SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Rabu, 28 Februari 2018

BERDEBAT VS DISKUSI


Seorang guru bijak pernah memberi pesan, bahwa sesungguhnya kehidupan ini hanyalah berisikan pelajaran yang harus di cerna oleh pikirin sehat kita dan bukan dengan ego dan kepentingan kita.
Barang siapa yang tak mampu mengambil pelajaran dari kehidupan ini maka hidupnya akan selalu dipenuhi persoalan dan dirundung masalah.
Dan mengingat pesan bijak dari beliau, saya jadi sering merenungkan setiap kejadian dan mengambil hikmah pelajarannya. Agar bisa hidup lebih baik dan tidak selalu dirundung masalah.
Seperti misalnya, akhir-akhir ini di media sering kali kita semua melihat perdebatan demi perdebatan, lalu sy merenung dan dari renungan apa pelajaran dari orang-orang yang gemar berdebat ini?
Dan akhirnya saya bisa mengambil sebuah pelajaran berharga dari sebuah perdebatan.
Orang yang sedang berdebat sering kali mengaku dirinya sedang berdiskusi, padahal jelas sekali perbedaan dari keduanya, diskusi adalah untuk mencari sebuah solusi yang lebih baik dan membangun win-win solution, sementara berdebat adalah untuk tujuan saling menjatuhkan.
Dan Diskusi itu lebih mirip seperti orang yang sedang Belajar sementara berdebat itu lebih dekat pada BERTENGKAR.
Hikmah lain yang juga saya dapat adalah:
Orang yang sedang berdebat itu sesungguhnya bukan sedang memperjuangkan KEBENARAN, melainkan sedang memperjuangkan Ego dan kepentingan pribadinya.
Dengan berbagai argumen PEMBENARAN yang seolah-olah jika tidak dicerna oleh akal sehat mirip sebuah KEBENARAN.
Salah dan benar yang mereka perdebatkan sesungguhnya sangat tergantung dari kepentingan pribadi mereka masing-masing,
mirip seperti Penjual Es Buah dan Penjual Payung yang memperdebatkan soal HUJAN.
Jika kita ingin mendapatkan kebenaran bagaimana caranya?
Sesungguhnya kebenaran itu baru datang pada saat kita yang berdebat berhenti berdebat dan ganti untuk MERENUNG dan berani melepaskan semua kepentingan ego dan pribadinya,
mirip seperti Tukang Es yang akhirnya tersadarkan, "Ah dari pada ia terus berdebat dengan Penjual Payung lebih baik ia ganti berjualan Payung di musim hujan dan sebaliknya juga dengan Tukang payung yang ganti menjual Es dimusim panas."
Dan akhirnya mereka telepas dari masalah mereka masing-masing dan mendapatkan hasil yang lebih menguntungkan.
Masihkah kita ingin berdebat atau segera merenungkan setiap masalah utuk mendapatkan hikmah positifnya.
Suit memang untuk melakukannya, karena memang sejak kecil kita tidak pernah dilatih untuk merenung dan lebih banyak melihat orang tua kita saling berdebat setiap harinya.
Tapi saya yakin jika kita mau pasti bisa !
ayah edy
guru parenting Indonesia
www.ayahedy.tk
www.ayahkita.com

Jumat, 23 Februari 2018

ANAK SUSAH BELAJAR


KENAPA ANAKKU SUSAH SEKALI JIKA DIMINTA BELAJAR..?

Suatu hari seorang ibu, sebut saja namanya ibu Karina, datang kepada saya menceritakan tentang anaknya... begini kira-kira cuplikan pembicaraanya;

Ayah Edy....ini lho...saya bingung dengan anak saya yang satu ini, kok ya sepertinya dia ini gak suka yang namanya belajar.....?

Dengan maksud agar suasana lebih rilex, saya jawab ;  Ah masa iya  bu.... ada anak yang tidak suka belajar....?

Iya betul Ayah Edy....,  dia ini kalo disuruh belajar ada saja alasannya; sudah gitu kalo dapat tugas dari sekolah kalo tidak saya paksa-paksa juga jarang dikerjakan;  ...padahal tugas dari sekolahnya cukup banyak lho.....

Ayah Bunda ......Saya kira permasalahan seperti ini bukanlah hal baru.., saya yakin kasus yang serupa  juga mungkin banyak dialami oleh orang tua lainnya.

Ayah Bunda ... mari kita kupas permasalah ini dari sudut pandang yang tepat;

Adalah suatu hal yang mustahil jika seorang anak tidak suka belajar... mengapa....?

Karena pada saat anak kita dilahirkan; Tuhan telah menginstall didalam diri anak kita satu software yang luar biasa yang namanya “Program untuk selalu belajar sepanjang hidupnya”.  Para ahli pendidikan yang berbasiskan penelitian otak sering menyebut software ini sebagai “The Highly Order Thinking Program”

Jadi berdasarkan penelitian ilmiah;  anak kita bisa dipastikan sebagai “Makhluk Pembelajar” bahkan untuk seumur hidupnya.

Nah....dimana letak permasalahannya, mengapa seorang anak yang telah diciptakan oleh Tuhannya sebagai “Mahluk Pembelajar”, kok malah berubah menjadi seorang mahluk yang tidak suka belajar.....?

Semua ini ternyata bermuara pada cara kita mengartikan kata “BELAJAR” itu sendiri.....

Ayah Bunda .... pada umumnya seperti apa kita memaknai kata BELAJAR itu.....?

Dari beberapa program parenting yang kami selenggarakan;  kita bisa melihat pandangan para orang tua pada umumnya mengenai belajar.....

Berikut adalah diantaranya;

1. Belajar = Membaca Buku Wajib Sekolah..

2. Belajar itu identik dengan duduk diam dikursi sambil membaca atau menulis dimeja.

3. Belajar itu adalah mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru disekolah...

4. Belajar itu harus tekun dan serius tidak boleh sambil bercanda...

Dari pendapat-pendapat tadi; kita melihat bahwa kita terlalu sempit memaknai kata belajar.......  tentu saja biasanya dengan definisi yang sangat terbatas tersebut jangankan anak kita.....kita sendiripun mungkin akan cepat jenuh dan lama-kelamaan akan menjadi anti pati.

Mari kita belajar dari Sang Jenius Leonardo Da Vinci; bagaimana ia begitu mencintai “belajar” dan menggunakan hampir seluruh hidupnya untuk belajar berbagai hal. 

Melalui catatan Vasari seorang muridnya., Da Vinci pernah menceritakan bahwa dahulu kakeknya pernah mengartikan dan memaknai kata belajar padanya sehingga pada akhirnya Da Vinci menjadi seorang anak yang Jenius...  Apa kata gerangan definisi yang dibuat oleh kakeknya tersebut.....

“Belajar harus dimulai dengan membangkitkan hasrat untuk mengetahui.... mencoba....dan menguasai.. sesuatu apapun yang menarik minatnya ,dengan cara-cara yang menyenangkan dan menantang.

Mari kita perhatikan satu persatu mengapa definisi ini telah menjadikan Leonardo Da Vinci menjadi manusia paling Jenius sepanjang zaman.

1.  Belajar harus dimulai dengan membangkitkan Hasrat  ;   Jelas sekali; bahwa hasrat, minat atau ketertarikan adalah unsur utama setiap manusia untuk dapat termotivasi melakukan sesuatu. 

Jadi apa yang dilakukan oleh sang kakek kepada cucunya adalah ia selalu berusaha untuk membangkitkan ketertarikan Da Vinci terhadap satu hal yang ia harapkan untuk dipelajarinya.....

Menurut ceritanya;  sang kakek sering menggunakan berbagai macam cara untuk membangkitkan minat cucunya; seperti dengan bertanya mengapa sesuatu itu bisa begini atau begitu; cara lainya misalnya dengan membawanya berjalan-jalan untuk melihat-lihat apa saja yang dilaluinya sambil mencari tahu apa yang menarik bagi cucunya, ada lagi misalnya dengan mengajaknya untuk melihat para seniman yang sedang melukis, memahat dsb.

Ayah Bunda .....

Dan yang tidak pernah lupa untuk  dilakukannya adalah mengajukan pertanyaan Mengapa.....? dan Bagaimana....? kepada Da Vinci kecil, 

Sementara meskipun si kakek mengetahui jawabanya ia tidak pernah mau menjawabnya melainkan membiarkan Da Vinci untuk bersusah payah mencari jawabannya sendiri.

Ayah Bunda ......Coba bandingkan dengan cara-cara kita selama ini....?

2. Belajar adalah Mengetahui....Mencoba.... dan Menguasai....  ini adalah urutan alamiah yang akan dilalui oleh seorang anak dalam proses belajar tentu saja setelah minatnya terbangun. 

Ayah Bunda ....sudahkan kita memberikan kesempatan hal ini terjadi secara alamiah pada anak-anak kita untuk mengetahui....mencoba dan menguasai bidang-bidang yang diminatinya...?

