SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Selasa, 18 April 2017

ANAK-ANAK INDONESIA YANG MENEMBUS DUNIA


Ditulis dari pengalamann ayah edy selama lebih dari 10 tahun membimbing anak-anak yg oleh sekolahnya dinyatakan bermasalah, Gagal dan Mogok sekolah, hingga berhasil menembus dunia dan mendapatkan beasiswa

Bagaimana Membimbing agar Anak Berprestasi?

Sebagai orangtua, Titin tahu ia tak boleh membanding-bandingkan putranya dengan anak lain. Tak ada orang yang suka dibanding-bandingkan, termasuk Titin.

Namun, terus terang, Titin iri melihat keponakannyaputri adiknyayang berprestasi cemerlang. Keponakannya itu kerap meraih peringkat satu di kelas. Selain itu, ia juga mengambil kursus tari daerah dan sering tampil, serta menjuarai lomba tari.

Sementara Adit, putranya sendiri, malas-malasan sekolah. Jangankan berprestasi, pergi sekolah saja masih harus “digedor-gedor” dahulu.

 Kerjanya di rumah cuma tidur, makan, dan main game. Titin sedih, mungkin ia sudah salah mendidik putranya selama ini.

Sekarang, Adit sudah remaja dan Titin merasa jangan-jangan sudah terlambat untuk membimbingnya agar mau mengejar prestasi.

Jadi ... Ayah Edy, bagaimana ya caranya?



Jawaban Ayah Edy:

Ayah-Bunda yang bersemangat ....

Ingatlah satu hal: prestasi adalah efek, bukan tujuan. Bila seseorang tekun belajar, maka efeknya ia berprestasi. Begitu pula sebaliknya.

Penyebab anak malas dan mogok tentu bisa macam-macam, tetapi intinya ia tidak suka belajar. Mengapa anak tidak suka belajar? Biasanya karena dua hal:
- Prosen belajar-mengajarnya membosankan.
- Ia tidak tahu apa tujuan belajar.

Karena itu yang harus kita lakukan adalah mencari tujuannya dahulu untuk apa ia belajar.

Coba sekarang suruh anak Ayah-Bunda segera berangkat ke Bandung. Jawabannya sudah pasti, “Ngapain ke Bandung?”
Namun, coba katakan bahwa Cita, sahabat sejatinya telah menelepon dan minta dijemput jam 12 di Bandung. Saya jamin tanpa disuruh pun ia akan segera melesat ke Bandung. Kenapa? Karena ada tujuan yang jelas dan ia inginkan.

Saya pernah memiliki klien, seorang remaja putra yang mogok sekolah. Ia kira-kira kelas 3 SMP. Saya mengajaknya mengobrol seperti ini:
“Katanya kamu mogok sekolah, ya? Benar?”
“Iya.”

“Wah, bagus! Itu berarti kamu punya kejelasan. Tidak seperti anak-anak lain yang cuma nurut sekolah, tapi enggak tahu mau ngapain.”
....
Ia diam saja, mungkin bingung kenapa saya malah menyemangatinya.

“Ya sudah, mulai besok kamu enggak usah sekolah. Nanti Ayah Edy yang bilang ke orangtuamu.”

“Iya.” Katanya pelan, sambil menatap saya dengan rasa tak percaya.

“Tapi, setahun kan ada 365 hari, seminggu 7 hari, sehari 24 jam. Apa kamu enggak bosan kalau tidak sekolah?”

“Hmm, ya bosan, sih.” Ia menjawab dengan santai.
“Nah, kalau begitu ada enggak kegiatan yang kamu sukai, tapi gara-gara sekolah tidak bisa kamu lakukan?”

“Ada. Main band dan diving.” Oh, rupanya ia senang musik dan menyelam.

“Keren! Oke, kalau begitu kamu berhenti sekolah, lalu nge-band dan diving saja.”

Tiga bulan kemudian, ia kembali berkonsultasi pada saya. Ketika saya tanya, ternyata band-nya tidak ada kemajuan. Rupanya, ia mungkin bermain band supaya kelihatan keren dan mendapat perhatian, maklumlah remaja. Berarti motifnya bersumber dari luar, bukan dari dalam dirinya sendiri. Motif dari luar sangat lemah untuk membuat seorang anak konsisten dalam melakukan aktivitas.

