SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Rabu, 02 Mei 2018

ANAK BERBOHONG


TIPS-TIPS PARENTING AYAH EDY

BAGAIMANA AGAR ANAK KITA BERHENTI BERBOHONG..?

Ayah Bunda yang bijaksana, dibandingkan dengan tindak kejahatan lain, berbohong sebenarnya berada pada level teratas. Mengapa demikian? Mari kita lihat bagaimana kondisi bangsa ini, berapa banyak orang yang melakukan korupsi?

Dan perbuatan itu umumnya diawali dengan kebohongan. Berbohong adalah awal dari segala kerusakan dan hanya membawa kita pada keburukan.

Oleh karena itu, jika anak berbohong, orangtua perlu mencari solusinya karena dampaknya berat sekali.

Tekankan pada anak, bahwa berbohong adalah kebiasaan yang paling buruk.

Selain itu, orangtua perlu menegosiasikan ulang segala sesuatu yang membuat anak berbohong. Misalnya, daripada anak berbohong karena makan atau susunya tidak habis, sebaiknya kurangi porsinya.

Tetapi dari pengalaman saya, anak berbohong karena mencontoh orang-orang terdekatnya, siapa pun dan sekecil apa pun kebohongan itu. Salah satu contoh kebohongan kecil yang biasa terjadi, ketika ada seseorang mengetuk pintu rumah lalu ternyata yang datang adalah pengemis atau orang meminta sumbangan, orangtua pun berkata pada anaknya, “Dek, .. bilang Mama nggak ada yaa….” Adakah Ayah-Bunda yang melakukan itu?

Dan masih banyak lagi contoh berbohong kecil lain yang tanpa disadari dilakukan orang-orang terdekat anak sehingga secara tidak langsung mengajarkan anak berbohong. Jadi faktor pertama anak berbohong karena ada yang dicontoh. Tidak mungkin seorang anak tiba-tiba suka berbohong tanpa ada yang dicontoh.

Fakto kedua, seringkali orangtua selalu ingin jawaban yang bagus-bagus dari anaknya. Mereka tidak siap dengan jawaban yang jelek. Kalau anak cerita sesuatu yang jelek, yang tidak menggembirakan, seringkali orangtua marah.

Misalnya, “Tadi dapat nilai berapa?” “Hah?! Lima? Memangnya kamu nggak belajar? Sudah Mama kursusin mahal-mahal….” Nah, orangtua kebanyakan tidak siap kalau anak mendapat nilai jelek. Padahal, asalkan orangtua siap, berapapun nilainya tidak marah, mungkin anak tidak akan berbohong.

Faktor ketiga, kejujuran anak dibalas dengan emosi.
Saat anak berkata jujur dan orangtua membalasnya dengan emosi, maka pada saat itu juga anak akan berpikir, kalau ia jujur malah akan mengundang emosi orangtuanya.

Jadi daripada melihat orangtuanya marah, mereka berbohong.

Misalnya, anak kita ketahuan membolos. Kalau kita tidak meresponnya dengan emosi dan mengajak anak berkomunikasi, anak pasti akan jujur. Tapi kalau kita membalas dengan emosi, “Hah?! Bolos! Sudah berani ya anak Mama? Sudah merasa gede ya?!”

Selanjutnya anak pasti berbohong.

Sebetulnya saat anak berbohong, ia tidak berniat jahat tetapi hanya ingin aman. Saat anak merasa tidak aman, saat itulah ia mulai berbohong.

Padahal bisa jadi ia membolos karena ada masalah di sekolah atau tempat les, mungkin tidak suka dengan cara gurunya mengajar, atau ada teman yang kerap menjahatinya. Ini harus dicari tahu penyebabnya.

Lalu apa solusinya ..
Kalau penyebabnya karena ada yang dicontoh, solusinya adalah mengubah sikap yang dicontoh.

Jika Bunda merasa pernah melakukan kebohongan kecil pada anak, maka katakan pada mereka, “Sayang,.. kalau kamu berbohong karena mencontoh dari Mama, maafkan Mama ya. Bantu Mama untuk berubah ya. Kalau Mama bohong lagi, Ade ingatkan.” 

Jadi ada komitmen yang dibangun oleh orangtua untuk saling mengkoreksi diri. Kalau orangtua mau berubah, anak juga pasti berubah.

Jika anak berbohong karena faktor yang kedua, orangtua harus siap dengan jawaban anak, apa pun itu.

Bersyukurlah bahwa kita sebagai orangtua yang mengetahui lebih dulu “keburukan” anak sehingga kita bisa menggali seberapa buruk yang sudah dilakukan.

Kalau kita selalu mau jawaban yang bagus sehingga anak berbohong, kita tidak bisa tahu seberapa dalam ia terperosok.

Sedangkan kalau penyebabnya karena orangtua cenderung emosi dengan jawaban anak, solusinya hampir sama dengan jawaban karena faktor kedua.

Dengarkan jawaban anak tanpa memarahinya. Bagaimana pun, kesalahan anak adalah kesalahan kita juga di masa lalu. Jawaban buruk mereka adalah kesalahan kita.

Kalau kita tidak memperbaikinya sekarang, justru akan memperburuk masa depannya. Bayangkan jika anak sudah telanjur memakai narkoba.

Kalau orangtuanya marah, apakah ia akan berubah? Tidak! Marah tidak akan mengubah keadaan. Justru melihat orangtuanya marah, ia mungkin akan terus melakukannya. Tetapi kalau orangtua mau bekerjasama dengan anak, minimal bisa segera memperbaiki “kerusakan”nya.

Cara-cara berpikir seperti ini seringkali luput dari pemikiran para orangtua, karena kebanyakan orangtua merasa yang paling benar. Kalau anaknya salah, mereka akan berpikir itu karena kesalahan anak semata. Oleh karena itu, STOP MARAH, ya Ayah Bunda...

Lalu, adakah toleransi bagi anak yang berbohong?

Kalau sudah diketahui sebab dan solusinya, namun anak masih melakukan kebohongan, saat itu juga kita membuat konsekuensinya.

Ayah-Bunda bisa mengatakan, “Kalau kamu berbohong di hal yang sama lagi, konsekuensinya tidak boleh ikut jalan-jalan selama seminggu.“ Jadi kalau ia berbohong lagi, konsekuensinya langsung dilakukan.

Konsistenlah agar anak paham bahwa berbohong adalah hal buruk dan tidak patut dilakukan.

Selamat mencoba, semoga berhasil.

Kuncinya sabar, tegas dan konsisten tidak perlu malu dilihat orang lain atau tetangga (yang sebenarnya punya masalah yg sama tapi tidak tahu cara mengatasinya)

Salam Indonesian Strong from Home !
Ayah Edy
Guru Parenting Indonesia
www.ayahkita.blogspot.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar