SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Friday, August 14, 2009

BUDAYA MEMBERI KADO & HADIAH ULANG TAHUN DI JEPANG



Menurut seorang teman yang pernah tinggal di Jepang bercerita katanya di sana sudah seperti menjadi tradisi bagi orang Jepang untuk memberikan kado ulang tahun pada anak, orang tua, teman atau keluarga dalam bentuk Komik atau Buku-buku bacaan yang mendidik.

Bahkan Parcel-parcel hari besar juga banyak yang berisi beraneka buku bacaan yang bermutu dan mendidik.

Sehingga habit baca bangsa Jepang boleh dikatakan termasuk yang tertinggi di dunia. Dimana saja mereka selalu berbekal buku, tidak ada saat menunggu yang disia-siakan tanpa membaca.

Saya sempat bertanya-tanya dalam bathin mengapa bangsa kita kok belum terpikir ke arah sana ya...? dan mengapa kita belum memiliki habit yang luar biasa ini ya...?

Mungkinkah habit inilah yang telah membawa bangsa Jepang menjadi Bangsa termaju di Asia di bidang teknologi? meskipun sesungguhnya Jepang sangat miskin akan sumber daya alam dan hampir sebagian besar kebutuhan negaranya di impor dari negara lain.

Mengapa kita tidak menjadikan kebiasaan ini sebagai budaya bagi bangsa kita yakni memberikan hadiah atau kado dalam bentuk buku bacaan atau cd inspirasi pendidikan yang bermutu, sehingga anak-anak kita kelak akan mewarisi budaya membaca seperti bangsa Jepang dan kebanyakan bangsa-bangsa maju di dunia.

Semoga budaya Membaca ini kelak akan bisa menekan dampak penyimpangan prilaku di kalangan anak dan remaja, karena selama ini kita lebih banyak memberikan kado ulang tahun dalam bentuk yang tidak mendidik seperti pesta-pesta, Baju, Perhiasan serta Handphone yang mahal dsb, yang sesungguhnya hanyalah penghamburan biaya dan bukannya investasi yang berharga bagi masa depan bagi putra putri kita tercinta.

Semoga budaya membaca ini kelak akan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih cerdas hingga kita bisa mengejar berbagai ketinggalan dari bangsa-bangsa lain di dunia.

Untuk itulah Ayah Edy disela-sela kesibukannya sebagai seorang Praktisi, Pendidik, Pelatih, Pimpinan Sekolah dan Pembicara masih terus berusaha menyediakan waktu khusus untuk menulis buku-buku yang mendidik serta CD pendidikan dan inspirasi, baik yang direkam langsung ataupun hasil produksi yang di ambil dari Live Radio Talkshow yang dilakukan Ayah di Radio Smart FM Jakarta.

Sekali lagi mari kita kampanyekan Budaya Membaca dan Mendengarkan CD bermutu kapanpun dan dimanapun ada waktu luang. Mari kita budayakan Memberi Hadiah atau Kado ulang tahun pada anak, rekan dan keluarga kita dalam bentuk BUKU dan CD yang mendidik moral dan itelektual bangsa.

Kalau bukan kita, siapa lagi?

Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Salam hangat,
AE Mgmt.

Wednesday, August 5, 2009

Talkshow Sabtu 15 Agustus 09


Pada Talkshow Ayah kali ini akan membahas tentang fenomena anak cerdas berbakat berdasarkan pandangan tokoh psikologi Alfred Binet dan Howard Gardner.

Simak Talkshownya karena ayah Edy akan membagi-bagikan bonus CD Talkshow & Inspirasi Gratis pada penelpon dan pengirim sms yang beruntung.

Jika berhalangan pada hari Sabtu pagi, nantikan tayang ulangnya di hari Minggu Pukul 19.00-21.00 WIB untuk Jabodetabek. Tayang ulang di daerah waktu tayang ulang akan disesuaikan dengan masing-masing Smart fm yang ada di kota anda.

Salam hangat,
AE Mgmt.

Saturday, August 1, 2009

TALKSHOW AYAH EDY DI SMART FM


Jangan Lupa ! Talkshow Ayah Edy ada tayang ulangnya pada Minggu Malam mulai pukul 19.00-21.00 WIB untuk Jakarta dan sekitarnya. Untuk didaerah, Harinya tetap hari Minggu hanya waktunya di sesuaikan dengan Smart FM yang ada di daerah masing-masing.

Dapatkan juga Rekaman CD Talkshow Ayah Edy di Toko Buku Gramedia di kota anda.

Mari kita bangun Indonesia yang kuat dari keluarga melalui anak-anak kita tercinta !

Let's Make Indonesian Strong from Home !

Salam hangat,
AE Management

Thursday, July 23, 2009

Pelajaran Berharga untuk para guru dan pendidik




Miss Phillips, You were Wrong...!
adalah judul sebuah buku “best seller” di Australia yang ditulis oleh Peter Daniels.

Buku ini menceritakan kisah perjalanan sukses seorang anak yang saat bersekolah dianggap oleh gurunya sebagai anak yang gagal, namun ternyata ia berhasil membuktikan bahwa Peter adalah orang yang sangat sukses di bidang bisnis. Usahanya merambah ke hampir seluruh dunia, memiliki rekan-rekan mulai dari multi jutawan, bangsawan, kepala negara sampai agamawan.

Peter terkenal sebagai seorang sangat sukses, kaya raya sekaligus penyantun. Ia sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial juga keagamaan untuk membantu sesamanya.Para orang tua dan guru yang saya cintai..,Siapa yang sangka bahwa Peter akan menjadi sesukses ini...? Padahal menurut kisahnya dulu saat masih bersekolah ia dianggap sebagai anak yang bermasalah dan gagal.

Peter dialahirkan di Australia, orang tuanya adalah generasi ketiga yang hidup dari tunjangan karena miskin. Peter bersekolah di Sekolah Dasar Adelaide. Ia sering mengalami masalah dalam belajar; ia kesulitan memahami serta menggabungkan kata-kata; ia juga kurang suka menulis. Peter kecil lebih gemar kegiatan bebas diluar kelas, mencari tahu hal-hal baru dan kerap kali kurang menuruti perintah gurunya yang selalu memberinya tugas-tugas tertulis atau duduk diam dikursinya. Gelar yang telah diberikan kepadanyapun cukup beragam mulai dari Diseleksia, Anak nakal, anak pemalas sampai Attention Deficit Disorder (ADD).Miss Phillips adalah guru yang paling dikenangnya.

Diantara semua guru Miss Phillipslah yang paling sering menghukum Peter untuk berdiri didepan kelas, dimana Miss Phillips sering berucap; Anak-anak..., ini adalah contoh anak nakal.., jika kalian nakal maka ibu akan menghukum kalian seperti ini!Ada satu ucapan yang begitu menancap di lubuk hati Peter yang paling dalam, sehingga ia tidak akan pernah bisa melupakannya meskipun sudah lebih dari dua puluh tahun tidak bersama gurunya lagi.

Apa katanya;Saya ingat betul, dulu setiap kali menghukum Miss Phillips selalu mangatakan pada saya; Peter kamu anak nakal, kamu tidak pernah mau nurut sama perintah ibu..., lihat saja nanti.... kamu tidak akan pernah menjadi apa-apa..!

Miss Phillips you were wrong...!Itulah buku yang begitu menyentuh dan penuh emotional yang ditulis oleh Peter Daniels sang multi jutawan terkenal di negeri kanguru, Australia. Yang didedikan khusus untuk guru yang dulu pernah merendahkannya sedemikian rupa.

Para orang tua dan guru yang saya cintai.....Saya tidak tahu apakah fenomena ini juga terjadi di negeri kita..?

Tapi anehnya mengapa anak-anak yang memiliki gejala seperti ini dan sering kali dianggap bermasalah, justru kebanyakan lebih berhasil dalam kehidupan...? sebut saja Thomas Alva Edison, John Lennon serta Peter Daniels sendiri.

Para pakar ilmu Holistic Learning; mencoba untuk menjelaskan fenomena ini pada kita;Begini katanya;Anak-anak ini sesungguhnya adalah anak yang sangat kreatif dan eksploratif, cara berpikirnya banyak didominasi oleh otak kanan dan indra dominannya pada umumnya adalah visual (mata). Sementara sistem pendidikan kita pada umumnya lebih mengarah pada pola berpikir logis dengan cara berpikir yang didominasi oleh otak kiri dan menggunakan indra dominan Auditori (telinga). Itu artinya anak yang berotak kanan harus hidup didunia yang berotak kiri.Anak-anak yang seperti ini menggunakan cara dan jalan yang berbeda dalam menerima dan memproses informasi dan umumnya sangat bertentangan dengan cara guru-guru mengajar disekolah.

Para orang tua dan guru yang saya cintai......Hal yang tak kalah aneh adalah...mengapa anak-anak yang seperti ini ternyata justru lebih banyak sukses di kehidupan..?

Para pakar Ilmu Holistic Learning kembali menjelaskan;Sesungguhnya kehidupan nyata lebih menuntut proses kreatif ketimbang proses logis. Sehingga untuk bisa sukses dalam kehidupan, anak-anak lebih banyak dituntut untuk mampu berpikir kreatif ketimbang berpikir logis.

Bukti-bukti banyak ditemukan dari perjalanan orang-orang sukses, Mereka adalah orang-orang yang sangat kreatif dalam mensiasati proses kehidupan dalam mencapai suksesnya.Pandangan ini sejalan dengan ajaran Sang Jenius Legendaris sepanjang jaman, Leonardo Da Vinci.

Vasari adalah penulis biografi dari Leonardo Da Vinci; mengatakan bahwa Leonardo Mengajarkan pada kita bahwa jika anda ingin menghasilkan karya-karya yang spektakuler....maka proses berpikir harus dimulai dari proses kreatif baru dilanjutkan pada prosese logis.

Ajaran ini dikenal dalam bahasa Aslinya Arte & Scienca. Arte & Scienca merupakan prinsip ke tiga dari ajaran Leonardo Da Vinci untuk mencetak anak menjadi seorang maestro.

Bukan main.....ternyata anak-anak yang sering dinyatakan bermasalah ini justru sudah memiliki insting belajar alami seperti yang diajarkan oleh Leonardo Da Vinci

Wahai para guru dan orang tua..... Akankah anda masih berani untuk menghakimi anak-anak yang seperti ini sebagai anak yang bermasalah dan gagal...?


