SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Selasa, 09 Februari 2016

SIAPA YANG HARUS LEBIH MEMAHAMI SIAPA ?



Apa kabar para sahabat Indonesian Strong from Home ?

Sadarkah kita bahwa sesungguhnya anak kita belum pernah punya pengalaman jadi orang tua, sementara orang tua pasti pernah punya pengalaman menjadi anak.

Jadi mana yang lebih masuk akal anak yang harus memahami orang tuanya atau orang tua yang harus lebih memahami anaknya ?

Sadarkah kita, bahwa kita selalu menekan anak untuk belajar, sementara kita tidak pernah menekan diri kita sendiri untuk belajar menjadi orang tua?

Sadarkan kita bahwa kita  semua adalah orang tua yang tak pernah sekolah jadi orang tua,

Tapi sayangnya jika sedang bertengkar dengan anak, kita dengan mudahnya melimpahkan semua kesalahan pada anak kita ?

Padahal untuk bisa menjadi seorang Dokter saja perlu sekolah dan lulus dulu baru boleh praktek.

Dokter yang tidak bersekolah jika tiba2 praktek menjadi dokter maka akan disebut MAL PRAKTEK namanya dan langsung di tangkap oleh aparat hukum untuk di amankan. Lalu bagaimana dengan orang tua yang praktek jadi orang tua tanpa bersekolah lalu praktek menjadi orang tua apa namanya ?

Sebelum kita terus menerus menjadi orang tua yang MAL PRAKTEK kepada anak-anak kita yuk mari kita belajar parenting.

Caranya silahkan berkunjung ke toko2 buku dan beli sebanyak-banyaknya buku parenting.

Jika malas membaca silahkan dengarkan cd talkshow parenting gratis yang bisa di download secara gratis di sini: www.ayahedy.tk

atau bisa melihatnya di youtube secara on line disini: http://www.youtube.com/playlist?list=PLppc6jdpHGPRSwp3FECkz4M8aG2h9Fw7p

Jika kita mau pasti bisa dan bukannya jika kita bisa pasti saya mau !!!

Mari kita bangun Indonesia yang kuat dari keluarga !
Kalau bukan kita siapa lagi ? kalau bukan sekarang kapan lagi ?

ANAK YANG SUKA TARIK-TARIK BAJU MEMAKASA ORANG TUA UNTUK MENGIKUTI KEINGINANNYA.


Nama saya Indah Laksmi, bunda dari 1 orang anak laki-laki kini 18 bulan. Anak saya ini aktif sekali, benar-benar tidak bisa diam. Seringkali saya terus mengingatkan diri saya bahwa dia aktif berarti dia sehat dan cerdas, dan dia sedang proses eksplorasi.

Yang mengkhawatirkan adalah lebih ke emosinya. Ketika anak saya marah atau tidak mendapatkan apa yg dia inginkan, apakah dilarang atau dia tidak berhasil melakukan sesuatu, dia selalu berteriak-teriak. Saya masih berpikir mungkin karena dia belum bisa bicara/komunikasi, jadi dia mengekspresikannya dengan teriak-teriak.

Tapi, lama-lama mengkhawatirkan juga Ayah padahal ketika dia berteriak pun saya dan ayahnya tidak menuruti kemauannya, karena bisa lama sekali dia nangis plus teriak-teriak.

Pertanyaan saya lebih pada, apa ya yg bisa saya lakukan lagi (kegiatan/aktifitas) untuk anak saya yg aktif dan juga apa yg bisa saya lakukan agar anak saya tidak perlu berteriak-teriak ketika ngambek/marah?

Terima Kasih.
Indah Laksmi

Bu Indah yang baik hati,

Anak kita membawa kesempurnaan dari Tuhan dalam setiap prilakunya, dan sebenarnya Tuhan memberikan tanda-tanda akan potensi yang tersimpan dalam diri buah hati kita. Apa yang ibu lakukan dalam melihat prilakunya yang aktif sebagai pertanda anak ibu sehat dan cerdas sungguh sangat baik sekali, begitu juga dengan emosinya yang meledak-ledak serta suka teriak itu juga sesungguhnya sebuah pertanda bahwa anak ibu adalah tipe anak yang verbal dan memiliki tekad yang kuat sebagai sorang pemimpin yang selayaknya kita syukuri.

