Indonesia pada hakikatnya merupakan kumpulan dari keluarga yg tersebar dilebih dari 12.000 pulau yg ada di Nusantara. Apabila keluarga2 ini kuat, maka Indonesia akan menjadi Bangsa & Negara yg Kuat dgn sendirinya tanpa perlu konsep yg berbelit-belit & biaya yg membebani negara. Pastikan keluarga & sanak famili kita di seluruh tanah air telah bergabung dlm GERAKAN MEMBANGUN INDONESIA YANG KUAT DARI KELUARGA. Kalau bukan kita, siapa lagi ? Kalau bukan sekarang, kapan lagi ?
SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk
Wednesday, December 16, 2015
BERHENTILAH MENGELUH
MARI KITA BERSYUKUR DAN MARI KITA BELAJAR PARENTING SEBELUM TERLAMBAT
Beberapa waktu lalu sy baru saja bertemu dengan sahabat keluarga Indonesian Strong from home dari Semarang, yang sudah belajar parenting sejak masih mengandung. Maaf ralat bahkan katanya saat masih PDKT.
Awalnya hanya kenal di fb, tapi kok rasanya sudah seperti saudara ya..., itulah indahnya berteman dengan para orang tua yang sudah sadar parenting.
Dan hasilnya anaknya sekarang menjadi anak yang luar biasa dalam banyak hal dan menjadi hal yang menggumkan bagi keluarga besarnya, "anak 16 bulan kok sudah mandiri seperti itu ya...?" begitu sering keluar ucapan dari keluarganya.
Lalu satu persatu anggota keluarga mulai curhat dan berkonsultasi padanya, dan mulailah di jelaskan apa rahasianya.....
Eh yang menarik adalah, setelah di jelaskan semua rahasianya, jawaban si penanya malah seperti ini;
"Kayaknya aku gak bisa sesabar kamu deh..."
"Kayaknya kami gak bisa setelaten kamu deh..."
"Kamu sih enak, suamimu kompak, kayaknya aku sih gak mungkin deh"
dan segudang alasan lainnya....
Teman saya ini jadi "tepok Jidat" katanya.
"Lha nyoba saja belum kok ya sudah banyak bener alasannya. Katanya pada saya."
"Padahal kita juga sama saja seperti mereka dulunya, cuma karena rajin baca buku dan belajar parenting akhirnya bisa juga."
"Makane nek cari pasangan itu harus di cek dulu, mau ndak kompak belajar parenting."
Mereka mengakhiri ceritanya.
Lalu bagaimana dengan kita ????
Perhatikan foto ini bandingkan posisi kita dengan dia? masih mau mengeluh ?
Note:
Tulisan ini dibuat, berdasarkan cerita Andrew dan Nikita, Relawan Indonesian Strong from Home dari Semarang.
by ayah edy
WAKTU JUA YANG AKAN MEMBUTIKANNYA
TESTIMONI DARI ORANG TUA ANAK YANG DOMINAN OTAK KANAN
YANG MEMPEROLEH MANFAAT DARI PROGRAM PARENTING
-Indonesian Strong from Home-
Mari kita simak kisahnya:
Sebuah email dari Bunda Ida, Mama kakak Kiran dan adik Zita pada ayah edy 29 November 2015
Assalaamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh...
Dear Ayah Edy,
Bagaimana kabarnya... Semoga Ayah beserta keluarga SENANTIASA Sehat dan Bahagia...
Tidak terasa Ayah, sudah dua tahun Kami mengenal Nilai-Nilai Parenting yang Ayah Edy sharing melalui berbagai media. Sudah dua tahun juga Kiran dan Zita tumbuh tanpa TV dan bebas bereksplorasi.
Awalnya kami masih ragu Ayah... karena setelah membaca 37 Kesalahan Kami di Buku Ayah... Rasanya butuh waktu yang sangat lama untuk berubah.
Puji Syukur, saat itu Kami tetap berani membuat pilihan. Jika untuk berubah butuh waktu lama, tapi untuk mematikan TV hanya butuh sedetik saja. Maka itulah yang kami lakukan, STOP menonton. Awalnya kami bingung apa penggantinya..., karena Kiran dan Zita masih sangat dominan Visualnya. Terlebih Zita adalah anak dengan kecerdasan Bahasa dan Visual Auditori. Media audio visual akan menjadi media pembelajaran yang cepat untuknya. Namun, Kami tidak mau ambil resiko Ayah... karena ternyata bukan hanya apa yang ditonton saja... Tetapi pengaruh sinar dari layar TV itu sendiri pun, dapat mempengaruhi kebiasaan anak sehingga menjadi cenderung tidak fokus.
Kami mencari berbagai aktivitas yang bisa mengalahkan layar penuh warna itu. Alhamdulillah Ayah... Kiran dan Zita tak pernah kehabisan ide. Justru Kami yang kadang kewalahan menuruti ide kreatif mereka...
Membaca, bercerita dan bermain peran menjadi aktivitas yang sangat dicintai Zita. Sedangkan Kiran, asyik dengan menggunting, menempel, membuat miniatur berbagai benda, hingga digunakannya untuk bermain peran. Bahkan salah satu kesukaannya selama lebih dari satu tahun ini adalah membuat miniatur eskalator dan lift Ayah... Jika rasanya Kiran dan Zita sudah terlihat bosan... Kami cukup mengajak mereka mencuci sepatu, mencuci sepeda, bahkan mencuci mobil... dan mereka pun kembali SEMANGAT untuk bermain air. Ternyata, untuk bermain dengan mereka bisa hanya dengan air... sangat sederhana Ayah.
Kiran dan Zita MAKIN kooperatif, MAKIN konsisten, MAKIN semangat saat bermain... MAKIN kreatif dan imajinatif... dan MAKIN saling sayang...
Terlebih Kiran Ayah... dua tahun tanpa terapi apapun... Kiran justru tumbuh MAKIN percaya diri... mengawali komunikasi dengan kami... mengajak bermain... meminta tolong... menggoda Kami... menatap wajah Kami... menjaga Adiknya...
Pernah suatu hari Kami bermain di lapangan dekat rumah. Karena Kiran minta diambilkan kapur, maka Saya berkata... "Bunda tinggal sebentar... Kiran tolong jaga Zita ya... Tunggu di sini sampai Bunda kembali..."
Jujur Ayah... Rasanya cemas juga, karena itu pertama kali Saya meninggalkan mereka berdua di luar rumah tanpa pengawasan. Tak lama Saya kembali... Saya melihat pemandangan yang luar biasa Ayah... Kiran menggandeng Zita menuju ke arah rumah. Zita pun bercerita, jika Kiran menggandeng tangannya, lalu mengajaknya menyusul Saya...
Bahagia rasanya Ayah... Kiran TUMBUH menjadi anak yang SEMPURNA... dan itulah yang SELALU Saya bisikkan di awal tidurnya.
Satu per satu kami lalui Ayah... meskipun terkadang masih muncul lagi... tapi relasi kami yang semakin hangat... memberikan ruang saling mengingatkan dengan cara yang luar biasa... melalui anak-anak.
Zita sudah mampu mengingatkan Kami, jika Kami melakukan kesalahan. Kiran dengan caranya... akan terbawa emosi jika Kami sedang larut dalam emosi...
Dua tahun yang menantang Ayah... PENUH pembelajaran... PENUH hikmah... PENUH guru-guru kehidupan yang luar biasa.
Oh iya... meskipun di mobil kami ada TV. Tidak pernah Kiran memutar film. CD yang paling sering didengarkannya selama dua tahun ini adalah CD Parenting Ayah Edy... :D
Kami akan teruskan perjalanan ini Ayah... karena dua tahun adalah waktu yang terlalu singkat untuk merasa puas...
Itu mengapa ingin sekali kami bisa bertemu langsung dengan Ayah Edy... menyampaikan laporan proses perjalanan parenting Kami Ayah... :)
Namun yang lebih penting, Kami ingin sekali mempertemukan Kiran dan Zita, GURU Kami... pada Ayah Edy, GURU Kami... agar kami diberikan ijin untuk SENANTIASA menjadi pembelajar sejati...
TerimaKASIH... TerimaKASIH... TerimaKASIH Ayah Edy atas perkenan Ayah...
SAMPAI JUMPA...
Ayah... :)
MAKIN Bijaksana... MAKIN Bahagia... untuk Ayah Edy beserta Keluarga... dan Tim Manajemen...
Salam Sayang dan Bahagia dari Kami,
Kiran.Zita.Ayah.Bunda
Wassalaamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh...
==============================================
Jawaban Ayah Edy:
Waalaikumsalam wr.wb.
Kabar kami semua baik, sehat dan bahagia selalu, semoga demikian juga kabar bunda dan keluarga.
Kami membaca bait demi bait tulisan bunda Ida dengan penuh hikmat sambil memperhatikan foto-foto yang bunda lampirkan, dan tanpa terasa airmata saya menitik, melihat perkembangan kakak Kiran yang sungguh luar biasa ini.
Saya begitu bersyukur Tuhan telah menitipkan Kakak Kiran dan Adik Zita pada orang tua yang tepat dan luar biasa.
Sungguh sejak 14 tahun yang lalu saya percaya bahwa setiap anak itu terlahir dengan segala kesempurnaannya masing-masing.
Sungguh sejak awal mendirikan sekolah saya menyakini bukan mereka yang butuh terapi tapi justru kitalah yang harus lebih banyak belajar memahami keunikan setiap anak.
Saya sering merasa tidak ikhlas jika ada anak yang menurut pemahaman saya normal-normal saja tapi katanya harus diterapi ini dan itu, terlebih lagi jika harus diberi obat-obatan penenang.
Menurut saya mungkin yang mestinya di terapi adalah pemahaman dan kesadaran kita selaku orang tua yang tidak paham dan harus terus belajar untuk bisa mengetahui kesempurnaan seorang anak dibalik ketidaksempurnaan pemahaman kita sebagai manusia.
Saya sadar masih banyak para orang tua yang belum menyadari ini atau bahkan pernah ada yang dengan terang-terangan menulis di forum publik bahwa apa yang kami lakukan terhadap anak-anak yang lebih dominan otak kanannya adalah mitos, sesat dan hanya untuk menyenangkan orang tua saja.
http://www.kompasiana.com/kusnandar/dilema-opini-ayah-edy-dan-mohammad-fauzil-adhim_552fb6946ea83473238b4596
Biarlah waktu yang akan membuktikannya, dan biarlah para orang tua yang langsung merasakan hasilnya dan akan bertestimoni pada kita semua.
Sekali lagi terimakasih yang sebesar-besarnya ya bunda Ida, untuk tulisannya dan upaya keras untuk menjadi orang tua yang terbaik bagi buah hati tercinta. Semoga Tuhan memberikan limpahan berkah dan rahmatNya.
