Sabtu, 06 Februari 2010

MENDENGARKAN SIARAN AYAH VIA INTERNET DIMANAPUN ANDA BERADA


KABAR GEMBIRA !

PARA ORANG TUA DAN GURU DI SELURUH PELOSOK TANAH AIR TERCINTA,

ANDA DAPAT MENDENGARKAN TALKSHOW AYAH EDY SECARA LANGSUNG DI SELURUH KOTA DI INDONESIA ATAUPUN SAAT ANDA SEDANG BERADA DI LUAR NEGERI HANYA DENGAN 2 LANGKAH MUDAH.

MELALUI INTERNET LIVE RADIO STREAMING

CARANYA:

KETIK www.smartfm.co.id
kemudian tekan tombol PLAY pada Real Time Live Streaming

INGAT SELALU PROGRAM INDONESIAN STRONG FROM HOME
Setiap Sabtu pukul 10.00-12.00 dan Minggu Malam pukul 19.00-21.00 WIB

Mari kita Bangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga melalui anak-anak kita tercinta..!

Salam hangat,
AE MGMT

Jumat, 05 Februari 2010

PESAN PRIBADI AYAH EDY DI HP ANDA?

------------------------------------------------------------------------

KABAR GEMBIRA !!

PARA ORANG TUA DAN GURU DI SELURUH PELOSOK TANAH AIR TERCINTA,

MULAI BULAN MARET 2010 ANDA BISA MENDAPATKAN SMS PESAN PRIBADI LANGSUNG DARI AYAH EDY SETIAP HARI. BERISIKAN PESAN-PESAN INSPIRASI DAN MOTIVASI PENDIDIKAN DAN PENGASUHAN ANAK.

MENGAPA INI SANGAT DIPERLUKAN OLEH PARA ORANG TUA?

KARENA UNTUK BISA MENJADI ORANG TUA YANG BAIK KITA PERLU TERUS BELAJAR UNTUK BISA BERUBAH DARI HARI KEHARI DAN UNTUK BISA MENGUBAH PRILAKU KITA YANG SUDAH TERBENTUK SELAMA BERTAHUN-TAHUN OLEH LINGKUNGAN DAN ORANG TUA KITA DAHULU, MAKA SECARA PSIKOLOGIS MANUSIA MEMERLUKAN MOTIVASI DAN INSPIRASI SETIAP HARI.

JADI PASTIKANLAH DIRI ANDA MENJADI BAGIAN DARI ORANG TUA YANG SELALU MENJADI LEBIH BAIK DARI WAKTU KE WAKTU !

MARI KITA BANGUN INDONESIA YANG KUAT DARI KELUARGA MELALUI ANAK-ANAK KITA TERCINTA !

LETS MAKE INDONESIAN STRONG FROM HOME !

KALAU BUKAN KITA, SIAPA LAGI ? KALAU BUKAN SEKARANG, KAPAN LAGI ?


BAGAIMANA CARANYA...? TUNGGU INFONYA DI SINI MENJELANG BULAN MARET 2010.

SALAM HANGAT,
AE MGMT

Rabu, 27 Januari 2010

Memetakan Kembali Potensi Anak Saya yang katanya Hiperaktif & Sulit Berkonsentrasi


==============================================
Suatu hari seorang ibu bernama Ibu Nia (bukan nama sesungguhnya), berkonsultasi pada Ayah mengenai anaknya yang waktu itu di diteksi mengindap kelainan Attention Defisit Hiperactive Disorder (ADHD) atau yang lebih dikenal dengan Anak Hiperaktif dan sulit berkonsentrasi.

Selain itu Billy (bukan nama sesungguhnya) disekolah juga di anggap sebagai anak bermasalah, dan sering tidak mengikuti perintah gurunya. Badanyna kurus, kecil tapi ototnya kuat, Orang tuanya yang kebetulan juga berprofesi sebagai seorang Dokter merasa sangat tertekan dengan keadaan anaknya karena sering menjadi gunjingan para tetangga juga guru yang kerap memanggilnya kesekolah.

Maklum katanya; profesi Dokter di Indonesia tidak hanya sebagai profesi biasa melainkan sering kali dijadikan sebagai Figur keberhasilan mendidik anak di masyarakat. Begitu penuturannya pada Ayah.

Apakah Billy benar-benar anak bermasalah atau justru kita yang salah menilainya mari kita simak hasil penjelasan Ayah Edy yang dituangkan dalam laporan hasil analisis umum untuk Ibu Nia.

Nah apa bila ada diantara Anda yang memiliki putra-putri yang memiliki kasus atau permasalahan yang mirip mungkin laporan ini bisa juga dijadikan sebagai referensi pengetahuan yang baik bagi anda.

Berikut adalah cuplikan hasil analisis pokok Ayah mengenai Billy:


Tujuan Analisis

Selama ini kita sering mendapat masukan-masukan/pendapat yang membingungkan mengenai anak kita berkaitan dengan prilaku, kecerdasan dan pola asuh, baik yang berasal dari keluarga dekat, tetangga, rekan sepergaulan atau juga dari guru-guru disekolah. Ternyata makin bertambah bingung mana kala anak kita diminta baik wajib ataupun sunnah untuk mengikuti tes psikologi oleh sekolah. Mengapa...? karena sering kali hasilnya hanya penjelasan yang sangat umum tanpa pemahaman yang mendalam yang disertai tuntunan ke arah solusi.

Untuk itu disini kita akan memberikan sesuatu yang sedikit berbeda. Kita akan berusaha menyusun kerangka “buku Manual” yang sesuai dengan keunikan masing-masing anak secara spesifik. Dengan mengetahui cara atau pola asuh yang tepat maka kita akan bisa menggali, memupuk dan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak kita secara optimal tanpa adanya kebimbangan akibat dari masukan-masukan yang beragam.

Proses Analisis

Anak kita diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan dua unsur utama yaitu Fisik dan Psikologis. Sering kali kita para orang tua dan guru dalam mendidik hanya melihat dari unsur Fisiknya saja. Padahal seluruh potensi anak bersumber dari dalam Psikologis sedangkan Fisik merupakan manifestasi langsung dari apa yang tersimpan di dalam Psikologisnya.

Sisi Psikologis manusia berdasarkan pendekatan Teori Otak (Neuro Anatomy) terbagi kedalam 3 bagian/lapis besar yakni; Otak Naluri, Otak Rasa dan Otak Pikir. Apa bila kita ingin menggali potensi anak secara otomatis kita harus mengetahui prinsip kerja dan sifat dari ketiga bagian tersebut di atas.

Mari kita ketahui fungsi dan peran masing-masing otak tersebut (Reptil/Naluri, Rasa/Mamalia, Pikir/Neokorteks)

Otak Rasa berfungsi menciptakan sifat alamiah dasar yang berbeda-beda pada setiap anak yang akan menentukan reaksi dari perlakuan-perlakuan yang diterima apakah dia akan mengaktifkan unsur Naluri atau Pikirnya. Otak yang bersifat sensoris peristiwa.

Otak Naluri/Reptil berfungsi menciptakan Reaksi dasar yang bersifat refleks yang dimiliki setiap mahluk hidup baik tumbuhan, binatang dan manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dengan reaksi utama menyerang atau menhindar.

Otak Pikir adalah unsur tertinggi yang diberikan Tuhan YME hanya pada manusia untuk bisa berpikir tingkat tinggi atau yang dalam istilah pendidikan disebut sebagai Highly Order Thinking (HOT). Berfungsi untuk berpikir Kreatif dan Logis.

Dengan memahami secara mendalam ketiga unsur ini barulah kita bisa memahami bagaimana seorang anak secara unik Merasakan suatu, Bereaksi, Berpikir dan Bertindak. Maka terjawablah mengapa setiap anak memiliki prilaku yang berbeda, gaya yang berbeda dan sifat yang berbeda. Dari sinilah kita akan memulai pola asuh yang benar dan sesuai dengan tipologi masing-masing anak.

Hasil Analisis:


1. Tipologi Kepribadian
Berdasarkan analisis langsung, silang tertulis dan tatap muka, ditemukan bahwa Kepribadian Billy Sukmana adalah kombinasi Koleris (pemimpin) dan Sanguinis (Kreatif) dengan angka dominan di Koleris.

