SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Kamis, 18 Agustus 2016

MENGAPA ADA ORANG TUA YANG SUKSES TAPI JUGA ADA YANG GAGAL MENDIDIK ANAKNYA...?



Hampir setiap minggu saya memberikan program parenting, yakni sebuah program yang bertujuan untuk melatih para orangtua agar bisa memahami dan mendidik anaknya dengan cara yang lebih tepat sehingga kelak mereka akan menjadi orangtua yang dicintai oleh anaknya dan anaknya pun akan sukses mencapai potensi terbaik yang dimilikinya.

Dalam program parenting biasanya saya selalu menyampaikan bahwa dengan cara kita mendidik maka kita bebas untuk menentukan apakah kita akan menjadi orangtua yang ditakuti atau menjadi orangtua yang dicintai oleh anak kita. Secara pribadi saya katakan, jika saya menjadi anak tentunya mendambakan sebuah cara mendidik yang menjadikan saya patuh kepada orangtua karena saya mencintainya bukan karena saya takut kepadanya.

Tipe peserta parenting program beragam. Ada yang pasif, tetapi ada pula yang kritis dan berani berkata jujur.

Pernah seorang peserta menyela presentasi saya dan mengatakan, “Ayah Edy, maaf ya ... menurut saya program ini sepertinya enggak perlu, jujur saja, orangtua saya dulu tidak pernah ikut parenting program semacam ini, tapi kok ya saya juga jadi orang gitu lho. Lalu Anda sendiri bagaimana, apakah orangtua Anda dulu juga ikut program parenting gitu, lho?”

Wah, rupanya peserta saya ini selain kritis, berani, jujur, juga ternyata cukup gaul gitu, lho!

Saya menjawab bahwa saya bahagia sekali dengan adanya pernyataan spontan seperti itu yang disampaikan secara terbuka di depan umum. Karena selama ini sesungguhnya saya khawatir dan sudah menduga pasti ada orangtua yang berpikiran semacam ini. Namun, mungkin mereka tidak mau menyampaikan secara terbuka, melainkan hanya disimpan di dalam hati. Ini tentunya akan menjadi faktor penghambat terbesar bagi usahanya untuk menjadi orangtua yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Saya teringat salah seorang praktisi pendidikan anak pernah mengatakan bahwa kesalahan besar para orangtua dalam mendidik anak adalah dengan selalu melihat ke belakang dan bukannya melihat ke depan. Ibaratnya, seperti orang yang berjalan, jika kita selalu melihat ke belakang, kira-kira apa yang akan terjadi? Menurutnya lagi, ada dua kemungkinan besar penyebab mengapa walaupun orangtua kita dulu tidak mengikuti program parenting, tetapi anaknya tetap bisa mencapai sukses.

1. Naluri yang tepat dari orangtua
Setiap orangtua memiliki naluri mendidik anak, yang pada umumnya sebagian besar diwarisi secara turun-temurun dari orangtuanya, dan selanjutnya akan berkombinasi dengan tipologi kepribadiannya sendiri, serta lingkungan sekitar yang membentuknya.

Para orangtua yang mewarisi tradisi mendidik yang baik dari orangtuanya, ditambah dengan pola kepribadian seimbang, serta lingkungan yang baik pula akan melahirkan pola mendidik yang baik pada anaknya. Namun faktanya, tidak semua orangtua memiliki kepribadian seimbang dan tidak semua orang mewarisi cara mendidik yang baik dari orangtuanya. Itu artinya tidak semua orangtua memiliki naluri mendidik yang tepat jika hanya mengandalkan pengalaman masa lalunya.

Seorang peneliti perilaku pernah melakukan penelitian terhadap beberapa pemimpin yang otoriter dan tiran, seperti Hitler dan Pol Pot. Dia menemukan bahwa perilaku para pemimpin tiran itu adalah warisan turun-temurun dari pola didik keluarganya, artinya bahwa cara mendidik yang salah pun ternyata akan berlangsung secara turun-temurun dari generasi ke generasi kecuali ada satu generasi yang mau berusaha untuk mengakhirinya. Dan bagaimana mengakhirinya itulah mengapa program parenting diselenggarakan.

