Kira2 lima tahun yg lalu seorang ibu datang
ketempat kami di Bogor bersama anaknya, Nia namanya, yg waktu itu masih diduduk
di Bangku kelas 3 SMP untuk berkonsultasi, dengan masalah utama adalah
hampir semua mata pelajaran harus REMEDIAL untuk bisa memenuhi syarat minimal
kelulusan.
Yang menjadi kegundahan hati orang tuanya adalah karena prestasi dan nilai rata2 anaknya disekolah yg katanya pas-pasan, dan sering sekali ikut tes Remedial.
Beliau berkata, meskipun biaya sekolah sekarang sangat mahal, kami sebagai orang tua sebenarnya tidak keberatan asalkan anaknya menunjukkan prestasi yang baik di sekolah.
Lalu selama 2 jam kami mengajak ibunya untuk lebih berfokus pada keunggulan yg dimiliki puterinya ketimbang terus mempermasalahkan kekurangan demi kekurangannya.
Setelah meyakinkan sedemikian rupa akhirnya hari itu juga berhasil kita berhasil menemukan POTENSI EMASNYA yaitu MENARI.
Dari haril pemetahan singkat kami bersama Nia, tidak di ragukan lagi bahwa ia memiliki potensi dan sekaligus mimpi besar untuk menjadi seorang PENARI DUNIA.
Dan tentu saja untuk itu ia harus berusaha dan sy wajibkan untuk berlatih keras dan mencari sekolah tari yg terbaik yg ada di dunia. Waktu itu kami berdua memutuskan aliran tarinya adalah Hiphop Modern yg di padu dengan Balinese Dance.
Singkat cerita persiapan dimulai.... hanya orang tuanya kembali tidak yakin.. karena pengaruh saudara2nya. Beliau curhat...
Piye iki ayah (krn beliau orang Surabaya) aku bingung dan ragu, karena keluargaku itukan sangat akademis sekali rata2 S3, mereka malah memarahi aku katanya apa2an ini kok anak malah disuruh sekolah nari.... Mau jadi apa nanti anakmu dengan narinya itu..
Trus yg kedua adalah Nia kan baru kelas 3 SMP lah kalo sekolah nari di luar negeri kan berarti tidak bisa lagi melanjutkan sekolahnya ke SMA. Kata keluarga saya; kamu ini gimana sich...Bikin malu keluarga besar kita saja. Wong jaman sekarang kok punya anak cuma lulusan SMP.
1 Jam lebih kami berusaha memberikan penjelasan yg meyakinkan, hingga akhirnya sang ibu kembali berani lagi melanjutkan renca bersama anaknya.
Jadilah akhirnya ia mengikuti Audisi Sekolah Tari di New York...., namun sayangnya bekal ilmu tari dari Indonesia belumlah cukup, hingga ia belum berhasil dan kalo tidak salah hanya bisa menempati urutan 3 terakhir dari belakang.
Kembali anak ini pulang ke Indo menemui saya bersama ibunya dan berkata: "Ayah gak usah sekolah di tempat yg terbaik ya.... , di tempat lain saja ya..yg pentingkan sekolah Nari juga. karena tesnya terlalu sulit dan ketat. Aku kayaknya gak sanggup deh..."
Lalu saya katakan; "Nia begini ya...kalau kamu masih mau di bimbing sama ayah." "Now Way !!! kamu tetap harus tembus Sekolah Tari yg terbaik". Kata saya tanpa kompromi.
"But Why ayah...?? Kenapa harus di sekolah terbaik "
"Karena ayah ingin kamu jadi orang nomer satu dan yg terbaik untuk mimpi kamu !!"
"Kenapa harus yg terbaik? Nia masih terus mencecar saya, penasaran.?"
"Nia..., sekarang ayah mau tanya, kamu tahu gak siapa Orang nomer satu di Amerika !!" Dengan cepat dia menjawab; "Obama !! " "Sekarang kamu tahu gak siapa wakilnya...?" tanya saya lagi. Dia kebingungan dan tanya sama maminya.... dan keduanya jadi kebingungan menebak2 dan tidak ketebak.
"Itulah Nia, pentingnya jadi orang nomer satu dan terbaik di bidangnya, kalau jadi orang nomer dua, masih menjabat saja orang-orang tidak ada yg tahu namanya."
Tanpa banyak tanya lagi Nia langsung berkata, Oke ayah aku akan Tembus Sekolah itu dengan cara apapun yg bisa akulakukan.
Jadilah akhirnya anak ini langsung bekerja keras menembus sekolah tersebut yakni dengan mengikuti PROGRAM PELATIHAN AUDISI TARI langsung di New York selama 3 bulan.
Wah ibunya datang lagi kepusingan..., "Piya iki ayah, bagaimana mungkin anak perempuan baru 3 SMP sendirian 3 bulan ada di negeri orang....??"
Mulai muncul berbagai ketakuan.... "nanti bagaimana kalau terjadi.....ini dan itu...."
Hingga akhirnya orang tua dan anak ini buat Agreement di saksikan oleh saya bahwa semua KETAKUTAN orang tuanya itu akan di jaga tidak akan terjadi.
Singkat cerita.... Nia akhirnya Tembus !!!! ia kembali ke Indonesia bertemu saya dengan air mata bangga bercampur haru.... "Ayah aku bisa !!" Katanya. "Yes !" jawab saya ! " kamu pasti bisa Ni Ayah yakin kamu pasti bisa !!! "
"Kenapa ayah begitu yakin aku bisa ?" dia balik bertanya. "Ya karena kamu Anak Indonesia Nia !!!!"
Nia terbelalak kaget dengan jawaban saya. "Memangnya kenapa kalo anak Indonesia ?" dia bertanya penasaran.
"Ya menurut pengalaman Ayah Anak2 Indonesia itu Jarang ada yg gagal jika bersekolah di luar negeri, bahkan sering menjadi papan atas di sekolahnya."
Singkat cerita perjuangan pun dimulai.....
Satu tahun berlalu.... terdengar kabar... Nia masuk 10 besar penari di sekolahnya.
4 tahun berlalu...
Tiba2 di suatu pagi Handphone saya berdering..... di ujung sana terdengar suara seorang perempuan muda dengan nada lembut berkata.
"Ayah ini aku Nia..Aku baru aja sampai di Indonesia, aku ingin ajak ayah makan malam, please bisa ya..., Aku punya banyak sekali cerita untuk ayah, can't wait to see you ayah !"
Segera saja saya menyanggupinya....
Setelah telp di tutup tak sadar mata saya basah karena haru, bahagia dan bangga bercampur aduk di dalamnya. Karena belum lama saya baru saja melihat kisah seorang guru yg di ajak makan malam oleh salah seorang muridnya yg sudah berhasil. Yang berjudul "Its time for dinner".
dialamat sbb: http://www.youtube.com/watch?v=l48FyAmQNOc
Tibalah saat makan malam itu, Nia datang dengan wajah ceria, dengan penampilan seorang seniman. Sambil menemani saya berbuka puasa, Nia bercerita dengan berapi-api tanpa putus saya mendengarkan dia bercerita jadi terbawa semangat pula,
Nia bercerita betapa segala rencana yg dulu pernah dibuatnya bersama saya lima tahun yg lalu satu persatu mulai terwujud jadi kenyataan.... "Manakjubkan ya ayah!!" katanya...mengenang.
Nia juga bercerita jika kini dia tidak hanya menjadi seorang penari yg membawakan tema Hiphop yg dipadu dengan Baliness, melainkan sudah menjadi seorang Director Choreography di usianya yg baru 19 tahun. Dan sedang merintis sebuah Production House di sana.
Saking asiknya mendengarkan ceritanya, tak sadar 2,5 jam waktu berlalu tanpa terasa. Ayahnya sampai iri dan berkata.... "Nia itu kok bisa ya cerita begitu terbukanya sama ayah padahal kalo sama kita dia gak banyak cerita apa-apa lho.."
Ya Tuhan... anak SMP yg dulu nilainya pas-pasan itu kini telah menjadi seorang Director Choreography di Los Angles, California di usianya yg masih amat sangat belia.
Ya Tuhan meskipun aku bukan ayah kandungnya, aku merasa begitu luar biasa bahagianya, bangga sekaligus bersyukur....
Satu anak Indonesia telah berhasil mewujudkan mimpi terbesarnya, yg kelak akan mengharumkan nama keluarga dan bangsanya.
Ya Tuhan aku semakin yakin lagi terhadap kemampuan anak-anak Indonesia !
Ya Tuhan Doa ku.... Semoga kelak akan ada lebih banyak lagi anak2 Indonesia yg berhasil meraih mimpi2nya untuk menjadi anak-anak kelas dunia yg membanggakan keluarga dan bangsanya...!
Tentunya semua ini bisa terjadi karena dukungan penuh dari kedua orang tuanya yg luar biasa !
Let's Make Indonesian Strong from our Home !!!
Indonesia pada hakikatnya merupakan kumpulan dari keluarga yg tersebar dilebih dari 12.000 pulau yg ada di Nusantara. Apabila keluarga2 ini kuat, maka Indonesia akan menjadi Bangsa & Negara yg Kuat dgn sendirinya tanpa perlu konsep yg berbelit-belit & biaya yg membebani negara. Pastikan keluarga & sanak famili kita di seluruh tanah air telah bergabung dlm GERAKAN MEMBANGUN INDONESIA YANG KUAT DARI KELUARGA. Kalau bukan kita, siapa lagi ? Kalau bukan sekarang, kapan lagi ?
SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk
Friday, May 24, 2013
Saturday, May 18, 2013
PRILAKU ANAK BERMASALAH ITU BUKAN BAWAAN LAHIR MELAINKAN DI CONTOHKAN OLEH ORANG TUANYA
PRILAKU SEORANG ANAK ITU ADALAH CERMIN DAN GAMBARAN PRILAKU ORANG TUANYA, PERHATIKAN SAJA JIKA KITA SEDANG MEMBAWA ANAK KITA BERMAIN DI TEMPAT UMUM, KITA BISA LIHAT LEBIH JELAS SEPERTI APA PRILAKU ANAKNYA MAKA SEPERTI ITULAH KURANG LEBIH PRILAKU ORANG TUANYA.
Monday, May 13, 2013
CARA DAN SYARAT MENJADI RELAWAN UNTUK MENDAPATKAN CD GRATIS KOMPILASI TALKSHOW AYAH EDY
1. Temukan dan hubungi Daftar Relawan yang bersedia membagi CD di daerah anda atau KOTA TERDEKAT DENGAN TEMPAT TINGGAL KITA
2. Ajukan permohonan by email or in box dan Janji pada permberi CD juga pada Tuhan bahwa kita bersedia menjadi Relawan yang akan membagi-bagikan kembali untuk daerah sekitarnya atau kota terdekat sebanyak minimal 50 orang..
3. Setelah terima CDnya segera kirimkan Alamat lengkap anda dan email anda Ke: ayahindonesia@gmail.com atau ayahedymanagement@gmail.com (email ini tidak menerima permohon CD, melainkan hanya digunakan untuk konfirmasi pemberitahuan anda sudah menerima CDnya)
4. Foto CDnya segera bersama anda (jika anda bersedia) dan up Load gambarnya di FB ini (Ayah Edy Parenting or Komunitas Ayah Edy)
5. Menepati Janji Bersedia menggandakan kembali via CD atau membagikan via flash disk atau media apapun secara GRATIS tanpa ada biaya apapun.
Jika anda merasa diri sebagai orang yang amanah dan memenuhi syarat di atas silahkan MENGHUBUNGI LANGSUNG
Relawan kami berikut ini :
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=437982866292462&set=a.328825740541509.75792.100002422579530&type=1&theater
atau
http://www.facebook.com/pages/Komunitas-AYAH-EDY/141694892568287?fref=ts
Saturday, May 11, 2013
DENGAR/DOWN LOAD TALKSHOW AYAH EDY SECARA ON LINE, MAU ?