Namun demikian buah hati kita juga perlu kita ajari bagaimana mewujudkan prilakunya sebagai calon pemimpin masa depan dengan cara yang lebih positif.

Anak yang aktif pada dasarnya adalah anak yang memiliki energi fisik diatas anak rata-rata, yang dia butuhkan adalah bukannya larangan demi larangan dari kita orang tuanya, melainkan ide-ide kreatif untuk menyalurka energi kreatifnya tersebut, oleh karena itu mari setiap saat kita cari ide-ide kreatif apa yang cocok untuk menyalurkan energi anak kita, supaya aktifitas pembelajarannya menjadi jauh lebih positif dan sehat. Saya memberikan kesemptan kepada anak saya untuk melakukannya di rumah.

Apa yang saya lakukan dirumah adalah membuat kesepakatan bersama istri bahwa rumah kita akan kita jadikan sebagai lahan ekplorasi bagi anak-anak, dan saya juga mengajak istri untuk tidak berharap hidup “normal” seperti umumnya standar normal orang dewasa yang penuh dengan keindahan dan kerapihan hingga anak-anak berusia 8-12 tahun. Oleh karena itu kami untuk sementara ini berusaha untuk tidak memiliki barang atau pernik-pernik yang “antik” yang menyebabkan kami melarang anak-anak kami untuk memainkannya.

Benda apa saja yang tersisa dirumah adalah yang boleh untuk di eksplorasi, bahkan rumahnya pun kami pilih yang boleh di eksplorasi, kami sudah Ikhlas rumah kami di jadikan penyaluran energi kreatif anak-anak kami mulai dari bangun pagi hingga tidur malam hari.

Cara berikutnya adalah dengan membawanya ke tempat “Kids Play Ground” yang belakangan ini marak di sediakan di pusat-pusat perbelanjaan dsb.

Sedangkan masalah emosinya yang sering meledak-ledak dengan teriakan, pada dasarnya berkaitan dengan tipe sifat dasarnya yakni Verbal & Keras (Watak Seorang Pemimpin), yang biasanya diwarisi dari salah satu orang tuanya. Oleh karena itu cara kita mendidikpun harus di sesuaikan dengan tipenya yang pemimpin tsb. yakni; Bicara singkat, tidak perlu panjang lebar, gunakan metoda reward and punishment. Lebih lengkapnya ibu bisa membaca buku kami yang berjudul 37 kebiasaan ortu yang menghasilkan prilaku buruk anak, diterbitkan oleh Grasindo.

Namun demikian melihat usianya yang baru 18 bulan, sebenarnya apa yang terjadi pada buah hati ibu adalah proses yang sangat alamiah yang dialami setiap anak yang sedang berada di fase Ego Sentris, dimana dia merasa bahwa dirinya adalah pusat kehidupan sehingga orang-orang disekitarnya harus mengikutinya.

Pada fase ini anak juga belum begitu jelas memahami komunikasi, dia sedang dalam upaya mempelajari lingkungannya dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan respon yang diterima dari lingkungannya. Oleh karena itu cara mendidik kita terhadap prilakunya akan membuat dia memilih apakah akan mengulangi lagi prilaku yang sama atau menggantinya dengan prilaku baru. Ambil contoh pada saat ia teriak-teriak akan sesuatu apakah kita segera terpancing untuk memenuhinya..? jika “Ya” maka ia akan belajar bahwa cara itu efektif dan akan diulanginya lagi.