Tapi ingat  Sang Kakek mengatakan bahwa setelah dia tertarik untuk mengetahui sesuatu, maka biarkanlah dia  mencobanya sendiri, jangat pernah merusak prosesnya dengan berusaha untuk mengajari apalagi mengguruinya; beri kesempatan  ia untuk berbuat salah berkali-kali sampai dia belajar sendiri dari kesalahannya. Dari proses inilah sesungguhnya dia akan menjadi orang sangat ekploratif dan gemar mempelajari apapun.
 
Ayah Bunda .....
Sering kali secara tidak sadar para  orang tua pada umumnya selalu tidak tahan ingin segera mengajari anaknya agar cepat bisa, kita juga sering kali termasuk orang tua yang tidak sabar melihat anak kita berbuat salah dalam proses belajar.apa lagi sampai berkali-kali melakukan kesalahan.

Disekolah bahkan kita dulu pernah mengalami bersama bahwa belajar itu identik dengan tidak boleh salah dan harus selalu benar.  Masih ingat jika anda menjawab keliru; maka guru akan membuat tanda silang besar-besar dengan tinta berwarna merah.

3. Belajar adalah apapun yang menarik baginya; nah ini dia

Sering kali kita memaksa  anak kita belajar  hal-hal tertentu yang diwajibkan sekolah saja; yang justru sering kali bukan sesuatu yang menarik minatnya.

Sistem sekolah kita juga demikian; tidak pernah berusaha untuk mencari atau menditeksi apa yang menjadi minat masing-masing anak. 

Jadi bagaimana mungkin guru bisa membangkitkan hasrat dan minat seorang anak; apa bila dia tidak mengenali potensi minat masing-masing anak.

4. Belajar adalah dengan cara yang menyenangkan dan menantang....

Nah....pertanyaan buat kita....apakah dulu saat kita masih menjadi pelajar, kita merasa.. proses belajar disekolah itu menyenangkan..?  apakah juga cukup menantang....?   atau malah menyebalkan dan membosankan...?

Ayah Bunda ......

cara-cara belajar yang selama ini kita terapkan kepada anak kita itulah sebenarnya yang justru telah merusak software belajar yang dimilikinya. 

Bahkan  dengan cara-cara pembelajaran konvensional yang masih kita gunakan disekolah hingga saat ini sering kali tidak hanya merusak software anak-anak kita tapi bahkan  telah menghancurkannya.

Ayah Bunda ....Kalau dulu kita saja tidak suka dengan model belajar seperti ini....  mengapa cara yang sama harus kita ulangi kembali pada anak-anak kita.....?

Mari kita gunakan cara-cara yang lebih tepat agar anak kita suka belajar dan  menjadi Mahluk Pembelajar sepanjang hidupnya.

ayah edy
guru parenting Indonesia.
www.ayahkita.com


MEROKOK MEMBUNUH ANAKMU


Bro, hari ini gue dah genep 2 tahun berhenti ngerokok, kalo bisa gue ngajak elo semua, yang udah jadi bokap pada berhenti deh ngerokok.

Gue tau ini susah, apa lagi kalo alesannya cuman bikin kanker atawa bikin loe mati.

Gue sedih banget kalo inget anak kesayangan gua umur 1 taon, anak satu2nya & lagi lucu2nya akhirnya meninggal kena pnemonia.

Penyebabnya kata dokter adalah karena gue ngerokok. Padahal gue udah coba kalo ngerokok gak deket2 anak gue, tapi kata dokter. Asep rokok itu nempel di baju gue dan waktu gue gendong anak gue racun yang nempel di baju terhisap napasnya.

Gue gak tao harus ngomong apa lagi, tapi kalo loe emang sayang ama anak loe, mendingan berhenti ngorokok sekarang juga dech sebelom loe ngalamin kayak gue.

Copas dari tetangga sebelah

Info Dampak Asap Rokok bagi anak: .

http://m.poskotanews.com/2013/11/08/asap-rokok-picu-pneumonia-pada-balita/

http://www.suarapembaruan.com/home/perokok-pasif-ternyata-berisiko-kena-pneumokokus/25302

Jangan sampai salah pilih jurusan SEKOLAH


Ayah bunda, tulisan saya ini memang agak panjang, dan hanya diperuntukkan bagi para orang tua yang tidak ingin anaknya tersesat mengambil jurusan sekolah, sebagaimana yang ditulis dalam kisah nyata ini.

Jadi jika ingin dapat manfaatnya silahkan baca perlahan-lahan sampai akhir...

Selamat membaca,

Beberapa waktu lalu, sepasang suami-istri datang menemui saya. Begitu kami duduk berhadap-hadapan, saya bisa melihat kegundahan yang terbayang jelas di wajah mereka.

“Kami bingung, Ayah Edy,” kata sang istri.

Nah, kalimat itu lagi. Selama delapan tahun ini, menghadapi orangtua-orangtua yang bingung memang menjadi makanan saya sehari-hari

Ada yang bingung karena anaknya dianggap bermasalah di sekolah, ada yang bingung karena anaknya mogok belajar, ada yang bingung karena anaknya susah diatur.

Benak saya mulai mereka-reka, kebingungan yang mana yang sedang dialami pasangan suami-istri ini.

“Anak kami (sebut saja bernama Intan) saat ini sudah kuliah tingkat akhir di Fakultas Hukum.

Seharusnya ini semester terakhirnya.
Seharusnya dia sedang dalam proses menyelesaikan skripsi.

Tapi boro-boro menyelesaikan skripsi, anak kami malah tidak mau meneruskan kuliahnya.

Dia tidak mau bekerja di bidang hukum.

Padahal, kampusnya sudah memberi ultimatum, kalau semester ini skripsinya tidak selesai juga, dia harus drop out,” sang istri bercerita agak tersendat, menahan emosi.

Ah, rupanya kebingungan jenis ini yang sedang mereka alami. Kebingungan yang dirasakan oleh anak-anak—dan orangtua—yang ‘tersesat’.

Suaminya melanjutkan. “Kami sudah coba membujuknya dengan segala cara, Ayah.

Kami sudah katakan, tanggung kalau dia berhenti sekarang. Toh tinggal sedikit lagi, dia bisa mendapat gelar Sarjana Hukum.

Dia cuma perlu bertahan sebentar lagi saja. Kalau dia keluar sekarang, berarti waktu bertahun-tahun yang dia habiskan di Fakultas Hukum, ya, sia-sia. Percuma saja. Belum lagi biaya yang kami keluarkan. Sia-sia semua.”

Saya mengangguk-angguk. Masih belum berkata sepatah pun.

Biar mereka mengeluarkan seluruh unek-unek yang mengganjal selama ini.“Tapi anak kami itu susah dibujuk.
Katanya, dia tidak cocok di Fakultas Hukum. Kalau pun dia bisa lulus, dia tidak akan mau bekerja di bidang itu. Dia tidak suka. Itu bukan bidangnya,” tutur sang suami, menambahkan. Wajahnya terlihat semakin gundah.
Istrinya kembali angkat bicara.

“Kalau dia tidak cocok kuliah di sana, kenapa baru sekarang sih, dia memberitahu kami? Kenapa tidak dari dulu?

Kalau sudah begini, kan serba salah. Serba nanggung. Kalau pun dia keluar, terus dia mau sekolah di mana?

Nanti kalau sudah kuliah di tempat lain, lalu dia merasa tidak cocok lagi, apa mau mogok lagi? Drop out lagi?

Berarti kami harus keluar biaya lagi. Dia harus membuang waktu lagi. Lah kapan kerjanya?”

Ibu ini sudah tak bisa menyembunyikan emosinya lagi.

***
Ayah-Bunda tercinta ....

Bila saya diibaratkan seorang dokter, kasus yang saya hadapi ini mungkin sudah stadium lanjut.

Bayangkan, si anak sudah menghabiskan bertahun-tahun waktu hidupnya untuk mempelajari bidang yang tak ia sukai. Ia sudah tersiksa selama ratusan, bahkan ribuan jam dalam kelas-kelas yang tidak diminatinya. Ia belajar tanpa tahu akan jadi apa ia kelak.

Dan di ujung masa kuliahnya, ketika ia seharusnya tinggal selangkah lagi menyambut gerbang kelulusan, kesadaran mengentaknya. Ia tak suka, tak mau, dan tak cocok belajar dan bekerja dalam bidang itu.

Atau jangan-jangan, ia sudah lama memendam rasa tidak suka itu. Mungkin ia sudah lama menyadari kalau bidang itu memang bukan untuknya. Namun bisa jadi, ia sungkan memberitahu orangtuanya.

Takut melihat reaksi mereka. Atau mungkin ia tak tahu, bidang apa sebenarnya yang ia minati. Ia tak tahu apa sebenarnya cita-citanya.

Izinkan saya bertanya, akrabkah Anda dengan kisah nyata ini?

Saya tak heran bila Anda menjawab ‘ya’. Kasus semacam ini memang bukan hanya satu atau dua.

Kasus ini sangat banyak terjadi di antara kita. Ini mungkin terjadi pada anak Anda, keponakan, anak kawan, anak tetangga, atau ... jangan-jangan pada diri Anda sendiri?

Saya yakin kita sering melihat seorang anak yang didorong untuk belajar, belajar, belajar terus.

