SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Selasa, 30 Agustus 2016

PROGRAM OBSERVASI AYAH EDY DESEMBER 2016 DI SINGARAJA BALI

Para orang tua yang berbahagia,

 Untuk menjawab banyak pertanyaan orang tua yang belum bisa menyekolahkan anaknya di sekolah kami di Singaraja, Buleleng, Bali maka kami ingin memberikan solusi yang jauh lebih efektif dan komprehensif bagi para orang tua yang ingin mengetahui permasalahan anaknya juga bagi para orang tua yang ingin mengetahui cara yang benar mendidik anak sesuai dengan tipologi masing-masing, kami membuka PROGRAM OBSERVASI ANAK, bagi putra-puteri kita yang berusia SD Kelas 1-6, di Singaraja Buleleng, Bali

Selama lebih dari 14 tahun ayah bersama dengan para asistennya terjun langsung dalam pendidikan anak usia dini, ayah berhasil mengembangkan sebuah sistem observasi yang berbasiskan pada Multiple Intelligence & Holistic Learning yang mampu menggali potensi-potensi anak yang terpendam yang sering kali oleh para guru dan orang tua di terjemahkan sebagai “masalah”.

Hasilnya sungguh luar biasa, ternyata banyak sekali anak-anak yang dinyatakan sebagai anak bermasalah seperti Disable Learning, Dyslexia, ADD, ADHD, Delay Speech, Autis ringan dan sebagainya, sebenarnya adalah anak normal bahkan berpotensi menjadi jenius-jenius Indonesia yang luar biasa.

Bahkan yang paling mengharukan adalah ada seorang anak yang mengalami Hidrosefalus dan secara medis telah dinyatakan kemampuan otaknya hanya tinggal 20% saja, namun setelah anak dan orang tuanya mendapatkan terapi kasih sayang yang berbasiskan pada temuan Masaru Emoto juga Prof. Kazuo Murakami, Penerima Hadiah Japan Research Award untuk Bidang Genetika, kemampuannya bisa kembali normal 100%. Bahkan Ayahnya sambil tersenyum bahagia dan penuh syukur mengatakan bahwa kemampuan anaknya sekarang malah melebihi 100%.

Berdasarkan pengalaman Ayah menyelenggarakan program pendidikan berbasiskan observasi, ayah menemukan bahwa banyak anak-anak yang normal dan menyimpan kemampuan unggul yang luar biasa justru malah sering dinyatakan bermasalah.

Hal ini dimungkinkan terjadi karena selama ini sistem telah memformat cara berpikir orang tua, guru dan konselor pada model pendekatan hitam putih yang hanya mengakui hanya ada satu kriteria kenormalan anak, jika anak tidak memenuhi kriteria tersebut maka dinyatakan berkelainan dan harus di terapi.

Padahal ayah menemukan paling tidak ada 16 jenis tipe kenormalan anak dan semua tipe tersebut adalah normal dan masing-masing kenormalan tersebut di ciptakan Tuhan untuk maksud dan tujuan berbeda serta untuk profesi yang juga berbeda-beda saat mereka dewasa kelak. Nah dari 16 tipe tadi mereka biasanya memiliki ke khas-an masing-masing, akan berbeda satu anak dengan anak lainnya meskipun ia saudara kandung atau kembar sekalipun.

Sungguh memprihatinkan jika kita melihat banyak sekali anak normal yang dinyatakan bermasalah atau berkelainan yang sesungguhnya disebabkan karena kita yang tidak tahu dan tidak dapat melihat sisi emas dari anak-anak tersebut. Inilah mengapa ayah melihat kita semua orang tua dan para guru harus lebih banyak belajar tentang anak-anak kita.

Dalam program observasi ini kami mewajibkan orang tua untuk ikut serta aktif belajar dan melihat langsung prosesnya, bahkan memungkinkan untuk direkam sehingga orang tua bisa secara detail mempelajari kembali dirumah agar dapat menemukan potensi yang terpendam dalam diri anaknya dan tidak melakukan lagi kesalahan yang fatal dalam mendidik dan mengelola mereka.

Diakhir priode sesi Observasi orang tua akan mendapat Laporan Observasi yang lengkap yang bisa membantu orang tua dan guru untuk menerapkan pola asuh dan pola didik yang tepat bagi si anak.
Program ini hanya untuk anak seusia SD KELAS 1-6

Segera daftarkan putra-putri anda minimal 3 bulan sebelumnya, pendaftaran akan segera di tutup jika kapasitas telah terpenuhi.