Nah ini dia satu lagi Relawan kita, yang sudah kami hubungi langsung untuk kami bisa membantu secara financial agar CDnya bisa di sajikan secara on line dan bisa di dengar via internet oleh siapa saja dan kapan saja termasuk juga di unduh secara gratis.
Namun dengan rendah hati dan berbagai alasan bantuan finansial yang kami tawarkan di tolak secara halus.
Bersyukurlah negeri kita masih memiliki para relawan dan masih memiliki Mas Gus, salah satunya;
Berikut link yang beliau sampaikan kepada kami;
Heylinux Averroes Gustaf Newmen Koleksi talkshow ayahedy 2007-2013 kunjungi
www.ayahedyguru.tk
Mohon bersabar jika judulnya masih belum lengkap, karena Mas Gus masih perlu waktu untuk meng up loadnya.
Sekali lagi Terimakasih yang tak terhingga kepada para relawan kita yang menjadi Kepanjangan Tangan Tuhan untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik dari Keluarga.
" SESUNGGUHNYA TUHAN TIDAK AKAN MENGUBAH NASIB SUATU BANGSA JIKA BANGSA ITU SENDIRI TIDAK BERUSAHA UNTUK MENGUBAHNYA"
SEBUAH PUISI INDAH UNTUK KITA RENUNGKAN
SELALU ANTARA ENGKAU DAN TUHAN,
Orang kerap kali tak bernalar, tak logis dan egois
Biar begitu, maafkanlah mereka
Bila engkau baik,orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif egois,
Biar begitu, tetaplah bersikap baik
Bila engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu
Biar begitu, tetaplah jujur dan berterus terang
Bila engkau sukses, engkau akan mendapatkan teman-teman palsu dan teman-teman sejati
Biar begitu, tetaplah meraih sukses
Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun,mungkin akan dihancurkan seseorang dalam semalaman
Biar begitu, tetaplah membangun
Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri hati dan dengki
Biar begitu, tetaplah berbahagia dan temukan kedamaian hati
Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin akan dilupakan orang keesokan harinya
Biar begitu, tetaplah lakukan kebaikan
Berikan pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak akan pernah cukup
Biar begitu, tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik
Ketahuilah, pada akhirnya
Sesungguhnya ini semua antara engkau dan Tuhan
Tidak pernah antara engkau dan mereka
by : Mother TERESA
Orang kerap kali tak bernalar, tak logis dan egois
Biar begitu, maafkanlah mereka
Bila engkau baik,orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif egois,
Biar begitu, tetaplah bersikap baik
Bila engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu
Biar begitu, tetaplah jujur dan berterus terang
Bila engkau sukses, engkau akan mendapatkan teman-teman palsu dan teman-teman sejati
Biar begitu, tetaplah meraih sukses
Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun,mungkin akan dihancurkan seseorang dalam semalaman
Biar begitu, tetaplah membangun
Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri hati dan dengki
Biar begitu, tetaplah berbahagia dan temukan kedamaian hati
Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin akan dilupakan orang keesokan harinya
Biar begitu, tetaplah lakukan kebaikan
Berikan pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak akan pernah cukup
Biar begitu, tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik
Ketahuilah, pada akhirnya
Sesungguhnya ini semua antara engkau dan Tuhan
Tidak pernah antara engkau dan mereka
by : Mother TERESA
BANYAK SAHABAT KOMUNITAS AYAH EDY ATAU MASYARAKAT UMUM YANG MUNGKIN DIBUAT BINGUNG DENGAN ADANYA SITUS BERIKUT INI;
Berikut alamat Situsnya:
http://www.facebook.com/
dan berikut ini asal usul sumber beritanya:
http://www.kusnandarputra.blogspot.com/
Lalu beberapa sahabat komunitas meminta penjelasan langsung dari kami, agar katanya tidak membingungkan khususnya bagi yang kami2 yang awam.
Nah berikut penjelasan dari kami:
Sahabat komunitas tercinta, Begini kira2 analoginya;
Ada 5 pendaki gunung, PENDAKI A, B, C, D dan E.
Pendaki A sudah sampai di puncak paling atas dari GUNUNG tersebut, hingga bisa melihat terbitnya sinar matahari kebenaran secara utuh, sementara 4 pendaki lainnya masih berada di bawah kaki gunung sehingga mereka suka berdebat dan berbantahan mengenai posisi TERBITNYA Sinar Matahari Kebenaran.
Mengapa karena mereka belum bisa melihat letak terbitnya Sinar Matahari kebenaran secara Utuh dan lebih suka berdebat dan merasa dirinyalah yang paling benar ?
Mari kita ikuti ceritanya,
Pendaki B yang berangkat dari sisi utara gunung mengatakan bahwa Matahari itu ada di sisi kirinya
Pendaki C yang berangkat dari sisi selatan gunung barkata sebaliknya Matahari itu adanya di sisi kanannya.
Pendaki D yang berangkat dari sisi Timur Gunung yakin bahwa Matahari itu ada di sisi belakangnya
Sementara Pendaki E yang mendaki dari sisi Barat Gunung berteriak; ANDA SEMUA SALAH, YANG BENAR ADALAH SAYA !!! DAN ANDA SEMUA PERLU TAHU BAHWA MATAHARI ITU ADA PERSIS DI HADAPAN SAYA. Bukan di belakang, dikiri atau di kanan.
Mereka terus saja berdebat...melalu Hanphone dan Black Barry mereka masing2 tentang letak Posisi Terbitnya Sinar Matahari Kebenaran karena mereka belum sampai ke puncak gunung, mereka lebih sibuk berdebat akhirnya ke 4 pendaki ini tidak pernah bisa mencapai puncak tertinggi gunung untuk bisa melihat SINAR MATAHARI KEBENARAN YANG SESUNGGUHNYA.
Sementara PENDAKI A yang sudah sampai di atas puncak tertinggi gunung tersebut hanya bisa tersenyum sendiri dan memahami mengapa mereka masih saja suka berbantah-bantahan dan berdebat di kaki gunung tersebut dan masing2 yakin bahwa DIALAH yang PALING BENAR..
Mari kita renungkan dan mari kita pahami maknanya.
Berikut juga ada petikan dari sebuah puisi yang Indah:
http://www.facebook.com/
Tuesday, April 16, 2013
SEKOLAH PARA BINATANG
-- SEBUAH RENUNGAN UNTUK PARA ORANG TUA, GURU & PETINGGI NEGERI --
Syahdan di tengah-tengah hutan belantara Sumatera berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status “disamakan dengan manusia”, sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia.
Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah standar dan telah ditetapkan untuk manusia.
Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah ; setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 pada masing-masing mata pelajaran.
Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah; Terbang, Berenang, Memanjat, Berlari dan Menyelam
Mengingat bahwa sekolah ini berstatus “Disamakan dengan manusia”, maka para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainya, sehingga berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana; mulai dari; Elang, Tupai, Bebek, Rusa dan Katak
Proses belajar mengajarpun akhirnya dimulai, terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu;
Elang sangat unggul dalam pelajaran terbang; dia memiliki kemampuan yang berada diatas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger didahan sebuah pohon yang tertinggi.
Tupai sangat unggul dalam pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu.
Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang, dengan gayanya yang khas ia berhasil menyebrangi dan mengitari kolam yang ada didalam hutan tersebut.
Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari; kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di sana. Larinya tidak hanya cepat melainkan sangat indah untuk dilihat.
Lain lagi dengan Katak, ia sangat unggul dalam pelajaran menyelam; dengan gaya berenangnya yang khas, katak dengan cepatnya masuk kedalam air dan kembali muncul diseberang kolam.
Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa dimata pelajaran tertentu. Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah.
Inilah awal dari semua kekacauan.itu; Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya.
Burung elang mulai belajar cara memanjat, berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja ia gagal; dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam.
Tupaipun demikian; ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasil bukannya bisa terbang tapi tubuhnya malah penuh dengan luka dan memar disana-sini.
Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti pelajaran berlari meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang; tapi ia kelihatan hampir putus asa pada saat mengikuti pelajaran memanjat, berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh, luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu.
Demikian juga dengan binatang lainya; meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik.
Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya;
perlahan-lahan Elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya; tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik, sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat. Katak juga tidak kuat lagi menyelam karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya.
Dan yang paling malang adalah Rusa, ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang, karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.
Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah itu; dan yang sangat menyedihkan adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah.
Mereka tidak bisa lagi hidup dilingkungan dimana mereka dulu tinggal, ya.... kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang dimilikinya..
Tidakkah kita menyadari bahwa sistem persekolahan manusia yang ada saat inipun tidak jauh berbeda dengan sistem persekolahan binatang dalam kisah ini. Kurikulum sekolah telah memaksa anak-anak kita untuk menguasai semua mata pelajaran dan melupakan kemampuan unggul mereka masing-masing.
Kurikulum dan sistem persekolahan telah memangkas kemampuan alami anak-anak kita untuk bisa berhasil dalam kehidupan menjadi anak yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.
Akankah nasib anak-anak kita kelak juga mirip dengan nasib para binatang yang ada disekolah tersebut?
By Thomas Amstrong 1990
Modify by Ayah Edy 2003
Keluarga Indonesia yg peduli pendidikan anak bangsa,
Bila kita kaji lebih jauh produk dari sistem pendidikan kita saat ini bahkan jauh lebih menyeramkan dari apa yang digambarkan oleh fabel tersebut; bayangkan betapa para lulusan dari sekolah saat ini lebih banyak hanya menjadi pencari kerja dari pada pencipta lapangan kerja, betapa banyak para lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang digelutinya selama bertahun-tahun, sebuah pemborosan waktu, tenaga dan biaya.
Betapa para lulusan sekolah tidak tahu akan dunia kerja yang akan dimasukinya, jangankan kemapuan keahlian, bahkan pengetahuan saja sangatlah pas-pasan, betapa hampir setiap siswa lanjutan atas dan perguruan tinggi jika ditanya apa kemampuan unggul mereka, hampir sebagian besar tidak mampu menjawab atau menjelaskannya.
Begitupun setelah mereka berhasil mendapatkan pekerjaan, berapa banyak dari mereka yang tidak memberikan unjuk kerja yang terbaik serta berapa banyak dari mereka yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaanya.
Belum lagi kita bicara tentang carut marut dunia pendidikan yang kerapkali dihiasi tidak hanya oleh tawuran pelajar melainkan juga tawuran mahasiswa. Luar biasa “Maha Siswa” julukan yang semestinya dapat dibanggakan dan begitu agung karena Mahasiswa adalah bukan siswa biasa melainkan siswa yang “Maha”. Namun nyatanya ya Tawuran juga.
Apa yang menjadi biang keladi dari kehancuran sistem pendidikan di negeri ini...?
1. Sistem yang tidak menghargai proses
Belajar adalah proses dari tidak bisa menjadi bisa. Hasil akhir adalah buah dari kerja setiap proses yang dilalui. Sayangnya proses ini sama sekali tidak dihargai; siswa tidak pernah dinilai seberapa keras dia berusaha melalui proses. Melainkan hanya semata-mata ditentukan oleh ujian akhir.
2. Sistem yang hanya mengajari anak untuk menhafal bukan belajar dalam arti sesunguhnya
Apa beda belajar dengan menghafal; Produk dari sebuah pembelajaran kemampuan atau keahlian yang dikuasai terus menerus. Contoh yang paling sederhana adalah pada saat anak belajar sepeda. Mulai dari tidak bisa menjadi bisa, dan setelah bisa ia akan bisa terus sepanjang masa. Sementara produk dari menghafal adalah ingatan jangka pendek yang dalam waktu singkat akan cepat dilupakan.
Perbedaan lain bahwa belajar membutuhkan waktu lebih panjang sementara menghafal bisa dilakukan hanya dalam 1 malam saja.
Padahal pada hakekatnya Manusia dianugrahi susunan otak yang paling tinggi derajadnya dibanding mahluk manapun didunia.
Fungsi tertinggi dari otak manusia tersebut disebut sebagai cara berpikir tingkat tinggi atau HOT; yang direpresentasikan melalui kemampuan kreatif atau bebas mencipta serta berpikir analisis-logis; sementara fungsi menghafal hanyalah fungsi pelengkap.
