SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Sunday, July 12, 2015

KIAT-KIAT MENJADI ORANG TUA TANGGUH DI ERA CYBER



===================================
PENTING DIBACA OLEH SETIAP ORANG TUA
-----------------------------------------------------------------

ITULAH PENTINGNYA KITA IKUT SEMINAR, AGAR PENGETAHUAN KITA UTUH DAN TIDAK SETENGAH-SETENGAH.

Itulah mengapa Islam meminta kita untuk Kaffah/Utuh, Lengkap dalam belajar dan memahami berbagai hal, agar kita tidak salah tafsir, dan salah komentar.

Itulah pentingnya ikut seminar, apa bila kita tidak paham bisa bertanya dan mendapat jawaban yang lengkap.  Sudah pernahkah kita ikut seminarnya ayah edy?

Berikut adalah ulasan dari seorang Bunda yang mengikuti seminar Ayah Edy di Jakarta Islamic School, Cibubur, Jakarta Timur.  Sabtu 1 Maret 2014.



KIAT-KIAT MENJADI ORANG TUA TANGGUH DI ERA CYBER

Ini kali ke-dua saya ikutan seminarnya Ayah Edy, btw baru tau kalo nama aslinya ayah edy tuh, Edy Wiyono hehehh *gag penting :p .. Anyway temanya sebenarnya bukan tema yang baru .. beberapa kali saya pernah melihat tema serupa di beberapa talkshow TV ..

Seminar dibuka dengan pertanyaan Ayah Edy ke para orang tua, peserta seminar, apakah kapankah anak-anak mulai mengakses gadget, sebagian besar menjawab sejak usia balita sudah mengenal, & sebelum usia SD mayoritas sudah mahir menggunakannya.

Kemudian pertanyaan selanjutnya, tentang apa akibat/pengaruh buruknya gadget pada anak. Beberapa jawaban dari peserta seminar antara lain : kecanduan, anak jadi emosional, susah konsentrasi, prestasi sekolah menurun, berkata-kata kasar/mengumpat, meniru adegan kekerasan pada games, napsu makan menurun, lupa waktu, malas merawat diri, ngompol dsb.

Kemudian ayah Edy, bertanya apa kira-kira sisi positifnya, dan beberapa jawaban yang muncul adalah, tidak gaptek, kritis, belajar strategi, kreatif.

Dari jawaban-jawaban itu, ayah Edy tidak menyalahkan atau membenarkan. tapi mengembalikannya lagi ke peserta seminar. Jika dalam Islam sesuatu yang lebih banyak mudharatnya (negatif), dari pada manfaatnya, apa yang harus dilakukan. Dan serempaklah semua peserta seminar, menjawab lebih baik ditinggalkan.

Kemudian ayah Edy memberikan masukannya, bahwa sebenarnya gadget, smartphone, internet dll adalah benda-benda yang ‘netral’, tidak baik atau buruk. Bisa menjadi positif atau negatif tergantung dari siapa yang memakainya. Dan sudah menjadi kewajiban orang tualah untuk mengontrol benda tersebut memberikan pengaruh positif untuk anak-anaknya. Misalnya dengan mengontrol aplikasi, games, konten apa yang ada dalam gadget, membatasi akses untuk menggunakan (mis. hanya boleh kalo libur or weekend), dan menurutnya yang lebih penting adalah mendidik/mengajari anak untuk bisa memprotek dirinya sendiri, bisa mengontrol, & tidak mudah terpengaruh, walaupun ada gadget bertebaran di rumah, tidak ada larangan/ batasan untuk menggunakannya, tetapi anak-anak sudah tau apa yang harus dilakukan, baik & buruknya.

Bagaimana caranya?

Prilaku anak-anak, ditentukan dari 3 hal : orang tua, lingkungan, & guru/sekolah.
Disini jelas yang siapa yang menduduki peringkat paling menentukan, maka tidak berlebihan lah jika ada ungkapan ‘rumah adalah sekolah yang pertama & yang utama’.

Dalam Islam sendiri juga dikenal ‘al ummu madrosatul ulaa’ (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak) atau yang diartikan secara bebas ibu cerdas menghasilkan generasi yang unggul.

Sudah jelas pula disini kita sebagi orang tua wajib menggali ilmu dari mana saja, misalnya membaca buku, seminar, dll .. Ayah Edy juga info tentang program pembagian CD parenting gratis (ada 30 topik parenting hasil rekaman beliau di smart fm talk show) yang sudah berjalan sejak tahun lalu.

Detilnya bisa diliat di FP Komunitas Ayah Edy, www.ayahkita.blogspot.com

atau bisa di download gratis di www.ayahedy.tk atau bisa juga klik link ini:
https://onedrive.live.com/?cid=3a914018e2d83d92&id=3A914018E2D83D92%21131



Kembali ke topik mendidik anak di era cyber.

Membatasi anak-anak atau bahkan tidak memberikan akses sama sekali pada dunia internet, saat ini adalah sesuatu yang bisa dibilang mustahil. Padahal aneka games dan akses internet bisa menimbulkan akibat yang sangat dahsyat. Kecanduan games atau pornografi, yang bisa merusak otak. Bahkan efek kerusakan otak anak yang kecanduan pornografi jauh lebih parah dari pada efek kecanduan narkoba.

Ayah Edy kemudian menunjukkan sesuatu yang gak pernah saya pikirkan sebelumnya. Meminta para peserta seminar utk googling di smartphone-nya masing-masing.

Apa perbedaan jika kita mengetikkan kata-kata berikut di google :
‘ junior high school kids ‘ kemudian klik gambar di google..
‘ anak smp ‘ kemudian klik gambar di google..