Pesan tempat 4 bulan sebelum acara melalui Ayah Edy Management melalui nomer 0856-9497-5174 / 0856-1997-244 pada jam kerja.

Program Observasi ini di selenggarakan bertepatan dengan Liburan 19-30 Desember 2016 di Singaraja Buleleng, Bali.

PERHATIAN !
Program konsultasi dan Observasi anak yang resmi nomer kontaknya hanya ada di www.ayahkita.com

Let’s Make Indonesian Strong from Home

MARI KITA BANGUN INDONESIAN YANG KUAT DARI KELUARGA, MELALUI ANAK-ANAK KITA TERCINTA!
Salam Sukses dan Bahagia,

AE Management
d/a SEKOLAH MAHAKARYA GANGGA
Jl. Kumba Karna LC10 No.5x, Singaraja, Buleleng, Bali
Office telp: 0362 -330-1705

foto: Peserta Program Observasi Desember 2015


Kamis, 18 Agustus 2016

MERIAHNYA ACARA HUT KEMERDEKAAN RI

Cuma Indonesia yang punya begini ya....
Meriahnya 17 Agustusan di Indonesia....
orang-orang asingpun ikut berpartisipasi....

 Bapak Presiden RI ikut berpartisi pasi

 
Orang Asing pun tidak mau ketinggalan

Tidak akan anda temukan di negara manapun di dunia

Anak-anak orang asingpun gak mau ketinggalan acara 

Tak akan terlupakan seumur hidup mereka

Mas dari Ausy ini rela diposisi kunci





MENGAPA ADA ORANG TUA YANG SUKSES TAPI JUGA ADA YANG GAGAL MENDIDIK ANAKNYA...?



Hampir setiap minggu saya memberikan program parenting, yakni sebuah program yang bertujuan untuk melatih para orangtua agar bisa memahami dan mendidik anaknya dengan cara yang lebih tepat sehingga kelak mereka akan menjadi orangtua yang dicintai oleh anaknya dan anaknya pun akan sukses mencapai potensi terbaik yang dimilikinya.

Dalam program parenting biasanya saya selalu menyampaikan bahwa dengan cara kita mendidik maka kita bebas untuk menentukan apakah kita akan menjadi orangtua yang ditakuti atau menjadi orangtua yang dicintai oleh anak kita. Secara pribadi saya katakan, jika saya menjadi anak tentunya mendambakan sebuah cara mendidik yang menjadikan saya patuh kepada orangtua karena saya mencintainya bukan karena saya takut kepadanya.

Tipe peserta parenting program beragam. Ada yang pasif, tetapi ada pula yang kritis dan berani berkata jujur.

Pernah seorang peserta menyela presentasi saya dan mengatakan, “Ayah Edy, maaf ya ... menurut saya program ini sepertinya enggak perlu, jujur saja, orangtua saya dulu tidak pernah ikut parenting program semacam ini, tapi kok ya saya juga jadi orang gitu lho. Lalu Anda sendiri bagaimana, apakah orangtua Anda dulu juga ikut program parenting gitu, lho?”

Wah, rupanya peserta saya ini selain kritis, berani, jujur, juga ternyata cukup gaul gitu, lho!

Saya menjawab bahwa saya bahagia sekali dengan adanya pernyataan spontan seperti itu yang disampaikan secara terbuka di depan umum. Karena selama ini sesungguhnya saya khawatir dan sudah menduga pasti ada orangtua yang berpikiran semacam ini. Namun, mungkin mereka tidak mau menyampaikan secara terbuka, melainkan hanya disimpan di dalam hati. Ini tentunya akan menjadi faktor penghambat terbesar bagi usahanya untuk menjadi orangtua yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Saya teringat salah seorang praktisi pendidikan anak pernah mengatakan bahwa kesalahan besar para orangtua dalam mendidik anak adalah dengan selalu melihat ke belakang dan bukannya melihat ke depan. Ibaratnya, seperti orang yang berjalan, jika kita selalu melihat ke belakang, kira-kira apa yang akan terjadi? Menurutnya lagi, ada dua kemungkinan besar penyebab mengapa walaupun orangtua kita dulu tidak mengikuti program parenting, tetapi anaknya tetap bisa mencapai sukses.

