Indonesia pada hakikatnya merupakan kumpulan dari keluarga yg tersebar dilebih dari 12.000 pulau yg ada di Nusantara. Apabila keluarga2 ini kuat, maka Indonesia akan menjadi Bangsa & Negara yg Kuat dgn sendirinya tanpa perlu konsep yg berbelit-belit & biaya yg membebani negara. Pastikan keluarga & sanak famili kita di seluruh tanah air telah bergabung dlm GERAKAN MEMBANGUN INDONESIA YANG KUAT DARI KELUARGA. Kalau bukan kita, siapa lagi ? Kalau bukan sekarang, kapan lagi ?
SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk
Tuesday, September 6, 2016
Berhentilah menjadi GURU DAN DOSEN KILLER !
Peristiwa ini terjadi pada anak pak Rhenald, kira-kira sudah lebih dari 16 tahun yg lalu, Pertanyaan besarnya adalah;
Apakah tradisi pendidikan semacam ini masih juga dialami oleh anak-anak kita di sekolah mereka hingga hari ini ?
SISTEM PENDIDIKAN YG MENGHUKUM & MENGHAKIMI
Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)
Kira-kira enam belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
...Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan.
Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.
Copas dari Copasan
TIDAK PERLU KHAWATIR JIKA ADA YANG BERKOMENTAR SINIS TERHADAP APA YANG KITA LAKUKAN
Sebaik apapun yang kita lakukan pasti akan ada orang yang mengkritik dan membencinya.
Tapi aku tidak peduli karena aku melakukan semua ini bukan karena aku ingin disukai melainkan karena aku yakin ini benar.
Aku tidak peduli pada orang yang memuji atau membenciku, karena ini bukanlah persoalan antara aku dengan mereka, tapi antara aku dan Tuhanku.
Karena setiap apa yang kita lakukan di bumi ini adalah sebuah persembahan dari kita kepada Tuhan, dan bukan kepada mereka.
Mother Teresa
TAHUKAH KITA SUMBER-SUMBER PERILAKU BURUK ANAK KITA ? DAN BAGAIMANA CARA MENGATASINYA ?
Sumber Perilaku:
1. Sumber perilaku Televisi ?
Solusi:
Jual Tvnya dan Ganti dengan aktivitas fisik, atau ganti saluran tv dengan dvd dengan memilih film2 edukasi yang dibutuhkan oleh anak kita.
2. Ketidaktahuan mendidik anak atau pola asuh orang tua
Solusi:
* Belajar mendidik anak lebih baik dari buku-buku parenting seperti buku 37 Kebiasaan orang tua yang melahirkan perilaku buruk anak dan Ayah Edy menjawab.
* Belajar mendidik anak lebih baik dari CD Parenting Gratis Ayah Edy yang bisa di dapat dengan cara
*. Mengunduh filenya secara gratis melalui situs: https://onedrive.live.com/?cid=3a914018e2d83d92&id=3A914018E2D83D92!131
* Membeli 2 buah buku Ayah Edy terbitan Noura Books di Gramedia Jabodetabek, berhadiah gratis langsung di kasir 1 Keping CD Parenting Ayah Edy.
*. Beli 1 buku Ayah Edy melalui fb Ayah Edy - online shopping berhadiah gratis 1 keping CD Talkshow Parenting Gratis. klik link : https://www.facebook.com/NBTravelnTour?fref=ts
Sumber Perilaku
3. Pergaulan buruk di sekolahnya
Solusi:
Pindahkan ke sekolah yang lebih peduli akhlak etika perilaku moral ketimbang angka dan nilai semata.
Jika tidak ada sekolah yang seperti itu, maka coba belajar menghome schoolingkan anak. bisa baca infonya di: http://ayahkita.blogspot.com/2014/08/pertanyaan2-yang-paling-sering.html
Sumber perilaku
4. Pergaulan di Rumah ?
Solusi, berikan banyak kursus atau aktivitas yang sesuai minat dan bakat anak kita dan batasi akses bergaul dengan lingkungan yang kurang baik.
Ada yang ingin menambahkan atau share silahkan tuliskan di kolom komentar tksh.
1. Sumber perilaku Televisi ?
Solusi:
Jual Tvnya dan Ganti dengan aktivitas fisik, atau ganti saluran tv dengan dvd dengan memilih film2 edukasi yang dibutuhkan oleh anak kita.
2. Ketidaktahuan mendidik anak atau pola asuh orang tua
Solusi:
* Belajar mendidik anak lebih baik dari buku-buku parenting seperti buku 37 Kebiasaan orang tua yang melahirkan perilaku buruk anak dan Ayah Edy menjawab.
* Belajar mendidik anak lebih baik dari CD Parenting Gratis Ayah Edy yang bisa di dapat dengan cara
*. Mengunduh filenya secara gratis melalui situs: https://onedrive.live.com/?cid=3a914018e2d83d92&id=3A914018E2D83D92!131
* Membeli 2 buah buku Ayah Edy terbitan Noura Books di Gramedia Jabodetabek, berhadiah gratis langsung di kasir 1 Keping CD Parenting Ayah Edy.
*. Beli 1 buku Ayah Edy melalui fb Ayah Edy - online shopping berhadiah gratis 1 keping CD Talkshow Parenting Gratis. klik link : https://www.facebook.com/NBTravelnTour?fref=ts
Sumber Perilaku
3. Pergaulan buruk di sekolahnya
Solusi:
Pindahkan ke sekolah yang lebih peduli akhlak etika perilaku moral ketimbang angka dan nilai semata.
Jika tidak ada sekolah yang seperti itu, maka coba belajar menghome schoolingkan anak. bisa baca infonya di: http://ayahkita.blogspot.com/2014/08/pertanyaan2-yang-paling-sering.html
Sumber perilaku
4. Pergaulan di Rumah ?
Solusi, berikan banyak kursus atau aktivitas yang sesuai minat dan bakat anak kita dan batasi akses bergaul dengan lingkungan yang kurang baik.
Ada yang ingin menambahkan atau share silahkan tuliskan di kolom komentar tksh.
Dibalik para Pria sukses selalu ada wanita luar biasa ...?
Suatu hari Obama pernah cemburu karena Istrinya sempat berjumpa dengan mantan "pacarnya" di sebuah Cafe.
Obama : "Untung ya dulu kamu menikah sama saya, kalau tidak kamu hanya jadi Istri seorang pemilik Cafe"
Michelle : "Oh.....sesungguhnya kamulah yg beruntung, seandainya saja dulu dia yang menikahi saya maka dialah yang akan jadi Presiden kita saat ini......."
jawab Michelle sambil tersenyum.....
NOW WE CAN LEARN PARENTING ANYTIME & ANYWHERE
Yuk ikuti terus bahasannya via Parenting Talkshow di youtube
Inilah Program terbaru persembahan dari Ayah Edy & Lights on Production
Menyaksikan parenting talkshow di tv?
wah repot..., karena waktu tayangnya belum tentu pas dengan waktu senggang kita.
Menyaksikan parenting talkshow ayah edy di youtube....?
Bisa Kapan saja....
Bisa Dari mana saja....
Bisa di ulang-ulang sampai kita paham benar isinya.
Yuk saksikan program terbaru Parenting Talkshow on Youtube by ayah edy dan presenter Feni Rose
klik: https://www.youtube.com/watch?v=TGt2n0J32LM
RENUNGAN TERBAIK
KOMENTAR MU MENENTUKAN NASIB MU, dan bukan nasib orang yang kamu komentari.
Ketika kita selalu berpikir positif maka hal-hal positiflah yang akan kita jumpai di sepanjang waktu kehidupan kita.
dan ketika kita selalu berpikir negatif maka hal-hal negatiflah yang akan selalu kita jumpai setiap hari.
Jadi jangan mengeluh jika kita termasuk orang-orang yang selalu merasakan pengalaman yang negatif dan tidak menyenangkan di sepanjang hidup kita.
Karena kita dan pikiran kita senidrilah penyebabnya.
Jadi mari kita ubah cara berpikir kita saat ini juga agar kita tidak lagi menjumpai pengalaman negatif dan tidak menyenangkan.