Kemudian pada saat ia teriak-teriak sementara ibu berusaha tidak memenuhinya dengan tujuan untuk mendidiknya, namun sayangnya lama kelamaan karena tidak tega akhirnya ibu mengalah. Apa kira-kira yang di pelajarinya..... ya persis..! dia berpikir..., jadi kalo kemauanya tidak dipenuhi maka aku harus menangis dan kalo menangis juga belum di kabulkan maka aku tambah dengan berteriak-teriak yang keras. Dan bisa sampai disini ibu tidak tega dan mengalah maka ia akan berfikir bahwa cara ini ternyata sangat efektif. Tentu saja ia akan mengulanginya lagi di lebih banyak kesempatan.

Begitulah cara anak kita belajar pada fase-fase pertama kehidupannya. Jadi apa bila ibu sudah mengambil sikap untuk tidak menuritinya maka tetaplah konsisten, biarkan ia menangis hingga akhirnya berhenti sendiri dan mulai menunjukkan tanda-tanda berdamai dengan kita. Katakan padanya jika kamu seperti ini lagi kamu tidak akan mendapat apa yang kamu inginkan tapi jika kamu mau bicara baik-baik maka ibu akan pertimbangkannya. Arahkan selalu anak kita yang berteriak-teriak untuk bicara dan mau menyampaikan secara baik.

Nah jika kita tidak cepat mengetahui cara mendidik kita yang tanpa sadar ternyata keliru , maka prilaku buruk ini akan terus terbawa oleh anak hingga besar, dan semakin bertambah usianya akan semakin sulit untuk mengubahnya, untuk itulah saya menuliskan dalam buku tersebut satu persatu apa saja cara mendidik kita yang keliru dan hal-hal yang perlu kita lakukan untuk mendidik secara tepat. Mengingat banyaknya poin-poin yang perlu di pelajari, paling tidak ada 37 poin, sepertinya kami tidak mungkin menuliskannya pada kolom in satu demi satu maka kami anjurkan ibu untuk memiliki, mempelajari dan mempraktekkan apa yang ada di buku tersebut.

Banyak orang tua yang telah berhasil dalam waktu yang relatif singkat, kuncinya adalah jika kita mau pasti bisa, betapapun sulitnya ternyata mengubah prilaku kita sendiri dalam mendidik anak.

Mari kita bangun Indonesia yang Kuat dari keluarga melalui anak-anak kita tercinta !

Selamat mencoba !

Ayah Edy
www.ayahkita.blogspot.com
www.ayahedy.tk (download parenting gratis)

TIPS MECARI ISTRI YANG HILANG DI MALL



Seorang bapak-bapak paruh baya sedang kebingungan mencari Istrinya yang hilang di Mall.

Hal ini sebenarnya sudah sering sekali dia alami, karena sementara sang suami berjalan tiba-tiba saja sang istri menghilang entah masuk ke toko yang mana mencari apa tanpa memberitahu sang suami.

Namun kali ini apesnya adalah hp yang dia miliki mati karena low bat.

Tapi ia tidak kehabisan akal, segera ia mendekati seorang wanita cantik.

Lalu segera di sapanya;
"Mba apa kabarnya, boleh kita ngobrol sebentar saja disini."

Wanita itu kaget, dan bertanya sambil curiga pada si bapak tadi,
"Ada apa pak, maaf saya tidak kenal dengan bapak"

Segera si bapak tadi menimpali

"Begini mbak saya sedang kehilangan Istri saya di Mall ini padahal baru saja tadi dia disini bersama saya, dan kebetulan hp saya mati, jadi boleh ya kita ngobrol sebentar saja, karena biasanya kalau saya sedang ngobrol dengan seorang wanita cantik tak di kenal, entah dari mana datangnya tiba-tiba saja istri saya nongol."


."Oh sama dong seperti suami saya juga begitu, tuh dia sudah ada di belakang bapak,!"  jawab si mbak singkat.
.

Selamat berakhir pekan ya..... smile please....

Bagaimana ya agar anakku tidak bertengkar terus sepanjang waktu



Please help ya Ayah Edy.... Urgent..urgent...urgent..!!!

