SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Sunday, February 22, 2009

Ayah saya bingung kenapa anak saya yang nomer dua tidak sepandai kakaknya ya..? padahal kami memberikan segala sesuatunya serba sama.




Suatu hari saya pernah menerima surat dari ibu Fransisca, berikut ini isi suratnya:
Ayah, nama saya Fransisca, ibu dari 3 orang anak, nomer satu berusia 8 tahun, nomer dua berusia 5 tahun dan paling kecil baru 2 tahun. Saya bingung mengapa anak saya yang kedua ini kok sepertinya tidak sepandai kakaknya ya...? saya lihat dia sulit sekali untuk diajari sesuatu terutama mengenali huruf-huruf, maunya hanya main sendiri dan menggambar coretan-coretan saja. Padahal saya merasa sejak kecil tidak pernah membedakan satu dengan yang lain dalam berbagai hal terutama asupan gizinya.

Berikut ini adalah jawaban saya pada bu Fransisca:
Bu Fransisca yang baik, mulai hari ini ibu tidak usah bingung lagi, karena memang sebenarnya sangatlah alamiah jika setiap anak berbeda. Menurut pandangan Ilmu Multiple Intelligence yang di pelopori oleh Dr. Howard Gardner sesungguhnya setiap anak itu terlahir cerdas, tidak ada yang bodoh. Hanya mereka cerdas pada bidang yang berbeda-beda. Bahkan pada anak-anak yang telah di nyatakan terbatas “disable” sekalipun masih bisa digali kecerdasannya; contoh yang paling nyata dari temuan zaman ini adalah kisah He Ah Lee, The four Finger Pianist dari Korea. Pianis dengan 4 jari karena mengalmi “Sindrom Jari Capit Kepiting” plus Down Syndrome secara bersamaan, namun berkat kegigihan Ibunya akhirnya ia mampu memainkan partitur tersulit dari musik klasik dan mendapatkan pengakuan Dunia International.

Selama ini masyarakat pada umumnya telah memandang anak hanya dalam bentuk Hitam-Putih, kalau tidak pandai maka bodoh, kalo tidak bisa tenang maka hiperaktif. Padahal anak-anak kita itu sungguh berwarna-warni. Mereka semua adalah Mahakarya dari Tuhannya. Jadi sebenarnya yang kita perlu lakukan adalah membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam diri anak kita, dan bukannya memberikan label-label negatif karena ketidakmampuan kita menterjemahkan pesan-pesan Tuhan dalam diri mereka.

Menurut Howard Gardner, kekeliruan terbesar kita dalam memandang kecerdasan adalah bahwa kita telah menetapkan bahwa anak yang cerdas adalah anak-anak yang memiliki kemampuan lebih di bidang Baca Tulis dan Hitung, dan lebih mengerucut pada pemahaman anak yang unggul dalam bidang hitungan atau eksakta. Oleh karena itu setiap anak akan diukur berdasarkan barometer yang salah ini, sehingga tentu saja akan banyak anak kita yang masuk kategori tidak cerdas. Padahal menerut penelitian saya selama lebih dari 20 tahun, bekerjasama dengan para ahli syaraf (neuroscientist), ternyata kami menemukan bahwa kecerdasan itu sungguh sangat beragam dan kemampuan berhitung itu (yang di anggap sebagai satu-satunya kecerdasan saat ini) hanyalah salah satu saja dari berbagai jenis kemampuan otak manusia; yang saya menyebutnya sebagai kecerdasan Logis Matematis. Sesungguhnya Otak kita memiliki berbagai kecerdasan yang luar biasa dan tidak hanya terbatas pada kemampuan eksakta saja. Bahkan sejarah telah mencatat bahwa kemampuan kecerdasan yang paling besar pada manusia adalah “KECERDASAN BERBAHASA” yakni pada saat otak manusia mampu menciptakan bahasa beserta simbol-simbolnya, yang menyebabkan berkembang pesatnya peradaban manusia di bumi.

Bu Fransica yang baik, Sesungguhnya dalam setiap prilaku anak, merupakan petunjuk bagi kita tentang kecerdasan apa yang dimilikinya. Misalnya, anak ibu yang lebih tertarik membuat oret-oretan gambar dari pada mengenali huruf, ini menunjukkan tanda-tanda awal munculnya kecerdasan desin ruang, imajinasi gambar. Kesukaan anak ibu untuk bermain sendiri itu lebih menunjukkan bahwa ia sedang mengemambangkan kemampuan Imajinasi Cerita dan sama sekali bukan menunjukkan ia tidak pandai.

Jadi sekali lagi ibu tidak perlu khawatir, mulai hari ini mari kita berfokus untuk menggali jenis kecerdasan apa yang sesungguhnya tersimpan dalam diri anak ibu yang ke2 juga mungkin yang ke 3.

Pada edisi mendatang, kami akan lebih mengupas tentang kecerdasan-kecerdasan apa saja yang tersimpan dalam masing-masing anak beserta cara mengetahuinya, sehingga ibu dan para orang tua dapat mengasah dan mengembangkannya sejak usia dini, agar kelak anak kita bisa menjadi anak-anak yang unggul di bidangnya masing-masing dan tidak lagi terperangkap pada pandangan pintar dan bodoh terhadap anak kita.

Sumber: Majalah Mother & Baby, Rubrik Ayah Edy Menjawab.

Ayah apa iya kalo anak saya test IQnya tinggi pasti pintar dan kalo tes IQnya rendah pasti bodoh dan jadi anak gagal...?


Suatu hari saya pernah ditanya oleh bu Deasy yang tinggal di Bandung, berikut adalah pertanyaan persisnya: Ayah Edy, Saya Deasy, Ibu dari tiga orang anak 9, 7 dan 2 tahun. Setelah membaca ulasan ayah sebelumnya saya jadi tergelitik untuk ikutan bertanya, mengenai test IQ. Anak saya yang pertama dan ke dua pernah mengikuti tes IQ dengan hasil yang berbeda, dimana kakaknya redah tapi adiknya justru tinggi sekitar 130. Pertanyaan saya adalah... apa iya kalo anak test IQnya tinggi pasti pintar dan kalo tes IQnya rendah pasti bodoh dan jadi anak gagal dikehidupan...? Bagaimana pandangan Ayah tentang hal ini..?

Inilah jawaban saya pada beliau...,
Bu Deasy yang baik, sebelumnya mari kita ketahui dulu sejarah mengenai apa dan untuk apa tes IQ, dilakukan. Tes IQ pertama kali di perkenalkan kira2 tahun 1911 oleh Alfred Binet, seorang psikolog berkebangsaan Prancis. Adapun tujuan dilakukan tes IQ waktu itu adalah untuk seleksi standar masuk militer atau pekerjaan. Kemudian tes ini berkembang keseluruh dunia sebagai tes seleksi standar dalam hampir semua bidang.

Menurut pandangan MI bahwa test ini sesungguhnya hanya mampu mengidentifikasi salah satu kecerdasan saja, yakni Logika Matematika, padahal kecerdasan manusia itu sangat bervariasi dan tak terhingga, tidak bisa semuanya teridentifikasi oleh tes IQ semacam ini. Contohnya bagaimana kita mengidentifikasi kecerdasan Pablo Picaso, Shakespeare, Thomas Edison, Steven Spielberg dan para jenius dunia lainnya.yang pada masa kecilnya dianggap sebagai anak yang biasa-biasa saja..?

Anak-anak yang mendapatkan skor tingggi dalam tes IQ, menunjukkan bahwa ia memiliki potensi intelegensia Logika Matematika yang bagus dan sebaliknya. Sementara pandangan multiple intteligence adalah Kecerdasan Manusia tidak dapat di ukur, karena sifat otak manusia yang terus berkembang dan dinamis. Hal ini bisa dibuktikan bahwa anak yang sama bila di tes IQ berulang-ulang dalam selang waktu yang berbeda akan menunjukkan hasil yang berbeda-beda, dan kerapkali faktor emotional juga ikut berperan di dalamnya.

Multiple Intelligence lebih menekankan pada aspek pengamatan potensi unggul anak dan bukan pada aspek pengukuran. Sehingga multiple intelligence pada aplikasinya akan selalu dapat mengetahui sisi-sisi keunggulan anak dan membantunya untuk mencapai hasil yang terbaik, sebaliknya tes IQ dalam aplikasinya terbatas hanya pada memberikan lebel-lebel pada anak seperti Cerdas, Rata-rata, Dibawah rata-rata dst. yang justru akan membuat pertumbuhan dinamis otak anak terganggu. Test IQ jika kita perhatikan hampir tidak pernah dapat memberikan jalan keluar bagi anak-anak yang mendapat skor rendah, bahkan mengesankan bahwa mereka yang mendapat skor rendah cenderung akan tervonis manjadi anak gagal.

Jadi sekali lagi perlu kita ingat bahwa dalam konsep Multiple Intelligence yang didukung oleh penelitian Sains Otak, mamandang bahwa tidak ada anak yang bodoh, semua anak terlahir pintar, ya.. pintar pada bidang-bidang yang menjadi keunggulannya masing-masing.

Bu Deasy yang baik, menjawab pertanyaan ibu apakah adiknya kelak akan jauh lebih sukses dari kakaknya dalam hidup, tentu saja saya tidak bisa memastikannya, karena kesuksesan hidup itu banyak sekali faktor penentunya, tidak hanya faktor IQ tinggi saja, malainkan juga faktor Emotional Intelligence, lingkungan pembentuknya, dsb.

Berikut ini ada sebuah guyonan terkenal yang mungkin juga baik untuk kita renungkan bersama.

Suatu ketika ada 3 orang sahabat yang kuliah di Universitas Harvard, dan pada saat mereka selesai ujian sahabat A mendapat nilai paling tinggi di tesnya, sahabat B sedang-sedang saja, kemudian sahabat C mendapat nilai paling rendah. Tak lama kemudian sahabat A karena nilainya sangat tinggi cepat mendapat pekerjaan, begitu juga sahabat B meskipun sulit akhirnya mendapatkan juga. Namun malangnya sahabat C sulit sekali mendapat pekerjaan dengan nilainya yang sedemikian rendah dan pas-pasan.