Sumber: Buku Ayah Edy Judul: I love you Ayah, Bunda Penerbit: Hikmah, Mizan Group

Tuesday, July 21, 2009

Perkutut di sangkar emas


Suatu hari ada seorang saudagar kaya yang hobinya memelihara burung perkutut. Ia cukup banyak sekali memelihara burung perkutut, dan burung-burung itu dipelihara dalam sebuah kurungan/sangkar yang berbentuk sangat indah sekali. Melihat indahnya sangkar tersebut bisa dipastikan bahwa harganya pasti cukup mahal.

Bahkan ada beberapa burung yang mendapatkan fasilitas sangkar yang paling mahal yang konon katanya berlapis emas....karena konon juga burung-burung itu dapat bicara seperti manusia.

Wow sungguh luar biasa betapa seekor burung bisa mendapatkan rumah yang berlapiskan emas....mungkin hal ini karena rasa cinta sang saudagar yang begitu besar terhadap burung peliharaannya tersebut.

sebelum pergi setiap pagi sang saudagar selalu memberi makan burung-burungnya terlebih dahulu....betapa senang hatinya telah bisa memberikan segala yang terbaik bagi burung-burung peliharaannya....

Pada suatu hari sang saudagar ingin mengetahui apakah burung-burung peliharaanya tersebut juga merasa bahagia seperti dirinya. Maka untuk itu saudagar itu mendatangi burung-burung perkutut yang berada di sangkar yang berlapis emas yang konon bisa bicara pada manusia tersebut.

Wahai burung-burung perkututku yang tercinta apakah kamu bahagia dengan segala yang telah aku berikan kepada kalian....? Diluar dugaan sang saudagar...burung-burung itu menjawab...wahai tuanku yang baik hati.... sesungguhnya kami semua belum merasa bahagia dengan keadaan kami. Bukan main kagetnya sang saudagar....lalu dengan penasaran ia bertanya....lagi, kalau begitu apa yang harus aku lakukan untuk membuat kalian semua lebih bahagia...?

Jika tuan benar-benar sayang pada kami maka lepaskanlah kami, agar kami bisa hidup di alam bebas.... agar kami bisa bebas melakukan apa yang terbaik bagi kami, semua itu jauh lebih berharga dari apapun juga.

Meskipun dengan hati berat pada akhirnya sang sudagar mau juga untuk melepaskan burung-burung perkututnya itu satu persatu ke alam bebas.. Namun jauh dilubuk hatinya yang paling dalam sang saudagar tadi benar-benar baru menyadari bahwa makna kebahagiaan bagi dirinya ternyata sangatlah jauh berbeda dengan yang dimaksud burung-burung tadi.

Para orang tua dan guru yang berbahagia dimanapun anda berada... begitu juga dengan kita dengan anak-anak kita.... karena rasa sayang kita yang begitu besarnya sering kali kita banyak mengekang anak kita seperti burung dalam sangkar, kita pikir jika kita telah memberikan segala barang-barang yang mahal dan terbaik, maka anak-anak kita akan merasa bahagia....
Demikian juga halnya dengan para guru di sekolah....kita telah mengurung kebebasan anak-anak didik kita seperti burung dalam sangkar...dengan maksud yang baik...para guru mengajarkan apa saja yang dianggapnya baik dan berguna pada murid-muridnya, memberikan tugas-tugas yang wajib dikerjakan setiap hari.....memerintahkan untuk menghapal nama-nama kota dlsb, tapi apakah hal ini semua membuat murid-murid kita bahagia...., sesungguhnya murid-murid kita jauh lebih menginginkan kebebasan dalam belajar....kebebasan dalam berpikir, kebebasan memilih pelajaran-pelajaran yang mereka sukai, kebebasan memilih ekspresi mereka masing-masing, kebebasan untuk belajar sesuai dengan gaya mereka masing-masing.

Namun pernahkan kita bertanya pada anak-anak dan anak didik kita apakah semua yang telah kita berikan itu semua telah membuat mereka bahagia, apakah kita pernah bertanya pada anak-anak kita...apakah yang membuat kalian berbahagia....? maka bisa jadi semua jawabannya akan membuat anda tercengang.

Mari biasakanlah untuk selalu bertanya apakah anak kita bahagia dengan apa yang kita berikan kepadanya....apakah yang susungguhnya bisa membuat dia bahagia dan apakah yang sesungguhnya dia inginkan dari kita para orang tua atau gurunya.....

Mari kita berikan kebebasan pada anak-anak kita untuk bisa mengespresikan keunggulan masing-masing agar mereka bisa terbang untuk mencapai puncak cita-citanya yang tertinggi, hidup mandiri dan tidak hanya bisa hidup di dalam sangkar emas yang selalu tergantung pada orang lain yang memberinya makan setiap hari......

Wednesday, June 24, 2009

Mungkin anak kita bukan Bodoh atau Nakal melainkan hanya dominan otak kanannya.


APAKAH MAKSUDNYA ANAK YANG DOMINAN OTAK KANANNYA?

Para orang tua yang berbahagia, suatu hari saya pernah kedatangan orang tua yang mengeluhkan anaknya yang disekolahnya tidak pernah bisa menyelesaikan tugas gurunya dengan tepat waktu, bila ujian iapun tidak mampu untuk menyelesaikannya, atau diselesaikan tapi melompat-lompat.
Saya khawatir sekali jika dia nanti jadi anak gagal....lalu ibu ini terdiam tidak melanjutkan kata-katanya.

Kami berusaha untuk menenangkan sang ibu, lalu kami jelaskan bahwa menurut pengalaman kami, anak tidak bisa menyelesaikan tugas disekolah dapat disebabkan oleh beberapa hal: pertama adalah karena si anak mengalami kesulitan dalam memahami tugas yang diberikan gurunya karena gurunya kurang sabar menjelaskannya.

Kemungkinan kedua adalah karena si anak memiliki kecenderungan berpikir dengan menggunakan otak kanannya. Apa artinya.... ya seorang anak otak kanan adalah anak yang mendapatkan berkah dari Tuhan memiliki kemampuan untuk menjadi orang-orang kreatif yang mungkin berprofesi dibidang seni ataupun sains.
Dalam kasus ini seorang anak yang lebih dominan otak kanannya, pada saat berpikir dia lebih banyak mengunakan kemampuan kreatif dan seninya, oleh karena kemampuan seni yang utama maka pekerjaannya sangat tergantung pada inspirasi dan ketenangan jiwanya, semakin tenang maka semakin cepat ia menyelesaikannya.

Seorang seniman lukis misalnya dalam melukis sebuah mahakarya, tidak dapat dibatasi oleh waktu dalam menyelesaikannya, melainkan hanya tenggat waktu maksimum penyelesaian karya yang bisa disebutkan. Seperti juga seorang seniman, oleh karena itu seorang anak otak kanan yang mengerjakan tugas tanpa batas waktu akan mampu menyelesaikannya dengan baik, bahkan terkadang lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan.

Berdasarkan penelitian, anak yang cenderung berotak kanan adalah anak yang otak belahan kanannya lebih dominan dalam berpikir ketimbang belahan otak kirinya. Dan Roger Sperry seorang peneliti otak menemukan bahwa otak manusia bagian berpikir tingkat tinggi terbagi kedalam 2 belahan yakni belahan kiri dan belahan kanan sesuai letak posisi tangan kita.

Masing-masing orang memiliki kecenderungan dominan yang berbeda dalam berpikir. Dari kedua belahan tersebut ada anak yang lebih dominan menggunakan otak kanan, ada yang seimbang tapi ada juga yang lebih dominan otak kiri.

Jika anda tidak percaya bahwa otak memiliki kecenderungan dominan bereaksi, mari kita lakukan test bersama, begini caranya... coba angkat kedua tangan anda.... kemudian goyang-goyangkan dan lemaskan jemari-jemari tangan anda...., lalu kemudian pertemukan jemari tangan kanan dengan jemari tangan kiri sehingga persis dalam posisi orang yang hendak berdoa atau memohon. Nah setelah jemari anda saling menggenggam coba lihat posisi ibu jari yang berada paling atas....apakah ibu jari tangan kiri atau ibu jari tangan kanan...? Jika ibu jari kiri yang di atas maka anda adalah dominan otak kiri dan sebaliknya.

Mangapa? Karena otak kiri manusia itu mengendalikan tangan kanannya, dan ketika otak kiri kita yang dominan maka tangan kanan kita menjadi lebih dominan dari tangan kiri, pada saat kita melakukan test ini maka tangan kanan kita akan mengunci tangan kiri hingga IBU JARI TANGAN KIRI KITA akan tertinggal dibagian atas seperti ini



Posisi Tangan Kanan Mengunci Jemari Tangan Kiri

Lalu lakukan test ini pada orang lain baik keluarga, anak-anak atau teman-teman kita, lakukan hal yang sama...., perhatikan apakah hasilnya sama pada setiap orang... Jika tidak itulah cara sederhana untuk membuktikan bahwa otak kita memiliki kecederungan yang berbeda dalam berpikir.

Anak yang dominan otak kanannya cenderung memiliki kemampuan kreatifitas yang sangat tinggi, dan biasanya bekerja berdasarkan insting dan inspirasi. Hal inilah yang menyebabkan seorang anak otak kanan sulit sekali dengan target-target waktu yang ketat.

Jadi saya jelaskan pada ibu ini, bahwa gejala ini sebenarnya sangat lumrah pada anak yang cenderung dominan otak kanannya. Mengapa anak otak kanan sering tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikannya dengan batas waktu yang ketat, karena pikirannya bekerja berdasarkan inspirasi, imaginasi dan seni.

Oleh karena itu jika kita ingin seorang anak otak kanan mampu menyelesaikan sesuatu maka jangan berikan target waktu, tapi berikanlah ketenangan dan kebebasan untuk menyelesaikannya. maka ia bisa lebih cepat selesai.

Orang-orang yang saat ini berprofesi di bidang-bidang yang mengandalkan kreatifitas sebagian besar masih memiliki ciri-ciri seperti ini, ya ciri-ciri yang dibawanya sejak kecil sebagai anak yang dominan menggunakan otak kanannya.
Dan setelah mendengarkan penjelasan tersebut si ibu ini nampak menjadi jauh lebih tenang dan mengangguk-anggukan kepalanya. Semoga saja ini pertanda positif bagi orang tua ini juga bagi anaknya.