Ayah Edy aku Soraya (Bukan nama sesungguhnya) , please tolong dong minta tipsnya bagaimana sich mendidik anak yg bener.... ?

anakku satu umur 3 tahun dan kakaknya umur 5 tahun dua-duanya laki2, waduh... tiap hari ribut terus...gak pernah tenang gak pernah damai, kalo di bilangin gak mau dengerin, paling2 sebentar mereka tenang dan akur, gak lama begitu lagi.

Aku tuh dulu sudah berhenti kerja maksudnya biar bisa handle anakku secara penuh, eh... nyatanya gak bisa juga dan gak gampang ya ternyata...., jauh lebih gampang mengatur kerjaan di kantor.

Mohon bantuannya dong apa saja sich kunci2 penting untuk bisa mendidik anak agar anakku bisa lebih teratur dan baik dirumah. Aku belakangan jadi sering ribut sama papanya gara2 masalah anak2 ini.

Please help ya Ayah.... Urgent..urgent...urgent..!!!

Jawaban ayah:

Saya memahami perasaan bu Soraya memang benar mengurus pekerjaan kantor jauh lebih mudah dari pada mengurus prilaku anak, itu persis seperti komentar istri saya dirumah. Tapi jika kita mau belajar dan tahu caranya pasti bisa dan jauh lebih mudah.
Kunci utama mendidik anak adalah MEMBUAT ATURAN2 MAIN YG JELAS terhadap setiap kasus atau pelanggaran yg dilakukannya.

Buatkan Satu aturan main untuk satu kasus misalnya menggoda kakak atau adik, bicara tidak sopan, meminjam barang tanpa izin, dst. Bisa jadi dalam sehari kita membuat 2 atau 3 aturan main. Itulah mengapa KUHP menjadi sangat tebal sekali karena tiap satu kasus di buat satu aturan main berikut konsekuensinya.

Aturan main yg baik adalah yg sederhana, jelas dan mudah di pahami anak, serta disepakati kedua belak pihak, dilengkapi dengan Rewards and Punishment/konsekuensi dari pelanggaran yg dilakukan oleh anak (buat tertulis jika perlu). Konsekuensi harus mengikat juga bagi si pembuatnya (orang tua), misalnya jika anak di batasi nonton tv hanya 2 jam sehari maka orang tua pun hanya boleh 2 jam per hari, jika kita mewajibkan mereka belajar, maka kita juga wajib menamani mereka belajar (itu bagian dari teladan orang tua).

Hukuman yg baik adalah yg mengurangi kesenangan anak spt bermain bola, sepeda, menonton film kesayangan dll (jika perlu buatlah daftarnya, dan di urutkan berdasarkan tingkat kesengannya), Hukuman bukan yg menyakiti fisik atau perasaan anak seperti memukul atau membentaknya atau tidak mengajaknya bicara selama beberapa jam.
Hukuman yg baik adalah hukuman yg dilaksanakan dengan tegas tanpa kompromi (jika ada kompromi maka akan menjadi banyak pelanggaran seperti yg terjadi pada LALU LINTAS KITA). Akan sangat baik jika terlihat anak akan melanggar kita ingatkan akan kesepakatan yg telah kita buat dan katakan; “Ingat kesepaktan kita..? “Mama Cuma ingin bantu kamu supaya tidak terkena hukuman lho... “

TEGAS merupakan Kunci keberhasilan pelaksanaan dari aturan2 yg kita sudah sepakati. Kita perlu Tegas dan konsisten terhadap upaya anak mengalihkan perhatian seperti dengan MENAWAR-NAWAR HUKUMAN YG SUDAH DISEPAKATI, MENGAJUKAN SYARAT2 TERTENTU BARU MAU MELAKSANAKAN, MENANGIS KERAS, MARAH DAN MEMBANTING2 AGAR KITA TIDAK JADI MENGHUKUM, atau apapun.

Jangan ikut terpancing, tetap tenang. Katakan pada anak “Silahkan kamu Marah dan salurkan marahmu dengan baik, duduk diam dikursi hingga marahmu reda. Jika kamu melakukan perusakan maka kamu akan terkena aturan tentang merusak barang2 saat marah (aturannya lebih dulu dibuat). Silahkan pilih duduk dengan baik sampai marahmu reda atau mendapat hukuman tambahan karena merusak.”