30 tahun berlalu sudah, tiba-tiba ketiga sahabat tersebut terkaget-kaget waktu bertemu di satu perusahaan. Eh ngomong-ngomong kok bisa ya kita ketemu disini, lalu sahabat yang paling rendah nilainya bertanya pada sahabat A, eh kamu di sini jadi apa...? Lalu dengan bangga sahabat A menjawab, oh kamu tidak tahu rupanya kalo aku adalah konsultan senior untuk perusahan ini, lalu kalo kamu jadi apanya tanya sahabat C pada sahabat B, Oh kamu juga enggak tau ya...kalo aku ini adalah salah satu Direktur diperusahaan ini. Sahabat C tampak terkagum-kagum, Oh kalian semua hebat, luar biasa katanya...., Lalu kedua sahabat A & B tertegun sejenak, dan secara bersamaan bertanya....lah kalo kamu sendiri ada disini sedang apa...? Lalu dengan santai sahabat C menjawab, Oh kalo saya sedang ada rapat komisaris pemegang saham di perusahaan saya ini.

Bill Gate adalah orang yang sangat menyukai guyonan ini. Meskipun Bill Gate tidak pernah lulus dari Harvard, namun ia telah membuktikan pada dunia bahwa sukses yang diraihnya tidak ditentukan oleh skoring nilai dan tes melainkan dari Potensi unggul yang berhasil di gali dan dikembangkan hingga menjadi yang terbaik di bidangnya.

SUMBER: Majalah Mother & Baby, Rubrik Ayah Edy Menjawab.

Tuesday, January 6, 2009

Kisah Ulat Bulu dan Kupu-kupu



Pada suatu hari ada seorang ibu yang membeli beberapa pohon bunga yang ada di pot. Bunga itu diletakkan di halaman rumah untuk menambah ke asrian dan keindahan rumahnya. Sambil berkata kecil dalam hati, ibu ini berdoa pada Tuhan, Ya Tuhan...Melalui bunga-bunga ini semoga nanti akan banyak berdatangan kupu-kupu indah kerumahku...

Lalu si ibu ini kembali lagi pada kesibukannya sehari-harinya, setelah seminggu berselang ia menunggu dan menunggu, mengapa tidak juga ada kupu-kupu yang ia lihat dihalaman rumahnya tersebut. Hingga suatu hari betapa kagetnya si Ibu mendapati bahwa bukannya kupu-kupu yang datang tapi malah Ulat bulu yang merambat pada pohon-pohon yang dibelinya itu.

Bukan main marahnya....dan saking kesalnya si ibu ini dengan keras berkata....bagaimana sich Tuhan ini... lah wong yang saya minta adalah kupu-kupu yang cantik, eh yang datang malah ulat-ulat jelek seperti ini. Sambil terus mengumpat, pot-pot bunga yang penuh dengan ulat bulu itu akhirnya dipindahkan dari taman ke tempat tersembunyi di dalam gudang.

Sebulan sudah berselang, dan ibu tersebut telah melupkan kejadian pohon-pohon di pot yang dipenuhi ulat bulu tersebut.

Dan tepat di hari yang ke 30 sejak kejadian tersebut, si ibu rupanya sedang mencari peralatan tamannya yang rupanya lupa ia taruh di gudang. Dan ketika ia membuka pintu gudang, betapa kagetnya, ia melihat begitu banyak kupu-kupu yang berwarna-warni dan sangat indah memenuhi gudang tersebut. Kupu-kupu itu satu demi satu mulai berterbangan keluar pada saat pintu gudang dibuka...untuk mencari bunga-bungaan disekitarnya.

Terang saja kejadian yang luar biasa ini telah membuat si ibu tadi menjadi diam tertegun, ia tidak bisa berkata-kata lagi, melainkan hanya memandangi satu persatu kupu-kupu yang keluar dari gudang menuju tamannya. Dan tanpa sadar kakinya bergerak melangkah mengikuti arah kupu-kupu tadi terbang.

Alangkah Indahnya tamanku saat ini.....si ibu berujar dalam hati...., Ya Tuhan.....ternyata ulat bulu yang dulu jelek itu kini telah berubah menjadi seekor kupu-kupu yang begitu cantik dan menawan. Seandainya saja dulu aku tahu.......katanya dalam hati...mungkin aku tidak akan pernah mengeluh dan merasa terusik dengan keberadaan mereka.

Wahai...para orang tua yang berbahagia dimanapun anda berada..., begitulah kita para orang tua dan guru pada umumnya, sering kali melihat dan menilai anak-anak kita bak ulat bulu, yang mengganggu dan membuat kita gatal untuk selalu mengeluh, marah dan berusaha menyingkirkan mereka.

Anak kita tidak ubahnya seperti ulat bulu yang sering kali dinilai berdasarkan sisi negatifnya saja, padahal dibalik itu semua ada sebuah proses metamorfosa yang tersembunyi...... ya sisi indah yang kelak akan dimunculkan-nya saat mereka dewasa.

Saya sering mendengar banyak orang tua dan guru yang mengeluhkan anaknya yang hiper aktif dan tidak mau diam atau tidak bisa tenang...., Padahal sesungguhnya kelak anak-anak ini akan menjadi orang yang sangat dinamis... kelak anak-anak ini akan mampu mengerjakan berbagai tugas dalam waktu bersamaan, atau malah memimpin lebih dari satu perusahaan tanpa merasa kesulitan sama sekali.

Ada juga orang tua yang mengeluhkan anaknya yang katanya keras kepala dan susah sekali di atur.....padahal sesungguhnya kelak anak-anak semacam ini akan menjadi Pimpinan-pimpinan oraganisasi/perusahaan yang sangat berhasil dangan peningkatan karir yang sangat cepat.

Atau ada juga orang tua yang mengeluhkan anaknya yang katanya pemalu dan sulit bergaul, ia lebih suka menyendiri melakukan seuatu di kamar dan anaknya cengeng sekali. Padahal sesungguhnya kelak anak-anak semacam ini akan menjadi anak yang sangat unggul dibidang Sains Teknologi atau bisa juga menjadi Seniman-seniman kelas dunia, mereka adalah anak-anak yang peka dan penuh cinta kasih terutama pada orang tuanya...

Lain lagi misalnya ada orang tua yang mengeluhkan anaknya terlau cerewet dan tidak tahu malu....bahkan cenderung malu-maluin katanya. Padahal sesunguhnya kelak anak-anak ini akan menjadi orang-orang yang terkenal karena kemampuan tampilnya di depan umum dan keberaniannya untuk berekpresi.

Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada....Begitulah sejarah telah membuktikan berkali-kali bahwa anak-anak yang dulu pada saat masa kecilnya dianggap sebagai anak yang aneh dan menyebalkan seperti Ulat Bulu...namun nyatanya setelah mereka dewasa justru menjadi orang-orang yang sangat sukses dan terkenal di kehidupan.

Tapi bagaimana mungkin Sang Ulat Bulu akan bisa menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah, jika kita semua selalu menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh, menjijikkan dan harus segera disingkirkan dari pandangan kita.

Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada....Sesungguhnya..begitu banyak anak-anak Indonesia yang mengalami nasib mirip seperti ulat bulu tadi....dan karena mereka selalu di anggap sebagai anak bermasalah maka mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk bermetamorfosa menjadi seekor kupu-kupu yang indah....yah...begitu malangnya mereka.....sampai akhirnyanya mereka harus tetap menjadi ulat bulu disepanjang hidupnya. ya Ulat bulu yang benar-benar mengganggu kehidupan kita semua....

Mari kita renungkan bersama.....saya yakin.....jika kita semua mau berubah...kita akan banyak memiliki kupu-kupu indah yang berterbangan menghiasi seluruh bumi nusantara tercinta ini....

Mari bersama-sama kita bangun Indonesia yang kuat melalui anak-anak kita tercinta.

Kalau bukan kita siapa lagi...? Kalau bukan sekarang Kapan lagi...?

Mitos dan Fakta seputar anak bermasalah


Para orang tua dan guru yang berbahagia, Kontroversi pemahaman tentang anak sering kali membuat kita yang awam ini merasa bingung; padangan manakah yang benar....? Padahal selama 20 tahun terakhir telah terjadi perubahan padangan yang sangat besar antara para praktisi dan pemerhati pendidikan Sebelum dan Setelah tahun 80-an dalam memandang anak-anak yang bermasalah. Mari kita ketahui apa saja perbedaanya; dan manakah yang mitos dan mana yang lebih dekat pada fakta;

Pandangan Sebelum 80-an yang selanjutnya akan saya sebut sebagai (Mitos) Pandangan setelah 80an yang selanjutnya akan saya sebut sebagai (Fakta)
1 MITOS: Setiap anak dilahirkan berbeda, sebagian besar dalam kondisi normal dan sebagian lagi mengalami kelainan, yang sering dikelompokkan kedalam Learning Disability, Attention Defisit Disorder, Attention Defisit Hiperactive Disorder dan Disleksia FAKTA: Setiap anak dilahirkan berbeda, oleh karenanya memerlukan perlakuan dan cara pembelajaran yang berbeda sesuai dengan ciri-ciri keunikan yang dimilikinya masing-masing. Tidak ada yang disebut kelainan pada anak, yang ada adalah perbedaan cara belajar dan sifat-sifat dasar anak, yang merupakah fitrah alami dari Tuhannya.
2 MITOS: Setiap Anak Terlahir ada yang Sangat Cerdas, Cerdas dan Kurang Cerdas FAKTA: Setiap anak yang terlahir adalah Cerdas pada bidangnya masing-masing, kecuali anak yang mengalami cacat otak sejak lahir atau karena kecelakaan yang fatal. Namun ada sebagian anak yang dinyatakan cacad sekalipun secara medis masih dapat kembali normal yang memupuk kecerdasaanya hingga menjadi yang terbaik (Ref: He Ah Lee; The Four Fingger Pianist)
3 MITOS: Kecerdasan yang dimaksud meliputi kemampuan dalam Membaca, Menulis dan Berhitung FAKTA: Kecerdasan bersifat tidak terbatas, Membaca, Menulis dan Berhitung hanyalah salah satu kecerdasan yang disebut berbahasa dan berlogika
4 MITOS: Kecerdasan dapat di ukur melalui tes kecerdasan yang sering disebut dengan Tes IQ. FAKTA: Kecerdasan tidak dapat diukur, melainkan dapat di gali, diamati dan dikembangkan untuk mencapai tingkat maksimum.
5 MITOS: Kegagalan anak dalam proses belajar disebabkan karena faktor internal anak tersebut dengan kemungkinan menderita kelainan salah satu dari yang disebut LD, ADD atau ADHD. FAKTA: Kegagalan anak dalam proses belajar disebabkan karena faktor ekternal yang berupa ketidakmampuan para pendidik dan orang tua memahami gaya belajar, sifat dasar anak serta teknik-teknik mendidik/mengajar yang sesuai dengan gaya belajar dan sifat dasarnya
6 MITOS: Agar tidak mengalami kegagalan dalam proses belajar maka anak yang dikategorikan sebagai penderita LD, ADD dan ADHD perlu mendapat terapi khusus, yang kerap kali menggunakan obat-obatan yang cukup berbahaya seperti Ritalin (methylphenidate), Dexedrin (dextroamphetamine), Cylert (pemolin), klonidin dan anti depresant lainnya. FAKTA: Agar tidak mengalami kegagalan dalam proses belajar maka orang tua, guru dan pendidik harus belajar dan menguasai teknik mengajar holistik, Tipologi Sifat dasar anak, Gaya Belajar Anak serta Sistem Penilaian yang berbasiskan pada keberagaman kecerdasan masing-masing anak.
7 MITOS: Penilaian lebih difokuskan pada sisi kelemahan yang dimiliki oleh masing-masing anak yang disebut sebagai “kelainan” pada anak untuk bisa diatasi. FAKTA: Penilaian harus lebih difokuskan pada sisi keunggulan spesifik yang dimiliki anak yang disebut sebagai potensi kecerdasan yang terpendam agar bisa tumbuh menjadi yang terbaik dibidangnya.
8 MITOS: Belajar didefinisikan sebagai kemapuan untuk mengingat kembali informasi yang pernah disampaikan atau berpusat pada kemapuan untuk menghafal secara sama dan seragam. FAKTA: Belajar didefinisikan sebagai proses kreatif yang meliputi Mengetahui, Melakukan, Menganalisa, Menyimpulkan dengan cara dan hasil berbeda sesuai dengan hasil temuan dan pengalaman masing-masing anak..