Keberhasilan seorang anak kelak bukan ditentukan oleh kemampuan hafalannya melainkan oleh kemampuan kreatif dan berpikir kritis analisis.
3. Sistem sekolah yang berfokus pada nilai
Nilai yang biasanya diwakili oleh angka-angka biasanya dianggap sebagai penentu hidup dan matinya seorang siswa.
Begitu sakral dan gentingnya arti sebuah nilai pelajaran sehingga semua pihak mulai guru, orang tua dan anak akan merasa rasah dan stress jika melihat siswanya mendapat nilai rendah atau pada umumnya dibawah angka 6 (enam).
Setiap orang dikondisikan untuk berlomba-lomba mencapai nilai yang tinggi dengan cara apapun tak perduli apakah si siswa terlihat setangah sekarat untuk mencapainya.
Nyatanya toh dalam kehidupan nyata, nilai pelajaran yang begitu dianggung-anggungkan oleh sekolah tersebut tidak berperan banyak dalam menentukan sukses hidup seseorang.
Dan lucunya sebagian besar kita dapati anak yang dulu saat masih bersekolah memiliki nilai pas-pasan atau bahkan hancur, justru lebih banyak meraih sukses dikehidupan nyata.
Mari kita ingat-ingat kembali saat kita masih bersekolah dulu; betapa bangganya seseorang yang mendapat nilai tinggi dan betapa hinanya anak yang medapat nilai rendah; dan bahkan untuk mempertegas kehinaan ini, biasanya guru menggunakan tinta dengan warna yang lebih menyala dan mencolok mata.
Sementara jika kita kaji lagi; apakah sesungguhnya representasi dari sebuah nilai yang diagung-agungkan disekolah itu...?
Nilai sesungguhnya hanyalah representasi dari kemampuan siswa dalam “menghapal” pelajaran dan “subjektifitas” guru yang memberi nilai tersebut terhadap siswanya.
Meskipun kerapkali guru menyangkalnya, cobalah anda ingat-ingat; berapa lama anda belajar untuk mendapatkan nilai tersebut; apakah 3 bulan...? 1 bulan..? atau cukup hanya semalam saja..?
Kemudian coba ingat-ingat kembali, jika dulu saat bersekolah, ada diantara anda yang pernah bermasalah dengan salah seorang guru; apakah ini akan mempengaruhi nilai yang akan anda peroleh..?
Jadi wajar saja; meskipun kita banyak memiliki orang “pintar” dengan nilai yang sangat tinggi; negeri ini masih tetap saja tertinggal jauh dari negara-negara maju. Karena pintarnya hanya pintar menghafal dan menjawab soal-soal ujian.
4. Sistem pendidikan yang Seragam-sama untuk setiap anak yang berbeda-beda
Siapapun sadar bahwa bila kita memiliki lebih dari 1 atau 2 orang anak; maka bisa dipastikan setiap anak akan berbeda-beda dalam berbagai hal.
Andalah yang paling tahu perbedaan-perbedaanya. Namun sayangnya anak yang berbeda tersebut bila masuk kedalam sekolah akan diperlakukan secara sama, diproses secara sama dan diuji secara sama.
Menurut hasil penelitian Ilmu Otak/Neoro Science jelas-jelas ditemukan bahwa satiap anak memiliki kelebihan dan sekaligus kelemahan dalam bidang yang berbeda-beda.
Mulai dari Instingtif otak kiri dan kanan, Gaya Belajar dan Kecerdasan Beragam. Sementara sistem pendidikan seolah-oleh menutup mata terhadap perbedaan yang jelas dan nyata tersebut yakni dengan mengyelenggaraan sistem pendidikan yang sama dan seragam.
Oleh karena dalam setiap akhir pembelajaran akan selalu ada anak-anak yang tidak bisa/berhasil menyesuaikan dengan sistem pendidikan yang seragam tersebut.
5. Sekolah adalah Institusi Pendidikan yang tidak pernah mendidik
Sekilas judul ini tampaknya membingungkan; tapi sesungguhnya inilah yang terjadi pada lembaga pendidikan kita.
Apa beda mendidik dengan mengajar...?
Ya.. tepat!, mendidik adalah proses membangun moral/prilaku atau karakter anak sementara mengajar adalah mengajari anak dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa.
Produk dari pengajaran adalah terbangunnya cara berpikir kritis dan kreatif yang berhubungan dengan intelektual sementara produk dari pendidikan adalah terbangunnya prilaku/akhlak yang baik.
Ya..! memang betul dalam kurikulum ada mata pelajaran Agama, Moral Panca Sila, Civic dan sebagainya namun dalam aplikasinya disekolah guru hanya memberikan sebatas hafalan saja; bukan aplikasi dilapangan.
Demikian juga ujiannya dibuat berbasiskan hafalan; seperti hafalan butir-butir Panca Sila dsb. Tidak berdasarkan aplikasi siswa dilapangan seperti praktek di panti-panti jompo; terjun menjadi tenaga sosial, dengan sistem penilaian yang berbasiskan aplikasi dan penilaian masyarakat (user base evaluation).
Jadi wajar saja jika anak-anak kita tidak pernah memiliki nilai moral yang tertanam kuat di dalam dirinya; melainkan hanya nilai moral yang melintas semalam saja dikepalanya dalam rangka untuk dapat menjawab soal-soal ujian besok paginya.
Mari kita renungkan bersama !
by ayah edy
Syahdan di tengah-tengah hutan belantara Sumatera berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status “disamakan dengan manusia”, sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia.
Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah standar dan telah ditetapkan untuk manusia.
Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah ; setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 pada masing-masing mata pelajaran.
Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah; Terbang, Berenang, Memanjat, Berlari dan Menyelam
Mengingat bahwa sekolah ini berstatus “Disamakan dengan manusia”, maka para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainya, sehingga berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana; mulai dari; Elang, Tupai, Bebek, Rusa dan Katak
Proses belajar mengajarpun akhirnya dimulai, terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu;
Elang sangat unggul dalam pelajaran terbang; dia memiliki kemampuan yang berada diatas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger didahan sebuah pohon yang tertinggi.
Tupai sangat unggul dalam pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu.
Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang, dengan gayanya yang khas ia berhasil menyebrangi dan mengitari kolam yang ada didalam hutan tersebut.
Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari; kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di sana. Larinya tidak hanya cepat melainkan sangat indah untuk dilihat.
Lain lagi dengan Katak, ia sangat unggul dalam pelajaran menyelam; dengan gaya berenangnya yang khas, katak dengan cepatnya masuk kedalam air dan kembali muncul diseberang kolam.
Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa dimata pelajaran tertentu. Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah.
Inilah awal dari semua kekacauan.itu; Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya.
Burung elang mulai belajar cara memanjat, berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja ia gagal; dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam.
Tupaipun demikian; ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasil bukannya bisa terbang tapi tubuhnya malah penuh dengan luka dan memar disana-sini.
Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti pelajaran berlari meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang; tapi ia kelihatan hampir putus asa pada saat mengikuti pelajaran memanjat, berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh, luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu.
Demikian juga dengan binatang lainya; meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik.
Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya;
perlahan-lahan Elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya; tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik, sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat. Katak juga tidak kuat lagi menyelam karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya.
Dan yang paling malang adalah Rusa, ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang, karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.
Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah itu; dan yang sangat menyedihkan adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah.
Mereka tidak bisa lagi hidup dilingkungan dimana mereka dulu tinggal, ya.... kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang dimilikinya..
Tidakkah kita menyadari bahwa sistem persekolahan manusia yang ada saat inipun tidak jauh berbeda dengan sistem persekolahan binatang dalam kisah ini. Kurikulum sekolah telah memaksa anak-anak kita untuk menguasai semua mata pelajaran dan melupakan kemampuan unggul mereka masing-masing.
Kurikulum dan sistem persekolahan telah memangkas kemampuan alami anak-anak kita untuk bisa berhasil dalam kehidupan menjadi anak yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.
Akankah nasib anak-anak kita kelak juga mirip dengan nasib para binatang yang ada disekolah tersebut?
By Thomas Amstrong 1990
Modify by Ayah Edy 2003
Keluarga Indonesia yg peduli pendidikan anak bangsa,
Bila kita kaji lebih jauh produk dari sistem pendidikan kita saat ini bahkan jauh lebih menyeramkan dari apa yang digambarkan oleh fabel tersebut; bayangkan betapa para lulusan dari sekolah saat ini lebih banyak hanya menjadi pencari kerja dari pada pencipta lapangan kerja, betapa banyak para lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang digelutinya selama bertahun-tahun, sebuah pemborosan waktu, tenaga dan biaya.
Betapa para lulusan sekolah tidak tahu akan dunia kerja yang akan dimasukinya, jangankan kemapuan keahlian, bahkan pengetahuan saja sangatlah pas-pasan, betapa hampir setiap siswa lanjutan atas dan perguruan tinggi jika ditanya apa kemampuan unggul mereka, hampir sebagian besar tidak mampu menjawab atau menjelaskannya.
Begitupun setelah mereka berhasil mendapatkan pekerjaan, berapa banyak dari mereka yang tidak memberikan unjuk kerja yang terbaik serta berapa banyak dari mereka yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaanya.
Belum lagi kita bicara tentang carut marut dunia pendidikan yang kerapkali dihiasi tidak hanya oleh tawuran pelajar melainkan juga tawuran mahasiswa. Luar biasa “Maha Siswa” julukan yang semestinya dapat dibanggakan dan begitu agung karena Mahasiswa adalah bukan siswa biasa melainkan siswa yang “Maha”. Namun nyatanya ya Tawuran juga.
Apa yang menjadi biang keladi dari kehancuran sistem pendidikan di negeri ini...?
1. Sistem yang tidak menghargai proses
Belajar adalah proses dari tidak bisa menjadi bisa. Hasil akhir adalah buah dari kerja setiap proses yang dilalui. Sayangnya proses ini sama sekali tidak dihargai; siswa tidak pernah dinilai seberapa keras dia berusaha melalui proses. Melainkan hanya semata-mata ditentukan oleh ujian akhir.
2. Sistem yang hanya mengajari anak untuk menhafal bukan belajar dalam arti sesunguhnya
Apa beda belajar dengan menghafal; Produk dari sebuah pembelajaran kemampuan atau keahlian yang dikuasai terus menerus. Contoh yang paling sederhana adalah pada saat anak belajar sepeda. Mulai dari tidak bisa menjadi bisa, dan setelah bisa ia akan bisa terus sepanjang masa. Sementara produk dari menghafal adalah ingatan jangka pendek yang dalam waktu singkat akan cepat dilupakan.
Perbedaan lain bahwa belajar membutuhkan waktu lebih panjang sementara menghafal bisa dilakukan hanya dalam 1 malam saja.
Padahal pada hakekatnya Manusia dianugrahi susunan otak yang paling tinggi derajadnya dibanding mahluk manapun didunia.
Fungsi tertinggi dari otak manusia tersebut disebut sebagai cara berpikir tingkat tinggi atau HOT; yang direpresentasikan melalui kemampuan kreatif atau bebas mencipta serta berpikir analisis-logis; sementara fungsi menghafal hanyalah fungsi pelengkap.
Keberhasilan seorang anak kelak bukan ditentukan oleh kemampuan hafalannya melainkan oleh kemampuan kreatif dan berpikir kritis analisis.
3. Sistem sekolah yang berfokus pada nilai
Nilai yang biasanya diwakili oleh angka-angka biasanya dianggap sebagai penentu hidup dan matinya seorang siswa.
Begitu sakral dan gentingnya arti sebuah nilai pelajaran sehingga semua pihak mulai guru, orang tua dan anak akan merasa rasah dan stress jika melihat siswanya mendapat nilai rendah atau pada umumnya dibawah angka 6 (enam).
Setiap orang dikondisikan untuk berlomba-lomba mencapai nilai yang tinggi dengan cara apapun tak perduli apakah si siswa terlihat setangah sekarat untuk mencapainya.