1. Naluri yang tepat dari orangtua
Setiap orangtua memiliki naluri mendidik anak, yang pada umumnya sebagian besar diwarisi secara turun-temurun dari orangtuanya, dan selanjutnya akan berkombinasi dengan tipologi kepribadiannya sendiri, serta lingkungan sekitar yang membentuknya.

Para orangtua yang mewarisi tradisi mendidik yang baik dari orangtuanya, ditambah dengan pola kepribadian seimbang, serta lingkungan yang baik pula akan melahirkan pola mendidik yang baik pada anaknya. Namun faktanya, tidak semua orangtua memiliki kepribadian seimbang dan tidak semua orang mewarisi cara mendidik yang baik dari orangtuanya. Itu artinya tidak semua orangtua memiliki naluri mendidik yang tepat jika hanya mengandalkan pengalaman masa lalunya.

Seorang peneliti perilaku pernah melakukan penelitian terhadap beberapa pemimpin yang otoriter dan tiran, seperti Hitler dan Pol Pot. Dia menemukan bahwa perilaku para pemimpin tiran itu adalah warisan turun-temurun dari pola didik keluarganya, artinya bahwa cara mendidik yang salah pun ternyata akan berlangsung secara turun-temurun dari generasi ke generasi kecuali ada satu generasi yang mau berusaha untuk mengakhirinya. Dan bagaimana mengakhirinya itulah mengapa program parenting diselenggarakan.

2. Kondisi lingkungan sekarang yang sangat jauh berbeda dengan zaman kita kecil dahulu

Seorang ahli pendidik mengatakan bahwa orangtua berperan 70% dalam proses membentuk pola perilaku anak. Jika orangtua tidak melakukan perannya dengan baik, lingkunganlah yang mengambil peran 70% tadi. Jadi, betapa beratnya tantangan orangtua saat ini yang harus berjuang berebut peran dengan lingkungannya.

Namun, saya yakin kita sepakat bahwa kondisi lingkungan masa kini sangat jauh sekali perbedaannya dengan kondisi lingkungan 30 tahun yang lalu, saat sebagian besar para orangtua dibesarkan.

Mari kita perhatikan perbedaannya. Kondisi lingkungan zaman Kartini dibesarkan tentu sangat jauh berbeda dengan zaman orangtua kita dibesarkan. Begitu juga kondisi lingkungan zaman kita dulu dibesarkan sangatlah berbeda dengan lingkungan zaman anak-anak kita saat ini.

Sementara, menurut penelitian, lingkungan merupakan faktor pembentuk terbesar ketiga terhadap pola perilaku anak setelah orangtua dan guru. Dan lingkungan akan menjadi faktor pembentuk perilaku pertama manakala orangtua dan guru tidak lagi berperan secara efektif.

Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan pergeseran yang terjadi antara generasi kita dan generasi anak kita.

Zaman kita dulu dibesarkan, ya ... masih ingat, ada berapa stasiun TV pada saat itu? Kemudian dari stasiun yang ada kala itu, program-program seperti apa yang banyak ditayangkan dan dicontoh oleh kita?
Bandingkan dengan zaman anak kita dibesarkan, ada berapa stasiun TV yang ada saat ini? Kemudian dari sekian banyak stasiun yang ada, program-program macam apakah yang banyak ditayangkan dan dicontoh oleh anak-anak kita sekarang?

Mari kita perhatikan lagi fakta berikut ini: Penyalahgunaan obat terlarang zaman kita dahulu dibesarkan baru merambah tingkatan perguruan tinggi dan remaja dengan usia rata-rata 25 tahun ke atas. Namun saat ini, penyalahgunaan obat-obat terlarang tersebut sudah merambah ke tingkat anak-anak usia sekolah dasar dan bahkan berhasil menembus masuk ke dalam sekolah.

Lalu, betapa mudahnya anak kita membeli surat kabar berisi berita kekerasan dengan harga yang sangat murah. Betapa video-video porno bebas beredar di tempat-tempat orang berkumpul menunggu angkutan umum dan harganya pun terjangkau oleh uang jajan anak-anak kita.