Para orang tua dan guru yang berbahagia mari kita gunakan Logika dan Nurani kita yang paling dalam untuk menilai pandangan manakah yang menurut anda lebih masuk akal dan lebih memberi peluang sukses bagi anak-anak kita kelak.....! Tentu saja kali inipun anda bebas memilih apakah anda akan memilih pandangan-pandangan yang bersifat mitos atau yang berdasarakan fakta penelitian, dan tentu saja pilihan itu sepenuhnya berada ditangan anda !

Saturday, December 27, 2008

PESAN AKHIR TAHUN UNTUK PARA ORANG TUA TERCINTA


Suatu ketika ada seorang ibu yang memili anak berusia 16 tahun datang kepada saya, untuk mengeluhkan prilaku anaknnya katanya sangat bermasalah. Bayangkan katanya; anak saya ini sudah tidak bisa di atur lagi, bahkan jika dia bicara ke saya, sering memaki-maki dengan perkataan yang kotor, dan bahkan pernah beberapa kali dia memukul saya...., Sambil menagis si ibu ini terus melanjutkan ceritanya... Selain itu saya sama sekolah juga sering di panggil, karena anak ini sering memukul atau bahkan berkelahi disekolah.

Aduh saya sepertinya sudah tobat dengan perilaku anak saya ini....., saya tidak tahu lagi harus bagaimana....? rasanya saya sudah putus asa....., setiap kali saya mengadukan hal ini pada suami, malah yang saya dapat adalah kemarahan tambahan dari suami saya...

Sungguh pada akhirnya saya juga jadi bingung harus mulai dari mana untuk bisa membantu ibu ini......, yang pasti ini semua merupakan sebuah proses panjang dari suatu kesalah pengasuhan dan pendidikan dari kedua orang tuanya.

Para orang tua dan guru yang berbahagia namun kali ini saya tidak ingin membahas tentang bagaimana cara memperbaiki perilaku anak ini, melainkan, saya lebih ingin untuk mengajak para orang tua untuk tahu bagaimana mencegah agar hal yang sama tidak terjadi pada anak kita dirumah.

Para orang tua yang berbahagia, Tahukah kita bahwa kita hanya punya kesempatan mendidik anak kita untuk menjadi anak baik sangat terbatas sekali. Yakni sejak usia mereka balita hingga kira-kira di usia sekolah SMP akhir. Setelah itu kebanyakan anak akan sangat sulit sekali di ubah menjadi baik. Kecuali dengan cara-cara tertentu yang agak sedikit ekstrim.

Namun demikian sesungguhnya tiap orang tua dapat mencegahnya sebelum ini terjadi; yakni dengan menggunakan kesempatan emas mendidik anak teserbut.

Menurut penelitian Ibu Dawna Markova, diketahui bahwa prilaku anak itu mulai dibentuk sejak usia Balita; yakni mulai fase Ego Sentris dimana anak merasa paling benar, paling penting sendiri, tidak bisa memahami hak dan keberadaan orang lain.
Diharapkan pada fase ini peran orang tua adalah untuk mengajari anaknya untuk bisa berbagi dan memahami hak orang lain.

Kemudian berlanjut pada fase berikutnya yang di sebut sebagai gank age awal yakni usia SD yang di tandai dengan keinginan anak untuk di terima oleh orang lain atau kelompoknya; dengan cara meniru-niru prilaku teman-teman di kelompoknya. Pada fase ini peran orang tua di harapkan dapat mengajak anak berdiskusi mengenai nilai-nilai baik dan buruk dari sebuah prilaku yang ditiru oleh anaknya sampai ia paham betul. Tentunya tanpa harus memarahi anak, karena pada fase ini anak sering kali tidak tahu kalau yang ditirunya itu buruk, karena mereka memang belum memiliki acuan tentang baik dan buruk.

Setelah itu ia fasenya akan beranjak memasuki usia Gank Age Tengah pada usia SMP. Pada fase ini biasanya seorang anak tidak hanya masih meniru budaya kelompoknya tapi bahkan mulai tumbuh keinginan untuk tampil beda agar mendapat perhatian dari anggota kelompoknya atau orang-orang di sekitarnya; oleh karena itu anak-anak SMP kita yang tidak terkelola mulai menujukkan prilaku-prilaku seperti mengubah model rambut agar tampak agak nyentrik, kemudian menggunakan gelang, anting atau mulai mencoba merokok, tawuran dsbnya sampai yang terparah adalah perbuatan kriminal dan narkoba. Ini semua pada awalnya hanya dengan tujuan untuk menonjolkan diri di depan teman-temannya untuk mencari-cari perhatian namun pada akhirnya justru malah ke bablasan.

Pada fase ini orang tua dan guru diharapkan dapat membantu anak untuk menemukan keunggulan alaminya, agar ia bisa mendapat perhatian dari hal tersebut; seperti misalanya anak yang kuat di sport di dorong untuk masuk kursus/club sport, bagi anak yang suka tampil bicara berikan kesemptan untuk mengikuti lomba-lomba puisi, pidato,debat, untuk anak yang suka kekerasan dimasukkan ke klub bela diri dsb. Jadi mereka tahu apa yang menjadi keunggulan alami yang bisa dipamerkan pada kelompoknya untuk mendapatkan perhatian. Tidak harus mencari-cari yang pada akhirnya sering menjerumuskan mereka ke prilaku-prilaku terlarang.

Dan apa bila masa SMP ini tidak berhasil kita kelola dengan baik prilaku anak kita maka setelah itu akan sulit untuk mengubahnya. Kenapa....? karena setelah itu dia akan memasuki fase identitas; yakni sebuah fase penetapan nilai dan konsep diri seorang anak. Jika dia menganggap hal negatif seperti kebut-kebutan adalah hal yang oke bagi dirinya; maka dia akan mengakuinya itu sebagai hal baik, dan akan sulit bagi kita untuk mengubahnya..

Jadi sekali lagi mari kita kawal masa-masa perkembangan anak kita mulai dari BALITA hingga menjelang SMA. Jika anda berhasil melakukannya maka selamatlah anak kita; dan anda mulai bisa melepas dia untuk berpisah melanjutkan studinya di perguruan tinggi dengan relatif aman. Namun jika tidak dia akan cenderung terus membuat masalah dimanapun dia berada.

Bagaimana cara mencegahnya..? anda bisa belajar dari banyak hal,. terserah pada anda.... dan salah satu yang kami tawarkan adalah Program Talkshow Pendidikan Keluarga setiap sabtu pagi jam 10.00 -12.00 di radio Smart FM 95.9 Jakarta diulang pada Minggu Malam jam 19.00-21.00. Sebuah cara yang....murah dan mudah untuk belajar mendidik anak-anak kita secara tepat.

Pada kesempatan yang indah ini kami ingin mengucapkan:

"SELAMAT NATAL & TAHUN BARU MASEHI 2009 DAN SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1430"


Semoga ditahun mendatang kita dapat menjadi orang tua yang lebih baik lagi bagi anak-anak kita tercinta.

Mari segera bergabung bersama kami untuk mewujudkan mimpi kita Membangun Indonesia yang kuat melalui Keluarga.

Kalau bukan kita siapa lagi..? Kalau bukan sekarang Kapan Lagi..?

Salam Penuh Cinta Kasih,
Ayah Edy & Management

PERSEMBAHAN UNTUK PARA IBU DI TANAH AIR


Para orang tua dan guru yang berbahagia, untuk menyambut hari Ibu 22 Desember 2008, Ayah Edy baru saja meluncurkan buku ke-2 yang berjudul "MENDIDIK ANAK ZAMAN SEKARANG TERNYATA MUDAH LHO..." (asalkan tahu caranya) di terbitkan oleh Tangga Pustaka.

Buku ini akan sangat membantu para orang tua dan guru dalam mendidik anak Zaman Sekarang, yang sering kita rasakan lebih sulit di didik. Dan dapat diperoleh di Toko-Toko buku di kota anda.

Buku ini juga sekaligus sebagai lanjutan dari buku ke-1 yang berjudul "Ayah Edy, Mengapa anak saya sulit di atur dan suka malawan". Yang berisikan 37 kebiasaan utama orang tua yang menyebabkan anaknya sulit di atur dan suka melawan.