Ciri-ciri umum anak dominan otak kanan:
1. Terlambat bicara dibandingkan anak seusianya
2. Sulit Membaca terutama membaca bersuara
3. Lebih suka ujian Lisan dari pada ujian tertulis
4. Tidak bisa diberi tugas yang dibatasi oleh waktu (cepat panik dan tidak selesai).
5. Kurang suka mengerjakan tugas-tugas yang diperintah melainkan memilih sendiri apa yang ingin dikerjakannya.
6. Sulit mengeja suku kata
7. Sulit mengerjakan soal-soal matematika logika/rumus-rumus terkadang lebih mudah soal cerita atau perlu dengan asosiasi atau contoh-contoh nyata.
8. Sering memandang ke atas dan terlihat seperti melamun (Terbengong/day dreaming)
9. Pada saat berpikir bola matanya bergerak-gerak
10. Kurang suka mencatat (karena proses mencatat menghambat proses visualisasi)
11. Sering membaca terbalik-balik
12. Sulit membedakan huruf d dan b
13. Cenderung lebih suka membuat gambar-gambar.
14. Sering membaca melompat dan beberapa kata tertinggal atau terlompati
15. Bisa membaca dari belakang atau dengan urutan terbalik
16. Jika berbicara tidak runtut dan sistematis
17. Sulit mengungkapkan keinginannya dalam bentuk kata/kalimat
18. Cenderung sensitif dan sangat emosional
19. Sering bicara tidak nyambung dengan pertanyaan
20. Cepat hafal tempat/lokasi dan rute perjalanan
21. Kadang suka berkhayal dan menceritakan fantasinya
22. Konsentrasi rendah pada pekerjaan yang kurang disukainya
23. Konsentrasi tinggi dan lama pada hal-hal yang menarik minatnya.
24. Lebih suka benda/buku yang berwarna-warni

Cara Bekerja otak kanan:

1. Kreatif --> ingin mengetahui hal-hal baru dan menemukan cara-cara baru yang tidak konvensional, melihat alternatif solusi dari berbagai permasalahan.

2. Spasial Tiga Dimensi, mampu melihat dan membayangkan sesuatu secara tiga dimensi; bisa melihat dari kanan ke kiri, atas ke bawah dan sebaliknya. serta membolak balik huruf, angka dan gambar.

3. Memori Fotografi, mampu merekam informasi dalam bentuk gambar-gambar baik dalam bentuk diam atau seperti film yang bergerak. Memiliki papan layar di otaknya.

4. Art --> melihat sebuah pekerjaan sebagai proses seni yang mengandalkan rasa dan estetika yang sering kali tidak bisa dibatasi oleh waktu dan bekerja berdasarkan inspirasi dan mood.

5. Deduktif --> terlebih dahulu harus melihat gambaran besarnya atau hasil akhirnya baru bergerak menyusun langkah demi langkah dan tahapan prosesnya.

6. Random --> Menyusun dan mengolah informasi secara acak, sehingga penyampaian informasinyapun cenderung tidak sistematis.

7. Visual --> Bekerja dalam bentuk gambar; sering kali sulit menuangkan ide gambarnya tersebut kedalam kalimat atau kata-kata yang dipahami.

8. Global --> Lebih menyukai gambaran umum dan kurang menyukai hal-hal detail.
9. Mind Mapping --> Lebih suka dan gampang menulis dalam bentuk pola gambar seperti peta.

10. Model Estetika --> Menilai sesuatu berdasarkan cita rasa dan estetik seni bukan fungsi dan kegunaan.

11. Moody --> Kemampuan berpikir dan bekerja yang sangat dipengaruhi oleh Emosional dan perasaan.

12. Spontan --> Melakukan hal atau sesuatu secara spontan berdasarkan dorongan emosional sesaat. Sering melakukan tindakan dan mengambil keputusan diluar rencana

13. Picky Job --> Hanya mau mengerjakan hal-hal yang menarik perhatiannya. Tidak mudah di suruh/diperintah.

14. Un limited time --> Jika sudah asyik terhadap satu bidang lupa waktu.

15. Konklusif --> Menarik kesimpulan umum dari kepingan-kepingan informasi.

16. Eksekusi 2 langkah --> Merekam informasi baru memaknainya.

17. Inspirational --> bekerja berdasarkan datangnya inspirasi bersifat dadakan dan tidak terencana.

Perbandingan Kerja Otak Kiri dan Kanan:
a. Simbol vs Gambar
b. Runtut/Sekuen vs Acak/Random
c. Logika vs Kreatif/Seni
d. Detail ke Global vs Global ke detail.
e. Setahap demi setahap vs Langsung
f. Proses then memori vs memori then proses
g. Duplikasi vs imaginasi
h. Teratur vs acak dan melompat-lompat
i. Analisis mengurai vs Analisis Kesimpulan
j. Tenggat Waktu vs Bebas Waktu
k. Rencana vs Inspirasi
l. Objek Hitam Putih vs Objek yang berwarna warni

Perbedaan Kombinasi Kontinum Otak dan Indera dominan
a. Otak Kiri dengan sensori Visual --> Cenderung Diam, Tegas, Berpikir Runtut, Logika bagus
b. Otak Kiri Auditori --> Cenderung Bicara, Suka berdebat, Logika bagus, cepat menghafal
c. Otak Kiri Kinestetik --> Cenderung diam, Lincah bergerak, Berpikir runtut, logika bagus
d. Otak Kanan Visual --> Suka menghayal, kuat mengingat, cenderung diam, sulit mengeja, suka menggambar, kurang suka mencatat.
e. Otak Kanan Auditori --> Suka bicara, Bicara acak, Bicara khayalan, suka berhandai-handai..., sulit mengeja tapi suka bicara,
f. Otak Kanan Kinestetik --> Cenderung diam, terus bergerak, bergerak tak beraturan, sering melakukan hal-hal yang penuh resiko, pandai membuat sesuatu karya tangannya

Membantu Anak Otak Kanan belajar:
1. Temukan minatnya dan mulai mengajari apapun melalui hal yang menarik minatnya. Jika ia suka mobil bicaralah mulai dari mobil dsbnya.

2. Jika ia ingin belajar sambil bergerak-gerak maka ijinkanlah ia malakukan itu

3. Jelaskan untuk apa kita harus mempelajari sesuatu agar dia bisa melihat gambaran besar dan tujuan akhirnya.

4. Gunakan alat peraga dan contoh-contoh ilustrasi untuk mengambarkan apa yang sedang anda jelaskan misalnya konsep tambah, kurang dan bagi.

5. Latihlah kecepatan untuk Visualisasi dan kemampuan merekam gambar .

a. Latihan tahap dasar visualisasi; misalnya membayangkan sebuah aktivitas yang dilakukan seperti; berangkat ke sekolah, mengerjakan sesuatu dirumah dsb, persis seperti proses hipnoteraphy. Bayangkan kamu sekarang malangkah menuju lemari es, bayangkan sekarang kamu buka, tolong ambilkan mama jeruk dan susu, kemudian tuangkan susunya kedalam gelas, bawa gelas berisi susu dan jeruk itu ke kamar mama. Jika anak anda sudah bisa mengulangi prosesnya secara runtut artinya dia sudah mulai terlatih kemampuan visualisasinya.

b. Latihan tahap lanjutan visualisasi mengingat gambar; Minta dia melihat gambar dan anda sebutkan namanya; minta ia memejamkan mata; tanya apakah gambar itu sudah muncul di bayangan pikirannya.

c. Latihan Lanjutan Visualisasi mengingat Angka dan urutannya, Latihan ini dimulai dengan mengingat angka 1 s/d 10 satu demi satu, perlihatkan gambar angka 1 s/d 10 satu persatu, kemudian setelah ia berhasil mengingatnya minta anak anda untuk mengurutkan dari depan kebelakang, setelah itu minta ia mengurutkannya dari 10 ke 1, jika berhasil maka dia sudah mulai terlatih untuk menggunakan kemampuan unggulnya.

d. Latihan Lanjutan Visualisasi mengingat Huruf dan urutannya, Latihan ini dimulai dengan pengenalan huruf satu demi satu; dengan metode mata terpejam, apabila ini sudah terekam maka mintalah anak anda untuk mengurutkan 10 huruf pertama dari depan dan dari belakang. Terus berlanjut.

Tuesday, June 16, 2009

Kisah Sekolah Para Binatang (by Dr. Thomas Amstrong)




Syahdan di tengah-tengah hutan belantara Sumatera berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status “disamakan dengan manusia”, sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia. Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah standar dan telah ditetapkan untuk manusia.

Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah ; setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 pada masing-masing mata pelajaran.Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah; Terbang, Berenang, Memanjat, Berlari dan Menyelam
Mengingat bahwa sekolah ini berstatus “Disamakan dengan manusia”, maka para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainya, sehingga berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana; mulai dari; Elang, Tupai, Bebek, Rusa dan Katak
Proses belajar mengajarpun akhirnya dimulai, terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu; Elang sangat unggul dalam pelajaran terbang; dia memiliki kemampuan yang berada diatas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger didahan sebuah pohon yang tertinggi.

Tupai sangat unggul dalam pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu.
Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang, dengan gayanya yang khas ia berhasil menyebrangi dan mengitari kolam yang ada didalam hutan tersebut.

Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari; kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di sana. Larinya tidak hanya cepat melainkan sangat indah untuk dilihat.
Lain lagi dengan Katak, ia sangat unggul dalam pelajaran menyelam; dengan gaya berenangnya yang khas, katak dengan cepatnya masuk kedalam air dan kembali muncul diseberang kolam.
Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa dimata pelajaran tertentu. Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah.

Inilah awal dari semua kekacauan.itu; Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya.
Burung elang mulai belajar cara memanjat, berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja ia gagal; dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam.

Tupaipun demikian; ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasil bukannya bisa terbang tapi tubuhnya malah penuh dengan luka dan memar disana-sini.
Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti pelajaran berlari meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang; tapi ia kelihatan hampir putus asa pada saat mengikuti pelajaran memanjat, berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh, luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu.

Demikian juga dengan binatang lainya; meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik.
Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya; perlahan-lahan Elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya; tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik, sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat. Katak juga tidak kuat lagi menyelam karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Dan yang paling malang adalah Rusa, ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang, karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.

Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah itu; dan yang sangat menyedihkan adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah. Mereka tidak bisa lagi hidup dilingkungan dimana mereka dulu tinggal, ya.... kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang dimilikinya..

Tidakkah kita menyadari bahwa sistem persekolahan manusia yang ada saat inipun tidak jauh berbeda dengan sistem persekolahan binatang dalam kisah ini. Kurikulum sekolah telah memaksa anak-anak kita untuk menguasai semua mata pelajaran dan melupakan kemampuan unggul mereka masing-masing. Kurikulum dan sistem persekolahan telah memangkas kemampuan alami anak-anak kita untuk bisa berhasil dalam kehidupan menjadi anak yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.


Akankah nasib anak-anak kita kelak juga mirip dengan nasib para binatang yang ada disekolah tersebut?