2. Kondisi lingkungan sekarang yang sangat jauh berbeda dengan zaman kita kecil dahulu

Seorang ahli pendidik mengatakan bahwa orangtua berperan 70% dalam proses membentuk pola perilaku anak. Jika orangtua tidak melakukan perannya dengan baik, lingkunganlah yang mengambil peran 70% tadi. Jadi, betapa beratnya tantangan orangtua saat ini yang harus berjuang berebut peran dengan lingkungannya.

Namun, saya yakin kita sepakat bahwa kondisi lingkungan masa kini sangat jauh sekali perbedaannya dengan kondisi lingkungan 30 tahun yang lalu, saat sebagian besar para orangtua dibesarkan.

Mari kita perhatikan perbedaannya. Kondisi lingkungan zaman Kartini dibesarkan tentu sangat jauh berbeda dengan zaman orangtua kita dibesarkan. Begitu juga kondisi lingkungan zaman kita dulu dibesarkan sangatlah berbeda dengan lingkungan zaman anak-anak kita saat ini.

Sementara, menurut penelitian, lingkungan merupakan faktor pembentuk terbesar ketiga terhadap pola perilaku anak setelah orangtua dan guru. Dan lingkungan akan menjadi faktor pembentuk perilaku pertama manakala orangtua dan guru tidak lagi berperan secara efektif.

Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan pergeseran yang terjadi antara generasi kita dan generasi anak kita.

Zaman kita dulu dibesarkan, ya ... masih ingat, ada berapa stasiun TV pada saat itu? Kemudian dari stasiun yang ada kala itu, program-program seperti apa yang banyak ditayangkan dan dicontoh oleh kita?
Bandingkan dengan zaman anak kita dibesarkan, ada berapa stasiun TV yang ada saat ini? Kemudian dari sekian banyak stasiun yang ada, program-program macam apakah yang banyak ditayangkan dan dicontoh oleh anak-anak kita sekarang?

Mari kita perhatikan lagi fakta berikut ini: Penyalahgunaan obat terlarang zaman kita dahulu dibesarkan baru merambah tingkatan perguruan tinggi dan remaja dengan usia rata-rata 25 tahun ke atas. Namun saat ini, penyalahgunaan obat-obat terlarang tersebut sudah merambah ke tingkat anak-anak usia sekolah dasar dan bahkan berhasil menembus masuk ke dalam sekolah.

Lalu, betapa mudahnya anak kita membeli surat kabar berisi berita kekerasan dengan harga yang sangat murah. Betapa video-video porno bebas beredar di tempat-tempat orang berkumpul menunggu angkutan umum dan harganya pun terjangkau oleh uang jajan anak-anak kita.

Wahai para orangtua yang berbahagia, mari sama-sama kita renungkan .... Apakah kita para orangtua dan guru masih mengambil peran utama dalam membentuk perilaku anak-anak kita saat ini? Ataukah justru peran utama itu secara tidak sadar ternyata sudah diambil alih oleh lingkungan.

Kita hidup pada zamannya dan anak kita hidup pada zamannya maka didiklah anak-anak kita sesuai zamannya.

Saya teringat sebuah pesan yang disampaikan oleh seorang yang agung dan bijaksana, begini kira-kira isinya: “Didiklah anakmu sesuai zamannya karena mereka kelak akan hidup di zaman yang berbeda dengan kita.”

Sungguh luar biasa bahwa hal ini telah dicetuskan oleh seorang yang bijak lebih dari 1300 tahun yang lalu, jauh sebelum para pendidik besar zaman ini memperjelas apa maksud mulia yang terkandung di dalamnya.

Wahai para orangtua yang berbahagia, kini semuanya berpulang kepada kita.

Apakah kita ingin tetap mendidik anak-anak dengan berpegang pada kesuksesan masa lalu kita atau kita akan mendidik mereka berdasarkan pandangan jauh ke depan bagi masa depannya.

Semoga kita termasuk ke dalam orangtua dan guru yang optimis.[]

Mari kita belajar Parenting.....

Ayah Edy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar