dengan itikad baik untuk menjelaskan dan lebih mencerahkan.

Namun hasilnya malah menjadi semacam debat kusir, karena mungkin dari komentator tidak bisa lagi menerima pencerahan.

Namun saat ini saya tidak lagi menanggapi komentar-komentar dari orang-orang yang seperti itu dan lebih tertarik mengamatinya saja serta mengintip apa isi posting-posting yang ada di akunnya..

Hal ini terjadi ketika saya membaca sebuah kisah yang inspiratif yang terus saya ingat sampai saat ini.

Yuk mari kita baca perlahan-lahan sampai akhir ya...,

==================
Suatu hari ada seorang ahli Matematika yang terkenal bijak dan cerdas bernama Ibnu Abdul Jabbar, beliau memiliki beberapa murid yang juga cerdas dan pandai yang terkenal oleh masyarakat sekitarnya.

Suatu hari, ada salah satu muridnya bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik pada saat ia berbelanja di pasar.

Pasalnya sang murid ingin membeli kurma, harga 1 kg kurma adalah 2 dinar dan ia ingin membeli 6 kg kurma. Sehingga iapun membayar senilai 12 Dinar. (mata uang saat itu)

Tapi kata si penjual salah, uangnya kurang, menurutnya ia harus membayar 14 Dinar.

Si penjual menjelaskan kalau 1 x 2 x 6 = 14
Dengan susah payah, si Murid menjelaskan berkali-kali pada si penjual bahwa
1 x 2 x 6 itu sama dengan 12 dan bukan 14.

Namun betapapun si murid berusaha menjelaskan, si penjual di pasar tetap ngotot bahwa jumlah yang harus di bayar adalah 14 Dinar.

Si penjual tersebut akhirnya menantang murid pandai tsb untuk meminta Ibnu Adbul Jabbar sebagai juri, untuk menentukan siapa yg benar diantara mereka.

Si penjual pasar mengatakan :
"Jika saya yg benar 1 x 2 x 6 = 14, maka engkau harus mau dicambuk 10 kali oleh Ibnu Adbul Jabbar.

Tetapi kalau kamu yg benar (1 x 2 x 6 = 12), maka saya bersedia kepala saya di penggal.

Haaaaaa...hhaa.." Demikian si penjual pasar menantang dengan sangat yakin akan pendapatnya. disaksikan oleh orang satu pasar.

"Wahai Ibu Adbul Jabbar yang bijak dan pandai tolong katakan , mana yg benar diantara kita ?" ujar si penjual pasar pada sang Ahli Matematika dengan gaya sok pintarnya.

Ternyata Ibnu Abdul Jabbar memvonis cambuk 10x bagi murid nya yang menjawab (1 x 2 x 6 = 12)

Si murid pun protes pada Sang Guru karena ia tahu jawabannyalah yang benar,  dan gurunya juga tahu bahwa jawabannyalah yang benar. Tapi mengapa justru ia yang di cambuk..?

Setelah selesai mencambuk muridnya, Ibnu Abdul Jabbar pun kemudian berkata,

Ketahuilah muridku, "Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk KETIDAK bijakan mu yg mau-maunya berdebat dan bertengkar dengan orang bodoh yg tidak tahu kalau (1 x 2 x 6 = 12)"

Guru melanjutkan : "lebih baik aku melihatmu dicambuk dan menjadi sadar dan lebih bijak dari pada kita harus harus melihat 1 nyawa terbuang sia2 karena sebuah KEBODOHAN DARI ORANG YANG TIDAK MUNGKIN BISA DIUBAH LAGI AKAL DAN PIKIRANNYA".

Mungkin salah satu pesan moral yang bisa kita petik adalah:

Jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yg tidak berguna dengan orang yang tidak paham, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah dari pada orang yg memulai perdebatan, sebab dengan sadar kita membuang waktu & energi untuk hal yang tidak perlu...

Orang-orang semacam ini hadir dengan komentarnya bukan untuk membuat diri belajar menjadi lebih paham dan mengerti tentang kebenaran, melainkan hanya sekedar ingin Eksis dan agar terlihat pintar dan paham saja. Padahal yang terjadi justru sebaliknya, dia tidak paham itulah mengapa ia berdebat.

Ada saatnya kita diam, untuk menghindari perdebatan/pertengkaran sia-sia.

Ingat ! Diam bukan berarti kalah, bukan? Diam untuk menjadi lebih bijak dan paham.

Memang bukan hal yg mudah, tetapi jangan sekali-kali berdebat dengan orang bodoh yg tidak menguasai permasalahan…

Dan semoga kita bisa menjadi lebih bijak.

Selamat pagi dan selamat beraktivitas ..

Dari kisah inspirasi yang di share oleh seorang teman di group ya... tksh.

di tulis ulang oleh
-ayah edy-
www.ayahkita.blogspot.com

17 komentar:

  1. Inspiratif, tapi kelihatannya ada pernyataan yg terbalik oleh si penjual ketika mereka menghadap pd sang guru al jabbar. Meatinya " kalau saya yg benar 1x2x6= 14 dst.

    Trimakasih, salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon tidak mengiklankan hal2 seperti ini di sini, Jika kami masih mendapati anda melakukannya maka managament kami akan melaporkan pada yang berwajib jika anda masih melakukannya.

      Mudah sekali untuk melacak sumber internet anda bagi kepolisian karena mereka sudah dilengkapi anti cyber crime

      Tksh.

      Hapus
  2. halo,pak…
    mohon maaf sebelumnya…
    itu ad sedikit koreksi pada paragrraf ini:

    Si penjual pasar mengatakan :
    "Jika saya yg benar 1 x 2x 6 = 12 →[bukannya harusnya 14], maka engkau harus mau dicambuk 10 kali oleh Ibnu Adbul Jabbar.

    Tetapi kalau kamu yg benar (1 x 2 x 6 = 14) → [bukannya harusnya 12], maka saya bersedia kepala saya di penggal.

    sepertinya kebalik, hehe

    BalasHapus
  3. halo,pak…
    mohon maaf sebelumnya…
    itu ad sedikit koreksi pada paragrraf ini:

    Si penjual pasar mengatakan :
    "Jika saya yg benar 1 x 2x 6 = 12 →[bukannya harusnya 14], maka engkau harus mau dicambuk 10 kali oleh Ibnu Adbul Jabbar.

    Tetapi kalau kamu yg benar (1 x 2 x 6 = 14) → [bukannya harusnya 12], maka saya bersedia kepala saya di penggal.

    sepertinya kebalik, hehe

    BalasHapus
  4. artikel yang bagus sekali, khsusnya untuk para pemuda pemudi yang masih belum matang pemikirannya seperti saya ketika berdiskusi dengan orang yang lebih tua.

    BalasHapus
  5. Hudi : spertinya sdh bener, tdk ada yg terbalik. Coba kmu simak baik2 setiap kata2 dlm kalimat tsb.

    Fendi : sya lihat sdh bener penulisan dri ayah edi, tdk ada yg slh. Sblm coment, perhatikan dgn benar apa yg mau kmu smpaikan.

    BalasHapus
  6. Ni contoh kalau komen tapi gk memperhatikan n asal ngomong..Fendi lebih d perhatikan lagi

    BalasHapus
  7. Ni contoh kalau komen tapi gk memperhatikan n asal ngomong..Fendi lebih d perhatikan lagi

    BalasHapus
  8. @ryna dan abdul miun: kita jg msti lihat dr 2 sisi..inget blog bisa kita edit mski sudah di posting...bgtu jg blog ini..lagian @hudi dan @fendy jg niatnya ngoreksi...

    BalasHapus
  9. Namun menurut saya, menyuruh orang pintar untuk bungkam, bukanlah hal yang baik juga, karena ketika yang bodoh lebih sering mengutarakan suaranya dan malah mendapatkan lebih banyak pengikut, otomatis dia akan lebih berpengaruh, dan ketika hal itu terjadi, kebodohan akan lebih mudah menyebar.

    Dalam cerita ini, sebaiknya solusi dari ahli matematika ini bukan semata-mata menyalahkan muridnya yang berusaha membuktikan sebuah maksud, melainkan tetap menyalahkan si penjual, dan menyatakan bahwa dia salah, dan dengan bijaksana, mengingatkan, bahwa tidak sebaiknya bertaruh dengan nyawa secara ceroboh. Dan juga, mengingatkan si murid, hal yang telah dibahas disini.

    Bukan bermaksud sok pintar, namun menurut saya hal terbaik adalah, bagi orang-orang bijaksana untuk tidak menyerah menghadapi orang-orang yang berbeda pendapat, salah satunya dengan memperbaiki metode menyalurkan pendapatnya/komunikasi sehingga bisa lebih mencerahkan. Akan membuat frustrasi, mungkin, namun lebih baik daripada menyuruh orang pintar untuk bungkam.

    Tambahan: tentunya saya paham, bahwa semakin seseorang pintar/bijaksana, dia akan tahu kapan waktu yang tepat untuk berbicara/diam.

    BalasHapus
  10. Terima kasih untuk sharing artikel yang bermanfaat ini, bapa Edy.

    Salam dan doa.

    BalasHapus
  11. Ketika orang berilmu diam akan segala kesalahan maka yang terjadi adalah kehancuran, apatah lagi sampai menghukum yang benar dengan alasan yang menurut saya malah akan membuat orang bodoh terlihat benar dan dipercaya kemudian diikuti banyak orang, maka yang terjadi adalah kesalahan menjadi sebuah kebenaran...wallohu alam bishowab

    BalasHapus
  12. Ketika orang berilmu diam akan segala kesalahan maka yang terjadi adalah kehancuran, apatah lagi sampai menghukum yang benar dengan alasan yang menurut saya malah akan membuat orang bodoh terlihat benar dan dipercaya kemudian diikuti banyak orang, maka yang terjadi adalah kesalahan menjadi sebuah kebenaran...wallohu alam bishowab

    BalasHapus