Bila kita kaji lebih jauh produk dari sistem pendidikan kita saat ini bahkan jauh lebih menyeramkan dari apa yang digambarkan oleh fabel tersebut; bayangkan betapa para lulusan dari sekolah saat ini lebih banyak hanya menjadi pencari kerja dari pada pencipta lapangan kerja, betapa banyak para lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang digelutinya selama bertahun-tahun, sebuah pemborosan waktu, tenaga dan biaya. Betapa para lulusan sekolah tidak tahu akan dunia kerja yang akan dimasukinya, jangankan kemapuan keahlian, bahkan pengetahuan saja sangatlah pas-pasan, betapa hampir setiap siswa lanjutan atas dan perguruan tinggi jika ditanya apa kemampuan unggul mereka, hampir sebagian besar tidak mampu menjawab atau menjelaskannya.

Begitupun setelah mereka berhasil mendapatkan pekerjaan, berapa banyak dari mereka yang tidak memberikan unjuk kerja yang terbaik serta berapa banyak dari mereka yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaanya.

Belum lagi kita bicara tentang carut marut dunia pendidikan yang kerapkali dihiasi tidak hanya oleh tawuran pelajar melainkan juga tawuran mahasiswa. Luar biasa “Maha Siswa” julukan yang semestinya dapat dibanggakan dan begitu agung karena Mahasiswa adalah bukan siswa biasa melainkan siswa yang “Maha”. Namun nyatanya ya Tawuran juga. Masihkah kita bisa berharap dari para pelajar kita yang seperti ini. Dan seperti apa potret negeri kita kedepannya dengan melihat potret generasi penerusanya saat ini?

Apa yang menjadi biang keladi dari kehancuran sistem pendidikan di negeri ini...?
1. Sistem yang tidak menghargai proses
Belajar adalah proses dari tidak bisa menjadi bisa. Hasil akhir adalah buah dari kerja setiap proses yang dilalui. Sayangnya proses ini sama sekali tidak dihargai; siswa tidak pernah dinilai seberapa keras dia berusaha melalui proses. Melainkan hanya semata-mata ditentukan oleh ujian akhir. Keseharian siswa dalam belajar tidak ada nilainya, jadi wajar saja apa bila suatu ketika ada siswa yang berkata bahwa yang penting ujian akhir bisa, gak perlu masuk setiap hari.

2. Sistem yang hanya mengajari anak untuk menghafal bukan belajar dalam arti sesunguhnya
Apa beda belajar dengan menghafal; Produk dari sebuah pembelajaran kemampuan atau keahlian yang dikuasai terus menerus. Contoh yang paling sederhana adalah pada saat anak belajar sepeda. Mulai dari tidak bisa menjadi bisa, dan setelah bisa ia akan bisa terus sepanjang masa. Sementara produk dari menghafal adalah ingatan jangka pendek yang dalam waktu singkat akan cepat dilupakan. Perbedaan lain bahwa belajar membutuhkan waktu lebih panjang sementara menghafal bisa dilakukan hanya dalam 1 malam saja. Padahal pada hakekatnya Manusia dianugrahi susunan otak yang paling tinggi derajadnya dibanding mahluk manapun didunia. Fungsi tertinggi dari otak manusia tersebut disebut sebagai cara berpikir tingkat tinggi atau HOT; yang direpresentasikan melalui kemampuan kreatif atau bebas mencipta serta berpikir analisis-logis; sementara fungsi menghafal hanyalah fungsi pelengkap. Keberhasilan seorang anak kelak bukan ditentukan oleh kemampuan hafalannya melainkan oleh kemampuan kreatif dan berpikir kritis analisis.

3. Sistem sekolah yang berfokus pada nilai
Nilai yang biasanya diwakili oleh angka-angka biasanya dianggap sebagai penentu hidup dan matinya seorang siswa. Begitu sakral dan gentingnya arti sebuah nilai pelajaran sehingga semua pihak mulai guru, orang tua dan anak akan merasa rasah dan stress jika melihat siswanya mendapat nilai rendah atau pada umumnya dibawah angka 6 (enam).

Setiap orang dikondisikan untuk berlomba-lomba mencapai nilai yang tinggi dengan cara apapun tak perduli apakah si siswa terlihat setangah sekarat untuk mencapainya. Nyatanya toh dalam kehidupan nyata, nilai pelajaran yang begitu dianggung-anggungkan oleh sekolah tersebut tidak berperan banyak dalam menentukan sukses hidup seseorang. Dan lucunya sebagian besar kita dapati anak yang dulu saat masih bersekolah memiliki nilai pas-pasan atau bahkan hancur, justru lebih banyak meraih sukses dikehidupan nyata.

Mari kita ingat-ingat kembali saat kita masih bersekolah dulu; betapa bangganya seseorang yang mendapat nilai tinggi dan betapa hinanya anak yang medapat nilai rendah; dan bahkan untuk mempertegas kehinaan ini, biasanya guru menggunakan tinta dengan warna yang lebih menyala dan mencolok mata.
Sementara jika kita kaji lagi; apakah sesungguhnya representasi dari sebuah nilai yang diagung-agungkan disekolah itu...?Nilai sesungguhnya hanyalah representasi dari kemampuan siswa dalam “menghapal” pelajaran dan terkadang ada juga “subjektifitas” guru yang memberi nilai tersebut terhadap siswanya.

Meskipun kerapkali guru menyangkalnya, cobalah anda ingat-ingat; berapa lama anda belajar untuk mendapatkan nilai tersebut; apakah 3 bulan...? 1 bulan..? atau cukup hanya semalam saja..? Kemudian coba ingat-ingat kembali, jika dulu saat bersekolah, ada diantara anda yang pernah bermasalah dengan salah seorang guru; apakah ini akan mempengaruhi nilai yang akan anda peroleh..?

Jadi mungkin sangat wajar; meskipun kita banyak memiliki orang “pintar” dengan nilai yang sangat tinggi; negeri ini masih tetap saja tertinggal jauh dari negara-negara maju. Karena pintarnya hanya pintar menghafal dan menjawab soal-soal ujian.

4. Sistem pendidikan yang Seragam-sama untuk setiap anak yang berbeda-beda
Siapapun sadar bahwa bila kita memiliki lebih dari 1 atau 2 orang anak; maka bisa dipastikan setiap anak akan berbeda-beda dalam berbagai hal. Andalah yang paling tahu perbedaan-perbedaanya. Namun sayangnya anak yang berbeda tersebut bila masuk kedalam sekolah akan diperlakukan secara sama, diproses secara sama dan diuji secara sama.

Menurut hasil penelitian Ilmu Otak/Neoro Science jelas-jelas ditemukan bahwa satiap anak memiliki kelebihan dan sekaligus kelemahan dalam bidang yang berbeda-beda. Mulai dari Instingtif otak kiri dan kanan, Gaya Belajar dan Kecerdasan Beragam. Sementara sistem pendidikan seolah-oleh menutup mata terhadap perbedaan yang jelas dan nyata tersebut yakni dengan mengyelenggaraan sistem pendidikan yang sama dan seragam. Oleh karena dalam setiap akhir pembelajaran akan selalu ada anak-anak yang tidak bisa/berhasil menyesuaikan dengan sistem pendidikan yang seragam tersebut.

5. Sekolah adalah Institusi Pendidikan yang tidak pernah mendidik
Sekilas judul ini tampaknya membingungkan; tapi sesungguhnya inilah yang terjadi pada lembaga pendidikan kita.

Apa beda mendidik dengan mengajar...?

Ya.. tepat!, mendidik adalah proses membangun moral/prilaku atau karakter anak sementara mengajar adalah mengajari anak dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa.
Produk dari pengajaran adalah terbangunnya cara berpikir kritis dan kreatif yang berhubungan dengan intelektual sementara produk dari pendidikan adalah terbangunnya prilaku/akhlak yang baik.

Ya..! memang betul dalam kurikulum ada mata pelajaran Agama, Moral Pancasila, Civic dan sebagainya namun dalam aplikasinya disekolah guru hanya memberikan sebatas hafalan saja; bukan aplikasi dilapangan. Demikian juga ujiannya dibuat berbasiskan hafalan; seperti hafalan butir-butir Pancasila dsb. Tidak berdasarkan aplikasi siswa dilapangan seperti praktek di panti-panti jompo; terjun menjadi tenaga sosial, dengan sistem penilaian yang berbasiskan aplikasi dan penilaian masyarakat (user base evaluation).

Bayangkan pernah ada suatu ketika sebuah sekolah SD yang gedungnya bersebelahan dengan rumah penduduk, dan saat itu mereka sedang belajar tentang pendidikan moral, sementara persis di sebelah sekolah tersebut sedang ada yang meninggal dunia, namun anehnya tak ada satupun dari sekelah tersebut yang datang mengirim utusan untuk berbela sungkawa di rumah tersebut. Alih-alih sekolahnya malah ribut sehingga ketua RW setempat sempat menegur pihak sekolah atas kejadian tersebut.

Mungkin wajar saja jika anak-anak kita tidak pernah memiliki nilai moral yang tertanam kuat di dalam dirinya; melainkan hanya nilai moral yang melintas semalam saja dikepalanya dalam rangka untuk dapat menjawab soal-soal ujian besok paginya.

Artikel ini di ambil dari Tulisan Dr. Thomas Amstrong, pemerhati dan praktisi Pendidikan Berbasis Multiple Intelligence dari AS, yang dibuat sekitar tahun 1990an.dan telah disesuaikan dengan konteks Indonesia saat ini.

Mari kita renungkan bersama dengan hati dan nurani kita yang terdalam dan mari kita ambil hikmahnya.


Sumber: Buku Ayah Edy Judul: I love you Ayah, Bunda Penerbit: Hikmah, Mizan Group

Thursday, June 11, 2009

Edisi Revisi Buku Ayah Ke-2


Beberapa komentar pembaca buku ayah yang ke 2:

"Ayah Edy" coba lihat ini saya memberikan stabilo hampir di setiap halaman buku ini. Dan tau nggak Ayah, setiap kali akan bicara dengan anak saya, saya selalu masuk kamar terlebih dahulu dan berlatih dialog yang ada di dalam buku ini. Lalu setelah itu baru saya keluar dan berbicara dengan anak saya. Alhamdulliah, ternyata hasilnya sungguh di luar dugaan saya. Sungguh buku yang Ayah tulis ini seperti layaknya buku manual bagi para orang tua, tapi sayangnya mengapa baru ada sekarang ya, saat anak saya sudah besar dan saya sudah terlanjur banyak melakukan kesalahan".