Jika boleh kami mohon izin untuk men-share tulisan bunda Ida di face book komunitas kami, semoga saja bisa dibaca dan bisa memberi inspirasi bagi lebih banyak orang tua yang anaknya lebih dominan otak kanannya.
Sampai jumpa di Singaraja, Buleleng, Bali ya bunda..
Salam penuh berkah dan bahagia selalu untuk bunda Ida dan keluarga.
-ayah edy-
Note: Ciri-ciri anak otak kanan bisa di baca di: http://ayahkita.blogspot.co.id/2009/06/mungkin-anak-kita-bukan-bodoh-atau.html
fb. Komunitas AYAH EDY
MENDIDIK ANAK KOK COBA-COBA !
Belajar parenting itu mestinya sudah dimulai sejak pdk jadi ketika menikah dan punya anak sudah mahir mendidik anak dan tidak hanya sekedar coba-coba, hingga anak yang sering kali jadi korbannya.
-ayah edy-
CARA MENDETEKSI ADANYA JIN YANG MENEMPEL DI BADAN KAMU
(jangan di praktekin kalo gak siap)
Saat ini sedang ramai diperbincangkan di sosial media soal warung makanan yang menggunakan penglaris Jin. Dan diberikan tips bagaimana caranya membedakan warung makan yang menggunakan penglaris Jin dan yang tidak.
Tapi sayangnya kita sendiri lupa untuk berpikir apakah sesungguhnya tanpa sadar kita juga ditempeli oleh Jin tertentu?
Dan sampai saat ini belum ada artikel yang membahas soal itu.
Nah mungkin sebaiknya kita juga perlu mengetahui bagaimana caranya agar kita tahu apakah kita ketempelan Jin atau tidak, dan Jin jenis apa yang telah menempel pada tubuh kita selama ini?
Berikut tipsnya:
1. Sebaiknya dilakukan di malam hari, kecuali jika tidak punya cukup nyali boleh di siang hari dan di dalam kamar yang aga temaran.
2. Jika kamu sudah berada didalam kamar, berdirilah menghadap ke arah barat, dongak ke atas beberapa saat.
3. Perlahan-lahan pejam mata rapat2, baca doa sebisa kamu, dan niat dalam hati utk mengetahui jin apa yg ada di badan kamu. Tarik nafas perlahan-lahan, lalu lepaskan perlahan-lahan. sambil terus mengucapkan doa (jangan berhenti berdoa ya !).
3. Tundukkan kepala dan dengan perlahan buka kedua2 mata.
4. Lihatlah pada bagian pinggang ke bawah dibagian kiri atau kanan pinggang bawah.
5. Seandainya memang ada jin pada tubuh kamu, kamu bisa mengetahuinya sewaktu kamu membuka mata dengan cara membaca merk jin tersebut....apakah jenisnya Lee, Lea, Levi's, Lois, Edwin, Lee Cooper, GA Blue, Wrangler, Giordano dan sebagainya.
6. Teruskan membaca Istighfar sebanyak2nya. Dan jangan marah..
krn jika kamu marah2... itu tandanya kamu sudah bener-bener di tempelin Jin.
Kopas dari ratu jin coyak share dari statusnya Bang Haji Dolly
GEJALA PSIKOSOMATIS PADA ANAK
Suatu hari ada orang tua yang bertanya tentang anaknya yang berusia balita, bila di minta pergi ke sekolah di sulit sekali, dan jika di paksa dia tidak mau turun dari mobil, dan bahkan belakangan ini sering mengeluh kepalanya pusing, sakit perut dan sebagainya...
Apakah anak saya berbohong atau apa? tanya seorang ibu kebingungan kepada saya.
Kebetulan anaknya yang berusia 5 tahun itu di ajak juga untuk bertemu dengan saya. Lalu saya jelaskan bahwa dalam kasus ini sepertinya anak ibu tidak berbohong, apa lagi jika sebelumnya tidak pernah mengeluh seperti itu. Saya melihat ini lebih cenderung pada gejala stress anak menghadapi sekolahnya atau yang juga dikenal sebagai Gejala Psikosomatis.
Pada ibu ini saya jelasakan bahwa dulu sistem pendidikan menganut pada prinsip bahwa setiap anak adalah sama dan seragam sehingga setiap anak harus bisa mengikuti keinginan gurunya. Namun setelah dilakukan penelitian 30 tahun terhadap anak, ternyata ditemukan bahwa masing-masing anak itu unik, baik secara fisik, psikologis maupun cara otaknya bekerja. Oleh karena itu sistem pendidikan modern telah mengubah prinsip dasar sistem pengajarannya bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing, maka guru dan sekolah harus bisa memfasilitasi masing-masing keunikan anak tsb agar mereka semua bisa berhasil dalam proses belajar. Ya semua anak harus bisa berhasil.
Lalu si ibu tadi menyanggah, Padahal saya sudah sekolahkan dia di sekolah yang mahal lho......
Nah itu masalahnya, Mahal tidak menjamin menjalankan prinsip pendidikan sesuai fitrah anak, dan bahkan banyak juga yang di atas kertas sudah mencanangkan sistem pendidikan yang modern namun di lapangan masih saja para gurunya menerapkan sistem dan cara belajar lama. Nah disinilah kuncinya, untuk mengetahui apakah sebuah sekolah bagus atau tidak, kita bisa perhatikan dari dua aspek, yang pertama adalah anak kita semakin kritis dan berani mengungkapkan pendapat dan yang kedua adalah prilakunya santun dan peduli.
Biasanya sekolah yang baik akan membuat anak-anaknya betah bersekolah atau bahkan membuat anaknya lebih senang bersekolah dibandingkan libur.
Setelah saya memberi penjelasan pada Ibunya lalu saya anaknya saya ajak bicara, di luar dugaan dia berani menjawab dengan sangat jelas sekali; Saya awali pertanyaan saya seperti ini;
Sayang, nak apa kamu suka bersekolah....dia diam...tidak menjawab.
Apakah kamu ada masalah di sekolah....dia mengangguk
Apakah kamu ada masalah jadi sekarang tidak suka bersekolah..? dia mengangguk..lagi.
Apakah masalahnya dengan teman atau guru....? dia mulai menjawab guru.
Apakah semua guru, beberapa guru atau hanya satu guru...? dia menjawab hanya satu.
Boleh ayah tahu namanya....? dia menjawab Ibu X
Lalu saya menoleh ke Ibunya...., Ibu dengar...penjelasan langsung anak ibu...?
Akhirnya si Ibupun mengangguk, ya Ayah mungkin anak saya benar. Karena sejak ia ganti guru dia menjadi berubah seperti ini.
Lalu saya harus bagaimana ayah...? Ya sekolah yang baik adalah sekolah yang guru-gurunya menjadi favorit bagi murid-muridnya, jadi pertama coba ajak pihak sekolah untuk bekerjasama; jelaskan hasil pembicaraan kita ini pada sekolah dan kita lihat responnya. Jika masalah ini di tanggapi positif dan dilakukan usaha dan tindakan perbaikan, maka itu sekolah yang peduli namanya.
Lalu jika tidak di tanggapi dan tidak ada perbaikan bagaimana...?
Ya saya pikir ibu bisa mengambil kesimpulan sendiri ; dan menurut saya sudah saatnya kita memilih sekolah yang peduli pada permasalahan tiap siswanya. Karena kunci keberhasilan siswa adalah pada kepedulian pihak orang tua dan sekolah. Pendidikan itu tidak akan berhasil tanpa kepedulian dari orang tua dan pihak sekolah.
Mari kita bangun kerjasama anatar orang tua dan sekolah untuk membuat anak-anak kita sukses belajar dan bukannya saling melempar tanggung jawab.
ayah edy
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
Singaraja, Buleleng, Bali
www.ayahkita.com
TIPS MEMILIH PASANGAN YANG TEPAT DIAJAK NIKAH
Karena masalah-masalah rumah tangga itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan cinta, maka nikah itu harus pakai logika dan tidak hanya sekedar cinta. Tanpa persiapan memilih pasangan yang tepat, seringkali cinta saat pdkt hanya bertahan sekejap saja.
Banyak calon pasangan muda yang sedang PDKT, kebingungan apa sih tips untuk bisa mengetahui apakah calon pasangannya kita yang ini adalah yang paling cocok untuk diajak berumah tangga?
Sebenarnya tidak usah bingung, tipsnya gampang banget kok !
Ajak saja calon pasangan kita untuk bicara-bicara soal perencanaan keluarga dan permasalahan parenting.
Nah lihat reaksinya, kalau dia tidak tertarik apa lagi terus menghindari percakapan ke arah itu, menurut saya ia lebih cocok untuk jadi sahabat atau mungkin malah sekedar teman biasa.
Mengapa ?
Karena jika dipaksakan kelak ketika kita berumahtangga dan menghadapi berbagai persoalah rumah tangga dan anak, maka iapun akan tidak peduli dan menghindar, dan kita dibiarkan berjuang sendirian untuk mengatasinya. Apakah kita mau ?
Jika tidak mau lebih baik cari yang lain saja yang lebih peduli. Cukuplah ia menjadi teman biasa.
Lebih baik jeli memilih di awal dari pada menyesal kemudian.
-ayah edy-ayah edy
SULIT MENGATASI PERILAKU BURUK ANAK DI RUMAH ?
Hilangkan tontonan tv yang merusak mental anak dirumah, maka 1/2 persoalan perilaku buruk anakpun segara selesai.
Jika tidak mampu menghilangkan tayangan tv yang merusak, maka matikan tvnya selamanya, dan ganti aktivitas anak dengan olah raga, permainan kreatif, kursus yang disukainya, dan belajar agama.
Maka 1/4 persoalan perilaku buruk anak sisanyapun akan segera selesai.
Sekolahkan anak kita disekolah yang lebih peduli akhlak dan perilaku moral dari pada angka dan nilai. maka 1/4 persoalan perilaku buruk anak akan segera selesai.
Sisanya ? ubahlah perilaku buku kita dalam mendidik anak kita, dengan memberi contoh yang baik bagi anak. melalui belajar parenting.
Maka 100% persoalan perilaku buruk anak akan segera selesai.
Dan........
Yang jadi Masalah terbesarnya sebenarnya adalah apakah kita mau melakukannya ?
-ayah edy-
Anak kita tidak hanya meniru perilaku buruk orang tuanya saja, melainkan juga perilaku baiknya.
Jadi bila anak kita lebih sering berperilaku buruk, bisa jadi orang yang ditirunya juga demikian.
Marilah kita jadikan anak kita cermin sekaligus sensor untuk selalu mengingatkan diri sendiri agar bisa menjadi orang tua yang lebih baik dari hari ke hari.