Sejak SD sampai SMA, ia dituntut memperoleh nilai baik dalam semua ulangan dan mata pelajaran.

Karena, walaupun nilai bahasa Indonesianya delapan, jika matematikanya lima, ia bisa terancam tidak naik kelas. Ia akan dianggap lemah dalam bidang itu.

Dan karena nilai matematikanya belum memenuhi standar, ia akan digempur oleh les tambahan untuk mendongkrak nilainya.

Menjelang kelulusan SMA, ketika semua anak harus menentukan universitas dan jurusan apa yang akan mereka pilih, ia kebingungan.

Ia tak tahu apa cita-citanya. Ia juga tak tahu bidang apa sebenarnya yang ia minati.

Ketika ia bertanya kepada orangtuanya, jawaban mereka hanya, “Pilih dong, Nak, jurusan-jurusan favorit.

Pilih fakultas yang begitu lulus, kamu bisa gampang mencari kerja, punya gaji tinggi. Jadi kamu bisa hidup senang.”

Lalu orangtuanya menyebutkan beberapa jurusan.
Bukannya tertarik, si anak malah semakin bingung karena tak satu pun jurusan tadi yang benar-benar memikatnya.

Si anak lalu bertanya kepada teman-temannya. Ternyata banyak teman ‘segengnya’ yang memilih Jurusan X. “Kamu pilih Jurusan X juga, dong. Supaya kita bisa terus bareng-bareng pas kuliah nanti.”

Akhirnya, si anak memilih mengikuti teman-temannya. Atau, ia mungkin mengikuti saran orangtuanya.

Namun, apa pun yang dipilih, ia tak memilih sesuai kata hatinya. Ia tak memilih bidang yang paling sesuai dengan potensi terunggulnya—yang hingga saat itu masih terpendam.

Di tengah-tengah masa kuliah, si anak semakin menyadari bahwa ini bukan jalannya, tetapi nasi sudah jadi bubur.

Apa yang bisa ia lakukan?

Sebagian anak—seperti contoh kasus tadi—akhirnya mungkin tak tahan dan berterus terang kepada orangtuanya. Ia mogok melanjutkan kuliahnya.

Namun sebagian lagi mungkin memilih untuk melanjutkan kuliahnya walaupun tak meminati bidangnya.

Bisa jadi, ia tak mau merepotkan orangtuanya yang telah mengeluarkan banyak biaya untuk studinya. Atau kemungkinan lain, kalaupun ia mundur dari kuliahnya saat ini, ia tak tahu bidang apa yang cocok baginya.

***
INGATLAH SELALU bahwa Perilaku anak sehari-hari adalah petunjuk tentang potensinya.

Tanpa Pemetaan, Sekolah adalah Expenses

Ayah dan Bunda terkasih, mengapa kerumitan ini bisa terjadi?

Jawaban satu-satunya adalah karena kita luput atau abai mengenali potensi terunggul anak-anak kita.

Perilaku anak sehari-hari adalah petunjuk tentang potensinya.

Tapi orangtua terkadang lebih sibuk mengkursuskan anak ini-itu atau bertanya, “Ada PR atau enggak?”, “Ujian sudah siap atau belum?”
(seorang anak kecil lelaki yang manjat pohon. Ibunya cemas di bawah pohon dan bilang ke suaminya,”Owala, anak kita tiap hari manjat pohon jadi apa gedenya nanti, Pak? Masa jadi spiderman?”)

Padahal setiap anak terlahir sesuai fitrahnya. Masing-masing anak menyimpan potensi unggul yang bila dikembangkan akan menjadi penghidupan sekaligus kehidupan yang ia jalani kelak.

Berapa banyak anak-anak yang hanya sibuk sekolah dan mengejar nilai, tanpa tahu apa minat dan cita-citanya, serta tak tahu harus kuliah di bidang apa?

Lalu ketika ia bingung, orangtua hanya menasihati agar ia mengambil bidang favorit sehingga kelak mudah mencari pekerjaan bergaji tinggi?

Akhirnya, tanpa mengetahui sedikit pun tentang potensi terunggul anak, kita cemplungkan anak ke dalam bidang, entah apa yang kita pikir terbaik baginya.

Syukur-syukur kalau si anak ternyata memang cocok dengan bidang itu. Bagaimana bila tidak? Yang terjadi adalah kasus di atas.

Lalu, bagaimana sebaiknya?

Bagaimana seharusnya Ayah dan Bunda meminimalisir kesalahan macam itu?

Mudah saja. Seharusnya, proses ini dibalik. Kita cari tahu dulu minat si anak, apa potensi terunggulnya, dan cita-citanya yang paling spesifik.

Setelah itu, barulah bisa ditentukan sekolah atau jurusan apa yang paling tepat sesuai potensi dan cita-citanya itu.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita mengetahui potensi terunggul anak?

Mungkin selama di sekolah, hampir semua nilai anak kita tinggi. Bahasa Inggris bagus, matematika bagus, IPA bagus, IPS bagus. Jadi, yang mana potensi unggulnya?

Atau sebaliknya, mungkin selama ini ia hanya anak ‘rata-rata’. Anak yang setiap tahun selalu naik kelas, nilai-nilainya tak pernah merah, tetapi juga tak ada yang benar-benar menonjol.

Bingung?

Tenang saja. Ada cara yang terbukti efektif untuk mengetahui potensi buah hati kita, yaitu dengan “Pemetaan Potensi Unggul Anak”.

Tanpa pemetaan potensi, sedikitnya ada tiga akibat yang bisa terjadi.

 Antara lain, seperti digambarkan oleh kasus tadi: Sekolah menjadi expenses alias biaya. Biaya yang dimaksud salah satunya tentu bisa berarti uang.

Bayangkan berapa puluh juta—atau bahkan ratusan juta—yang telah keluar untuk menyekolahkan seorang anak bertahun-tahun, mengkursuskan ini itu, belum lagi ongkos transportasi sehari-hari.

Lalu bagaimana kalau kasus Intan terjadi pada anak Anda? Umumnya, orangtua hanya punya satu anggaran pendidikan untuk satu anak.

Ketika terjadi hal di luar dugaan seperti ini, sanggupkah Anda menganggarkan biaya pendidikan lagi untuk anak?

Syukur-syukur kalau Anda menjawab ‘sanggup’. Syukur-syukur kalau anak Anda cuma satu, sehingga Anda tak perlu memikirkan biaya pendidikan adik-adiknya.

Bila seseorang bersekolah sesuai potensi, biaya yang dikeluarkan akan menjadi INVESTASI, tetapi bila tidak, akan menjadi EXPENSES.

Namun bagaimana kalau Anda tak sanggup?

Apakah itu berarti Anda akan memaksa anak untuk menyelesaikan kuliahnya—walaupun itu berarti menyiksanya lebih lama lagi?

Lalu setelah kelulusan yang ‘dipaksakan’, anak Anda akan kebingungan mencari pekerjaan (karena ia tak menyukai bidang studinya), lalu akhirnya terdampar dalam jenis pekerjaan lain yang jauh berbeda dari bidangnya selama ini?

Berapa banyak lulusan Teknik Arsitektur yang bekerja di media?

Berapa banyak lulusan Biologi yang bekerja di bank?

Berapa banyak lulusan Pertanian yang bekerja sebagai Public Relation?

Atau bisa jadi, ia memilih pekerjaan sesuai bidang studinya.


Tentu mungkin saja. Namun bagaimana pun, bila bidang itu bukanlah potensi unggulnya dan ia tak menyukainya, ia hanya akan menjadi pekerja yang pas-pasan.
Intinya, bila seseorang bersekolah atau mengambil kursus sesuai potensi, biaya yang dikeluarkan akan menjadi INVESTASI, tetapi bila tidak, akan menjadi EXPENSES.

Selain materi, expenses juga berarti waktu. Bila ditimbang-timbang, kerugian karena hilangnya waktu bertahun-tahun mungkin bahkan lebih berat daripada kehilangan uang.

Ada ungkapan, ‘It’s never too late to follow your passion’. Tak pernah terlambat untuk mengikuti passion Anda. Kita selalu bisa memulai di usia berapa pun.

Namun bayangkan apa jadinya bila potensi terunggul dipupuk sejak kecil?

Baca lanjutannya di buku Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak Sejak Dini.

Bisa di baca2 dulu saat kita mampir ke Gramedia atau toko buku lainnya.

by ayah edy
web resmi: www.ayahkita.blogspot.com

SYNDROM ASPHERGER ?

YAH PLEASE HELP ANAKKU KATANYA MENGINDAP SYNDROME ASPERGER..?

Seorang ibu datang kepada saya dengan bingung, berkonsultasi mengenai anaknya yang katanya mengalami Asperger Syndrome.

Ibu itu cerita tentang gejala yang dialami anaknya; lalu saya dengarkan sampai ia selesai bicara.

Ternyata banyak ciri-cirinya yang mirip dengan anak-anak yang Lebih Dominan Otak Kannya.

Ciri-ciri anak yang Dominan Otak Kanannya bisa dilihat di :
1. http://ayahkita.blogspot.co.id/2015/03/anak-otak-kanan-di-dunia-yang-berotak.html

2. http://ayahkita.blogspot.co.id/2009/06/mungkin-anak-kita-bukan-bodoh-atau.html

Lalu saya katakan pada ibu tersebut;
"Mulai nanti malam lebih baik ibu bersujud syukur pada Tuhan telah di anugrahi seorang anak yang “katanya” mengalami Asperger Syndrome."

Lalu dengan kebingungan si ibu ini bertanya;

"Mengapa ? kok saya malah harus bersyujud syukur ayah ?"

Karena selain anak ibu yang di nyatakan mengalami Asperger Syndrome ternyata ada banyak lagi teman-teman seniornya terdahulu yang juga dinyatakan mengalami hal yang sama.

Diiantara nama-nama berikut mungkin ada yang ibu kenal ?
1. Albert Einstein (Jenius Fisika)
2. Jendral George Patton (Ahli Strategi Tempur)
3. Benjamin Franklin (Pendiri Negara Amerika Serikat)
4. Sir Isac Newton (Ilmuan Penemu Hukum Gravitasi)
5. Thomas Edison (Ilmuan Mekanika Elektrika, penemu lampu pijar)
6. Bill Gates (Pemilik Microsoft, Terkaya di dunia)
7. Hans Chistian Andersen (Penulis Cerita Dongeng Legendaris)
8. Michael Angelo (Maestro seni Lukis)
9. Wolfgan Amadeus Mozzart (Jenius Music Klasik usia 12 thn)
10. Vincent Van Goh (Jenius Lukis)
11. Michael Jackson (Superstar Musik Pop)
12. Leonardo Da Vinci (Genius di hampir semua bidang)
13. Dan masih banyak lagi lainnya.

"Melihat kenyataan ini menurut ibu seharusnya kita sedih atau malah bersyukur ?", tanya saya pada ibu itu.

"Melihat kenyataan ini, menurut ibu,sebenarnya AS sebuah “Kelainan” atau keunggulan yang tidak dimiliki seorang anak ?", tanya saya lagi.

Dan si Ibupun akhirnya memeluk anaknya sambil menangis bahagia, dan sayapun ikut bahagia menyaksikannya.

"Jadi lebih baik ibu fokus untuk menggali keunggulan anak ibu ketimbang memikirkan kelemanannya. Coba dech ibu baca buku ANAK-ANAK OTAK KANAN DI DUNIA YANG BEROTAK KIRI, yang ditulis oleh Jefrey Fred & Laurie Parson.", kata saya menyarankan.

"Semoga buku ini bisa membantu ibu dalam membimbing anak ibu agar bisa tumbuh menjadi orang hebat dan Jenius dunia seperti mereka."

Dan ibu itupun tak henti2 memeluki anaknya; yang ternyata bukannya mengalami KELAINAN melainkan memiliki POTENSI untuk menjadi salah satu jenius dunia.

"Baik Ayah, nanti malam kami semua akan bersujud syukur telah di karuniai anak yang LUAR BIASA INI." katanya lirih.

"Dan sekaligus meminta ampun pada Tuhan atas ketidak tahuan kami atas karunianya yang sungguh luar biasa ini." katanya lagi.

Dan akhirnya kami pun berpisah......

Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua para orang tua untuk lebih rajin belajar dan berfokus untuk menemukan potensi emas yang dimiliki anaknya ketimbang sibuk mencari kekurangan-demi kekurangnnya dan sibuk menterapi anaknya.

Tolong baca juga kisah ini:

http://ayahkita.blogspot.co.id/2013/08/akhirnya-joe-pun-bertemu-dengan-ayah-edy.html

Salam syukur penuh berkah
ayah

TUJUAN DIDIRAKANNYA SEKOLAH ?


SEKOLAH TUJUANNYA ADALAH UNTUK MEMAMPUKAN SEORANG ANAK MENGARUNGI KEHIDUPAN NYATA DAN BUKAN SEKEDAR LULUS DAN DAPAT IJAZAH

Sekolah seharusnya menjarkan bagaimana menghadapi masalah yg sedang dialami muridnya saat ini dan bukan pelajaran masa lalu yg sudah lapuk dan tidak ada hubungannya lagi dengan hal dialami muridnya sekarang.

AS NEIL - Summer Hill School

TETIMONI PESERTA WORKSHOP AYAH EDY


Testimony Peserta Dewasa Workshop Pemetaan Potensi Oleh Ayah Edy | Denpasar 17 Desember 2017

Dear Mama Irene

Saya mengucapkan terimakasih kepada yayasan AGAPES, mama Irene & ayah Edy tentunya karena telah memberikan kesempatan untuk melakukan pemetaan potensi kepada saya.

Saya senang sekali karena saya sudah didekatkan dengan cita2 saya sebagai seseorang yang bisa memberi semangat bagi orang lain(motivator).

 Sebelum di lakukan pemetaan, jujur saya bingung mau kemana.

banyak impian yang terasa menyenangkan ,tapi tidak tau fokusnya ada di mana.

Setelah di lakukan pemetaan oleh ayah Edy, saya semakin bersemangat untuk mengejar apa yang benar- benar saya inginkan & saya butuhkan.

Ya, bisa membantu orang lain menjadi lebih baik adalah suatu kelegaan/kepuasan tersendiri buat saya.

Jika dilihat dari segi usia saya sekarang (28th) mungkin sepertinya terlambat untuk memulainya, terlambat untuk mempersiapkannya.

Saya sudah dalam zona nyaman dalam bekerja. Rasanya takut memulai sesuatu yang baru.

Tetapi memang betul apa yang di katakan oleh ayah , ” kita memang harus happy dulu dalam melakukan sesuatu, baru di sana ada totalitas.

Dengan adanya totalitas, maka kita sudah pasti memberikan yang terbaik pada apa yang kita lakukan”.

Atas dasar itu, saya siap untuk berproses .

Karena…..saya tidak ingin menyesal di suatu hari nanti karena tidak melakukan apa yang benar2 menjadi passion saya.

Terimakasih ayah Edy, saya siap untuk berproses untuk menjadi seorang motivator.

Regards,
Swandaru

CARA MENGHENTIKAN TONTONAN YG MERUSAK DAN TIDAK BERMUTU ???



Sebagian besar kita berpikir untuk menghapuskan acara atau tontontan televisi yg merusak mental dan moral anak itu adalah dengan memaksa pembuatnya berhenti berproduksi, atau berteriak2 memprotesnya.

Begitu juga dengan menjamurnya film-filem yg berbau hantu, pocong dan kuntilanak di Bioskop atau Cinema XXI.

Padahal ada cara yg jauh lebih mudah, sederhana dan tanpa perlu beradu argumentasi.

Berhentilah semua orang tua dan anak-anak kita untuk menonton acara tersebut. Maka ratingnya akan turun dan acaranya pasti segera akan di tutup dengan segera tanpa perlu di teriaki.

Begitulah cara tv memproduksi sebuah acara. Jika yg banyak diminati adalah yg tidak bermutu, maka itulah yg di produksi oleh para produser.

Jadi percuma saja kita berteriak2 jika acara yg merusak tersebut masih terus di tonton oleh anak-anak kita atau malah juga para orang tuanya.

Bagaimana menurut anda ??

Sumber: Para Produser yg Idealis di perfileman dan pertelevisian.

MENGAPA KITA PERLU MEMULAI HARI DENGAN DOA..?


Banyak orang berpikir bahwa kita tidak mampu berdialog langsung dengan Tuhan, dan hanya para orang sucilah yang mampu melakukannya.

Lalu untuk apa kita berdoa jika kita begitu yakinnya, kita semua tidak akan pernah bisa berdialog langsung dengan Tuhan?

Karena sesungguhnya doa adalah salah satu bentuk dialog dan bukan monolog.

Saat kita berdoa Tuhan akan menjawabNya dengan caraNya. Itulah mengapa kita sering kali baru tersadar dann menyebut "Ya Tuhan ternyata doaku telah dikabulkanNya."

Karena itulah mengapa tiap akan memulai aktivitas kami tak lupa berdoa agar hidup ini menjadi lebih berkah dan bahagia....

Yuk mari kita biasakan berdoa sebelum memulai aktivitas kita.

Salam syukur penuh berkah,
ayah
www.ayahkita.com

SIAPA YANG HARUS LEBIH MEMAHAMI SIAPA ?



Apa kabar para sahabat Indonesian Strong from Home ?

Sadarkah kita bahwa sesungguhnya anak kita belum pernah punya pengalaman jadi orang tua, sementara orang tua pasti pernah punya pengalaman menjadi anak.

Jadi mana yang lebih masuk akal anak yang harus memahami orang tuanya atau orang tua yang harus lebih memahami anaknya ?

Sadarkah kita, bahwa kita selalu menekan anak untuk belajar, sementara kita tidak pernah menekan diri kita sendiri untuk belajar menjadi orang tua?

Sadarkan kita bahwa kita semua adalah orang tua yang tak pernah sekolah jadi orang tua,

Tapi sayangnya jika sedang bertengkar dengan anak, kita dengan mudahnya melimpahkan semua kesalahan pada anak kita ?

