SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Saturday, May 30, 2009

Jeli dalam memilih sekolah yang tepat dan cocok untuk anak kita


Hampir semua sekolah saat ini mengklaim dirinya sebagai sekolah unggulan dengan berbagai variasi kata seperti sekolah Teladan, sekolah Favorit dsb. namun nyatanya begitu anak kita disekolahkan di sana malah dinyatakan bermasalah atau mogok sekolah.

Yang lebih buruk lagi sekolah yang mengklaim dirinya unggulan tadi tidak mampu membuat semua anak menjadi anak yang unggul dibidangnya masing-masing, padahal untuk bisa masuk saja anak kita harus di saring dulu, dipilih dulu mana yang layak di didik dan tidak layak didik.

Bagaimana mungkin sebuah mesin yang bahan bakunya emas dan hanya menghasilkan emas kembali bisa dikatakan sebagai mesin yang unggul. Bahkan tukang emas di pasar pun sangat pandai untuk membuat perhiasan emas dari bahan baku emas. Justru sebuah mesin yang hebat dan unggul mestinya mampu membuat sesuatu dari bahan baku yang dianggap tak bernilai/sampah menjadi suatu produk yang bernilai jual seperti emas.

Oleh karena itu agar kita tidak bingung dan terjebak pada persaingan promosi Sekolah ada baiknya kita membaca ciri-ciri sekolah yang benar-benar unggul yang nantinya bisa dipastikan akan membuat anak-anak kita benar-benar unggul di kehidupan nyata.

Berikut ini ada sebuah tulisan yang mungkin baisa membantu kita semua para orang tua yang hendak mencari sekolah bagi putra-putrinya.


I. Hasil Penelitian Pada Sistem Sekolah yang ada pada umumnya:


Berpusat pada Jasmani saja, bukan pada Jasmani dan Rohani (Holistic) kurangnya pemahaman mengenai aspek rohani yang meliputi fungsi-fungsi kerja otak dan psikologi perkembangan anak dll.

Berpusat pada kepentingan guru bukan murid (yang penting sdh ngajar tak perduli murid mengerti atau tidak) Pertanyaan yang lazim diantara para guru dan kepala sekolah....eh sudah sampai dimana ngajarnya....? wah aku mesti ngebut nich waktunya sudah hampir habis.

Berpusat pada target materi/kurikulum bukan dinamika kelas (yang penting target selesai, tak perduli kelas pasif, ribut atau murid bolos sekalipun)

Berpusat pada pemahaman fungsi otak yang terbatas (IQ) bukan pada Multiple Intelligence (Kecerdasan Unik tanpa batas) Pengakuan anak pandai yang sangat terbatas pada kemampuan Eksakta & Verbal. “Jadi wajar bila dalam tiap kelas paling-paling Cuma ada 5 orang saja yang pandai dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
Berpusat pada kemampuan Naluri Mengajar bukan pada keahlian profesional mengajar berdasarkan pelatihan. (Sebagian besar guru mengajar berdasarkan naluri dan sedikit pengalaman bagaimana mereka dulu di ajar)

Berpusat pada LOWER ORDER THINKING bukan Highly Order Thinking. (Menghapal soal yang Jawaban sudah ada/dimiliki gurunya)

Berpusat pada 1 Model TES (Verbal Test Model/Schoolastic Aptitude Test) bukan berdasarkan tes beragam yang disesuaikan dengan jenis bidang dan mata pelajaran dan keunggulan spesifik anak.

Berpusat pada hasil akhir (hanya sebagai uji ingatan bukan pada proses perbaikan yang diamati dan dicatat dari waktu kewaktu)

Berpusat pada proses Imaginatif bukan realitas (anak kita tidak pernah mengerti manfaat ilmu yang diajarkan bagi realitas hidup mereka kelak)

Guru sebagai sumber kebenaran (sindrom Teko Cangkir bukan korek api dan kayu bakar) bahwa guru hanya sebagai menuang air bukan pembangkin minat belajar anak.

Berpusat pada ruang dan tempat yang terbatas. (Bayangkan anda duduk disatu ruangan selama berjam-jam, apa lagi kursinya keras) nah itulah yang dialami murid-murid di sekolah kita, duduk dibangku yang keras selama berjam-jam.

Miskinnya pemberian dukungan belajar/Motivasi dari para guru (guru lebih suka memuji yang sukses dari pada membangkitkan yang gagal serta memuji usaha kebangkitannya, terlepas dari kegagalan demi kegagalan (Sindrom Belajar Sepeda) Dalam belajar sepeda kita bisa baru bisa naik sepeda setelah beberapa kali mengalami kegagalan. Tidak pernah ada anak yang langsung bisa naik sepeda tanpa pernah jatuh.

Guru sebagai penguji bukan sebagai pembimbing, Guru merasa tidak bertanggung jawab terhadap kegagalan para siswanya dalam ujian yang dibuatnya sendiri. Salah satu sistem pendidikan di perguruan tinggi di AS. menempatkan dosen sebagai pendamping, sedangkan yang menentukan kelulusan adalah pihak luar sekolah yang juga merupakan user dari si siswa. Kegagalan siswa dalam ujian sekaligus menunjukkan kegagalan dosen dalam mengajar.

Berpusat pada Tradisi bukan Kreatifitas (HOT SPOT – Hot Spot adalah kurikulum dinamis dan pembahasan masalah yang tidak didasarkan pada buku wajib, malainkan dibahas dan dikembangkan dari kasus-kasus yang sedang terjadi disekitar kehidupan anak-anak), Sementara Tradisi Kurikulum adalah statis, selalu sama yang diajarkan dan sering kali tidak relevan dengan perubahan zaman yang dialami siswanya sekarang, sehingga pendidikan dari waktu-kewaktu tidak mengalami kemajuan. Ingat waktu kita masih kecil bagaimana kita diajari menggambar..... apa yang yang kita gambar.....? Pemandangan dengan dua buah gunung, jalan ditengahnya, pohon dipinggir jalan.....? nah itulah salah satu contoh metode “Tradisi” dalam mengajar.

Sekolah Lebih tepat disebut sebagai Lembaga Pengajaran bukan Lembaga Pendidikan, (Mengajar adalah membuat tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa sedangkan Mendidik adalah membuat anak tidak mau menjadi mau.) Sasaran mengajar adalah Ilmu sedangkan sasaran mendidik adalah moral dan karakter. Oleh karena wajar jika banyak anak didik disekolah yang justru memiliki karakter sama seperti orang yang tidak terdidik.


II. Hasil Riset Sistem Sekolah Berbasiskan Multiple Intelligence dan Holistic Learning

Selain memperhatikan unsur-unsur tersebut di atas, ada beberapa poin yang dapat membantu orang tua dalam memilih sekolah yang benar-benar berkualitas bagi masa depan anaknya.

Memiliki Konsep Sekolah yang jelas dan tepat.
Konsep sekolah sangat penting, karena konsep ibarat sebuah “resep” dalam pembuatan kue, Hanya konsep yang tepat sajalah yang akan menghasilkan kue-kue yang berkualitas. Oleh karena itu jenis kue yang sama sering kali memiliki rasa yang berbeda-beda. Hanya kue dengan resep yang tepatlah yang dapat menghasilkan rasa yang lezat dan disukai.

Pemahaman yang mendalam akan konsep sekolah
Seluruh Jajaran mulai dari pimpinan, guru, administrasi secara keseluruhan mengetahui dan memahami Konsep Dasarnya yang dimiliki oleh sekolahnya, dan menerapkan konsep tersebut kepada siswa dalam proses belajar dan mengajar.

Program Pengembangan SDM yang kontinu
Guru-guru yang secara terus-menerus mendapat pelatihan dan program pengembangan yang berhubungan dengan pengetahuan dan kemampuan keahliannya.

Melibatkan Orang tua dan anak secara aktif.
Proses ini akan sangat membantu kedua belah pihak untuk dapat menjamin tersolusikannya setiap permasalahan anak. Karena anak pada dasarnya merupakan produk orang tua dan sekolahnya. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan mengadakan pelatihan pendidikan bagi orang tua, Voluntary Parent, Pemecahan Problem Prilaku Bersama, Kunjungan ke Objek Pembelajaran Luar Sekolah.

Dasar Rekrutmen Guru-guru yang tepat dan ketat.
Pemilihan guru dan para pendidik harus lebih mengutamakan pada Kecintaan kepada anak serta bidang pendidikan bukan pada Gelar-gelar akademik semata, karena banyak sekali guru yang bergelar tinggi tapi justru tidak mencintai bidangnya.

Guru yang memahami psikologi perkembangan anak
Para gurunya memiliki pemahaman yang mendalam mengenai psikologi anak dan pendidikan. (Psikologi Perkembangan, Gaya Belajar, Komunikasi). Dia bisa menjelasakan tidak hanya apa yang diberikan dalam proses pembelajaran akan tetapi juga mengapa dan untuk apa hal itu diberikan pada anak.

Para guru yang menguasai teknik-teknik pengajaran dan pendidikan.
Guru harus menempatkan posisinya sebagai sahabat bagi siswa bukan sebagai instruktur; sehingga siswa merasa belajar dengan sahabatnya bukan dengan instrukturnya.


Sistem dan Pola Pembelajaran yang mengacu pada proses perkembangan kemampuan secara berkala, bukan pada ujian akhir.


Penilaian hasil sebuah pembelajaran adalah proses peningkatan dari waktu-kewaktu kemampuan siswa, mulai dari tidak bisa menjadi bisa dan mahir bukan hanya berbasiskan tes/ujian di akhir masa pembelajaran saja. Sistem ini disebut sebagai “Portfolio Management”

Sistem Pendidikan dan Pengajaran yang memberdayakan kemampuan uggul “unik” setiap anak. Tidak memberlakukan sistem ranking dan rata-rata kelas, akan melainkan menggunakan sistem yang mengidentifikasi keunggulan dan kelemahan masing-masing individu dengan berfokus pada keunggulannya. Sehingga anak paham akan potensi keunggulan dirinya masing-masing.

Tidak menggunakan kelas sebagai satu-satunya tempat belajar.
Setiap tempat adalah tempat belajar yang baik dan sempurna bagi siswa, sementara kelas adalah hanya salah satunya.

Tidak menggunakan papan tulis dan buku sebagai satu-satunya media belajar.
Media belajar yang baik adalah dengan membuat alat pembelajaran sendiri dari lingkungannya dengan mengandalkan ide-ide kreatif dari guru dan siswa. Buku dan papan tulis hanyalah alat bantu untuk memvisualisasikan apa yang diinginkan oleh guru pada siswanya.

Materi yang seimbang antara akademik dan life skill.
Diluar sekolah anak akan menghadapi berbagai macam tantangan kehidupan nyata bagi dirinya saat ini dan kelak setelah dewasa. Oleh karena itu pembelajaran kehidupan dan bagaimana untuk dapat hidup dimasyarakat jauh lebih utama untuk dikuasai oleh para siswa. Bukan hanya mengagung-agungkan nilai EBTA, Sumatif Tes atau IPK, yang nyata-nyata kontribusinya tidak besar bagi sukses kehidupan anak kelak.

Mau menerima masukkan dari luar untuk proses pengembangan sistem pembelajaran.
Jelas bahwa sekolah bukanlah institusi yang paling sempurna dalam mendidik dan mengembangkan kemampuan siswa, oleh karenanya sekolah sangat memerlukan berbagai masukan yang tepat dari berbagai pihak untuk dapat mendidik lebih baik.
Anak antusias, kreatif, kritis dan senang sekali bersekolah dan diajak bicara tentang sekolahnya. Ini merupakah alat ukur yang paling mudah bagi orang tua yang ingin mengetahui apakah sekolah yang dipilihnya cocok untuk anaknya.
Anak kita akan menjadi lebih baik dalam waktu 3 s/d 6 bulan.

Sistem pendidikan yang baik tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk mengembangkan anak didiknya, baik yang berhubungan dengan kemampuan krititis ataupun prilaku terpuji dari anak kita. Perubahan itu seharusnya akan mulai terlihat dan dirasakan oleh orang tua pada semester-semester awal dan terus berlangsung sepanjang periode pembelajaran.