Mau?
www.ayahkita.com
SALAH SATU TOLOK UKUR KEBERHASILAN SEKOLAH KAMI


Salah satu tolok ukur keberhasilan pendidikan disekolah kami adalah membangun kesadaran anak untuk tidak melakukan habit-habit buruk semisal merokok dan sebagainya.
Kami memberikan pemahaman sejak kecil tentang bahaya merokok bagi tubuh dan bagi orang yang ada disekitar kita.
Untuk itu kebijakan di sekolah kami adalah Dilarang Merokok atau berhenti Merokok.
Mulai tenaga pendidik hingga bapak Satpam kami pilih dari orang-orang yang tidak merokok.
Kami juga menganjurkan para orang tua murid kami untuk berhenti merokok atau tidak merokok dilingkungan sekolah atau ketika bersama keluarganya.
Kami ingin menciptakan anak-anak yang sehat melalui kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan bagi diri sendiri juga keluarga.
Ada satu cerita menarik dari salah satu siswa kami yang bernama Adik Kanha.
Ketika kami sedang mengunjungi sebuah Pesta Rakyat di Singaraja Buleleng bersama adik Kanha dan keluarga besar Sekolah MKG, beberapa waktu yang lalu.
Adik Kanha dengan tegas namun juga terlihat "imut dan lucu" menegur teman-teman Kakeknya yang merokok di dekat rombongan kita. Dangan berkata,
"Mengapa Kakyang (kakek bahasa Bali) Merokok?"
"Merokok itu berbahaya bagi tubuh kakyang, jantung dan paru-paru bisa rusak?"
Sambil tertawa dan agak tersipu malu, ditegur oleh anak usia 4 tahun, spontan satu persatu orang yang merokok tersebut segera mematikan rokoknya.
Hanya yang kami sedih adalah cara mematikannya adalah dengan membuang puntung di sembarang tempat sambil di injak-injak oleh sepatunya.
Berat memang untuk mengubah sebuah habit buruk yang sudah terlanjur mendarah daging untuk bisa menjadi habit baik, tapi kami tidak akan pernah menyerah untuk membuat generasi bangsa dan negeri ini menjadi lebih baik.
Kita masih bisa melakukannya melalui anak-anak yang jiwanya masih suci dan bersih hati dan jiwanya. Yang menerima kebaikan tanpa penyangkalan dan dalih atau alasan.
Semoga saja langkah-langkah kecil kami ini di ikuti oleh sekolah-sekolah lainnya yang membaca artikel ini. Hingga dari sebuah langkah kecil bisa menjadi langkah dan gerakan besar bagi bangsa dan negeri kita.
Mohon dukungannya selalu ya ayah bunda....
Salam Pendidikan
ayah edy
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
Jl. Kumba Karna LC10 No.5x,
Singaraj, Buleleng, Bali.
Office telp: 0362 -330-1705
Foto Adik Kanha yang pandai bicara dan kerap menegur orang yang berbuat keliru dengan gaya bicaranya yang "Imut dan lucu", berbekal pengetahuan kesehatan, etika dan moral yang ia dapat dari sekolahnya setiap hari ia coba terapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
ANAK HOME SCHOOLINGNYA BELAJARNYA DIMANA ?
Suatu ketika saya ditanya:
Ayah anak ayah kan home schooling, trus belajarnya dirumah terus gitu? apa gak bosan ? Trus sosialisasnya bagaimana ?
Sambil tersenyum saya jawab satu persatu pertanyaannya:
Anak saya belajarnya dimana ?
Dirumah dia belajar, Di jalan dia belajar, saat bermain dengan teman-temannya dia belajar, saat berwisata dia belajar, saat berkunjung ke keluarga dia belajar, saat ada tamu kerumah ia belajar, saat belanja ke pasar bersama kami ia belajar, saat berada di mobil ia juga belajar, saat olah raga pagi bersama kami ia belajar, saat berenang bersama ayahnya ia juga belajar.
Belajar tentang apa di kolam renang ? belajar tentang gerakan, pernafasan dalam air, efek gerakan terhadap aliran darah, unsur air H2O, penguapan, timbul tenggelam dan gaya berat, mengapa tubuh bisa mengambang saat kita diam tak bergerak, keselamatan di air dan apa saja. Karena anak saya saya biarkan untuk terus bertanya dan bertanya apa saja tanpa henti. Dan saat anak kita bertanya saat itulah dia sedang belajar.
Jadi dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja anak saya selalu belajar.
Karena alam kehidupan nyata ini adalah sebaik-baiknya tempat belajar karena kelak mereka akan berada di kehidupan nyata dan bukan hidup di dalam kelas dan duduk berjajar menunggu menu "pelajaran" yang disajikan.
Suatu ketika anak saya pernah berkata pada saya bahwa ia kasihan melihat saudara-sudara sepupunya yang stress karena belajar, anak saya bilang; "kenapa belajar itu harus stress ya ayah, kenapa tidak dibuat menyenangkan seperti kita...?"
Saya katakan, biarlah nak, hidup ini adalah pilihan, dan kita bebas memilih cara kita menjalani hidup ini, apakah dengan penuh stress atau penuh kebahagiaan.
Dan di obrolan kami yang ini juga dia belajar sesuatu bukan ? Bahwa kelak di kehidupannya dia juga akan membuat pilihan-pilihan terbaik bagi hidupnya.
---------------------------------------
Untuk masalah sosialisasi;
Kamampuan sosialisasi anak itu adalah bakat bawaan lahir, dan bukan karena ia Home Schooling atau Bersekolah
Apa buktinya; lihat saja dulu teman-teman sekolah kita; jika mereka pada dasarnya bakat bawaan lahirnya pandai bersosialisasi yang mereka akan bersosialisasi dengan cepat, tapi jika memang bakat bawaan lahirnya pendiam, ya tetap saja pendiam dan lebih suka menyendiri, meski teman sekolahnya banyak.
Yang perlu kita pahami adalah bahwa, mengapa Tuhan menciptakan ada anak yang bakat bawaan lahirnya suka bersosialisasi dan tidak suka bersosialisasi.
Berdasarkan pengamatan kami anak-anak yang suka bersosialisasi itu ada hubungan dengan profesi yang kelak akan mereka geluti; anak yang suka bersosialisasi akan cenderung cocok dengan profesi seperti marketing, service, entertainment, Presenter dan sejenisnya.
Sementara anak-anak yang kurang suka bersosialisasi itu cenderung menyukai hal-hal yang spesifik dan sepecialis, misalnya, programming komputer, akuntasi keuangan, Seniman, Desainer atau pekerjaan-pekerjaan yang tidak berhubungan dengan manusia.
Tapi sayangnya orang sering salah tafsir tentang arti sosialisasi bagi anak.
Bahkan menurut pengamatan kami sosialisasi itu akan menjadi baik jika kelompok tempat anak kita bersosialisasi juga baik.
Tapi jika tidak maka sosialisasi itu hanya menyebabkan anak kita tertular penyakit sosial semisal, merokok, suka kongko2 di Mall sambil merokok, teriak-teriak, suka berkata kasar, suka melawan dan kasar pada orang tua dan banyak lagi contoh lainnya yang mungkin salah satu diantara kita sudah merasakannya.
Yang lebih mengerikan lagi adalah jika sosialisasi itu membuat anak kita berperilaku seperti ini, tolong dibaca ya ayah bunda please:
https://www.facebook.com/komunitas.edy/posts/881969805227097
2 pekan lalu kami berkunjung ke Semarang bersama anak-anak kami dan bertemu anak-anak lain. Dan ucapan kamipun terbukti, Dimas yang bakat bawaan lahirnya suka bergaul maka dengan cepat melebur bermain dan disukai oleh banyak teman barunya, sementara anak kami Dido yang tipe spesialis cenderung diam, memperhatikan selama beberapa waktu, baru kemudian ikut bergabung.
Itulah mengapa kami membuat sekolah kami sendiri dan menghomeschoolingkan anak kami agar bisa mendapatkan dan memadukan kebaikan dari keduanya.
Semoga saja penjelasan yang kami berikan pada sang penanya tadi bisa lebih mencerahkan hati dan pikirannya.
Tolong dibaca juga Pertanyaan yang paling sering ditanyakan seputar Home Schooling berikut ini
klik: http://ayahkita.blogspot.co.id/2014/08/pertanyaan2-yang-paling-sering.html
ayah edy
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
Orang tua Home Schooling
GURU LUAR BIASA
Guru luar biasa adalah mereka yang bisa melukis sehebat sang maestro Pablo Picasso atau Basuki Abdullah. Namun medianya bukan kanvas, melainkan jiwa dan pikiran murid-muridnya.
-ayah edy-
www.ayahkita.com
APA ARTI BELAJAR MENURUT ANDA, JAWABAN ANDA INI PENTING BAGI MASA DEPAN ANAK ANDA?
Kita boleh setuju tapi boleh juga tidak, tapi yang lebih baik adalah merenungkannya dengan hati untuk mendapatkan pesan berharganya.
Sahabat komunitas tercinta,
Amat sangat banyak sekali orang yang bertanya, kalau anak home scholing itu belajarnya dimana?, pelajarannya apa? dan yang ngajar siapa ?
Lalu seorang bunda memberikan komentar yang amat sangat bagus sekali:
Nofiyantiyuli :
ilmu ada dimana mana, dimana mana kita bisa belajar .
Unlike · Reply · Message · 1 · 5 hrs
Lalu kami menimpali komentar tersebut
Sy juga sering bingung bun jika ada orang yang bertanya belajarnya dimana? pelajarannya apa? gurunya siapa?
Bukankah hidup ini sendiri adalah guru bagi kita?
Bukankah alam ini adalah kelas yang paling lengkap untuk pembelajaran?
Bukankah problem kehidupan adalah mata pelajaran yang paling berguna dan penting.?
Begitu banyak orang sukses yang profesina adalah mengatasi problem orang lain, semisal Psikolog, Agen Asuransi, Dokter, Penjual Makanan, Laundry, Gojeg, konsultan dsb
Jadi pikirkalah problem apakah yang akan menjadi fokos kita untuk bisa memberikan solusi bagi orang lain, dan pelajarilah hingga mahir dan ahli maka masa depan kita akan jelas dan cerah. Dan kita InsyaaAllah akan dicari banyak orang.
Ah namun.. sayangnya kita sudah banyak terbelenggu oleh pemikiran bahwa belajar itu duduk di bangku, ada meja, ada buku tulis ada guru didepan ruangan dsb. Dan kalau bentuknya tidak seperti ini bukan belajar namanya.
Hingga akhirnya kita lupa pada inti dari Belajar yang sesungguhnya. Dan luput untuk menghasilkan para Ilmuan pencipta dan Penemu. Kecuali hanya kumpulan para pencari kerja yang berebut kesempatan di bursa tenaga kerja atau menjadi pengangguran.