Padahal untuk bisa menjadi seorang Dokter saja perlu sekolah dan lulus dulu baru boleh praktek.

Dokter yang tidak bersekolah jika tiba2 praktek menjadi dokter maka akan disebut MAL PRAKTEK namanya dan langsung di tangkap oleh aparat hukum untuk di amankan. Lalu bagaimana dengan orang tua yang praktek jadi orang tua tanpa bersekolah lalu praktek menjadi orang tua apa namanya ?

Sebelum kita terus menerus menjadi orang tua yang MAL PRAKTEK kepada anak-anak kita yuk mari kita belajar parenting.

Caranya silahkan berkunjung ke toko2 buku dan beli sebanyak-banyaknya buku parenting.

Jika malas membaca silahkan dengarkan cd talkshow parenting gratis yang bisa di download secara gratis di sini: www.ayahedy.tk

atau bisa melihatnya di youtube secara on line klik di google video parenting ayah edy

Jika kita mau pasti bisa dan bukannya jika kita bisa pasti saya mau !!!

Mari kita bangun Indonesia yang kuat dari keluarga !
Kalau bukan kita siapa lagi ? kalau bukan sekarang kapan lagi ?

Salam syukur penuh berkah,
ayah

JENDELA YANG KOTOR


JANGAN-JANGAN JENDELAMU YANG KOTOR...

Sepasang suami istri muda menempati rumah di sebuah komplek perumahan.

Suatu pagi sambil sarapan, si istri menatap keluar melalui jendela kaca dan melihat tetangganya sedang menjemur baju.

Lalu si Istri berkata kepada suaminya : "lihat Pa.. Cuciannya kelihatan kurang bersih ya, Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar, Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus."

Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tidak memberi komentar apapun.

Sejak hari itu setiap tetangganya menjemur baju, selalu saja si istri memberikan komentar yang sama tentang kurang bersihnya si tetangga mencuci bajunya.

Seminggu berlalu..
dipagi yang sama si istri heran melihat pakaian-pakaian yang dijemur tetangganya terlihat bersih cemerlang.

Lalu si istri berkata kepada suaminya : "Lihat Pa.. sepertinya dia telah belajar bagaimana cara mencuci dengan benar, pagi ini baju cuciannya telah bersih, mungkin dia melihat hasil cucianku yang bersih".

Lalu si suami berkata :

"Bukan itu Ma.., Papa tadi bangun lebih pagi hari ini untuk membersihkan jendela kaca kita yang kusam dan kotor..".

si isteri terkejut dan sangat malu mendengar jawaban suaminya,

dia malu telah mencerca tetangganya selama ini tidak bersih mencuci baju padahal kaca jendelanya yang kotor dan kusam.

dan begitulah kehidupan........

Apa yang kita lihat pada saat menilai orang lain tergantung kepada kejernihan pikiran kita.

Lewat jendela mana kita memandangnya,
jika kaca jendela yang kita pakai kotor sudah pasti apa yang kita lihat didepan akan kotor semua....

======================================
Jika HATI kita bersih, maka bersih pula PIKIRAN kita.

Jika PIKIRAN kita bersih, maka bersih pula PERKATAAN kita.

Jika PERKATAAN kita bersih, maka bersih pula PERBUATAN kita.

Hati, pikiran, perkataan dan perbuatan kita mencerminkan hidup kita.

=======================================

Itulah sebabnya orang tua kita selalu berpesan : "jaga hati, pikiran, perkataan dan perbuatan"

Yaahh.. Selayaknya kita menjaga itu, sebab seburuk apapun baju yang kita pakai tidak akan melukai orang lain, tapi lidah dan sudut pandang yang kotor dapat melukai bahkan menghancurkan orang lain.

Lalu.. Apakah kaca jendela hati kita sudah bersih hari ini ?

Semoga illustrasi ini bermanfaat. terlebih kadang kita menganggap diri kita paling bersih, suci dan benar...

Share story from a friend  Dwi Pambudi

Sebarkalah pesan ini agar kita lebih banyak koreksi diri sebelum koreksi orang lain.

www.ayahkita.blogspot.com


KOREKSI DIRI SEBELUM KOREKSI ORANG LAIN


Sebenarnya bukan dia yang banyak kekurangan, tapi mungkin karena kita yang tidak punya kelebihan.

Sebenarnya bukan ia yang penuh kekurangan tapi mungkin kita yang MEMBENCInya karena hati yang dengki.

Ketika kita dengki & membencinya, ada saja yang bisa kita bicarakan sebagai kekurangan dan masalahnya..

Berhentilah membenci lebih baik koreksi diri sebelum koreksi orang lain.


MINAT DAN BAKAT ANAK KITA


MINAT DAN BAKAT ADALAH REPRESENTASI KECERDASAN ANAK

Sudah tahu Apa minat dan bakat anak kita..?

Ayah bunda yang baik kali ini kita akan bicara mengenai Minat dan Bakat anak-anak kita; dan bagaimana pada umumnya masyarakat memandangnya.

Penelititan yang dilakukan oleh DR Howard Gardner, seorang professor, psikolog, peneliti dan pendidik dari Universitas Harvard,  Massachusetts  AS, menyimpulkan bahwa setiap anak itu dilahirkan dengan membawa keunikan masing-masing.  Salah satu keunikan tersebut adalah bentuk kecerdasan yang dimilikinya.

Gardner mengatakan bahwa yang dimaksud kecerdasan adalah kombinasi dari Minat, Bakat  dan Ketekunan.

Minat adalah ketertarikan pada satu bidang tertentu yang sangat kuat, sedangkan Bakat adalah kemampuan yang sangat cepat dan penguasaan yang sangat baik terhadap satu bidang yang dipelajarinya, dan Ketekunan adalah Kebahagian dalam melakukannya, meskipun harus berulang-ulang.

Kecerdasan bukanlah hanya kemampuan nalar saja, (seperti pandangan masyarakat umumnya)  melainkan sangat beragam. Gardner juga mangatakan bahwa, kecerdasan merupakan kemampuan anak untuk dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan juga orang lain.

Menurut Gardner, Kecerdasan sangatlah beragam; Keberagaman kecerdasan tersebut meliputi;  Kecerdasan Berbahasa (Word Smart), Kecerdasan dalam Imaginasi atau Visual (Picture Smart), Kecerdasan dalam Olah tubuh baik tari ataupun olah raga (Body Smart), Kecerdasan dalam Pergaulan dan tampil didepan umum (People Smart), Kecerdasan dalam Menghasilkan konsep-konsep pemikiran (Self Smart), Kecerdasan dalam Seni Musik (Music Smart), Kecerdasan dalam Nalar/Berpikir dan Matematis (Logic Smart), Kecerdasan  dalam berhubungan dengan Alam (Nature Smart)

Kecerdasan-kecerdasan tersebut biasanya muncul saling berkombinasi, Misalnya, Kecerdasan Berbahasa dengan Kecerdasan Pergaulan, kedua kombinasi ini akan mengarah pada profesi-profesi yang menuntut kemampuan verbal dibidang publik.  Salah satu contoh orang yang memiliki kombinasi kedua kecerdasan ini dan cukup kita kenal adalah Presenter Indy Barrens. 

Contoh lain misalnya,  Kecerdasan Musik yang berkombinasi dengan Kecerdasan Naturalis, dapat melahirkan penyanyi seperti Ulisigar Rusadi dan lain sebagainya.

Sejak kecil biasanya setiap anak telah memperlihatkan baik jalas ataupun samar-samar kecenderungan minat dan bakatnya.   Maka, jika hal ini telah berhasil ditemukan, sebaiknya anak lebih difokuskan untuk mengembangkan bakatnya, hingga mencapai tingkat terbaiknya

www.ayahkita.blogspot.com
by ayah edy

ANAK YANG JAGO KANDANG



anak yang mengalami gejala On & Off...?
Alias Jago Kandang.

Ayah bunda yang baik.... Tahukah kita apa yang dimaksud dengan gejala On & Off  itu...?

Ya apa bila ada diantara anak kita yang jika dirumah cenderung aktif tapi jika disekolah berubah menjadi pasif, atau sebaliknya itulah salah satu yang dimaksud dengan gejala on & off. 

Contoh lainnya misalnya apa bila salah satu orang tua  sedang pergi, si anak  menjadi aktif dan kreatif namun tiba-tiba setelah salah satu dari orang tuanya pulang kerumah mereka segera berubah menjadi pasif dan tidak kreatif lagi.  Ini juga termasuk gejala on & off. 

Jadi gejala on & off terjadi apa bila disatu lingkungan atau kondisi anak kita aktif namun dilingkungan atau kondisi lainnya tiba-tiba dia berubah menjadi pasif atau acuh tak acuh.   

Sesungguhnya prilaku anak yang sehat adalah on & on artinya dimanapun dia berada dia selalu dalam kondisi sama,  mirip seperti hand phone yang kita miliki jika hp yang kita gunakan tiba-tiba mati tanpa sebab padahal batreenya masih penuh biasanya ada sesuatu yang tidak beres didalamnya.