Nah sekarang mari kita cek cara berpikir kita yang tercermin dari komentar-komentar kita setiap hari :
1. Melihat rekan kerjanya naik jabatan
Orang postif : Saya akan belajar dari dia.
Orang negatif: Pasti dia pinter bgt cari muka
2. Melihat orang pergi Haji
Orang positif : Ya Allah semoga kelak aku bisa seperti dia
Orang negatif: Hajinya paling cuma buat pamer-pamer doang.
3. Membaca status di fb
Orang Positif : terimakasih untuk infonya izin share ya
Orang negatif: ah infonya basi saya sudah pernah baca kok
4. Membaca status humor di fb
Orang positif: terimakasih telah bisa membuat saya tersenyum pagi ini
Orang negatif: Garing ! gak lucu !
5. Turun Hujan
Orang Positif : Alhamdullilah udaranya jadi sejuk
Orang Negatif: Ah kalo pas lagi perlu terang malah hujan, Dasarr Sial !!
6. Dapat Gaji
Orang positif : Alhamdullilah bisa buat bayar-bayar kebutuhan
Orang Negatif: Percuma gajian juga gak cukup buat bayar2 kebutuhan
7. Punya Suami
Orang Positif : Alhamdullilah meskipun gajinya tidak besar tapi suamiku baik dan penuh perhatian.
Orang negatif : Percuma punya suami baik, kalo gak bisa cukupin kebutuhan rumah tangga.
8. Melihat orang berpakaian Sederhana
Orang positif : duh dia orang yang sederhana sekali ya meskipun pejabat.
Orang Negatif: Pejabat Tinggi tapi penampilannya kok kampungan gitu sih.
9. Punya Motor
Orang Negatif : Begini neh kalo naek motor, kalo pas ujan basah kuyup gak kayak orang yang punya mobil.
Orang Positif: Alhamdullilah punya motor, enaknya naik motor itu kalo pas panas gak kehujanan dan kalo pas hujan gak kepanasan.
10. Membaca postingan ini
Orang Positif: Terimakasih sudah diingatkan, mohon izin sharing ya biar manfaat bagi yang lain.
Orang Negatif: "Gak mau baca" karena dianggap menyindir dan menyinggung.
Yang manakah kita....? akan menentukan nasib kita.
Mau ubah nasib ? ubah cara berpikir kita dan komentar kita setiap hari.
di tulis dari pengalaman pribadi setiap hari bertemu dengan orang-orang berpikir positif dan negatif
by ayah edy
Orang yang negatif thinking akan selalu berpikir its impossible....
Orang yang positif thinking akan selalu berpikir I am - Posssible....
Beda tipis di kata tapi beda jauh di hasil
by ayah edy
Alhamdullilah baru pulang dari Olah Raga Pagi.
Kita tahu olah raga itu menyehatkan tubuh dan bahkan jauh lebih baik dari obat apapun.
Tapi apakah kita sudah melakukannya...?
Iam possible atau Impossible...?
Selama lebih dari 7 tahun saya membimbing anak-anak yang sering kali dinyatakan bermasalah di sekolahnya.
Alhamdullilah 90% mereka sekarang malah menjadi anak-anak yang sukses di sekolah atau dibidangnya masing-masing.
Dan banyak yang berkarir di Luar Negeri sebagai putera-puteri Indonesia yang sukses menembus dunia.
Cara kami membimbing mereka dan beberapa diantara kisah sukses tersebut kami tuliskan di buku ini
Silahkan di baca sendiri bukunya tersedia di semua toko buku di Indonesia.
ayah edy
Alhamdullilah 90% mereka sekarang malah menjadi anak-anak yang sukses di sekolah atau dibidangnya masing-masing.
Dan banyak yang berkarir di Luar Negeri sebagai putera-puteri Indonesia yang sukses menembus dunia.
Cara kami membimbing mereka dan beberapa diantara kisah sukses tersebut kami tuliskan di buku ini
Silahkan di baca sendiri bukunya tersedia di semua toko buku di Indonesia.
ayah edy
JANGAN ASAL MEMILIH PASANGAN HIDUP DAN JANGAN PILIH PASANGAN HIDUP YANG ASAL..?
Anak-anak yang perikalunya bermasalah, sering kali bersumber dari perilaku orang tuanya yang bermasalah dan hubungan orang tuanya yang tidak harmonis.
Hubungan orang tua yang tidak harmonis teryata seringkali bersumber dari proses memilih pasangan hidup yang tidak tepat.
Proses pemilihan pasangan hidup yang tidak tapat sering kali bersumber dari tidak adanya bimbingan dan panduang bagaimana agar kita bisa menemukan pasangan hidup yang paling cocok dan pas bagi kita.
Saat ini kami sedang menulis sebuah buku, rencananya buku tersebut akan diberi judul, panduan memilih pasangan yang terbaik buat kita atau langkah-langkah menemukan belahan jiwa sejati kita.
Buku ini kami tulis sebagian besar bersumber dari pengalaman hidup kami juga karena keprihatinan kami melihat begitu banyak pasangan muda yang baru saja menikah, namun tak lama sudah berpisah....
Memilah dan memilih pasangan yang tepat bukanlah perkara yang gampang...., baik bagi laki-laku juga bagi perempuan.....
So.... sepertinya kita butuh panduan agar tidak menyesal di kemudian hari.
Ada beberapa pesan penting yang disampaikan dalam buku tersebut adalah
"Pilihlah pasangan karena kebaikan hatinya dan bukan karena penampilan fisiknya saja."
"Pilihlah pasangan yang bisa diajak berjuang mencapai sukses bersama-sama dan bukan hanya mau enaknya saja.."
"Pilihlah pasangan karena visi besar masa depannya dan bukan karena apa yang telah dimilikinya saat ini"
Semoga buku ini kelak bisa membantu para pasangan yang sedang "Galau" memastikan pasangan hidup belahan jiwanya yang akan membawanya pada kesuksesan dan keharmonisan hidup mendatang.
Mohon doa dan dukungannya ya ayah bunda juga para sahabat muda yang tergabung di komunitas ini.
Teruslah simak semua postingan ayah edy di fbnya via link berikkut ini:
Klik: https://www.facebook.com/AYAH-EDY-Parenting-141694892568287/?fref=ts
Bagaimana agar Anak Kita Terhindar dari Narkoba?
“Ma, si Aldi dikeluarkan dari sekolah,” ucap Jerry pada mamanya sepulang sekolah.
“Hah? Aldi? Kenapa, Nak?” tanya Dita kaget.
“Aldi ketahuan ngobat, Ma.”
“Maksudnya?”
“Narkoba, Ma.”
“Ya Tuhan ....” Lutut Dita langsung lemas mendengarnya. Bagaimana tidak, ia mengenal Aldi sejak kecil. Aldi dan Jerry satu sekolah sejak SD hingga kini SMA. Jerry dan keluarganya juga bertetangga dengan mereka.
Dita selalu mengingat Aldi sebagai bocah gendut yang lucu. Namun sekarang, ia terjerat narkoba dan dikeluarkan dari sekolah?
Sekarang, jantung Dita berdebar kencang. Bila Aldi bisa terjerat narkoba, bukan tak mungkin putranya sendiri suatu hari mengalami hal serupa.
Bukankah Jerry dan Aldi tinggal dan bersekolah di tempat yang sama? Berarti, lingkungan dan teman-teman mereka juga sama.
Nah, lho ... Dita mulai paranoid dan berprasangka buruk terhadap anaknya sendiri. Dita tahu ini tidak baik, tetapi ia tak bisa menahan rasa khawatirnya. Apa yang harus ia lakukan agar Jerry tetap menjadi “anak manis”?
Aduh ... Ayah Edy, bagaimana menjauhkan anak dari bahaya narkoba? Toloooooooooooooooong ....
Jawaban Ayah Edy:
Ayah-Bunda pembelajar ....
Segala masalah anak biasanya bersumber dari ketidakharmonisan atau ketidakpandaian orangtua dalam mendidiknya. Mari kita bahas hal ini satu per satu:
Satu, ketidakharmonisan orangtua.