Tanya jawab seputar sekolah:

Apakah sekolah semacam ini ada..? jawabanya ada, namun tidak banyak dan beberapa diantaranya sudah memuat poin di atas meskipun belum seluruhnya.

Dimana..? masih sangat sporadis dan biasanya bentuknya semacam sekolah alam. Diaerah mana saja..? Beberapa diantaranya Sekolah Dasar Insantama di Bogor, Sekolah TK Star Int'l Bogor, Sekolah Dasar dan Menengah, Alam Ciganjur, Sekolah Semut-semut di Cimanggis, Sekolah Tunas Global di Depok, Sekolah Masterpiece di BSD, Sekolah SD Peradaban di Serang Banten dan Rumah Cendikia di Makassar.

Mungkin masih banyak lagi di daerah lainnya dan biasanya sekolah ini tidak banyak berpromosi yang berlebih-lebihan atau di lebih-lebihkan, karena beritanya sudah menyebar dari orang tua yang sudah menyekolahkan anaknya disana.

Jenjangnya bervariasi mulai TK, SD, SMP hingga SMA.

Semoga sekolah semacam ini akan semakin banyak tersebar diseluruh pelosok tanah air tercinta.

Wednesday, May 20, 2009

SELAMAT HARI KEBANGKITAN NASIONAL



BANGKITLAH BANGSAKU! BANGKITLAH NEGERIKU!

Tom Peters.... adalah seorang Konsultant Bisnis terkemuka dunia dan sangat dihormati karena pemikiran-pemikirannya yang luar biasa briliant.

Suatu ketika ia pernah melakukan penelitian, begini katanya....Saya selalu sangat tertarik untuk mengetahui mengapa beberapa perusahaan bisa menjadi yang terbaik dan unggul dalam persaingan bisnis yang begitu keras, semantara beberapa lainnya malah terpuruk dan bangkrut.

Ada satu temuan menarik; ternyata dalam setiap perusahaan yang unggul; saya selalu menemukan ciri-ciri yang sama bahwa para pegawainya yang biasa-biasa saja, dengan jabatan dan gaji yang biasa-biasa pula tapi justru melakukan hal-hal yang luar biasa untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan dan pelanggannya.

Dan selanjutnya saya juga mendapati hal yang sama pada negara-negara yang unggul dalam persaingan seperti Jepang misalnya; pada saat saya disana saya banyak mendapati penduduk Jepang yang biasa-biasa saja yang merupakan rakyat kecil biasa; tapi justru melakukan hal-hal yang luar biasa bagi bangsa dan negaranya.

Wahai para orang tua dan guru.... yang selama ini anda merasa sebagai orang yang biasa-biasa saja, dari keluarga yang biasa-biasa saja pula; marilah kita bersama-sama untuk melakukan hal-hal yang luar biasa bagi bangsa dan negara kita..... juga bagi anak-anak kita...., Karena ternyata Negara yang Hebat itu dibangun oleh penduduknya yang biasa-biasa saja....tapi mau melakukan hal-hal yang LUAR BIASA bagi bangsanya. Bukan oleh orang yang merasa LUAR BIASA tapi hanya bisa melakukan hal-hal yang justru sesungguhnya biasa-biasa saja.

Wahai para orang tua dan guru diseluruh pelosok tanah air tercinta, yang selama ini merasa sebagai orang biasa-biasa saja, dari keluarga yang juga biasa-biasa pula. Maka mulai hari ini, mari kita mulai melakukan hal-hal yang luar biasa bagi bangsa ini, yakni dengan MEMBINA KELUARGA YANG HARMONIS DAN MENDIDIK ANAK-ANAK KITA SECARA TEPAT AGAR MEREKA TUMBUH SEHAT MENTAL DAN INTELEKTUAL UNTUK BISA MENJADI GENERASI PENERUS BANGSA YANG LEBIH BAIK.

Saya teringat orang bijak pernah berkata; "Sesungguhnya tidak ada pekerjaan apapun didunia ini yang lebih penting dan mulia melainkan adalah Menjadi Orang Tua yang baik bagi anak-anaknya".

"Lihatlah betapa Dunia ini bisa menjadi lebih baik hanya jika kita memiliki para pemimpinnya baik, Lihatlah betapa seorang pemimpin bisa menjadi baik hanya jika mereka memiliki orang tua yang baik yang mendidik mereka secara tepat".

"Betapa sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa orang-orang seperti Adolf Hitler, Musollini dan sebagian besar diktator lainnya adalah orang-orang yang memiliki kehidupan masa lalu yang kelam bersama orang tua atau keluarga mereka".

Mari kita mulai segalanya dari KELUARGA !

Let's make Indonesian Strong from Home..!

JIKA KITA MAU, KITA PASTI BISA !


Salam Hangat,
ayah edy

Tuesday, May 19, 2009

Audio Book Ayah Edy


Kepada para orang tua dan guru yang berbahagia di seluruh tanah air tercinta.

Dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa, Segera Beredar Audio Book Ayah Edy yang berisikan kisah-kisah Inspirasi Terbaik Parenting dan Pendidikan.

Dapatkan segera di Toko Buku GRAMEDIA yang ada di kota anda.

Mari kita bangun Indonesia yang kuat dari Keluarga melalui anak-anak kita tercinta di rumah.

Salam hangat,
AE Management

Tuesday, May 12, 2009

Cuplikan Komentar Ayah Edy

--------------------------------------------------------------------
Ayah Edy disela-sela waktunya selalu membaca komentar yang diberikan para simpatisan dan pembaca Artikel yang ditulisnya.

Berikut adalah cuplikan komentar ayah pada artikel "Sekolah Knowing dan Sekolah Being" yang di terbitkan pada bulan September 2008.

Saya baru mendapatkan berita dari seorang teman di Australia yang menyekolahkan anaknya di kelas 5 Elementary.

Katanya: Orang Australia jauh lebih khawatir jika anak-anak murid mereka tidak menyebrang jalan dengan benar, mengelola sampah dengan baik, berbicara dengan santun, berempati, peduli terhadap teman dan lingkungan serta berpikir kritis terhadap hal-hal yang merusak/menggangu, ketimbang jika anak kelas lima mereka tidak menguasai matematika dan pelajaran Akademis lainnya.

Karena mereka mengatakan bahwa kita hanya perlu waktu 3 bulan untuk melatih seorang anak bisa metematika, namun diperlukan waktu lebih dari 15 tahun untuk bisa membuat seorang anak mampu berempati, peduli teman dan lingkungan serta memiliki karakter yang mulia untuk bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Dan ternyata waktu mendidik Karakter itu tidak bisa dilakukan kapan saja, melainkan memiliki rentang waktu yang sangat terbatas sekali yakni sejak mereka Balita hingga Remaja. Sementara kita bisa mengajarkan materi akademis kapan saja diperlukan tanpa ada batas waktunya.

Jadi wajarlah jika mereka lebih menaruh perhatian pada pembentukan karakter anak ketimbang kemampuan akademis.


Namun apakah pandangan ini bisa diterima di negeri kita? mari kita renungkan bersama.


SEGERA TEMUKAN DAN BACA ISI LENGKAP ARTIKELNYA DI BLOG INI SEKARANG JUGA !

Monday, May 11, 2009

PENDIDIKAN DIMATA SEORANG SENIMAN


Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada.

Suatu hari saya menghadiri sebuah acara simposium pendidikan yang diselenggarakan di Jakarta, oleh Forum Pengajar, Dokter dan Psikolog bagi Ibu Pertiwi. yang mengambil tema "Peran Pengajar, Dokter, dan Psikolog dalam Mengembalikan Arah Pendidikan yang berlandaskan Budaya Nusantara demi Keselamatan Generasi bangsa"

Acara itu sungguh luar biasa dan dihadiri oleh lebih dari 1500 orang peserta yang sebagian besar adalah pendidik dan guru. Pembicara yang hadir juga merupakan orang-orang yang luar biasa peduli di bidang pendidikan, mulai dari wakil guru yang ada di hutan rimba alias Butet Manurung, hingga wakil tokoh besar pendidikan Yayasan Perguruan Taman Siswa, Ki Hajardewantara. Di forum ini juga tidak ketinggalan hadir Tokoh Lintas agama Bapak Anand Krishna, seniman, budayawan artis dan lain sebagainya.

Menurut saya sebenarnya simposium ini nyaris sempurna, seandainya saja waktu itu Menteri Pendidikan dan Menteri Kesehatan sebagai tokoh sentral yang diundang sempat menyaksikan langsung acara simposium ini. Tapi apa mau dikata The Show Must Go On! begitu kira-kira kata salah seorang pembicara.

Namun ada satu hal yang paling menarik bagi saya dari seluruh acara, yakni sebuah puisi yang dibacakan oleh seorang seniman, namanya Mas Agus Sarjono, yang isinya betul-betul membuat hati saya tergelitik, puisi ini merupakan sebuah kritik sosial yang dibuat sangat cantik dan mengena bagi kita semua, terutama para tokoh pendidikan yang ada di negeri ini....

Dan dengan kerendahan hati serta ijin dari Mas Agus Sarjono yang saya dapatkan melalui Pengurus Forum tersebut, saya ingin anda juga bisa mendengar dan sekaligus merenungkannya. Mari kita simak bersama isinya;

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu. Lalu mereka pun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu.

Di akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop, berisi perhatian dan rasa hormat palsu.

Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru.

Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu. Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman yang juga palsu.

Dengan gairah tinggi mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu. Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan berbagai barang kelontong kualitas palsu.

Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus palsu dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri yang dijaga pejabat-pejabat palsu.

Masyarakat pun berniaga dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan gagasan-gagasan palsu di tengah seminar dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring dan palsu.


Demikianlah puisi yang dibuat dan dibacakan langsung oleh Mas Agus Sarjono, pada acara simposium besar Forum Pengajar, Dokter dan Psikolog yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25 Oktober 2007.

Meskipun ini hanyalah sebuah puisi, tapi paling tidak puisi ini bisa menjelaskan mengapa begitu banyak kita menemukan kepalsuan yang terjadi di negeri ini.

Mari kita renungkan bersama.......

SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2 MEI 2009 !

Mengapa anak saya jadi TIDAK MANDIRI ya..?


Suatu hari ada seorang ibu yang datang pada saya mengadukan perihal anaknya yang sudah berusia 14 tahun. Katanya anak ini sangat tidak mandiri, segalanya harus serba disiapkan, segalanya harus serba dibantu, kemana-mana harus selalu diantar dan ditemani....Saya jadi bingung nanti besarnya bagaimana anak saya ini...?

Begitulah banyak sekali orang tua yang mengeluhkan anaknya yang tidak mandiri. Sebenarnya siapakah yang menciptakan anak jadi tidak mandiri. Nenny Deborah salah satu tim yang ada di Nanny 911 mengatakan bahwa prilaku bermasalah pada anak bukanlah bawaan lahir melainkan bentukan dari orang tua.

Apa benar ucapan Nanny Deb ini...? mari kita telusuri bersama....

Pada saat seorang bayi dilahirkan ia hanya bisa terlentang, namun seiring pertumbuhannya, bayi tersebut pada akhirnya bisa tengkurap. Siapa yang mengajarinya....? apakah ia perlu bantuan untuk melakukan hal itu...., jelas tidak, apa buktinya ya, kita terbiasa mendengar ucapan seorang ibu yang melihat bayinya tengkurap berkata seperti ini, eh...anakku sekarang sudah bisa tengkurap. Lalu dengan bertambahnya usia, sang bayi mulai mampu merangkak, merambat dan akhirnya berjalan....kembali lagi orang tua akan berucap eh...anakku sekarang sudah bisa berjalan ya....Luar Biasa...! kembali lagi apakah si anak perlu bantuan/pelatihan sampai ia bisa berjalan...? Jelas tidak ! dia berusaha sendiri, jatuh bangun jatuh dan bangun lagi, sampai ia bisa berdiri dan berjalan sendiri.

Jadi jelas anak kita terlahir dengan kemampuan untuk jadi anak yang mandiri. Lantas siapa yang telah membuatnya jadi tidak mandiri.

Coba perhatikan ketika anak kita mulai di usia balita, mulailah terjadi proses intervensi dari orang dewasa terutama orang tuanya yang melatih si anak untuk jadi TIDAK MANDIRI.