Kedua buku ini menjawab melalui langkah praktis bagaimana kita mengubah prilaku anak yang bermasalah, melalui perubahan prilaku orang tuanya. Sebagaimana ucapan Nanny Lilian Spelling dari Nanny 911 yang mengatakan bahwa anak yang bermasalah itu bukan bawaan lahir, melainkan dibentuk oleh orang tua dan lingkungannya.

Buku ini merupakan sarana bagi kita orang tua untuk belajar tentang ilmu cara mendidik anak yang tepat. Karena hampir semua profesi ada sekolahnya, namun sayangnya justru profesi untuk menjadi orang tualah yang belum ada sekolahnya. Padahal kemampuan dan keberhasilan orang tua dalam mendidik anak menjadi kunci utama majunya suatu bangsa.

Buku ini juga menjadi bagian dari program "INDONESIAN STRONG FROM HOME" - MEMBANGUN INDONESIA YANG KUAT DARI KELUARGA.

Mari kita bangun Indonesia yang kuat melalui anak-anak kita tercinta ! Kalau bukan kita siapa lagi..? kalau bukan sekarang kapan lagi...?

Salam Hangat,
Management Ayah Edy

SELAMAT HARI IBU 22 DESEMBER 2008


Si Budi adalah anak yang kebetulan terlahir cacad, satu dari dua telinganya tidak memiliki daun telinga. Pada saat usianya mulai menginjak lima tahun, Budi kecil sering sekali di ejek oleh teman-temannya. Hingga Budi yang tadinya adalah anak periang belakangan ini menjadi anak yang diam, pemurung, dan cenderung lebih suka menyendiri. Kedua orang tua Budi begitu sedih melihat hal ini terjadi pada anaknya. Ibunya yang begitu sayang padanya, kerap kali selalu memotivasi si Kecil Budi untuk tidak malu dan rendah diri akan kekurangannya tersebut. Namun usaha demi usaha yang dilakukan orang tuanya sepertinya sia-sia belaka. Dari hari ke hari Budi semakin tidak mengurung diri dan bertemu dengan teman-temannya.

Sampailah suatu ketika orang tuanya mengabari bahwa ada seorang dari surga yang akan membantu Budi untuk memperbaiki daun telinganya melalui proses operasi pencangkokan telinga... Budi kecil sangat bahagia sekali...mendengar berita itu meskipun dalam hati ia bertanya-tanya siapa gerangan orang ini dan apa bisa telinganya di cangkok menjadi bagus seperti telinga yang satunya lagi.

Singkat cerita operasi itupun berjalan lancar dan sukses. Kini Budi memiliki dua telinga yang normal seperti anak-anak lainnya. Dan tentu saja sejak saat itu Budi kembali menjadi anak yang periang dan kembali aktif seperti sedia kala. Akan tetapi didalam hati Budi ada satu pertanyaan yang belum terjawab. Siapakah Gerangan orang dari Surga tersebut yang telah begitu mulia mau mencangkokan telinga bagi dirinya. Namun setiap kali hal ini ditanyakan pada kedua orang tuanya, Budi selalu mendapat jawaban “Sayang kelak kamu akan tahu dengan sendirinya siapa orang itu.

Sampailah Budi kini sudah menjadi orang Dewasa yang sudah bekerja di luar daerah dan tinggal jauh dari kedua orang tuanya.

Suatu ketika Budi begitu kaget mendapat berita bahwa Ibunya dalam kondisi sakit keras dan Kritis. Segera saja Budi memutuskan untuk mengambil cuti dan segera menengok ibunya. Sayang sekali begitu Budi tiba dirumahnya Ibunya telah pergi mendahului untuk berpulang pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Budi bagitu sedih, kaget dan yang membuatnya lebih terpukul lagi manakala ia melihat Ibunya sedang dimandikan, dan menemukan bahwa salah satu daun telinga ibunya tidak ada....., Budi tidak pernah menyangka bahwa jika selama ini ibunya selalu memanjangkan rambut adalah untuk menutupi salah satu telinganya yang telah ia potong untuk di cangkokan pada dirinya. Budi mulai menitikkan Air Mata... betapa ia tidak pernah mengetahui bahwa orang yang datang dari Surga itu ternyata adalah ibunya sendiri dan kini tanpa sepengetahuannya pula orang tersebut telah kembali lagi ke Surga tanpa Budi berada disampingnya.

Para orang tua yang berbahagia....... sadarkah kita bahwa sesungguhnya begitu besar cinta seorang ibu pada anaknya....apapun rela ia korbankan demi anaknya tercinta....Ibu kita tidak pernah meminta apun sebagai imbalannya. Tapi mengapa terkadang hanya untuk mendengarkan atau mengikuti nasehatnya saja kita begitu sulitnya, meskipun sesungguhnya nasehat-nasehat itu hanya untuk kebaikan hidup kita dan sama sekali bukan untuk kebaikan ibu kita....

Friday, November 28, 2008

Selamat Hari Guru Indonesia



KAMI PARA GURU MENGUCAPKAN TERIMAKASIH YANG TAK TERHINGGA KEPADA PARA ORANG TUA YANG TELAH DENGAN BANGGA MENGIJINKAN DAN MENDUKUNG ANAKNYA UNTUK MENJADI SEORANG GURU..!
SEHINGGA KAMI PUN MERASA BAHAGIA DAN BANGGA BERPROFESI SEBAGAI SEORANG GURU. KARENA KAMI MEMANG TELAH MEMILIH UNTUK MENJADI GURU DAN BUKANNYA TERPAKSA MENJADI GURU.

KARENA KAMI SADAR NASIB BANGSA INI ADA DI TANGAN GENERASI PENERUSNYA, DAN NASIB GENERASI PENERUS BANGSA ADA DI TANGAN KAMI PARA GURU.

SEMOGA TUHAN SELALU MEMBERIKAN KEKUATAN PADA KAMI AGAR BISA MENJADI TELADAN BAGI ANAK-ANAK KAMI DI SEKOLAH JUGA DIRUMAH. DAN SEMOGA AKAN LEBIH BANYAK LAGI PARA ORANG TUA YANG MENGIJINKAN DAN BANGGA ANAKNYA MENJADI SEORANG GURU.


SALAM BAHAGIA
DARI SEORANG GURU
UNTUK SELURUH GURU DI PELOSOK TANAH AIR.

Pesan Tuhan Melalui Air


Para orang tua dan guru yang saya cintai..... Pernahkah pada saat kita sedang emosi membentak anak kita...? atau pernahkan anda sempat berfikir atau bahkan terucap kata-kata yang negatif pada anak kita seperti; Bodoh, Malas, Nakal, dan sejenisnya...?

Jika ya.... itu wajar..karena kita juga manusia... itu kata sebuah cuplikan lagu yang cukup terkenal baru-baru ini...

Hanya saja mulai saat ini kita mungkin perlu lebih berhati-hati lagi dalam ucapan dan tindakan terhadap anak-anak kita; karena setiap ucapan kita itu ternyata direspon langsung oleh anak kita dan dapat menjadi bagian dari doa dan kebenaran.


Para orang tua dan guru yang berbahagia....
Begitulah pesan tersembunyi yang disampaikan oleh Masaru Emoto sorang peneliti Air, dari negeri sakura, yang hasil penelitiannya dituangkan dalam sebuah Artikel di salah satu Web Sitenya yang berjudul The Hidden Message in Water.

Masaru Emoto adalah orang ilmuan luar biasa yang telah berhasil menemukan bahwa sesungguhnya Air dapat bereaksi terhadap ucapan dan tulisan sesuai dengan isi ucapan atau tulisannya.

Melalui lensa mikroskop khusus yang diciptakannya, kita bisa melihat bahwa apa bila kita mengucapkan sesuatu atau menuliskan sesuatu di dekat air maka melalui lensa itu dapat dilihat air tersebut berubah, membentuk gambar sesuai dengan kata atau tulisan yang kita buat. Dan yang menarik adalah hasilnya tetap sama meskipun diucapkan dalam berbagai bahasa.

Apa bila kita mengucapkan terima kasih atau syukur maka air tersebut akan berubah membentuk kristal-kristal kecil yang demikian indahnya seindah kristal yang terbuat dari berlian; sementara apa bila kita ucapkan kata-kata negatif seperti “kamu bodoh!” maka air tersebut dibawah lensa mikroskop akan berubah membentuk gambar yang buruk dan tak beraturan.

Luar Biasa...! Sungguh suatu usaha keras yang tidak sia-sia, meskipun Masaru Emoto memerlukan waktu lebih dari 20 tahun untuk menemukannya. Dan.berkat hasil temuannya ini kini Masaru Emoto telah di undang untuk berbicara ke berbagai negara didunia.

Smart Listner...Ada sesuatu yang penting yang perlu diketahui oleh kita para orang tua tentang fakta-fakta yang berhasil ditemukan oleh Masaru Emoto berhubungan dengan kodrat kita dan anak-anak kita melalui air ini, mari kita simak pemaparannya.

Sesungguhnya apa yang saya temukan itu adalah sebuah keajaiban; sepertinya melalui air Tuhan ingin mengirimkan pesan-pesan tersembunyi kepada kita seluruh manusia.

Bayangkan bahwa kita telah mendapatkan bukti secara ilmiah bahwa air bisa merespon hal-hal yang positif ataupun negatif yang diterimanya; baik melalui kata-kata, tulisan, perlakuan dan pikiran. Jadi jelas-jelas bahwa semua itu; baik ucapan, tulisan, perlakuan dan pikiran akan direspon langsung oleh tubuh kita dan tubuh setiap orang yang menerimanya..

Saya juga telah menemukan fakta bahwa rata-rata 70% tubuh manusia terdiri atas air.

Mari kita lihat lebih dalam lagi; Ketika kita mulai hidup sebagai Janin, 99%nya adalah air, dan pada saat dilahirkan kira-kira 90% dari tubuh kita adalah air, ketika kita mencapai usia dewasa kira-kira 70% dari tubuh kita terdiri dari air sampai menjelang ajal kemungkinan kita masih memiliki 50% kandungan air dalam tubuh. Jadi dapat kita simpulkan bahwa kita adalah mahluk yang sebagian besar terbuat dari air.