Wahai para orangtua yang berbahagia, mari sama-sama kita renungkan .... Apakah kita para orangtua dan guru masih mengambil peran utama dalam membentuk perilaku anak-anak kita saat ini? Ataukah justru peran utama itu secara tidak sadar ternyata sudah diambil alih oleh lingkungan.

Kita hidup pada zamannya dan anak kita hidup pada zamannya maka didiklah anak-anak kita sesuai zamannya.

Saya teringat sebuah pesan yang disampaikan oleh seorang yang agung dan bijaksana, begini kira-kira isinya: “Didiklah anakmu sesuai zamannya karena mereka kelak akan hidup di zaman yang berbeda dengan kita.”

Sungguh luar biasa bahwa hal ini telah dicetuskan oleh seorang yang bijak lebih dari 1300 tahun yang lalu, jauh sebelum para pendidik besar zaman ini memperjelas apa maksud mulia yang terkandung di dalamnya.

Wahai para orangtua yang berbahagia, kini semuanya berpulang kepada kita.

Apakah kita ingin tetap mendidik anak-anak dengan berpegang pada kesuksesan masa lalu kita atau kita akan mendidik mereka berdasarkan pandangan jauh ke depan bagi masa depannya.

Semoga kita termasuk ke dalam orangtua dan guru yang optimis.[]

Mari kita belajar Parenting.....

Ayah Edy

TOKOH-TOKOH BERJASA YANG MUNGKIN TIDAK BANYAK DI KETAHUI OLEH KITA


DULU KETIKA SELURUH KOMPONEN BANGSA BERSATU TANPA MENGENAL PERBEDAAN SUKU, AGAMA, RAS DAN GOLONGAN, KITA BISA MEMILIKI NEGARA YANG KITA SEBUT INDONESIA.

Kini jika kita tidak bersatu maka bisa jadi justru kita akan kehilangan negara yang dulu pernah di perjuangkan oleh para pendiri bangsa ini...

Mari kita bersatu untuk membangun Indonesia Tercinta.

Mari kita kenang kembali detik-detik Prokamasi yang mungkin tidak banyak dikethaui oleh kita

● _“Sekarang, Bung. Sekarang! Malam ini juga!”_ kata Chaerul Saleh kepada Bung Karno.
_”Kita harus segera merebut kekuasaan!”_ tukas Sukarni Kartodiwirjo berapi-api.
_”Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami!”_ seru para pemuda di rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

●Para pemuda, termasuk Wikana, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro datang ke rumah Bung Karno pada 15 Agustus 1945 pukul 22.00. Mereka mendesak Soekarno agar segera merumuskan naskah proklamasi begitu Jepang dikalahkan Sekutu pada 14 Agustus 1945.

●Tapi Bung Karno menolak keinginan mereka. Ia dan Bung Hatta ingin proklamasi dilakukan melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di mana Bung Karno menjadi Ketuanya.

●Para pemuda bersikeras agar Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan. Mereka beranggapan PPKI buatan Jepang. Mereka tidak ingin Bung Karno dan Bung Hatta terpengaruh Jepang dan tidak ingin kemerdekaan RI seolah-olah hadiah dari Jepang.

●Mereka lalu membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke rumah Djiaw Kie Siong di Rengasdengklok, Karawang, pada 16 Agustus 1945 pukul 03.00 dinihari, untuk merumuskan naskah proklamasi.

●Rengasdengklok dinilai aman, sedangkan di Jakarta para tentara Jepang bersiaga penuh.
_“Saya dan Guntur yang masih bayi ikut ke Rengasdengklok. Kami dijemput Sukarni dan Winoto Danuasmoro dengan mobil Fiat hitam kecil. Di dalam mobil sudah ada Bung Hatta,”_ cerita Fatmawati.

●Pada 16 Agustus 1945 tengah malam Achmad Soebardjo menjemput Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok. Sesampainya di Jakarta mereka disediakan tempat berkumpul di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda.

●Hubungan para nasionalis dekat dengan Maeda, Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang.
Ada 29 orang yang berkumpul di rumah Maeda pada malam itu.
Mereka adalah Ir.Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantoro (Mas Suwardi Soerjaningrat), Mr. Iwa Kusumasumantri, Mr. Teuku Mohammad Hassan, Otto Iskandar Dinata, R.Soepomo, BM Diah, Sukarni, dan beberapa tokoh lainnya.