Lihatlah waktu anak kita belajar untuk menyuapkan makanan sendiri, harusnya masuk ke mulut tapi ternyata harus mampir dulu ke pipi, kemudian tumpah ke sana sini, apa yang kita lakukan..., apakah kita menyemangati anak kita untuk terus mencoba hingga berhasil mendaratkan sendoknya dimulut atau malah ucapan seperti ini yang keluar dari kita.... ya...sudah sini mama suapin aja dech, biar gak tumpah-tumpah....akhirnya kita keterusan menyuapi hingga si anak besar.

Kemudian pada saat si anak berusaha untuk minum dengan gelas, kemudian jatuh lalu dia ambil lagi, dan tumpah ke sana sini...apa yang kita lakukan, apakah kita menyemangati anak dengan berkata seperti ini, "tidak apa-apa nak, ayo coba lagi, hati-hati ya licin ada air di lantai", atau malah kita berucap seperti ini “ sudah sini airnya biar mama ambilin dan gelasnya mama pegangin, biar gak tumpah.

Kemudian pada saat si anak bertambah besar, dan berusaha untuk minum dari gelas air mineral, dia berusaha untuk menusukkan sedotan dan berkali-kali dicoba namun belum berhasil juga... apa yang kita lakukan? apakah kita memotivasinya untuk terus melakukan sampai bisa atau “Susah ya..? sini sayang biar mama bantu ya....”

Yes..! akhirnya andalah yang menusukkan sedotan tsb ke gelas air mineral. Semua intervensi inilah yang ditangkap anak bahwa ia tidak boleh melakukannya sendiri(mandiri) melainkan harus selalu dibantu karena kamu tidak mampu melakukannya.

Begitu selanjutnya kemudian orang tua meminta pengasuh anak kita untuk menjadi pelayan bagi mereka, mau makan diambilkan, mau minum diambilkan, pakai sepatu di pakaikan, pakai baju dipakaikan padahal mereka sudah sampai pada usia yang mestinya sudah bisa melakukannya sendiri. Menurut anda proses apa ini namannya...? Pemandirian anak atau pemandulan kemandirian anak...? Jadi wajarlah jika seorang anak pada akhirnya jadi tidak mandiri. Orang tualah yang ternyata telah mengajarkannya tanpa sadar.

Perhatikanlah dengan mudahnya kita memberi uang parkir setiap kali mobil kita berhenti di depan toko. Dan perhatikanlah akibatnya begitu menjamurnya tukan parkir liar di mana-mana mulai dari remaja pengangguran bahkan sekarang sudah merambah pada anak-anak. Mereka semua hidupnya tidak mandiri karena kitalah yang telah mendidiknya tanpa sadar. Terlepas dari itu semua...

Begitulah tradisi kita yang sudah diwariskan secara turun-temurun untuk membuat segalanya serba mudah bagi anak kita, untuk membuat segalanya serba tersedia, segalanya diperoleh tanpa usaha, mau pakai ada, mau apa saja tinggal minta.

Tapi aneh bin ajaib kenapa akhirnya kita mengeluh sendiri....mana kala kita menemukan anak kita begitu tergantung pada orang tuanya. Mengapa anak saya kok tidak mandiri...?

Oke kalo begitu mulai hari ini ajari mereka untuk ikut terlibat melakukan prosesnya sebelum bisa melakukan sesuatu. Kalau mau makan harus ambil piring sendiri, menyendokan nasi sendiri, makan sendiri tanpa disuapi. Mulai diajak terlibat dalam berbagai aktivitas rumah tangga. Jangan lagi mendapatkan segala sesuatu dengan mudah melainkan harus melalui usaha. Mau dapat mainan harus beli, agar bisa beli harus punya uang, untuk bisa punya uang harus menabung dan bekerja membantu ibu, atau membuat sesuatu yang dijual kepada orang tua.

Bapak dan ibu yang saya cintai, begitulah yang saya pelajari dari teman saya yang anaknya terlihat begitu mandiri. Dia betul-betul memberikan kesempatan sejak kecil pada anaknya untuk bisa melakukan dan mencoba sendiri berbagai hal sampai bisa, tidak perduli rumahnya kotor dan berantakan. Dan saat ini saya sedang menerapkan model pendidikan yang sama pada anak-anak saya dirumah.

Betul sekali memang tidak mudah...., karena mungkin kita dulupun lebih kurang di didik dengan pola yang tidak memandirikan kita oleh orang tua kita. Ya tentunya dengan berbagai alasan seperti, kasihan masih kecil, tega bener sich sama anak kok kecil-kecil sudah di minta cuci mobil papa untuk bisa dapat uang, dan beribu alasan lainnya.

Sekali lagi pilihan sepenuhnya ada di tangan kita masing-masing, tapi setidaknya kita telah mengetahui sebab dari seorang anak menjadi tidak mandiri.

Anak otak kanan yang lambat menyelesaikan tugas


Para orang tua yang berbahagia, suatu hari saya pernah kedatangan orang tua yang mengeluhkan anaknya yang disekolahnya tidak pernah bisa menyelesaikan tugas gurunya dengan tepat waktu, bila ujian iapun tidak mampu untuk menyelesaikannya, atau diselesaikan tapi melompat-lompat. Saya khawatir sekali jika dia nanti jadi anak gagal....lalu ibu ini terdiam tidak melanjutkan kata-katanya.

Kami berusaha untuk menenangkan sang ibu, lalu kami jelaskan bahwa menurut pengalaman kami, anak tidak bisa menyelesaikan tugas disekolah dapat disebabkan oleh beberapa hal: pertama adalah karena si anak mengalami kesulitan dalam memahami tugas yang diberikan gurunya karena gurunya kurang sabar menjelaskannya.

Kemungkinan kedua adalah karena si anak memiliki kecenderungan berpikir dengan menggunakan otak kanannya. Apa artinya.... ya seorang anak otak kanan adalah anak yang mendapatkan berkah dari Tuhan memiliki kemampuan untuk menjadi orang-orang kreatif yang mungkin berprofesi dibidang seni ataupun sains.

Dalam kasus ini seorang anak yang lebih dominan otak kanannya, pada saat berpikir dia lebih banyak mengunakan kemampuan kreatif dan seninya, oleh karena kemampuan seni yang utama maka pekerjaannya sangat tergantung pada inspirasi dan ketenangan jiwanya, semakin tenang maka semakin cepat ia menyelesaikannya. Seorang seniman lukis misalnya dalam melukis sebuah mahakarya, tidak dapat dibatasi oleh waktu dalam menyelesaikannya, melainkan hanya tenggat waktu maksimum penyelesaian karya yang bisa disebutkan. Seperti juga seorang seniman, oleh karena itu seorang anak otak kanan yang mengerjakan tugas tanpa batas waktu akan mampu menyelesaikannya dengan baik, bahkan terkadang lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan.

Berdasarkan penelitian, anak yang cenderung berotak kanan adalah anak yang otak belahan kanannya lebih dominan dalam berpikir ketimbang belahan otak kirinya. Dan Roger Sperry soerang peneliti otak menemukan bahwa otak manusia bagian berpikir tingkat tinggi terbagi kedalam 2 belahan yakni belahan kiri dan belahan kanan sesuai letak posisi tangan kita. Masing-masing orang memiliki kecenderungan dominan yang berbeda dalam berpikir. Dari kedua belahan tersebut ada anak yang lebih dominan menggunakan otak kanan, ada yang seimbang tapi ada juga yang lebih dominan otak kiri.

Jika anda tidak percaya bahwa otak memiliki kecenderungan dominan bereaksi, mari kita lakukan test bersama, begini caranya... coba angkat kedua tangan anda.... kemudian goyang-goyangkan dan lemaskan jemari-jemari tangan anda...., lalu kemudian pertemukan jemari tangan kanan dengan jemari tangan kiri sehingga persis dalam posisi orang yang hendak berdoa atau memohon. Nah setelah jemari anda saling menggenggam coba lihat posisi ibu jari yang berada paling atas....apakah ibu jari tangan kiri atau ibu jari tangan kanan...? Jika ibu jari kiri yang di atas maka anda adalah dominan otak kiri dan sebaliknya.

Lalu lakukan test ini pada orang lain baik keluarga, anak-anak atau teman-teman kita, lakukan hal yang sama...., perhatikan apakah hasilnya sama pada setiap orang... Jika tidak itulah cara sederhana untuk membuktikan bahwa otak kita memiliki kecederungan yang berbeda dalam berpikir.

Anak yang dominan otak kanannya cenderung memiliki kemampuan kreatifitas yang sangat tinggi, dan biasanya bekerja berdasarkan insting dan inspirasi. Hal inilah yang menyebabkan seorang anak otak kanan sulit sekali dengan target-target waktu yang ketat.

Jadi saya jelaskan pada ibu ini, bahwa gejala ini sebenarnya sangat lumrah pada anak yang cenderung dominan otak kanannya. Mengapa anak otak kanan sering tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikannya dengan batas waktu yang ketat, karena pikirannya bekerja berdasarkan inspirasi, imaginasi dan seni. Oleh karena itu jika kita ingin seorang anak otak kanan mampu menyelesaikan sesuatu maka jangan berikan target waktu, tapi berikanlah ketenangan dan kebebasan untuk menyelesaikannya. maka ia bisa lebih cepat selesai.

Orang-orang yang saat ini berprofesi di bidang-bidang yang mengandalkan kreatifitas sebagian besar masih memiliki ciri-ciri seperti ini, ya ciri-ciri yang dibawanya sejak kecil sebagai anak yang dominan menggunakan otak kanannya.

Dan setelah mendengarkan penjelasan tersebut si ibu ini nampak menjadi jauh lebih tenang dan mengangguk-anggukan kepalanya. Semoga saja ini pertanda positif bagi orang tua ini juga bagi anaknya.

Mengapa anak otak kanan cenderung terlambat bicara


Para orang tua yang berbahagia, suatu hari saya pernah kedatangan orang tua yang mengeluhkan bahwa anaknya sudah berusia 1 tahun setengah, kok belum bicara-bicara...? Orang tua ini merasa bahwa dibandingkan anak-anak seusianya, katanya anaknya kok terlambat bicara. Padahal menurut medis anak saya pendengaran normal, bahkan panjang lidahnyapun normal-normal saja. Tapi kenapa ya anak saya kok tidak mau bicara. Begitu tanya orang tua ini dengan penuh kekhawatiran.

Lalu kami jelaskan bahwa menurut pengalaman kami anak yang belum mau bicara bisa disebabkan karena dua hal, yang pertama adalah yang bersifat psikologis, misalnya kurangnya stimulasi atau dengan kata lain orang-orang disekitarnya kurang banyak bicara alias pendiam, atau bisa juga karena anaknya terlalu sensitif sementara orang tuanya terlalu keras, sehingga anak lebih suka diam. Dalam kasus ini biasanya anak bukan tidak bisa bicara melainkan dia lebih memilih diam.

Kemungkinan kedua adalah si anak memiliki kecenderungan berpikir dengan menggunakan otak kanannya. Apa artinya.... ya seorang anak otak kanan adalah anak yang mendapatkan berkah dari Tuhan memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pencipta dan penemu hal-hal baru di dunia ini baik dalam bidang seni ataupun bidang sains.

Berdasarkan penelitian anak yang cenderung berotak kanan adalah anak yang otak belahan kanannya lebih dominan dalam berpikir ketimbang belahan otak kirinya. Dan Roger Sperry seorang peneliti otak menemukan bahwa otak manusia bagian berpikir tingkat tinggi terbagi ke dalam 2 belahan yakni belahan kiri dan belahan kanan sesuai letak posisi tangan kita. Masing-masing orang memiliki kecenderungan dominan yang berbeda dalam berpikir. Dari kedua belahan tersebut ada anak yang lebih dominan menggunakan otak kanan, ada yang seimbang tapi ada juga yang lebih dominan otak kiri.

Anak yang dominan otak kanannya cenderung lebih mengembangkan organ-organ yang berhubungan dengan imajinasi dan kemampuan visualisasi, bukannya kemampuan berbahasa. Oleh karena kemampuan visualisasinya yang lebih dulu berkembang maka kemampuan anak dalam bicara menjadi seolah-olah terlambat, bila dibandingkan dengan anak-anak yang dominan otak kirinya.