Secara umum anak yang berkepribadian koleris adalah orang yang cenderung berkemauan keras, dan agak temperamental. Hidupnya penuh energi bergerak yang tak habis-habis. Banyak sekali hal-hal positif yang menjadi keunggulannya seperti lincah dan cepat mempelajari/memahami sesuatu, memiliki jiwa pemimpin yang kuat, menyukai tantangan, selalu tertarik untuk mengetahui/mempelajari hal-hal baru.

Sebagai orang yang juga Sanguinis Billy juga sangat pandai berbahasa bahkan kemampuan bicaranya berada diatas rekan-rekan sebayanya. Dalam usianya yang relatif dini seorang anak sanguin bisa berdialog dengan orang dewasa dengan pemikiran-pemikiran yang hampir seperti layaknya orang dewasa. Kemampuan verbal yang dimiliki seringkali menjadikan dirinya lebih menonjol bila bersama dengan rekan-rekannya.

Akan tetapi sifat dominan yang ada pada Koleris dan Sanguin juga memiliki sisi yang kurang baik apa bila tidak diseimbangkan. Secara bawaan dasar orang yang Koleris cenderung sering sangat kaku, keras kepala dan ingin mengatur. Bahkan orang tua atau guru-gurunya berusaha dikendalikan oleh kemauannya dengan berbagai cara, Dalam banyak hal anak Koleris cenderung tidak pernah mau mengalah dan bahkan ingin selalu di prioritaskan. Koleris juga merupakan pribadi yang tidak sabaran dan cepat marah. Apa bila sedang marah maka cenderung destruktif dan menyakiti anak lainnya.

Sedang sifat bawaan dari Sanguin memberikan ciri-ciri kemauan yang seringkali/cepat berubah-ubah, terlalu banyak bicara yang sering kali mendominasi dan sulit berhenti.

Kombinasi Koleris dan Sanguin memiliki potensi yang sangat tinggi untuk dikembangkan menjadi calon-calon pimpinan diberbagai bidang karir yang dipilihnya.

Konflik terbesar antara Ibu Ibu Nia dan Billy adalah kombinasi kepribadian Sanguinis-Koleris (Billy) bertemu dengan Sanguinis-Flegmatis (Ibu Nia Natakusuma). Koleris yang lebih respek pada pola asuh yang sedikit bicara, tegas dan konsisten, sementara Ibu memiliki kecenderungan pola asuh yang lebih banyak bicara dan kurang bisa tegas serta tidak konsisten. Akibatnya Ibu akan kehilangan respek dari anak secara langsung, apa bila hal ini terus berlangsung dalam jangka panjang maka Billy akan lebih banyak melakukan “Control”/mendiktekan kehendaknya dalam berbagai hal.

2. Gaya Belajar
Alat sensori belajar manusia terbagi kedalam 3 bagian besar yaitu Mata (Visual), Telinga (Auditori) dan Perasa (Kinestetik).

Berdasarkan analisis mendalam dengan berbagai perbandingan kecerdasan dan pola kepribadian maka saya menemukan Billy memiliki tipologi gaya belajar yang dominan “Auditori” dengan berkombinasi dengan Kinestetik-Visual.


Mari kita lihat potret keseluruhan sang “Auditori”
Billy adalah tipe anak yang sangat verbal (suka berbicara/bercerita) dengan energi tubuh/gerak yang hampir tiada habisnya. Sebagian besar waktu pada masa kanak-kanaknya digunakan untuk bergerak dan berbicara apa saja. Bahkan pada saat tidak bicara tetap saja mengeluarkan suara bisik atau komat-kamit dari mulutnya.

Ia merupakan anak yang sangat pandai menirukan ucapan, oleh karenanya berhati-hatilah karena hampir setiap ucapan yang didengar ingin ditirukannya. Ciri khas lainnya adalah suka memimpin, memerintah atau menyuruh orang lain baik pada anak-anak ataupun pada orang yang lebih tua.

Sebagian besar tipe anak seperti ini suka menimbun dan mengkoleksi benda-benda kecil baik itu komik, kartu, koin atau apa saja yang menarik perhatiaannya.

Meskipun ia adalah seorang anak yang pandai dan cepat mengambil keputusan namun apa bila ia dihadapakan pada dua pilihan maka ia sering tampak ragu dan bingung untuk memilih. baginya ia lebih suka untuk mencobanya terlebih dulu satu persatu baru memutuskan untuk memilih yang mana, hal ini sering kali sepertinya bertele-tele dan menghamburkan waktu/biaya dan kerap membuat kita tidak sabar.

Ciri-ciri Berbahasa/Verbal
Anak Auditori memiliki kemampuan yang sangat unggul dalam berbicara dan menirukan kata/suara. Bahkan kosa kata dan pemahaman kalimat jauh diatas rata-rata rekan-rekan seusianya. Mereka sangat cepat merespon sebuah dialog ataupun pertanyaan yang diajukan kepadanya dan bahkan sebelum ditanya ia sering kali lebih dahulu bertanya atau menyela. Dan selalu ingin didengarkan meskipun terkadang dengan cara memaksa orang lain untuk mendengarkan ceritanya.

Sang auditori memiliki perasaan serta opini yang kuat terhadap sesuatu dan dia dapat mengungkapkan apa yang ada dikepalanya dengan mudah. Pada saat emosinya meningkat ia cenderung mengekspresikannya dengan berteriak atau membantah. Gerakan tangannya mengikuti apa yang diucapkan serta ketidak puasannya sering kali diungkapkan secara destruktif baik dengan memukul, melempar atau membanting. Pilihan kata-kata yang digunakan saat marah cenderung kasar yang sering kali dia dengar dari orang lain yang mungkin tanpa sengaja sedang marah/memaki.

Pada saat bertengkar ia hampir tidak pernah mau mengakui bersalah, dan bahkan cenderung untuk mencari orang/pihak lain yang dipersalahkan (kambing hitam).

Ciri-ciri Fisik/Kinestetik
Anak Auditori cenderung memiliki tubuh yang ramping/agak kurus, namun demikian walaupun kurus tubuhnya keras. Hal ini disebabkan karena sifatnya yang selalu ingin bergerak kesana, kemari dan tidak pernah betah untuk diam. Dia hanya diam pada saat kelelahan dan biasanya digunakan untuk segera tidur.

Dia memiliki kelebihan untuk dapat cepat menguasai aktivitas fisik dan apa bila ia telah menguasai suatu gerakan maka apa yang dilakukannya adalah dengan mengajarkan pada teman-temannya melalui bicara atau malah mengkoreksi gerakan teman-temanya yang dianggap kurang pas.

Saat belajar disekolah (tradisional) dimana anak harus duduk diam dibelakang meja, merupakan saat-saat paling menyiksa baginya. Anak-anak ini menghendaki adanya kebebasan dalam bergerak terutama berbicara. Mereka ingin diberikan kebebasan untuk mengerjakan tugas-tugas sesuai yang di inginkannya. Ia membutuhkan sarana untuk mengekpresikan kemampuannya melalui forum diskusi, tanya jawab, serta menceritakan pengalamannya serta hal-hal verbal lainnya.

Ciri-ciri Visual

Pada saat menggambar atau melukis anak Auditori cenderung memiliki citra visual sederhana tetapi unik. Pada umumnya banyak yang mengalami kesulitan dalam menulis tangan, hasilnya cenderung agak terlihat morat-marit dan sulit terbaca, namun demikian ia akan tetap berkeras dengan gaya tulisan “indah” nya seindiri.

Anak Auditori biasanya malu melakukan kontak mata pada saat berdialog. Mereka sering memalingkan muka atau berkedip-kedip saat berbicara. Akan tetapi manakala ia sudah merasa nyaman maka ia cenderung untuk terus berbicara dan sulit terputus.

Berkaitan dengan kemampuan visualnya maka anak auditori sering kali bercerita tentang sesuatu yang berasal dari citra khyalnya semata, yang merupakan ekpresi kemampuan menggabungkan antara daya khayal dan berbahasa, namun sering kali orang menanggapi ceritanya sebagai sebuah kebohongan.