Mengapa pasangan suami-istri tidak harmonis? Menurut saya, karena konsep pacaran kita salah. Banyak pasangan yang sebelum menikah berpacaran, tetapi konsep pacarannya hanya “bersenang-senang”. Saya sangat tidak menyetujui konsep pacaran “senang-senang” ini. Pacaran adalah tahap penjajakan sebelum berumah tangga. Dalam tahap ini, pasangan seharusnya membicarakan hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum pernikahan. Tentu saja, yang saya maksud bukan sekadar persiapan resepsi pernikahan. Yang harus dilakukan adalah mengukur bagaimana respons pasangan jika mengalami berbagai masalah saat berumah tangga nanti. Dengan begitu, kita bisa menilai apakah kelak kita akan harmonis.
Tentang ini telah saya seang tuliskan sangat detail dalam buku Jangan Asal Memilih Pasangan Jika Tidak Ingin Menyesal di Kemudian Hari.
Dua, ketidakmampuan orangtua dalam mendidik anak.
Harmonis saja tidak cukup. Selanjutnya orangtua harus belajar parenting. Ini adalah proses yang panjang. Bukan berarti orangtua mengikuti seminar parenting lima kali, lalu langsung pintar. Saya sendiri baru belajar selama lebih dari 14 tahun dan masih terus berproses. Saya terus menemukan hal-hal baru dalam dunia parenting.
Jadi, yang penting, orangtua rutin menambah ilmu dan terus berkembang.
Pasangan suami-istri yang harmonis dan mau terus mempelajari ilmu parenting adalah modal untuk membangun kedekatan dengan anak. Harapan kita, anak akan lebih dekat dengan orangtuanya daripada lingkungannya.
Sebaliknya bila orangtua tidak harmonis dan malas belajar, anak akan cenderung lebih dekat dengan lingkungannya daripada ayah-ibunya. Selanjutnya, lihat saja lingkungan mana yang mendekatinya. Jika lingkungan pemakai narkoba yang mendekatinya, kemungkinan besar ia akan memakai narkoba juga. Jika lingkungan peminum yang mendekati, kemungkinan ia akan menjadi peminum juga. Bila lingkungan perokok, ya ia akan merokok.
Jadi, kembali ke pertanyaan di atas: Bagaimana menjauhkan anak dari narkoba?
Caranya, dekatilah anak. Upayakan agar anak dekat dengan kedua orangtuanya. Anak bermasalah biasanya karena ia tak dekat dengan orangtua sehingga melakukan kompensasi. Ia marah, tetapi tak bisa menyakiti orangtuanya. Ia membalas dendam dengan cara menyakiti dirinya sehingga orangtuanya pun tersakiti.
Bagaimana bila orangtua telanjur tidak harmonis dan tidak dekat dengan anak?
Ayah-Bunda, selama menjadi konsultan parenting, saya telah menemui berbagai macam kasus. Dari kasus anak alkoholik sampai transgender. Saran saya sama: minta maaf pada anak dan bertobat.
Ya, tundukkanlah ego kita sebagai orangtua yang merasa sebagai orang PALING BENAR. Bertobatlah dan meminta maaflah pada anak atas semua kesalahan dan dosa-dosa yang pernah kita lakukan padanya. Dan, ajaklah ia untuk memulai hidup baru yang lebih baik.
Pertama, minta maaf dengan tulus tanpa perlu merasa takut dan khawatir anak menjadi tidak respek pada orangtua. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, anak akan kaget, tidak percaya, dan akhirnya akan respek pada kerendahan hati orangtuanya.
Ratusan anak curhat pada saya menantikan orangtua mereka meminta maaf dan mengakui dengan jujur kesalahan mereka dalam mendidik. Namun, sayangnya amat jarang orangtua yang mau melakukan hal ini, hingga akhirnya anaknya putus asa.
Namun, saya yakin dan Tuhan pun tahu jika Anda sedang membaca buku ini sekarang, itu menandakan Anda sudah mau menyadari kesalahan selama ini sebagai orangtua, siap untuk bertobat, dan minta maaf pada anak.
Menyadari kesalahan tentu takkan berarti bila Anda belum meminta maaf atas kesalahan yang Anda perbuat.
Dua, akuilah bahwa masalah apa pun yang terjadi pada anak, tidak terlepas dari kesalahan ayah dan bundanya. Saat orangtua menunjuk anak sebagai “pembuat onar” atau “tukang bikin gara-gara”, hanya satu jari yang menunjuk anak. Jemari lainnya menunjuk pada diri kita sendiri.
Permintaan maaf bukan sekadar kata-kata kosong. Sampaikan maaf Anda padanya dengan tulus dan ekspresi yang menunjukkan ketulusan itu. Kalaupun Anda tak dapat menahan air mata, tak perlu malu. Anak pasti bisa membedakan, mana permintaan maaf yang tulus dan mana yang tidak, atau PALSU.
“Nak, maafkan Ayah dan Bunda selama ini. Kami yang salah, kami yang berdosa. Selama ini, kami tidak becus menjadi orangtua buat kamu. Kami tak tahu caranya menjadi orangtua yang baik.
Segala pertengkaran kita selama ini, Ayah dan Bunda yang salah.”
“Apa pun masalah yang sedang kamu hadapi sekarang, kami juga ikut bertanggung jawab. Seandainya kami tidak lalai, kamu pasti takkan menghadapi masalah ini. Mau enggak kamu memaafkan Ayah dan Bunda, Sayang?”
Jika perlu peluklah anak saat berbicara dari hati ke hati ini. Anak mungkin akan kaget dan heran menerima permintaan maaf seperti ini. Namun, jika Anda benar-benar tulus meminta maaf, hatinya pasti tersentuh, walau ia sok cuek atau memasang wajah masa bodoh. Jika ia sudah mengangguk atau mengatakan, “Oke,” saatnya Ayah dan Bunda bertobat.
Tiga, bertobat dan libatkan anak dalam pertobatan ini.
Maaf dan tobat adalah dua hal berbeda. Maaf berarti menyadari kesalahan kita, sedangkan tobat adalah tekad untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Tobat menunjukkan keseriusan kita untuk berubah.
Ambil selembar kertas, lalu katakan pada anak, “Kamu mau membantu Ayah dan Bunda berubah, enggak? Tanpa bantuan kamu, kami tak mungkin bisa berubah. Tolong tuliskan sepuluh hal yang harus kami ubah, Nak. Atau sepuluh hal yang selama ini menyakiti kamu dan membuat kamu menderita. Kami tidak mau melakukannya lagi.”
Empat, tak perlu menolak atau membela diri.
Jika anak sudah menuliskan sepuluh hal yang menurutnya perlu diubah dari Anda, terimalah sepenuh hati. Tanyakan padanya, dari kesepuluh hal itu, mana yang menurutnya paling pertama harus diubah. Atau katakan Anda akan mencoba mengubah satu per satu, mulai dari yang Anda anggap paling bisa Anda lakukan terlebih dahulu.
Dalam proses ini, pasanglah mental baja untuk dikritik, diberi masukan, dan dievaluasi oleh anak. Misalnya bila anak menulis bahwa Anda selama ini pemarah, “tukang kritik” atau “sering menuduh yang bukan-bukan”, jangan sampai mengeluarkan reaksi, “Ah, masa sih Bunda seperti itu? Sepertinya enggak, deh. Kamu jangan mengarang, dong.”
Proses yang sedang kita lakukan ini sama saja dengan bercermin, lalu pantulan di cermin memperlihatkan ada cabai menyelip di gigi Anda, lalu Anda berkata, “Ah, masa sih ada cabai di gigiku. Sepertinya enggak ada, deh.” Kemudian, Anda menuding cerminnya yang tidak beres.
Sekali lagi, terima saja. Terimalah apa pun yang dituliskan anak tentang diri Anda. Mengapa? Karena begitu orangtua rela dikritik oleh anak, anak akan bersedia dikritik oleh orangtua.
Pesan saya, bila Anda sudah mau dikoreksi dan berubah, jangan langsung meminta anak untuk berubah juga. Percayalah, anak otomatis akan berubah dengan sendirinya, karena anak adalah peniru yang ulung. Jika ia tidak berubah, nuraninya pasti terusik dan ia akan malu hati. Orangtuanya saja mau berubah, masa ia tidak?
Namun, sebagai penegasan, Ayah-Bunda boleh berkata padanya, “Bila Ayah dan Bunda berubah, kira-kira kamu juga mau berubah enggak ya, Sayang?”
Mengapa anak yang “rusak” tak mau berubah? Itu karena orangtuanya juga tidak mau berubah. Ketika anak bermasalah, orangtua datang ke terapis dan minta anaknya diterapi. Orangtua berkata, “Tolong perbaiki anak saya.” Namun, berapa banyak orangtua yang datang ke terapis dan bertanya, “Tolong perbaiki diri saya.”
Maukah Anda datang ke terapis dan berkata, “Ada apa dengan saya sehingga saya berperilaku seperti ini dan akibatnya anak saya bermasalah?”
Ayah-Bunda tersayang, ingatlah bahwa Tuhan Mahabaik. Segala yang terjadi pada kita sebenarnya bukan masalah, melainkan pelajaran. Tuhan memberi kita pelajaran dari cara yang terhalus sampai terkeras. Pelajaran ini diberikan secara bertahap oleh Tuhan.
Ketika anak mulai menjauh dari orangtuanya, sadarkah kita?
Ketika anak mulai bermasalah, sadarkah kita bahwa sumber masalahnya terletak pada diri kita, orangtuanya?
Bila orangtua tak kunjung sadar, maka teguran Tuhan akan semakin keras. Karena itu bukalah mata. Sadarlah. Rengkuhlah anak-anak kita. Jangan biarkan mereka menjauh dan terjatuh dalam lingkungan yang salah.
Perbaikilah diri kita maka anak akan memperbaiki dirinya.
ditulis ulang dari buku Mendidik Anak ABG, buku ayah edy warna Biru. tersedia di Gramedia dan semua toko buku
FAKTA MENGERIKAN TENTANG PERILAKU SEKS BEBAS REMAJA INDONESIA
Meningkatnya budaya seks bebas di kalangan pelajar mulai mengancam masa depan bangsa Indonesia. Bahkan perilaku seks pra nikah tersebut dari tahun ke tahun meningkat.Pendataan yang dilakukan oleh Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Masri Muadz, menunjukan kasus tersebut menunjukkan peningkatan yang semakin miris bagi kita.
Menurut penuturan Masri kepada okezone, belum lama ini, Wimpie Pangkahila pada tahun 1996 melakukan penelitian terhadap remaja SMA di Bali. Dia mengambil sampling 633. Kesemuanya memiliki pengalaman berhubungan seks pra nikah, dengan persentase perempuan 18% dan 27% laki-laki.
Sedangkan penelitian Situmorang tahun 2001 mencatat, laki-laki dan perempuan di Medan mengatakan sudah melakukan hubungan seks dengan komposisi, 9% perempuan dan 27% laki-laki.
Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) di tahun 2002-2003, remaja mengatakan mempunyai teman yang pernah berhubungan seksual pada: usia 14-19 tahun, perempuan 34,7%, laki-laki 30,9%. Sedangkan pada usia 20-24 tahun perempuan 48,6% dan laki-laki 46,5%.SKRRI pun melanjutkan analisanya pada tahun 2003 dengan memetakan beberapa faktor yang mempengaruhi mereka melakukan seks pra nikah.Menurut SKRRI, faktornya yang paling mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seksual antara lain:
Pertama, pengaruh teman sebaya atau punya pacar. Kedua, punya teman yang setuju dengan hubungan seks para nikah. Ketiga, punya teman yang mendorong untuk melakukan seks pra nikah.Di tahun 2005 Yayasan DKT Indonesia melakukan penelitian yang sama.
DKT memfokuskan penelitiannya di empat kota besar antara lain: Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Medan.Berdasarkan norma yang dianut, 89% remaja tidak setuju adanya seks pra nikah.
Namun, kenyataannya yang terjadi di lapangan, pertama, 82% remaja punya teman yang melakukan seks pra nikah. Kedua, 66% remaja punya teman yang hamil sebelum menikah.
Ketiga, remaja secara terbuka menyatakan melakukan seks pra nikah.Persentase tersebut menunjukkan angka yang fantastis. Jabodetabek 51%, Bandung 54% Surabaya 47% dan Medan 52%.Tahun 2006, PKBI menyebutkan, pertama, kisaran umur pertama kali yakni 13-18 tahun melakukan hubungan seks.
Kedua, 60% tidak menggunakan alat atau obat kontrasepsi. Ketiga, 85% dilakukan di rumah sendiri.Sementara merujuk pada data Terry Hull dkk (1993) dan Utomo dkk (2001), PKBI menyebutkan, 2,5 juta perempuan pernah melakukan aborsi per tahun dan 27% atau kurang lebih 700 ribu remaja dan sebagian besar dengan tidak aman. Selain itu 30-35% aborsi penyumbang kematian ibu.Pada 2007 SKRRI melakukan penelitian kembali.
Ketiga, meningkat jauh dari SKRRI 2002.Keempat, jumlah remaja 15-24 tahun sekira 42 juta jiwa, berarti sekira 37 juta jiwa remaja membutuhkan alokon tidak terpenuhi (unmet need berKB kelompok remaja).Kelima, kelompok ini akan tetap menjadi unmet need. Sebab dalam undang-undang No 10 tahun 1992, pelayanan KB hanya diperuntukkan bagi pasangan suami istri, sesuai dengan pemilihannya.
=========================================
Bahkan, temuan Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Penelitian Bisnis dan Humaniora (LSCK-PUSBIH) di tahun 2008 lebih mengagetkan lagi. LSCK-PUSBIH melakukan penelitian terhadap 1.660 mahasiswi di Yogyakarta.Hasil yang mereka dapatkan, 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang kegadisannya dan 98 orang mengaku pernah melakukan aborsi.
========================================
Penelitian Komnas Perlindungan Anak (KPAI) di 33 Provinsi pada bulan Januari-Juni 2008 menyimpulkan empat hal: Pertama, 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno. Kedua, 93,7% remaja SMP dan SMA pernah ciuman, genital stimulation (meraba alat kelamin) dan oral seks. Ketiga, 62,7% remaja SMP tidak perawan. Dan yang terakhir, 21,2% remaja mengaku pernah aborsi.
Dari sekian lembaga penelitian di atas, menurut Masri, semua elemen harus ikut telibat memberi andil mencari solusi meminimalisir perilaku seks pra nikah. “Budaya ini diam-diam mengancam bangsa Indonesia. Tentu ini membutuhkan penanganan khusus demi mengembalikan budaya timur,” tuturnya.
SUMBER: http://news.okezone.com/read/2010/12/04/338/400182/tiap-tahun-remaja-seks-pra-nikah-meningkat
Kecerdasan itu adalah bawaan lahir setiap anak, itu kata prof. Howard Gardner dari Harvard Univerisity.
Sementara Etika perilaku itu tidak dibawa sejak lahir.
Jadi apa yang kami lakukan pertama kali pada anak kami dan anak-anak murid kami di sekolah adalah mendidik Etika Perilaku dan Moralnya terlebih dahulu sampai menjadi sebuah kebiasaan yang permanen.
Pada saat memberikan parenting rutin di sekolah beberapa waktu lalu seorang tua murid bunda Ratna berkomentar;
"Sungguh bahagia rasanya anak saya memiliki etika perilaku yang menjadi kekaguman diseluruh keluarga kami juga keluarga besar kami".
"Sampai sering kali mereka bertanya, bagaimana kamu bisa mendidik anakmu bisa memiliki etika sopan, santun sebaik ini "
-Ayah Edy & Bunda Ratna-
Sekolah Maha Karya Gangga
Singaraja, Buleleng, Bali
PENYEBAB MENURUNNYA ETIKA PERILAKU SEORANG ANAK DI SEKOLAH
Anak-anak angkatan baru di sekolah kami baru berjalan lebih kurang 2 pekan, ada hal yang menarik yang tidak biasa terjadi.
Anak-anak angkatan baru ini meskipun baru 2 pekan saja, telah banyak mengalami kemajuan perubahan perilaku yang sangat pesat.
Setelah kami telusuri ternyata hal ini bersumber dari para orang tua mereka yang sungguh-sungguh memberikan contoh pola asuh yang baik seperti yang diterapkan di sekolah kami.
Kami juga baru tahu bahwa para orang tua baru angkatan ke 2 ini mengyekolahkan di tempat kami karena mendengar dari para orang tua yang sudah lebih dulu menyekolahkan anaknya di tempat kami. Jadi rupanya mereka datang ke sekolah dengan semangat tinggi untuk siap berubah dan belajar menjadi orang tua yang lebih baik.
Itulah mengapa kami melakukan test kelayakan pola asuh orang tua pada setiap orang tua calon siswa di sekolah kami.
Tapi ada satu hal yang ganjil, angkatan seniornya yang sudah 1 tahun bersekolah di tempat kami, beberapa anak mengalami penurunan perilaku terutama setelah musim liburan yang baru lalu.
Setelah kami telusuri dan kami undang orang tuanya, penurunan perilaku anak ini bersumber dari ketidak konsistenan orang tua dalam menerapkan pola asuh yang selama ini kami anjurkan untuk di terapkan di rumah. Banyak hal-hal yang telah kita sepakati di langgar oleh orang tua semisal, menonton sinetron di tv, bermain game yang mengandung unsur kekerasan dll.
Oleh karena itu beberapa anak yang orang tuanya tidak konsisten ini menjadi perhatian utama kami untuk terus kami pantau dan kami bimbing sampai orang tuanya benar2 mau bekerjasama secara konsisten.
Biasanya kami beri tenggat waktu selama 3 bulan, untuk kami berikan evaluasi lanjutan.
Apa bila dalam 3x3 bulan tidak juga mau berubah, maka kami tawarkan untuk mencari sekolah lain, karena kami tidak ingin perilaku anaknya mempengaruhi perilaku anak-anak lain yang orang tuanya konsisten dan anaknya sudah berperilaku baik.
Kami sungguh tidak ingin bahwa sekolah menjadi pusat kontaminasi penyakit sosial dari perilku anak yang kurang baik yang bersumber dari orang tuanya di rumah. Kami benar-benar melindungi setiap anak dari kasus2 semacam bullying dan sejenisnya.
Namun demikian kami bersyukur bahwa mayoritas orang tua mendukung kebijakan sekolah kami, dan selalu siap untuk di ajak bekerjasama.
Terimakasih untuk ayah bunda orang tua siswa kami yang telah konsisten menjalin kerjasama dengan sekolah untuk kebaikan perilaku putera-puteri kita tercinta di rumah dan di sekolah.
Salam dari hati,
ayah edy
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
Singaraja, Buleleng
Bali.
ORANG-ORANG YANG KEBINGUNGAN AKAN TUJUAN HIDUPNYA
Ada harga tak terbayarkan, yakni sebuah kebahagiaan....
Itulah yang selalu saya rasakan, ketika baru saja memberikan konseling pada salah satu orang dewasa yang masih kebingungan tentang tujuan hidup dan tujuan profesinya.
Banyak sekali ternyata orang yang usianya sudah cukup dewasa katakanlah sudah berusia 30 tahun dan memiliki jabatan yang cukup lumayan tapi hidupnya masih tidak bahagia dan merasa bahwa karir dan posisi ini bukanlah impiannya.
Saya menyebutnya ia sedang mengalami disorientasi tujuan hidupnya.
Hal ini ternyata tidak saja dialami oleh anak-anak dan remaja, tetapi juga dialami para orang dewasa.
Hari ini baru saja membimbing seorang yang sudah dan masih bersekolah di Amerika, yang masih bimbang dan tidak memiliki tujuan yang pasti akan jurusan sekolah yang dipilihnya.
Pernah juga sebelumnya saya membantu seorang yang sudah berprofesi yang menurut orang adalah impian setiap anak Indonesia. Namun masih juga mengalami disorientasi dan bingung.
Ada juga yang sudah menjabat sebagai manager di salah satu perusahan bergengsi tapi juga masih belum merasa pas dan disorientasi.
Mengapa ini terjadi...?
Banyak sekali penyebabnya, salah satu diantaranya adalah karena sepanjang perjalanan kita bersekolah kita tidak pernah belajar tentang hakikat hidup ini... untuk apa kita hidup? Apa tujuan kita terlahir ke dunia ini...? apa sesungguhnya misi hidup kita?
Tanpa memahami ini semua maka disorientasi ini akan terjadi pada siapa saja, berapapun usianya.
Namun saya begitu bersyukur melalui proses konseling yang kita lakukan bersama, akhirnya bisa mengatasi disorientasi yang dialaminya.
Dan ketika ini terjadi saya melihat wajah-wajah bahagia dari mereka, dan tentu saja sayapun merasa bahagia yang tak terhingga.
Semoga Tuhan selalu membimbing langkah kita untuk bisa menjalani dan mencapai misi hidup kita secara lebih baik lagi.
Salam syukur penuh berkah....
-ayah edy-
MENCARI HADIAH PARCEL YANG MANFAAT ?
Sedang bingung mencari hadiah parcel yang isinya tidak hanya jajanan atau makanan pengenyang perut semata?
Kami menyediakan parcel buku-buku parenting. Parcel yang akan memberikan vitamin bagi otak dan pikiran.
Silahkan order via link berikut ini klik: https://www.mizanstore.com/product/detail/55560-paket-ayah-edy-tas-dan-box
Kami menyediakan parcel buku-buku parenting. Parcel yang akan memberikan vitamin bagi otak dan pikiran.
Silahkan order via link berikut ini klik: https://www.mizanstore.com/product/detail/55560-paket-ayah-edy-tas-dan-box
TES KELAYAKAN UNTUK PARA CALON ORANG TUA SISWA..?
Selama 14 tahun mencari tahu kenapa perilaku seorang anak bermasalah di sekolah, kami menemukan paling tidak ada 37 kebiasaan mendidik orang tua dirumah yang keliru yang telah menghasilakn perilaku buruk pada anaknya.
Untuk itu para orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah kami kami anjurkan untuk membaca buku ini dulu sampai tamat sebelum mengikuti tes kelayakan calon orang tua murid di sekolah kami.
Berikut ini kami tuliskan kembali beberapa kebiasaan yang mungkin terjadi saat ini di rumah ayah dan bunda sekalian.
1. Raja yang Tak Pernah Salah
Sewaktu anak kita masih kecil dan belajar jalan tidak jarang tanpa sengaja mereka menabrak kursi atau meja. Lalu mereka menangis. Umumnya, yang dilakukan oleh orang tua supaya tangisan anak berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak. Sambil mengatakan, “Siapa yang nakal ya? Ini sudah Papa/Mama pukul kursi/mejanya…sudah cup….cup…diem ya..Akhirnya si anak pun terdiam.
Ketika proses pemukulan terhadap benda benda yang mereka tabrak terjadi, sebenarnya kita telah mengajarkan kepada anak kita bahwa ia tidak pernah bersalah.
Yang salah orang atau benda lain. Pemikiran ini akan terus terbawa hingga ia dewasa. Akibatnya, setiap ia mengalami suatu peristiwa dan terjadi suatu kekeliruan, maka yang keliru atau salah adalah orang lain, dan dirinya selalu benar. Akibat lebih lanjut, yang pantas untuk diberi peringatan sanksi, atau hukuman adalah orang lain yang tidak melakukan suatu kekeliruan atau kesalahan.
Kita sebagai orang tua baru menyadari hal tersebut ketika si anak sudah mulai melawan pada kita. Perilaku melawan ini terbangun sejak kecil karena tanpa sadar kita telah mengajarkan untuk tidak pernah merasa bersalah.
Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika si anak yang baru berjalan menabrak sesuatu sehingga membuatnya menangis? Yang sebaiknya kita lakukan adalah ajarilah ia untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi; katakanlah padanya (sambil mengusap bagian yang menurutnya terasa sakit): ” Sayang, kamu terbentur ya. Sakit ya? Lain kali hati-hati ya, jalannya pelan-pelan saja dulu supaya tidak membentur lagi.”
2. Berbohong Kecil
Awalnya anak-anak kita adalah anak yang selalu mendengarkan kata-kata orang tuanya, Mengapa? KArena mereka percaya sepenuhnya pada orang tuanya. Namun, ketika anak beranjak besar, ia sudah tidak menuruti perkataan atau permintaan kita? Apa yang terjadi? Apakah anak kita sudah tidak percaya lagi dengan perkataan atau ucapan-ucapan kita lagi?
Tanpa sadar kita sebagai orang tua setiap hari sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak berkeliling perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengalihkan perhatian si kecil ke tempat lain, setelah itu kita buru-buru pergi? Atau yang ekstrem kita mengatakan, “Papa/Mama hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya, sebentaaar saja ya, Sayang.” Tapi ternyata, kita pulang malam. Contah lain yang sering kita lakukan ketika kita sedang menyuapi makan anak kita, “Kalo maemnya susah, nanti Papa?Mama tidak ajak jalan-jalan loh.” Padahal secara logika antara jalan-jalan dan cara/pola makan anak, tidak ada hubungannya sama sekali.
Dari beberapa contah di atas, jika kita berbohong ringan atau sering kita istilahkan “bohong kecil”, dampaknya ternyata besar. Anak tidak percaya lagi dengan kita sebagai orang tua. Anak tidak dapat membedakan pernyataan kita yang bisa dipercaya atau tidak. akibat lebih lanjut, anak menganggap semua yang diucapkan oleh orang tuanya itu selalu bohong, anak mulai tidak menuruti segala perkataan kita.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan penuh kasih dan pengertian:
“Sayang, Papa/Mama mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo Papa/Mama ke kebun binatang, kamu bisa ikut.”
Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita harus bersabar dan lakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami keadaan mengapa orang tuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut. Sebaliknya bila pergi ke tempat selain kantor, anak pasti diajak orang tuanya. Pastikan kita selalu jujur dalam mengatakan sesuatu. Anak akan mampu memahami dan menuruti apa yang kita katakan.
3. Banyak Mengancam
“Adik, jangan naik ke atas meja! nanti jatuh dan nggak ada yang mau menolong!”
“Jangan ganggu adik,nanti MAma/Papa marah!”
Dari sisi anak pernyataan yang sifatnya melarang atau perintah dan dilakukan dengan cara berteriak tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau tanpa kita menghentikan suatu aktivitas, pernyataan itu sudah termasuk ancaman. Terlebih ada kalimat tambahan “….nanti Mama/Papa marah!”
Seorang anak adalah makhluk yang sangat pandai dalam mempelajari pola orang tuanya; dia tidak hanya bisa mengetahui pola orang tuanya mendidik, tapi dapat membelokkan pola atau malah mengendalikan pola orang tuanya. Hal ini terjadi bila kita sering menggunakan ancaman dengan kata-kata,namun setelah itu tidak ada tindak lanjut atau mungkin kita sudah lupa dengan ancaman-ancaman yang pernah kita ucapkan
Apa yang sebaiknya kita lakukan? .
Kita tidak perlu berteriak-teriak seperti itu. Dekati si anak, hadapkan seluruh tubuh dan perhatian kita padanya. tatap matanya dengan lembut, namum perlihatkan ekspresi kita tidak senang dengan tindakan yang mereka lakukan. Sikap itu juga dipertegas dengan kata-kata, “Sayang, Papa/Mama mohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan ini pada adikmu. Papa/Mama akan makin sayang sama kamu.” Tidak perlu dengan ancaman atau teriaka-teriakan. Atau kita bisa juga menyatakan suatu pernyataan yang menjelaskan suatu konsekuensi, misal “Sayang, bila kamu tidak meminjamkan mainan in ke adikmu,Papa/Mama akan menyimpan mainan ini dan kalian berdua tidak bisa bermain. MAinan akan Papa/Mama keluarkan, bila kamu mau pinjamkan mainan itu ke adikmu. Tepati pernyataan kita dengan tindakan.
4. Bicara Tidak Tepat Sasaran
Pernahkah kita menghardik anak dengan kalimat seperti, “Papa/Mama tidak suka bila kamu begini/begitu!” atau “Papa/Mama tidak mau kamu berbuat seperti itu lagi!” Namun kita lupa menjelaskan secara rinci dan dengan baik, hal2 atau tindakan apa saja yang kita inginkan. Anak tidak pernah tahu apa yang diinginkan atai dibutuhkan oleh orang tuanya dalam hal berperilaku. Akibatnya anak terus mencoba sesuatu yang baru. Dari sekian banyak percobaan yang dilakukannya, ternyata selalu dikatakan salah oleh orang tuanya. Hal ini mengakibatkan mereka berbalik untuk dengan sengaja melakukan hal2 yang tidak disukai orang tuanya. Tujuannya untuk mrmbuat orang tuanya kesal sebagia bentuk kekesalan yang juga ia alami (tindakannya selalu salah di hadapan orang tua).
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Sampaikanlah hal2 atau tindakan2 yang kita inginkan atau butuhkan pada saat kita menegur mereka terhadap perilaku atau hal yang tidak kita sukai.Komnikasikan secara intensif hal atau perilaku yang kita inginkan atau butuhkan. Dan pada waktunya, ketika mereka sudah megalami dan melakukan segala hal atau perilaku yang kita inginkan atau butuhkan , ucapkanlah terimakasih dengan tulus dan penuh kasih sayang atas segala usahanya untuk berubah.
5. Menekankan pada Hal-hal yang salah
Kebiasaan ini hampir sama dengan kebiasaan di atas. Banyak orang tua yang sering mengeluhkan tentang anak2nya tidak akur, suka bertengkar. Pada saat anak kita bertengkar, perhatian kita tertuju pada mereka, kita mencoba melerai atau bahkan memarahi. Tapi apakah kita sebagai orang tua memperhatikan mereka pada saat mereka bermain dengan akur? Kita seringkali menganggapnya tidak perlu menyapa mereka karena mereka sedang akur. Pemikiran tersebut keliru, karena hak itu akan memicu mereka untuk bertengkar agar bisa menarik perhatian orang tuanya,
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Berilah pujian setiap kali mereka bermain sengan asyik dan rukun, setiap kali mereka berbagi di antara mereka dengan kalimat sederhana dan mudah dipahami, misal: ”Nah, gitu donk kalau main. Yang rukun.” Peluklah mereka sebagai ungkapan senang dan sayang.
6. Merendahkan Diri Sendiri
Apa yang anda lakukan kalau melihat anak anda bermain Playstation lebih dari belajar? Mungkin yang sering kita ucapkan pada mereka, “Woy… mati in tuh PS nya, ntar dimarahin loh sama papa kalo pulang kerja!” Atau kita ungkapkan dengan pernyataan lain, namun tetap dengan figur yang mungkin ditakuti oleh anak pada saat itu. Contoh pernyataan ancaman diatas adalah ketika yang ditakuti adalah figur Papa.
Perhatikanlah kalimat ancaman tersebut. Kita tidak sadar bahwa kita telah mengajarkan pada anak bahwa yang mampu untuk menghentikan mereka maen ps adalah bapaknya, artinya figure yang hanya ditakuti adalah sang bapak. Maka jangan heran kalau jika anak tidak mengindahkan perkataan kita karena kita tidak mampu menghentikan mereka maen ps.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Siapkanlah aturan main sebelum kita bicara; setelah siap, dekati anak, tatap matanya, dan katakan dengan nada serius bahwa kita ingin ia berhenti main sekarang atau berikan pilihan, misal “Sayang, Papa/Mama ingin kamu mandi. Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?” bila jawabannya “lima menit lagi Pa/Ma”. Kita jawab kembali, “Baik, kita sepakat setelah lima menit kamu mandi ya. Tapi jika tidak berhenti setelah lima menit, dengan terpaksa papa/mama akan simpan PS nya di lemari sampai lusa”. Nah, persis setelah lima menit, dekati si anak, tatap matanya dan katakan sudah lima menit, tanpa tawar menawar atau kompromi lagi. Jika sang anak tidak nurut, segera laksanakan konsekuensinya.
7. Papa dan Mama Tidak Kompak
Mendidik abak bukan hanya tanggung jawab para ibu atau bapak saja, tapi keduanya. Orang tua harus memiliki kata sepakat dalam mendidik anak2nya. Anak dapat dengan mudah menangkap rasa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan bagi dirinya. Misal, seorang Ibu melarang anaknya menonton TV dan memintanya untuk mengerjakan PR, namun pada saat yang bersamaan, si bapak membela si anak dengan dalih tidak mengapa nonton TV terus agar anak tidak stress. Jika hal ini terjadi, anak akan menilai ibunya jahat dan bapaknya baik, akibatnya setiap kali ibunya memberi perintah, ia akan mulai melawan dengan berlindung di balik pembelaan bapaknya. Demikian juga pada kasus sebaliknya. Oleh karena itu, orang tua harus kompak dalam mendidik anak. Di hadapan anak, jangan sampai berbeda pendapat untuk hal2 yang berhubungan langsung dengan persoalan mendidik anak. Pada saat salah satu dari kita sedang mendidik anak, maka pasangan kita harus mendukungnya. Contoh, ketika si Ibu mendidik anaknya untuk berlaku baik terhadap si Kakak, dan si Ayah mengatakan ,”Kakak juga sih yang mulai duluan buat gara2…”. Idealnya, si Ayah mendukung pernyataan, “Betul kata Mama, Dik. Kakak juga perlu kamu sayang dan hormati….”
8. Campur Tangan Kakek, Nenek, Tante, atau Pihak Lain
Pada saat kita sebagai orang tua sudah berusaha untuk kompak dan sepaham satu sama lain dalam mendidik anak-anak kita, tiba-tiba ada pihak ke-3 yang muncul dan cenderung membela si anak. Pihak ke-3 yang dimaksud seperti kakek, nenek, om, tante, atau pihak lain di luar keluarga inti.
Seperti pada kebiasaan ke-7 (Papa dan Mama tidak Kompak), dampak ke anak tetap negatif bila dalam satu rumah terdapat pihak di luar keluarga inti yang ikut mendidik pada saat keluarga inti mendidik; Anak akan cenderung berlindung di balik orang yang membelanya. Anak juga cenderung melawan orang tuanya.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Pastikan dan yakinkan kepada siapa pun yang tinggal di rumah kita untuk memiliki kesepakatan dalam mendidik dan tidak ikut campur pada saat proses pendidikan sedang dilakukan oleh kita sebagai orang tua si anak. Berikan pengertian sedemikian rupa dengan bahasa yang bisa diterima dengan baik oleh para pihak ke-3.
Dipetik dari buku 37 Kebiasaan mendidik orang tua yang menghasilkan perilaku buruk pada anak.
Tersedia di Gramedia atau bisa di pesan on line via fb berikut ini klik: https://www.facebook.com/Pusat-pemesanan-buku-AYAH-EDY-1538959983042274/
TES KELAYAKAN ORANG TUA CALON SISWA DI SEKOLAH KAMI
Di sekolah kami tidak hanya anaknya yang bersekolah tapi orang tuanya juga ikut bersekolah untuk bisa menjadi orang tua yang lebih baik dalam mendidik anaknya.
SEKOLAH KAMI HANYA MELAKUKAN TEST BAGI ORANG TUA SISWA YANG AKAN MENYEKOLAHKAN DITEMPAT KAMI
Dan bahan-bahannya sebagian besar kami ambil dari kedua buku ini
BUKU UNTUK NGE TEST ....Prilaku anak yg bersumber dari prilaku orang tuanya.
Banyak orang tua merasa dirinya tidak pernah bersalah dan oke-oke saja, tapi menurut mereka anak-anak merekalah yang "Nakal", Iseng, ngeyel, susah diatur, nggak nurut orang tua ngomong, dan suka melawan dsb.
Ternyata setelah membaca buku ini, satu persatu sebagai "Checker" alat tes... banyak para orang tua yang baru menyadari satu persatu kesalahannya yang selama ini telah di contoh anaknya dan kemudian muncul menjadi prilaku buruk anaknya yg susah sekali untuk di ubah.
Nah selama kita sendiri belum tahu bahwa banyak sekali prilaku kita yang kurang baik dan harus segera di ubah, jika kita tidak mau berubah maka selama itu pula anak kita tidak akan mampu mengubah prilaku anak kita menjadi lebih baik.
Sudahkah anda mimilikinya ? Membacanya ? Men Chek isinya satu persatu ? dan mempraktekannya dengan konsisten dan penuh kesabaran ?
SEKOLAH KAMI HANYA MELAKUKAN TEST BAGI ORANG TUA SISWA YANG AKAN MENYEKOLAHKAN DITEMPAT KAMI
Dan bahan-bahannya sebagian besar kami ambil dari kedua buku ini
BUKU UNTUK NGE TEST ....Prilaku anak yg bersumber dari prilaku orang tuanya.
Banyak orang tua merasa dirinya tidak pernah bersalah dan oke-oke saja, tapi menurut mereka anak-anak merekalah yang "Nakal", Iseng, ngeyel, susah diatur, nggak nurut orang tua ngomong, dan suka melawan dsb.
Ternyata setelah membaca buku ini, satu persatu sebagai "Checker" alat tes... banyak para orang tua yang baru menyadari satu persatu kesalahannya yang selama ini telah di contoh anaknya dan kemudian muncul menjadi prilaku buruk anaknya yg susah sekali untuk di ubah.
Nah selama kita sendiri belum tahu bahwa banyak sekali prilaku kita yang kurang baik dan harus segera di ubah, jika kita tidak mau berubah maka selama itu pula anak kita tidak akan mampu mengubah prilaku anak kita menjadi lebih baik.
Sudahkah anda mimilikinya ? Membacanya ? Men Chek isinya satu persatu ? dan mempraktekannya dengan konsisten dan penuh kesabaran ?
TIDAK USAH BELAJAR CALISTUNG DULU DEH SEBELUM BISA BUANG SAMPAH
Saya membuat kurikulum untuk anak didik saya tentang hal-hal sederhana yang mereka perlu ketahui dan lakukan. Karena sekolah yang kami kelola tidak mengikuti kurikulum nasional, yang njelimet tapi tak jelas hasilnya bagi anak dan kehidupannya.
Saya tidak mengijinkan anak-anak didik saya diberikan pelajaran yang rumit-rumit dulu.
Karena saya melihat bahwa bangsa kita untuk membuang atau mengelola sampah saja belum bisa.
Sehingga sampah selalu dibuang di sembarang tempat atau dibakar.
Padahal asap bakaran sampah itu sungguh sangat berbahaya bagi kesehatan anak kita juga keluarga dan tetangga kita.
https://www.brilio.net/news/7-bahaya-menghirup-asap-sampah-bahaya-asap-sampah-1506086.html
PENTINGNYA MEMAHAMI KEBENARAN BERITA DI DUNIA MAYA DAN MEDIA SOSIAL
Masih banyak orang Indonesia yang termakan dengan isu palsu alias hoax. Menurut agan kenapa masih banyak dari kita yang gampang banget percaya berita yang belum tentu benar? Sebelum membahas lebih lanjut, kamu harus tau dulu tentang arti hoax. Awal mula trend penyebutan hoax berasal dari film The Hoax, film drama Amerika yang dinilai cukup kontroversial ini, dinilai sebagai salah satu film yang penuh kebohongan, hingga kemudian turut memperkenalkan istilah hoax sebagai sebuah istilah yang merujuk pada kebohongan. Hoax kemudian mulai viral di dunia, termasuk di Indonesia. Dalam laman Wikipedia, mengartikan hoax adalah pemberitaan palsu yang bertujuan untuk menipu atau mengakali pembaca atau pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta tau bahwa apa yang diberitakannya adalah palsu. Jenis-jenis hoax yang paling sering di-share di dunia maya adalah:
- Hoax Agamis
- Hoax Ilmiah
- Hoax Gossip
- Hoax Konspirasi
- Hoax Simpatik
- Hoax Sejarah
- Hoax Mistis
- Hoax Teknologi
Ada kaitan sama SARA
Kalau hoax berkaitan dengan sebuah kepercayaan yang kita pegang atau anut, maka kebohongannya bakal lebih diterima. Contohnya hoax SARA. Ya gan, orang Indonesia itu cepet banget kepancing sama hal-hal berbau Suku, Agama dan Ras. Itulah kenapa ketika ada berita yang berkaitan dengan SARA, cepet banget dishare. Kalau menurut ane, orang Indonesia itu belum sepenuhnya siap menerima perbedaan. Ya maklumlah gan, selama 32 tahun kita dipaksa seragam sama Orba dengan informasi yang serba dibatasin. Ketidaksiapan itu membuat kita mudah sekali digosok sama hal-hal berbau SARA.