TEGAS dan ADIL jangan pernah selalu membela Adiknya saja dan menyalahkan kakaknya (yg lebih besar harus mengalah), Tegas berbeda dengan marah, dimana letak perbedaannya, TEGAS adalah KONDISI EMOTIANAL STABIL dan Menggunakan Akal Sehat, Sedangkan Marah adalah kondisi melaksanakan aturan dalam kondisi EMOSIONAL TIDAK STABIL dan sering kali bukan untuk mendidik melainkan hanya untuk melampiaskan emosi kita saja.

Tegas adalah tindakan konsisten melaksanakan aturan, Marah lebih sering pada upaya untuk menyerang dan menyakiti hati si anak..

Konsisten adalah sesuai antara ucapan dengan tindakan bukan NATO (No Action Talk Only) alias banyak mengancam tapi tidak pernah dilaksanakan karena lupa, tidak tega atau apapun. Misalnya Awas ya... nanti mama bilangin Papa lho...kamu tidak mau patuh menjalankan kesepakatan. Jadi Laksanakan aturan tanpa ragu atau tanpa dispensasi bagi penegakan aturan main, tanpa menunggu papa pulang atau siapapun, karena keraguan dan dispensasi orang tua adalah sumber awal perlawanan anak.

Mengapa kita sering tidak tega melaksanakan aturan yg kita buat sendiri, karena seringkali orang tua menetapkan aturan KETIKA SEDANG MARAH, hingga aturannya sering berlebihan dan tidak masuk akal untuk dilaksanakan oleh anak, dan SETELAH SADAR KEMBALI akhirnya tidak tega dan diberi dispensasi atau tidak jadi dilaksanakan.

Jadi jangan MARAH jika sedang membuat aturan pada anak atau JANGAN BUAT ATURAN jika sedang marah. Silahkan pilih mana yg paling cocok dengan kondisi ibu.
Kunci terakhir adalah KOMPAK. Satu suara antara Ayah dan Bunda dalam membuat dan melaksanakan aturan main berikut konsekuensi saat terjadi pelanggaran2. Jika antara PASANGAN masih belum KOMPAK DAN SATU SUARA maka semua penjelasan di atas akan menjadi SIA-SIA BELAKA. Dan anak-anak lah yg akan mengatur orang tuanya dengan aturan main yg dibuatnya sendiri.
Jangan lupa setiap ada aturan baru untuk memberitahu pasangan agar kekompakan tetap terjaga.

Untuk melengkapi semua teknik dan caranya lebih detail ibu bisa membaca buku kami yg berjudul Mengapa Anak Saya suka melawan dan sulit di atur yg di terbitkan GRASINDO dan buku yg berjudul Ayah Edy Menjawab 100 persoalan Orang tua yg jawabannya tdk ada di kamus manapun yg diterbitkan oleh Qanita- Mizan.

Selamat mencoba, jika kita mau pasti bisa, dan bukannya jika saya bisa pasti mau..
Di tulis oleh Ayah Edy
www.ayahkita.com

==================================
Untuk belajar mendidik anak silahkan download file audio parenting ayah edy gratis di salah satu link berikut ini;
Tinggal Klik:
1. www.ayahedy.tk
2. https://onedrive.live.com/…
3. via fb: https://www.facebook.com/groups/548259441862337/files/
Membeli buku ayah edy secara on line bisa tinggal klik:
1. https://www.facebook.com/NBTravelnTour
2. klik like
3. tulis pesanan buku di inbox

KEHANCURAN GENERASI INDONESIA

Cara mudah menghancurkan sebuah bangsa adalah dengan cara menghancurkan generasi penerusnya sejak usia dini.

Mari kita lindungi anak kita dari upaya penghancuran bangsa melalui anak-anak kita tercinta.

Mau ?