4. Memahami, Mendukung dan Pengarahkan Potensinya.
Untuk bisa berkomunikasi dengan orang Auditori seperti Billy, kita perlu mengetahui kebutuhan dasarnya yaitu Kebebasan berbicara, bergerak/berekspresi , dihargai ide-idenya, Diperhatikan, terutama didengarkan sambil ditanggapi saat dia bicara/bercerita dan diajak berdialog.

Apa bila kita mau mendengarkan cerita-ceritanya itu merupkan sebuah proses yang sangat membantu proses tumbuh kembang kecerdasannya. Meskipun sering kali dia akan memulai pembicaraan terlebih dahulu sebelum ditanya, tapi akan lebih baik apa bila kita juga suka untuk memulai bertanya. Karena sifat dominannya adalah bicara maka pertanyaan seperti “ Hari ini disekolah membahas atau membicarakan apa saja...?” akan lebih cocok dari pada pertanyaan seperti “ hari ini Billy melakukan apa saja disekolah..?” Namun demikian pada saat ibu Ibu Nia Natakusuma memulai pertanyaan ini yakinkan terlebih dahulu bahwa ibu telah siap secara lahir bathin untuk mendengarkan dan menanggapinya dengan penuh perhatian.

Yang unik dari anak dengan tipe ini adalah kecerdasaanya akan sangat terbangun apa bila dalam banyak hal ibu melakukan diskusi, tukar pikiran dari pada menceramahi dan mengajari seseuatu secara langsung. Ia akan benar-benar terbantu proses berfikirnya dan menikmati apa bila dalam banyak hal ia diajak bertukar pikiran atau pendapat. Salah satu keunggulannya adalah kemampuan memimpin, oleh karena itu dengan cara bertukar pikiran akan membantu kemampuan berpikirnya sekaligus kemampuan untuk mengambil keputusan berdasarkan pemahamamnya.

Dalam berdialog ia akan sangat suka bila mendapatkan perbendaharaan kata baru, dan jika dia tidak mengerti maka ia akan segera menanyakannya oleh karenanya jangan takut untuk menggunakan kata-kata yang biasa digunakan oleh orang dewasa seperti “berimaginasi, intimidasi, kolaborasi, persuasif dan sejenisnya. Apa bila ia mendapatkan kata baru sering kali saking senangnya akan diulang-ulang terus kata tersebut sampai melekat dipikirannya.

Dari sisi prilaku ada baiknya kita membantu mengajari tata krama berdasarkan prinsip yang tidak menghambat tumbuh kembang kecerdasannya. Karena pada umumnya anak dengan tipe ini sering meniru prilaku orang lain tanpa bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak patut. Jadi ibu sebagai orang tua mesti jeli melihat prilaku-prilaku kurang baik apa saja yang baru saja di tirunya. Ini harus segera di arahkan, karena bila terlambat dan sudah melekat akan diperlukan upaya lebih besar untuk merubahnya.

Secara naluriah otaknya lebih cepat menangkap dari apa yang dia dengar, oleh karenanya bantulah ia belajar melalui media-media suara, baik itu tape ataupun CD yang bersuara. Doronglah ia untuk belajar dengan merekam suaranya dan mendengar kembali dari tape, mencurahkan gagasannya melalui media tulisan atau menceritakan langsung.

Karena ia sangat peka suara maka seringkali ia bisa menilai anda dari nada suara yang anda keluarkan, apakah anda sedang sedih, marah, malas dsb. Jadi janganlah berpura-pura dengannya, katakan kondisi anda sesungguhnya dan buat janji kapan saatnya anda bisa mendengarkan atau berdialog dengannya dengan baik jika saat ini terasa tidak memungkinkan.

Musik merupakan salah satu media yang dapat mempengaruhi suasan hati anak auditori. Mendengarkan musik, bercerita atau menyanyikan lagu bersama bisa membangun ikatan batin yang lebih baik dan membuatnya merasa lebih nyaman. Sering kali ia akan memilih jenis musik yang ingin didengarkannya dan ini bisa merupakan petunjuk suasana hatinya pada saat itu.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah ia dalah tipe anak pengatur akan tetapi ia juga sekaligus anak yang bisa dikendalikan melalui aturan. Oleh karena itu apa bila anda ingin mengendalikan prilakunya maka gunakanlah aturan/kesepakan namun ingat harus konsisten dan tegas. Jangan pernah sekalipun anda tidak konsisten, karena anak dengan tipe ini juga sekaligus menjadi penuntut dan pelanggar aturan yang tidak ditepati.

Energi tubuhnya sangat tinggi dan sering kali membuat kewalahan bagi para orang tua dan guru. Oleh karenanya salurkanlah energinya melalui kegiatan-kegiatan fisik yang bermanfaat baik bersifat olah raga maupun seni olah tubuh. Usahakan seluruh energinya tersalur pada hal-hal yang positif dan bermanfaat sehingga yang tersisa hanya waktu untuk beristirahat dan tidur.

Kemampuan Auditori-Kinestetik yang dominan menyebabkan segala keingintahuannya akan disalurkan melalui bertanya atau mencoba-coba sesuatu. Jadi bersabarlah untuk menanggapi pertanyaan yang datang bertubi-tubi, mendetil dan kadang mengulang-ulang. Selain itu juga kita harus waspada dan sigap karena keingintahuannya yang besar seringkali ia melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya secara fisik. Apa bila ini terjadi maka lakukan tindakan penyelamatan segera dan bahas kejadian tersebut pada saat anda berdua dalam keadaan nyaman, mintalah ia untuk tidak mengulangi lagi, bila perlu gunakan kesepakatan dan aturan, dari pada berteriak-menceramahi atau memarahinya saat kejadian. Karena yang terjadi sesungguhnya adalah bagian dari proses belajar yang bersumber dari ciri kinestetiknya. Biarkan syaraf-syaraf otaknya untuk tumbuh, selanjutnya cegah hal ini agar tidak terulang lagi.

Yang unik dari anak dengan tipe ini adalah sering di anggap cerdas karena kemampuannya untuk bisa mengekspresikan apa yang dirasakan dan dipikirkannya secara jelas dan benar akan tetapi juga sering dianggap sebagai anak yang kurang bisa berkonsentrasi karena ia memang tidak bisa belajar dengan duduk berlama-lama. Meskipun yang terjadi sesungguhnya walaupun dia bergerak dia tetap belajar, atau malah sebaliknya dia bergerak untuk mengganggu adalah karena cara belajar dengan bergerak yang dimilikinya tidak dapat tersalurkan hingga ia memang tidak bisa berpikir sebelum dia bisa melepaskan energi geraknya. Nah ini yang sering kali disalah tafsirkan sebagai anak iseng yang suka mengganggu atau si penggangu.

Sebagian anak dengan tipe ini ada yang mengalami kesulitan dengan menulis dan membaca. Apa bila ini terjadi maka cara membantunya adalah menggunakan kemampuan unggul di auditori yakni dengan rajin membacakan cerita secar berulang-ulang setelah ia hafal maka berhentilah pada satu frasa dan mintalah ia untuk mengucapkan kata yang hilang sampai perlahan-lahan kita minta untuk menuliskan lanjutannya. Doronglah ia selalu melakukan sambil terus mengucapkan apa yang akan ditulisnya, tapi ingat nuansanya harus sambil bermain dan santai.

Demikian hasil analisis ini disampaikan sebagai gambaran umum dari keunikan-keunikan yang dimiliki oleh Billy. Tentu saja hasil analisis ini tidak mampu mengupas sampai pada ketepatan 100% mengingat dalam beberapa kombinasi yang diteliti akan selalu muncul hal-hal lain yang uniknya bersifat spesifik pada masing-masing anak. Namun demikian melalui penjabaran ini orang tua akan memiliki panduan dasar bagaimana melihat putranya secara menyeluruh dan mengembankan melalui pengamatan-pengamatan yang lebih rinci

Sekali lagi yang jauh lebih mengetahui masing-masing anaknya secara rinci seharusnya adalah kita para orang tua dan saya dalam hal ini hanya membantu menemukan pokok-pokoknya sebagai landasan berpikir dan bertindak dalam menggali dan memupuk potensi anak kita lebih jauh lagi.