●Selama mereka berunding merumuskan naskah proklamasi, Maeda naik ke lantai atas rumahnya.
Usai menulis naskah proklamasi bersama Mohammad Hatta dan Achmad Soebardjo, Soekarno membacakannya di hadapan para peserta rapat yang berkumpul di ruang tamu.

●Rapat baru selesai pada 17 Agustus 1945 pukul 03.00 dini hari, tanggal 9 Ramadhan.

●Setelah mendapat persetujuan dari semua hadirin, Bung Karno segera meminta Mohamad Ibnoe Sajoeti Melik mengetik naskah proklamasi.
Sajoeti mengetik naskah ditemani wartawan Boerhanoeddin Mohammad Diah (BM. Diah).

●Tiga kata dari konsep naskah proklamasi yang ditulis tangan oleh Bung Karno diketik Sajoeti dengan beberapa perubahan kata.
Kata ‘tempoh’ diubah menjadi ‘tempo’, kata ‘Wakil-wakil bangsa Indonesia’ diubah menjadi ‘Atas nama bangsa Indonesia’.
Begitu pula dalam penulisan hari, bulan, dan tahun.

●Tulisan tangan asli Bung Karno kemudian dibuang di tempat sampah oleh Sajoeti tapi dipungut oleh B.M. Diah, seorang penyiar Radio Hosokyoku dan wartawan Asia Raja.

●Begitu naskah proklamasi selesai diketik, Soekarno dan Mohammad Hatta segera menandatanganinya di atas piano di rumah Maeda.
Bung Hatta berpesan kepada para pemuda yang bekerja di kantor-kantor berita agar menyebarkan berita kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia.

●Hari Jumat, pukul 05.00 pagi, pada 17 Agustus 1945, mereka ke luar dari rumah Laksamana Maeda dengan bangga karena teks Proklamasi selesai ditulis.

●Bung Karno pulang ke Jalan Pegangsaan Timur 56 (kini Jalan Proklamasi), Jakarta. Ia sedang sakit malaria.
Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun naskah proklamasi.

●Pukul 08.00, dua jam sebelum upacara pembacaan teks Proklamasi, Bung Karno masih berbaring di kamarnya.
Ia minum obat kemudian tidur lagi.

●Pukul 09.00 Bung Karno terbangun. _“Saya greges (tak enak badan),”_ kata Bung Karno.
Ia kemudian berpakaian rapi, memakai kemeja dan celana putih.
Bung Hatta dan beberapa orang sudah menunggunya. Fatmawati sudah menyiapkan bendera merah putih.

●Pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 Bung Karno, Bung Hatta, dan para pemuda berkumpul di halaman depan rumah Bung Karno. Latief Hendraningrat menjadi pemimpin upacara bendera.

●Mereka mendengarkan Bung Karno membaca teks proklamasi dengan hikmad, terharu, dan bangga.
Beberapa orang menangis terharu. Lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman dinyanyikan dengan semangat meski tanpa iringan musik. Bendera merah putih dinaikkan.

●Setelah upacara yang singkat itu Bung Karno kembali ke kamar tidurnya. Tubuhnya masih demam. Tapi ia sangat bangga.

★Sebuah negara baru telah dilahirkan. Pagi itu Indonesia merdeka.

Merdeka !!! Merdeka !!! Merdeka !!!

DAN SEJAK ITULAH KITA MEMILIKI NEGERA YANG BERNAMA INDONESIA, NEGERA YANG BERDAULAT PENUH SEPERTI NEGARA-NEGARA LAINNYA DI DUNIA.

a share from WA group.
 TOKOH-TOKOH PENTING DIBALIK LAHIRNYA PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945




KOREA DAN INDONESIA MERDEKA HANYA SELANG 2 HARI SAJA....?



Indonesia dan Korea Selatan merdeka pada hari yang berdekatan.
-Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945,
-Korea Selatan merdeka pada tanggal 15 Agustus 1945.

Walaupun hanya beda 2 hari, Korea Selatan yang dahulu "LEBIH MISKIN"  dari Indonesia.

Tapi sekarang  Korea berhasil menempati urutan papan atas Negara Maju. di Dunia.  Padahal kita memulai titik start membangun bangsa hanya selisih dua hari saja.

Hmmm .... hanya berbeda 2 hari tapi bisa berbeda segalanya … ! 
Kok bisa ya...?