- Ibu Bambang, Orang tua, Jakarta -


"Ayah Edy kenalin aku Nata 14th, Baru saja aku dengan dua temenku Lia dan Bella membaca buku karangan Ayah, Pertamanya kami iseng liat buku itu di perpus sekolah, karena covernya lucu gitu, kami baca deh. Terus... pas nyampe di tengah-tengah kami bertiga pada nangis.. Emang sich, buku ini buat orang tua tapi gak tau kenapa kami nangis gitu aja. Kami merasa orang tua kami itu sama persis dengan cerita didalam buku. Mereka itu nggak pernah ngasih pujian sama kami, trus mereka sukanya marah-marah. Pokoknya setiap lembarnya kami beri komentar " Ich kok bener banget ya !" Ha..ha...ha.. Jadi renacananya ntar kami mau ngasih buku ini sama Mama. Pokoknya...Thanks ya Ayah... buat bukunya :) Peace"

- Nata, pelajar SMP di Surabaya -

Saturday, May 30, 2009

Jeli dalam memilih sekolah yang tepat dan cocok untuk anak kita


Hampir semua sekolah saat ini mengklaim dirinya sebagai sekolah unggulan dengan berbagai variasi kata seperti sekolah Teladan, sekolah Favorit dsb. namun nyatanya begitu anak kita disekolahkan di sana malah dinyatakan bermasalah atau mogok sekolah.

Yang lebih buruk lagi sekolah yang mengklaim dirinya unggulan tadi tidak mampu membuat semua anak menjadi anak yang unggul dibidangnya masing-masing, padahal untuk bisa masuk saja anak kita harus di saring dulu, dipilih dulu mana yang layak di didik dan tidak layak didik.

Bagaimana mungkin sebuah mesin yang bahan bakunya emas dan hanya menghasilkan emas kembali bisa dikatakan sebagai mesin yang unggul. Bahkan tukang emas di pasar pun sangat pandai untuk membuat perhiasan emas dari bahan baku emas. Justru sebuah mesin yang hebat dan unggul mestinya mampu membuat sesuatu dari bahan baku yang dianggap tak bernilai/sampah menjadi suatu produk yang bernilai jual seperti emas.

Oleh karena itu agar kita tidak bingung dan terjebak pada persaingan promosi Sekolah ada baiknya kita membaca ciri-ciri sekolah yang benar-benar unggul yang nantinya bisa dipastikan akan membuat anak-anak kita benar-benar unggul di kehidupan nyata.

Berikut ini ada sebuah tulisan yang mungkin baisa membantu kita semua para orang tua yang hendak mencari sekolah bagi putra-putrinya.


I. Hasil Penelitian Pada Sistem Sekolah yang ada pada umumnya:


Berpusat pada Jasmani saja, bukan pada Jasmani dan Rohani (Holistic) kurangnya pemahaman mengenai aspek rohani yang meliputi fungsi-fungsi kerja otak dan psikologi perkembangan anak dll.

Berpusat pada kepentingan guru bukan murid (yang penting sdh ngajar tak perduli murid mengerti atau tidak) Pertanyaan yang lazim diantara para guru dan kepala sekolah....eh sudah sampai dimana ngajarnya....? wah aku mesti ngebut nich waktunya sudah hampir habis.

Berpusat pada target materi/kurikulum bukan dinamika kelas (yang penting target selesai, tak perduli kelas pasif, ribut atau murid bolos sekalipun)

Berpusat pada pemahaman fungsi otak yang terbatas (IQ) bukan pada Multiple Intelligence (Kecerdasan Unik tanpa batas) Pengakuan anak pandai yang sangat terbatas pada kemampuan Eksakta & Verbal. “Jadi wajar bila dalam tiap kelas paling-paling Cuma ada 5 orang saja yang pandai dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
Berpusat pada kemampuan Naluri Mengajar bukan pada keahlian profesional mengajar berdasarkan pelatihan. (Sebagian besar guru mengajar berdasarkan naluri dan sedikit pengalaman bagaimana mereka dulu di ajar)

Berpusat pada LOWER ORDER THINKING bukan Highly Order Thinking. (Menghapal soal yang Jawaban sudah ada/dimiliki gurunya)

Berpusat pada 1 Model TES (Verbal Test Model/Schoolastic Aptitude Test) bukan berdasarkan tes beragam yang disesuaikan dengan jenis bidang dan mata pelajaran dan keunggulan spesifik anak.

Berpusat pada hasil akhir (hanya sebagai uji ingatan bukan pada proses perbaikan yang diamati dan dicatat dari waktu kewaktu)

Berpusat pada proses Imaginatif bukan realitas (anak kita tidak pernah mengerti manfaat ilmu yang diajarkan bagi realitas hidup mereka kelak)

Guru sebagai sumber kebenaran (sindrom Teko Cangkir bukan korek api dan kayu bakar) bahwa guru hanya sebagai menuang air bukan pembangkin minat belajar anak.

Berpusat pada ruang dan tempat yang terbatas. (Bayangkan anda duduk disatu ruangan selama berjam-jam, apa lagi kursinya keras) nah itulah yang dialami murid-murid di sekolah kita, duduk dibangku yang keras selama berjam-jam.

Miskinnya pemberian dukungan belajar/Motivasi dari para guru (guru lebih suka memuji yang sukses dari pada membangkitkan yang gagal serta memuji usaha kebangkitannya, terlepas dari kegagalan demi kegagalan (Sindrom Belajar Sepeda) Dalam belajar sepeda kita bisa baru bisa naik sepeda setelah beberapa kali mengalami kegagalan. Tidak pernah ada anak yang langsung bisa naik sepeda tanpa pernah jatuh.

Guru sebagai penguji bukan sebagai pembimbing, Guru merasa tidak bertanggung jawab terhadap kegagalan para siswanya dalam ujian yang dibuatnya sendiri. Salah satu sistem pendidikan di perguruan tinggi di AS. menempatkan dosen sebagai pendamping, sedangkan yang menentukan kelulusan adalah pihak luar sekolah yang juga merupakan user dari si siswa. Kegagalan siswa dalam ujian sekaligus menunjukkan kegagalan dosen dalam mengajar.

Berpusat pada Tradisi bukan Kreatifitas (HOT SPOT – Hot Spot adalah kurikulum dinamis dan pembahasan masalah yang tidak didasarkan pada buku wajib, malainkan dibahas dan dikembangkan dari kasus-kasus yang sedang terjadi disekitar kehidupan anak-anak), Sementara Tradisi Kurikulum adalah statis, selalu sama yang diajarkan dan sering kali tidak relevan dengan perubahan zaman yang dialami siswanya sekarang, sehingga pendidikan dari waktu-kewaktu tidak mengalami kemajuan. Ingat waktu kita masih kecil bagaimana kita diajari menggambar..... apa yang yang kita gambar.....? Pemandangan dengan dua buah gunung, jalan ditengahnya, pohon dipinggir jalan.....? nah itulah salah satu contoh metode “Tradisi” dalam mengajar.

Sekolah Lebih tepat disebut sebagai Lembaga Pengajaran bukan Lembaga Pendidikan, (Mengajar adalah membuat tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa sedangkan Mendidik adalah membuat anak tidak mau menjadi mau.) Sasaran mengajar adalah Ilmu sedangkan sasaran mendidik adalah moral dan karakter. Oleh karena wajar jika banyak anak didik disekolah yang justru memiliki karakter sama seperti orang yang tidak terdidik.


II. Hasil Riset Sistem Sekolah Berbasiskan Multiple Intelligence dan Holistic Learning

Selain memperhatikan unsur-unsur tersebut di atas, ada beberapa poin yang dapat membantu orang tua dalam memilih sekolah yang benar-benar berkualitas bagi masa depan anaknya.

Memiliki Konsep Sekolah yang jelas dan tepat.
Konsep sekolah sangat penting, karena konsep ibarat sebuah “resep” dalam pembuatan kue, Hanya konsep yang tepat sajalah yang akan menghasilkan kue-kue yang berkualitas. Oleh karena itu jenis kue yang sama sering kali memiliki rasa yang berbeda-beda. Hanya kue dengan resep yang tepatlah yang dapat menghasilkan rasa yang lezat dan disukai.

Pemahaman yang mendalam akan konsep sekolah
Seluruh Jajaran mulai dari pimpinan, guru, administrasi secara keseluruhan mengetahui dan memahami Konsep Dasarnya yang dimiliki oleh sekolahnya, dan menerapkan konsep tersebut kepada siswa dalam proses belajar dan mengajar.

Program Pengembangan SDM yang kontinu
Guru-guru yang secara terus-menerus mendapat pelatihan dan program pengembangan yang berhubungan dengan pengetahuan dan kemampuan keahliannya.

Melibatkan Orang tua dan anak secara aktif.
Proses ini akan sangat membantu kedua belah pihak untuk dapat menjamin tersolusikannya setiap permasalahan anak. Karena anak pada dasarnya merupakan produk orang tua dan sekolahnya. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan mengadakan pelatihan pendidikan bagi orang tua, Voluntary Parent, Pemecahan Problem Prilaku Bersama, Kunjungan ke Objek Pembelajaran Luar Sekolah.

Dasar Rekrutmen Guru-guru yang tepat dan ketat.
Pemilihan guru dan para pendidik harus lebih mengutamakan pada Kecintaan kepada anak serta bidang pendidikan bukan pada Gelar-gelar akademik semata, karena banyak sekali guru yang bergelar tinggi tapi justru tidak mencintai bidangnya.

Guru yang memahami psikologi perkembangan anak
Para gurunya memiliki pemahaman yang mendalam mengenai psikologi anak dan pendidikan. (Psikologi Perkembangan, Gaya Belajar, Komunikasi). Dia bisa menjelasakan tidak hanya apa yang diberikan dalam proses pembelajaran akan tetapi juga mengapa dan untuk apa hal itu diberikan pada anak.

Para guru yang menguasai teknik-teknik pengajaran dan pendidikan.
Guru harus menempatkan posisinya sebagai sahabat bagi siswa bukan sebagai instruktur; sehingga siswa merasa belajar dengan sahabatnya bukan dengan instrukturnya.


Sistem dan Pola Pembelajaran yang mengacu pada proses perkembangan kemampuan secara berkala, bukan pada ujian akhir.


Penilaian hasil sebuah pembelajaran adalah proses peningkatan dari waktu-kewaktu kemampuan siswa, mulai dari tidak bisa menjadi bisa dan mahir bukan hanya berbasiskan tes/ujian di akhir masa pembelajaran saja. Sistem ini disebut sebagai “Portfolio Management”

Sistem Pendidikan dan Pengajaran yang memberdayakan kemampuan uggul “unik” setiap anak. Tidak memberlakukan sistem ranking dan rata-rata kelas, akan melainkan menggunakan sistem yang mengidentifikasi keunggulan dan kelemahan masing-masing individu dengan berfokus pada keunggulannya. Sehingga anak paham akan potensi keunggulan dirinya masing-masing.