Apa bila ada hal-hal yang masih belum jelas dari penjabaran ini maka saya dengan senang hati untuk berdiskusi dengan Ibu Nia Natakusuma.


Hormat Kami,
Ayah Edy
Parenting Consultant
www.ayahkita.blogspot.com

Senin, 18 Januari 2010

Kegundahan Hati seorang pelajar akan Dunia Pendidikan di Negerinya



------------------------------------------------------------------------------------
Sebelumya maaf kepada pihak-pihak yang tersinggung atas adanya esai ini. Esai ini hanya sebagai media untuk berbagi pengalaman dan menambah wawasan kepada anda-anda semua. Terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu saya untuk berfikir seperti ini, seperti kedua orang tua saya, Ayah Edi, Kak Munas, Kak Abi, Kak Boy dan Kak Dimas. dan Nendra (walaupun kita belum bertemu, saya sudah sangat terinspirasi dengan anda dengan membaca notes dan cerita dari Kak Abi).Note: nama-nama tersebut adalah para tutor Home Schooling Red.

Di suatu lembaga formal yang bernama sekolah, kita sering dikekang oleh sistem pendidikan dan teks buku pelajaran yang mengkotak-kotakkan suatu disiplin ilmu pengetahuan dari pihak yang mengatur pendidikan negeri ini. Mereka lalu menekan kepala sekolah, kepala sekolah menekan guru, dan akhirnya guru melimpahkannya kepada peserta didik dalam hal ini siswa. Para guru kebanyakan mewajibkan kita untuk harus bisa dalam semua hal. Padahal setiap siswa memiliki kesukaan dan keinginan masing-masing. Mereka sebenarnya bisa saja dipaksa untuk bisa mendapatkan nilai-nilai yang tinggi. Tapi dengan demikian mereka akan merasa jenuh dan sangat tertekan. Pada akhirnya para siswa tidak dididik dengan konsep berpendapat secara analitis kritis dan kooperatif, melainkan terpaku dan kaku pada sistem dan buku pelajaran. Padahal sistem pendidikan di negeri kita tercinta ini mengacu pada sistem pendidikan pada tahun 1900an. Sungguh tidak relevan dan tidak pantas untuk zaman milenium seperti sekarang ini.

Umpamakan ada sebuah kotak. Siswa yang bisa untuk menerima suatu ilmu dengan sistem sekarang ini masuk kedalam kelompok dan berada di dalam kotak tersebut. Tetapi untuk lainnya yang tidak bisa dengan sistem sekarang akan merasa stress dan tidak dapat menerima suatu ilmu dengan baik. Akan terasa menyakitkan bagi mereka apabila harus dipaksakan masuk ke dalam kelompok yang berada di dalam kotak tersebut.

Mengacu dengan buku pelajaran pun sebenarnya bukanlah hal yang tepat. Karena untuk mempelajari dan memahami buku pelajaran tidak harus sampai 3 atau 6 tahun, melainkan hanya 3 bulan sampai 1 tahun pada setiap jenjang. Ini tergantung dari kecepatan pemahaman dan pemikiran siswa masing-masing. Pemahaman yang berbeda-beda bukanlah menjadi suatu masalah, karena setiap masing-masing manusia perseorangan memiliki cara belajar dan pemahaman sendiri-sendiri. Yang lebih penting dari buku pelajaran adalah pembangunan karakter seseorang. Pembangunan karakter ini bisa lebih lama daripada hanya mempelajari buku pelajaran. Inilah yang harus ditekankan dan ditanamkan oleh guru-guru kepada siswa. Pernah suatu saat Ayah Edi berbicara mengenai hal ini di suatu radio ternama. Di Australia para guru tidak menekankan anak didiknya untuk belajar mengitung, tetapi mereka lebih ditekankan untuk pembangunan karakter, contohnya mengantri, menyebrang jalan, menolong orang lain. Mereka berkata bahwa sangat sulit untuk menanamkan dan membangun karakter-karakter yang baik kepada anak didiknya dibandingkan dengan mengajari mereka berhitung.

Di sekolah formal, banyak sekali terjadi yang namanya bullying baik fisik maupun mental. MOS atau Masa Orientasi Siswa seharusnya menjadi suatu ajang pengenalan siswa baru oleh para guru serta kakak kelas. Tetapi dalam konteks sekarang ini, MOS menjadi suatu ajang pembalasan dendam kakak kelas terhadap adik kelasnya karena sang senior pernah juga disakiti fisik dan mentalnya. Sang senior berdalih bahwa hal ini adalah agar adik kelas siap untuk menghadapi kerasnya perjuangan belajar di sekolah dan mendidik agar menjadi orang yang tegas. Padahal sesungguhnya adik kelas pasti akan merasa down apabila diberikan shock teraphy dengan "kekerasan" seperti itu. Dan guru-guru sepertinya tidak menanggapi hal itu dengan serius. Mereka juga berdalih dengan alasan yang sama dengan sang senior. Juga dengan LDKS atau Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa. Seharusnya ini menjadi tempat siswa untuk menempa ilmu untuk menjadi pemimpin yang baik, sekalipun nantinya hanya akan menjadi pemimpin keluarga. Tetapi sama saja dengan MOS, "kekerasan" tetap terjadi. Misalnya, disuruh membuat tanda nama yang menurut para siswa sangat sulit untuk dilakukan dalam waktu 3 hari. Dan apabila terjadi kesalahan, hukuman-hukuman yang sebenarnya tidak mendidik justru malah diberikan oleh para senior, seperti menceburkan diri ke dalam lumpur. Apakah ada hubungannya tanda nama yang salah dengan menceburkan diri ke dalam lumpur? Apakah cara mendidik harus dengan "kekerasan" agar siswa menjadi orang yang mandiri dan bertanggungjawab terhadap dirinya? Tentu tidak bukan. Pasti pihak-pihak yang merasa dirugikan, terutama orang tua siswa akan tidak terima dengan hal ini. Tetapi malah ada orang tua "bodoh" yang terima saja anaknya diperlakukan sangat "kejam" oleh para senior dengan dalih yang sama dengan senior maupun para guru. Sungguh hal yang sangat mengerikan sekali.