Jadi saya jelaskan pada ibu ini, bahwa sebisa mungkin orang-orang di rumah lebih banyak mengajaknya bicara meskipun ia belum merespon. Dan yang kedua saya melihat anak ibu ini dominan otak kanannya. Sebenarnya anak ibu ini tidak perlu menjalani terapi wicara selama lebih satu tahun seperti ini, karena nanti pada waktunya ia akan bisa bicara dengan sendirinya tanpa perlu diterapi. Tapi jika ibu ingin meneruskan terapinya juga tidak masalah, tapi perlu ibu tahu jika anak ibu nanti bisa bicara itu bukan karena terapinya melainkan karena memang sudah waktunya untuk bisa bicara.

Kira-kira 5 bulan setelah bertemu saya, orang tua dari anak tersebut menghubungi saya lagi dengan sangat gembira menyampaikan anaknya kini sudah bisa bicara, dan benar dia bisa bicara dengan sendirinya tanpa perlu di terapi.

Para orang tua yang berbahagia dimanapun anda berada, Bisa jadi apa yang anda alami dengan anak anda mirip dengan cerita ibu ini. Oleh karena itu janganlah panik jika anak kita terlambat bicara, pasti satu saat dia akan bisa bicara karena memang kita ini adalah species yang pasti bisa bicara.

Anak Otak Kanan yang bermasalah dengan sekolahnya


Para orang tua yang berbahagia....banyak sekali anak-anak yang sulit mengikuti pelajaran di sekolah...., jika hal ini terjadi bisa jadi anak anda adalah anak yang lebih dominan otak kanannya.

Apa sih anak otak kanan, ya seorang anak yang mendapatkan berkah dari Tuhan memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pencipta dan penemu hal-hal baru di dunia ini baik dalam bidang seni ataupun bidang sains.

Berdasarkan penelitian anak yang cenderung berotak kanan adalah anak yang otak belahan kanannya lebih dominan dalam berpikir ketimbang belahan otak kirinya. Dan Roger Sperry seorang peneliti otak menemukan bahwa otak manusia bagian berpikir tingkat tinggi terbagi ke dalam 2 belahan yakni belahan kiri dan belahan kanan sesuai letak posisi tangan kita. Masing-masing orang memiliki kecenderungan dominan yang berbeda dalam berpikir. Dari kedua belahan tersebut ada anak yang lebih dominan menggunakan otak kanan, ada yang seimbang tapi ada juga yang lebih dominan otak kiri.

Jika anda tidak percaya bahwa otak memiliki kecenderungan dominan bereaksi, mari kita lakukan test bersama, begini caranya... coba angkat kedua tangan anda.... kemudian goyang-goyangkan dan lemaskan jemari-jemari tangan anda...., lalu kemudian pertemukan jemari tangan kanan dengan jemari tangan kiri sehingga persis dalam posisi orang yang hendak berdoa atau memohon. Nah setelah jemari anda saling menggenggam coba lihat posisi ibu jari yang berada paling atas....apakah ibu jari tangan kiri atau ibu jari tangan kanan...? Jika ibu jari kiri yang di atas maka anda adalah dominan otak kiri dan sebaliknya.

Lalu lakukan test ini pada orang lain baik keluarga, anak-anak atau teman-teman kita, lakukan hal yang sama...., perhatikan apakah hasilnya sama pada setiap orang... Jika tidak itulah cara sederhana untuk membuktikan bahwa otak kita memiliki kecederungan yang berbeda dalam berpikir.

Nah mengapa sering kali banyak anak yang bermasalah dengan belajar di sekolah...., karena berdasarkan penelitian ternyata kebanyakan sistem belajar mengajar di sekolah masih menggunakan pola dan cara yang dominan otak kiri. Sementara otak kanan dan otak kiri manusia memiliki perbedaan cara kerja yang sangat jauh dan bahkan saling bertentangan, atau mungkin lebih tepatnya otak kanan dan kiri ada untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing.

Namun sayangnya hal ini tidak banyak diketahui oleh para orang tua dan guru di sekolah. Sehingga anak-anak yang seharusnya lahir sebagai para pencipta, desainer, seniman dan ilmuan, mereka semua malah dianggap anak-anak yang gagal. Padahal mereka hanyalah anak-anak yang membutuhkan pendekatan cara belajar otak kanan saja. (di jelaskan dalam buku The Right Brain Child in Left Brain World, by Jefrey Fred & Laurie Parson, Penerbit Karisma-edisi terjemahan)

Prilaku mereka yang sering dianggap bermasalah justru sebenarnya adalah prilaku khas yang dimiliki oleh seorang anak yang dominan otak kanannya, kita dapat mengenali prilaku ini dengan cepat dan mudah... ya tentunya jika kita merasa bahwa anak-anak kita adalah wakil-wakil dari keinginan Tuhannya dan bukan wakil-wakil dari keinginan kita.

Mari kita simak terus pembahasan anak otak kanan di blog ini agar kita bisa membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam diri anak-anak kita di rumah dan di kelas.

Tuesday, April 28, 2009

Peluncuran Buku ke-3 Ayah Edy





Pada Hari Minggu 26 April 2009, Ayah Edy bersama Penerbit Hikmah-Mizan meluncurkan buku ke 3 nya yang berjudul I LOVE YOU AYAH, I LOVE YOU BUNDA.

Buku ini berisikan kisah-kisah inspirasi pendidikan anak di rumah dan di sekolah, yang ditulis oleh Ayah Edy selama lebih dari 3 tahun dan pernah ditayangkan di seluruh Jaringan Radio Smart FM.

Semua kisahnya akan bisa menggugah hati setiap orang tua maupun guru, untuk membangun kesadaran baru akan arti pendidikan yang tepat sekaligus mencerahkan bagi setiap orang tua yang selama ini bimbang akan masalah pendidikan anak di rumah dan di sekolah.

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Hikmah-Mizan Publishing House bersama Mall WTC Serpong, di Moderatori oleh Soraya Haque, dan di Hadiri oleh Dona Arsinta sebagai bintang tamu, serta para orang tua dan guru peduli anak dan pendidikan.

Miliki segera bukunya dan dapatkan inspirasinya.

Salam hangat,
AE MGT

Tuesday, April 14, 2009

Anak yang "Hiper-aktif" atau Sekolah yang "Hiper-pasif"..?


Belakangan ini banyak orang tua yang datang kepada saya yang khawatir tentang anaknya yang menurut sekolah dinyatakan tidak bisa berkonsentrasi dan Hiperaktif...

Bahkan ada beberapa anak yang divonis hiperaktif tersebut mulai di “keluarkan” atau di PHK dari sekolahnya.

Saya bisa memahami kebingungan para orang tua yang kebetulan memiliki ciri-ciri anak yang cenderung dikatakan sebagai anak Hiper Aktif yang juga tidak bisa berkonsentrasi.

Mari kita lihat dari mana datangnya istilah Hiper Aktif ini; Istilah Hiper Aktif lahir manakala dunia pendidikan dan psikologi membuat standardisasi anak normal. Jadi dari sekian banyak anak-anak yang berbeda-beda ini hanya dibuatkan satu standar anak yang tergolong normal.

Apa ciri-ciri anak yang termasuk golongan anak normal teresebut:
1. Anaknya cenderung pendiam dan tidak banyak bergerak
2. Anak cenderung penurut dan patuh alias selalu mau mengikuti apa yang diperintahkan oleh gurunya.
3. Anak yang rapi dan tekun mengerjakan sesuatu yang ditugaskan oleh gurunya.
4. dsb. dsb.

Alison Gopnik, seorang psikolong perkembangan anak yang juga sekaligus peneliti mengatakan bahwa; banyak sekali pandangan-pandangan psikologi masa lalu yang sudah tidak relevan lagi dengan kemajuan pengetahuan tentang anak. Selama 30 tahun terakhir para ahli psikologi dan ilmuan peneliti otak telah berhasil menguak 70 tahun rahasia otak yang dulu tidak terjelaskan.

Apabila kita ingin melihat seorang anak itu normal atau tidak; maka acuan terbesarnya adalah pada struktur dan sitem kerja otak. Dan ternyata selama 30 tahun terakhir kita telah banyak membongkar tentang rahasia otak anak yang menunjukan banyak sekali anak yang dulunya dikatakan sebagai hiper aktif namun ternyata adalah anak Kinestetik yang cara belajarnya mengandalkan pergerakan tubuh dan experiment. Anak-anak yang dulu dikatakan sebagai disleksia ternyata adalah anak yang lebih dominan menggunakan otak kanannya dalam belajar, dan banyak lagi.

Oleh karena itu pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa hampir tidak pernah saya temukan sebuah ciptaan yang begitu Mengagumkan dan Begitu Ajaib seperti seorang anak manusia,yang memiliki kemampuannya yang begitu unik dan beragam.

Sampai-sampai hampir setiap hari saya selalu memperhatikan dan mengamati keajaiban-keajaiban itu muncul melalui anak saya sendiri dan anak-anak lainnya yang bersedia untuk menjadi relawan uji coba di laboratorium kami.

Mari kita akhiri era ilmu pengetahuan yang hanya mampu melabeli anak dengan segala kekurangannya.

Lain lagi dengan yang disampaikan oleh Ketty H. Pasek, dia mengatakan; Menurut saya sesungguhnya bukan anak kita yang hiper aktif, melainkan yang ada adalah sekolah kitalah yang hiper pasif.

Bayangkan metode sekolah kita mengharuskan anak untuk duduk di bangku yang keras selama berjam-jam atau selalu berada di ruangan yang sama sepanjang waktu atau dalam rentang waktu berbulan-bulan, sementara kita saja yang orang dewasa merasa gelisah apabila duduk lebih dari 2 jam tanpa boleh melakukan aktifitas lainnya selain mendengarkan dan mengerjakan perintah.

Tidakkah kita sering melihat orang dewasa yang terkantuk-kantuk dalam ruangan karena bosannya. Apalagi anak-anak kita; dimana secara alami fitrah mereka adalah selalu bergerak, tertarik terhadap banyak hal dan objek baru namun hanya beberapa menit saja.

Dan untuk objek tertentu yang menarik secara pribadi anak kita bahkan bisa memperhatikannya lebih lama dari orang-orang dewasa. Dia akan tetap di tempat untuk memperhatikan objek tersebut meskipun orang tuanya sudah mengajak dia beranjak pergi. Pernahkah hal ini terjadi pada anda....? ya saat anda mengajaknya berkunjung ke satu pameran exebisi atau kebun binatang.

Jadi mari sama-sama kita evaluasi kembali pertanyaannya; sesungguhnya Anak kita yang hiper aktif atau malah sekolah kita yang justru hiper pasif ?. Jadi sebenarnya anak yang tidak bisa berkonsentrasi atau kita yang tidak berhasil menemukan bidang-bidang yang menjadi ketertarikannya ?

Sesungguhnya setiap anak kita adalah "Masterpiece" yang sempurna dari Tuhannya. Jadi sesungguhnya tidak ada yang aneh dari mereka, malah jangan-jangan kitalah yang aneh, jadi pendidik kok tidak pernah mau belajar tentang temuan-temuan terbaru ilmu pengetahuan tentang pendidikan anak..? Mendidik anak zaman sekarang kok malah menggunakan cara-cara zaman dulu yang sudah kedaluwarsa.

Mari kita didik anak-anak kita sesuai zamannya karena mereka akan hidup berbeda dengan zaman kita hidup. Begitulah pesan yang agung dari orang bijaksana yang telah disampaikan lebih dari 1000 tahun yang lalu.

Mari kita renungkan..

Sesungguhnya "Anak" yang Gagal Belajar atau "Kita" yang Gagal Mengajar..?


Pertanyaan yang menarik untuk kita ajukan kepada kita para orang tua dan pendidik. Mengapa ? karena selama ini kita orang tua dan guru tidak pernah merasa gagal mendidik, yang ada selalu anak yang gagal di didik. Begitulah isi salah satu pemaparan dari pemateri seminar tentang Fenomena anak yang gagal belajar.

Saya jadi berpikir-pikir...ia juga ya....., kenapa kita selalu berpikir anak yang gagal belajar...., jangan-jangan apa gak sesungguhnya justru kita guru dan orang tualah yang telah gagal mengajar....?