Coba bayangkan jika sejak kecil mereka sudah seperti ini ?

klik: https://www.facebook.com/inspiring.technologies/posts/10205649876510083


MASALAH SEPUTAR ABG DAN REMAJA



Ketika memasuki usia remaja, mengapa anak berubah jadi cuek, sensitif dan pemarah?

Riana sedang muram. Pasalnya, ia merasa putranya makin lama makin jauh darinya. Riana ingat, ketika Bart masih kecil, mereka sangat dekat. Bart selalu mengikuti Riana ke mana pun. Pulang sekolah, Bart langsung memeluk Riana dan ceriwis menceritakan berbagai kejadian di sekolah.

Namun perlahan-lahan, ketika Bart telah menginjak usia remaja, ia menjauh. Jangankan memeluk Riana, diajak jalan berdua saja tak mau. Jangankan bercerita panjang lebar seperti dahulu, kalau ditanya saja jawabannya hanya satu atau dua patah kata. Bila dipaksa bicara lebih panjang, ia malah sebal.

Ayah Edy, bagaimana ini?

Jawaban Ayah Edy:

Ayah Bunda tercinta,

Ini kasus yang menarik. Anak kita berubah, tapi kita –orangtuanya—tidak berubah. Orangtua masih memperlakukan remajanya seperti bocah kecil, padahal mereka sama sekali bukan kanak-kanak lagi. Tak heran, mereka jadi sensitif karena merasa diperlakukan seperti anak kecil terus. Petunjuk yang paling mudah bagi orangtua adalah jika anak sering mengucapkan kallimat: “Aku kan bukan anak kecil lagi Maaaa...”

Nah, saat itulah kita harus sadar bahwa selama ini remaja kita merasa diperlakukan seperti bocah kecil oleh orangtuanya. Dan si remaja tak menyukai perlakuan semacam ini.

Lalu bagaimana seharusnya orangtua memperlakukan anak remajanya?
Perlakukanlah remaja seperti peer atau sahabat kita. Selama ini orangtua biasanya bicara pada anak remajanya secara top-down. Maksudnya, orangtua menempatkan diri di atas anak. Orangtua memberikan nasehat, petunjuk dan perintah lalu anak diharapkan menerima dan menjalannya begitu saja. Bagaikan atasan dan bawahan.

Namun jika orangtua menempatkan remaja sebagai sahabat, berarti hubungannya adalah friend to friend. Orangtua tidak akan menggunakan kalimat ‘kamu harus begini...’ atau ‘pokoknya kamu wajib begitu...’.

Sebaliknya, orangtua akan mengajak remajanya berdiskusi. Daripada menyuruh dan memerintah, orangtua akan lebih banyak bertanya ‘bagaimana menurutmu?’, ‘apa pendapatmu?’, ‘menurutmu, apa positif dan negatifnya?’, ‘bagaimana solusinya?’.

Jika Ayah Bunda melakukan ini, berarti Ayah Bunda sedang mendidik anak untuk mengambil keputusan sendiri. Menurut saya, ini wajib dilakukan orangtua ketika anak telah remaja.

Bagaimanapun, orangtua takkan bisa mendampingi anak selama-lamanya. Semakin dewasa seorang anak (dan seiring bertambahnya usia kita), waktu kebersamaan kita dengan anak akan semakin berkurang.

Perlahan-lahan, keterlibatan kita dalam kehidupannya pun tak sebanyak dahulu. Karena itu, inilah saat yang tepat bagi kita untuk mendidik anak mengambil keputusan, menjadi dirinya sendiri dan belajar mengarungi hidup tanpa orangtuanya. Bila kita tak melakukannya sekarang, kapan lagi?

Namun bagaimana jika orangtua takut jika anak mengambil keputusan yang salah?

Pertama, saya menggarisbawahi kata ‘takut’. Apakah ‘takut’ di sini bermakna ‘rasa’ atau ‘fakta’? Saya yakin Anda akan menjawab ‘rasa’, padahal yang kita butuhkan adalah fakta.