Nyatanya toh dalam kehidupan nyata, nilai pelajaran yang begitu dianggung-anggungkan oleh sekolah tersebut tidak berperan banyak dalam menentukan sukses hidup seseorang.
Dan lucunya sebagian besar kita dapati anak yang dulu saat masih bersekolah memiliki nilai pas-pasan atau bahkan hancur, justru lebih banyak meraih sukses dikehidupan nyata.
Mari kita ingat-ingat kembali saat kita masih bersekolah dulu; betapa bangganya seseorang yang mendapat nilai tinggi dan betapa hinanya anak yang medapat nilai rendah; dan bahkan untuk mempertegas kehinaan ini, biasanya guru menggunakan tinta dengan warna yang lebih menyala dan mencolok mata.
Sementara jika kita kaji lagi; apakah sesungguhnya representasi dari sebuah nilai yang diagung-agungkan disekolah itu...?
Nilai sesungguhnya hanyalah representasi dari kemampuan siswa dalam “menghapal” pelajaran dan “subjektifitas” guru yang memberi nilai tersebut terhadap siswanya.
Meskipun kerapkali guru menyangkalnya, cobalah anda ingat-ingat; berapa lama anda belajar untuk mendapatkan nilai tersebut; apakah 3 bulan...? 1 bulan..? atau cukup hanya semalam saja..?
Kemudian coba ingat-ingat kembali, jika dulu saat bersekolah, ada diantara anda yang pernah bermasalah dengan salah seorang guru; apakah ini akan mempengaruhi nilai yang akan anda peroleh..?
Jadi wajar saja; meskipun kita banyak memiliki orang “pintar” dengan nilai yang sangat tinggi; negeri ini masih tetap saja tertinggal jauh dari negara-negara maju. Karena pintarnya hanya pintar menghafal dan menjawab soal-soal ujian.
4. Sistem pendidikan yang Seragam-sama untuk setiap anak yang berbeda-beda
Siapapun sadar bahwa bila kita memiliki lebih dari 1 atau 2 orang anak; maka bisa dipastikan setiap anak akan berbeda-beda dalam berbagai hal.
Andalah yang paling tahu perbedaan-perbedaanya. Namun sayangnya anak yang berbeda tersebut bila masuk kedalam sekolah akan diperlakukan secara sama, diproses secara sama dan diuji secara sama.
Menurut hasil penelitian Ilmu Otak/Neoro Science jelas-jelas ditemukan bahwa satiap anak memiliki kelebihan dan sekaligus kelemahan dalam bidang yang berbeda-beda.
Mulai dari Instingtif otak kiri dan kanan, Gaya Belajar dan Kecerdasan Beragam. Sementara sistem pendidikan seolah-oleh menutup mata terhadap perbedaan yang jelas dan nyata tersebut yakni dengan mengyelenggaraan sistem pendidikan yang sama dan seragam.
Oleh karena dalam setiap akhir pembelajaran akan selalu ada anak-anak yang tidak bisa/berhasil menyesuaikan dengan sistem pendidikan yang seragam tersebut.
5. Sekolah adalah Institusi Pendidikan yang tidak pernah mendidik
Sekilas judul ini tampaknya membingungkan; tapi sesungguhnya inilah yang terjadi pada lembaga pendidikan kita.
Apa beda mendidik dengan mengajar...?
Ya.. tepat!, mendidik adalah proses membangun moral/prilaku atau karakter anak sementara mengajar adalah mengajari anak dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa.
Produk dari pengajaran adalah terbangunnya cara berpikir kritis dan kreatif yang berhubungan dengan intelektual sementara produk dari pendidikan adalah terbangunnya prilaku/akhlak yang baik.
Ya..! memang betul dalam kurikulum ada mata pelajaran Agama, Moral Panca Sila, Civic dan sebagainya namun dalam aplikasinya disekolah guru hanya memberikan sebatas hafalan saja; bukan aplikasi dilapangan.
Demikian juga ujiannya dibuat berbasiskan hafalan; seperti hafalan butir-butir Panca Sila dsb. Tidak berdasarkan aplikasi siswa dilapangan seperti praktek di panti-panti jompo; terjun menjadi tenaga sosial, dengan sistem penilaian yang berbasiskan aplikasi dan penilaian masyarakat (user base evaluation).
Jadi wajar saja jika anak-anak kita tidak pernah memiliki nilai moral yang tertanam kuat di dalam dirinya; melainkan hanya nilai moral yang melintas semalam saja dikepalanya dalam rangka untuk dapat menjawab soal-soal ujian besok paginya.
Mari kita renungkan bersama !
by ayah edy
Sunday, April 14, 2013
PIDATO ANAK SMA YG MENGGETARKAN DUNIA
SEANDAINYA ....
ya seandainya saja sistem pendidikan kita di Indonesia bisa mencetak lulusan SMA yg bisa berpikir seperti ini; berpidato seperti anak ini dan bukan seperti di gambar ini sebagai perayaan bagi kelulusannya...
Mungkin negeri ini bisa segera sembuh dari penyakitnya....
BERIKUT PIDATO ANAK SMA YANG GETARKAN DUNIA ITU DALAM ACARA KELULUSANNYA
Pidato Kelulusan Pelajar SMA yang menggetarkan dan menggugat kesadaran kita atas makna sistem pendidikan, pidato ini diucapkan oleh Erica Goldson, pelajar di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010.
“Saya lulus, Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya.
Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya.
Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam MELAKUKAN APA YG DIPERINTAHKAN GURU kepada saya dan juga dalam hal MENGIKUTI SISTEM YANG ADA.
Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini.
Saya akan pergi, di musim dingin ini dan menuju tahap rencana berikut yang akan datang kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.
Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – BUKAN SEORANG PEKERJA. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya.
Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara sangat baik.
Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.
Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai untuk selalu mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu.
Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?
Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi dan tujuan yg jelas, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan dan kewajiban untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, memenuhi keinginan orang lain, sekolah dan mungkin orang tua saya, bukan untuk belajar dalam arti yg sesungguhnya.
Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”
Tayangan Video Pidato tersebut dapat juga di lihat di sini : http://americaviaerica.blogspot.com/p/speech.html
Pidato Kelulusan Pelajar SMA yang menggetarkan dan menggugat kesadaran kita atas makna sistem pendidikan, pidato ini diucapkan oleh Erica Goldson, pelajar di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010.
“Saya lulus, Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya.
Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya.
Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam MELAKUKAN APA YG DIPERINTAHKAN GURU kepada saya dan juga dalam hal MENGIKUTI SISTEM YANG ADA.
Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini.
Saya akan pergi, di musim dingin ini dan menuju tahap rencana berikut yang akan datang kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.
Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – BUKAN SEORANG PEKERJA. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya.
Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara sangat baik.
Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.
Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai untuk selalu mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu.
Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?
Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi dan tujuan yg jelas, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan dan kewajiban untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, memenuhi keinginan orang lain, sekolah dan mungkin orang tua saya, bukan untuk belajar dalam arti yg sesungguhnya.
Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”
Tayangan Video Pidato tersebut dapat juga di lihat di sini : http://americaviaerica.blogspot.com/p/speech.html
FINLANDIA MEMILKI SISTEM PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA
Ah..... tawuran pelajar.... nyontek berjamaah.... bocoran soal Ujian Nasional.....Perkosaan anak2 sekolah dasar.... Pelecehan guru pada siswa....Bulliying kakak kelas pada adik kelas.....
Ada apa sich dengan sistem pendidikan di Indonesia ???
Tadi malam setelah kami selesai siaran di Sindo TV, sempat berbincang2 dengan Chantall Della Concetta, presenter acara tsb melanjutkan obrolan kita.
Ada apa sich dengan sistem pendidikan di Indonesia ???
Tadi malam setelah kami selesai siaran di Sindo TV, sempat berbincang2 dengan Chantall Della Concetta, presenter acara tsb melanjutkan obrolan kita.
Saya bercerita
tentang sistem pendidikan di FINLANDIA pada Chantall, yang diakui
menerapkan sistem Pendidikan (Sekolah) terbaik di dunia.
Tiba2 saja Chantall menimpali, katanya dulu ia semasa masih di Metro TV pernah dikirim meliput di Finlandia,
"Wah ayah...katanya..., penduduknya luar biasa.... santun ramah, dan yg menakjubkan katanya jika kita parkir mobil dimana saja tidak perlu di kunci, dan jika ada benda2 berharga bisa ditinggal di mobil tanpa perlu khawatir ada yg mencurinya...." Begitu katanya....
Jadi ternyata SISTEM PENDIDIKAN itu yg menentukan potret sebuah bangsa, jadi jika potret bangsanya Amburadul seperti ini, pasti sistem Pendidikan dan para penyelenggaranya juga amburadul
Begitulah kira-kira kesimpulan dari obrolan kami malam itu di Studio Sindo TV.
Lalu seperti apa sich SISTEM PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA ITU ???
Berikut penuturan dari Syed Abdul Rahman Alsagoff
Foundar Arabic School in Singapore
Sekolah tertua yg didirikan oleh Swasta di Singapura; Sumber; Channel News Asia , 6 Mei 2009
Mengatakan bahwa ternyata di Finlandia itu tidak ada:
1. Akreditasi (Pemeringkatan) sekolah oleh pemerintah, yg ada akreditasi oleh Masyarakat; Jadi masyarakat melihat langsung apakah anak mereka yg didik di sekolah tersebut menjadi semakin baik, beretika dan cerdas atau malah sebaliknya. Jadi sekolah tidak dinilai oleh satu pihak saja, yakni Pemerintah, melalui Stnadar tunggal yg bisa saja keliru (dan jika keliru maka seluruh bangsa akan menganggung akibatnya) ; melainkan langsung oleh usernya yakni masyarakat. Jadi sekolah berusaha untuk menjadi yg terbaik dengan memberikan bukti langsung kepada masyarakat yg menilainya. Fungsi pemerintah lebih sebagai konselor atau Konsultan Pembimbing bagi sekolah dan mengembangkan sistem sekolahnya bukan Lembaga Akreditasi. Mencatat sekolah2 yg dianggap berhasil oleh masyarakat dan membantu sekolah2 yg belum dianggap berhasil.
2. Tidak ada kurikulum tunggal yg ditetapkan oleh Pemerintah pusat, Setiap sekolah diberikan kebebasan mengembangkan kurikulum sendiri sesuai dengan potensi unggul daerahnya masing2. Jadi sepertinya jika sekolah itu di terletak di Bali mungkin yg lebih di utamakan adalah kurikulum pengembangan Budaya, Seni Tari, Ukir, Pahat dan sejnisnya. Jika dikalimantan mungkin tentang Batuan berharga, Gambut, Batubara, dan Budidaya Hutan, Jika di Maluku mungkin Perikanan dan budidaya kelautan dan sejenisnya. Wow !!! Pastinya akan banyak para ahli lokal yg pandai memanfaatkan potensi daerahnya.
3. Tidak ada standar ujian negara, melain berbasiskan pada proses hasil pembelajaran dari hari ke hari dari masing-masing anak, tanpa dibandingkan melalui sistem Rangking. Jadi tujuan pembelajaran adalah untuk menjadikan anak yg terbaik sesuai bidang yg diminati dan kemampuannya sendiri-sendiri bukan untuk mengejar peringkat dalam satu kelas atau satu sekolah. (karena prinsip pendidikan adalah mencerdaskan semua anak bukan untuk Merangking mereka dari yg terpintar hingga yg terbodoh)
4. Dan yg paling mengesankan adalah tidak ada standar Nasional KECUKUPAN MINIMAL untuk Nilai masing2 pelajaran (karena tiap anak memiliki kecepatan belajar yg berbeda2 dan kemampuan berbeda untuk bidang pelajaran yg berbeda).
Yang ada justru STANDAR NASIONAL ETIKA MORAL ANAK. Jadi setiap sekolah wajib mendidik setiap murid mereka memenuhi STANDAR ETIKA MORAL NASIONAL sebagai Pondasi Dasar membantuk Bangsa Yang Kuat dan Cerdas.