Sekolah Non Formal dalam hal ini homeschooling adalah suatu pilihan untuk orang-orang yang tidak berada di dalam kotak tersebut, seperti yang telah disebutkan di atas. Dan homechooling dapat dijadikan alternatif untuk mereka yang merasa jenuh dengan cara belajar di sekolah formal dan bukan berarti hanya dijadikan pelarian. Cara belajar di homeschooling juga tidak seperti sekolah formal yang lebih menonjolkan dan mengacu pada nilai. Yang lebih dipentingkan adalah hasil karya siswa seperti esai, pendapat atau argumen, diskusi, portofolio bahkan bisa berupa lagu ataupun hasil kerajian tangan dan lain sebagainya. Ini yang membuat siswa lebih kreatif untuk membuat suatu karya cipta daripada harus mengejar nilai untuk sebuah kata-kata yang sangat berharga buat mereka yaitu "KELULUSAN". Seharusnya pula nilai dalam hal ini Ujian Nasional tidak menjadi acuan untuk kelulusan seseorang. Ujian Nasional bisa menjadi evaluasi bagi para siswa dan guru agar dapat menjadi lebih baik untuk kedepannya. Karena sudah banyak sekali korban dari Ujian Nasional. Misalnya, siswa yang biasa-biasa saja bisa mendapatkan nilai yang tinggi sedangkan siswa yang memiliki prestasi bagus dalam kesehariannya mendapatkan nilai yang anjlok. Sangat miris sekali, tapi inilah realita. Seahrusnya yang bisa menentukan lulus atau tidaknya tergantung dari keseharian para siswa. Jadi setiap sekolah formal atau homeschooling mempunyai independensi untuk bisa menentukan lulus atau tidaknya seorang siswa. Tetapi sistem yang seperti ini juga harus mempunyai suatu badan yang memayungi dan mengawasi pergerakan setiap lembaga belajar. Ini untuk meminimalisir kecurangan-kecurangan yang dapat mungkin terjadi, misalnya lulus dengan jalur uang. Belajar di homeschooling juga lebih mengedepankan pembangunan karakter, minat, bakat dan konsistensi seorang siswa. Sebelum masuk kepada pembelajaran, para homeschoolers akan diberikan pengenalan tentang homeschooling selama satu bulan. Di satu bulan pertama itu lebih banyak pembangunan karakter dan treatment atau brain storming bagi para homeschoolers yang pernah merasakan menjadi pelajar di sekolah formal atau pernah memiliki masalah sebelumnya, misalnya bullying. Apakah treatment atau brain storming itu? Kedua istilah ini mempunyai maksud bahwa homeschoolers akan dipacu kerja otak yang kreatif dan diasah kembali cara berfikirnya agar mereka bisa mengikuti homeschooling yang sesungguhnya sehingga ketika mereka membahas sesuatu dengan komperhensif dan mendalam. Di homeschooling juga ditekankan untuk mengenal, memahami, dan mempraktekkan suatu disiplin ilmu yang diminati dan dibutuhkan. Masing-masing pun memiliki minat, bakat dan tingkat konsistensi yang berbeda-beda. Jadi setiap homeschoolers pun berbeda-beda penanganannya, tergantung dari beberapa hal di atas. Pendidik di homeschooling dalam hal ini tutor adalah orang yang dipilih secara selektif, ahli dalam bidangnya, memiliki cara fikir yang visioner, mampu mehamami dan mengerti cara untuk menangani setiap homeschoolers. Jadi homeschoolers lebih mudah menerima suatu disiplin ilmu tanpa harus merasakan stress atau jenuh yang berlebihan. Bukannya memojokkan dan menyalahkan sekolah formal hanya saja kelebihan yang disediakan sekolah formal sangat sedikit. Misalnya kita lebih banyak mengenal dan dapat bersosialisasi dengan teman-teman, belajar disiplin karena diwajibkan untuk masuk pada jam 06.30, dapat menampung banyak peserta didik dan lain-lain. Tetapi para siswa kebanyakan selalu tertekan dan tidak merasakan kenikmatan belajar. Di homeschooling pun juga tidak sempurna. Terkadang para homeschoolers kesulitan untuk bersosialisasi karena jarang bertemu dengan teman-temannya. Tetapi ini tidak menjadi persoalan yang serius apabila homeschoolers memiliki teman, relasi atau apaupun itu di luar sekolah. Jadi untuk saat ini pilihan untuk homeschooling adalah pilihan yang lebih baik karena para siswa lebih fokus terhadap apa yang diiniginkan dan di butuhkan serta tidak tertekan dengan penilaian dengan angka-angka "sesat".

Semoga pembicaraan presiden kepada menteri pendidikan yang baru akan direalisasikan dan menjadi suatu sistem pendidikan di negeri yang sekali lagi sangat kita cintai ini. Beliau dalam hal ini presiden berkata dan berpesan bahwa penanaman karakter harus dikedepankan dalam sistem pendidikan negeri ini. Tentunya sangat diharapkan sekali agar sistem pendidikan harus segera diubah sehingga seluruh siswa yang ada di Indonesia tidak menjadi generalis melainkan spesialis di bidangnya masing-masing. Lebih cepat lebih baik, karena pada tahun 2010 akan dimulai percobaan pasar bebas di seluruh dunia. Para pemuda dan pemudi Indonesia harus berjuang menghadapi orang-orang asing. Akankah mereka menjadi tuan di negerinya sendiri? Anda bisa menjawabnya.?

Cukup sekian untuk esai yang mungkin terlampau panjang ini. Mohon maaf apabila ada kekurangan terutama bahasa yang saya gunakan terlalu berputar-putar. Terimakasih banyak kepada yang ingin meluangkan waktunya untuk membaca esai ini

============================================
Di tulis oleh Nurrahman Andrianto, seorang pelajar SMA yang kini memilih untuk home schooling untuk bisa memetakan ulang potensi unggul yang dimilikinya yang sebelumnya telah tenggelam bersama tugas-tugas sekolah yang tiada habisnya dan tak jelas apa manfaatnya baginya di kehidupan kelak.

Mari kita renungkan pesan-pesan berharga yang terkandung di dalamnya.

Rabu, 13 Januari 2010

MEMETAKAN POTENSI UNGGUL ANAK SEJAK DINI, APA BISA..?



-------------------------------------------------------------------------------------

BREAKING NEWS...!

Pastikan Anda Mendengar Talkshow Ayah Edy di Jaringan Radio Smart FM di kota anda atau via Indovision Channel 507, Pada hari Sabtu mendatang 16 Januari 2010 Pukul 10.00-12.00 WIB. Atau siaran ulangnya Minggu 17 Januari 2010 Pukul 19.00-21.00 WIB.

Ayah akan membahas tentang bagaimana MEMETAKAN POTENSI UNGGUL ANAK via Mapping Multiple Intelligence, menghadirkan Nia dan orang tuanya sebagai bintang tamu.

Nia adalah anak yang telah berhasil memetakan potensi unggul dirinya dan kini sedang dalam perjalanan mencapai cita-cita terbesarnya untuk menjadi salah satu Diva Tari Dunia yang berasal dari Indonesia dan kini sedang bersekolah di salah satu sekolah tari terbaik di NY.

Dalam liburan sekolahnya ia berkanan untuk berbagi pengalaman untuk keluarga Indonesia di Radio Smart FM.

INGINKAH ANAK KITA JUGA BISA MENJADI DIVA ATAU PROFESIONAL LAINNYA YANG BERTARAF INTERNATIONAL DI ERA PASAR BEBAS DUNIA..?

Jika kita mau PASTI BISA ! bukan Jika kita bisa Pasti mau !

INGAT..!! SIMAK TALKSHOWNYA DAN DAPATKAN INSPIRASINYA !

Mari kita bangun Indonesia yang kuat dari keluarga melalui anak-anak kita tercinta.

-------------------------------------------------------------------------------------

Berikut adalah ulasan Ayah Edy terhadap pertanyaan orang tua mengenai mengali kecerdasan anaknya, yang di cuplik dari Rubrik Ayah Edy Menjawab pada Majalah Mother & Baby.

Mari kita simak bersama,

Nama saya Mia, baru memiliki anak pertama, laki-laki Aldo berusia 22 bulan. Saya tertarik dengan uraian Ayah pada Edisi bulan lalu mengenai menggali kecerdasan anak. Apakah saya sudah bisa melakukannya pada anak saya dan bagaimana caranya..?

Bu Mia yang baik, memang benar bahwa kita bisa menggali kecerdasan anak sejak usia anak dini. Adapun rentang penggalian itu bisa dimulai sejak usia 1 tahun dan paling lambat usia 12 tahun. Semakin awal kita mengetahuinya akan semakin baik bagi kita untuk mengambil keputusan dan mengarahkan anak kita pada bidang/profesi yang kelak akan membawa sukses bagi dirinya.

Namun demikian sebelum saya menjelaskan caranya; kita perlu pahami bersama bahwa yang dimaksud dengan “Kecerdasan” dalam konteks Multiple Intelligence adalah bukan kemampuan yang bagus hanya pada bidang-bidang yang bersifat Akademis saja, melainkan pada semua bidang kehidupan. Karena pada dasarnya setiap anak di rancang oleh TuhanNya untuk mengisi berbagai bidang kehidupan yang berbeda dan spesifik yang menjadi keunggulannya, tidak terbatas hanya pada bidang/profesi yang sebagian besar kita kenal selama ini, yakni Dokter, Insinyur, Pilot, Presiden dsb, melainkan jauh lebih luas lagi. Itulah sebabnya mengapa dalam satu keluarga kita memiliki anak yang cendrung berbeda-beda dalam banyak hal, termasuk bidang-bidang yang diminatinya.

Pada saat konsep ini mulai di perkenalkan di Amerika pada tahun 90-an, maka efeknya telah di rasakan bahwa banyak anak-anak di negara maju yang pada akhirnya memilih bidang yang sangat bervariasi dan spesifik, yang menjadi keunggulannya, sehingga mereka menjadi orang yang sangat ahli dan bisa berkiprah di negara mana saja, karena kualifikasinya sudah berada pada standar Internasional. Lihatlah betapa orang-orang di negara maju begitu unggul mulai dari bidang oleh raga, sains, sosial, ekonomi, seni dan sebagainya. Sementara tanpa kosep Multiple Intelligence biasanya kita para orang tua cenderung mengarahkan anak kita pada bidang-bidang tertentu yang kita anggap bisa memberi kecukupan finansial.