Kedua, life is only a lesson. Dalam hidup hanya ada pelajaran, pelajaran dan pelajaran. Jika remaja Anda mengambil keputusan yang salah lalu ia harus menanggung risiko kesalahannya, itu adalah pelajaran berharga baginya.

Jika semua orang takut salah, tidak akan ada yang berani berdagang. Dari sepuluh kali mengambil keputusan, seorang pedagang mungkin tujuh kali salah.

Saya sendiri mengambil keputusan-keputusan yang salah sebelum akhirnya memutuskan terjun ke dunia parenting. Jadi salah adalah bagian penting untuk mengetahui mana yang benar. Jadi jangan pernah takut salah.

Karena kesalahanlah maka kita akan tahu yang benar.

dipetik dari buku Ayah Edy Menjawab Problematik orang tua ABG dan Remaja.

APAKAH KITA ORANG TUA YANG BUTA HURUF DI ABAD MELENIUM ?



Orang yang buta huruf di abad ini bukanlah orang yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak mampu membaca potensi emas yang dimiliki anaknya

-ayah edy-
www.ayahkita.com

Renungkanlah....

Ketika orang tua mengeluhkan anaknya yang malas belajar, apakah kita sebagai orang tuanya ternyata juga sama malasnya untuk menemani anak belajar ?

-ayah edy-
www.ayahkita.com


MENGAPA SETELAH ANAK KITA BISA BICARA LALU KITA MINTA DIAM ?

Selama 14 tahun terjun di dunia parenting, saya banyak sekali menemukan orang tua yang sibuk dengan berbagai macam cara hingga terapi untuk membuat anaknya agar bisa cepat berbicara lancar terutama di awal-awal masa balita anaknya.

Tapi ketika anaknya sudah sangat lancar bicara, justru kini mereka sibuk untuk memarahi anaknya agar bisa diam dan tidak banyak bicara.

-ayah edy-
www.ayahkita.com


Road Show Berbagi CD Parenting Ayah Edy Gratis dari Kuta hingga Singaraja

Lunch with my lovely teachers at puri bagus lovina

Perjalanan Roadshow berbagi CD parenting dari Kuta hingga Singaraja berakhir kemarin, di Puri Bagus Lovina by Sekolah Maha Karya Gangga.

Alhamdullilah hasilnya luar biasa banyak kesan disepanjang perjalanan kami dan di setiap kota dan desa yang kami lalui.

Terimakasih untuk seluruh relawan dan semua pihak yang telah mendukung acara ini.

Semoga kita semua bisa mendapatkan manfaa yang sebesar-besarnya dari acara ini.

Salam syukur penuh berkah,
ayah edy

Foto-foto lengkap rangkaian perjalanan kami dari banjar ke banjar mulai dari banjar Bakungsari kuta hingga Singaraja bisa dilihat melalui fb ketua relawan Bali bapak Made Nuriana klik: https://www.facebook.com/made.nuriana


The Most Expresive picture by Made Nuriana

The most expresive picture and amazing moment from Batuan, Gianyar, Bali Parenting, Photo Grapher by pak Made Nuriana

1. Ayah sedang berdialog dengan seorang anak yang diduga mengalami Mongolian Syndrome



2. Ayah sedang mendoakan anak tersebut dengan metode gen dorman (kasih tanpa syarat) agar kelak bisa tumbuh sebagai anak yang normal seperti anak-anak lainnya.



Parenting dari Banjar ke Banjar (dari desa ke desa di Bali)


BELAJAR ITU MULAI DARI BUAIAN HINGGA KE LIANG LAHAT

Ini terjadi di banjar Nyuh Kuning, Ubud, Bali (near mongkey forest)

Kami salut pada salah seorang peserta yang ternyata jauh lebih senior dari saya, tapi masih mau belajar parenting, datang jauh-jauh ke Ubud,  dari banjar tempat tinggalnya
Bahkah berniat untuk mengadakan acara yang sama di banjar tempat tinggalnya.

Matursuksma nggih !