Tidak menggunakan kelas sebagai satu-satunya tempat belajar.
Setiap tempat adalah tempat belajar yang baik dan sempurna bagi siswa, sementara kelas adalah hanya salah satunya.

Tidak menggunakan papan tulis dan buku sebagai satu-satunya media belajar.
Media belajar yang baik adalah dengan membuat alat pembelajaran sendiri dari lingkungannya dengan mengandalkan ide-ide kreatif dari guru dan siswa. Buku dan papan tulis hanyalah alat bantu untuk memvisualisasikan apa yang diinginkan oleh guru pada siswanya.

Materi yang seimbang antara akademik dan life skill.
Diluar sekolah anak akan menghadapi berbagai macam tantangan kehidupan nyata bagi dirinya saat ini dan kelak setelah dewasa. Oleh karena itu pembelajaran kehidupan dan bagaimana untuk dapat hidup dimasyarakat jauh lebih utama untuk dikuasai oleh para siswa. Bukan hanya mengagung-agungkan nilai EBTA, Sumatif Tes atau IPK, yang nyata-nyata kontribusinya tidak besar bagi sukses kehidupan anak kelak.

Mau menerima masukkan dari luar untuk proses pengembangan sistem pembelajaran.
Jelas bahwa sekolah bukanlah institusi yang paling sempurna dalam mendidik dan mengembangkan kemampuan siswa, oleh karenanya sekolah sangat memerlukan berbagai masukan yang tepat dari berbagai pihak untuk dapat mendidik lebih baik.
Anak antusias, kreatif, kritis dan senang sekali bersekolah dan diajak bicara tentang sekolahnya. Ini merupakah alat ukur yang paling mudah bagi orang tua yang ingin mengetahui apakah sekolah yang dipilihnya cocok untuk anaknya.
Anak kita akan menjadi lebih baik dalam waktu 3 s/d 6 bulan.

Sistem pendidikan yang baik tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk mengembangkan anak didiknya, baik yang berhubungan dengan kemampuan krititis ataupun prilaku terpuji dari anak kita. Perubahan itu seharusnya akan mulai terlihat dan dirasakan oleh orang tua pada semester-semester awal dan terus berlangsung sepanjang periode pembelajaran.

Tanya jawab seputar sekolah:

Apakah sekolah semacam ini ada..? jawabanya ada, namun tidak banyak dan beberapa diantaranya sudah memuat poin di atas meskipun belum seluruhnya.

Dimana..? masih sangat sporadis dan biasanya bentuknya semacam sekolah alam. Diaerah mana saja..? Beberapa diantaranya Sekolah Dasar Insantama di Bogor, Sekolah TK Star Int'l Bogor, Sekolah Dasar dan Menengah, Alam Ciganjur, Sekolah Semut-semut di Cimanggis, Sekolah Tunas Global di Depok, Sekolah Masterpiece di BSD, Sekolah SD Peradaban di Serang Banten dan Rumah Cendikia di Makassar.

Mungkin masih banyak lagi di daerah lainnya dan biasanya sekolah ini tidak banyak berpromosi yang berlebih-lebihan atau di lebih-lebihkan, karena beritanya sudah menyebar dari orang tua yang sudah menyekolahkan anaknya disana.

Jenjangnya bervariasi mulai TK, SD, SMP hingga SMA.

Semoga sekolah semacam ini akan semakin banyak tersebar diseluruh pelosok tanah air tercinta.

Wednesday, May 20, 2009

SELAMAT HARI KEBANGKITAN NASIONAL



BANGKITLAH BANGSAKU! BANGKITLAH NEGERIKU!

Tom Peters.... adalah seorang Konsultant Bisnis terkemuka dunia dan sangat dihormati karena pemikiran-pemikirannya yang luar biasa briliant.

Suatu ketika ia pernah melakukan penelitian, begini katanya....Saya selalu sangat tertarik untuk mengetahui mengapa beberapa perusahaan bisa menjadi yang terbaik dan unggul dalam persaingan bisnis yang begitu keras, semantara beberapa lainnya malah terpuruk dan bangkrut.

Ada satu temuan menarik; ternyata dalam setiap perusahaan yang unggul; saya selalu menemukan ciri-ciri yang sama bahwa para pegawainya yang biasa-biasa saja, dengan jabatan dan gaji yang biasa-biasa pula tapi justru melakukan hal-hal yang luar biasa untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan dan pelanggannya.

Dan selanjutnya saya juga mendapati hal yang sama pada negara-negara yang unggul dalam persaingan seperti Jepang misalnya; pada saat saya disana saya banyak mendapati penduduk Jepang yang biasa-biasa saja yang merupakan rakyat kecil biasa; tapi justru melakukan hal-hal yang luar biasa bagi bangsa dan negaranya.

Wahai para orang tua dan guru.... yang selama ini anda merasa sebagai orang yang biasa-biasa saja, dari keluarga yang biasa-biasa saja pula; marilah kita bersama-sama untuk melakukan hal-hal yang luar biasa bagi bangsa dan negara kita..... juga bagi anak-anak kita...., Karena ternyata Negara yang Hebat itu dibangun oleh penduduknya yang biasa-biasa saja....tapi mau melakukan hal-hal yang LUAR BIASA bagi bangsanya. Bukan oleh orang yang merasa LUAR BIASA tapi hanya bisa melakukan hal-hal yang justru sesungguhnya biasa-biasa saja.

Wahai para orang tua dan guru diseluruh pelosok tanah air tercinta, yang selama ini merasa sebagai orang biasa-biasa saja, dari keluarga yang juga biasa-biasa pula. Maka mulai hari ini, mari kita mulai melakukan hal-hal yang luar biasa bagi bangsa ini, yakni dengan MEMBINA KELUARGA YANG HARMONIS DAN MENDIDIK ANAK-ANAK KITA SECARA TEPAT AGAR MEREKA TUMBUH SEHAT MENTAL DAN INTELEKTUAL UNTUK BISA MENJADI GENERASI PENERUS BANGSA YANG LEBIH BAIK.

Saya teringat orang bijak pernah berkata; "Sesungguhnya tidak ada pekerjaan apapun didunia ini yang lebih penting dan mulia melainkan adalah Menjadi Orang Tua yang baik bagi anak-anaknya".

"Lihatlah betapa Dunia ini bisa menjadi lebih baik hanya jika kita memiliki para pemimpinnya baik, Lihatlah betapa seorang pemimpin bisa menjadi baik hanya jika mereka memiliki orang tua yang baik yang mendidik mereka secara tepat".

"Betapa sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa orang-orang seperti Adolf Hitler, Musollini dan sebagian besar diktator lainnya adalah orang-orang yang memiliki kehidupan masa lalu yang kelam bersama orang tua atau keluarga mereka".

Mari kita mulai segalanya dari KELUARGA !

Let's make Indonesian Strong from Home..!

JIKA KITA MAU, KITA PASTI BISA !


Salam Hangat,
ayah edy

Tuesday, May 19, 2009

Audio Book Ayah Edy


Kepada para orang tua dan guru yang berbahagia di seluruh tanah air tercinta.

Dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa, Segera Beredar Audio Book Ayah Edy yang berisikan kisah-kisah Inspirasi Terbaik Parenting dan Pendidikan.

Dapatkan segera di Toko Buku GRAMEDIA yang ada di kota anda.

Mari kita bangun Indonesia yang kuat dari Keluarga melalui anak-anak kita tercinta di rumah.

Salam hangat,
AE Management

Tuesday, May 12, 2009

Cuplikan Komentar Ayah Edy

--------------------------------------------------------------------
Ayah Edy disela-sela waktunya selalu membaca komentar yang diberikan para simpatisan dan pembaca Artikel yang ditulisnya.

Berikut adalah cuplikan komentar ayah pada artikel "Sekolah Knowing dan Sekolah Being" yang di terbitkan pada bulan September 2008.

Saya baru mendapatkan berita dari seorang teman di Australia yang menyekolahkan anaknya di kelas 5 Elementary.

Katanya: Orang Australia jauh lebih khawatir jika anak-anak murid mereka tidak menyebrang jalan dengan benar, mengelola sampah dengan baik, berbicara dengan santun, berempati, peduli terhadap teman dan lingkungan serta berpikir kritis terhadap hal-hal yang merusak/menggangu, ketimbang jika anak kelas lima mereka tidak menguasai matematika dan pelajaran Akademis lainnya.

Karena mereka mengatakan bahwa kita hanya perlu waktu 3 bulan untuk melatih seorang anak bisa metematika, namun diperlukan waktu lebih dari 15 tahun untuk bisa membuat seorang anak mampu berempati, peduli teman dan lingkungan serta memiliki karakter yang mulia untuk bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Dan ternyata waktu mendidik Karakter itu tidak bisa dilakukan kapan saja, melainkan memiliki rentang waktu yang sangat terbatas sekali yakni sejak mereka Balita hingga Remaja. Sementara kita bisa mengajarkan materi akademis kapan saja diperlukan tanpa ada batas waktunya.

Jadi wajarlah jika mereka lebih menaruh perhatian pada pembentukan karakter anak ketimbang kemampuan akademis.


Namun apakah pandangan ini bisa diterima di negeri kita? mari kita renungkan bersama.


SEGERA TEMUKAN DAN BACA ISI LENGKAP ARTIKELNYA DI BLOG INI SEKARANG JUGA !

Monday, May 11, 2009

PENDIDIKAN DIMATA SEORANG SENIMAN


Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada.

Suatu hari saya menghadiri sebuah acara simposium pendidikan yang diselenggarakan di Jakarta, oleh Forum Pengajar, Dokter dan Psikolog bagi Ibu Pertiwi. yang mengambil tema "Peran Pengajar, Dokter, dan Psikolog dalam Mengembalikan Arah Pendidikan yang berlandaskan Budaya Nusantara demi Keselamatan Generasi bangsa"

Acara itu sungguh luar biasa dan dihadiri oleh lebih dari 1500 orang peserta yang sebagian besar adalah pendidik dan guru. Pembicara yang hadir juga merupakan orang-orang yang luar biasa peduli di bidang pendidikan, mulai dari wakil guru yang ada di hutan rimba alias Butet Manurung, hingga wakil tokoh besar pendidikan Yayasan Perguruan Taman Siswa, Ki Hajardewantara. Di forum ini juga tidak ketinggalan hadir Tokoh Lintas agama Bapak Anand Krishna, seniman, budayawan artis dan lain sebagainya.