Itulah mengapa banyak lulusan pelajar kita yang tidak siap mengahadapi hidup, karena memang mereka belum pernah belajar dalam arti yang sesungguhnya.
Kita telah lupa bahwa Newton menemukan hukum gravitasi dibawah pohon apel. Lantas siapa gurunya ? Ya Pohon Apel, lalu dimana tempat belajarnya ya di kebun apel dan Apa pelajarannya ya Fisika Dasar, Hukum Gravitasi, Newton.
Kita juga telah lupa Archimedes menemukan hukum gaya berat, yang pada akhirnya menjadi hukum yang digunakan dalam membuat kapal laut.
Dimana ditemukan ? Dikamar mandi saat berendam di bak mandi, siapa gurunya? Bak Mandi dan air di bak serta tubuhya sendiri. Apa pelajarannya, Hukum Fisika Gaya Berat.
Dimana para Ahli Falaq (ilmu perbintangan) menemukan gugus dan rasi-rasi bintang? di halaman rumahnya, Siapa guruya ya bintang itu sendiri, apa pelajarannya Ilmu Falaq atau Perbintangan.
Yang paling penting untuk diketahui setiap orang tua adalah, apakah anak kita masih terus bertanya tentang apa yang dilihatnya, didengarnya atau dialaminya, jika ya itu artinya mesin belajar dalam dirinya masih hidup, dan kemungkinan besar jika terus dipupuk ia akan menjadi ilmuan. Itulah Newton itulah yang ada dikepalanya, mempertanyakan mengapa buah aple tersebut jatuh menimpa kelapanya. Itulah habit seorang calon ilmuan, bertanya terus tentang apa saja, dimana saja dan kapan saja.
Bukankah anak kita juga demikian ? itu artinya dia terlahir sebagai seorang pembelajar sejati.
Namun sayangnya sistem kita telah mematikan mesin belajar dalam diri seorang anak, hingga ketika dewasa jika saja kepalanya tertimpa buah apel, atau jika di Indonesia lebih tepatnya tertimpa mangga, apakah ia juga akan bereaksi seperti Newton ? Menemukan hukum baru kecepatan, gravitasi atau apapun sebagai penyempurna hukum Newton ?
Setelah membaca bait demi bait uraian diatas, Masihkah kita bertanya tentang anak homeschooling itu dimana belajarnya, siapa gurunya dan apa pelajarannya ?
Yuk kita renungkan kembali....
Like · Reply · Commented on by Ayah Edy Wiyono · Just now
Disekolah yang kami kelola saat ini, kami akan mengembangkan pola-pola belajar alamiah anak sebagaimana yang kami sudah terapkan pada anak-anak kami dirumah, mengkombinasikan kebaikan Rumah dan Sekolah, Melalui kerjasama yang intensif antara sekolah dan rumah. Untuk melahirkan anak-anak Indonesia yang berjiwa dan perpikir ala ilmuan, pencipta, dan wira usaha agar kelak bisa menjadi tuan dinegerinya sendiri.
by ayah edy
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
Singaraja, Buleleng, Bali
Sunday, December 6, 2015
Para Ilmuan Zaman Dulu ternyata belajar Etika Moral dulu baru Sains
Sahabat komunitas tercinta,
Melanjutkan dari ulasan kami mengenai ucapan para guru di Australia mengenai Budaya Mengantri jauh lebih penting dari pelajaran Sains bagi murid2nya. Saya ingin berbagi sedikit mengenai pengalaman kami dalam membaca berbagai buku yang menurut kami baik dan berguna.
Terlepas kita nanti akan setuju, sepaham atau sama sekali tidak setuju itu adalah masalah pilihan kita masing-masing, tapi alangkah indahnya jika kita membuka diri terlebih dahulu dan membaca uraian ini; Terimakasih untuk kesedianya.
Saya yakin bukanlah sebuah kebetulan bahwa saat ini anda membaca artikel ini, saya yakin ada tangan Tuhan yang telah menuntun jari jemari kita untuk bisa sampai disini. Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini.
Keluarga Indonesia yang berbahagia,
Selalu tertarik membaca sejarah bagaimana Ilmuan2 besar dari Barat dan Timur di lahirkan. Apakah mereka mendapatkan pelatihan khusus tentang ilmu sains sejak kecil atau dengan cara apa mereka bisa seperti ini.
Dibarat kita bisa melihat bahwa Seorang Socrates yang di juluki Bapaknya Para Filusuf Barat melahirkan Pemikir Besar yang bernama PLato dan Bagaimana seorang Plato bisa melahirkan Aristoteles yang mendapat julukan Bapaknya Ilmu Pengetahuan ( The Father of Sciences).
Saya juga kagum bangaimana dunia Islam bisa melahirkan ilmuan terkenal seperti Ibnu Abdul Jabbar, Ibnu Sina, Ibnu Al Qindi pada zamannya.
Sebelum membaca sejarah saya berpikir bahwa mungkin Tokoh tokoh ilmuan besar ini dulu sejak kecil di didik untuk sebanyak belajar ilmu Sains hingga akhrinya mereka berhasil menjadi para Scientist Hebat yang Mendunia.
Pemikiran inilah yang mungkin banyak diyakini orang saat ini; itulah sebabnya mengapa orang begitu berlomba2 menekan anaknya untuk belajar sebanyak2nya tentang Ilmu Science. Meskipun sering kali bukan membuahkan hasil yang di inginkan melainkan hanya membuat stress anaknya dan akhirnya malah mogok sekolah atau lebih buruk lagi mengalami penyimpangan prilaku remaja.
Setelah saya mempelajari sejarah, ternyata justru yang terjadi malah kebalikannya; Socrates pada zamannya mendapat julukan sebagai Filusuf Etika Moral dan bukan Filusuf Sains, dan ternyata yang di ajarkan terlebih dahulu pada muridnya Plato adalah filsafat Etika Moral dan bukan ilmu Sains... dan Plato selalu di ajarkan tentang apa maksud baik Tuhan menciptakan alam semesta ini berikut kita sebagai manusia.
Melalui hal tersebut maka terbukalah pertanyaan2 alam semesta yang pada akhirnya menjadikan Plato sebagai pemikir besar alam semesta pada zamannya.
Cara yang sama inilah yang di kembangkan oleh Plato pada muridnya yang bernama Aristoteles, mengajarkan Filsafat Etika Moral untuk membongkar rahasia alam semesta; dan cara ini juga yang telah menjadikan Aristoteles mendapatkan Gelar Bapaknya Ilmu Pengetahuan Barat.
Nah... jadi semakin menarik bukan...,
Lalu bagaimana dengan Tokoh2 seperti Ibnu Al Qindy ? Beliau sama juga seperti Ibnu Sina dan Ibnu Abdul Jabbar, beliau terlebih dulu membedah Al Qur'an sebagai pijakan Akhlak dan Moral untuk menuntun beliau membedah rahasia Alam Semesta Raya juga Rahasia Alam Semesta kecil yang ada dalam tubuh manusia. Hingga menjadikan beliau Tokoh Ilmuan Kedokteran, Matematika dan Ilmu Falaq yang di segani dunia pada zamannya.
Sejak saat itulah akhirnya saya menyadari bahwa dasar dari semua ilmu dan rahasia alam semesta ini adalah Akhlak dan Etika Moral yang kita bisa pelajari dan kembangkan melalui ajaran agama atau kitab suci kita masing-masing.
Ah sayangnya mungkin tidak banyak diantara kita yang membaca sejarah ini, dan mengambil pelajaran berharga didalamnya.
Kebanyakan kita, termasuk saya juga berpikir bahwa jika ingin anak kita menjadi orang hebat maka ajarilah sebanyak2nya ilmu sains sejak dini. Ya Tuhan ternyata selama ini saya salah menduga, dan Alhamdullilah Engkau telah menunjukkan jalan kesadaran bagiku.
Semoga ini bisa memberikan pelajaran bagi kita semua, jika pun tidak, kami tetap bersyukur bahwa setidaknya saya sebagai orang tua dari anak-anak saya telah di ijinkan oleh Tuhan untuk mengetahui sejarah pendidikan orang-orang hebat pada zamannya.
Mari kita renungkan bersama.
Salam syukur penuh berkah,
ayah edy
BINGUNG MEMILIH JURUSAN KULIAH ?
Jangan sampai kita dan anak kita mengalami hal semacam ini lagi.
Beberapa tahun yang lalu, sepasang suami istri datang menemui saya. Begitu kami duduk berhadap-hadapan, saya bisa melihat kegundahan yang terbayang jelas di wajah mereka.
“Kami bingung, Ayah Edy,” kata sang istri.
Nah, kalimat itu lagi.
Selama lebih dari delapan tahun ini, menghadapi orang-orangtua yang bingung memang menjadi makanan saya sehari-hari.
Ada yang bingung karena anaknya dianggap bermasalah di sekolah, ada yang bingung karena anaknya mogok belajar, ada yang bingung karena anaknya susah diatur. Benak saya mulai mereka-reka, kebingungan yang mana kira-kira yang sedang dialami pasangan suami istri ini.
Lalu mulailah ibunya membuka pembicaraan,
inilah“Intan (bukan nama sesungguhnya), anak kami saat ini sudah kuliah tingkat akhir di Fakultas Hukum. Seharusnya ini semester terakhirnya.
Seharusnya dia sedang dalam proses menyelesaikan skripsi. Tapi boro-boro menyelesaikan skripsi, anak kami malah tidak mau meneruskan kuliahnya. Dia tidak mau bekerja di bidang hukum.
Padahal, kampusnya sudah memberi ultimatum, kalau semester ini skripsinya tidak selesai juga, dia harus drop out,” sang istri bercerita agak tersendat, menahan emosi.
Ah, rupanya kebingungan jenis ini yang sedang mereka alami. Kebingungan yang dirasakan oleh anak-anak –dan orangtua—yang ‘tersesat’.
Suaminya melanjutkan. “Kami sudah coba membujuknya dengan segala cara, Ayah. Kami sudah katakan, tanggung kalau dia berhenti sekarang. Toh tinggal sedikit lagi, dia bisa mendapat gelar Sarjana Hukum. Dia cuma perlu bertahan sebentar lagi saja. Kalau dia keluar sekarang, berarti waktu bertahun-tahun yang dia habiskan di Fakultas Hukum ya sia-sia. Percuma saja. Belum lagi biaya yang kami keluarkan. Sia-sia semua.”
Saya mengangguk-angguk. Masih belum berkata sepatah pun. Biar mereka mengeluarkan seluruh unek-unek yang mengganjal selama ini.
“Tapi anak kami itu susah dibujuk. Katanya, dia tidak cocok di Fakultas Hukum. Kalau pun dia bisa lulus, dia tidak akan mau bekerja di bidang itu. Dia tidak suka. Itu bukan bidangnya,” tutur sang suami.