Ketika yang melihat kenyataan ini dan mengaitkan dengan hasil temuan saya; maka saya mulai melihat kaitan dan bukti ilmiah; mengenai bagaimana prilaku seseorang itu bisa terbangun. Dan kini mulai terkuak sudah awal sebuah jawaban dari pertanyaan, mengapa dunia ini memiliki lebih sedikit orang-orang yang berwatak dan berprilaku positif..?, dan semoga temuan saya ini akan bisa membuka pintu hati banyak orang diseluruh dunia.

Smart Listner... sungguh sebuah pemaparan yang luar biasa...., Secara implisit Masaru Emoto ingin mengajak kita untuk mengevaluasi diri apakah selama ini kita lebih banyak mengucapkan dan memikirkan sesuatu yang positif atau sebaliknya, karena pada akhirnya secara kolektif itu akan sangat menentukan komposisi prilaku umat manusia didunia ini.

Secara spesifik; Masaru Emoto juga mengingatkan kepada kita; bahwa berdasarkan komposisi tubuh; pada usia dini, manusia jauh lebih banyak memiliki kandungan air bahkan hingga mencapai 90%. Itu berarti respon anak-anak terhadap ucapan, pikiran dan tindakan negatif yang diterimanya jauh lebih besar mempengaruhi dirinya dalam membangun konsep diri yang positif.

Jadi apabila kita menginginkan anak-anak kita kelak tumbuh menjadi baik dan bahagia, maka selalu penuhilah kehidupannya dengan kasih sayang, cinta dan rasa syukur; karena kristal-kristal air yang paling indah dan sempurna, muncul dari air yang di beri ucapan Sayang, Cinta dan Syukur...... Begitulah pesan yang sangat dalam dan menyentuh dari Masaru Emoto untuk kita para orang tua diseluruh dunia.

Para orang tua yang berbahagia...
Mari kita hentikan segala ucapan dan pikiran negatif pada anak-anak kita, dan mulai hari ini, mari kita didik dan kita besarkan anak-anak kita dengan segenap cinta kasih dan rasa syukur atas segala kelebihan dan kekurangannya.

Sunday, November 23, 2008

PERHATIAN...!


Bagi para orang tua yang tidak sempat mendengar talkshow Ayah pada hari Sabtu pagi, maka JANGAN LUPA, talkshow akan di ulang kembali pada HARI MINGGU MALAM, Pukul 19.00-21.00 WIB. Hanya di Radio Smart FM 95.9 JAKARTA.

Kabarkan berita baik ini segera kepada rekan-rekan dan kerabat terdekat kita. Agar kita bisa membangun Indonesia yang kuat dari Keluarga, secara bersama-sama.

Let's Make Indonesian Strong from Home !


Kalau bukan kita siapa lagi?! Kalau bukan sekarang kapan lagi..?!

Friday, November 14, 2008

Sekilas mengenai HOME SCHOOLING



Suatu ketika saya pernah ditanya tentang Home Schooling; Lalu saya jawab Home schooling artinya Melakukan aktivitas Pembelajaran dirumah, tapi home schooling bukan berarti memindahkan kurikulum sekolah ke rumah. Home schooling juga merupakan pendidikan alternatif yang terjangkau oleh semua kalangan, memberikan kemerdekaan untuk memilih model dan waktu pembelajaran yang cocok bagi anak. Kurikulumnya bisa dibuat sesuai kebutuhan dan tujuan akhir pembelajaran bagi anak.

Dan berita baiknya adalah Home Schooling sudah mendapat restu dari pemerintah dan kalau tidak salah Kak Seto adalah sebagai ketuanya assosiasi Home Schooling di Indonesia.

Sebenarnya home schooling bukanlah barang baru, kalaupun mungkin masih barang baru di negeri kita namun di dunia sudah mulai dikenal lebih dari 20 tahun yang lalu. HS awalnya munculnya sekitar tahun 80an di Eropa dan Amerika, Home schooling muncul sebagai bentuk gejolak dan kegundahan orang tua terdidik terhadap kelayakan sekolah-sekolah yang saat itu. Karena dunia pendidikan saat itu dinilai lebih mementingkan nilai-nilai dan angka-angka semata ketimbang mendidik seorang anak secara utuh, yakni keseimbangan antara unsur intelektual, mental, dan moral/karakter..

Para orang tua yang peduli pendidikan kala itu menilai bahwa sekolah yang tidak peduli akan pendidikan Moral dan Karakter anak hanya akan menjadi tempat persemaian yang subur bagi penyebaran berbagai penyakit moral. Jika tidak salah sejak tahun 2000 di negara-negara maju Home Schooling sudah secara resmi diaku oleh Pemerintah masing-masing.

Lalu apakah home schooling ini efektif dan bisa menghasilkan anak-anak yang berkualitas...?

Berdasarkan bukti-bukti sejarah para jenius dunia seperti Leonardo Davinci dan Thomas Edison adalah anak-anak yang dulunya di didik dengan metode home schooling. Dan dalam buku Home Schooling yang ditulis oleh Kak Seto, menjelaskan bahwa di Indonesia sendiri tokoh-tokoh besar seperti Ki Hadjar Dewantoro, KH. Ahmad Dahlan, KH. Wachid Hasyim dan Buya Hamka dididik oleh orangtuanya dengan metode Home Schooling.

Dan yang menarik, di daerah Bantul Yogyakarta ada Seorang Dosen Pascasarjana Kimia UGM, Pak Djoko namanya, yang malah melakukan pendidikan Home Schooling terhadap ke 5 orang anaknya. Meskipun Pak Djoko sendiri adaah seorang yang sudah bergelar Doktor. Dan hasilnya ternyata sungguh luar biasa, Dalam usia yang begitu muda mereka berhasil menciptakan Bio Chip dan alat deteksi jantung untuk dunia kedokteran yang di patenkan di Jerman.

Selain itu Kak Seto sendiri selaku orang yang sangat senior dan sekaligus pakar di bidang pendidikan juga telah memilih home schooling bagi anaknya. Para orang tua yang berbahagia kiranya tokoh sekaliber Kak Seto tentunya tidak akan main-main dengan masa depan anak-anaknya. Bahkan jika tidak salah beliau juga secara langsung membawahi Asah Pena salah satu Home Schooling di Indonesia.

Apakah landasan berpikir ilmiah orang melakukan Home Schooling bagi anak-anaknya.

Hampir semua penelitian tentang otak dan anak selama 30 tahun terakhir menyatakan bahwa sebenarnya anak-anak adalah mahluk pembelajar yang luar biasa. Jadi yang dibutuhkan seorang anak dalam belajar adalah kesempatan untuk mengeksplorasi hal-hal yang menjadi minat terbesarnya, dan bukan harus mempelajari semua bidang mata pelajaran yang diwajibkan namun tidak diminatinya.

Seperti apa yang pernah dilakukan oleh Nancy Alliot Ibunda Thomas Edison. Beliau tidak mengajari apapun pada anaknya melainkan hanya bertanya dan mendukung apa yang ingin di ketahui anaknya, yakni dengan menjadikan Garasi rumah sebagai bengkel kerja bagi anaknya, serta mengajak Thomas untuk menemukan buku-buku yang ingin dipelajarinya atau mencari orang yang bisa menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh ibu Nancy sendiri.

Jadi setiap anak itu sebenarnya bisa menjadi manusia-manusia luar biasa asakan ia punya minat belajar yang kuat dan mau bekerja keras – Itulah yang di katakan Thomas Edison pada saat ia berhasil membuat bola lampu listrik.

Semoga uraian singkat ini ini bisa memberikan gambaran mengenai Home Schooling bagi orang tua yang berminat melakukan pendidikan berbasis rumah bagi anak-anaknya.

Bagaimana jika anak saya mulai bertanya tentang "SEX"...?


Suatu hari saya ditanya oleh seorang ayah, dia bingung karena anak perempuannya yang berusia 7 tahun sudah mulai mengajukan pertanyaan seputar SEX....

Apakah sudah tepat jika saya jawab...? kapan sich waktu yang tepat untuk mengajari anak-anak tentang sex...?

Pertama-tama kita perlu memandang arti Sex itu sendiri dalam kapasitas yang tepat. Selama ini jika kita menyebut sex, maka pandangan kita sudah melayang-layang ke sesuatu yang bersifat buruk atau miring.

Sesungguhnya Sex itu bersifat netral,=""> bagaimana kita mengarahkan dan menggunakannyalah yang menyebabkan sex itu baik atau buruk. Jadi syarat pertama sebelum kita bicara pada anak adalah jelaskan bahwa sex itu adalah proses alami mahluk hidup dalam melangsungkan kehidupan spesiesnya.

Kapankah saat yang tepat untuk mengajari anak tentang sex, adalah saat pertamakali anak mulai menanyakannya pada kita. Yah itulah saat yang tepat. Jangan sampai terlambat, karena jika tidak ia akan mencari tahu dari orang atau pihak lain yang tidak jelas.

Ingat jangan pernah memarahi anak yang bertanya dan ingin tahu tentang sex, terimalah ini sebagai proses alami, dan bersyukurlah ia bertanya pada orang tuanya.

Bagaimana acara, jelaskan apa adanya jangan di tutup-tutupi, bawalah arah pembicaraan pada hal-hal yang bersifat ilmiah, sains genetika kedokteran. Misalnya jika anak anda menanyakan apakah arti senggama dan berhubungan badan...? untuk apa itu dilakukan...? Maka jelaskanlah masing-masing fungsi alat reproduksi, apa tujuan mulia Tuhan memberikan alat ini, buka gambar fungsi reproduksi dari buku-buku kedokteran dan jelasakan pula bagaimana orang-orang sering melakukan tindakan yang keliru terhadap fungsi reproduksi ini. Jika kita adalah kalangan yang beragama, maka kita bisa kaitkan sedikit-demi sedikit bagaimana seharusnya fungsi-fungsi ini dilakukan berdasarkan ajaran-ajaran Tuhan melalui agama kita masing-masing.

Terus pancinglah pertanyaan dari anak anda, mengenai hal apa saja yang telah ia ketahui dari teman-temanya tentang sex, dan apa yang dilakukan teman-temannya apakah terjadi penyimpangan, ajak anak anda untuk membahasnya.

Ingat jadikanlah diri kita sebagai konsultan sex bagi anak-anak kita, kalau bukan kita siapa lagi. Dan sekali lagi sex itu adaah sesuatu yang netral dan alami yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup, jadi bahaslah sex dalam konteks yang netral dan mendidik.