Begitu pula dengan anak kita jika tiba-tiba saja prilakunya berubah tidak seperti biasanya tentu saja pasti ada yang tidak beres dengan orang-orang disekitarnya dalam memperlakukan dirinya sehingga ia meresponnya dengan meng offkan dirinya sendiri.

Hal ini banyak saya temui pada keluarga-keluarga yang orang tuanya memiliki prilaku berbeda secara ekstrim misalnya Ayahnya keras tapi Ibunya Lembut,  Ibunya Perfectionist sementara Ayahnya cenderung Fleksible. 

Bisa juga Keluarganya oke tapi guru-guru disekolahnya sering memarahi, menghukum atau mengucapkan kata-kata yang merendahkan harga diri si anak.

Prilaku Off si anak ini sesungguhnya akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dirinya khususnya yang berhubungan dengan aspek kecerdasan dan prilaku.

Anak yang cenderung Off  maka akan terganggu proses perkembangan potensi berpikir kreatif dan berpikir logisnya; jika hal ini tidak segera kita atasi maka kelak anak yang dibesarkan dalam kondisi semacam ini akan menjadi generasi yang pasif, masa bodoh dan tidak kritis terhadap permasalahan karena softwere kecerdasan yang seharusnya berkembang saat ia sedang dalam kondisi on telah menjadi tumpul karena ia sering berada dalam kondisinya off.

Sementara Prilaku anak yang sering cenderung off ini kelak akan menyebabkan ia akan menjadi orang yang minder, tidak punya percaya diri, temperamental dan prilaku2 buruk lainnya.

Gejala on & off inilah yang dideteksi menjadi sumber pokok munculnya prilaku bermasalah bagi anak-anak dirumah ataupun disekolah.

Wahai para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada;  mari bersama-sama kita perbaiki sikap kita dalam mendidik dan mengajar anak-anak kita, mari kita perbaiki juga pola asuh kita dirumah agar anak kita selalu dalam posisi On & On agar kelak mereka bisa menjadi generasi kritis, kreatif, dan peduli pada nasib bangsanya...!

ayah edy
www.ayahkita.blogspot.com

ANAK-ANAK YANG POTENSI EMASNYA TERPETAKAN

kakak Haikal studi dapat beasiswa di Jerman

Ayah bunda yang dimuliakan Tuhan,

Apa kabarnya hari ini...?

izinkan saya ingin berbagai kisah hidup saya sebagai seorang pendidik....

Sejak tahun 2006 banyak para orang tua datang pada saya dengan membawa anaknya yang katanya bermasalah.

Mulai masalah dengan belajar, tidak bisa mengikuti pelajaran disekolah, nilai sekolahnya pas-pasan, bahkan sampai yang mogok sekolah.

Ada yang tidak bisa bicara, ada yang dibilang autis, asperger, add, adhd dan lain sebagainya.

Alhamdullilah berkat bimbingan Tuhan melalui kami kepada para orang tua ini, akhirnya satu persatu justru anak yang dulunya dianggap bermasalah ini malah membawa berkah bagi keluarganya.

"saya jadi sering termenung, kenapa ya Tuhan sering kali memberikan berkah dibalik masalah...?"

atau mungkin lebih tepatnya jika kita berpikir benar pada apa yang selama ini dianggap MASALAH, kok justru pada akhirnya malah menjadi BERKAH....

Sudah tak terhitung jumlahnya dan berbagaimacam kasusnya. Tapi alhamdullilah selalu happy ending pada akhirnya.

Sampai-sampai ketika saya bertemu dengan orang tua yang membawa anaknya yang katanya bermasalah, saya kerap perkata;  Ibu bapak bersyukurlah anak ibu dinyatakan bermasalah, karena jika tidak ibu tidak akan mencari saya untuk bertemu dan menemukan berkah tersembunyi dibalik masalah yang disematkan pada anak ibu.

Dan nyatanya memang benar 90% dari orang tua yang datang pada saya untuk bertemu, pada awalnya stress karena masalah anaknya tapi kemudian malah merasa bersyukur dan bahagia yang tak terkirakan karena kini anaknya menjadi amat sangat luar biasa dibandingkan anak lain seusianya.

2 hari yang lalu saya baru saja diundang acara syukuran keluarga besar mama Yefta di Solo. Dalam acara syukuran ini  benar-benar satu keluarga besar merasa sangat berbahagia dan bersyukur atas perkembangan putera sulungnya yang dulu dianggap sangat bermasalah tapi sekarang justru menjadi anak yang berperilaku sangat baik, dan memiliki cita-cita dan semangat belajar yang sangat tinggi.  Dan perubahan ini juga menulari adik2nya, kedua orang tuanya hingga seluruh keluarga besarnya.  Rasa syukurnya yang tak terhingga ini juga diwujudkan dengan mendirikan sebuah sekolah "Alternatif" di Solo. Sebuah sekolah alternatif bagi anak-anak yang tidak suka sekolah formal atau yang ditolak oleh sekolah formal karena berbagai alasan.

Pagi tadipun saya baru saja bertemu orang tua yang dulu kira-kira 5 tau 6 tahun yang lalu mengikuti program observasi kami, dan terus dilanjutkan program pemetaan potensi, dan hari ini hasilnya sungguh amat sangat membahagiakan.... , anaknya telah meraih berbagai prestasi di dunia penerbangan Nasional, dan ingin melanjutkan cita-citanya untuk menjadi Pilot Pesawat Komersial.  Saya melihat wajah-wajah ceria, bahagia dan penuh syukur dari kedua orang tuanya juga anaknya....

Ya Tuhan betapa bahagianya hati ini....datan tentu saja tak terbayangkan betapa bahagia hati para orang tua mereka,  belum lagi anak-anak yang pernah tersentuh jiwanya melalui program parenting dari desa ke desa di Bali,  mereka benar2 memajang foto saya dikamarnya agar bisa selalu mengingat pesan Ayah katanya, dan mereka semua semakin baik dan luar biasa......

Begitu juga dengan para murid kami disekolah....., yang satu demi satu tersentuh jiwanya bertranformasi dari anak-anak yang dianggap penuh masalah menjadi anak-anak pembawa berkah dan kebanggaan bagi keluarga.

Semua ini bisa terwujud tentunya atas peranserta kedua orang tuanya yang begitu gigih berjuang demi anaknya, yang begitu konsiten mengikuti setiap nasihat yang kami berikan untuk dilakukan demi anaknya, meskipun terkadang saran dan nasehat kami harus bertentangan dengan pemikiran keluarga besarnya.

Tak jarang dari para orang tua yang harus menerima hujatan pahit dari keluarga besar dan orang-orang terdekatnya.

Saya sungguh salut dan menaruh hormat yang setinggi-tingginya bagi para orang tua yang sanggup melampaui semua cobaan dan tantangan ini.

Semoga akan terus ada lebih banyak anak-anak Indonesia yang menjadi luar biasa, dan menjadi yang terbaik dalam meraih mimpi-mimpi besarnya.

Mari kita bangun Indonesia yang kuat dan mulia dari keluarga melalu anak-anak kita tercinta.

Kalau bukan kita mau berharap pada siapa lagi..?
Kalau bukan sekarang mau kapan lagi....?

Ayah Edy Guru Program Pemetaan Potensi Emas Anak
www.ayahkita.com

foto:  Kakak Haikal yang mendapat beasiswa studi di Jerman.

RENUNGAN DOSA


Renungan Jiwa terbaik 

Seorang yang merasa hidupnya telah berlumuran dosa merasa frustasi karena setiap orang yang didatanginya untuk bertanya selalu saja mengatakan bahwa ia pasti akan masuk neraka dan mendapatkan siksa yang pedih dari Tuhan.

Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke puncak gunung yang sepi untuk bersujud langsung dan menanyakan pada Tuhan yang ia percayainya, apakah benar tidak ada maaf dan pengampunan bagi dirinya.

Saking lelahnya iapun akhirnya tertidur lelap, dan dalam tidurnya ia bermimpi bertemu dengan orang tua bijak, lalu iapun segera bertanya seperti ini;

"Wahai orang tua bijak, untuk dosa yang pernah kulakukan, apakah benar Tuhan akan mengganjarnya dengan hukuman abadi di neraka?"

Dengan wajah penuh cinta kasih dan senyum kedamaian orang tua bijak tersebut berkata;

"Anakku, rasa pedas itu akan tetap kau rasakan jika kau terlanjur memakan cabai. Rasa itu akan berlangsung lama sesuai banyaknya cabai yang kau kunyah. Namun jika setelah itu kau berganti mengunyah gula, maka rasa manis gula itu akan menutupinya."

"Begitu pun dosa pernah kau perbuat akan memberimu rasa tersiksa batin yang kau sebut seperti di neraka. Lamanya tergantung banyak tidaknya rasa penyesalan yang muncul untuk setiap kekeliruan yang pernah kau lakukan di kehidupanmu. Jika kau segera menggantinya dan memperbanyak dengan perilaku cinta kasih, maka rasa penyesalan itu akan cepat berlalu, tergantikan oleh rasa kepuasan dan kebahagiaan."