Menurut saya sebenarnya simposium ini nyaris sempurna, seandainya saja waktu itu Menteri Pendidikan dan Menteri Kesehatan sebagai tokoh sentral yang diundang sempat menyaksikan langsung acara simposium ini. Tapi apa mau dikata The Show Must Go On! begitu kira-kira kata salah seorang pembicara.

Namun ada satu hal yang paling menarik bagi saya dari seluruh acara, yakni sebuah puisi yang dibacakan oleh seorang seniman, namanya Mas Agus Sarjono, yang isinya betul-betul membuat hati saya tergelitik, puisi ini merupakan sebuah kritik sosial yang dibuat sangat cantik dan mengena bagi kita semua, terutama para tokoh pendidikan yang ada di negeri ini....

Dan dengan kerendahan hati serta ijin dari Mas Agus Sarjono yang saya dapatkan melalui Pengurus Forum tersebut, saya ingin anda juga bisa mendengar dan sekaligus merenungkannya. Mari kita simak bersama isinya;

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu. Lalu mereka pun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu.

Di akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop, berisi perhatian dan rasa hormat palsu.

Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru.

Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu. Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman yang juga palsu.

Dengan gairah tinggi mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu. Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan berbagai barang kelontong kualitas palsu.

Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus palsu dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri yang dijaga pejabat-pejabat palsu.

Masyarakat pun berniaga dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan gagasan-gagasan palsu di tengah seminar dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring dan palsu.


Demikianlah puisi yang dibuat dan dibacakan langsung oleh Mas Agus Sarjono, pada acara simposium besar Forum Pengajar, Dokter dan Psikolog yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25 Oktober 2007.

Meskipun ini hanyalah sebuah puisi, tapi paling tidak puisi ini bisa menjelaskan mengapa begitu banyak kita menemukan kepalsuan yang terjadi di negeri ini.

Mari kita renungkan bersama.......

SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2 MEI 2009 !

Mengapa anak saya jadi TIDAK MANDIRI ya..?


Suatu hari ada seorang ibu yang datang pada saya mengadukan perihal anaknya yang sudah berusia 14 tahun. Katanya anak ini sangat tidak mandiri, segalanya harus serba disiapkan, segalanya harus serba dibantu, kemana-mana harus selalu diantar dan ditemani....Saya jadi bingung nanti besarnya bagaimana anak saya ini...?

Begitulah banyak sekali orang tua yang mengeluhkan anaknya yang tidak mandiri. Sebenarnya siapakah yang menciptakan anak jadi tidak mandiri. Nenny Deborah salah satu tim yang ada di Nanny 911 mengatakan bahwa prilaku bermasalah pada anak bukanlah bawaan lahir melainkan bentukan dari orang tua.

Apa benar ucapan Nanny Deb ini...? mari kita telusuri bersama....

Pada saat seorang bayi dilahirkan ia hanya bisa terlentang, namun seiring pertumbuhannya, bayi tersebut pada akhirnya bisa tengkurap. Siapa yang mengajarinya....? apakah ia perlu bantuan untuk melakukan hal itu...., jelas tidak, apa buktinya ya, kita terbiasa mendengar ucapan seorang ibu yang melihat bayinya tengkurap berkata seperti ini, eh...anakku sekarang sudah bisa tengkurap. Lalu dengan bertambahnya usia, sang bayi mulai mampu merangkak, merambat dan akhirnya berjalan....kembali lagi orang tua akan berucap eh...anakku sekarang sudah bisa berjalan ya....Luar Biasa...! kembali lagi apakah si anak perlu bantuan/pelatihan sampai ia bisa berjalan...? Jelas tidak ! dia berusaha sendiri, jatuh bangun jatuh dan bangun lagi, sampai ia bisa berdiri dan berjalan sendiri.

Jadi jelas anak kita terlahir dengan kemampuan untuk jadi anak yang mandiri. Lantas siapa yang telah membuatnya jadi tidak mandiri.

Coba perhatikan ketika anak kita mulai di usia balita, mulailah terjadi proses intervensi dari orang dewasa terutama orang tuanya yang melatih si anak untuk jadi TIDAK MANDIRI.

Lihatlah waktu anak kita belajar untuk menyuapkan makanan sendiri, harusnya masuk ke mulut tapi ternyata harus mampir dulu ke pipi, kemudian tumpah ke sana sini, apa yang kita lakukan..., apakah kita menyemangati anak kita untuk terus mencoba hingga berhasil mendaratkan sendoknya dimulut atau malah ucapan seperti ini yang keluar dari kita.... ya...sudah sini mama suapin aja dech, biar gak tumpah-tumpah....akhirnya kita keterusan menyuapi hingga si anak besar.

Kemudian pada saat si anak berusaha untuk minum dengan gelas, kemudian jatuh lalu dia ambil lagi, dan tumpah ke sana sini...apa yang kita lakukan, apakah kita menyemangati anak dengan berkata seperti ini, "tidak apa-apa nak, ayo coba lagi, hati-hati ya licin ada air di lantai", atau malah kita berucap seperti ini “ sudah sini airnya biar mama ambilin dan gelasnya mama pegangin, biar gak tumpah.

Kemudian pada saat si anak bertambah besar, dan berusaha untuk minum dari gelas air mineral, dia berusaha untuk menusukkan sedotan dan berkali-kali dicoba namun belum berhasil juga... apa yang kita lakukan? apakah kita memotivasinya untuk terus melakukan sampai bisa atau “Susah ya..? sini sayang biar mama bantu ya....”

Yes..! akhirnya andalah yang menusukkan sedotan tsb ke gelas air mineral. Semua intervensi inilah yang ditangkap anak bahwa ia tidak boleh melakukannya sendiri(mandiri) melainkan harus selalu dibantu karena kamu tidak mampu melakukannya.

Begitu selanjutnya kemudian orang tua meminta pengasuh anak kita untuk menjadi pelayan bagi mereka, mau makan diambilkan, mau minum diambilkan, pakai sepatu di pakaikan, pakai baju dipakaikan padahal mereka sudah sampai pada usia yang mestinya sudah bisa melakukannya sendiri. Menurut anda proses apa ini namannya...? Pemandirian anak atau pemandulan kemandirian anak...? Jadi wajarlah jika seorang anak pada akhirnya jadi tidak mandiri. Orang tualah yang ternyata telah mengajarkannya tanpa sadar.

Perhatikanlah dengan mudahnya kita memberi uang parkir setiap kali mobil kita berhenti di depan toko. Dan perhatikanlah akibatnya begitu menjamurnya tukan parkir liar di mana-mana mulai dari remaja pengangguran bahkan sekarang sudah merambah pada anak-anak. Mereka semua hidupnya tidak mandiri karena kitalah yang telah mendidiknya tanpa sadar. Terlepas dari itu semua...

Begitulah tradisi kita yang sudah diwariskan secara turun-temurun untuk membuat segalanya serba mudah bagi anak kita, untuk membuat segalanya serba tersedia, segalanya diperoleh tanpa usaha, mau pakai ada, mau apa saja tinggal minta.

Tapi aneh bin ajaib kenapa akhirnya kita mengeluh sendiri....mana kala kita menemukan anak kita begitu tergantung pada orang tuanya. Mengapa anak saya kok tidak mandiri...?

Oke kalo begitu mulai hari ini ajari mereka untuk ikut terlibat melakukan prosesnya sebelum bisa melakukan sesuatu. Kalau mau makan harus ambil piring sendiri, menyendokan nasi sendiri, makan sendiri tanpa disuapi. Mulai diajak terlibat dalam berbagai aktivitas rumah tangga. Jangan lagi mendapatkan segala sesuatu dengan mudah melainkan harus melalui usaha. Mau dapat mainan harus beli, agar bisa beli harus punya uang, untuk bisa punya uang harus menabung dan bekerja membantu ibu, atau membuat sesuatu yang dijual kepada orang tua.

Bapak dan ibu yang saya cintai, begitulah yang saya pelajari dari teman saya yang anaknya terlihat begitu mandiri. Dia betul-betul memberikan kesempatan sejak kecil pada anaknya untuk bisa melakukan dan mencoba sendiri berbagai hal sampai bisa, tidak perduli rumahnya kotor dan berantakan. Dan saat ini saya sedang menerapkan model pendidikan yang sama pada anak-anak saya dirumah.

Betul sekali memang tidak mudah...., karena mungkin kita dulupun lebih kurang di didik dengan pola yang tidak memandirikan kita oleh orang tua kita. Ya tentunya dengan berbagai alasan seperti, kasihan masih kecil, tega bener sich sama anak kok kecil-kecil sudah di minta cuci mobil papa untuk bisa dapat uang, dan beribu alasan lainnya.

Sekali lagi pilihan sepenuhnya ada di tangan kita masing-masing, tapi setidaknya kita telah mengetahui sebab dari seorang anak menjadi tidak mandiri.

Anak otak kanan yang lambat menyelesaikan tugas


Para orang tua yang berbahagia, suatu hari saya pernah kedatangan orang tua yang mengeluhkan anaknya yang disekolahnya tidak pernah bisa menyelesaikan tugas gurunya dengan tepat waktu, bila ujian iapun tidak mampu untuk menyelesaikannya, atau diselesaikan tapi melompat-lompat. Saya khawatir sekali jika dia nanti jadi anak gagal....lalu ibu ini terdiam tidak melanjutkan kata-katanya.

Kami berusaha untuk menenangkan sang ibu, lalu kami jelaskan bahwa menurut pengalaman kami, anak tidak bisa menyelesaikan tugas disekolah dapat disebabkan oleh beberapa hal: pertama adalah karena si anak mengalami kesulitan dalam memahami tugas yang diberikan gurunya karena gurunya kurang sabar menjelaskannya.

Kemungkinan kedua adalah karena si anak memiliki kecenderungan berpikir dengan menggunakan otak kanannya. Apa artinya.... ya seorang anak otak kanan adalah anak yang mendapatkan berkah dari Tuhan memiliki kemampuan untuk menjadi orang-orang kreatif yang mungkin berprofesi dibidang seni ataupun sains.

Dalam kasus ini seorang anak yang lebih dominan otak kanannya, pada saat berpikir dia lebih banyak mengunakan kemampuan kreatif dan seninya, oleh karena kemampuan seni yang utama maka pekerjaannya sangat tergantung pada inspirasi dan ketenangan jiwanya, semakin tenang maka semakin cepat ia menyelesaikannya. Seorang seniman lukis misalnya dalam melukis sebuah mahakarya, tidak dapat dibatasi oleh waktu dalam menyelesaikannya, melainkan hanya tenggat waktu maksimum penyelesaian karya yang bisa disebutkan. Seperti juga seorang seniman, oleh karena itu seorang anak otak kanan yang mengerjakan tugas tanpa batas waktu akan mampu menyelesaikannya dengan baik, bahkan terkadang lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan.