Jadi meskipun sekolah mereka memiliki kurikulum yg berbeda2 dengan spesialisasi kecakapan Bidang yg berbeda di sesuaikan dengan potensi daerahnya masing2 Namun setiap sekolah harus bisa menjamin bahwa setiap muridnya memiliki ETIKA MORAL YG STANDAR SECARA NASIONAL.
Wah.... sepertinya kok tidak terlalu sulit ya untuk mengikuti dan menjadi Negara dengan Sistem Pendidikan Terbaik di Dunia. Tentunya jika kita mau !!
Tiba2 saja Chantall menimpali, katanya dulu ia semasa masih di Metro TV pernah dikirim meliput di Finlandia,
"Wah ayah...katanya..., penduduknya luar biasa.... santun ramah, dan yg menakjubkan katanya jika kita parkir mobil dimana saja tidak perlu di kunci, dan jika ada benda2 berharga bisa ditinggal di mobil tanpa perlu khawatir ada yg mencurinya...." Begitu katanya....
Jadi ternyata SISTEM PENDIDIKAN itu yg menentukan potret sebuah bangsa, jadi jika potret bangsanya Amburadul seperti ini, pasti sistem Pendidikan dan para penyelenggaranya juga amburadul
Begitulah kira-kira kesimpulan dari obrolan kami malam itu di Studio Sindo TV.
Lalu seperti apa sich SISTEM PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA ITU ???
Berikut penuturan dari Syed Abdul Rahman Alsagoff
Foundar Arabic School in Singapore
Sekolah tertua yg didirikan oleh Swasta di Singapura; Sumber; Channel News Asia , 6 Mei 2009
Syed Abdul Rahman Alsagoff
Mengatakan bahwa ternyata di Finlandia itu tidak ada:
1. Akreditasi (Pemeringkatan) sekolah oleh pemerintah, yg ada akreditasi oleh Masyarakat; Jadi masyarakat melihat langsung apakah anak mereka yg didik di sekolah tersebut menjadi semakin baik, beretika dan cerdas atau malah sebaliknya. Jadi sekolah tidak dinilai oleh satu pihak saja, yakni Pemerintah, melalui Stnadar tunggal yg bisa saja keliru (dan jika keliru maka seluruh bangsa akan menganggung akibatnya) ; melainkan langsung oleh usernya yakni masyarakat. Jadi sekolah berusaha untuk menjadi yg terbaik dengan memberikan bukti langsung kepada masyarakat yg menilainya. Fungsi pemerintah lebih sebagai konselor atau Konsultan Pembimbing bagi sekolah dan mengembangkan sistem sekolahnya bukan Lembaga Akreditasi. Mencatat sekolah2 yg dianggap berhasil oleh masyarakat dan membantu sekolah2 yg belum dianggap berhasil.
2. Tidak ada kurikulum tunggal yg ditetapkan oleh Pemerintah pusat, Setiap sekolah diberikan kebebasan mengembangkan kurikulum sendiri sesuai dengan potensi unggul daerahnya masing2. Jadi sepertinya jika sekolah itu di terletak di Bali mungkin yg lebih di utamakan adalah kurikulum pengembangan Budaya, Seni Tari, Ukir, Pahat dan sejnisnya. Jika dikalimantan mungkin tentang Batuan berharga, Gambut, Batubara, dan Budidaya Hutan, Jika di Maluku mungkin Perikanan dan budidaya kelautan dan sejenisnya. Wow !!! Pastinya akan banyak para ahli lokal yg pandai memanfaatkan potensi daerahnya.
3. Tidak ada standar ujian negara, melain berbasiskan pada proses hasil pembelajaran dari hari ke hari dari masing-masing anak, tanpa dibandingkan melalui sistem Rangking. Jadi tujuan pembelajaran adalah untuk menjadikan anak yg terbaik sesuai bidang yg diminati dan kemampuannya sendiri-sendiri bukan untuk mengejar peringkat dalam satu kelas atau satu sekolah. (karena prinsip pendidikan adalah mencerdaskan semua anak bukan untuk Merangking mereka dari yg terpintar hingga yg terbodoh)
4. Dan yg paling mengesankan adalah tidak ada standar Nasional KECUKUPAN MINIMAL untuk Nilai masing2 pelajaran (karena tiap anak memiliki kecepatan belajar yg berbeda2 dan kemampuan berbeda untuk bidang pelajaran yg berbeda).
Yang ada justru STANDAR NASIONAL ETIKA MORAL ANAK. Jadi setiap sekolah wajib mendidik setiap murid mereka memenuhi STANDAR ETIKA MORAL NASIONAL sebagai Pondasi Dasar membantuk Bangsa Yang Kuat dan Cerdas.
Jadi meskipun sekolah mereka memiliki kurikulum yg berbeda2 dengan spesialisasi kecakapan Bidang yg berbeda di sesuaikan dengan potensi daerahnya masing2 Namun setiap sekolah harus bisa menjamin bahwa setiap muridnya memiliki ETIKA MORAL YG STANDAR SECARA NASIONAL.
Wah.... sepertinya kok tidak terlalu sulit ya untuk mengikuti dan menjadi Negara dengan Sistem Pendidikan Terbaik di Dunia. Tentunya jika kita mau !!
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Seandainya anak kita bersekolah dengan sistem seperti ini sudah kebayang ya akan menjadi sangat luar biasa !!!.
Bersekolah akan menjadi hal yg menarik, menyenangkan sekaligus menantang dan tidak lagi membosankan dan menekan kejiwaan anak.
Dengan adanya Etika Moral yg di Standardisasi secara Nasional pastinya tidak akan ada lagi TAWURAN MASAL PELAJAR, Genk Nero, Genk Motor, dan sejenisnya di Jalanan. Anak akan menjadi respect pada guru dan orang tua, lebih beretika di sekolah, di jalan dan dirumah.
Dengan adanya sistem yg mengedepankan kecakapan individual dan tidak ada lagi sistem ujian dengan standar soal dan jawaban yg sama pastinya tidak akan ada lagi contek mencontek.
Tiap siswa akan tampil menjadi terbaik pada bidang kecakapan masing-masing yg memang menjadi bakat dan kelebihannya dan bukan dipacu dan ditekan untuk meningkatkan nilai atau bidang yg menjadi kelemahanya dengan cara ikut Bimbll atau Les siang, malam, pagi, sore.
Sekaligus masing2 anak-anak, Guru dan Orang Tuanya gak Stress lagi oleh Momok Nasional yg bernama Ujian Nasional, karena mereka di nilai bukan dari Ujian Akhir melainkan melalui proses perkembangan belajar dan penguasaan dari hari ke hari, sekaligus mereka juga dikembangkan berdasarkan kemampuan dan kecakapan bidang masing-masing, tidak untuk di Rangking, yg bisa berakibat sangat memalukan jika mereka termasuk 10 besar dari bawah.
Berkaca pada Syed Abdul Rahman Alsagoff sang Founder Arabic School di Singapore yg mau dan bisa melakukan perubahan dengan memulainya dari dirisendiri dan sekolahnya sendiri, kitapun mestinya bisa melakukan hal yg sama di Indonesia.
Jika Singapura bisa Indonesia Pasti Bisa !!!
Jika kita mau pasti bisa !!! dan bukan sebaliknya, Jika bisa sich sebenarnya kita mau !!!!
Ya Persis memulai perubahan mulai dari diri sendiri dan sekolah kita sendiri !!!
Seandainya anak kita bersekolah dengan sistem seperti ini sudah kebayang ya akan menjadi sangat luar biasa !!!.
Bersekolah akan menjadi hal yg menarik, menyenangkan sekaligus menantang dan tidak lagi membosankan dan menekan kejiwaan anak.
Dengan adanya Etika Moral yg di Standardisasi secara Nasional pastinya tidak akan ada lagi TAWURAN MASAL PELAJAR, Genk Nero, Genk Motor, dan sejenisnya di Jalanan. Anak akan menjadi respect pada guru dan orang tua, lebih beretika di sekolah, di jalan dan dirumah.
Dengan adanya sistem yg mengedepankan kecakapan individual dan tidak ada lagi sistem ujian dengan standar soal dan jawaban yg sama pastinya tidak akan ada lagi contek mencontek.
Tiap siswa akan tampil menjadi terbaik pada bidang kecakapan masing-masing yg memang menjadi bakat dan kelebihannya dan bukan dipacu dan ditekan untuk meningkatkan nilai atau bidang yg menjadi kelemahanya dengan cara ikut Bimbll atau Les siang, malam, pagi, sore.
Sekaligus masing2 anak-anak, Guru dan Orang Tuanya gak Stress lagi oleh Momok Nasional yg bernama Ujian Nasional, karena mereka di nilai bukan dari Ujian Akhir melainkan melalui proses perkembangan belajar dan penguasaan dari hari ke hari, sekaligus mereka juga dikembangkan berdasarkan kemampuan dan kecakapan bidang masing-masing, tidak untuk di Rangking, yg bisa berakibat sangat memalukan jika mereka termasuk 10 besar dari bawah.
Berkaca pada Syed Abdul Rahman Alsagoff sang Founder Arabic School di Singapore yg mau dan bisa melakukan perubahan dengan memulainya dari dirisendiri dan sekolahnya sendiri, kitapun mestinya bisa melakukan hal yg sama di Indonesia.
Jika Singapura bisa Indonesia Pasti Bisa !!!
Jika kita mau pasti bisa !!! dan bukan sebaliknya, Jika bisa sich sebenarnya kita mau !!!!
Ya Persis memulai perubahan mulai dari diri sendiri dan sekolah kita sendiri !!!
ANAK SD DI JEPANG VS SD DI INDONESIA
Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota
Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open
school” di sekolah tersebut. Kalau di
Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di
pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar
perumahan.
Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.
Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.
Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.
Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.
Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.
Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.
Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.
Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.
Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi.
Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.
Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.
Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.
Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.
Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.
Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji.
Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.
Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.
Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.
Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.
Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.
Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.
Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang.
Salam.
Sumber: edukasi.kompasiana.com
Bandingkan dengan SD kita yg masih saja meributkan ANAK-ANAK SD HARUS SUDAH BISA CALISTUNG dan KKM, REMIDIAL, TES dan UAN.
Mari kita renungkan dan mari kita bagikan ke sebanyak2 orang yg semestinya mengetahui hal ini terutama di Kementrian Pendidikan Nasional agar mengetahui hal ini sebagai bahan pembelajaran dan segera melakukan perubahan yg mendasar terhadap sistem persekolahan di Indonesia.
Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.
Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.
Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.
Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.
Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.
Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.
Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.
Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.
Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi.
Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.
Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.
Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.
Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.
Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.
Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji.
Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.
Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.
Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.
Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.
Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.
Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.
Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang.
Salam.
Sumber: edukasi.kompasiana.com
Bandingkan dengan SD kita yg masih saja meributkan ANAK-ANAK SD HARUS SUDAH BISA CALISTUNG dan KKM, REMIDIAL, TES dan UAN.
Mari kita renungkan dan mari kita bagikan ke sebanyak2 orang yg semestinya mengetahui hal ini terutama di Kementrian Pendidikan Nasional agar mengetahui hal ini sebagai bahan pembelajaran dan segera melakukan perubahan yg mendasar terhadap sistem persekolahan di Indonesia.
JELI MEMILIH SEKOLAH YANG COCOK UNTUK ANAK KITA
Hampir semua sekolah saat ini mengklaim dirinya sebagai sekolah unggulan dengan berbagai variasi kata seperti sekolah Teladan, sekolah Favorit, terkareditasi A dsb. namun nyatanya begitu anak kita disekolahkan di sana malah dinyatakan bermasalah atau mogok sekolah.
Yang lebih buruk lagi sekolah yang mengklaim dirinya unggulan tadi tidak mampu membuat semua anak menjadi anak yang unggul dibidangnya masing-masing, padahal untuk bisa masuk saja anak kita harus di saring dulu, dipilih dulu mana yang layak di didik dan tidak layak didik.
Bagaimana mungkin sebuah mesin yang bahan bakunya emas dan hanya menghasilkan emas kembali bisa dikatakan sebagai mesin yang unggul. Bahkan tukang emas di pasar pun sangat pandai untuk membuat perhiasan emas dari bahan baku emas. Justru sebuah mesin yang hebat dan unggul mestinya mampu membuat sesuatu dari bahan baku yang dianggap tak bernilai/sampah menjadi suatu produk yang bernilai jual seperti emas.
Oleh karena itu agar kita tidak bingung dan terjebak pada persaingan promosi Sekolah ada baiknya kita membaca ciri-ciri sekolah yang benar-benar unggul yang nantinya bisa dipastikan akan membuat anak-anak kita benar-benar unggul di kehidupan nyata.
Berikut ini ada sebuah tulisan yang mungkin baisa membantu kita semua para orang tua yang hendak mencari sekolah bagi putra-putrinya.
I. Hasil Penelitian Pada Sistem Sekolah yang ada pada umumnya:
Berpusat pada Jasmani saja, bukan pada Jasmani dan Rohani (Holistic) kurangnya pemahaman mengenai aspek rohani yang meliputi fungsi-fungsi kerja otak dan psikologi perkembangan anak dll.
Berpusat pada kepentingan guru bukan murid (yang penting sdh ngajar tak perduli murid mengerti atau tidak) Pertanyaan yang lazim diantara para guru dan kepala sekolah....eh sudah sampai dimana ngajarnya....? wah aku mesti ngebut nich waktunya sudah hampir habis.
Berpusat pada target materi/kurikulum bukan dinamika kelas (yang penting target selesai, tak perduli kelas pasif, ribut atau murid bolos sekalipun)
Berpusat pada pemahaman fungsi otak yang terbatas (IQ) bukan pada Multiple Intelligence (Kecerdasan Unik tanpa batas) Pengakuan anak pandai yang sangat terbatas pada kemampuan Eksakta & Verbal. “Jadi wajar bila dalam tiap kelas paling-paling Cuma ada 5 orang saja yang pandai dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
Berpusat pada kemampuan Naluri Mengajar bukan pada keahlian profesional mengajar berdasarkan pelatihan. (Sebagian besar guru mengajar berdasarkan naluri dan sedikit pengalaman bagaimana mereka dulu di ajar)
Berpusat pada LOWER ORDER THINKING bukan Highly Order Thinking. (Menghapal soal yang Jawaban sudah ada/dimiliki gurunya)
Berpusat pada 1 Model TES (Verbal Test Model/Schoolastic Aptitude Test) bukan berdasarkan tes beragam yang disesuaikan dengan jenis bidang dan mata pelajaran dan keunggulan spesifik anak.
Berpusat pada hasil akhir (hanya sebagai uji ingatan bukan pada proses perbaikan yang diamati dan dicatat dari waktu kewaktu)
Berpusat pada proses Imaginatif bukan realitas (anak kita tidak pernah mengerti manfaat ilmu yang diajarkan bagi realitas hidup mereka kelak)
Guru sebagai sumber kebenaran (sindrom Teko Cangkir bukan korek api dan kayu bakar) bahwa guru hanya sebagai menuang air bukan pembangkin minat belajar anak.
Berpusat pada ruang dan tempat yang terbatas. (Bayangkan anda duduk disatu ruangan selama berjam-jam, apa lagi kursinya keras) nah itulah yang dialami murid-murid di sekolah kita, duduk dibangku yang keras selama berjam-jam.
Miskinnya pemberian dukungan belajar/Motivasi dari para guru (guru lebih suka memuji yang sukses dari pada membangkitkan yang gagal serta memuji usaha kebangkitannya, terlepas dari kegagalan demi kegagalan (Sindrom Belajar Sepeda) Dalam belajar sepeda kita bisa baru bisa naik sepeda setelah beberapa kali mengalami kegagalan. Tidak pernah ada anak yang langsung bisa naik sepeda tanpa pernah jatuh.
Guru sebagai penguji bukan sebagai pembimbing, Guru merasa tidak bertanggung jawab terhadap kegagalan para siswanya dalam ujian yang dibuatnya sendiri. Salah satu sistem pendidikan di perguruan tinggi di AS. menempatkan dosen sebagai pendamping, sedangkan yang menentukan kelulusan adalah pihak luar sekolah yang juga merupakan user dari si siswa. Kegagalan siswa dalam ujian sekaligus menunjukkan kegagalan dosen dalam mengajar.
Berpusat pada Tradisi bukan Kreatifitas (HOT SPOT – Hot Spot adalah kurikulum dinamis dan pembahasan masalah yang tidak didasarkan pada buku wajib, malainkan dibahas dan dikembangkan dari kasus-kasus yang sedang terjadi disekitar kehidupan anak-anak), Sementara Tradisi Kurikulum adalah statis, selalu sama yang diajarkan dan sering kali tidak relevan dengan perubahan zaman yang dialami siswanya sekarang, sehingga pendidikan dari waktu-kewaktu tidak mengalami kemajuan. Ingat waktu kita masih kecil bagaimana kita diajari menggambar..... apa yang yang kita gambar.....? Pemandangan dengan dua buah gunung, jalan ditengahnya, pohon dipinggir jalan.....? nah itulah salah satu contoh metode “Tradisi” dalam mengajar.
Sekolah Lebih tepat disebut sebagai Lembaga Pengajaran bukan Lembaga Pendidikan, (Mengajar adalah membuat tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa sedangkan Mendidik adalah membuat anak tidak mau menjadi mau.) Sasaran mengajar adalah Ilmu sedangkan sasaran mendidik adalah moral dan karakter. Oleh karena wajar jika banyak anak didik disekolah yang justru memiliki karakter sama seperti orang yang tidak terdidik.
II. Hasil Riset Sistem Sekolah Berbasiskan Multiple Intelligence dan Holistic Learning
Selain memperhatikan unsur-unsur tersebut di atas, ada beberapa poin yang dapat membantu orang tua dalam memilih sekolah yang benar-benar berkualitas bagi masa depan anaknya.
Memiliki Konsep Sekolah yang jelas dan tepat.
Konsep sekolah sangat penting, karena konsep ibarat sebuah “resep” dalam pembuatan kue, Hanya konsep yang tepat sajalah yang akan menghasilkan kue-kue yang berkualitas. Oleh karena itu jenis kue yang sama sering kali memiliki rasa yang berbeda-beda. Hanya kue dengan resep yang tepatlah yang dapat menghasilkan rasa yang lezat dan disukai.
Pemahaman yang mendalam akan konsep sekolah
Seluruh Jajaran mulai dari pimpinan, guru, administrasi secara keseluruhan mengetahui dan memahami Konsep Dasarnya yang dimiliki oleh sekolahnya, dan menerapkan konsep tersebut kepada siswa dalam proses belajar dan mengajar.
Program Pengembangan SDM yang kontinu
Guru-guru yang secara terus-menerus mendapat pelatihan dan program pengembangan yang berhubungan dengan pengetahuan dan kemampuan keahliannya.
Melibatkan Orang tua dan anak secara aktif.
Proses ini akan sangat membantu kedua belah pihak untuk dapat menjamin tersolusikannya setiap permasalahan anak. Karena anak pada dasarnya merupakan produk orang tua dan sekolahnya. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan mengadakan pelatihan pendidikan bagi orang tua, Voluntary Parent, Pemecahan Problem Prilaku Bersama, Kunjungan ke Objek Pembelajaran Luar Sekolah.
Dasar Rekrutmen Guru-guru yang tepat dan ketat.
Pemilihan guru dan para pendidik harus lebih mengutamakan pada Kecintaan kepada anak serta bidang pendidikan bukan pada Gelar-gelar akademik semata, karena banyak sekali guru yang bergelar tinggi tapi justru tidak mencintai bidangnya.
Guru yang memahami psikologi perkembangan anak
Para gurunya memiliki pemahaman yang mendalam mengenai psikologi anak dan pendidikan. (Psikologi Perkembangan, Gaya Belajar, Komunikasi). Dia bisa menjelasakan tidak hanya apa yang diberikan dalam proses pembelajaran akan tetapi juga mengapa dan untuk apa hal itu diberikan pada anak.
Para guru yang menguasai teknik-teknik pengajaran dan pendidikan.
Guru harus menempatkan posisinya sebagai sahabat bagi siswa bukan sebagai instruktur; sehingga siswa merasa belajar dengan sahabatnya bukan dengan instrukturnya.
Sistem dan Pola Pembelajaran yang mengacu pada proses perkembangan kemampuan secara berkala, bukan pada ujian akhir.
Penilaian hasil sebuah pembelajaran adalah proses peningkatan dari waktu-kewaktu kemampuan siswa, mulai dari tidak bisa menjadi bisa dan mahir bukan hanya berbasiskan tes/ujian di akhir masa pembelajaran saja. Sistem ini disebut sebagai “Portfolio Management”
Sistem Pendidikan dan Pengajaran yang memberdayakan kemampuan uggul “unik” setiap anak. Tidak memberlakukan sistem ranking dan rata-rata kelas, akan melainkan menggunakan sistem yang mengidentifikasi keunggulan dan kelemahan masing-masing individu dengan berfokus pada keunggulannya. Sehingga anak paham akan potensi keunggulan dirinya masing-masing.
Tidak menggunakan kelas sebagai satu-satunya tempat belajar.
Setiap tempat adalah tempat belajar yang baik dan sempurna bagi siswa, sementara kelas adalah hanya salah satunya.
Tidak menggunakan papan tulis dan buku sebagai satu-satunya media belajar.
Media belajar yang baik adalah dengan membuat alat pembelajaran sendiri dari lingkungannya dengan mengandalkan ide-ide kreatif dari guru dan siswa. Buku dan papan tulis hanyalah alat bantu untuk memvisualisasikan apa yang diinginkan oleh guru pada siswanya.
Materi yang seimbang antara akademik dan life skill.
Diluar sekolah anak akan menghadapi berbagai macam tantangan kehidupan nyata bagi dirinya saat ini dan kelak setelah dewasa. Oleh karena itu pembelajaran kehidupan dan bagaimana untuk dapat hidup dimasyarakat jauh lebih utama untuk dikuasai oleh para siswa. Bukan hanya mengagung-agungkan nilai EBTA, Sumatif Tes atau IPK, yang nyata-nyata kontribusinya tidak besar bagi sukses kehidupan anak kelak.
Mau menerima masukkan dari luar untuk proses pengembangan sistem pembelajaran.
Jelas bahwa sekolah bukanlah institusi yang paling sempurna dalam mendidik dan mengembangkan kemampuan siswa, oleh karenanya sekolah sangat memerlukan berbagai masukan yang tepat dari berbagai pihak untuk dapat mendidik lebih baik.
Anak antusias, kreatif, kritis dan senang sekali bersekolah dan diajak bicara tentang sekolahnya. Ini merupakah alat ukur yang paling mudah bagi orang tua yang ingin mengetahui apakah sekolah yang dipilihnya cocok untuk anaknya.
Anak kita akan menjadi lebih baik dalam waktu 3 s/d 6 bulan.
Sistem pendidikan yang baik tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk mengembangkan anak didiknya, baik yang berhubungan dengan kemampuan krititis ataupun prilaku terpuji dari anak kita. Perubahan itu seharusnya akan mulai terlihat dan dirasakan oleh orang tua pada semester-semester awal dan terus berlangsung sepanjang periode pembelajaran.
Tanya jawab seputar sekolah:
Apakah sekolah semacam ini ada..? jawabanya ada, namun tidak banyak dan beberapa diantaranya sudah memuat poin di atas meskipun belum seluruhnya.
Dimana..? masih sangat sporadis dan biasanya bentuknya semacam sekolah alam. Diaerah mana saja..? Beberapa diantaranya Sekolah Dasar Insantama di Bogor, Sekolah TK Star Int'l & Insantama Bogor, Sekolah Dasar dan Menengah, Alam Ciganjur, Kandang Jurang Ciputat, Sekolah Semut-semut di Cimanggis, Sekolah Tunas Global di Depok, Sekolah Masterpiece di BSD, Sekolah SD Peradaban di Serang & Cilegon Banten dan Rumah Cendikia di Makassar, Al Mutahhary Bandung dll.