Istrinya kembali angkat bicara. “Kalau dia tidak cocok kuliah di sana, kenapa baru sekarang sih, dia memberitahu kami? Kenapa tidak dari dulu? Kalau sudah begini kan serba salah. Serba nanggung. Kalau pun dia keluar, terus dia mau sekolah di mana? Nanti kalau sudah kuliah di tempat lain, lalu dia merasa tidak cocok lagi, apa mau mogok lagi? Drop out lagi? Berarti kami harus keluar biaya lagi. Dia harus membuang waktu lagi. Lah kapan kerjanya?”
Tanggapan ayah edy terhadap kasus ini:
Ayah Bunda tercinta
Bila saya diibaratkan seorang dokter, maka kasus yang saya hadapi ini mungkin sudah stadium lanjut. Bayangkan, si anak sudah menghabiskan bertahun-tahun waktu hidupnya untuk mempelajari bidang yang tak ia sukai. Ia sudah tersiksa selama ratusan, bahkan ribuan jam dalam kelas-kelas yang tidak diminatinya. Ia belajar tanpa tahu akan jadi apa ia kelak. Dan di ujung masa kuliahnya, ketika ia seharusnya tinggal selangkah lagi menyambut gerbang kelulusan, kesadaran menghentaknya. Ia tak suka, tak mau dan tak cocok belajar dan bekerja dalam bidang itu.
Atau jangan-jangan, ia sudah lama memendam rasa tidak suka itu. Mungkin ia sudah lama menyadari kalau bidang itu memang bukan untuknya. Tapi bisa jadi, ia sungkan memberitahu orang tuanya. Takut melihat reaksi mereka. Atau mungkin ia tak tahu, bidang apa sebenarnya yang ia minati. Ia tak tahu apa sebenarnya cita-citanya.
Izinkan saya bertanya, akrabkah Anda dengan kisah nyata ini?
Saya tak heran bila Anda menjawab ‘ya’. Kasus semacam ini memang bukan hanya satu atau dua. Kasus ini sangat banyak terjadi di antara kita. Ini mungkin terjadi pada anak Anda, keponakan, anak kawan, anak tetangga, atau... jangan-jangan pada diri Anda sendiri?
Saya yakin kita sering melihat seorang anak yang didorong untuk belajar, belajar, belajar terus. Sejak SD sampai SMA, ia dituntut memperoleh nilai baik dalam semua ulangan dan mata pelajaran. Karena walaupun nilai Bahasa Indonesianya delapan, tapi jika matematikanya lima, ia bisa terancam tidak naik kelas. Ia lalu akan dianggap lemah dalam bidang itu. Dan karena nilai matematikanya belum memenuhi standar, ia akan digempur oleh les tambahan untuk mendongkrak nilainya.
Menjelang kelulusan SMA, ketika semua anak harus menentukan universitas dan jurusan apa yang akan mereka pilih, ia kebingungan. Ia tak tahu apa cita-citanya. Ia juga tak tahu bidang apa sebenarnya yang ia minati.
Ketika ia bertanya pada orangtuanya, jawaban mereka hanya, ‘Pilih dong Nak, jurusan-jurusan favorit. Pilih fakultas yang begitu lulus, kamu bisa gampang mencari kerja, punya gaji tinggi. Jadi kamu bisa hidup senang.’ Lalu orangtuanya menyebutkan beberapa jurusan. Bukannya tertarik, si anak malah semakin bingung karena tak satu pun jurusan tadi yang benar-benar memikatnya.
Si anak lalu bertanya pada teman-temannya. Ternyata banyak teman ‘segengnya’ yang memilih Jurusan X. ‘Kamu pilih Jurusan X juga, dong. Supaya kita bisa terus bareng-bareng pas kuliah nanti.’
Akhirnya, si anak memilih mengikuti teman-temannya. Atau, ia mungkin mengikuti saran orangtuanya. Tapi apa pun yang dipilih, ia tak memilih sesuai kata hatinya. Ia tak memilih bidang yang paling sesuai dengan potensi terunggulnya—yang hingga saat itu masih terpendam.
Di tengah-tengah masa kuliah, si anak semakin menyadari bahwa ini bukan jalannya. Tapi nasi sudah jadi bubur. Apa yang bisa ia lakukan?
Sebagian anak –seperti contoh kasus tadi—akhirnya mungkin tak tahan dan berterus terang pada orangtuanya. Ia mogok melanjutkan kuliahnya.
Tapi sebagian lagi mungkin memilih untuk melanjutkan kuliahnya walaupun ia tak meminati bidangnya. Bisa jadi, ia tak mau merepotkan orangtuanya yang telah mengeluarkan banyak biaya untuk studinya. Atau kemungkinan lain, kalaupun ia mundur dari kuliahnya saat ini, ia tak tahu bidang apa yang cocok baginya.
Note:
Alhamdullilah setelah kami menuliskan buku ini (atas permintaan para orang tua peserta Seminar Memetakan Potensi Unggul Anak), akhirnya banyak sekali orang tua dan anak yang terhindar dari kasus-kasus semacam ini.
Karena dengan kita mempu memetakan potensi unggul anak maka kita akan bisa mengarahkan dan membimbingnya untuk bisa memilih jurusan yang menjadi keunggulan anak kita.
Sehingga setiap biaya yang di keluarkan oleh orang tua akan menjadi investasi berharga bagi anak dan orang tua.
Silahkan temukan buku ini di Gramedia juga toko buku lainnya;
Bagi yang ingin membeli secara on line bisa melalui face book Pusat pemesanan buku AYAH EDY atau Ayah Edy - online shopping
atau klik link berikut ini:
https://www.facebook.com/Pusat-pemesanan-buku-AYAH-EDY-1538959983042274/
Beberapa tahun yang lalu, sepasang suami istri datang menemui saya. Begitu kami duduk berhadap-hadapan, saya bisa melihat kegundahan yang terbayang jelas di wajah mereka.
“Kami bingung, Ayah Edy,” kata sang istri.
Nah, kalimat itu lagi.
Selama lebih dari delapan tahun ini, menghadapi orang-orangtua yang bingung memang menjadi makanan saya sehari-hari.
Ada yang bingung karena anaknya dianggap bermasalah di sekolah, ada yang bingung karena anaknya mogok belajar, ada yang bingung karena anaknya susah diatur. Benak saya mulai mereka-reka, kebingungan yang mana kira-kira yang sedang dialami pasangan suami istri ini.
Lalu mulailah ibunya membuka pembicaraan,
inilah“Intan (bukan nama sesungguhnya), anak kami saat ini sudah kuliah tingkat akhir di Fakultas Hukum. Seharusnya ini semester terakhirnya.
Seharusnya dia sedang dalam proses menyelesaikan skripsi. Tapi boro-boro menyelesaikan skripsi, anak kami malah tidak mau meneruskan kuliahnya. Dia tidak mau bekerja di bidang hukum.
Padahal, kampusnya sudah memberi ultimatum, kalau semester ini skripsinya tidak selesai juga, dia harus drop out,” sang istri bercerita agak tersendat, menahan emosi.
Ah, rupanya kebingungan jenis ini yang sedang mereka alami. Kebingungan yang dirasakan oleh anak-anak –dan orangtua—yang ‘tersesat’.
Suaminya melanjutkan. “Kami sudah coba membujuknya dengan segala cara, Ayah. Kami sudah katakan, tanggung kalau dia berhenti sekarang. Toh tinggal sedikit lagi, dia bisa mendapat gelar Sarjana Hukum. Dia cuma perlu bertahan sebentar lagi saja. Kalau dia keluar sekarang, berarti waktu bertahun-tahun yang dia habiskan di Fakultas Hukum ya sia-sia. Percuma saja. Belum lagi biaya yang kami keluarkan. Sia-sia semua.”
Saya mengangguk-angguk. Masih belum berkata sepatah pun. Biar mereka mengeluarkan seluruh unek-unek yang mengganjal selama ini.
“Tapi anak kami itu susah dibujuk. Katanya, dia tidak cocok di Fakultas Hukum. Kalau pun dia bisa lulus, dia tidak akan mau bekerja di bidang itu. Dia tidak suka. Itu bukan bidangnya,” tutur sang suami.
Istrinya kembali angkat bicara. “Kalau dia tidak cocok kuliah di sana, kenapa baru sekarang sih, dia memberitahu kami? Kenapa tidak dari dulu? Kalau sudah begini kan serba salah. Serba nanggung. Kalau pun dia keluar, terus dia mau sekolah di mana? Nanti kalau sudah kuliah di tempat lain, lalu dia merasa tidak cocok lagi, apa mau mogok lagi? Drop out lagi? Berarti kami harus keluar biaya lagi. Dia harus membuang waktu lagi. Lah kapan kerjanya?”
Tanggapan ayah edy terhadap kasus ini:
Ayah Bunda tercinta
Bila saya diibaratkan seorang dokter, maka kasus yang saya hadapi ini mungkin sudah stadium lanjut. Bayangkan, si anak sudah menghabiskan bertahun-tahun waktu hidupnya untuk mempelajari bidang yang tak ia sukai. Ia sudah tersiksa selama ratusan, bahkan ribuan jam dalam kelas-kelas yang tidak diminatinya. Ia belajar tanpa tahu akan jadi apa ia kelak. Dan di ujung masa kuliahnya, ketika ia seharusnya tinggal selangkah lagi menyambut gerbang kelulusan, kesadaran menghentaknya. Ia tak suka, tak mau dan tak cocok belajar dan bekerja dalam bidang itu.
Atau jangan-jangan, ia sudah lama memendam rasa tidak suka itu. Mungkin ia sudah lama menyadari kalau bidang itu memang bukan untuknya. Tapi bisa jadi, ia sungkan memberitahu orang tuanya. Takut melihat reaksi mereka. Atau mungkin ia tak tahu, bidang apa sebenarnya yang ia minati. Ia tak tahu apa sebenarnya cita-citanya.
Izinkan saya bertanya, akrabkah Anda dengan kisah nyata ini?
Saya tak heran bila Anda menjawab ‘ya’. Kasus semacam ini memang bukan hanya satu atau dua. Kasus ini sangat banyak terjadi di antara kita. Ini mungkin terjadi pada anak Anda, keponakan, anak kawan, anak tetangga, atau... jangan-jangan pada diri Anda sendiri?
Saya yakin kita sering melihat seorang anak yang didorong untuk belajar, belajar, belajar terus. Sejak SD sampai SMA, ia dituntut memperoleh nilai baik dalam semua ulangan dan mata pelajaran. Karena walaupun nilai Bahasa Indonesianya delapan, tapi jika matematikanya lima, ia bisa terancam tidak naik kelas. Ia lalu akan dianggap lemah dalam bidang itu. Dan karena nilai matematikanya belum memenuhi standar, ia akan digempur oleh les tambahan untuk mendongkrak nilainya.
Menjelang kelulusan SMA, ketika semua anak harus menentukan universitas dan jurusan apa yang akan mereka pilih, ia kebingungan. Ia tak tahu apa cita-citanya. Ia juga tak tahu bidang apa sebenarnya yang ia minati.
Ketika ia bertanya pada orangtuanya, jawaban mereka hanya, ‘Pilih dong Nak, jurusan-jurusan favorit. Pilih fakultas yang begitu lulus, kamu bisa gampang mencari kerja, punya gaji tinggi. Jadi kamu bisa hidup senang.’ Lalu orangtuanya menyebutkan beberapa jurusan. Bukannya tertarik, si anak malah semakin bingung karena tak satu pun jurusan tadi yang benar-benar memikatnya.
Si anak lalu bertanya pada teman-temannya. Ternyata banyak teman ‘segengnya’ yang memilih Jurusan X. ‘Kamu pilih Jurusan X juga, dong. Supaya kita bisa terus bareng-bareng pas kuliah nanti.’
Akhirnya, si anak memilih mengikuti teman-temannya. Atau, ia mungkin mengikuti saran orangtuanya. Tapi apa pun yang dipilih, ia tak memilih sesuai kata hatinya. Ia tak memilih bidang yang paling sesuai dengan potensi terunggulnya—yang hingga saat itu masih terpendam.
Di tengah-tengah masa kuliah, si anak semakin menyadari bahwa ini bukan jalannya. Tapi nasi sudah jadi bubur. Apa yang bisa ia lakukan?
Sebagian anak –seperti contoh kasus tadi—akhirnya mungkin tak tahan dan berterus terang pada orangtuanya. Ia mogok melanjutkan kuliahnya.
Tapi sebagian lagi mungkin memilih untuk melanjutkan kuliahnya walaupun ia tak meminati bidangnya. Bisa jadi, ia tak mau merepotkan orangtuanya yang telah mengeluarkan banyak biaya untuk studinya. Atau kemungkinan lain, kalaupun ia mundur dari kuliahnya saat ini, ia tak tahu bidang apa yang cocok baginya.
Note:
Alhamdullilah setelah kami menuliskan buku ini (atas permintaan para orang tua peserta Seminar Memetakan Potensi Unggul Anak), akhirnya banyak sekali orang tua dan anak yang terhindar dari kasus-kasus semacam ini.
Karena dengan kita mempu memetakan potensi unggul anak maka kita akan bisa mengarahkan dan membimbingnya untuk bisa memilih jurusan yang menjadi keunggulan anak kita.
Sehingga setiap biaya yang di keluarkan oleh orang tua akan menjadi investasi berharga bagi anak dan orang tua.
Silahkan temukan buku ini di Gramedia juga toko buku lainnya;
Bagi yang ingin membeli secara on line bisa melalui face book Pusat pemesanan buku AYAH EDY atau Ayah Edy - online shopping
atau klik link berikut ini:
https://www.facebook.com/Pusat-pemesanan-buku-AYAH-EDY-1538959983042274/
BIARLAH WAKTU YANG AKAN MEMBUKTIKANNYA
Kira-kira 14 tahun yang lalu kami memutuskan mendirikan sekolah yang bisa memahami semua jenis anak. Dan kala itu kami mungkin yang pertama kali memperkenalkan bahwa tidak ada anak yang bermasalah di sekolah, melainkan kita mungkin yang belum lengkap pemahamannya tentang anak.
Bersamaan dengan dibukanya sekolah kami, kami juga memperkenalkan fenomena anak-anak otak kanan yang selama ini sering kali dinyatakan sebagai anak bermasalah dengan ADHD, ADD, HIPERAKTIF, DISLEKSIA, ASPERGER SINDROM, atau bahkan Autis ringan dsb dengan ciri-ciri pokok sbb:
http://ayahkita.blogspot.co.id/2009/06/mungkin-anak-kita-bukan-bodoh-atau.html
Hingga pada akhirnya sekolah kami malah dinyatakan sebagai sekolah untuk anak-anak tidak normal dan bermasalah. Padahal justru sesungguhnya yang menyatakan tersebutlah yang kemungkinan bermasalah karena tidak bisa memahami berbagai jenis tipe anak yang berbeda-beda dan tidak pernah ada yang sama. Atau mungkin malah belum pernah terjun langsung menangani dan mangatasi berbagai permasalahan anak.
Tolong baca tulisan kami yang ini: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=941043762633392&id=141694892568287
Bahkan pada puncaknya, upaya kami untuk menolong anak-anak normal dengan berbagai macam tipe yang sering dianggap bermasalah dan perlu di terapi ini malah menuai kecaman di media publik, namun kami pantang mundur dan biarlah waktu yang kelak akan membuktikannya;
http://www.kompasiana.com/kusnandar/dilema-opini-ayah-edy-dan-mohammad-fauzil-adhim_552fb6946ea83473238b4596
Dan alhamdullilah sejak didirikan sekolah kami, sudah banyak sekali orang tua yang merasa sangat tertolong dan beryukur bahwa ternyata anaknya memang benar-benar normal adanya.
Beberapa diantaranya bahkan sempat memberikan testimoni tentang perkembangan buah hatinya,
Dan berikut ini adalah salah satu testimoni yang ditulis bunda Ida Syafritada Harahap pada kami semoga bisa bisa menginspirasi kita semua bahwa setiap anak itu tercipta sempurna dengan keunikan masing-masing yang berbeda-beda satu dengan lainnya.
Baca selengkapnya disini:
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=943374169067018&id=141694892568287
Juga testimoni dari Mama Joe, surat yang dengan susah payah di tulis tangan oleh Joe sendiri dan kami ketik ulang agar kita lebih mudah membacanya.
Baca selengkapnya disini: http://ayahkita.blogspot.co.id/2013/08/akhirnya-joe-pun-bertemu-dengan-ayah-edy.html
Testimoni dari Bunda Aleea, Single Parent
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=898892610181841&id=141694892568287&substory_index=0
Dan testimoni dari Bunda Luci, mama dari Firdaus, Atlet Nasional Ketangkasan Berkuda.
Baca selengkapnya disini:
http://ayahkita.blogspot.co.id/2015/10/satu-lagi-anak-otak-kanan-menjadi.html
Kisah Cantiq dan Ibu Martha Tilaar;
selengkapnya baca disini: http://ayahkita.blogspot.co.id/2013/05/anak-yang-dinyatakan-lambat-belajar.html
Kisah Nia baca selengkapnya disini: http://ayahkita.blogspot.co.id/2014/06/ayah-edy-i-am-coming-home-sapa-nia-dari.html
Dan masih banyak lagi testimoni yang belum sempat dituliskan, dan hanya disampaikan secara lisan pada para orang tua yang begitu bahagia mendapati anaknya yang dinyatakan bermasalah kini tumbuh menjadi anak-anak yang berprestasi di tingkat nasional dan bahkan tingkat dunia.
Ditulis oleh Ayah Edy untuk komunitas tercinta.
web resmi ayah edy:
www.ayahkita.blogspot.com
Daftar foto:
1. Keluarga bunda Ida Syafrida Harahap & kakak Kiran
2. Keluarga bunda Luci, dan kakak Firdaus
3. Keluarga mama Joe saat bertemu
4. Joe kini menjadi juara dan spesialis Robotik
5. Nia saat bertemu ayah kira-kira 9 tahun yang lalu.
RUMUS SUKSES DI KEHIDUPAN NYATA VS DI SEKOLAH
"Sekolah itu terlalu banyak mengajarkan rumus-rumus yang tidak aku butuhkankan, tapu justru TIDAK PERNAH MENGAJARKAN rumus yang aku butuhkan untuk hidupku"
Soichiro Honda
Pendiri Honda Motor
Memulai sukses hidup dan karirnya melalui garasi rumahnya dengan menciptakan sepeda yang bermesin yang kemudian dikenal sebagai Sepeda motor dengan merek Honda, yang hampir setiap rumah di Indonesia memilikinya.
Apakah kita juga berpendapat sama dengan Soichiro Honda ?
Mari kita renungkan bersama.
PENGALAMANKU NAIK BUS TRANS JAKARTA ?
Sharing pengalaman dari Bang Haji Dolly P Pasaribu
Siang tadi saya mendapat telp, ada suara merdu mengenalkan diri dari salah satu perusahaan Asuransi.
Sales : Selamat siang pak, boleh ganggu sebentar pak?
Saya : Ada apa ?
Sales : bapak pergi dan pulang kerja naik mobil ?
Saya : Iya jelas.
Sales : bapak nyetir sendiri ?
Saya : Tidak, ada sopir yg bawa.
Sales : Apakah sudah masuk asuransi mobilnya ?
Saya : Saya kira sudah, coba nanti saya pastikan.
Sales : Berapa kira-kira nilai mobil bapak,di bawah 1M, atau 1M lebih ?
Saya : Semestinya sih 1M lebih.
Sales : Mobil apa yg bapak pakai ?
Saya : Trans Jakarta
Dengan nada marah tiba-tiba telpon ditutup.
Teruss salahku ki opooooo..???
󾌪
ó¾°›
Intermezo Akhir Pekan
.
.
.
Selamat berakhir pekan bersama keluarga tercinta !
Salam hangat,
ayah
PESAN NABI UNTUK KITA YANG SEDANG HIDUP DI ERA DIGITAL
================================================
Sebuah sharing kisah dari share Katon Bagaskara dari Januar D.
Katon Bagaskara a.k.a KB
December 3 at 5:51pm ·
Share dari FB bro Januar D,
sebuah perenungan yg pantas dibagikan :
Dalam suatu kereta ekonomi non-AC yg lumayan panas, Seorang eksekutif muda, dengan jas elegan berdiri di disana. Sesak2an dengan penumpang lain.
Sesaat kemudian, ia membuka tablet Androidnya. Lebih besar tentu dibanding smartphone umumnya.
Ia memang sedang ada chat penting dengan para donatur. Chat tentang dana untuk membantu para korban kebanjiran.
Semua penumpang menoleh padanya atau meliriknya. Apa batin mereka?
Seorang nenek2 membatin, 'Orang muda sekarang, kaya sedikit langsung pamer. Naik Ekonomi, pamer2an.'
Seorang emak2 membatin, 'Mudah2an suami saya ga senorak dia. Norak di kelas Ekonomi bukan hal terpuji.'
Seorang gadis ABG membatin, 'Keren sih keren, tapi ga banget deh sama gayanya. Kenapa ga naik AC kalau mau pamer begituan?'