Lama sekali saya termenung, membolak-balik pertanyaan ini dikepala saya.....? Kalau anak yang gagal belajar....berartikan anak itu diciptakan untuk gagal.... lalu apa iya sang Pencipta Yang Maha Sempurna itu tidak mampu menciptakan semua anak untuk bisa berhasil..., iya juga ya kenapa selama ini kita tidak pernah terpikir pertanyaa itu ya....?

Padahal saya pernah membaca sebuah buku tentang paradigma ilmuan sejati. dimana di kenal dalam dunia ilmuan bahwa apa bila ada sebuah proses uji coba yang gagal atau hasilnya tidak sesuai yang dirapkan maka dia tidak pernah mengatakan materinya gagal, melainkan prosenyalah yang gagal. Untuk itu biasanya para ilmuan akan modifikasi atau melakukan perbaikan pada prosesnya. Lalu mengapa kita selama ini tidak berpikir seperti itu ya....., padahalkan sekolah itukan tempat untuk mencetak para ilmuwan-ilmuwan masa depan..?

Nah...secara kebetulan Tuhan menjawab pertanyaan saya dengan sebuah buku hasil kerjasama penelitian tentang otak dari para Ahli Psikologi dan Neurosaintist.

Disana jelas sekali di gambarkan betapa hebatnya otak setiap anak.. Bahkan Komputer super canggih yang pernah di ciptakan manusiapun tidak pernah ada yang mampu menandingi komputer alam yaitu otak anak kita. Dan di sana juga di jelaskan bahwa kemampuan itu tidak hanya di miliki oleh sebagian anak saja, melainkan oleh semua anak.

Tapi mengapa ternyata pada akhirnya seolah-olah kemampuan super itu hanya di miliki oleh sebaian anak saja...., maka sang sarjana psikologi sosial menjelaskan bahwa berdasarkan penelitiannya menjukkan bahwa pada dasarnya kemampuan setiap otak anak hampir sama canggihnya; hanya itu semua masih bersifat kemampuan dasar yang siap di kembangkan (Potential Dorman Gen). Nah yang justru menjadi kunci utama adalah siapa yang mengembangkannya, dan apakah ia tahu persis bagaimana mengembangkan kemampuan otak masin-masing anak; yang meskipun memiliki kemampuan sama hebatnya namun memiliki karakteristik dan pusat-pusat keunggulan yang berbeda-beda.

Ya Tuhan.... jantung saya jadi berdebar-debar mendengarkan penjelasan ini.... jadi ternyata semua anak itu mestinya bisa menjadi anak yang luar biasa bila si pendidiknya mengetahui persis bagaimana cara melakukannya.... Sungguh penjelasan tersebut telah membuka mata saya bahwa anak-anak kita itu harusnya tidak ada yang gagal, yang ada adalah para pendidik yang gagal mengembangkan kemampuannya.

Ternyata jika kita kembali ke sejarah, kita bisa melihat betapa anak-anak jenius yang pernah tercata oleh sejarah itu selalu memiliki orang-orang yang hebat di belakangnya sebagai sang pendidik sejati.

Sebut saja Thomas Edison yang memiliki Nancy Alliot, ibu sekaligus motivator bagi anaknya yang berhasil menjadikan Edison dari anak yang gagal di sekolah dasar menjadi Ilmuan Terkemuka dunia dengan lebih dari 1000 temuan yang dipatenkan.

Begitu juga dengan Dr. Arun Gandhi yang miliki ayah dan kakeknya Mahatma Gandhi sebagai pendidik sejatinya, dan Plato memiliki Socrates dibelakangnya.

Mari bersama-sama kita jawab melalui hati nurani kita yang terdalam.....sesungguhnya anak yang gagal belajar atau kita yang gagal mengajar...?

Semoga kita masih bisa berfikir dengan logika dan hati nurani kita.

Apa benar anak saya ADD, ADHD, DISLEXIA, Learning Disable atau sebenarnya hanya anak normal yang dominan OTAK KANANnya..?


Satu hari saya pernah ditanya tentang Apasih Anak Otak kanan itu...?

Mungkin lebih tepatnya adalah anak yang secara naluriah lebih dominan menggunakan otak kanannya.

Berdasarkan temuan dalam bidang sains otak diketahui bahwa otak berpikir manusia terbagi atas belahan otak kiri dan kanan. Masing-masing belahan memiliki kemampuan yang berbeda dan saling melengkapi.

Mirip seperti tangan kita ada kiri dan ada kanan. Ada sebagian orang yang lebih dominan menggunakan kiri atau yang sering disebut sebagai anak kidal, ada yang dominan kanan tapi ada juga yang seimbang. Otak juga sama dengan tangan dalam proses bekerjanya dia selalu bersama-sama saling melengkapi, hanya tetap saja ada yang sedikit lebih dominan dari lainnya. Persis seperti tangan kita.

Karena selama ini yang kita ketahui hanya kemampuan dan sifat-sifat otak kiri, maka standar ke normalan berpikir seorang anakpun didasarkan pada cara bekerjanya otak kiri.

Sebelum para ilmuan otak menemukan ini kira-kira 20 tahun yang lalu, maka anak-anak yang cenderung dominan otak kanan sering dikategorikan bermasalah. Padahal sesungguhnya mereka bukan bermasalah melainkan memiliki sifat-sifat yang lebih di dominasi otak kannya.

Mari kita perhatikan ciri-cirinya,
1. Sulit mengikuti pelajaran disekolah.
2. Terlambat bicara dibandingkan anak seusianya
3. Pada awal-awal sering lebih kuat tangan kiri (kidal)
4. Jika berbicara tidak runtut dan sistematis dan sulit dipahami maksudnya.
5. Persaannya sangat sensitif/peka
6. Sulit mengungkapkan keinginannya dalam bentuk kata/kalimat atau sulit menyusun kalimat untuk mengungkapkan perasaannya.
7. Cepat hafal tempat/lokasi, tanda-tanda dan rute perjalanan kesatu tempat yang pernah dikunjungi meskipun hanya sekali.
8. Sering bicara tidak nyambung dengan pertanyaan.
9. Kadang suka berkhayal dan bicara sendiri menceritakan fantasinya
10. Kadang bercerita ke satu tempat yang sebenarnya belum pernah di kunjunginya seolah-olah seperti nyata.
11. Konsentrasi rendah pada pekerjaan yang kurang disukainya/diminta oleh gurunya tapi sangat tinggi pada hal-hal yang menarik perhatiannya.
12. Sering membuat cara baru dalam menyelesaikan tugas/soal-soal dan kurang suka cara yang di ajarkan oleh gurunya.
13. Lebih suka permainan rangcang bangun seperti lego dsb.
14. Suka keluar dari kelompok dan melakukan aktivitasnya sendiri.
15. Sebagian ada yang sudah tahu membedakan jenis-jenis benda; seperti merek mobil, jenis pesawat dsb. dalam usia yang relatif sangat dini
16. Sulit diajari mengeja suku kata
17. Waktu kecil sulit membedakan huruf d dengan b
18. Jika menulis huruf sering terbalik anatara W dengan M atau E dengan 3
19. Sulit mengerjakan soal-soal matematika logika/rumus-rumus
20. Sebagian lagi sulit mamahami maksud dari soal cerita matematika kecuali diberikan contoh analogi/perumpamaan dengan menggunakan alat bantu benda-benda.
21. Sering memandang ke atas dan terlihat seperti melamun
22. Kurang suka mencatat dan lebih suka memenuhi bukunya dengan gambar disana-sini.
23. Sering membaca melompat dan beberapa kata tertinggal atau terlompati
24. Jika sudah mengenal huruf/angka, ia mampu membaca urutan huruf/angka dari belakang atau dengan urutan terbalik dengan cepat & tepat.

Para orang tua dan guru yang berbahagia.... ciri-ciri tersebut sebagian ada yang mirip dengan anak anda di rumah, jangan khawatir, anak anda sama sekali bukan bermasalah melainkan lebih dominan otak kananya. Yakni anak-anak yang memiliki keunggulan dalam bidang Imajinasi, Desain, Rancang bangun, dan para pencipta baik dibidang sains atau dibidang seni.

Nantikan penjelasan selanjutnya satu demi satu mengapa anak otak kanan memiliki ciri-ciri seperti ini dan bagaimana kita bisa membantunya..

Friday, April 3, 2009

Apa yang salah dari saya mengapa anak saya tidak berani berkata jujur..?


Pada suatu hari Dr. Arun Gandhi cucu dari mendiang Mahatma Gandhi pernah menceritakan satu kisah dalam hidupnya yang sungguh mengesankan.

Kala itu usia saya kira-kira masih 16 tahun dan saya tinggal bersama kedua orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya Mahatma Gandhi, Kami tinggal disebuah perkebunan tebu kira-kira 18 mil jauhnya dari kota Durban, Afrika Selatan. Rumah kami jauh di pelosok desa terpencil sehingga hampir tidak memiliki tetangga. Oleh karena itu saya dan kedua saudara perempuan saya sangat senang sekali bila ada kesempatan untuk bisa pergi ke pusat kota, untuk sekedar mengunjungi rekan atau terkadang menonton film dibioskop.

Pada suatu hari kebetulan ayah meminta saya menemani beliau ke kota untuk menghadiri suatu konferensi selama seharian penuh. Bukan main girangnya saya saat itu. Karena ibu tahu kami hendak ke kota maka ibu menitipkan daftar panjang belajaan yang ia butuhkan, disamping itu ayah juga memberikan beberapa tugas kepada saya, termasuk salah satunya adalah memperbaiki mobil dibengkel.

Pagi itu setelah kami tiba ditempat konferensi; ayah berkata kepada saya; ” Arun; jemput ayah disini ya, nanti jam 5 sore....dan kita akan pulang bersama-sama”. Baik ayah, saya akan berada disini tepat jam 5 sore. Jawab saya dengan penuh keyakinan.

Setelah itu saya segera meluncur untuk menyelesaikan tugas yang dititipkan ayah dan ibu kepada saya satu persatu. Sampai akhirnya hanya tinggal satu pekerjaan yang tersisa yakni menunggu mobil selesai dari bengkel. Sambil menunggu mobil diperbaiki tidak ada salahnya aku pikir untuk mengisi waktu senggangku dengan pergi ke bioskop menonton sebuah film. Saking asyiknya nonton ternyata saat saya melihat jam; waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, sementara saya janji menjemput ayah pukul 17.00. Segera saja saya melompat dan buru-buru menuju bengkel untuk mengambil mobil, dan segera menjemput ayah yang sudah hampir satu jam menunggu. Saat saya tiba sudah hampir pukul 18.00 sore.

Dengan gelisah ayah bertanya pada saya; Arun! kenapa kamu terlambat menjemput ayah..? Saat itu saya merasa bersalah dan sangat malu untuk mengakui bahwa saya tadi keasyikan nonton film, sehingga saya terpaksa berbohong dengan mengatakan; ” Maaf Ayah” ”Tadi mobilnya belum selesai di perbaiki sehingga Arun harus menunggu.”

Ternyata tanpa sepengathuan saya , ayah sudah terlebih dahulu menelpon bengkel mobil tersebut, sehingga ayah tahu jika saya berbohong; Lalu wajah ayah tertunduk sedih; sambil menatap saya ayah berkata; ”Arun sepertinya ada sesuatu yang salah dengan ayah dalam mendidik dan membesarkan kamu”; ”sehingga kamu tidak punya keberanian untuk berbicara jujur kepada ayah”. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki; sambil merenungkan dimana letak kesalahannya.

Lalu dengan tetap masih berpakaian lengkap ayah mulai berjalan kaki menuju jalan pulang kerumah. Padahal hari sudah mulai gelap dan jalanan semakin tidak rata. Saya tidak sampai hati meninggalkan ayah sendirian seperti itu; meskipun ayah telah ditawari naik, beliau tetap berkeras untuk terus berjalan kaki, akhirnya saya mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau, dan tak terasa air mata saya menitik melihat penderiataan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang telah saya lakukan. Sungguh saya begitu menyesali perbuatan saya tersebut.