Jika kita mengetikkan kata yang pertama, maka yang muncul adalah web/ gambar anak-anak SMP yang manis-manis di luar negeri yang sedang berpose didepan sekolah, atau web/situs tentang sekolah sekolah & berbagai prestasi anak smp.

Sementara kalau kita ketik kata-kata no.2, hasilnya  … web/situs yang berisi layanan prornografi, berita tentang pornografi, begitu pula foto-foto porno pelajar dan yang muncul mayoritas gambar porno, bisa dibilang tidak ada satupun yang menampilkan tentang sekolah atau prestasi, atau any kind of positive things about anak-anak smp.

Apa artinya ini?? 2 kata yang sama artinya, kok bisa menghasilkan 2 hal yang bagaikan bumi & langit…

Duh miris bgt, padahal kita sebagai orang timur, sering membanggakan diri sebagai masyarakat yang lebih beragama & bermartabat, dari orang-orang bule yang liberal itu ..

Ayah Edy mencurigai bahwa bisa jadi Indonesia dijadikan salah satu sasaran pasar industri pronografi dunia, yang dimulai dari sejak usia sedini mungkin. Mka bayangkan kalau anak-anak kita tanpa sengaja menemukan situs/gambar-gambar porno itu waktu dia ber internet, padahal dia sama sekali tidak mengetikkan kata-kata yg berbau porno, atau bahkan ketika dia sedang mengerjakan tugas sekolah dan diminta gurunya untuk mencari artikel di internet? Dan yang muncuk gambar-gambar semacam ini, coba deh bayangkan?.

Kemudian Ayah Edy sharing beberapa cerita/pengalaman pribadinya dalam mengasuh anak-anaknya di rumah yang berhubungan dengan sex education. Ketika si kecil bertanya ‘dari mana datangnya adek bayi’, hal yang benar adalah memberikan informasi yang benar, bukan berkelit, atau berbohong, mengarang cerita tentang si adek yang memang tiba-tiba ada di perut bunda.



Yang dilakukan ayah edy adalah membelikan buku-buku yang berhubungan dengan anatomi tubuh manusia. Dari yang paling sederhana, bergambar ilustrasi/gambar kartun, sampai berkembang menjadi buku-buku ensiklopedi, dan bahkan jurnal kedokteran. Sehingga ketika snak-anaknya melihat sebuah gambar yang paling porno sekalipun, otaknya sudah terlatih untuk berfikir tentang fungsi-fungsi Anatomi&organ tubuh manusia seperti seorang genekolog atau dokter kandungan, bukan sesuatu yang bersifat erotis.



Lebih lanjut, mrt ayah edy, manusia dilahirkan sebagai anak-anak yang cenderung berotak kanan (salah satu fungsinya adlh ‘imajinasi dan eksplorasi ingin tahu’). Kaitannya dengan pendidikan sex, jika seorang anak yg tdk pernah mendapatkan pendidikan seks yg benar, maka ketika ia melihat hal porno utk pertama kalinya, reaksi spontan yg muncul adlh imajinasi erotisme, yg kemudian sangat mungkin berkembang menjadi kecanduan.

Karena itulah org tua wajib memberikan pendidikan seks pada anak sedini mungkin, agar anak terlatih utk bereaksi dgn OTAK KIRI sainsnya, melihat sesuatu yang porno  tdk akan menimbulkan reaksi erotisme. Inilah yang membedakan seorang ‘playboy’ dengan ‘dokter kandungan’, walau obyek yang dilihat sama tetapi reaksi yang muncul jelas berbeda.  Karena dokter kandungan terbiasa beraksi dengan otak kiri dan playboy biasa bereaksi dengan otak kanan-nya.




Semua benda elektronik baik aneka gadget, bahkan yang paling sederhana TV sekalipun, diperlukan pendampingan org tua, untuk membangun ‘self protection’ pada anak, karena sudah pasti kita mustahil untuk bersama anak selama 24 jam. Apalagi ketika anak-anak sudah beranjak remaja, mayoritas sebagian besar waktunya ada diluar rumah.

Karena itu ketika anak masih relatif kecil& waktunya sebagian besar masih bersama org tuanya, inilah saat yg tepat untuk membangun pertahanan dirinya terhadap pengaruh buruk lingkungan yang akan dihadapinya kelak. Contoh yang paling sederhana adlh mendampungi anak ketika menonton TV, kemudian mendiskusikan acara yang sedang ditonton, tentang baik buruknya.



Di sesi terakhir, ayah edy memberikan beberapa tips ttg menyelamatkan anak dr penyimpangan prilaku di era cyber:

– menyalurkan energi hormon remaja ke aktivitas fisik, mis: olah raga, beladiri, seni tari dsb.
– memetakan potensi unggul anak sejak dini agar ia tahu apa minat dan bakatnya dan fokus kesana bukan yang lain
– membatasi akses-akses apa saja yg berpotensi merusak moral
– buat aturan & kesepakatan yg jelas/ tertulis sblm membelikan gadget utk anak
– jadikan kita sbg sahabat/teman curhat anak.

Baiklah inilah sedikit yg bisa rangkum dari seminar Ayah Edy, semoga bermanfaat.

Ruri Lukita Ningrum

https://www.facebook.com/rhaidars

1 comment:

  1. Ayah Edy, di mana saya bisa mendapatkan brosur bergambar Child care spt di atas? Sangat bagus untuk dijelaskan kpd anak2. Plz info. (Bu Natalia, Balikpapan)

    ReplyDelete