Seorang pengusaha membatin, 'Sepertinya dia baru kenal 'kaya'. Atau dapat warisan. andai dia merasakan jerih pahit kehidupan; barang tentu tidak akan pamer barang itu di kelas Ekonomi. Kenapa ga naik AC sih?'
Seorang pemuka agama melirik, 'Andai dia belajar ilmu agama, tentu tidak sesombong itu, pamer!'
Seorang pelajar SMA membatin, 'Gue tau lo kaya. Tapi plis deh, lo ga perlu pamer gitu kalle' ke gua. Gua tuh ga butuh style elo. Kalo lo emang pengen diakuin, lo bisa out dari sini, terus naik kereta AC.. ill feel gue.'
Seorang tunawisma membatin, 'Orang ini terlalu sombong, ingin pamer di depan rakyat kecil.'
Si eksekutif menyimpan kembali tabletnya di tas. Ia membatin, Puji Tuhan, akhirnya para donatur bersedia membantu. Puji Tuhan, ini kabar baik sekali. Lalu, ia sempatkan melihat kantong bajunya. Ada secarik tiket kereta ekonomi.
Ia membatin 'Tadi sempat tukar karcis dengan seorang nenek tua yang mau naik kereta sesak ini. Tidak tega saya. Biarlah dia yang naik kereta AC itu. Mudah-mudahan manfaat.:
Sahabat..
Begitu berbahaya nya penghakiman. Sebuah kebaikan, tindakan kasih, bisa berubah total menjadi kejahatan hanya karna persepsi kita.
Jaga persepsi kita, semua tak perlu kita nilai seperti penampakannya.
Sy sudah mencobanya sejak tersadarkan kira-kira 7 tahun yang lalu, meskipun sulit sekali, karena sudah seperti reflek dan kebiasaan, tapi akan terus sy coba dan perbaiki setiap hari...
Menjadi buruk itu mudah, menjadi baik itu memang perlu usaha, itulah mengapa Tuhan memberi kita Pahala bagi siapa saja yang berusaha berbuat baik.
SUDAH BERAPA BANYAKKAH KATA-KATA BERACUN YANG SUDAH DI REKAM ANAK KITA DALAM BATINNYA ?
Para orang tua yang berbahagia Suatu ketika saya berkunjung kerumah seorang teman, kebetulan profesinya adalah seorang Therapist berbasiskan pada Neuro Language Programming atau NLP.
Dia menceritakan seuatu yang sangat menarik, betapa ternyata potensi dan jalan hidup yang di tempuh seseorang dimasa datang, ternyata bisa di prediksikan dari sugesti atau hal-hal yang dia yakininya.
Dan bahkan yang menarik adalah seluruh potensi dalam tubuh manusia sampai pada level terkecil itu akan mendukung apa yang diyakini oleh seseorang. Jadi keyakinan itu bisa menjadi segala-galanya yang menentukan hidup dan masa depan seseorang.
Hal ini juga sekaligus mematahkan pandangan-pandangan kuno tentang test-test yang katanya bisa mengukur potensi kecerdasan anak dsb. kata kawan saya menambahkan.
Dia ternyata juga membuktikan bahwa telah banyak kliennya yang terdiri dari orang-orang yang test IQnya biasa-biasa saja namun setelah di berikan keyakinan-keyakinan postitif berubah menjadi orang yang luar biasa sesuai dengan keyakinan baru yang dimilkinya.
Kawan saya juga mengatakan bahwa sebagian besar keyakinan ini banyak di bentuk terutama dari kata-kata yang dia dengar sehari-hari tentang dirinya atau test-test yang mengukur tentang kemampuan dirinya .
Jika kata-kata buruk yang sering dia terima tentang dirinya maka bisa dipastikan perlahan-lahan dia akan mulai berprilaku buruk, dan pada saat kata-kata yang berkesan dia bodoh, maka perlahan-lahan ia akan menjadi orang yang bodoh.
Begitu juga jika hasil test yang dia terima di bahwa rata-rata maka prestasinya akan terus turun dibawah rata-rata. Jadi hati-hati dengan kata-kata dan test-test yang katanya bisa mengukur kemampuan seseorang karena hal itu akan berakibat sangat besar terhadap masa depan seorang anak. Kata kawan saya dengan nada sangat serius.
Ayah bunda yang berbahagia...., Cerita kawan saya ini jadi mengingatkan saya pada kisah Thomas Edison yang pada usia 7 tahun dinyatakan sebagai anak yang bodoh dan tidak mampu bersekolah. Namun ibunya Nancy Alliot meyakinkan Thomas bahwa dirinya adalah anak yang pandai dan luar biasa. Hingga akhirnya meskipun tidak pernah bersekolah Thomas mampu untuk menjadi salahs eorang Jenius Besar dunia dengan 1000 temuan yang di patenkan.
Taklama setelah itu tanpa sengaja saya membaca sebuah tulisan yang berjudul The Toxic Words – Kata-kata beracun, yakni sebuah hasil interview terhadap anak-anak yang di penjaara, yang isinya mengenai kata-kata apa saja yang sering mereka dengar tentang diri mereka dari lingkungannya dan orang tua mereka dulu sebelum masuk penjara.
Lalu dari sana disusunlah kata-kata beracun yang telah menggiring mereka untuk mendapat tiket ke penjara.
Berikut adalah 10 kata paling sering didengar sebelum mereka masuk penjara:
1. Mengapa kamu selalu saja menyusahkan orang tua...
2. Dasar kamu anak pembawa sial.
3. Kamu memang tidak pernah bisa menjadi lebih baik.
4. Lihat saja nanti hidupmu akan berakhir di penjara.
5. Kamu memang anak terkutuk.
6. Aku menyesal melahirkan kamu..
7. Pergilah kamu ke neraka.
8. Dasar anak setan....
9. Lihat saja nanti....hidupmu pasti akan hancur..
10. Jangan pernah berharap hidupmu akan sukses...
Sungguh saya jadi merinding melihat fakta yang membuktikan betapa kuatnya hubungan antara kata-kata terhadap masa depan anak-anak kita. Segera saya jadi berpikir keras untuk mengingat-ingat kembali kata-kata yang selama ini pernah saya ucapkan pada istri dan anak-anak saya....
Ya......Tuhan.....Saya jadi menitikkan air mata...., seandainya saja bayak guru dan orang tua mengetahui hal ini... pasti mereka akan jauh lebih berhati-hati dengan kata-kata mereka.
Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada....Mari kita bangun masa depan anak-anak kita melalui kata-kata yang postitif...
by ayah edy
KRISIS MORAL PARA PELAJAR INDONESIA DI ERA DIGITAL
Catatan penting bagi para orang tua dan guru, dari seminarnya Bunda Elly Risman,Yayasan Buah Hati.
Seks & Perilaku Pelajar Zaman Sekarang
Sebelum Anda membaca renungan kali ini, sebaiknya saya mengingatkan:
Warning: Bumpy Road Ahead!
Awas : Jalan bergelombang di depan !
Tulisan yang akan Anda baca di bawah ini mungkin tidak akan mudah diterima oleh hati karena isinya yang mengejutkan sekaligus menyedihkan.
Saya (yang menshare kisah ini-red) mendapatkannya dari seorang kawan yang mengikuti seminar dengan pembicara Ibu Elly Risman, M.Psi dari Yayasan Buah Hati.
Meskipun cukup panjang, tapi isinya perlu diketahui oleh semua orang tua yang peduli pada anak-anaknya, agar kita semua aware akan apa yang terjadi di sekitar kita.
Dan selanjutnya, kita bisa mengambil langkah preventif agar kejadian yang sama tidak menimpa buah hati kita tercinta.
Kuatkan hati Anda dan silakan menyimak catatan dan sharing yang berharga dari kawan saya:
=============================================
Dari Seminar 30 Oktober 2010 di Kemang Village, Jakarta.
Pembicara: Elly Risman, M.Psi (Yayasan Buah Hati)
Inilah isi Sharing kisah dari salah satu peserta seminar tersebut:
Seminar dibuka dengan layar presentasi yang menayangkan contoh SMS anak sekarang dengan bahasa membingungkan yang kini disebut bahasa ‘alay.
Mungkin Anda berpikir, alaaah…SMS alay kan bisa dibaca, meskipun bikin mata dan otak kerja keras dulu untuk tahu maksudnya. But NO! Tidak satu pun dalam ruangan itu yang bisa membaca SMS di layar.
Ternyata SMS itu harus dibaca harus dengan posisi HP terbalik (bagian atas HP menjadi bagian bawah)!
Dan –siap-siap kaget-- isinya adalah:
”Hai, sayang, aku kangen nih. Udah lama kita GA ML (Making Love, alias bersetubuh-red), Yuk, mumpung bonyok lagi pergi, yuk kita ketemuan...”
Seisi ruangan seminar langsung heboh.
Pembicara pun menjelaskan, “SMS sayang-sayangan anak sekarang sudah bukan lagi ‘I love you’ atau ‘I miss you’, tapi ‘Udah lama GA ML (making love-Red)’.
Ini baru awal seminar, tapi mata semua peserta sudah melotot lebar.
Selanjutnya, pembicara menegaskan bahwa anak-anak kita hidup di era digital. Banyak isi media elektronik dan cetak yang bisa diakses anak-anak, namun sebenarnya mengandung unsur pornografi.
Pornografi bisa ‘mendatangi’ anak-anak kita melalui games, internet, ponsel, TV, DVD, komik maupun majalah:
• Games. Berdasarkan penelitian, games pada abad ke-21 menampilkan gambar yang lebih realistis, pemain bisa memilih karakter apa saja yang tak ada di dunia nyata. Games juga menuntut keterampilan lebih kompleks dan kecekatan lebih tinggi. Ini semua memberikan tingkat kepuasan dan kecanduan yang lebih besar.
Catatan dari pembicara:
Super hati-hati dengan games anak-anak Anda!
a. Ada games action yang berisi permainan tembak-tembakan, namun ternyata jika anak kita berhasil mencapai level akhir, bonus di akhir levelnya adalah ML dengan PSK.
b. Ada games berjenis role playing yang inti permainannya adalah tentang bagaimana ‘memperkosa paling asyik’! Anak bisa memilih perempuan model apa yang diinginkan –si perempuan tidak berbusana—lalu tinggal pilih bagian tubuh mana yang mau dipegang pertama kali. Cursor berbentuk tangan yang digerakkan oleh anak-anak kita.
Seisi ruangan seminar langsung heboh lagi. Gumaman ‘astagfirrullah’ bertebaran di ruangan.
Untuk menghindarinya, pikir baik-baik jika Anda ingin membelikan games untuk anak dan bila anak membeli games sendiri atau meminjam games dari teman. Hati-hati jika di depan sekolah anak-anak atau di sekitar lingkungannya ada warnet! Jenis games yang ada sangat murah dan gampang didapat. Jenisnya sudah di luar perkiraan kita!