Sejak saat itu seumur hidup, saya selalu berkata jujur pada siapapun. Sering sekali saya mengenang kejadian itu dan merasa begitu terkesan; seandainya saja saat itu ayah menghukum saya sebagai mana pada umumnya orang tua menghukum anaknya yang berbuat salah; kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu; dan mungkin hanya sedikit saja menyadari kesalahan saya. Tapi dengan satu tindakan mengevaluasi diri yang dilakukan ayah; meskipun tanpa kekerasan justru telah memiliki kekuatan yang luar biasa untuk bisa mengubah diri saya sepenuhnya. Saya selalu mengingat kejadian itu seolah-olah seperti baru terjadi kemarin.

Para orang tua dan guru yang berbahagia.
Ayah Dr Arun Gandi tersebut sungguh seorang ayah dan guru yang luar biasa dalam mendidik anaknya. Sebuah kisah emas untuk kita para orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak-anak.

Kisah ini begitu menginspirasi saya secara pribadi; untuk selalu mengevaluasi diri manakala anak-anak tercinta saya mulai menunjukkan prilaku yang kurang terpuji ya, saya membiasakan diri untuk selalu bertanya; Apa yang salah dari saya mengapa anak saya kok bisa seperti ini?

Para orang tua dan guru yang berbahagia..... Semoga kisah ini juga bisa menginpirasi setiap orang tua; agar kita bisa mendidik anak-anak kita menjadi orang besar dan luar biasa sekaliber Mahatma Gandhi. Ya.... Mahatma Gandhi....sang pejuang dan pendidik Tanpa Kekerasan.

Thursday, April 2, 2009

Membangun Budaya Bangsa yang Bermartabat Sejak Usia Dini.




Para orang tua yang berbahagia...., suatu ketika saya berkesempatan untuk menemani seorang teman turis asing untuk berjalan-jalan keliling kota Jakarta. Sebenarnya kegiatan ini adalah salah satu hobi dan kesenangan saya, ya untuk mengajak tamu asing jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat menarik di seputar Jakarta. Apa lagi tamu asing kami ini baru pertamakali menginjakkan kakinya di Indonesia.

Sebelum memulai perjalanan dengan bangganya saya menceritakan segala kebaikan yang kami miliki sebagai bangsa, betapa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang terkenal ramah dan santun serta sangat penuh tenggang rasa. Dalam obrolan-obrolan kami saat minum teh bersama saya selalu saja menceritakan dengan bangga akan sagala sisi baik bangsa ini.

Dan sepertinya tamu saya yang kebetulan berasal dari negeri Eropa Barat ini begitu terkesan mendengar cerita saya dan sepertinya dia semakin tak sabar untuk segera memulai perjalanan ke tampat-tempat yang saya ceritakan tadi.

Sampailah pada hari yang di tunggu-tunggu saya dengan penuh semangat menjemput teman sekaligus tamu saya ini ke hotel tempat dia menginap di bilangan Jalan Sudirman.

Ternyata dia sudah menunggu saya di lobby, dan segera saja saya mengajak saya untuk naik bersama dengan mobil yang saya kendarai.

Perjalanan pertama saya adalah mengajak dia mengujungi pusat ibu kota di sekitar jalan Thamrin dan Sudirman...dengan sasaran akhir di Tugu Monas, sambil mengendarai mobil kami saling berbincang, namun tiba-tiba saja dari kiri dan kanan saya menyalip dua mobil yang sepertinya sedang kejar-kejaran di jalan protokol tersebut.

Kawan saya dengan terkaget-kaget milhat kejadian tersebut sambil bertanya... “apakah kita tidak sedang berada dijalan yang salah...?” oh tidak kita ada di jalur yang benar...jawab saya dengan penuh keyakinan, “oh tapi mengapa kita seperti sedang ada di sirkuit balap.” Oh... saya baru sadar maksud dari pertanyaannya.

Akhir supaya tidak lagi bertemu dengan orang yang kebut-kebutan di jalan protokol saya coba menghindarinya dengan masuk jalan yang lebih kecil. Namun ternyata pada saat kami sedang asyik-asyiknya mengobrol tiba-tiba ada sebuah Bajaj yang melintas dari sisi sebelah kiri memotong mobil kami untuk berputar balik arah ke sebelah kanan.

Jelas saja tamu asing saya ini menjadi kaget luar biasa dan hampir lompat dari tempat duduknya... My God ! katanya, Mahluk apa itu ..? tanyanya..., Muka saya sempat memerah antara malu dan kesal. Dangan berusaha untuk mencairkan suasana lalu saya katakan padanya, “oh itu Car of The God !” lalu tamu saya bertanya “apa maksudnya..?” Ya itu tadi adalah Kendaraan Tuhan, jadi jika dia mau belok kiri atau belok kanan secara tiba-tiba ya hanya Tuhanlah yang tahu...., sambil saya tertawa dan diapun akhirnya ikut tertawa maskipun sepertinya jelas terlihat agak dipaksakan.

Kira-kira jam 10 pagi Akhirnya, sampailah kami di Tugu Monas, tugu tertinggi kebanggaan bangsa Indonesia, . Baru saja kami sempat berjalan-jalan sejenak, lalu tamu asing saya mulai bertanya lagi...? Apakah disini tidak disediakan tempat sampah..? Wah dengan gelagapan dan sambil berusaha menenangkan diri saya jawab, oh iya sepertinya cukup banyak disediakan... saya mulai bisa membaca arah petanyaan ini, karena saya mulai melihat banyak botol-botol bekas minuman dan plastik-plastik bekas makanan ringan berserakan di taman dan tugu kebanggaan orang Jakarta ini. Dan tampaknya hal ini agak mengganggu pemandangan terutama pemandangan sang tamu asing saya ini.

Supaya perhatian teralihkan akhirnya saya menceritakan sejarah apa, mengapa dan bagaimana tugu ini dulu dibangun. Hingga akhirnya iapun terbawa pada obrolan seputar tugu monas tersebut.

Lalu kami memutuskan untuk naik kepuncak monas, karena hari ini adalah hari libur besar sepertinya pengunjungnya lebih banyak dari pada hari libur biasa, dan untuk itu kami terpaksa harus mengantri dengan antrian yang cukup panjang untuk bisa mendapatkan karcis. Namun kembali saat kami sedang asyik-asyiknya mengantri tiba-tiba kami melihat ada orang yang berusaha menyerobot antrian dari sisi kiri dan kanan, dan sepertinya petugasnya tidak terlalu ambil perduli, hingga terjadilah antrian yang mulai saling serobot.

Aduh kepala saya jadi mulai pening melihat pemandangan ini, bukan pening karena mengantri tapi pening untuk menemukan jawaban yang masuk akal apa bila tiba-tiba saja saya di tanya oleh tamu asing saya ini. Tapi untung saja dia tidak bertanya melainkan hanya mengeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali melihat kejadian ini. Dan untuk menyeimbangkan suasana sayapun segera ikut menggeleng-gelengkan kepala saya bersamanya.

Setelah selesai berkeliling akhirnya kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan berikutnya menuju wilayah Jakarta utara tempat terdapatnya museum bahari dan pelabuhan klasik sunda kelapa.

Dalam perjalanan menuju ke sana sepertinya tamu asing saya ini sudah mulai agak jarang menunjukan kekagetannya atas ulah para pengendara di jalan raya, dan sepertinya ia juga mulai terbiasa dengan mobil-mobil yang tiba-tiba menyalip dari kiri dengan kencangnya.

Namun kali ini ia hampir berteriak manakala melihat pengendara motor yang menyalip tipis di depan mobil kami dan terus merangsak meskipun dalam keadaan sempit dan lalulintas padat....

Kawan saya ini spontan berteriak-teriak mengkhawatirkan keselamatan para pengendara motor tersebut.. Sambil masih memegangi jantungnya, tamu asing saya ini bartanya pada saya apakah para pengendara tersebut adalah orang-orang biasa atau memang mereka ini pemain sirkus...?

Lalu saya katakan mereka mungkin orang biasa yang dulunya adalah pemain sirkus. dengan maksud untuk bergurau. Namun kali ini tamu saya terbingung-bingung dengan jawaban saya...,Lalu dia bertanya lagi... apakah cara mereka berkendara seperti itu tidak di larang oleh polisi...? Wah kali ini saya jadi bertambah bingung harus menjawab apa....? Jadi saya katakan saja ya mestinya di larang... tapi mungkin polisinya sedang tidak ada... atau bertugas di tempat lain.... Supaya pembicaraan tidak panjang, akhirnya saya segera alihkan dengan bercerita tentang sejarah sunda kelapa dan museum baharinya. Meskipun di sela-sela cerita, tamu saya ini sesekali masih tetap berteriak apa bila ada motor yang melintas memotong di depan mobil kami bak seorang permain sirkus yang sedang menguji nyawanya.

Sesampainya di sana, tidak ada tempat parkir resmi yang disediakan, jadi kami akhirnya berputar-putar area untuk melihat-lihat sambil berjalan pelan. Sampai di sebuah perempatan tiba-tiba tamu saya bertanya lagi, siapa mereka itu yang meminta-minta uang di perempatan. Oh iya, saya katakan itu orang-orang yang membantu agar kita tidak terjebak macet di perempatan, Lalu tamu saya berkata ”tapi jika mereka membantu kita, mengapa meminta uang...? dan mengapa juga masih tetap macet begini..? Waduh bingung juga saya menjawabnya.... akhirnya saya kahabisan akal untuk menjawab dan saya katakan saja bahwa saya juga bingung seperti dia. Dan jadilah kami dua orang yang kebingungan di dalam mobil.

Sampailah kami pada pelataran parkir dan memarkirkan mobil kami disana, untuk masuk berjalan-jalan melihat area pelabuhan. Sambil masih tetap bersemangat dan untuk mengurangi rasa malu saya terhadap tamu saya akan apa yang terjadi di sepanjang perjalanan kami menuju tempat ini. Segera saya menceritakan perahu-perahu tradisional yang dengan beraninya mengarungi lautan nusantara dan masih menjadi alat tranportasi masyarakat kepulauan yang cukup vital hingga akhirnya kami berdua pun asyik dengan pembicaraan ini.

Setelah puas berkeliling akhirnya kami memutuskan untuk pergi melanjutkan perjalanan, namun ketika kami kembali ke tempat mobil kami di parkir ternyata ada mobil yang sedang parkir sembarangan, persis dalam posisi memblokir habis, mobil kami sehingga tidak bisa keluar. Celakanya lagi mobil ini sepertinya terkunci dan menggunakan rem tangan.

Tentu saja sebelum rekan saya bertanya lagi dan sebelum saya dibuat pening untuk mencari jawabannya, saya cepat meredam suasana dengan berkata kepada tamu saya “tenang semuanya akan beres dan segera bisa saya atasi.“, lalu dengan sigap dan cekatan saya berusaha untuk bertanya kesana-sini mencari si pemilik mobil tersebut. Namun malangnya setelah lima belas menit berputar-putar bertanya kesana kemari ternyata saya tidak juga berhasil menemukan si pemiliknya, sehinga dengan sangat terpaksa kami berdua harus menunggu hingga pemiliknya datang. Hampir satu jam kami menunggu barulah si pemiliknya terlihat datang dan dengan santainya pergi tanpa sedikitpun merasa bersalah apalagi meminta maaf untuk sekedar mengurangi perasaan kesal dan marah yang sedang kami tahan berdua.

Wah kejadian ini sungguh sangat memukul perasaan saya yang hari itu sedang membawa Tamu Asing saya untuk saya ajak melihat sudut-sudut indah negeri yang saya banggakan ini. Saya merasa mendapat pukulan “Knock Out”, hingga tidak bisa berkata-kata lagi, habis sudah semangat saya untuk menceritakan segala kebaikan tentang negeri ini, sungguh hancur hati saya melihat kanyataan bahwa pada akhirnya ternyata saya tidak berhasil membuktikan ucapan saya akan ramah dan santunnya bangsa ini di hadapan tamu yang sangat saya hormati ini. Dan yang lebih membuat hati saya hancur adalah bahwa setelah kejadian ini tampaknya tamu saya mulai kehilangan selera untuk saya ajak melanjutkan perjalanan dan saya khawatir dia juga mulai kehilangan kepercayaan pada sebagian atau mungkin seluruh cerita-cirita saya tentang potret indah bangsa Indonesia.