Konsep Multiple Intelligence memandang bahwa Kecukupan Financial bukanlah Tujuan, melainkan Efek dari profesi yang tepat dari keahlian terbaik yang dimiliki seorang anak. Siapapun dengan profesi apapun apa bila dia menjadi orang yang terbaik di bidangnya maka secara otomatis akan mendapatkan efek finansial yang sangat baik bagi diri dan profesinya. Jadi konsepsi Multiple Intelligence adalah membantu anak menemukan bidang yang sangat diminatinya serta mendukungnya untuk menjadi yang terbaik pada bidang tersebut.

Oleh karena itu proses penggalian akan dimulai dengan mengetahui bidang-bidang apa yang menjadi minat terbesar anak kita. Memang benar dalam usia dini seorang anak cenderung berpindah dan berganti-ganti minat, namun jika kita sabar dan telaten untuk mencatat dan membimbingnya maka lambat laun akan kita temukan minat yang benar-benar konsisten yang ditunjukan anak kita.
Penemuan Minat terbesar ini merupakan titik kunci dan akan kita uji dengan bakat yang dimikinya, artinya apabila anak kita meminati suatu bidang, apakah ia juga cepat sekali menguasai bidang yang diminatinya tersebut. Jika kedua hal tersebut saling melengkapi, maka itulah yang dimaksud sebagai potensi dasar anak yang siap di kembangkan untuk menjadi profesinya kelak. Baru setelah itu orang tua bisa menentukan langkah strategis, jalur pendidikan apakah yang paling cocok ditempuh untuk menjadikan anaknya yang terbaik dibidang tersebut.

Proses pencarian ini akan sangat berbeda antara satu anak dengan lainnya, bisa memakan waktu mulai 1 tahun hingga 12 tahun. Tergantung pada banyaknya Stimulasi yang diberikan orang tuanya. Tapi jika kita sudah menemukannya, maka segeralah kita memutuskan untuk mengambil jalur pendidikan yang tepat.

Salah satu contoh konkret di Indonesia adalah Kevin Suherman, putera dari Priyatna Suherman. Pada usia 6 tahun Kevin sudah menunjukkan minatnya yang besar pada bidang seni musik klasik. Dan Priyatna Suherman dengan berani memfasilitasi Kevin untuk hanya fokus mempelajari Musik Klasik dengan Piano. Dalam usia 12 tahun, Kevin sudah menjadi Pianis Cilik Kelas Dunia yang berhasil memegang Rekor Muri, memainkan 30 lagu klasik tanpa partitur. Dan kini Kevin mendapatkan Bea Siswa Penuh dari Pemerintah Australia untuk melanjutkan sekolah Bahasa dan Musik di negeri Kanguru tersebut.

Demikian juga yang terjadi pada Maria Sharapova, petenis puteri dunia. Maria yang pada waktu itu masih berusia 6 tahun dan tinggal di Rusia, tanpa sengaja suatu ketika Martina Navratilova (mantan petenis dunia) berkunjung ke sekolahnya, melihat bakat yang luar biasa pada anak ini ketika ia bersekolah dasar. Kemudian Martina menawarkan orang tuanya untuk di ijinkan membawa Maria Sharapova melanjutkan sekolahnya di sekolah Tenis Bollitary di Amerika Serikat. Singgkat cerita Maria Sharapova bersekolah di AS, dan pada usia 15 tahun Maria Sharapova sudah menjadi juara Tennis Japan Open dan pada usia 17 tahun berhasil menjadi juara Tennis Wimbledon.

Ini adalah sebagian kecil dari contoh aplikasi konsep penggalian “Kecerdasan” anak dengan berbasiskan Multiple Intelligence. Mungkin bagi kita para orang tua Indonesia masih terasa asing dengan konsep ini, akan tetapi di belahan dunia lain dan khususnya di negara-negara maju, para orang tua disana mulai mengarahkan masa depan anaknya dengan menggunakan pola dan konsep ini. Dan yang sangat menarik adalah, pada saat saya berbicara pada salah satu sekolah Singapore yang berada di Indonesia, merekapun mengatakan mulai menerapkan konsep Multiple Intelligence dalam sistem pendidikannya.

============================================
Di Awal Desember 2009, Ayah Edy bersama Widiyanto Setiono baru saja menerbitkan buku yang berjudul: Menemukan Potensi Unggul Anak Sejak Dini, disusun berdasarkan pengalaman dalam membimbing anak-anak mencapai profesi terbaik sesuai dengan potensi yang mereka miliki.

Metode ini dibukukan mengingat begitu banyaknya antrian para orang tua yang ingin berkonsultasi pribadi dengan Ayah untuk memetakan potensi unggul anaknya.

Semoga dengan adanya buku ini orang tua tidak perlu lagi harus datang jauh-jauh dari daerah dan menunggu berbulan-bulan untuk bisa bertemu Ayah memetakan potensi unggul anaknya. Dengan menggunakan buku ini tiap orang tua dapat melakukan sendiri dirumah atau mengajak para guru untuk ikut berpartisipasi melakukan pemetaan bagi para murid-muridnya disekolah.

Untuk memetakan potensi unggul anak, dalam buku ini sudah dilengkapi dengan dua metodologi yang bisa dipilih baik secara terpisah ataupun bersamaan yakni dengan menggunakan metode Finger Print Test dan Mapping Multiple Intelligence.

Saat ini bukunya sudah tersedia di seluruh Toko Buku Gramedia yang ada di kota anda dengan harga yang sangat terjangkau, Diterbitkan oleh PT Grasindo, Jakarta. Dan seminarnya akan diselenggarakan pada hari Sabtu 23 Januari 2010 di Hotel Ciputra Jakarta.

Jika anda sulit mendapatkan bukunya di toko buku, silahkan langsung menguhubungi penerbit Grasindo Jakarta, Kontak Person Mas Ari : 0813-2878-9146

Salam Hormat,
Management Ayah Edy

Jangan-jangan anak saya dominan otak kanannya..?


------------------------------------------------------------------
Para orang tua yang berbahagia, suatu hari saya pernah kedatangan orang tua yang mengeluhkan anaknya yang disekolahnya tidak pernah bisa menyelesaikan tugas gurunya dengan tepat waktu, bila ujian iapun tidak mampu untuk menyelesaikannya, atau diselesaikan tapi melompat-lompat. Saya khawatir sekali jika dia nanti jadi anak gagal....lalu ibu ini terdiam tidak melanjutkan kata-katanya.

Kami berusaha untuk menenangkan sang ibu, lalu kami jelaskan bahwa menurut pengalaman kami, anak tidak bisa menyelesaikan tugas disekolah dapat disebabkan oleh beberapa hal: pertama adalah karena si anak mengalami kesulitan dalam memahami tugas yang diberikan gurunya karena gurunya kurang sabar menjelaskannya.

Kemungkinan kedua adalah karena si anak memiliki kecenderungan berpikir dengan menggunakan otak kanannya. Apa artinya.... ya seorang anak otak kanan adalah anak yang mendapatkan berkah dari Tuhan memiliki kemampuan untuk menjadi orang-orang kreatif yang mungkin berprofesi dibidang seni ataupun sains.

Dalam kasus ini seorang anak yang lebih dominan otak kanannya, pada saat berpikir dia lebih banyak mengunakan kemampuan kreatif dan seninya, oleh karena kemampuan seni yang utama maka pekerjaannya sangat tergantung pada inspirasi dan ketenangan jiwanya, semakin tenang maka semakin cepat ia menyelesaikannya. Seorang seniman lukis misalnya dalam melukis sebuah mahakarya, tidak dapat dibatasi oleh waktu dalam menyelesaikannya, melainkan hanya tenggat waktu maksimum penyelesaian karya yang bisa disebutkan. Seperti juga seorang seniman, oleh karena itu seorang anak otak kanan yang mengerjakan tugas tanpa batas waktu akan mampu menyelesaikannya dengan baik, bahkan terkadang lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan.

Berdasarkan penelitian, anak yang cenderung berotak kanan adalah anak yang otak belahan kanannya lebih dominan dalam berpikir ketimbang belahan otak kirinya. Dan Roger Sperry seorang peneliti otak menemukan bahwa otak manusia bagian berpikir tingkat tinggi terbagi kedalam 2 belahan yakni belahan kiri dan belahan kanan sesuai letak posisi tangan kita. Masing-masing orang memiliki kecenderungan dominan yang berbeda dalam berpikir. Dari kedua belahan tersebut ada anak yang lebih dominan menggunakan otak kanan, ada yang seimbang tapi ada juga yang lebih dominan otak kiri.

Jika anda tidak percaya bahwa otak memiliki kecenderungan dominan bereaksi, mari kita lakukan test bersama, begini caranya... coba angkat kedua tangan anda.... kemudian goyang-goyangkan dan lemaskan jemari-jemari tangan anda...., lalu kemudian pertemukan jemari tangan kanan dengan jemari tangan kiri sehingga persis dalam posisi orang yang hendak berdoa atau memohon. Nah setelah jemari anda saling menggenggam coba lihat posisi ibu jari yang berada paling atas....apakah ibu jari tangan kiri atau ibu jari tangan kanan...? Jika ibu jari kiri yang di atas maka anda adalah dominan otak kiri dan sebaliknya.

Lalu lakukan test ini pada orang lain baik keluarga, anak-anak atau teman-teman kita, lakukan hal yang sama...., perhatikan apakah hasilnya sama pada setiap orang... Jika tidak itulah cara sederhana untuk membuktikan bahwa otak kita memiliki kecederungan yang berbeda dalam berpikir.

Anak yang dominan otak kanannya cenderung memiliki kemampuan kreatifitas yang sangat tinggi, dan biasanya bekerja berdasarkan insting dan inspirasi. Hal inilah yang menyebabkan seorang anak otak kanan sulit sekali dengan target-target waktu yang ketat.

Jadi saya jelaskan pada ibu ini, bahwa gejala ini sebenarnya sangat lumrah pada anak yang cenderung dominan otak kanannya. Mengapa anak otak kanan sering tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikannya dengan batas waktu yang ketat, karena pikirannya bekerja berdasarkan inspirasi, imaginasi dan seni. Oleh karena itu jika kita ingin seorang anak otak kanan mampu menyelesaikan sesuatu maka jangan berikan target waktu, tapi berikanlah ketenangan dan kebebasan untuk menyelesaikannya. maka ia bisa lebih cepat selesai.

Orang-orang yang saat ini berprofesi di bidang-bidang yang mengandalkan kreatifitas sebagian besar masih memiliki ciri-ciri seperti ini, ya ciri-ciri yang dibawanya sejak kecil sebagai anak yang dominan menggunakan otak kanannya.

Dan setelah mendengarkan penjelasan tersebut si ibu ini nampak menjadi jauh lebih tenang dan mengangguk-anggukan kepalanya. Semoga saja ini pertanda positif bagi orang tua ini juga bagi anaknya.

Gejala Tekanan Kejiwaan Pada Anak


--------------------------------------------------------
Suatu hari ada orang tua yang bertanya tentang anaknya yang berusia balita, bila di minta pergi ke sekolah di sulit sekali, dan jika di paksa dia tidak mau turun dari mobil, dan bahkan belakangan ini sering mengeluh kepalanya pusing, sakit perut dan sebagainya...

Apakah anak saya berbohong atau apa? tanya seorang ibu kebingungan kepada saya.

Kebetulan anaknya yang berusia 5 tahun itu di ajak juga untuk bertemu dengan saya. Lalu saya jelaskan bahwa dalam kasus ini sepertinya anak ibu tidak berbohong, apa lagi jika sebelumnya tidak pernah mengeluh seperti itu. Saya melihat ini lebih cenderung pada gejala stress anak menghadapi sekolahnya atau yang juga dikenal sebagai Gejala Psikosomatis.

Pada ibu ini saya jelasakan bahwa dulu sistem pendidikan menganut pada prinsip bahwa setiap anak adalah sama dan seragam sehingga setiap anak harus bisa mengikuti keinginan gurunya. Namun setelah dilakukan penelitian 30 tahun terhadap anak, ternyata ditemukan bahwa masing-masing anak itu unik, baik secara fisik, psikologis maupun cara otaknya bekerja. Oleh karena itu sistem pendidikan modern telah mengubah prinsip dasar sistem pengajarannya bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing, maka guru dan sekolah harus bisa memfasilitasi masing-masing keunikan anak tsb agar mereka semua bisa berhasil dalam proses belajar. Ya semua anak harus bisa berhasil.

Lalu si ibu tadi menyanggah, Padahal saya sudah sekolahkan dia di sekolah yang mahal lho......

Nah itu masalahnya, Mahal tidak menjamin menjalankan prinsip pendidikan sesuai fitrah anak, dan bahkan banyak juga yang di atas kertas sudah mencanangkan sistem pendidikan yang modern namun di lapangan masih saja para gurunya menerapkan sistem dan cara belajar lama. Nah disinilah kuncinya, untuk mengetahui apakah sebuah sekolah bagus atau tidak, kita bisa perhatikan dari dua aspek, yang pertama adalah anak kita semakin kritis dan berani mengungkapkan pendapat dan yang kedua adalah prilakunya santun dan peduli.

Biasanya sekolah yang baik akan membuat anak-anaknya betah bersekolah atau bahkan membuat anaknya lebih senang bersekolah dibandingkan libur.

Setelah saya memberi penjelasan pada Ibunya lalu saya anaknya saya ajak bicara, di luar dugaan dia berani menjawab dengan sangat jelas sekali; Saya awali pertanyaan saya seperti ini;

Sayang, nak apa kamu suka bersekolah....dia diam...tidak menjawab.
Apakah kamu ada masalah di sekolah....dia mengangguk
Apakah kamu ada masalah jadi sekarang tidak suka bersekolah..? dia mengangguk..lagi.
Apakah masalahnya dengan teman atau guru....? dia mulai menjawab guru.
Apakah semua guru, beberapa guru atau hanya satu guru...? dia menjawab hanya satu.
Boleh ayah tahu namanya....? dia menjawab Ibu X

Lalu saya menoleh ke Ibunya...., Ibu dengar...penjelasan langsung anak ibu...?

Akhirnya si Ibupun mengangguk, ya Ayah mungkin anak saya benar. Karena sejak ia ganti guru dia menjadi berubah seperti ini.

Lalu saya harus bagaimana ayah...? Ya sekolah yang baik adalah sekolah yang guru-gurunya menjadi favorit bagi murid-muridnya, jadi pertama coba ajak pihak sekolah untuk bekerjasama; jelaskan hasil pembicaraan kita ini pada sekolah dan kita lihat responnya. Jika masalah ini di tanggapi positif dan dilakukan usaha dan tindakan perbaikan, maka itu sekolah yang peduli namanya.

Lalu jika tidak di tanggapi dan tidak ada perbaikan bagaimana...?

Ya saya pikir ibu bisa mengambil kesimpulan sendiri ; dan menurut saya sudah saatnya kita memilih sekolah yang peduli pada permasalahan tiap siswanya. Karena kunci keberhasilan siswa adalah pada kepedulian pihak orang tua dan sekolah. Pendidikan itu tidak akan berhasil tanpa kepedulian dari orang tua dan pihak sekolah.

Mari kita bangun kerjasama anatar orang tua dan sekolah untuk membuat anak-anak kita sukses belajar dan bukannya saling melempar tanggung jawab.

Kamis, 07 Januari 2010

BUKU TERBARU AYAH, Jadikanlah sebagai hadiah Istimewa bagi para suami dan calon ayah baru


------------------------------------------------------------------------------
Berisikan pembelajaran dan pengalaman Pribadi Ayah Edy, yang sangat penting diketahui oleh para pasangan yang berniat untuk menjalin rumah tangga atau para Ayah Baru, baik yang baru saja menikah ataupun baru memiliki momongan.

Isinya sangat enak di baca, mudah di cerna, praktis dan menarik untuk dilihat, diselingi oleh banyolan karikaturis yang menggoda para calon ayah atau ayah baru untuk merancang keluarga yang harmonis dan sukses.