• Internet. Situs porno bertebaran di dunia maya. Jangan salah, pembuatnya terkadang anak-anak kita juga! Bahkan untuk mendapatkan uang, mereka menjual video seks mereka sendiri!.
Kami ditunjukkan ribuan video seks yang gampang diperoleh lewat internet.
Catatan dari pembicara:
a. Siapa bilang ML harus telanjang dan harus di tempat tidur/hotel ? –> Kami ditunjukkan sekilas video ABG berseragam SMP, sedang ML di tangga dan berpakaian lengkap!
b. Hamil? Siapa takut? –> Bisa aborsi!
• Ponsel. Video-video seks tersebar dengan mudah melalui ponsel. Kapasitas ponsel yang besar memungkinkan si pemilik menyimpan file-file berukuran besar seperti video dan gambar porno. Anak Anda bersih? Bisa jadi dia medapat kiriman gambar/video dari temannya!
Pembicara kami, Ibu Elly, pernah didatangi seorang ibu yang syok karena menemukan gambar vagina seseorang di BB-nya. Setelah ditelusuri, itu milik temen sekolah (perempuan) putranya, yang sering meminjam BB beliau!
• Televisi. Program TV yang masih pantas ditonton bisa dihitung dengan satu tangan. Lainnya adalah program pembodohan, hantu, kekerasan dan pornografi. Jangan salah, iklan pun bisa menyesatkan. Selain itu, jangan anggap enteng sinteron/film Korea/Jepang! Lama-lama anak bisa ‘tercuci otak’ dan terbiasa dengan kekerasan atau seks bebas!
• Komik. Ya, komik memang bergambar kartun. Tapi soal cerita, ada komik-komik tertentu yang tidak kalah ‘seram’ dari novel porno. Bahkan lebih mengerikan karena didukung dengan gambar. Gambar sampul depan bisa jadi tidak menyiratkan kepornoan apa pun. Tapi di dalamnya, ujung ceritanya ternyata tentang seks bebas.
Dari survei yang telah dilakukan pembicara, salah satu judul games, komik, dan DVD yang masuk dalam kategori ‘bahaya’adalah NAR***. Hati-hati!
Apa tujuan semua ini? Apa yang ‘mereka’ inginkan dari anak-anak kita?
1. Yang mereka inginkan, anak dan remaja kita memiliki mental model porno.
2. Agar anak-anak kita mengalami kerusakan otak permanen, yang hasil akhir yang diincar adalah incest!
3. Sasaran tembak utama adalah anak-anak yang belum baligh. Jika anak-anak ini sudah mengalami 33--36 ejakulasi, mereka akan menjadi pecandu pornografi. Merekalah pasar masa depan bagi industri pornografi: Perfilman, majalah, musik, jaringan TV kabel, pembuat dan pemasar video games.
Proses kecanduan dan akibatnya:
1. Di dalam otak ada bagian yang disebut Pre Frontal Cortex (PFC). PFC adalah tempat dibuatnya moral, nilai-nilai, rasa bertanggung jawab untuk perencanaan masa depan, organisasi, pengaturan emosi, kontrol diri, konsekuensi dan pengambilan keputusan. PFC akan matang pada usia 25 tahun.
2. Sekali anak mencoba kenikmatan semu, maka ia akan kebanjiran hormon dopamin (hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus). Akibatnya ia akan merasa senang, tapi kemudian dalam hatinya timbul perasaan bersalah.
3. Saat anak merasa senang (kebanjiran dopamin), ia akan terganggu dalam: Membuat analisa, penilaian, pemahaman, pengambilan keputusan, makna hubungan, dan hati nurani. Akibatnya, spiritualitas atau imannya akan terkikis. Anak pun ‘tumbang, memilliki mental model porno yang bisa saja berujung pada incest!
4. Narkoba ‘hanya’ akan merusak tiga bagian otak , tetapi pornografi/seks akan merusak lima bagian!
Kelalaian kita sebagai orang tua:
• Selama ini telah terjadi kesalahan budaya karena ada pemahaman bahwa yang mengasuh anak hanya ibu. Ayah mencari nafkah saja. Bila memang perlu, baru lapor ayah. Ini salah besar. Keluarga Indonesia memerlukan revolusi pengasuhan!
• Orang tua kurang menghabiskan waktu dengan anak dan hanya menjadi weekend parent. Anak diikutkan les sana sini. Pertanyaan orang tua ke anak hanya ‘Bagaimana les-nya tadi? Nilaimu berapa, Nak? Kamu nggak bolos, kan?Kamu bisa ngerjain ujian hari ini?’ Akibatnya, anak-anak menjadi BLASTED (Boring–>Lazzy–> Stressed!)
• Orang tua merasa cukup menyekolahkan anak-anak di sekolah berbasis agama. Penerapannya? Nol besar! Orang tua menyuruh anak salat tepat waktu, sementara orang tua salatnya bolong-bolong. Orang tua berbaju tertutup, tapi anaknya main ke mal hanya memakai rok mini dan tanktop. Anak disuruh les mengaji padahal orang tuanya tidak bisa mengaji!
• Orang tua terkadang hanyut dalam tren. Melihat teman-teman anak di sekolah punya iPod, anak buru-buru dibelikan iPod juga. Orang tua malu karena anaknya hanya punya ponsel jadul yang cuma bisa SMS dan telepon? Anak pun dibelikan BB paling mutakhir.
• Orang tua bisanya memfasilitasi anak dengan gadget terkini, tapi gagap teknologi alias gaptek. Buktinya, baca SMS alay saja nggak bisa! Bagaimana mau mengawasi anak? Karena itu, jadi orang tua harus gaul dan pintar.
• Orang tua membelikan anak gadget/perangkat teknologi tanpa tahu akibat negatifnya, tanpa penjelasan dan tanpa persyaratan untuk anak.
• Orang tua sekarang adalah generasi orang tua yang abai, generasi orang tua yang pingsan! Yang penting anak sekolah,les, diam di rumah depan komputer, games, ponsel dan TV. Yakin, anak Anda aman?
• Orang tua jarang bisa berkomunikasi secara baik dan benar dengan anak, tidak memahami perasaan anak dan remaja.
Menjadikan anak tangguh di era digital:
1. Hadirkan Tuhan di dalam diri anak. Ajarkan untuk selalu ingat Tuhan dan taat kepadaNya sejak kecil. Hindari ucapan, ‘Jangan sampai kamu hamil ya! Bikin malu keluarga! Bapak Ibu malu!’ Ini salah besar. Ajarkan bahwa di manapun dia berada, Tuhan tahu apa yang dia perbuat.
2. Perbaiki pola pengasuhan. Libatkan kedua-belah pihak. Jangan jadi orang tua yang abai dan pingsan.
3. Anak perlu mendapat validasi, yaitu ‘penerimaan, pengakuan dan pujian’. Jangan jadikan anak Anda BLASTED alias Boring –> Lazy –> Stressed!
4. Bimbing anak agar bisa mandiri dan bertanggung jawab pada Tuhan, diri sendiri, keluarga dan masyarakat.
5. Memberikan fasilitas pada anak harus dengan landasan dan persyaratan agama yang jelas.
Kiat menangkal pengaruh negatif yang datang melalui:
1. KOMIK
• Cek bacaan anak.
• Baca dulu sebelum membeli.
• Secara berkala, periksa meja belajar/lemari/kolong tempat tidur anak. Ingat, jangan sampai ketahuan anak!
• Kenalkan anak pada berbagai jenis bacaan.
• Diskusikan bacaan dengan anak.
2. GAMES
• Perhatikan letak komputer/media video games di rumah.
• Buat kesepakatan dengan anak tentang:
o Berapa kali dalam seminggu boleh bermain games.
o Kapan waktu yang tepat untuk main.
o Games apa yang boleh dimainkan
o Sanksi apa yang diberlakukan jika melanggar
• Dampingi anak dalam membeli games dan cek selalu rating games dalam kemasan games.
Banyak video games memiliki rating AO (Adult Only) atau M (mature) yang dibajak oleh ESRB (Entertainment Software Rating Board -- lembaga pemberi rating untuk games hiburan) lalu diubah rating-nya menjadi Teen, seperti GTA San Andreas, Mass Effect, Gta IV dan banyak lagi.
Catatan:
Maraknya games kekerasan yang menampilkan adegan seksual di tengah-tengah permainan seperti ‘GTA: San Andreas’ dan ‘Mass Effect’ mendapat kecaman keras dari banyak kalangan seperti Jack Thompson dan Hillary Clinton. Hal ini memaksa produsennya mengganti rating ESRB-nya menjadi AO (awalnya M
Salah satu peristiwa tragis yang dipicu oleh games kekerasan terjadi pada 20 Oktober 2003. Aaron Hamel dan Kimberly Bede menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh dua remaja, William dan Josh Buckner, karena keduanya terinspirasi setelah memainkan GTA:III. Akibat kejadian itu, Aaron meninggal dunia, sedangkan Kimberley mengalami luka parah.
3. TV
• Atur jam menonton TV
o No TV di bawah umur 2 tahun.
o Anak 5--7 tahun paling lama menonton TV: 2 jam/hari
• Kenalkan dan diskusikan tentang program TV yang baik dan buruk.
4. INTERNET
• Perhatikan letak komputer. Jangan pasang komputer menghadap dinding.
• Lakukan filterisasi terhadap situs porno (pasang alat pemblokir situs porno)
• Buat kesepakatan tentang waktu bermain internet.
• Secara berkala, cek situs apa saja yang telah dibuka anak di komputer.
Ikhtiar terakhir orang tua:
1. Perbanyak mendengarkan perasaan. Gunakan dua telinga lebih sering daripada satu mulut.
2. Orang tua harus TTS (tegas, tegar, sabar).
3. Meningkatkan diri dengan berbagai macam pengetahuan melalui seminar, pelatihan, buku parenting dan ilmu agama)
4. Setelah semua upaya —> DOA
Jujur, ketika saya mengikuti seminar ini, beberapa kali saya menitikkan airmata. Betapa saya merinding hebat dan ingin segera pulang memeluk anak-anak saya.
Semoga kita tidak termasuk jenis orang tua yang pingsan dan abai.
Semoga anak-anak kita menjadi orang saleh yang selalu dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.
Note: ===============
Terimakasih kepada ayah/bunda yang telah berkenan menuliskan hasil seminar ini untuk bisa di ketahui oleh lebih banyak orang tua dan guru.
Tolong bantu di share jika kira-kira dirasa bermanfaat dan perlu diketahui semua orang tua dan guru.
Subscribe to:
Posts (Atom)










































