SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Selasa, 26 Juli 2016

JANGAN-JANGAN ANAK BUNDA MENGALAMI TEKANAN KEJIWAAN DI SEKOLAH



Suatu hari ada orangtua yang bertanya tentang anaknya yang sulit sekali diajak pergi ke sekolah. Jika dipaksa, dia tidak mau turun dari mobil. Bahkan belakangan ini sering mengeluh kepalanya pusing, sakit perut, dan sebagainya.

“Apakah anak saya berbohong atau apa?” tanya ibu yang sedang kebingungan itu kepada saya. Kebetulan anaknya yang berusia 5 tahun itu diajak juga untuk bertemu dengan saya. Lalu saya jelaskan bahwa dalam kasus ini sepertinya si anak tidak berbohong, apalagi jika sebelumnya tidak pernah mengeluh seperti itu. Saya melihat ini cenderung pada gejala stres anak menghadapi sekolahnya atau dikenal juga sebagai gejala psikosomatis.

Setiap anak memiliki keunikan masing-masing sehingga guru dan sekolah harus bisa memfasilitasi masing-masing keunikan anak tersebut, agar mereka bisa berhasil dalam proses belajar.
Akhir catcher

Pada ibu ini, saya jelaskan bahwa dulu sistem pendidikan menganut prinsip bahwa setiap anak adalah sama dan seragam sehingga setiap anak harus bisa mengikuti keinginan gurunya. Namun, setelah dilakukan penelitian selama 30 tahun terhadap anak, ditemukan bahwa masing-masing anak itu unik, baik secara fisik, psikologis, maupun cara otaknya bekerja.

Oleh karena itu, sistem pendidikan modern telah mengubah prinsip dasar sistem pengajarannya. Bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing, maka guru dan sekolah harus bisa memfasilitasi masing-masing keunikan anak tersebut, agar mereka semua bisa berhasil dalam proses belajar. Ya, semua anak harus bisa berhasil.

Lalu, si ibu tadi menyanggah, “Padahal saya sudah sekolahkan dia di sekolah yang mahal lho.”

“Nah, itu masalahnya,” jawab saya lebih lanjut, “mahal tidak menjamin jalannya prinsip pendidikan yang sesuai dengan fitrah anak. Bahkan banyak juga yang di atas kertas sudah mencanangkan sistem pendidikan modern, tetapi di lapangan masih saja para gurunya menerapkan sistem dan cara belajar lama.

Nah, di sinilah kuncinya. Untuk mengetahui apakah sebuah sekolah bagus atau tidak, kita bisa perhatikan dari dua aspek.

Yang pertama adalah anak kita semakin kritis dan berani mengungkapkan pendapat dan yang kedua adalah perilakunya santun dan peduli.”

Biasanya sekolah yang baik akan membuat murid-murid betah bersekolah atau bahkan membuat mereka lebih senang bersekolah dibandingkan libur.

Setelah saya memberi penjelasan kepada ibunya, anaknya saya ajak bicara. Di luar dugaan dia berani menjawab dengan jelas sekali.




Saya awali pertanyaan seperti ini,
“Sayang, apa kamu suka bersekolah?” Dia diam tidak menjawab.
“Apakah kamu ada masalah di sekolah?” Dia mengangguk.
“Apakah kamu ada masalah yang membuat kamu sekarang tidak suka bersekolah?” Dia mengangguk lagi.
“Apakah masalahnya dengan teman atau guru?”
“Dengan guru.” Dia mulai menjawab.
“Apakah semua guru, beberapa guru, atau hanya satu guru?”
“Hanya satu.” Jawabnya.
“Boleh Ayah tahu namanya?”
“Ibu X.” Jawab anak itu lagi.

Lalu, saya menoleh ke ibunya, “Ibu dengar penjelasan langsung anak Ibu?”

Akhirnya, si ibu pun mengangguk, “Ya, Ayah. Mungkin anak saya benar. Karena sejak ganti guru dia menjadi berubah seperti ini. Lalu, saya harus bagaimana Ayah?”

“Sekolah yang baik adalah sekolah yang guru-gurunya menjadi favorit bagi murid-muridnya, jadi pertama, coba ajak pihak sekolah untuk bekerja sama.

Jelaskan hasil pembicaraan kita ini pada sekolah dan kita lihat responsnya. Jika masalah ini ditanggapi positif, kemudian ada usaha dan tindakan perbaikan maka itu sekolah yang peduli namanya.”

“Lalu, jika tidak ditanggapi dan tidak ada perbaikan bagaimana?”

“Ya, saya pikir Ibu bisa mengambil kesimpulan sendiri.

Menurut saya, saat ini sudah saatnya kita memilih sekolah yang peduli pada permasalahan tiap siswanya.

Karena kunci keberhasilan siswa adalah pada kepedulian pihak orangtua dan sekolah.

Pendidikan itu tidak akan berhasil tanpa kepedulian dari orangtua dan pihak sekolah.” Jelas saya panjang lebar.

Sebuah pengalaman dalam memberikan konseling pada seorang ibu yang anaknya mengalami Stress setiap kali mau berangkat kesekolah.

di tulis ulang oleh Ayah Edy, dari buku ayah edy punya cerita.

www.ayahkita.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar