SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Jumat, 09 Februari 2018

KRITIK MERUSAK


SIAPA YANG MASIH PERCAYA ADA KRITIK MEMBANGUN...?

Please baca tulisan ini

DAHSYATNYA EFEK KRITIKAN PADA POHON, apa lagi pada anak kita.

Adalah sebuah kebiasaan yang ditemukan di sekitar penduduk kepulauan Solomon, yang terletak di Pasifik Selatan. Yaitu meneriaki/mengkritik pohon.

Untuk apa mereka lakukan?

Kebiasaan ini ternyata mereka lakukan ketika mereka menemukan pohon yang sangat besar dan berakar kuat. Mereka kesulitan untuk menebang pohon tersebut dengan cara biasa.

Oleh karena itu, mereka melakukan cara yang menurut mereka tidak pernah gagal, yaitu dengan meneriaki/Mengkritik pohon tersebut.

Beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat ke atas pohon. Kemudian mereka akan berteriak dgn berbagai makian/kritikan sekuat tenaga pada pohon itu.

Mereka lakukan berjam-jam lamanya selama berpuluh-puluh hari.

Apa hasilnya??

Sungguh mengejutkan!

Hari demi hari pohon tersebut mulai menggugurkan daun-daunnya yang kering. Merontokan ranting-ranting yang rapuh. Perlahan, pohon itu layu dan kemudian mati.

Dengan demikian, pohon itu akan mudah untuk ditumbangkan. Sungguh semudah itukah mematikan makhluk hidup yang besar itu?

Jika kita perhatikan, apa yang dilakukan oleh penduduk Solomon itu sangan aneh. Namun, dibalik keanehan itu ada satu hal yang bisa kita pelajari. Sangat berharga!!

Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan dan Kritikan yang dilakukan terhadap suatu makhluk hidup bisa mematikan roh makhluk hidup tersebut. Dia akan mati dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Nah, sekarang apa yang bisa kita pelajari dari fenomena tersebut?

Sangat berharga sekali!!

Setiap kali kita meneriaki seseorang dengan kasar, maka setiap itu pula kita sedang mematikan rohnya.

Seringkah kita berteriak pada anak kita karena jengkel, nakal, dan susah diatur? Cepaaat! Lelet banget sih kamu! Kerjanya Cuma tidur! Disuruh begitu aja gak becus!

Seringkah kita berteriak pada orang tua kita karena kesal? 
Kenapa sih nyuruh-nyuruh terus! Cerewet banget sih!

Seringkah seorang guru berteriak pada muridnya? 
Payah banget sih soal kaya gini aja gak bisa! Kamu bodoh! Dasar lelet!

Seringkah kita berteriak pada teman kita? Dasar kurang ajar! Gak tau malu! Gaptek! Tolol! Bego!

Seringkah kita berteriak pada pasangan kita? 
Aku bener-bener nyesel nikah sama kamu! Kamu gak pernah berguna!

Disadari ataupun tidak, itulah realita yang terjadi dalam kehidupan kita.

Kawanku yang baik hatinya…

Jika rasa dan asa ingin segera melontarkan kata yang kasar dari mulut kita karena merasa kesal, terhina, marah, dan terluka… Ingatlah pada apa yang diajarkan oleh penduduk Solomon ini.

Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita berteriak/memaki atau mengkritik, maka setiap itu pula kita mulai mematikan roh orang-orang yang kita cintai.

Mereka akan terluka. Mereka akan layu seperti pohon. Dan perlahan mereka akan merasa kosong dan mati.

Hidup ini adalah pilihan kawan…

Jika kita ingin roh yang ada pada diri orang-orang yang kita sayangi tetap ada, janganlah meneriakinya dengan kasar.

Masih ada kesempatan untuk berbicara dengan baik-baik tentang apa yang kita harapkan.

Tapi jika sebaliknya, apabila kita ingin membunuh roh orang-orang yang kita sayangi, maka berteriaklah dan kritiklah ia sepuas hati mu.

Hidup adalah pilihan bebas… berikut akibat dan resikonya.

Setelah membaca tulisan ini...

Mau pilih terus mengkritik boleh, 
mau pilih berhenti mengkriti sekarang juga boleh....
PENJELASAN TAMBAHAN:


Dalam Fisika Quantum Einstein mengatakan bahwa seluruh benda di alam semesta ini pada dasarnya hidup, dan bergerak, bergetar pada frekwensinya masing-masing.

Makna hidup yang selama ini dipahami orang adalah bertumbuh dan bergerak, sesuatu yang tidak bertumbuh dan bergerak dianggapnya mati.

Makna hidup yang selama ini dipahami orang pada umumnya adalah apa yang bisa dilihat oleh mata, dan apa yang tidak bisa dilihat oleh mata dianggapnya mati dan tidak bergerak,

padahal jika kita belajar Fisika secara mendalam kita akan tahu bahwa inti dari semua benda adalah atom dan atom itu terdiri dari Neotron, Proton dan electron.

Dan jika kita mempelajarinya lebih dalam lagi maka kita akan tahu bahwa Proton dan Electron itu adalah hidup dan selalu bergerak. Tidak pernah diam.

Sayangnya orang hanya melihat kehidupan bukan dari inti kehidupan itu sendiri melainkan menilai kehidupan hanya sebatas kemampuan matanya melihat, diluar apa yang ia bisa lihat dianggapnya mati dan tidak hidup.

-Einstein on Quatum Phisic-

Atom sebagai inti dari semua materi, Manusia, Tumbuhan, Beras, Keju atau apapun itu bergetar pada frekwensinya, dan otak kitapun bergetar dengan frekwensi sesuai isi pikiran kita.

Pikiran manusia yang bergetar akan beresonansi dengan atom yang bergetar pada benda tersebut. Apa bila otak kita berpikir negatif maka ia akan meresonansikan getaran negatif pada atom-atom dari materi tersebut (dalam hal ini beras) dan sebaliknya.

jadi sebenarnya bukan suara, teriakan yang menyebabkan sebuah pohon mati, tapi resonansi pikiran dari orang yang bicara itu yang membuat getaran yang membuat pohon tersebut perlahan mati.

Menurut beberapa percobaan tanpa perlu kita berteriak dan cukup dengan menuliskan pikiran negatif kita diatas botol tsb maka akan menghasilkan pembusukan yang sama, dan ketika di ganti dengan bahasa yang berbeda, tapi tetap dengan pikiran negatif yang sama, maka juga membusuk dengan hasil yang sama.

Dan sebaliknya botol lain yang ditulisi kata-kata dengan pikiran yang positif maka tidak membusuk secepat botol pertama.

Tapi ya biasanya penjelasan sejelas apapun tidak akan bisa mengubah seseorang untuk berhenti mengkritik, bagi mereka yang sudah meyakini bahwa KRITIK ITU BAIK.

Sama juga, sejelas dan sebaik apapun penjelasan kita tidak akan bisa mengubah keyakinan seorang untuk berhenti merokok, bagi mereka yang sudah percaya bahwa rokok itu baik .



Tidak ada komentar:

Posting Komentar