Jika setiap orang tua mau untuk melakukan hal ini bagi anak-anak remajanya, maka Insya Allah anak-anak kita akan tahu menentukan pilihan yang benar sehingga kasus-kasus penyalahgunaan seksual di usia dini dan aborsi akan bisa cegah dan dikurangi.



Lihat tayangan videonya di : http://www.youtube.com/watch?v=ugKqhRyK5CU

Email Seorang Ibu yang Luar Biasa !


Suatu ketika saya mendapat kiriman email dari seorang ibu yang mengaku katanya pendengar setia acara Indonesian Strong from Home, yang di tayangkan tiap Sabtu pagi di Smart FM., beliau juga mengaku pembaca setia dari blog saya yakni www.ayahkita.blogspot.com. tak hanya sampai disitu beliau ini juga mengaku pembaca buku yang saya tulis dan telah memraktekkan pesan-pesan yang ada didalamnya satu demi satu...., ini bukan promo lho...tapi memang begitulah pembukaan isi suratnya.

Lalu pada bagian pembukaan kedua surat tersebut beliau juga memberikan beberapa pujian yang tidak perlu saya sebutkan tentunya, karena saya takut kepala saya benjol lagi karena waktu pertama kali saya baca pujian-pujian itu, tubuh saya tiba-tiba melayang ke atas hingga kepala saya sempat beberapa kali membentur atap.

Setelah itu si Ibu ini bercerita tentang bagaimana asyiknya ia membaca buku saya, yang katanya sampai tanpa sadar kepalanya mengaangguk-angguk tanda setuju, karena ternyata buku yang di bacanya ini berjudul 37 kebiasaan orang tua yang telah membuat anaknya suka melawan dan susah di atur. Jadi kelihatannya anggukan kepalanya itu sebagai pertanda setuju kalau beberapa diantaranya atau mungkin malah sebagian besar dari kebiasaan tersebut pernah dilakukannya.

Setelah dua kali menamatkan buku itu, kata si Ibu tadi, lalu ia mulai berusaha untuk mengubah kebiasaannya satu demi satu, tapi sayangnya ternyata itu tidak mudah..lho, selalu saja lupa dan kelepasan katanya....terutama untuk tidak marah dan membentak. Namun berkat niatnya yang begitu besar dan kerjasama yang erat dengan suami akhirnya beberapa bagian terberat bisa dia lewati dengan baik, artinya kebiasaan buruknya bisa ia ganti dengan yang baik. Dan ajaib katanya, anak saya prilakunya mulai berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari. Wah saya senengnya bukan main, dan jadi semakin tertantang untuk menerapkan semuanya nich...katanya.

Perlahan tapi pasti, si ibu ini terus berusaha untuk merubah kebiasaan buruk satu demi satu. Ibu ini mengatakan, ternyata semakin banyak kebiasaan yang saya perbaiki maka semakin anak saya juga berubah menjadi lebih baik lagi lho. Wow nggak nyangka katanya hampir seperti sulapan.

Namun sayangnya ketika tiba pada kebiasan yang ke- 36, yakni pada waktu saya berusaha mengikuti kebiasaan untuk tidak menonton tanyangan2 TV yang tidak mendidik dirumah, wah bukan main, rasanya ini sangat berat sekali...sempat terjadi dilema karena saya dan anak-anak saya termasuk penggemar berat TV dengan berbagai tayangannya. yang ternyata baru saya sadari belakangan ini kalau itu sangat berpengaruh terhadap prilaku dan gaya hidup anak-anak saya selama ini.

Namun katanya lagi, karena dia merasa telah berhasil menerapakn poin-poin sebelumnya, si ibu ini yakin di poin inipun ia pasti akan berhasil lagi. Maka dengan modal tekad dan juga nekad, si ibu berusaha mengikutinya, bahkan ia nekad untuk memutus kabel antena saluran TVnya. Bukan main... Lalu apa yang terjadi katanya; se isi rumah jadi heboh..., si ibu jadi banyak menuai protes dari anak-anaknya. Sudah saya sendiri juga merasa tersiksa tidak bisa melihat TV lagi, ditambah lagi protes dari anak-anak yang sangat keras, jadi memang kali ini terasa sungguh berat buat saya dan juga anak-anak. Tapi apapun yang terjadi saya harus tetap tegar. Kemudian dengan segenap kekuatan dan upaya katanya, saya coba jelaskan pada anak-anaknya mengapa keputusan ini sampai ia lakukan.

Sesuai saran dari buku itu lagi katanya segeralah ia mengajak anaknya untuk mencari kegiatan/aktifitas lain yang menjadi hobi mereka masing-masing, yang selama ini terpendam dan tidak tersalurkan akibat terlalu banyak duduk terhipnotis di depan TV.

Minggu-minggu berikutnya kata si ibu ini lagi, Protes-protes itu mulai mereda setelah anaknya mulai melakukan berbagai macam aktivitas. ada yang ikut kursus beladiri taekwondo, ada yang ikut les nari, ada yang ikut kursus musik dan tarik suara, bahkan ia juga kaget ternyata ada anaknya yang suka melukis dan lukisannya bagus sekali. Ia menceritakan pengalamannya yang katanya sungguh menakjubkan, setelah ia menerapkan kebiasaan tidak menonton TV, dan menggantinya dengan membaca aktif baik dari koran ataupun majalah.

Wah....anak-anak saya sekarang menjadi jauh lebih aktif, kemudian terjadi juga kebiasaan yang menarik dari anak saya yang paling kecil, yang biasanya dia cepat marah menjadi lebih lembut, yang biasanya suka memukul jadi tidak memukul lagi, mereka jadi lebih jarang bertengkar, melainkan lebih banyak diskusi, saya jadi kagum dengan kemampuan anak-anak saya yang selama ini tidak pernah saya ketahui, mereka ternyata sungguh anak-anak yang luar biasa katanya, lalu dalam bagian akhir surat si Ibu ini menulis; jika saja kita para orang tua mau merubah kebiasaan-kebiasaan kita dan mau mengambil tanggung jawab sebagai orang tua, tidak hanya melimpahkan pada pengasuh atau para suster atau siapapun, maka kita akan segera menemukan kepuasan tersendiri dalam mendidik anak-anak kita, terutama manakala melihat mereka tumbuh menjadi anak-anak yang luar biasa dan membanggakan.

Para orang tua dan guru yang berbahagia dimanpun anda berada. Dari semua uraian ibu ini saya hanya ingin menambahkan satu kalimat saja: Mari kita bangun Indonesia yang kuat melalui anak-anak kita tercinta ! kalau bukan kita siapa lagi? kalau bukan sekarang kapan lagi..?

Thursday, October 16, 2008

Mengajari balita kita membaca, seberapa penting...?


Suatu hari saya di tanya apakah saya boleh mengajarkan anak saya membaca di usia dini...? Karena saat ini marak metode yang mengajarkan anak membaca di usia dini.

Agak sulit untuk menjawab pertanyaan ini, untuk itu mari kita tanya pada diri sendiri, Tujuan apa yang mendasari kita mengajari anak membaca. apakah kita ingin anak kita bisa membaca atau kita ingin anak kita menjadi gemar membaca..? Pertanyaan ini sangat penting, karena jelas sekali bedanya anak yang bisa membaca dengan anak yang suka/gemar membaca.

Kalau tujuan kita hanya agar anak kita bisa membaca, dan biasanya dengan salah satu tujuan lainya adalah untuk di pamerkan pada saudara, kerabat atau tetangga, sungguh ini sayang sekali dan tidak akan memberikan manfaat maksimal bagi anak kita.

Namun kalau tujuan kita adalah agar anak kita suka/gemar membaca maka mungkin jauh lebih bermanfaat bagi mereka kelak. Tapi sayangnya mengajarkan anak membaca diusia yang terlalu dini justru tidak membuat anak menjadi gemar membaca.

Hasil penelitian menjukkan bukti bahwa anak-anak yang diajari baca setelah usia 7-8 tahun justru membaca buku dan menulis jauh lebih banyak daripada anak yang di ajari baca sejak usia 5 tahun.

Kemudian hasil lain adalah bahwa kemampuan baca anak yang di ajari baca sejak usia 5 tahun dengan anak yang di ajari baca di usia 7-8 tahun akan sama kemampuannya pada saat mereka sama-sama berusia 10 tahun. Namun Minat baca anak yang diajari sejak usia lima tahun jauh lebih rendah dibanding anak yang diajari baca di usia 7-8 tahun.

Mengapa hal ini bisa terjadi...? Mari kita simak bersama penjelasannya.....

Otak anak pada usia dini itu bertumbuh sangat pesat, jika kita mengembangkan kemampuan kreatif mereka maka syaraf-syaraf kreatifnyslsh yang akan berkembang sangat pesat. Hal ini di tandai dengan rasa ingin tahu yang tinggi dari seorang anak. Namun jika tidak maka rasa ingin tahu atau syaraf-syaraf kreatifnya melemah, sehingga minat/rasa ingintahu anak pada berbagai hal juga melemah.

Oleh karena itu berdasarkan penelitian. Di ketahui bahwa jauh lebih penting mengajarkan anak kreatifitas sehingga syaraf-syaraf kreatifnya bertumbuh sempurna; syaraf kreatif yang tumbuh dgn sempurna ini akan akan membuat anak memiliki rasa ingin tahu yang besar akan berbagai hal, lalu setelah itu baru kemudian anak diajari bagaimana memenuhi rasa ingin tahunya tersebut melalu kemampuan membaca. Sehingga setelah dia bisa membaca maka dia akan gunakan kemampuan bacanya tersebut untuk mengeksplorasi segala informasi dari berbagai bahan bacaan untuk memenuhi rasa ingin tahunya tersebut. Begitulah penjelasan Kathy H Passeks, dalam bukunya yang berjudul Even Einstein did not learn a flash Card. atau Einstein ternyata tidak pernah belajar Flash Card.

Dari penjelasan tersebut ternyat di ketahui bahwa mengajari anak membaca di usaia dini justru kontra produktif terhadap pertumbuhan syaraf-syaraf kreatif yang dimilikinya. Sehingga pada saat anak sudah bisa membaca, dia tidak tahu untuk apa kemampuan itu dia gunakan, karena rasa ingin tahunya akan sesuatu tidak ada.