Mungkin masih banyak lagi di daerah lainnya dan biasanya sekolah ini tidak banyak berpromosi yang berlebih-lebihan atau di lebih-lebihkan, karena beritanya sudah menyebar dari orang tua yang sudah menyekolahkan anaknya disana.
Jenjangnya bervariasi mulai TK, SD, SMP hingga SMA.
Semoga sekolah semacam ini akan semakin banyak tersebar diseluruh pelosok tanah air tercinta.
Sistem pendidikan yang baik tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk mengembangkan anak didiknya, baik yang berhubungan dengan kemampuan krititis ataupun prilaku terpuji dari anak kita. Perubahan itu seharusnya akan mulai terlihat dan dirasakan oleh orang tua pada semester-semester awal dan terus berlangsung sepanjang periode pembelajaran.
Friday, February 15, 2013
7 BUKU BEST SELLER YG SUDAH DI TULIS OLEH AYAH EDY
Dapat diperloleh di:
1. Toko buku Gramedia, Gunung Agung, Mizan Book Store dll.
2. Toko buku on line On line book store di Internet.
3. Pembelian on line via face book Karima Edukasi inbox di alamat: http://www.facebook.com/karima.edukasi?ref=ts&fref=ts
4. Pembelian untuk jumlah banyak dan program CSR (Kepedulian Sosial Perusahaan) bisa menghubungi penerbitnya nomernya tertera di blog ini. pada gambar buku masing2.
1. Toko buku Gramedia, Gunung Agung, Mizan Book Store dll.
2. Toko buku on line On line book store di Internet.
3. Pembelian on line via face book Karima Edukasi inbox di alamat: http://www.facebook.com/karima.edukasi?ref=ts&fref=ts
4. Pembelian untuk jumlah banyak dan program CSR (Kepedulian Sosial Perusahaan) bisa menghubungi penerbitnya nomernya tertera di blog ini. pada gambar buku masing2.
Thursday, February 14, 2013
AYAH EDY MENJAWAB 100 PERSOALAN MENDIDIK ANAK
Disadari atau tidak kebanyakan para orang tua belum pernah BERSEKOLAH MENJADI ORANG TUA, itulah mengapa begitu banyak orang tua yg sering kali kesulitan mendidik dan mengatasi prilaku anaknya.
Selain itu faktanya ternyata guru2 kita yg tidak pernah dibekali cara mendidik anak dan mengatasi prilaku murid2 di kelas, melainkan hanya dilatih menyampaikan pelajaran.
Itulah mengapa masih banyak guru yg suka marah, menghukum dan bahkan melempar muridnya dengan benda2 yg ada disekitarnya atau bahkan memukulnya dengan penggaris atau rotan.
Untuk itulah kami berinisiatif untuk membantu para orang tua dan guru melalui penyusunan sebuah buku yg kisah2nya bersumber dari pengalaman mendidik dirumah dan disekolah selama lebih dari 8 tahun.
Buku ini adalah buku yg telah banyak membantu orang tua dan guru dalam proses mendidik anak.
Sudahkan kita memilkinya, mempraktekkannya dengan konsisten ???
Jika belum buku ini bisa diperoleh di Toko Buku Gramedia, Mizan Book Store, Gunung Agung dan toko buku lainnya.
Anak bertanya tentang seks ??
Pada umunya orang tua Indonesia akan mengatakan, Ssssstttt jangan tanya2 itu (seputar seks), itu urusan orang dewasa !!!
Atau... cara lain kita berusaha mengelak atau menghindar apa bila ditanya anak seputar pertanyaan tentang seks.
Pertanyaanya adalah apa yg sebaiknya kita lakukan ??? Perlukah anak2 usia dini diberikan pemahaman seks lebih awal ??
Apakah kita terus akan mentabukan obrolan seputar seks pada anak-anak kita, mengingat bahaya pornografi dan perkosaan anak yg semakin meningkat.
Banyangkan berdasarkan survey komnas HAM anak thn 2002 saja menyatakan bahwa ada 67.3 % pelajar SMP yg disurvey pernah melakukan hubungan seks usia dini bersama temannya. Itu artinya setiap 6 dari setiap 10 anak SMP pernah melakukan hubungan seks pra nikah.
Dapatkah anda membayangkan jika 1 diantara anak tersebut adalah anak kita sendiri ???
Suatu angka yg fantastis dan mengerikan, untuk ukuran negara yg mayoritas umatnya beragama dan berbudaya ketimuran.
Mari kita segera belajar dari buku ataupun seminar yg berhubungan dengan pendidikan seks usia dini agar anak kita siap menjawab setiap pertanyaan yg datang dari anak kita seputar seks dan pornografi dan tidak mencari pada sumber2 lain yg tidak bisa dipertanggungjawabkan.
RENUNGAN AKHIR PEKAN (ILMU TENTANG KEPALA)
Sejak belajar ilmu NLP (Neuro Language Programming) akhirnya saya tahu bahwa Jika “PIKIRAN” atau Kepala kita sehat dan benar, maka seluruh anggota tubuh kita menjadi sehat dan benar.
Rupanya kepala manusia itu ibarat pimpinan di tubuh ini, jadi jika pimpinannya baik dan benar maka seluruh anggota tubuh kita mengikutinya; begitu kira-kira.
Suatu hari seorang teman cerita pada saya; katanya dia dulu sering berurusan dengan Pemda DKI, tapi sekarang kok agak beda ya.., urusannya jadi lebih enak, mudah, cepet, cekatan dan lumayan tepat waktu. “Wah... kok bisa begitu ya, jangan-jangan karena kepalanya sekarang sudah diganti baru yg sehat dan benar”. (itu hanya cerita teman saya lho).
Langsung saja saya teringat kembali dengan ilmu NLP, yang mengatkan “Jika PIKIRAN/Kepala kita benar, maka seluruh anggota tubuh kita menjadi sehat dan benar."
Jika dugaan kawan saya tersebut ternyata benar...., berarti analoginya mungkin setara dengan Jika Kepala/Pimpinannya baik dan benar maka seluruh tubuh dari jajaran yg dipimpinnya jadi baik dan benar.
Berarti juga berlaku kebalikannya ya...?
Jadi sepetinya agar Republik ini menjadi baik dan benar, kita perlu lebih hati2 lagi nih untuk bisa memilih para pimpinan atau kepala di Republik ini. Sekali lagi jika memang asumsi kawan saya itu benar lho...
Tapi pertanyaanya bagaimana jika tidak ada Kepala yg bisa dipercaya untuk bisa dipilih menjadi pimpinan kita ? Apa yg sebaiknya kita lakukan...?
Haruskan kita tidak memilih untuk tidak memilih agar orang yg dipilih tersebut sadar bahwa dirinya tidak pantas untuk dipilih mengepalai Republik tercinta ini ??
Bagaimana menurut keluarga Indonesia ?
ANAK BERMASALAH VS ANAK SUKSES
Jangan Sedih jika anak kita dinyatakan BERMASALAH di sekolah.
Keluarga Indonesia yg berbahagia,
Banyak orang tua yg bertemu dengan saya untuk konsultasi karena anaknya dinyatakan bermasalah disekolah atau bahkan mogok/tidak mau lagi sekolah.
Justru ternyata para orang tua ini akhirnya malah bersyukur, karena masalah itulah akhirnya berhasil menemukan bakat unggul dari anak-anaknya bersama kami.
Sampai2 para orang tua ini berujar;
"Untung ya karena anak kita dibilang bermasalah kami bertekad kuat bertemu Ayah, dan akhirnya malah semakin jelas arahnya dan apa yg kami harus lakukan ke depannya."
Dan sebagian anak-anak kini sedang semangat untuk menuju impian terbesar untuk menjadi Bintang-bintang Indonesia yg bersinar ditingkat dunia.
Diantaranya ada yang:
Menjadi Koreografer International.
Ada yg seadang pra kualifikasi untuk bisa masuk di sekolah Balap Formula satu yg ada di Jerman.
Ada yg ingin sedang menuju sekolah Design sekelas Versace
Ada yg ingin menjadi ahli pesawat Boing.
Ada yg sedang menuju menjadi ahli Terumbu karang.
Ada yg telah menuju menjadi Enginer motor GP
Ada yg menjadi kreator Cerita dan Animasi Manga.
Ada yg ingin menjadi akhli pengelola binatang (Kebun Binatang seperti di San Diago).
Ada yg ingin jadi ahli Perkereta Apian.
Ada yg sudah menjadi Producer dan Presenter.
Ada yg sekarang sudah sekolah Bola di Belanda dan bercita2 membawa Indonesia ke Piala dunia.
Ada yg bercita menjadi Even Organizer International Automotif dan Air Show.
Ada juga yg ingin menjadi Fun Park Designer.
dan banyak lagi lainnya.
Wah.... luar biasa Seru !!!! melihat anak2 ini sedang menggapai mimpi besar mereka masing-masing.
Persis seperti mimpi sekolah kami dulu ingin menjadikan anak-anak Indonesia Bintang-bintang Internasional yang berkilauan mengharumkan nama keluarga dan bangsanya.
Aminn...1000000x
Jangan Khawatir... siapapun juga bisa melakukannya dirumah silahkan temukan caranya yg sudah kami tuangkan dalam bentuk 3 seri CD MEMETAKAN POTENSI UNGGUL ANAK SEJAK USIA DINI. Tersedia di Toko Buku Gramedia, persisnya di Konter EDU GAME, Edu-Torial Audiobook Tek Jan
Selamat bereksplorasi bersama buah hati tercinta !!!
Keluarga Indonesia yg berbahagia,
Banyak orang tua yg bertemu dengan saya untuk konsultasi karena anaknya dinyatakan bermasalah disekolah atau bahkan mogok/tidak mau lagi sekolah.
Justru ternyata para orang tua ini akhirnya malah bersyukur, karena masalah itulah akhirnya berhasil menemukan bakat unggul dari anak-anaknya bersama kami.
Sampai2 para orang tua ini berujar;
"Untung ya karena anak kita dibilang bermasalah kami bertekad kuat bertemu Ayah, dan akhirnya malah semakin jelas arahnya dan apa yg kami harus lakukan ke depannya."
Dan sebagian anak-anak kini sedang semangat untuk menuju impian terbesar untuk menjadi Bintang-bintang Indonesia yg bersinar ditingkat dunia.
Diantaranya ada yang:
Menjadi Koreografer International.
Ada yg seadang pra kualifikasi untuk bisa masuk di sekolah Balap Formula satu yg ada di Jerman.
Ada yg ingin sedang menuju sekolah Design sekelas Versace
Ada yg ingin menjadi ahli pesawat Boing.
Ada yg sedang menuju menjadi ahli Terumbu karang.
Ada yg telah menuju menjadi Enginer motor GP
Ada yg menjadi kreator Cerita dan Animasi Manga.
Ada yg ingin menjadi akhli pengelola binatang (Kebun Binatang seperti di San Diago).
Ada yg ingin jadi ahli Perkereta Apian.
Ada yg sudah menjadi Producer dan Presenter.
Ada yg sekarang sudah sekolah Bola di Belanda dan bercita2 membawa Indonesia ke Piala dunia.
Ada yg bercita menjadi Even Organizer International Automotif dan Air Show.
Ada juga yg ingin menjadi Fun Park Designer.
dan banyak lagi lainnya.
Wah.... luar biasa Seru !!!! melihat anak2 ini sedang menggapai mimpi besar mereka masing-masing.
Persis seperti mimpi sekolah kami dulu ingin menjadikan anak-anak Indonesia Bintang-bintang Internasional yang berkilauan mengharumkan nama keluarga dan bangsanya.
Aminn...1000000x
Jangan Khawatir... siapapun juga bisa melakukannya dirumah silahkan temukan caranya yg sudah kami tuangkan dalam bentuk 3 seri CD MEMETAKAN POTENSI UNGGUL ANAK SEJAK USIA DINI. Tersedia di Toko Buku Gramedia, persisnya di Konter EDU GAME, Edu-Torial Audiobook Tek Jan
Selamat bereksplorasi bersama buah hati tercinta !!!