Akhirnya dari sana kami memutuskan untuk kembali ke hotel, karena tamu saya mengatakan ingin beristirahat dan menenangkan pikiran setelah hampir setengah hari berjalan-jalan bersama saya...

Sungguh saya merasa malu dan hampir putus asa dengan apa yang baru saja saya alami, namun ketika tiba di rumah dan bertemu dengan anak-anak tercinta saya, harapan yang hampir lenyap itu tiba-tiba kembali tumbuh berkobar, dalam bathin saya berpikir sepertinya saya akan masih punya kesempatan untuk membangun budaya bangsa Indonesia yang bermartabat, paling tidak melalui anak-anak saya tercinta. Meskipun ini perlu sebuah perjuangan panjang. Saya tidak peduli paling tidak masih ada secercah harapan untuk bangsa ini dimasa mendatang melalui anak-anak tercinta saya dirumah.

Semoga kisah ini bisa menjadi cermin dan pelajaran bagi kita semua, untuk bisa membangun budaya bangsa yang bermartabat melalui anak-anak kita tercinta. Jika kita mau saya yakin kita pasti bisa.!

Mari kita bangun budaya bangsa yang bermartabat melalui anak-anak kita tercinta, kalau bukan kita siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi.?!

Sunday, February 22, 2009

Ayah saya bingung kenapa anak saya yang nomer dua tidak sepandai kakaknya ya..? padahal kami memberikan segala sesuatunya serba sama.




Suatu hari saya pernah menerima surat dari ibu Fransisca, berikut ini isi suratnya:
Ayah, nama saya Fransisca, ibu dari 3 orang anak, nomer satu berusia 8 tahun, nomer dua berusia 5 tahun dan paling kecil baru 2 tahun. Saya bingung mengapa anak saya yang kedua ini kok sepertinya tidak sepandai kakaknya ya...? saya lihat dia sulit sekali untuk diajari sesuatu terutama mengenali huruf-huruf, maunya hanya main sendiri dan menggambar coretan-coretan saja. Padahal saya merasa sejak kecil tidak pernah membedakan satu dengan yang lain dalam berbagai hal terutama asupan gizinya.

Berikut ini adalah jawaban saya pada bu Fransisca:
Bu Fransisca yang baik, mulai hari ini ibu tidak usah bingung lagi, karena memang sebenarnya sangatlah alamiah jika setiap anak berbeda. Menurut pandangan Ilmu Multiple Intelligence yang di pelopori oleh Dr. Howard Gardner sesungguhnya setiap anak itu terlahir cerdas, tidak ada yang bodoh. Hanya mereka cerdas pada bidang yang berbeda-beda. Bahkan pada anak-anak yang telah di nyatakan terbatas “disable” sekalipun masih bisa digali kecerdasannya; contoh yang paling nyata dari temuan zaman ini adalah kisah He Ah Lee, The four Finger Pianist dari Korea. Pianis dengan 4 jari karena mengalmi “Sindrom Jari Capit Kepiting” plus Down Syndrome secara bersamaan, namun berkat kegigihan Ibunya akhirnya ia mampu memainkan partitur tersulit dari musik klasik dan mendapatkan pengakuan Dunia International.

Selama ini masyarakat pada umumnya telah memandang anak hanya dalam bentuk Hitam-Putih, kalau tidak pandai maka bodoh, kalo tidak bisa tenang maka hiperaktif. Padahal anak-anak kita itu sungguh berwarna-warni. Mereka semua adalah Mahakarya dari Tuhannya. Jadi sebenarnya yang kita perlu lakukan adalah membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam diri anak kita, dan bukannya memberikan label-label negatif karena ketidakmampuan kita menterjemahkan pesan-pesan Tuhan dalam diri mereka.

Menurut Howard Gardner, kekeliruan terbesar kita dalam memandang kecerdasan adalah bahwa kita telah menetapkan bahwa anak yang cerdas adalah anak-anak yang memiliki kemampuan lebih di bidang Baca Tulis dan Hitung, dan lebih mengerucut pada pemahaman anak yang unggul dalam bidang hitungan atau eksakta. Oleh karena itu setiap anak akan diukur berdasarkan barometer yang salah ini, sehingga tentu saja akan banyak anak kita yang masuk kategori tidak cerdas. Padahal menerut penelitian saya selama lebih dari 20 tahun, bekerjasama dengan para ahli syaraf (neuroscientist), ternyata kami menemukan bahwa kecerdasan itu sungguh sangat beragam dan kemampuan berhitung itu (yang di anggap sebagai satu-satunya kecerdasan saat ini) hanyalah salah satu saja dari berbagai jenis kemampuan otak manusia; yang saya menyebutnya sebagai kecerdasan Logis Matematis. Sesungguhnya Otak kita memiliki berbagai kecerdasan yang luar biasa dan tidak hanya terbatas pada kemampuan eksakta saja. Bahkan sejarah telah mencatat bahwa kemampuan kecerdasan yang paling besar pada manusia adalah “KECERDASAN BERBAHASA” yakni pada saat otak manusia mampu menciptakan bahasa beserta simbol-simbolnya, yang menyebabkan berkembang pesatnya peradaban manusia di bumi.

Bu Fransica yang baik, Sesungguhnya dalam setiap prilaku anak, merupakan petunjuk bagi kita tentang kecerdasan apa yang dimilikinya. Misalnya, anak ibu yang lebih tertarik membuat oret-oretan gambar dari pada mengenali huruf, ini menunjukkan tanda-tanda awal munculnya kecerdasan desin ruang, imajinasi gambar. Kesukaan anak ibu untuk bermain sendiri itu lebih menunjukkan bahwa ia sedang mengemambangkan kemampuan Imajinasi Cerita dan sama sekali bukan menunjukkan ia tidak pandai.

Jadi sekali lagi ibu tidak perlu khawatir, mulai hari ini mari kita berfokus untuk menggali jenis kecerdasan apa yang sesungguhnya tersimpan dalam diri anak ibu yang ke2 juga mungkin yang ke 3.

Pada edisi mendatang, kami akan lebih mengupas tentang kecerdasan-kecerdasan apa saja yang tersimpan dalam masing-masing anak beserta cara mengetahuinya, sehingga ibu dan para orang tua dapat mengasah dan mengembangkannya sejak usia dini, agar kelak anak kita bisa menjadi anak-anak yang unggul di bidangnya masing-masing dan tidak lagi terperangkap pada pandangan pintar dan bodoh terhadap anak kita.

Sumber: Majalah Mother & Baby, Rubrik Ayah Edy Menjawab.

Ayah apa iya kalo anak saya test IQnya tinggi pasti pintar dan kalo tes IQnya rendah pasti bodoh dan jadi anak gagal...?


Suatu hari saya pernah ditanya oleh bu Deasy yang tinggal di Bandung, berikut adalah pertanyaan persisnya: Ayah Edy, Saya Deasy, Ibu dari tiga orang anak 9, 7 dan 2 tahun. Setelah membaca ulasan ayah sebelumnya saya jadi tergelitik untuk ikutan bertanya, mengenai test IQ. Anak saya yang pertama dan ke dua pernah mengikuti tes IQ dengan hasil yang berbeda, dimana kakaknya redah tapi adiknya justru tinggi sekitar 130. Pertanyaan saya adalah... apa iya kalo anak test IQnya tinggi pasti pintar dan kalo tes IQnya rendah pasti bodoh dan jadi anak gagal dikehidupan...? Bagaimana pandangan Ayah tentang hal ini..?

Inilah jawaban saya pada beliau...,
Bu Deasy yang baik, sebelumnya mari kita ketahui dulu sejarah mengenai apa dan untuk apa tes IQ, dilakukan. Tes IQ pertama kali di perkenalkan kira2 tahun 1911 oleh Alfred Binet, seorang psikolog berkebangsaan Prancis. Adapun tujuan dilakukan tes IQ waktu itu adalah untuk seleksi standar masuk militer atau pekerjaan. Kemudian tes ini berkembang keseluruh dunia sebagai tes seleksi standar dalam hampir semua bidang.

Menurut pandangan MI bahwa test ini sesungguhnya hanya mampu mengidentifikasi salah satu kecerdasan saja, yakni Logika Matematika, padahal kecerdasan manusia itu sangat bervariasi dan tak terhingga, tidak bisa semuanya teridentifikasi oleh tes IQ semacam ini. Contohnya bagaimana kita mengidentifikasi kecerdasan Pablo Picaso, Shakespeare, Thomas Edison, Steven Spielberg dan para jenius dunia lainnya.yang pada masa kecilnya dianggap sebagai anak yang biasa-biasa saja..?

Anak-anak yang mendapatkan skor tingggi dalam tes IQ, menunjukkan bahwa ia memiliki potensi intelegensia Logika Matematika yang bagus dan sebaliknya. Sementara pandangan multiple intteligence adalah Kecerdasan Manusia tidak dapat di ukur, karena sifat otak manusia yang terus berkembang dan dinamis. Hal ini bisa dibuktikan bahwa anak yang sama bila di tes IQ berulang-ulang dalam selang waktu yang berbeda akan menunjukkan hasil yang berbeda-beda, dan kerapkali faktor emotional juga ikut berperan di dalamnya.

Multiple Intelligence lebih menekankan pada aspek pengamatan potensi unggul anak dan bukan pada aspek pengukuran. Sehingga multiple intelligence pada aplikasinya akan selalu dapat mengetahui sisi-sisi keunggulan anak dan membantunya untuk mencapai hasil yang terbaik, sebaliknya tes IQ dalam aplikasinya terbatas hanya pada memberikan lebel-lebel pada anak seperti Cerdas, Rata-rata, Dibawah rata-rata dst. yang justru akan membuat pertumbuhan dinamis otak anak terganggu. Test IQ jika kita perhatikan hampir tidak pernah dapat memberikan jalan keluar bagi anak-anak yang mendapat skor rendah, bahkan mengesankan bahwa mereka yang mendapat skor rendah cenderung akan tervonis manjadi anak gagal.

Jadi sekali lagi perlu kita ingat bahwa dalam konsep Multiple Intelligence yang didukung oleh penelitian Sains Otak, mamandang bahwa tidak ada anak yang bodoh, semua anak terlahir pintar, ya.. pintar pada bidang-bidang yang menjadi keunggulannya masing-masing.

Bu Deasy yang baik, menjawab pertanyaan ibu apakah adiknya kelak akan jauh lebih sukses dari kakaknya dalam hidup, tentu saja saya tidak bisa memastikannya, karena kesuksesan hidup itu banyak sekali faktor penentunya, tidak hanya faktor IQ tinggi saja, malainkan juga faktor Emotional Intelligence, lingkungan pembentuknya, dsb.

Berikut ini ada sebuah guyonan terkenal yang mungkin juga baik untuk kita renungkan bersama.

Suatu ketika ada 3 orang sahabat yang kuliah di Universitas Harvard, dan pada saat mereka selesai ujian sahabat A mendapat nilai paling tinggi di tesnya, sahabat B sedang-sedang saja, kemudian sahabat C mendapat nilai paling rendah. Tak lama kemudian sahabat A karena nilainya sangat tinggi cepat mendapat pekerjaan, begitu juga sahabat B meskipun sulit akhirnya mendapatkan juga. Namun malangnya sahabat C sulit sekali mendapat pekerjaan dengan nilainya yang sedemikian rendah dan pas-pasan.

30 tahun berlalu sudah, tiba-tiba ketiga sahabat tersebut terkaget-kaget waktu bertemu di satu perusahaan. Eh ngomong-ngomong kok bisa ya kita ketemu disini, lalu sahabat yang paling rendah nilainya bertanya pada sahabat A, eh kamu di sini jadi apa...? Lalu dengan bangga sahabat A menjawab, oh kamu tidak tahu rupanya kalo aku adalah konsultan senior untuk perusahan ini, lalu kalo kamu jadi apanya tanya sahabat C pada sahabat B, Oh kamu juga enggak tau ya...kalo aku ini adalah salah satu Direktur diperusahaan ini. Sahabat C tampak terkagum-kagum, Oh kalian semua hebat, luar biasa katanya...., Lalu kedua sahabat A & B tertegun sejenak, dan secara bersamaan bertanya....lah kalo kamu sendiri ada disini sedang apa...? Lalu dengan santai sahabat C menjawab, Oh kalo saya sedang ada rapat komisaris pemegang saham di perusahaan saya ini.