Oleh karena itu jika kita perhatikan pendidikan-pendidikan usia dini yang ada di negara-negara maju pada umumnya sebagian besar aktifitasnya di fokuskan untuk membangkitkan kreatifitas anak melalui berbagai macam permainan dan diskusi; mereka baru diperkenakan baca tulis hitung diusia kira-kira 7 atau 8 tahun.

Para orang tua dan guru yang saya cintai....

Coba perhatikan berapa banyak buku yang sudah kita baca dalam setahun...? apakah menurut anda minat membaca kita saat ini cukup besar...? Jika tidak, mungkin bisa jadi karena kita dulu sejak kecil sudah difokuskan untuk bisa membaca dan bukannya mengembangkan kreatifitas dan rasa ingin tahu kita.

Akan tetapi sekali lagi segalanya terpulang kembali pada masing-masing orang tua. Apakah kita ingin anak kita cepat bisa membaca saja atau kita ingin anak kita menjadi anak yang gemar membaca...

Belajar dari masa kecil Albert Einstein


Para orang tua dan guru yang berbahagia, Siapa yang tidak kenal Albert Einstain...sang jenius fisika penggagas terori relativitas, Mungkin sebagian besar kita semua belum mengetahui seperti apa Einstain kecil, dan seperti apa pada saat ia bersekolah, semoga dengan sedikit mengtahi masa kesilnya kita bisa mendapatkan pelajaran daripadanya.

Einstein seperti juga anak-anak lainnya adalah anak yang pada masa kecilnya biasa-biasa saja bahkan cerderung sebagai anak yang bermasalah dengan sekolah. Einstein adalah anak yang suka membangkang waktu bersekolah dia sering tidak mau mengikuti perintah gurunya malainkan hanya mau mengerjakan apa yang ia sukai yakni yang berhubungan dengan musik, membaca buku-buku sains, dan berlayar.

Einstain kecil tidak mau belajar apa bila ia tidak suka pelajarannya oleh karena itu ia sering bolos pada saat pelajaran bahasa, sastra dan menggambar. Ia membolos untuk melakukan aktivitas yang disukainya tadi. Sehingga pada akhirnya Einstein tidak berhasil lulus SMP, melainkan hanya mendapat keterangan pernah bersekolah SMP dari sekolahnya.

Berbekal surat keterangan tersebut ia nekad berusaha melamar di SMA, sebagian besar sekolah SMA yang didatanginya menolak, namun Einstein dan orang tuanya tidak pernah patah semangat untuk terus mencoba hingga akhirnya ada sekolah SMA yang menerimanya.

Setelah SMA kelakuannya masih sama saja tidak pernah berubah, ia hanya suka pelajaran Matematika dan Fisika saja, jadi Einstain masih sering membolos di pelajaran-pelajaran yang tidak dia sukai, sampai akhirnya ia kembali dinyatakan sebagai anak yang tidak tamat SMA. dan untuk kedua kalinya ia di nyatakan gagal lagi disekolah.

Namun hebatnya orang tua Einstein; tetap mendukung anaknya untuk terus berusaha melanjutkan sekolahnya; bahkan ia ikut membantu dengan berbagai hal agar anaknya bisa terus bersekolah.

Meskipun Einstein tahu ia tidak belum tamat SMA dan tidak punya pernah punya ijazah; ia tetap berani melamar ke perguruan tinggi; Nekad benar ya.... tapi kalau bukan nekad dan keras kepala bukan Einstein namanya.

Tahun 1895 ia melamar di Politeknik Federal, di Zurich Swiss tapi sayang ia gagal di ujian masuk dan menurut sekolah tsb, usianya pun masih terlalu muda. Lalu dia diminta menamatkan SMAnya terlebih dahulu, baru setelah itu ia melamar lagi dan akhirnya di terima sebagai mahasiswa di Politeknik Federal, Swiss.

Tahukah Einstain pada waktu ia ditanya Izajahnya, ia dengan tegas mengatakan bahwa saya tidak pernah punya Izajah tapi kemampuan saya boleh di uji, ya terutama di bidang Matematika dan Fisika. Saat itu kedua pelajaran itu memang sangat di perhitungkan

Kemudian setelah lulus Einstein kembali ke negara asalnya Jerman, dan setelah kembali ke sana ia banyak mengkritik sistem pendidikan di Jerman yang menurutnya banyak menghambat potensi unggul yang dimiliki oleh seorang anak. Ia juga banyak berseberangan dengan Otoritas Akademik di Jerman. Sehingga pada akhirnya dia memilih untuk tidak mau menjadi warga negara Jerman. Peristiwa ini terjadi pada saat Einstain berusia 20tahun.

Setelah itu Enstain mencari negara netral yang memberikan kebebasan warga negaranya untuk berekspresi, akhirnya pilihannya jatuh pada Negara Swiss. Akan tetapi karena pada perang dunia kedua dia merasa terdesak oleh Nazi di Swiss, dia juga mengajukan kewarganegaraan AS. Hingga akhir hayatnya dia memiliki 2 kewarganegaraan yakni Swiss dan AS.

Kalo kita perhatikan ciri-ciri Eistein ini mirip sekali dengan anak-anak yang cenderung dominan otak kanannya. Pertama Dia tahu apa yang dia mau dan dia juga tahu apa yang dia tidak mau. Yang kedua dia hanya mau mengerjakan apa yang dia mau, dan jika dipaksa dia cenderung akan melawan atau menghindar. Dan yang ketiga dia sangat fokus untuk bisa mencapai apa yang dia mau hingga akhirnya ia menjadi Ilmuwan besar dunia di abad 20.

Apa kira-kira Hikmah dari kisah ini.....mungkin beberap diantarnya adalah;

Yang pertama; Penting bagi kita semua orang tua dan guru untuk belajar memahami potensi unggul yang dimiliki oleh masing-masing anak. Yang kedua adalah; Kita tidak bisa lagi memaksaakan anak untuk bisa disemua bidang matapelajaran, dan melupakan kemampuan unggulnya. Dan yang ketiga adalah; Anak yang gagal di ujian bukan berarti dia gagal di kehidupan. karena bisa jadi justru soal-soal ujiannyalah yang keliru untuk menilai potensi unggul anak-anak kita.

Silahkan anda temukan sendiri apa bila masih ada hikmah lain dibalik kisah ini.

Kakak Adik yang suka bertengkar..?


Suatu hari saya ditanya orang tua yang mengatakan anaknya sering bertengkar karena berebut mainan. Lalu saya tanya apakah ibu sering membelikan mainan yang sama untuk masing-masing anak..? iya jawabnya.

Lalu apa yang ibu lakukan bila anak ibu tengah betengkar. Ya biasanya dua-duanya saya marahi, atau terkadang saya minta kakaknya mengalah pada adiknya.

Apakah ibu berhasil...? untuk saat itu kelihatanya berhasil, mereka berhenti bertengkar, cuma ya itu yang bikin pusing, kejadiannya berulang-ulang lagi.

Nah, kalau begitu mulai sekarang jangan pernah lagi membelikan mainan untuk masing-masing anak. cukup belikan 1 saja, berikan secara bergantian kadang untuk kakaknya dan gantian untuk adiknya.

Wah Nanti mereka bisa bertengkar hebat....? kata si ibu. Gak papa, bertengkar itu adalah sebuah proses pembelajaran yang baik bagi anak. Itu artinya anak kita belum mengenal konsep hak milik, dia juga belum tahu konsep bahwa sipemilik mempunyai hak lebih, selain itu juga menunjukkan anak kita belum tahu konsep meminjam dan meminjamkan, bermain bergantian/menunggu giliran atau berbain bersama-sama.

Oleh karena itu kita harus segera mengajarkannya; jika tidak maka nanti dia tidak akan pernah mengerti tentang konsep hak milik, lihatlah betapa banyak kita dengar di media orang dewasa yang merebut/menyerobot hak milik orang lain, itu pasti dulu waktu kecil tidak sempat di ajarkan konsep ini oleh orang tua atau guru di sekolahnya.

Nah nanti jika ibu beli mainan jelaskan pada mereka, ibu membelikan mainan ini untuk siapa misalnya untuk kakaknya dan ini hak milik siapa, misalnya hak milik kakaknya. Jika si adik berusaha merebutnya maka jelaskan dan larang adiknya merebut, jika si adik marah dan menangis jelaskan aturannya dan biarkan ia menumpahkan tangisannya hingga berhenti sendiri, jangan hiraukan, sebelum berhenti sendiri, begitu juga sebaliknya lain waktu bergantian ibu lakukan pada kakaknya.

Setelah mereka mamahami konsep hak milik, maka ajarkan pada mereka untuk mengucapkan “boleh pinjam ya” jika ia ingin meminjam mainan, dan jelaskan agar pihak satunya lagi mau meminjamkannya. Jika masing-masing pihak belum mau melakukannya, jangan paksakan, tunggu sampai mereka mau. Lama kelamaan mereka akan mau, karena masing-masing punya mainan yang berbeda dan ingin saling bertukar.

Setelah itu pelan-pelan ajari mereka untuk bermain bergantian; apa bila ingin bermain dengan alat yang sama, misalnya komputer. aturlah waktu pemakaian dengan alarm waktu hingga mereka paham. Jadi tidak harus ibu membeli 2 komputer untuk 2 anak. Dan yang terakhir mereka akan dengan sendirinya terlatih untuk mulai bisa bermain bersama. Kuncinya adalah tegakkan aturan secara tegas dan konsisten. Nanti ibu akan perhatikan hasilnya, Frekwensi pertengakaran merekapun dari hari kehari akan semakin jarang, karena mereka telah memahami konsep salaing meminjami dan bermain bersama.

Saturday, September 27, 2008

Sekolah "KNOWING" vs "BEING"


Para orang tua dan guru yang berbahagia...., satu hari saya kedatangan seorang tamu dari negeri Eropa, dan seperti biasa setelah tugas-tugas utama kami selesai, saya selalu menawarkan dan mengajak rekan saya untuk berjalan-jalan melihat-lihat keindahan objek-objek wisata kota Jakarta dan sekitarnya. Dan sepanjang jalan kami terus berbincang-bincang mengenai berbagai hal. Dan pada saat kami ingin menyeberang jalan kawan saya ini selalu berusaha untuk mencari zebra cross untuk tempat kita menyebrang.