SEKOLAH DI JEPANG VS SEKOLAH DI INDONESIA ?
Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota
Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open
school” di sekolah tersebut. Kalau di
Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di
pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar
perumahan.
Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.
Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.
Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.
Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.
Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.
Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.
Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.
Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.
Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi.
Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.
Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.
Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.
Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.
Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.
Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji.
Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.
Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.
Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.
Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.
Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.
Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.
Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang.
Salam.
Sumber: edukasi.kompasiana.com
Bandingkan dengan SD kita yg masih saja meributkan ANAK-ANAK SD HARUS SUDAH BISA CALISTUNG dan KKM, REMIDIAL, TES dan UAN.
Mari kita renungkan dan mari kita bagikan ke sebanyak2 orang yg semestinya mengetahui hal ini terutama di Kementrian Pendidikan Nasional agar mengetahui hal ini sebagai bahan pembelajaran dan segera melakukan perubahan yg mendasar terhadap sistem persekolahan di Indonesia.
Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.
Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.
Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.
Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.
Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.
Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.
Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.
Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.
Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi.
Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.
Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.
Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.
Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.
Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.
Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji.
Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.
Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.
Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.
Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.
Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.
Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.
Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang.
Salam.
Sumber: edukasi.kompasiana.com
Bandingkan dengan SD kita yg masih saja meributkan ANAK-ANAK SD HARUS SUDAH BISA CALISTUNG dan KKM, REMIDIAL, TES dan UAN.
Mari kita renungkan dan mari kita bagikan ke sebanyak2 orang yg semestinya mengetahui hal ini terutama di Kementrian Pendidikan Nasional agar mengetahui hal ini sebagai bahan pembelajaran dan segera melakukan perubahan yg mendasar terhadap sistem persekolahan di Indonesia.
SALAH PERSEPSI MENGENAI MENG HOME SCHOOLINGKAN ANAK
KOMENTAR SALAH SATU ORANG TUA:
saya sekarang sebagai orang tua merasa dilema Ayah.dengan kurikulum sekarang seperti ada pemaksaan terhadap anak.mau home schooling tapi kami tinggal didaerah dan mungkin jarang ada atau bahkan belum ada home schooling sama sekali
JAWABAN AYAH EDY:
Home Schooling itu adalah MENYELENGARAKAN sendiri pendidikan dirumah untuk anak-anak kita dan bukan mencari apakah disekitar kita ada Home Schooling lalu memasukkan anak kita ke Home Schooling, disitulah letak kekeliruannya selama ini.
Yang ada adalah KOMUNITAS HOMESCHOOLING yakni para orang tua yg menghomschoolingkan anaknya dirumah, kemudian berkumpul membentuk komunitas untuk belajar bersama dan saling bertukar pikiran dan bersosialisasi. Setiap satu minggu atau satu bulan sekali.
Itu yg kami lakukan di Jakarta.
Kami banyak bertemu keluarga Indonesia yg menghomeschoolingkan anaknya dari daerah2 terpencil, dan mereka sungguh bersyukur anaknya memenuhi semua tanda2 menjadi anak sukses sebagaimana yg kami sering paparkan melalui siaran dan radio talkshow.
RANSEL TEMPUR ANAK SEKOLAH
Bahkan tas tentara pun kalah berat dengan tasnya anak sekolah zaman sekarang. apa saja sich isinya ..??????
Hati-hati !! bukannya jadi "Pintar" jangan2 malah terkena gangguan TULANG BELAKANG.
Mari kita renungkan info berikut ini;
BAHAYA TAS YG TERLALU BERAT BAGI ANAK-ANAK
VIVAnews - Setiap hari saat berangkat ke sekolah, tas pasti barang wajib yang dibawa anak. Isinya bermacam barang. Selain buku sekolah, ransel juga berisi alat olahraga, bekal makan dan air minum hingga laptop dan ponsel. Para ahli mengingatkan, bahaya di balik tas yang terlalu berat.
Anak yang memanggul tas sekolah berat berisiko mengalami cacat tulang belakang yang tak dapat disembuhkan. Tas berat meningkatkan risiko sakit punggung pada saat usia anak 14 tahun dan masa dewasa. Umumnya, kasus kelainan tulang belakang pada siswa termasuk tulang belakang yang melengkung atau scoliosis.
Menurut penelitian di Inggris, sebagian murid secara rutin membawa tas penuh barang hingga ada yang beratnya mencapai 10 kilogram.
Para ahli kesehatan mengatakan, anak-anak yang mengenakan tas terlalu berat akan menghadapi risiko kerusakan dalam jangka panjang bila secara teratur membawa beban lebih dari 15 persen berat badan mereka.
Badan amal BackCare mengklaim, sebagian besar anak membawa tas dengan berat 20 persen berat badan mereka. Beberapa anak bahkan membawa beban hingga 25 persen berat mereka.
Sean McDougall, dari BackCare, mengatakan tas yang kelewat berat sejak usia muda bagaikan "bom waktu kesehatan" di masa depan.
"Jika anak-anak telah merasakan sakit punggung saat usia sangat muda, mereka berpotensi mengalaminya selama 70-80 tahun berikutnya. Ini menghabiskan biaya fisik dan emosi yang sangat besar," katanya seperti dikutip Dailymail.
McDougall menambahkan, tulang anak sedang tumbuh yang mendapat beban berat akan menyebabkan kerusakan permanen."Banyak anak yang membawa tas di salah satu bahu atau membawa mereka di salah satu lekuk siku. Ini menyebabkan tekanan besar pada tulang belakang."
Dia menekankan, banyak anak saat ini menggunakan tas olahraga yang lebih besar daripada satu dekade sebelumnya. Dan, mereka cenderung mengisi tas sampai penuh.
Untuk itu, orang tua memiliki peran untuk mengawasi isi ransel anak."Orang tua harus memastikan anak mengepak apa yang mereka butuhkan dalam tas untuk hari ini saja. Pastikan juga anak menyampirkan tas ransel di kedua bahu."
Hati-hati !! bukannya jadi "Pintar" jangan2 malah terkena gangguan TULANG BELAKANG.
Mari kita renungkan info berikut ini;
BAHAYA TAS YG TERLALU BERAT BAGI ANAK-ANAK
VIVAnews - Setiap hari saat berangkat ke sekolah, tas pasti barang wajib yang dibawa anak. Isinya bermacam barang. Selain buku sekolah, ransel juga berisi alat olahraga, bekal makan dan air minum hingga laptop dan ponsel. Para ahli mengingatkan, bahaya di balik tas yang terlalu berat.
Anak yang memanggul tas sekolah berat berisiko mengalami cacat tulang belakang yang tak dapat disembuhkan. Tas berat meningkatkan risiko sakit punggung pada saat usia anak 14 tahun dan masa dewasa. Umumnya, kasus kelainan tulang belakang pada siswa termasuk tulang belakang yang melengkung atau scoliosis.
Menurut penelitian di Inggris, sebagian murid secara rutin membawa tas penuh barang hingga ada yang beratnya mencapai 10 kilogram.
Para ahli kesehatan mengatakan, anak-anak yang mengenakan tas terlalu berat akan menghadapi risiko kerusakan dalam jangka panjang bila secara teratur membawa beban lebih dari 15 persen berat badan mereka.
Badan amal BackCare mengklaim, sebagian besar anak membawa tas dengan berat 20 persen berat badan mereka. Beberapa anak bahkan membawa beban hingga 25 persen berat mereka.
Sean McDougall, dari BackCare, mengatakan tas yang kelewat berat sejak usia muda bagaikan "bom waktu kesehatan" di masa depan.
"Jika anak-anak telah merasakan sakit punggung saat usia sangat muda, mereka berpotensi mengalaminya selama 70-80 tahun berikutnya. Ini menghabiskan biaya fisik dan emosi yang sangat besar," katanya seperti dikutip Dailymail.
McDougall menambahkan, tulang anak sedang tumbuh yang mendapat beban berat akan menyebabkan kerusakan permanen."Banyak anak yang membawa tas di salah satu bahu atau membawa mereka di salah satu lekuk siku. Ini menyebabkan tekanan besar pada tulang belakang."
Dia menekankan, banyak anak saat ini menggunakan tas olahraga yang lebih besar daripada satu dekade sebelumnya. Dan, mereka cenderung mengisi tas sampai penuh.
Untuk itu, orang tua memiliki peran untuk mengawasi isi ransel anak."Orang tua harus memastikan anak mengepak apa yang mereka butuhkan dalam tas untuk hari ini saja. Pastikan juga anak menyampirkan tas ransel di kedua bahu."
MENUNTUT ANAK MENYADARI DIRI
Coba
sadari dan hitung, betapa banyaknya tuntutan orang tua pada anaknya;
mulai dari rajin sekolah, rajin belajar, nilai tinggi, juara, tidak
membantah, berprilaku baik, hormat pd orang tua dsb...dsb...
Sementara....
"Anak kita tdk pernah meminta bnyk pd orang tuanya, hanya 1 aja; tolong berhenti Marah dan berikan aku contoh/teladan bkn segudang nasehat"
Sementara....
"Anak kita tdk pernah meminta bnyk pd orang tuanya, hanya 1 aja; tolong berhenti Marah dan berikan aku contoh/teladan bkn segudang nasehat"
MEMAKNAI ULANG KEGAGALAN
APAKAH ANDA PERNAH GAGAL ???
Ada fenomena menarik,
Di salahsatu perusahaan terkemuka dunia yg bergerak dibidang kelistrikan dan komputer;
Setiap calon pegawai yg di wawancarai, maka di setiap akhir sesi wawancara akan selalu ditanya, dengan pertanyaan singkat ini;
"Apakah anda pernah mengalami kegagalan dalam hidup?"
Jika orang yg di wawancarai tsb menjawab
"Tidak atau Belum Pernah"
Maka namanya akan segera di coret dari daftar kandidat pegawai, dan dia tidak akan pernah diterima di perusahaan tersebut.
Sewaktu Pimpinan HRD perusahaan tersebut ditanya; "Mengapa di coret?"
Dia menjawab:
" Karena pasti orang tersebut BERBOHONG, itu berarti semua penjelasan yg diberikan selama proses wawancara berlangsung segala data dan informasi yg disampaikannya mungkin palsu dan penuh kebohongan",
"Ketahuilah bahwa kebohongan itu adalah awal dari semua bencana, bagi perusahaan kami".
"Dan kami tidak ingin mengalami bencana di perusahaan dengan menerima orang-orang semacam itu."
Ah....
Sayangnya jika kita lihat berita di koran dan televisi;
Sistem pendidikan kita secara tidak langsung telah melatih anak untuk berbohong, baik individu maupun berjamaah, demi untuk menghindari kegagalan dalam ujian agar mendapatkan nilai ujian yg tinggi, rangking sekolah yg unggulan dan sebagainya. (Menghalalkan segala cara).
Dirumahpun banyak orang tua yg akan marah pada anaknya jika ia mendapat nilai merah atau gagal disekolah, ketimbang menerima kegagalan mereka untuk menemukan sumber penyebab kegagalannya, hingga akhirnya membuat anak takut berkata jujur apa adanya.
Padahal menurut pengalaman kami bisa jadi sumber penyebab kegagalan anak kita bisa jadi karena banyak guru yg kurang pandai mengajar (bukan guru favorit bagi anak dan terpaksa jadi guru), Orang tua yg tidak mampu membimbing anak dengan baik, Sistem sekolah yg terlalu menekan dengan setumpuk mata pelajaran yg harus dikuasai anak, padahal gurunya saja hanya menguasai satu bidang mata pelajaran untuk di ajarkan. dan banyak lagi penyebab lainnya yg bukan bersumber dari si anak sendiri.
Ingatlah bahwa ternyata Para Pimpinan perusahaan terkemuka di dunia sesungguhnya ternyata lebih menyukai orang yg pernah gagal namun jujur mengakuinya, dan bukan orang yg takut gagal dan berbohong.
Karena kebohongan itu adalah awal dari semua kejahatan dimuka bumi ini.
Mari kita renungkan bersama....
Subscribe to:
Posts (Atom)






