Berdasarkan penelitian, anak yang cenderung berotak kanan adalah anak yang otak belahan kanannya lebih dominan dalam berpikir ketimbang belahan otak kirinya. Dan Roger Sperry soerang peneliti otak menemukan bahwa otak manusia bagian berpikir tingkat tinggi terbagi kedalam 2 belahan yakni belahan kiri dan belahan kanan sesuai letak posisi tangan kita. Masing-masing orang memiliki kecenderungan dominan yang berbeda dalam berpikir. Dari kedua belahan tersebut ada anak yang lebih dominan menggunakan otak kanan, ada yang seimbang tapi ada juga yang lebih dominan otak kiri.

Jika anda tidak percaya bahwa otak memiliki kecenderungan dominan bereaksi, mari kita lakukan test bersama, begini caranya... coba angkat kedua tangan anda.... kemudian goyang-goyangkan dan lemaskan jemari-jemari tangan anda...., lalu kemudian pertemukan jemari tangan kanan dengan jemari tangan kiri sehingga persis dalam posisi orang yang hendak berdoa atau memohon. Nah setelah jemari anda saling menggenggam coba lihat posisi ibu jari yang berada paling atas....apakah ibu jari tangan kiri atau ibu jari tangan kanan...? Jika ibu jari kiri yang di atas maka anda adalah dominan otak kiri dan sebaliknya.

Lalu lakukan test ini pada orang lain baik keluarga, anak-anak atau teman-teman kita, lakukan hal yang sama...., perhatikan apakah hasilnya sama pada setiap orang... Jika tidak itulah cara sederhana untuk membuktikan bahwa otak kita memiliki kecederungan yang berbeda dalam berpikir.

Anak yang dominan otak kanannya cenderung memiliki kemampuan kreatifitas yang sangat tinggi, dan biasanya bekerja berdasarkan insting dan inspirasi. Hal inilah yang menyebabkan seorang anak otak kanan sulit sekali dengan target-target waktu yang ketat.

Jadi saya jelaskan pada ibu ini, bahwa gejala ini sebenarnya sangat lumrah pada anak yang cenderung dominan otak kanannya. Mengapa anak otak kanan sering tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikannya dengan batas waktu yang ketat, karena pikirannya bekerja berdasarkan inspirasi, imaginasi dan seni. Oleh karena itu jika kita ingin seorang anak otak kanan mampu menyelesaikan sesuatu maka jangan berikan target waktu, tapi berikanlah ketenangan dan kebebasan untuk menyelesaikannya. maka ia bisa lebih cepat selesai.

Orang-orang yang saat ini berprofesi di bidang-bidang yang mengandalkan kreatifitas sebagian besar masih memiliki ciri-ciri seperti ini, ya ciri-ciri yang dibawanya sejak kecil sebagai anak yang dominan menggunakan otak kanannya.

Dan setelah mendengarkan penjelasan tersebut si ibu ini nampak menjadi jauh lebih tenang dan mengangguk-anggukan kepalanya. Semoga saja ini pertanda positif bagi orang tua ini juga bagi anaknya.

Mengapa anak otak kanan cenderung terlambat bicara


Para orang tua yang berbahagia, suatu hari saya pernah kedatangan orang tua yang mengeluhkan bahwa anaknya sudah berusia 1 tahun setengah, kok belum bicara-bicara...? Orang tua ini merasa bahwa dibandingkan anak-anak seusianya, katanya anaknya kok terlambat bicara. Padahal menurut medis anak saya pendengaran normal, bahkan panjang lidahnyapun normal-normal saja. Tapi kenapa ya anak saya kok tidak mau bicara. Begitu tanya orang tua ini dengan penuh kekhawatiran.

Lalu kami jelaskan bahwa menurut pengalaman kami anak yang belum mau bicara bisa disebabkan karena dua hal, yang pertama adalah yang bersifat psikologis, misalnya kurangnya stimulasi atau dengan kata lain orang-orang disekitarnya kurang banyak bicara alias pendiam, atau bisa juga karena anaknya terlalu sensitif sementara orang tuanya terlalu keras, sehingga anak lebih suka diam. Dalam kasus ini biasanya anak bukan tidak bisa bicara melainkan dia lebih memilih diam.

Kemungkinan kedua adalah si anak memiliki kecenderungan berpikir dengan menggunakan otak kanannya. Apa artinya.... ya seorang anak otak kanan adalah anak yang mendapatkan berkah dari Tuhan memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pencipta dan penemu hal-hal baru di dunia ini baik dalam bidang seni ataupun bidang sains.

Berdasarkan penelitian anak yang cenderung berotak kanan adalah anak yang otak belahan kanannya lebih dominan dalam berpikir ketimbang belahan otak kirinya. Dan Roger Sperry seorang peneliti otak menemukan bahwa otak manusia bagian berpikir tingkat tinggi terbagi ke dalam 2 belahan yakni belahan kiri dan belahan kanan sesuai letak posisi tangan kita. Masing-masing orang memiliki kecenderungan dominan yang berbeda dalam berpikir. Dari kedua belahan tersebut ada anak yang lebih dominan menggunakan otak kanan, ada yang seimbang tapi ada juga yang lebih dominan otak kiri.

Anak yang dominan otak kanannya cenderung lebih mengembangkan organ-organ yang berhubungan dengan imajinasi dan kemampuan visualisasi, bukannya kemampuan berbahasa. Oleh karena kemampuan visualisasinya yang lebih dulu berkembang maka kemampuan anak dalam bicara menjadi seolah-olah terlambat, bila dibandingkan dengan anak-anak yang dominan otak kirinya.

Jadi saya jelaskan pada ibu ini, bahwa sebisa mungkin orang-orang di rumah lebih banyak mengajaknya bicara meskipun ia belum merespon. Dan yang kedua saya melihat anak ibu ini dominan otak kanannya. Sebenarnya anak ibu ini tidak perlu menjalani terapi wicara selama lebih satu tahun seperti ini, karena nanti pada waktunya ia akan bisa bicara dengan sendirinya tanpa perlu diterapi. Tapi jika ibu ingin meneruskan terapinya juga tidak masalah, tapi perlu ibu tahu jika anak ibu nanti bisa bicara itu bukan karena terapinya melainkan karena memang sudah waktunya untuk bisa bicara.

Kira-kira 5 bulan setelah bertemu saya, orang tua dari anak tersebut menghubungi saya lagi dengan sangat gembira menyampaikan anaknya kini sudah bisa bicara, dan benar dia bisa bicara dengan sendirinya tanpa perlu di terapi.

Para orang tua yang berbahagia dimanapun anda berada, Bisa jadi apa yang anda alami dengan anak anda mirip dengan cerita ibu ini. Oleh karena itu janganlah panik jika anak kita terlambat bicara, pasti satu saat dia akan bisa bicara karena memang kita ini adalah species yang pasti bisa bicara.

Anak Otak Kanan yang bermasalah dengan sekolahnya


Para orang tua yang berbahagia....banyak sekali anak-anak yang sulit mengikuti pelajaran di sekolah...., jika hal ini terjadi bisa jadi anak anda adalah anak yang lebih dominan otak kanannya.

Apa sih anak otak kanan, ya seorang anak yang mendapatkan berkah dari Tuhan memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pencipta dan penemu hal-hal baru di dunia ini baik dalam bidang seni ataupun bidang sains.

Berdasarkan penelitian anak yang cenderung berotak kanan adalah anak yang otak belahan kanannya lebih dominan dalam berpikir ketimbang belahan otak kirinya. Dan Roger Sperry seorang peneliti otak menemukan bahwa otak manusia bagian berpikir tingkat tinggi terbagi ke dalam 2 belahan yakni belahan kiri dan belahan kanan sesuai letak posisi tangan kita. Masing-masing orang memiliki kecenderungan dominan yang berbeda dalam berpikir. Dari kedua belahan tersebut ada anak yang lebih dominan menggunakan otak kanan, ada yang seimbang tapi ada juga yang lebih dominan otak kiri.

Jika anda tidak percaya bahwa otak memiliki kecenderungan dominan bereaksi, mari kita lakukan test bersama, begini caranya... coba angkat kedua tangan anda.... kemudian goyang-goyangkan dan lemaskan jemari-jemari tangan anda...., lalu kemudian pertemukan jemari tangan kanan dengan jemari tangan kiri sehingga persis dalam posisi orang yang hendak berdoa atau memohon. Nah setelah jemari anda saling menggenggam coba lihat posisi ibu jari yang berada paling atas....apakah ibu jari tangan kiri atau ibu jari tangan kanan...? Jika ibu jari kiri yang di atas maka anda adalah dominan otak kiri dan sebaliknya.

Lalu lakukan test ini pada orang lain baik keluarga, anak-anak atau teman-teman kita, lakukan hal yang sama...., perhatikan apakah hasilnya sama pada setiap orang... Jika tidak itulah cara sederhana untuk membuktikan bahwa otak kita memiliki kecederungan yang berbeda dalam berpikir.

Nah mengapa sering kali banyak anak yang bermasalah dengan belajar di sekolah...., karena berdasarkan penelitian ternyata kebanyakan sistem belajar mengajar di sekolah masih menggunakan pola dan cara yang dominan otak kiri. Sementara otak kanan dan otak kiri manusia memiliki perbedaan cara kerja yang sangat jauh dan bahkan saling bertentangan, atau mungkin lebih tepatnya otak kanan dan kiri ada untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing.

Namun sayangnya hal ini tidak banyak diketahui oleh para orang tua dan guru di sekolah. Sehingga anak-anak yang seharusnya lahir sebagai para pencipta, desainer, seniman dan ilmuan, mereka semua malah dianggap anak-anak yang gagal. Padahal mereka hanyalah anak-anak yang membutuhkan pendekatan cara belajar otak kanan saja. (di jelaskan dalam buku The Right Brain Child in Left Brain World, by Jefrey Fred & Laurie Parson, Penerbit Karisma-edisi terjemahan)

Prilaku mereka yang sering dianggap bermasalah justru sebenarnya adalah prilaku khas yang dimiliki oleh seorang anak yang dominan otak kanannya, kita dapat mengenali prilaku ini dengan cepat dan mudah... ya tentunya jika kita merasa bahwa anak-anak kita adalah wakil-wakil dari keinginan Tuhannya dan bukan wakil-wakil dari keinginan kita.

Mari kita simak terus pembahasan anak otak kanan di blog ini agar kita bisa membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam diri anak-anak kita di rumah dan di kelas.