Di angkat dari Tulisan Dr. Mustika Wayan​
Penulis buku Berguru Pada Langit dan Bumi

SALAH PILIH PROFESI ?



 apa kabar.... ayah bunda tercinta,

Pernahkah anda merasa bosan di tempat kerja, atau mungkin merasa bahwa pikiran anda makin hari kok makin buntu dan sebagainya.... berikut ini mari kita dengarkan cuplikan pembicaraan dari dua orang karyawan yang berhasil kami  rekam.....

A:  Hei..! kamu kenapa.. kok dari tadi aku lihat mukanya ditekuk gitu..?

B:   Iya nich, aku lagi gak mood aja...,  dah bosen kerja disini, begini-begini aja gak ada kemajuan.!

A:  Emangnya kamu mau kemana..?  dah punya rencana..?

B:  Enggak juga sich.. gak tau aku juga bingung,  padahal aku juga dah pindah-pindah kerja melulu tapi gak pernah nemuin tempat yang cocok.  Pindah-pindah terus juga gak enak, capek...!

A:  Ya udah kalo gitu ya dinikmatin aja,  apa lagi sekarang lagi jaman susah gini; mau apa lagi....

B:  Gak tau ah... aku jadi serba salah...

Ayah bunda yang baik....
Ketidakpuasan ditempat kerja adalah hal yang sangat fenomenal dalam kehidupan para pekerja dan eksekutif.   Memang benar banyak faktor yang menyulut munculnya rasa tidak puas ditempat kerja;  seperti,  gaji yang kecil, bos yang otoriter, suasana saling sikut dan lain sebagainya. 

Akan tetapi terkadang meskipun segalanya sudah kita dapatkan, masih banyak juga para pekerja atau eksekutif yang  belum merasa puas dan bahagia ditempat kerjanya.  Mengapa hal ini bisa terjadi...?  Tentu saja tidak hanya anda yang bingung, orang lainpun sering kali dibuat bingung oleh fenomena semacam ini.

Yang menyedihkan sering kali rasa tidak puas ini menular dari tempat kerja dan menjalar sampai kerumah. Tidak jarang hal ini menjadi pemicu rusaknya hubungan keluarga yang sebenarnya tidak perlu terjadi dan bisa diatasi.

Apa sebenarnya akar permasalahannya..?

Seorang ahli Pendidikan sering menyebut fenomena ini sebagai penyimpangan Multiple Intelligence.  Apa maksudnya...?

Mulple Intelligence mengajarkan pada anak sejak dini untuk mencari dan menggali keunggulan spesifik dari dirinya.  Keunggulan ini biasanya ditandai dengan beberapa hal pokok;

1. Rasa ketertarikan yang tinggi dan terus-menerus terhadap satu bidang tertentu.

2. Rasa bahagia yang amat sangat untuk mengerjakannya, meskipun harus dilakukan berulang-ulang dan dalam waktu yang cukup lama.

3. Kemampuan belajar yang cepat dan penguasaan yang tinggi dalam bidang tersebut.

4. Totalitas dalam melakukannya.

Ayah bunda yang baik....
Cobalah kita perhatikan dan perhatikan lagi lebih teliti  anak-anak kita; mereka pasti punya ketertarikan yang kuat pada satu bidang terntu, dan ketertarikan itu biasanya berlainan antara satu anak dengan anak lainnya. 

Ayah bunda yang baik....
Coba ingat-ingat lagi apakah anak anda juga cepat sekali menguasai bidang yang menjadi ketertarikannya tadi.....?  Dan perhatikan apa bila dia sudah asik dengan kegiatannya, dia bisa tahan berjam-jam melakukannya.  Inilah yang oleh ahli Multiple Intelligence disebut sebagai tanda-tanda awal Potensi Dasar Anak.  Apa bila kita sudah dapat melihat tanda-tanda ini maka mestinya kita terus berusaha menggali dan mendukungnya.

Sementara sistem pendidikan yang ada di negeri kita hingga saat ini belum beberbasiskan pada penggalian potensi diri untuk mencari dan mengembangkan keunggulan spesifik anak.

Sehingga setiap anak mulai sejak awal pendidikan sampai menentukan profesinya tidak didasarkan pada potensi yang unggul dari dirinya melainkan ditentukan oleh faktor-faktor lain.  Apa saja faktor-faktor tersebut pada umumnya....
1. Keinginan orang tuanya
2. Pengaruh teman-teman dan lingkungan
3. Bidang kerja/Profesi yang dinilai baik secara financial
4. atau malah “apa sajalah yang penting bekerja.”

Ya....... inilah yang terburuk jika kita sudah berpikiran “yang penting bisa bekerja”.   Maka jangan kaget atau kecewa jika pada akhirnya anda tidak puas ditempat kerja.

Karena anda memang belum berada ditempat yang tepat, tempat anda saat ini bukanlah tempat yang seharusnya anda berada.

Jadi apa yang sesungguhnya terjadi pada anda adalah The Right Person in the wrong place !  ya...Anda adalah orang hebat, hanya anda berada ditempat yang tidak tepat !

Ayah bunda yang baik....
Anda harus segera menjadi The Right Person in The Right Place !

Maka segeralah mencari kembali siapa diri anda, apa keunggulan anda, apa sesungguhnya yang membuat anda bahagia, temukanlah itu semua dan mulailah kembali dengan sebuat totalitas, meskipun anda harus memulainya dari nol besar,  jadilah yang terbaik, sesungguhnya uang, karir, dan ketenaran hanyalah efek positif dari “menjadi yang terbaik”

Lihatlah tokoh-tokoh kelas dunia sebut saja, Maradona sang pemain bola legendaris dari Argentina, Rudi Hartono sang juara bertahan 8 kali All England,  The Beatles sang Band Legendaris dari Liverpool, Leonardo Da Vinci sang Jenius legendaris dari Italia.

Perhatikanlah dengan seksama;  betapa meraka begitu bahagia melakukan profesinya; betapa mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi dibidangnya, betapa mereka memiliki totalitas yang luar biasa, dan betapa mereka memiliki ketenaran yang tak habis oleh zaman. Tanpa perlu mereka minta, tentu saja kesuksesan financial akan juga mengikuti dengan setia.

Ayah bunda yang baik.....
Ayo temukanlah kembali siapa diri anda, mulailah hidup baru anda dengan melakukannya secara benar.  Hidup ini adalah pilihan dan pilihan itu sepenuhnya ditangan anda.

Saya sudah melakukannya... bagamana dengan anda..?

ayah edy guru parenting Indonesia
www.ayahkita.blogspot.com



BERDISKUSI DENGAN ORANG YANG TEPAT


BELAJAR ATAU TUKAR PIKIRAN ITU SEPERTI BERBASUH WAJAH....

Jika kita belajar pada orang yang pikirannya tidak bersih maka pikiran kita juga menjadi tidak bersih dan penuh dengan kuman dan bakteri yang merusak. 

so mari belajar dan bertukar pikiran dengan orang yang pikirannya jernih dan bersih....

sumber gambar:  https://www.youtube.com/watch?v=At1ClOK_gzE

MENGAPA NASIB KITA BERBEDA ?


Saya punya seorang teman, pendidikannya bagus lulusan dari universitas bergengsi dinegeri ini, orangnya cerdas, juga kritis.

Tapi sayangnya pikirannya selalu saja negatif.  Ketika berjumpa selalu saja pembicaraanya seputar mengkritik orang lain dan sering kali menyindir saya dan teman lain.

Akhirnya satu per satu temannnya mulai menjauhi, dan yang menarik ia selalu membandingkan kehidupannya yang selalu diliputi masalah dan kurang berkecukupan secara ekonomi dengan kehidupan teman-temannya yang sudah mapan di usia saat ini.

Setiap berjumpa pembicaraannya masih juga seputar itu, ada satu kalimat yang saya ingat yang selalu dia ucapkan.

 "hidup saya masih begini-begini aja dari dulu... gak ada perubahan..."  itu kalimat yang sering kali terlontar dari mulutnya ketika berjumpa.

Saya sebenarnya prihatin, ingin memberikan masukan tapi selalu saja pasti akan di tepis di tolak dan malah nantinya disindir lagi

Dan teman-teman lainnyapun merasakan hal yang sama ketika berdekatan dengannya.

Nah pertanyaan saya, adakah diantara kita memiliki teman yang mirip seperti ini...? 
Maksudnya mirip itu ya mirip perilakunya, juga mirip nasibnya.

Apa ya kira-kira penyebabnya...?

Boleh sharing disini...?
biar kita bisa sama-sama belajar.

Bagaimana sebaiknya sikap kita sebagai temannya ?

Saya jadi teringat postingan saya tentang orang yang selalu berpikir negatif pada orang lain atau apapun.

http://ayahkita.blogspot.co.id/2017/06/beda-si-kembar-shanti-dan-shinta.html?m=1

Jumat, 09 Februari 2018

KRITIK MERUSAK


SIAPA YANG MASIH PERCAYA ADA KRITIK MEMBANGUN...?