Direktur Eksekutif Institute For Criminal Justice Reform (ICJR) Supriyadi Widodo Eddyono punya tanggapan soal ini. "Yang paling gampang itu agama, itu yang paling laku untuk memicu. Kedua, rasial goncangan ekonomi pasti dilarikan ke isu krusial. Bisa jadi pengalihan isu, tetapi kan berbahaya," kata Supriyadi. Supriyadi mengatakan saat ini masyarakat setiap harinya selalu disajikan dengan berita yang tak bertanggungjawab.
Hoax SARA
Pada tanggal 1 Desember 2015 (pukul 21.23) akun 'Irvan' memposting sebuah gambar seorang anak dan dikasih deskripsi sebagai Anak Palestina yang ditembak oleh Tentara Israel. Apakah kejadian itu nyata? Ya benar, tetapi diperankan oleh aktor dan aktris berpengalaman. Supaya ga jadi salah informasi, untuk kita ketahui bersama bahwa gambar tersebut merupakan cuplikan dari sebuah film berjudul 'Mamlakat al-Naml' atau lebih dikenal 'The Kingdom of Ants'. Diputar sejak tahun 2010 di berbagai negara, seperti Tunisia, mesir, dan Suriah. Namun karena banyaknya peristiwa di berbagai negara, sehingga film ini berhenti perputarannya dan diputar kembali pada tahun 2012 untuk kelas internasional.
Gak kritis dan males kroscek
Nah, ini masalah pola pikir gan. Jujur aja yah, orang Indonesia emang gak dilatih berpikir kritis. Sejak sekolah, kurikulum pendidikan kita berfokus sama menghapal bukan menganalisa. Jadinya, sejak kecil kita terbiasa untuk menerima mentah-mentah apa yang disodorin ke kita. Bahkan, kalo kita sering mempertanyakan hal itu, kita malah dianggap membangkang. Padahal sikap kritis itu perlu gan di jaman banjir informasi seperti sekarang ini. Internet tuh ibarat gudang segala macam info. Kalo kita gak pinter nyaring, kita bisa jadi kayak kerbau dicucuk hidungnya. Karena gak mau kritis inilah, kita akhirnya menelan mentah-mentah informasi yang beredar di internet terutama media sosial. Hoax atau fakta, kita gak mau peduli. Oh, cmon gan, kita kan bukan mesin atau robot yang hidup berdasarkan perintah kan
Percaya media abal-abal sih!
Gan, sadar gak sih kalo berita hoax itu biasanya berawal dari postingan di media sosial atau blog-blog yang gak jelas pemiliknya. Logikanya gini, mereka share itu lewat akun-akun medsos dan blog karena informasi seperti itu gak bakal mungkin dimuat di media yang jelas kredibilitasnya. Kenapa? Karena media kredibel pasti akan selalu melakukan cek dan ricek informasi. Sementara, akun dan blog kan gak perlu atau gak mau susah-susah melakukan itu. Padahal, penyebar informasi pertama kali juga gak jelas siapa.
Jadi netizen, harusnya kan kudu pinter yah gan. Gampangnya gini, media yang kredibel itu selalu mencantumkan informasi tim redaksi dan memuat panduan media siber di situs mereka. Karena itu adalah satu syarat media online yang punya tujuan, visi dan misi yang benar. Ya kalo tujuannya menyebarkan fitnah, gak perlu repot-repot memuat dua hal itu kan?
Hari gini masih percaya media abal-abal? 2015 nih
Media yang pernah dikasih peringatan Kemeninfo karena sebarkan hoax dan kebencian

Faktanya, foto dari jurnalis Tempo Tony Hartawan tersebut adalah dokumentasi dari seorang anak dibawah umur yang dihajar Satpol PP saat bentrokan menentang eksekusi pembongkaran lokasi makam Habib Hasan bin Muhammad al Haddad alias Mbah Priok di Koja, Jakarta utara, hari Rabu 14 April 2010 lalu.. Dalam bentrokan tersebut terdapat korban dari kedua belah pihak.
Informasi itu sangat populer dan viral
Begitu informasi hoax itu jadi viral, akhirnya dipercaya orang jadi sebuah kebenaran. Bila berita atau informasi bohong itu terus menerus disodorkan pada masyarakat, akhirnya kita percaya bahwa itu adalah fakta sesungguhnya. Kita jadi tutup mata pada kebenaran yang ada. Ada temen yang nge-share, kita ikut-ikutan share. Padahal blom baca isi artikelnya. Alesannya, “ah toh dia juga nge-share berita itu, berarti bener dong.” Masalahnya, si penyebar hoax di media sosial bisa saja berkilah, apa yang dilakukannya merupakan salah satu bentuk dari kebebasan berpendapat. Bebas yang seperti apa?
CARA GAMPANG MENGETAHUI INFORMASI HOAX Cara yang paling mudah mengenali ciri-ciri berita hoax adalah dengan membaca secara cermat dan menyeluruh pada setiap bangunan kata dan kalimat yang disusun. Kemudian menandai kejanggalan – kejanggalan dengan pedoman berikut ini:
- Berita pertama kali didistribusikan melalui email, mailing list, forum, blog, facebook, yang kemudian disebarluaskan via twitter.
- Isinya bertentangan dengan logika umum dan ilmu pengetahuan atau terdapat kontradiksi dengan fakta yang sudah umum diketahui.
- Menggunakan istilah yang terkesan ilmiah, yang memanfaatkan ketidaktahuan/keawaman pembaca.
- Bangunan kalimat yang mendorong pembaca untuk menyebarluaskan pesan tersebut.
- Sumber berita tidak jelas identitasnya.
- Tidak ada link sumber untuk informasi yang dianggap penting. Penulis yang baik pasti mencantumkan sumber ilmiah dalam tulisannya. Jika tidak dicantumkan sumber maka waspadalah terhadap keilmiahan artikel tersebut.
Sampai
sekarang Google masih jadi mesin pencari unggulan yang bisa bantu kita
kroscek informasi dalam bentuk artikel ataupun image.Cobalah mengetikkan kata kunci artikel dalam bahasa Inggris. Beberapa artikel hoax kebanyakan bermula dari luar negeri. Maka cobalah mengecek artikel yang Anda curigai hoax di situs-situs luar negeri. Banyak berita hoax yang sudah dibuktikkan ke-hoax-annya oleh situs luar negeri. Namun, oleh penyebar hoaxlokal, hoax tersebut diterjemahkan, diangkat lagi, bahkan dimodifikasi isinya seperti perubahan nama pelaku dan tempat untuk konsumsi masyarakat Indonesia. Kalau berhubungan dengan image, cara paling mudah adalah cari di Google Image gan! Google akan otomatis mendeteksi kapan pertama kali image itu muncul. Seringkali, satu gambar dipakai dalam berbagai macam artikel dan gak menutup kemungkinan disalahgunakan. Ini tipsnya ane kasih bonus video:
for Cara kroscek images di Google

Googling dulu untuk melihat info itu benar atau hoax sebelum disebarkan.
Sebelum menyebarluaskan informasi yang saya dapat, saya akan membaca
terlebih dahulu seluruh tulisan tersebut. Sehabis itu, saya akan mencari
tentang tulisan tersebut di internet dan membandingkannya dengan
artikel-artikel yang ada. Selain itu, saya juga mencari informasi
tersebut di media-media yang kredibel untuk memastikan bahwa informasi
tersebut adalah benar.
sumber: http://m.kaskus.co.id/thread/566930b8de2cf2412d8b4569/alasan-orang-indonesia-sering-termakan-isu-palsu/
Subscribe to:
Posts (Atom)










