Milikilah bukunya dan jadilah Calon Ayah atau Ayah Baru yang menjadi Idola keluarga.

Dapatkan segera di Toko Buku yang ada di kota anda, atau pesan sekarang juga ke Mba Leni 021-861-2656 Pak Syarif : 0813-9506-7878

AE Management

Minggu, 03 Januari 2010

RENUNGAN AWAL TAHUN 2010


Dapatkan CDnya di Toko Buku Gramedia, Counter Edugame atau toko-toko CD yang ada di kota anda. Di Produksi oleh Miximize Studio - Bersama Produk-produk edugame lainnya.
===============================================
Suatu ketika saya membaca tulisan seorang Komedian, hanya yang menarik kali ini adalah sang komedian tidak bicara tentang komedi melainkan sebuah kelucuan tentang kehidupan.

Saya sangat ingin sekali membagikan tulisan ini pada anda, tentu saja bagi yang tertarik akan arti kehidupan yang lebih baik dan bermakna.

Inilah isi tulisan dari George Carlin sang komedian tersebut:

Saat ini kita semua sedang berada di abad Mellenium, yah....kita semua kita adalah orang-orang moderen dengan berbagai kemajuan luar biasa yang berhasil di capai.
Kita merasa telah berhasil menciptakan peradaban yang jauh lebih baik, kehidupan yang jauh lebih maju, tapi apa memang demikian. Cobalah kita renungkan sejenak apakah kita telah berhasil atau malah gagal untuk menciptakan peradaban yang jauh lebih baik dari generasi pendahulu kita.

Perhatikanlah kita berhasil membangun gedung-gedung yang lebih tinggi tetapi sekaligus juga memiliki belas kasih yang jauh lebih rendah.

Kita berhasil membangun jalan bebas hambatan yang lebih lebar tetapi memiliki sudut pandang yang lebih sempit.

Kita berhasil mencari uang lebih banyak, tetapi memiliki waktu lebih sempit
Kita memiliki harta lebih banyak, tetapi menikmati lebih sedikit.

Kita memiliki rumah yang lebih besar tapi keluarga yang lebih kecil
Kita memilki rumah yang lebih banyak tetapi lebih sedikit di tinggali.

Kita memiliki lebih banyak gelar, tetapi logika yang lebih terbatas
lebih banyak pengetahuan, tetapi nurani yang semakin terkikis habis
lebih banyak ahli, tetapi jauh lebih banyak masalah;
lebih banyak obat-obatan, tetapi kesehatan yang lebih rentan

Kita minum dan merokok terlalu banyak, meluangkan waktu dengan terlalu ceroboh,
sementara tertawa terlalu sedikit, menyetir terlalu cepat, marah terlalu sering, tidur terlalu larut, bangun terlalu lelah, membaca terlalu jarang, menonton TV terlalu banyak, dan berdoa hampir tidak pernah.

Kita telah melipatgandakan harta milik kita, tetapi mengurangi harga diri kita.

Kita terlalu banyak berbicara, tapi terlalu jarang mendengarkan dan berbuat.

Kita telah mengikuti berbagai seminar bagaimana mencari uang berlimpah, tetapi bukan mencari kehidupan yang bahagia dan penuh arti.

Kita telah mencapai bulan, tetapi justru memiliki masalah dalam menyeberang jalan, membuang sampah dan menyapa tetangga baru kita.

Kita telah mengalahkan luar angkasa, tetapi gagal mengalahkan ego kita sendiri.

Kita telah melakukan hal-hal besar, tetapi bukan hal-hal yang mulia.

Kita telah membersihkan udara, tetapi mengotori sang jiwa.
Kita telah menciptakan teknologi, Tapi teknologi yang menghancurkan bumi tempat kita bergantung hidup.

Kita belajar untuk bisa selalu bergerak lebih cepat bukan menjadi lebih sabar.
Kita lebih banyak menciptakan alat komunikasi namun berkomunikasi lebih sedikit.

Sesungguhnya kita sedang berada pada zaman dimana makanan lebih cepat disajikan namun lebih lambat di cerna, banyak dilahirkan orang-orang besar tapi dengan mental yang kerdil, pendapatan yang tinggi tapi amal yang yang semakin rendah.

Ini adalah zaman dimana banyak negosiasi perdamaian dibuat tetapi jauh lebih banyak peperangan terjadi.

Ini adalah zaman dimana perjalanan dibuat singkat, popok sekali pakai buang, moralitas yang mudah dibuang, hubungan satu malam, berat badan berlebihan, dan pil-pil yang bisa melakukan segalanya mulai dari menceriakan, menenangkan, sampai membunuh dan mematikan.

Ini adalah zaman dimana banyak barang tersedia di pasar tapi orang semakin sulit untuk mendapatkannya.

Zaman dimana kemajuan teknologi dapat menyampaikan pesan ini kepada Anda, sekaligus zaman dimana Anda dapat memilih apakah Anda akan medengarkan renungan ini atau hanya berkata Ah itu tidak penting, saya tidak ada waktu untuk merenung..!?

Ingatlah,
luangkan lebih banyak waktu dengan orang yang Anda kasihi, karena mereka tidak akan selamanya disisi anda.

Ingatlah,
ucapkan kata yang baik kepada orang yang memandang Anda dengan ketakutan,
karena si kecil tersebut akan segera tumbuh besar dan meninggalkan Anda.

Ingatlah,
beri pelukan hangat kepada orang di sisi Anda, karena itulah satu-satunya harta yang dapat Anda berikan dengan tidak membutuhkan biaya apapun.

Berikan waktu untuk mencintai orang-orang yang telah mencintai anad, berikan waktu untuk berbicara! Dan berikan waktu untuk berbagi pikiran-pikiran yang berharga di benak Anda.!

Anak kita tidak meminta banyaknya harta kita melainkan hanya banyaknya waktu kita bersamanya.

Anak kita tidak membutuhkan kedekatan kita pada para penguasa dan orang-orang terhormat, melainkan hanya kedekatan kita, dengannya.

INGATLAH SELALU..!
Hidup tidak diukur oleh jumlah nafas kita, melainkan oleh bagaimana kita telah menghabiskan nafas kita.

Marilah kita renungkan apakah kita sedang berada dalam proses kemajuan atau malah kemunduran dari peradaban zaman yang sedang kita jalani..?

Kamis, 17 Desember 2009

Selamat Hari Ibu 22 Desember 2009,


Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not to be the best?,'' begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.

Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, "Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?" Dengan sigap Dewi menjawab, "Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna". "Everything is OK !, Don’t worry Everything is under control kok !" begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.

Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. "Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda". Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman bermainnya dirumah apa bila ia merasa kesepian.

Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ''memahami'' orangtuanya.

Dengan Bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya," Bunda aku ingin mandi sama bunda...please...please bunda", pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.

Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. "Bunda, mandikan aku !" Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja...?" kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.

Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, "Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang Emergency".

Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi sayang... terlambat sudah...Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku.

Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata "Ini Bunda Nak...., Hari ini Bunda mandikan Bayu ya...sayang....! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak.." . Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, "Inikan sudah takdir, ya kan..!" Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?". Saya yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.

Sementara di sebelah kanannya, Suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya.

Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, "Inilah konsekuensi sebuah pilihan!" lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.

Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa di duga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. "Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak...? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya.

Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali ini saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini.

Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak histeris "Bangunlah Bayu sayaaangku....Bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak.....?!?" pintanya berulang-ulang, "Bunda mau mandikan kamu sayang.... Tolong Beri kesempatan Bunda sekali saja Nak.... Sekali ini saja, Bayu.. anakku...?" Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu.

Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja semakin tercium kuat manusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini...tapi apa hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada hanya sekedar memandikan seorang anak.

Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat dan penting dengan segala kesibukannya.

=============================================

Kami segenap Mangement Ayah Edy mengucapkan selamat Hari Ibu, semoga kita terus mau berupaya dan belajar untuk menjadi ibu yang lebih baik dari hari ke hari bagi anak-anak tercinta kita dirumah.

MARI KITA BANGUN INDONESIA YANG KUAT DARI KELUARGA MELALUI ANAK-ANAK KITA TERCINTA !

Lets Make Indonesian Strong from Home !