Please baca tulisan ini

DAHSYATNYA EFEK KRITIKAN PADA POHON, apa lagi pada anak kita.

Adalah sebuah kebiasaan yang ditemukan di sekitar penduduk kepulauan Solomon, yang terletak di Pasifik Selatan. Yaitu meneriaki/mengkritik pohon.

Untuk apa mereka lakukan?

Kebiasaan ini ternyata mereka lakukan ketika mereka menemukan pohon yang sangat besar dan berakar kuat. Mereka kesulitan untuk menebang pohon tersebut dengan cara biasa.

Oleh karena itu, mereka melakukan cara yang menurut mereka tidak pernah gagal, yaitu dengan meneriaki/Mengkritik pohon tersebut.

Beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat ke atas pohon. Kemudian mereka akan berteriak dgn berbagai makian/kritikan sekuat tenaga pada pohon itu.

Mereka lakukan berjam-jam lamanya selama berpuluh-puluh hari.

Apa hasilnya??

Sungguh mengejutkan!

Hari demi hari pohon tersebut mulai menggugurkan daun-daunnya yang kering. Merontokan ranting-ranting yang rapuh. Perlahan, pohon itu layu dan kemudian mati.

Dengan demikian, pohon itu akan mudah untuk ditumbangkan. Sungguh semudah itukah mematikan makhluk hidup yang besar itu?

Jika kita perhatikan, apa yang dilakukan oleh penduduk Solomon itu sangan aneh. Namun, dibalik keanehan itu ada satu hal yang bisa kita pelajari. Sangat berharga!!

Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan dan Kritikan yang dilakukan terhadap suatu makhluk hidup bisa mematikan roh makhluk hidup tersebut. Dia akan mati dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Nah, sekarang apa yang bisa kita pelajari dari fenomena tersebut?

Sangat berharga sekali!!

Setiap kali kita meneriaki seseorang dengan kasar, maka setiap itu pula kita sedang mematikan rohnya.

Seringkah kita berteriak pada anak kita karena jengkel, nakal, dan susah diatur? Cepaaat! Lelet banget sih kamu! Kerjanya Cuma tidur! Disuruh begitu aja gak becus!

Seringkah kita berteriak pada orang tua kita karena kesal? 
Kenapa sih nyuruh-nyuruh terus! Cerewet banget sih!

Seringkah seorang guru berteriak pada muridnya? 
Payah banget sih soal kaya gini aja gak bisa! Kamu bodoh! Dasar lelet!

Seringkah kita berteriak pada teman kita? Dasar kurang ajar! Gak tau malu! Gaptek! Tolol! Bego!

Seringkah kita berteriak pada pasangan kita? 
Aku bener-bener nyesel nikah sama kamu! Kamu gak pernah berguna!

Disadari ataupun tidak, itulah realita yang terjadi dalam kehidupan kita.

Kawanku yang baik hatinya…

Jika rasa dan asa ingin segera melontarkan kata yang kasar dari mulut kita karena merasa kesal, terhina, marah, dan terluka… Ingatlah pada apa yang diajarkan oleh penduduk Solomon ini.

Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita berteriak/memaki atau mengkritik, maka setiap itu pula kita mulai mematikan roh orang-orang yang kita cintai.

Mereka akan terluka. Mereka akan layu seperti pohon. Dan perlahan mereka akan merasa kosong dan mati.

Hidup ini adalah pilihan kawan…

Jika kita ingin roh yang ada pada diri orang-orang yang kita sayangi tetap ada, janganlah meneriakinya dengan kasar.

Masih ada kesempatan untuk berbicara dengan baik-baik tentang apa yang kita harapkan.

Tapi jika sebaliknya, apabila kita ingin membunuh roh orang-orang yang kita sayangi, maka berteriaklah dan kritiklah ia sepuas hati mu.

Hidup adalah pilihan bebas… berikut akibat dan resikonya.

Setelah membaca tulisan ini...

Mau pilih terus mengkritik boleh, 
mau pilih berhenti mengkriti sekarang juga boleh....
PENJELASAN TAMBAHAN:


Dalam Fisika Quantum Einstein mengatakan bahwa seluruh benda di alam semesta ini pada dasarnya hidup, dan bergerak, bergetar pada frekwensinya masing-masing.

Makna hidup yang selama ini dipahami orang adalah bertumbuh dan bergerak, sesuatu yang tidak bertumbuh dan bergerak dianggapnya mati.

Makna hidup yang selama ini dipahami orang pada umumnya adalah apa yang bisa dilihat oleh mata, dan apa yang tidak bisa dilihat oleh mata dianggapnya mati dan tidak bergerak,

padahal jika kita belajar Fisika secara mendalam kita akan tahu bahwa inti dari semua benda adalah atom dan atom itu terdiri dari Neotron, Proton dan electron.

Dan jika kita mempelajarinya lebih dalam lagi maka kita akan tahu bahwa Proton dan Electron itu adalah hidup dan selalu bergerak. Tidak pernah diam.

Sayangnya orang hanya melihat kehidupan bukan dari inti kehidupan itu sendiri melainkan menilai kehidupan hanya sebatas kemampuan matanya melihat, diluar apa yang ia bisa lihat dianggapnya mati dan tidak hidup.

-Einstein on Quatum Phisic-

Atom sebagai inti dari semua materi, Manusia, Tumbuhan, Beras, Keju atau apapun itu bergetar pada frekwensinya, dan otak kitapun bergetar dengan frekwensi sesuai isi pikiran kita.

Pikiran manusia yang bergetar akan beresonansi dengan atom yang bergetar pada benda tersebut. Apa bila otak kita berpikir negatif maka ia akan meresonansikan getaran negatif pada atom-atom dari materi tersebut (dalam hal ini beras) dan sebaliknya.

jadi sebenarnya bukan suara, teriakan yang menyebabkan sebuah pohon mati, tapi resonansi pikiran dari orang yang bicara itu yang membuat getaran yang membuat pohon tersebut perlahan mati.

Menurut beberapa percobaan tanpa perlu kita berteriak dan cukup dengan menuliskan pikiran negatif kita diatas botol tsb maka akan menghasilkan pembusukan yang sama, dan ketika di ganti dengan bahasa yang berbeda, tapi tetap dengan pikiran negatif yang sama, maka juga membusuk dengan hasil yang sama.

Dan sebaliknya botol lain yang ditulisi kata-kata dengan pikiran yang positif maka tidak membusuk secepat botol pertama.

Tapi ya biasanya penjelasan sejelas apapun tidak akan bisa mengubah seseorang untuk berhenti mengkritik, bagi mereka yang sudah meyakini bahwa KRITIK ITU BAIK.

Sama juga, sejelas dan sebaik apapun penjelasan kita tidak akan bisa mengubah keyakinan seorang untuk berhenti merokok, bagi mereka yang sudah percaya bahwa rokok itu baik .




CAR FREE DAY !!
IN A MILLION SHEEP COUNTRY !

HARI BEBAS KENDARAAN BERMOTOR 
DI NEGERI SEJUTA DOMBA !



HILANGNYA RASA MALU ORANG INDONESIA

PROBLEM TERBESAR BANGSA KITA SAAT INI ADALAH SUDAH HAMPIR TIDAK PUNYA RASA MALU KETIKA BERBUAT SALAH !

Ayah bunda yang dicintai Tuhan,

Saat ini banyak sekali orang bersalah tidak merasa bersalah dan malah menyalahkan orang lain.

Itu artinya ia sudah tidak lagi memiliki rasa MALU.

Padahal memiliki rasa MALU BERBUAT SALAH, itu diajarkan oleh semua Agama, namun sayangya banyak dari kita yang telah melupakan ajaran yang sangat baik ini.

Mari kita miliki budaya MALU BERBUAT SALAH.
Dan ajarkan wariskan pada anak kita melalui contoh yang kita berikan.

Agar orang mencuri merasa malu jika dirinya tertangkap karena mencuri "uang rakyat" bukan malah berkelit.

Agar orang malu melanggar aturan...



Agar Orang malu ketika ditegur "MENYEROBOT ANTRIAN"




Agar orang malu berebut KEKUASAAN atas nama Rakyat



agar orang tua malu mengajarkan anaknya dibawah umur naik motor di jalanan



Agar Orang malu ketika menyalip dan menerobos lampu merah



Agar Orang malu ketika masuk jalur bus way



Agar orang malu ketika motornya mengambil trotoar pejalan kaki.



Agar orang malu ketika menyerobot kursi untuk Lansia dan ibu Hamil.




Agar para pengendara motor punya rasa malu jika menyerobot dan memotong sembarangan hingga sering hampir membuat dirinya celaka. atau yang seperti ini.



Agar orang malu jika dirinya celaka bukannya kapok dan meminta maaf tapi malah menyalahkan pengendara lainnya.

BUANG SAMPAH seenaknya....




Merokok pada tempat yang dilarang...




Ingat anak-anak kita kelak akan menggantikan kita, terbayang akan seperti apa Indonesia jika mereka memiliki sifat-sifat yang jauh lebih buruk dari yang kita lihat sekarang.