Namun, ia semakin lihai diving. Saya pun menyuruhnya berhenti main band dan  terus diving.   

“Nak, di Indonesia ini segalanya harus bayar. Kalau kamu cuma menyelam dan enggak melakukan apa-apa, kelak hidupmu akan kesulitan secara finansial. Enggak mau, kan? Sekarang, cobalah bantu Ayah mencari profesi apa yang bisa dilakukan sambil diving, tetapi memberikan efek finansial yang baik.”


Setelah mencari-cari dibantu oleh ayahnya, ia menemukan cita-cita impiannya yakni menjadi Coral Reef Marine Biologist atau ahli terumbu karang. Ketika bertemu lagi dengan saya, ia sudah bisa berkata dengan tegas, “Aku tahu mau jadi apa!”

Nah, inilah kata kuncinya. Sebelum anak tahu mau jadi apa atau menemukan impian profesi hidupnya, itu ibarat orangtua meminta anaknya pergi tanpa membawa alamat. Itulah masalah terbesar anak-anak zaman sekarang. Ia tidak pernah tahu tujuan mengapa harus bersekolah, mengapa harus belajar hingga 12-15 mata pelajaran di sekolah, mengapa harus menguasai semua mata pelajaran, dan hasilnya pun harus bagus.

Untuk apa ini semua? Untuk kepentingan dirinya, orangtuanya, atau siapa?  Dan, jika semua pertanyaan di kepala anak tidak mendapatkan jawaban yang jelas, motivasinya akan menurun. Akibatnya ia malas sekolah atau mogok.

Kemudian, saya memintanya mengumpulkan informasi seputar sekolah yang memiliki jurusan Coral Reef Marine Biology terbaik di seluruh dunia, dan mencari tahu apa saja tesnya, berapa biaya, dan adakah beasiswanya.

Ia kembali mencari dan menemukan di Denmark, Australia, dan Jepang. Ia juga menemukan  bahwa ujian masuk jurusan itu terdiri atas beberapa bidang. Khusus untuk yang di Jepang adalah bahasa Jepang, di Australia dan Denmark itu bahasa Inggris dan tes Biologi, Fisika, dan Kimia.

“Berarti sekarang kamu sudah tahu apa yang harus kamu pelajari, Nak. Dapatkanlah nilai terbaik untuk bidang-bidang tersebut agar menembus universitas tujuanmu, kalau bisa dengan beasiswa,” pesan saya padanya.

Untuk mempermudah proses pencapaian tujuan tersebut, saya menyarankannya menempuh sekolah formal melalui jalur homeschooling.

Dan, sejak itu motivasi belajarnya meroket tajam. Jika dahulu kedua orangtuanya terus mengeluhkan anaknya yang malas sekali belajar, tetapi sekarang yang terjadi malah sebaliknya, ibunya kerap berkata, “Nak, kamu kok belajar terus? Lihat tuh sudah jam 2 pagi. Tidur dooong, nanti kelelahan dan sakit lho ... besok masih bisa dilanjutkan lagi.”

Melalui jalur pendidikan formal yang ditempuh via homeschooling, ia hanya perlu dua tahun untuk berhasil lulus UAN.

Ia juga berhasil lulus tes ujian masuk sekolah di Jepang, tetapi sayangnya ia tak berhasil dalam tahap wawancara untuk mendapatkan beasiswa ke Jepang. Namun, itu tak membuatnya putus asa. Ia kembali tes untuk jurusan yang sama di Queensland University Australia dan berhasil lulus.

Lihatlah. Prestasi hanya efek dan bukan tujuan akhir. Yang jauh lebih penting selain belajar adalah menemukan cita-cita dan tujuan profesi seorang anak.

Bantu ia menemukan tujuannya dahulu dan kita bisa menyaksikannya melesat meraih prestasi.

Penjelasan lengkap bagaimana kita bisa membantu anak menemukan cita-cita dan tujuan profesi yang dicintai, telah dibahas secara lengkap dalam buku Menemukan Potensi Unggul Anak Sejak Dini.

by ayah edy
dipetik dari buku Problematika Orang Tua ABG



Tidak ada komentar:

Posting Komentar