Mari kita cermati beberapa persamaan dan perbedaan Pola Pikir dan Pola Hidup Bangsa Korea dan Bangsa Indonesia.

Orang Korea tidak merayakan 15 Agustus-an seperti kita di Indonesia.

Mereka hanya mengibarkan bendera, sudah.
Tidak ada umbul-umbul, spanduk, lomba-lomba, apalagi peringatan yang meriah.

Apakah tanpa semua itu mereka tidak cinta negaranya?

Jawabannya, pasti tidak!

Orang Korea, tidak ada yang tidak cinta negaranya.

Jika di Indonesia sejak zaman Orde Baru di tiap kantor dipasang foto presiden dan wakil presiden, di Korea mereka hanya memasang bendera negaranya. Mengapa...?

Bagi mereka, "Siapapun presidennya, negaraku tetap Korea". 

Bagi mereka, Presiden dan Wakil Presiden bukanlah Negara tapi hanya pengemban Tugas Negara.

Presiden adalah milik semua bangsa Korea dan bukan hanya sebagian golongan saja.  Jadi semua bangsa bersatu membangun Korea siapapun presidennya.

Setelah kemerdekaan Korea dari Jepang, mereka masih harus melewati fase perang saudara hingga akhirnya pecah menjadi Korea Utara dan Korea Selatan.

Saat itu, orang Korea teramat miskin, hingga makan nasi (yang merupakan kebutuhan pokok) saja susah.

Sehingga setiap bertemu, satu sama lain mereka akan bertanya “밥을 먹었어요?” (“Sudah makan nasi?”), jika belum maka akan diajak makan.  Begitulah solidaritas kebangsaan yang dimiliki oleh setiap orang di KOREA.

Begitu pula dengan kerja keras, sudah tidak diragukan lagi hasil nyata dari kerja keras Korea Selatan saat ini. Kita bisa lihat dari banyaknya produk berteknologi canggih yang membanjiri dunia termasuk Indonesia.

Pesan dari Presiden Korea saat itu,
“Let’s work harder and harder. Let’s work much harder not to make our sons and daughters sold to foreign countries.”

"Ayo kita bekerja lebih keras dan lebih keras, Ayo kita bekerja lebih keras untuk tidak membuat anak-anak kita dijual ke luar negeri"

Dan kemudian ditutup oleh quote ini,
“Now, we promise that we will hand over a good country to our sons and daughters, we will give you the country worthy to be proud as well.”

"Sekarang, kita berjanji bahwa kita akan menyerahkan sebuah negara yang baik untuk putra dan putri kita, kita akan memberikan negara yg layak untuk dibanggakan oleh anak-anak kita"

Lihatlah betapa nasionalisnya orang Korea, ketika mereka merantau di negara asing semisal Indonesia,  mereka hanya mau membeli produk-produk bermerek "Korea" kecuali jika memang tidak ada produk Korea yang di jual di negera tersebut.

Bisakah kita Indonesia seperti Korea...???
Bisakah kita bersatu dan berpikir seperti mereka..???
Bisakah kita memiliki Nasionalisme seperti bangsa Korea...???

Jika tidak, jangan Mimpi Indonesia bisa menjadi negara Maju seperti Korea.

Tolong sebarkan pesan ini untuk seluruh anak bangsa

Terimakasih untuk anda yang telah ikut membangunkan anak bangsa melalui artikel ini.

Salam Kemerdekaan INDONESIA

tulisan ini di share dari sahabat Yayoek,
Anggota Resimen Mahasiwa, Batalion 8 UI 1989-1994

INTI GERAKAN INDONESIAN STRONG FROM HOME




"Bagaimana kita bisa mengubah negeri ini menjadi lebih baik, jika mengubah keluarga kita sendiri saja belum mampu..?"

"Bagaimana kita bisa mengubah keluarga kita jadi lebih baik, jika mengubah diri kita sendiri kita menjadi lebih baik saja belum mampu..?"

"Jadi jika ingin bangsa ini berubah menjadi lebih baik, tidak usahlah terlalu banyak teori yang rumit-rumit,  mulailah dari keluarga kita lebih dahulu....dan mulailah dari diri sendiri. "

Itulah inti dari GERAKAN INDONESIAN STRONG FROM HOME

"MENGUBAH NEGERI MULAI DARI KELUARGA DAN DIRI SENDIRI."

-ayah edy-
www.ayahkita.com