Berbeda dengan saya sendiri dan kebanyakan orang Jakarta pada umumnya yang dengan mudahnya menyeberang jalan dimana saja ia suka, bahkan tidak hanya menyebrang jalan, banyak dari mereka yang dengan santainya melompati pagar pembatas jalan yang tingginya hampir satu meter. Dan sungguh aneh bahwa teman saya ini tetap saja tidak terpengaruh oleh situasi, dan masih saja terus mencari zabra cross setiap kali dia mau menyeberang. Meskipun saya tahu bahwa di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dengan zebra cross. Dan yang lebih memalukan lagi adalah bahwa meskipun sudah ada zebra cross tetap saja para pengemudi tidak mau memberikan kita jalan dan tetap menancap gasnya sehingga rekan saya ini sering menggeleng-gelengkan kepalanya tanda begitu kagumnya terhadap prilaku bangsa kita.

Sebuah fenomena yang cukup menggelitik yang tampak nyata di depan saya, perbedaan antara teman saya yang dari Eropa ini dengan saya dan bangsa saya.

Dan pada saat kami sedang beristirahat disalah satu tempat wisata, akhirnya tak tahan lagi bagi saya untuk menanyakan pandangan teman saya ini mengenai fenomena menyebrang jalan tadi, meskipun sebenarnya dalam hati kecil saya merasa agak malu juga. Saya bertanya mengapa orang-orang di negara kami menyebrang tidak pada tempatnya, meskipun sesungguhnya jika ditanya mereka tahu bahwa Zebra Cross itu adalah tempat untuk menyebrang jalan. Sementara saya perhatikan, anda selalu konsisten mencari zebra Cross untuk tempat menyebrang meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dengan zebra cross, tanya saya padanya.

Setelah selesai menyantap makan siangnya lalu pelan-pelan dia mulai menjawab pertanyaan saya. Katanya.... Edy...Its all happen because of The Education System. Edy semua ini terjadi penyebabnya adalah karena sistem pendidikan, katanya. Wah.. bukan main kagetnya saya mendengar jawaban rekan saya ini, apa hubungannya antara menyebrang jalan sembarangan dengan sistem pendidikan...? dalam hati saya berpikir.

Lalu teman saya ini melanjutkan penjelasannya, Di dunia ini ada dua jenis sistem pendidikan, yang pertama adalah sistem pendidikan yang hanya menjadikan anak-anak kita menjadi mahluk “Knowing” atau sekedar tahu saja, sedangkan yang lainnya sistem pendidikan yang mencetak anak-anak menjadi mahluk “Being”. Lalu saya katakan apa maksudnya...., Ya kebanyakan sekolah yang ada hanya bisa mengajarkan banyak hal untuk diketahui para siswanya...sementara sekolah tadi tidak mampu membangun kesadaran siswanya untuk mau melakukan apa yang dia ketahui itu sebagai bagian dari kehidupannya. Sehingga anak-anak tumbuh hanya menjadi “Mahluk Knowing” hanya sekedar mengetahui bahwa zebra cross adalah tempat menyeberang, tempat sampah adalah untuk menaruh sampah tapi mereka tetap menyebrang dan membuang sampah sembarangan.

Ciri-ciri sekolah semacam ini biasanya memiliki banyak sekali mata pelajaran yang diajarkan pada siswanya...hingga tak jarang membuat para siswanya stress dan mogok sekolah, segala macam di ajarkan dan banyak hal yang di ujikan...tetapi tak satupun dari siswa yang menerapkannya setelah ujian dilakukan ya... karena ujiannyapun hanya sekedar tahu saja “Knowing”.

Sementara di negara kami... sistem pendidikan benar-benar di arahkan untuk mencetak manusia-manusia yang tidak hanya tahu apa yang benar akan tetapi mereka juga mau melakukan apa yang benar sebagai bagian dari kehidupannya. Di negara kami anak-anak hanya di ajarkan 3 mata pelajaran pokok yakni Basic Sains, Basic Art dan Social yang semuanya dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus terhadap kejadian nyata yang terjadi diseputar kehidupan mereka. sehingga mereka tidak hanya tahu, malainkan mereka juga mau menerapkan ilmu yang diketahuinya dalam keseharian kehidupan mereka.

Anak-anak ini juga tahu persis alasan mengapa mereka mau atau tidak mau melakukan sesuatu. Cara ini mulai di ajarkan pada anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yang kelak akan membentuk mereka menjadi mahluk “Being”. Yakni manusia-manusia yang melakukan apa yang mereka tahu benar.

Wow...! sungguh penjelasan yang luar biasa dan telah membuat saya begitu tercengang...! betapa sekolah itu sesungguhnya begitu memegang peran yang sangat penting bagi pembentukan prilaku dan mental anak-anak bangsa. Betapa sebenarnya sekolah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga sertifikasi yang hanya mampu memberi ijazah para anak bangsa.

Ya...kini saya mulai menyadari bahwa sekolah-sekolah kita mestinya lebih di arahkan untuk mencetak generasi yang tidak hanya sekedar tahu tentang hal-hal yang benar tapi jauh lebih penting untuk mencetak anak-anak yang mau melakukan apa-apa yang mereka ketahui itu benar.... Ya...Mencetak manusia-manusia yang “Being”.

Para orang-orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada..., mari kita renungkan bersama....apakah sekolah-sekolah kita...? ya..! tempat anak-anak kita bersekolah telah menerapkan sistem pendidikan dan kurikulum yang akan menjadikan anak-anak kita untuk menjadi mahluk “Being” atau hanya sekedar menjadi Mahluk “Knowing” saja..?

If you want to be RICH & HAPPY don't go to school..?



Para orang tua dan guru tercinta, pernahkah anda membaca sebuah buku karangan Robert T Kyosaki yang berjudul If you want to be rich and happy, don’t go to school..? Sebuah buku yang ditulis oleh seorang pengusaha dan pembicara sukses, anak seorang Kepala Sekolah, berkebangsaan Amerika-Jepang (Asian American)

Sungguh sebuah judul buku dan sekaligus pemikiran yang menggelitik hati saya, yang mestinya juga menggelitik dunia pendidikan kita.

Mengapa sampai pemikiran semacam ini muncul kepermukaan, bahkan disebuah negara yang teramat maju seperti Amerika...? dan yang jauh lebih menggelitik lagi adalah bahwa orang tua si pengarang buku ini dulunya juga berprofesi sebagai Kepala di sebuah sekolah yang juga sebagai guru...

Para orang tua dan guru tercinta......

Menurut saya ini adalah sebuah sindiran yang amat keras bagi dunia pendidikan di Amerika; Diakui atau tidak bukankah Rich (Berkecukupan) and Happy (Bahagia) itu merupakan dua hal yang menjadi impian hampir semua orang, tapi mengapa justru kita tidak akan bisa memperolehnya jika kita bersekolah..?

Namun ternyata pandangan ini bukanlah pandangan baru, jauh sebelum itu Soichiro Honda; Seorang pengusaha, pendiri perusahaan Honda Motor yang produknya kini merajai pasar mobil-mobil mewah di Amerika. Juga menyampaikan pandangan yang serupa tentang sekolah hanya saja dengan kalimat yang sedikit berbeda.

Dalam satu wawancara Sochiro pernah berkata;

“ Sekolah terlalu banyak memberi apa yang saya tidak ingin ketahui, tapi justru sangat sedikit memberikan apa yang sungguh-sungguh saya ingin ketahui. Oleh karena itu saya hanya pergi kesekolah apa bila saya merasa ingin mengetahui sesuatu yang tidak saya temukan diluar sekolah."

Begitu pula John Lennon; ia pernah menyampaikan hal yang senada tentang sekolah dan para gurunya;

Para orang tua dan guru tercinta...Mari kita simak apa yang pernah di Tulis John dalam buku hariannya;

Aku menyadari apa itu arti jenius pada usia 8 tahun

Aku selalu bertanya-tanya; mengapa tidak ada seorangpun yang menyadari kalau aku ini juga jenius..?

Disekolah, tidakkah mereka melihat bahwa aku jauh lebih pintar dari murid-murid lainya? Tidakkah mereka melihat bahwa para guru itulah sebenarnya yang bodoh..? Bahwa segala informasi yang mereka miliki dan ajarkan itu sama sekali tidak aku butuhkan. Ini sangat jelas bagiku.

Para orang tua dan guru tercinta.....

Bob Sadino; Seorang pengusaha yang menurut saya sangat cerdas pemikiran dan pandangan-pandangannya tentang kehidupan. juga pernah menyampaikan hal yang senada pada anaknya; lebih kurang beginilah kira-kira.... “Nak kamu boleh sekolah sejauh yang kamu mau, tapi jika kamu sudah tidak mau sekolah ya keluar saja; biar Papalah yang akan menjadi gurumu". Sungguh dalam sekali makna dari ucapan itu.....

Demikian juga dengan Gola Gong, sahabat baru saya, sang penulis novel terkenal, Direktur Media Cakrawala, TIM Creative di salah satu Station TV terkemuka dan sekaligus pemilik Rumah Dunia (sekolah menulis gratis bagi kaum dhuafa).

Pada saat Gola Gong berbicara bersama saya di sebuah acara di Bogor..., beliau sempat menyampaikan bahwa ia lebih memilih mengundurkan diri dari kampusnya untuk bisa lebih menggeluti bidang yang diminatinya.

Dan ternyata hingga saat ini Gola Gong telah berhasil mengukir banyak prestasi baik didunia bisnis maupun sosial pendidikan, Ceritanya mungkin mirip-mirip dengan Bill Gate sang raja softwere dunia yang juga mengundurkan diri dari sekolahnya, untuk menggeluti hobinya dan saat ini Bill Gate telah mulai melangkahkan kakinya untuk berbagi melalui Yayasan yang didirikannya.

Ternyata pandangan semacam ini bukanlah hal baru dan hanya dimiliki oleh satu orang saja, melainkan juga dimiliki oleh banyak orang sukses di hampir seluruh negara di dunia.

Para orang tua dan guru tercinta.......

Mari kita kaji lebih dalam lagi...apakah kurikulum sekolah di Indonesia yang ada saat ini juga lebih banyak mengajarkan pada anak-anak kita tentang apa yang mereka ingin ketahui dan perlukan bagi hidupnya kelak.....atau malah lebih banyak mengajarkan hal-hal yang bersifat mubazir..? Sebagaimana yang pernah disampaikan Soichiro Honda pada sekolah-sekolah di Jepang puluhan tahun silam..?