Bill Gate adalah orang yang sangat menyukai guyonan ini. Meskipun Bill Gate tidak pernah lulus dari Harvard, namun ia telah membuktikan pada dunia bahwa sukses yang diraihnya tidak ditentukan oleh skoring nilai dan tes melainkan dari Potensi unggul yang berhasil di gali dan dikembangkan hingga menjadi yang terbaik di bidangnya.

SUMBER: Majalah Mother & Baby, Rubrik Ayah Edy Menjawab.

Tuesday, January 6, 2009

Kisah Ulat Bulu dan Kupu-kupu



Pada suatu hari ada seorang ibu yang membeli beberapa pohon bunga yang ada di pot. Bunga itu diletakkan di halaman rumah untuk menambah ke asrian dan keindahan rumahnya. Sambil berkata kecil dalam hati, ibu ini berdoa pada Tuhan, Ya Tuhan...Melalui bunga-bunga ini semoga nanti akan banyak berdatangan kupu-kupu indah kerumahku...

Lalu si ibu ini kembali lagi pada kesibukannya sehari-harinya, setelah seminggu berselang ia menunggu dan menunggu, mengapa tidak juga ada kupu-kupu yang ia lihat dihalaman rumahnya tersebut. Hingga suatu hari betapa kagetnya si Ibu mendapati bahwa bukannya kupu-kupu yang datang tapi malah Ulat bulu yang merambat pada pohon-pohon yang dibelinya itu.

Bukan main marahnya....dan saking kesalnya si ibu ini dengan keras berkata....bagaimana sich Tuhan ini... lah wong yang saya minta adalah kupu-kupu yang cantik, eh yang datang malah ulat-ulat jelek seperti ini. Sambil terus mengumpat, pot-pot bunga yang penuh dengan ulat bulu itu akhirnya dipindahkan dari taman ke tempat tersembunyi di dalam gudang.

Sebulan sudah berselang, dan ibu tersebut telah melupkan kejadian pohon-pohon di pot yang dipenuhi ulat bulu tersebut.

Dan tepat di hari yang ke 30 sejak kejadian tersebut, si ibu rupanya sedang mencari peralatan tamannya yang rupanya lupa ia taruh di gudang. Dan ketika ia membuka pintu gudang, betapa kagetnya, ia melihat begitu banyak kupu-kupu yang berwarna-warni dan sangat indah memenuhi gudang tersebut. Kupu-kupu itu satu demi satu mulai berterbangan keluar pada saat pintu gudang dibuka...untuk mencari bunga-bungaan disekitarnya.

Terang saja kejadian yang luar biasa ini telah membuat si ibu tadi menjadi diam tertegun, ia tidak bisa berkata-kata lagi, melainkan hanya memandangi satu persatu kupu-kupu yang keluar dari gudang menuju tamannya. Dan tanpa sadar kakinya bergerak melangkah mengikuti arah kupu-kupu tadi terbang.

Alangkah Indahnya tamanku saat ini.....si ibu berujar dalam hati...., Ya Tuhan.....ternyata ulat bulu yang dulu jelek itu kini telah berubah menjadi seekor kupu-kupu yang begitu cantik dan menawan. Seandainya saja dulu aku tahu.......katanya dalam hati...mungkin aku tidak akan pernah mengeluh dan merasa terusik dengan keberadaan mereka.

Wahai...para orang tua yang berbahagia dimanapun anda berada..., begitulah kita para orang tua dan guru pada umumnya, sering kali melihat dan menilai anak-anak kita bak ulat bulu, yang mengganggu dan membuat kita gatal untuk selalu mengeluh, marah dan berusaha menyingkirkan mereka.

Anak kita tidak ubahnya seperti ulat bulu yang sering kali dinilai berdasarkan sisi negatifnya saja, padahal dibalik itu semua ada sebuah proses metamorfosa yang tersembunyi...... ya sisi indah yang kelak akan dimunculkan-nya saat mereka dewasa.

Saya sering mendengar banyak orang tua dan guru yang mengeluhkan anaknya yang hiper aktif dan tidak mau diam atau tidak bisa tenang...., Padahal sesungguhnya kelak anak-anak ini akan menjadi orang yang sangat dinamis... kelak anak-anak ini akan mampu mengerjakan berbagai tugas dalam waktu bersamaan, atau malah memimpin lebih dari satu perusahaan tanpa merasa kesulitan sama sekali.

Ada juga orang tua yang mengeluhkan anaknya yang katanya keras kepala dan susah sekali di atur.....padahal sesungguhnya kelak anak-anak semacam ini akan menjadi Pimpinan-pimpinan oraganisasi/perusahaan yang sangat berhasil dangan peningkatan karir yang sangat cepat.

Atau ada juga orang tua yang mengeluhkan anaknya yang katanya pemalu dan sulit bergaul, ia lebih suka menyendiri melakukan seuatu di kamar dan anaknya cengeng sekali. Padahal sesungguhnya kelak anak-anak semacam ini akan menjadi anak yang sangat unggul dibidang Sains Teknologi atau bisa juga menjadi Seniman-seniman kelas dunia, mereka adalah anak-anak yang peka dan penuh cinta kasih terutama pada orang tuanya...

Lain lagi misalnya ada orang tua yang mengeluhkan anaknya terlau cerewet dan tidak tahu malu....bahkan cenderung malu-maluin katanya. Padahal sesunguhnya kelak anak-anak ini akan menjadi orang-orang yang terkenal karena kemampuan tampilnya di depan umum dan keberaniannya untuk berekpresi.

Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada....Begitulah sejarah telah membuktikan berkali-kali bahwa anak-anak yang dulu pada saat masa kecilnya dianggap sebagai anak yang aneh dan menyebalkan seperti Ulat Bulu...namun nyatanya setelah mereka dewasa justru menjadi orang-orang yang sangat sukses dan terkenal di kehidupan.

Tapi bagaimana mungkin Sang Ulat Bulu akan bisa menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah, jika kita semua selalu menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh, menjijikkan dan harus segera disingkirkan dari pandangan kita.

Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada....Sesungguhnya..begitu banyak anak-anak Indonesia yang mengalami nasib mirip seperti ulat bulu tadi....dan karena mereka selalu di anggap sebagai anak bermasalah maka mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk bermetamorfosa menjadi seekor kupu-kupu yang indah....yah...begitu malangnya mereka.....sampai akhirnyanya mereka harus tetap menjadi ulat bulu disepanjang hidupnya. ya Ulat bulu yang benar-benar mengganggu kehidupan kita semua....

Mari kita renungkan bersama.....saya yakin.....jika kita semua mau berubah...kita akan banyak memiliki kupu-kupu indah yang berterbangan menghiasi seluruh bumi nusantara tercinta ini....

Mari bersama-sama kita bangun Indonesia yang kuat melalui anak-anak kita tercinta.

Kalau bukan kita siapa lagi...? Kalau bukan sekarang Kapan lagi...?

Mitos dan Fakta seputar anak bermasalah


Para orang tua dan guru yang berbahagia, Kontroversi pemahaman tentang anak sering kali membuat kita yang awam ini merasa bingung; padangan manakah yang benar....? Padahal selama 20 tahun terakhir telah terjadi perubahan padangan yang sangat besar antara para praktisi dan pemerhati pendidikan Sebelum dan Setelah tahun 80-an dalam memandang anak-anak yang bermasalah. Mari kita ketahui apa saja perbedaanya; dan manakah yang mitos dan mana yang lebih dekat pada fakta;

Pandangan Sebelum 80-an yang selanjutnya akan saya sebut sebagai (Mitos) Pandangan setelah 80an yang selanjutnya akan saya sebut sebagai (Fakta)
1 MITOS: Setiap anak dilahirkan berbeda, sebagian besar dalam kondisi normal dan sebagian lagi mengalami kelainan, yang sering dikelompokkan kedalam Learning Disability, Attention Defisit Disorder, Attention Defisit Hiperactive Disorder dan Disleksia FAKTA: Setiap anak dilahirkan berbeda, oleh karenanya memerlukan perlakuan dan cara pembelajaran yang berbeda sesuai dengan ciri-ciri keunikan yang dimilikinya masing-masing. Tidak ada yang disebut kelainan pada anak, yang ada adalah perbedaan cara belajar dan sifat-sifat dasar anak, yang merupakah fitrah alami dari Tuhannya.
2 MITOS: Setiap Anak Terlahir ada yang Sangat Cerdas, Cerdas dan Kurang Cerdas FAKTA: Setiap anak yang terlahir adalah Cerdas pada bidangnya masing-masing, kecuali anak yang mengalami cacat otak sejak lahir atau karena kecelakaan yang fatal. Namun ada sebagian anak yang dinyatakan cacad sekalipun secara medis masih dapat kembali normal yang memupuk kecerdasaanya hingga menjadi yang terbaik (Ref: He Ah Lee; The Four Fingger Pianist)
3 MITOS: Kecerdasan yang dimaksud meliputi kemampuan dalam Membaca, Menulis dan Berhitung FAKTA: Kecerdasan bersifat tidak terbatas, Membaca, Menulis dan Berhitung hanyalah salah satu kecerdasan yang disebut berbahasa dan berlogika
4 MITOS: Kecerdasan dapat di ukur melalui tes kecerdasan yang sering disebut dengan Tes IQ. FAKTA: Kecerdasan tidak dapat diukur, melainkan dapat di gali, diamati dan dikembangkan untuk mencapai tingkat maksimum.
5 MITOS: Kegagalan anak dalam proses belajar disebabkan karena faktor internal anak tersebut dengan kemungkinan menderita kelainan salah satu dari yang disebut LD, ADD atau ADHD. FAKTA: Kegagalan anak dalam proses belajar disebabkan karena faktor ekternal yang berupa ketidakmampuan para pendidik dan orang tua memahami gaya belajar, sifat dasar anak serta teknik-teknik mendidik/mengajar yang sesuai dengan gaya belajar dan sifat dasarnya
6 MITOS: Agar tidak mengalami kegagalan dalam proses belajar maka anak yang dikategorikan sebagai penderita LD, ADD dan ADHD perlu mendapat terapi khusus, yang kerap kali menggunakan obat-obatan yang cukup berbahaya seperti Ritalin (methylphenidate), Dexedrin (dextroamphetamine), Cylert (pemolin), klonidin dan anti depresant lainnya. FAKTA: Agar tidak mengalami kegagalan dalam proses belajar maka orang tua, guru dan pendidik harus belajar dan menguasai teknik mengajar holistik, Tipologi Sifat dasar anak, Gaya Belajar Anak serta Sistem Penilaian yang berbasiskan pada keberagaman kecerdasan masing-masing anak.
7 MITOS: Penilaian lebih difokuskan pada sisi kelemahan yang dimiliki oleh masing-masing anak yang disebut sebagai “kelainan” pada anak untuk bisa diatasi. FAKTA: Penilaian harus lebih difokuskan pada sisi keunggulan spesifik yang dimiliki anak yang disebut sebagai potensi kecerdasan yang terpendam agar bisa tumbuh menjadi yang terbaik dibidangnya.
8 MITOS: Belajar didefinisikan sebagai kemapuan untuk mengingat kembali informasi yang pernah disampaikan atau berpusat pada kemapuan untuk menghafal secara sama dan seragam. FAKTA: Belajar didefinisikan sebagai proses kreatif yang meliputi Mengetahui, Melakukan, Menganalisa, Menyimpulkan dengan cara dan hasil berbeda sesuai dengan hasil temuan dan pengalaman masing-masing anak..

Para orang tua dan guru yang berbahagia mari kita gunakan Logika dan Nurani kita yang paling dalam untuk menilai pandangan manakah yang menurut anda lebih masuk akal dan lebih memberi peluang sukses bagi anak-anak kita kelak.....! Tentu saja kali inipun anda bebas memilih apakah anda akan memilih pandangan-pandangan yang bersifat mitos atau yang berdasarakan fakta penelitian, dan tentu saja pilihan itu sepenuhnya berada ditangan anda !