Praktek Parenting Ayah Edy


Disepanjang perjalanan ayah selalu mempraktekan langsung bagaimana menghadapi masalah anak di hadapan orang tua sehingga banyak orang tua yang manangis dan terharu melihat prosesnya dan hasilnya.

Mari kita bangun Indonesia yang kuat dari keluarga, melalui anak-anak kita tercinta.

Batuan, Gianyar, Bali

foto selengkapnya klik: https://www.facebook.com/komunitas.edy/posts/920397484717662?pnref=story



SEBUAH AJAKAN DARI KAUM MUDA INDONESIA !



Di share langsung dari  Saniatu Aini
11 hours ago

Salah satu nasihat Ayah Edy yg jleb banget malem ini

Beda pacar dengan soulmate

Pacar = 6 bulan kemudian pasti ketemu pacar yang baru, dan dia menghalangi/keberatan dengan mimpi-mimpi/rencana-rencana hidupmu ke depan

Soulmate= Ia mendukung dan sejalan dengan mimpi-mimpi/rencana-rencana hidupmu kedepan

Dan yang enggak kalah penting adalah, kalau pasangan kamu males buat diajak belajar PARENTING mending PUTUSIN aja, karena kalau sekarang udah enggan buat belajar parenting kemungkinan besar nanti juga bakalan susah (pas udah jadi pasangan yg beneran resmi/menikah).

Kan ngasuh anak itu harusnya bareng-bareng sama orang yg satu pemikiran, lha kalau enggak bagaimana jadinya menjadikan seorang anak yg sesuai dengan 'cetakan' yg kita mau.

Ahaha...ayo pria-pria mulailah getol mempelajari sedikit demi sedikit mengenai parenting.

Karena pria luar biasa itu bukan hanya yg siap menjadi seorang suami tapi juga SIAP menjadi seorang AYAH =).

ANAK YANG JAGO KANDANG ?



Para orang tua dan guru yang berbahagia....

Tahukah kita apa yang dimaksud dengan gejala On & Off itu...?

Ya apa bila ada diantara anak kita yang jika dirumah cenderung aktif tapi jika disekolah berubah menjadi pasif, atau sebaliknya itulah salah satu yang dimaksud dengan gejala on & off, atau yang dalam istilah awam sering di katakan sebagai anak yang "jago kandang".

Contoh lainnya misalnya apa bila salah satu orang tua sedang pergi, si anak menjadi aktif dan kreatif namun tiba-tiba setelah salah satu dari orang tuanya pulang kerumah mereka segera berubah menjadi pasif dan tidak kreatif lagi. Ini juga termasuk gejala on & off.

Jadi gejala on & off terjadi apa bila disatu lingkungan atau kondisi anak kita aktif namun dilingkungan atau kondisi lainnya tiba-tiba dia berubah menjadi pasif atau acuh tak acuh.

Sesungguhnya prilaku anak yang sehat adalah on & on artinya dimanapun dia berada dia selalu dalam kondisi sama, mirip seperti hand phone yang kita miliki jika hp yang kita gunakan tiba-tiba mati tanpa sebab padahal batreenya masih penuh biasanya ada sesuatu yang tidak beres dengan signal disekitarnya.

Begitu pula dengan anak kita jika tiba-tiba saja prilakunya berubah tidak seperti biasanya tentu saja pasti ada yang tidak beres dengan orang-orang disekitarnya dalam memperlakukan dirinya sehingga ia meresponnya dengan meng offkan dirinya sendiri.

Hal ini banyak saya temui pada keluarga-keluarga yang orang tuanya memiliki prilaku berbeda secara ekstrim misalnya Ayahnya keras tapi Ibunya Lembut, Ibunya Perfectionist sementara Ayahnya cenderung Fleksible.

Bisa juga Keluarganya oke di rumah, tapi guru-guru disekolahnya sering memarahi, menghukum atau mengucapkan kata-kata yang merendahkan harga diri si anak.

Para orang tua dan guru yang berbahagia......

Prilaku Off si anak ini sesungguhnya akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dirinya khususnya yang berhubungan dengan aspek kecerdasan dan prilaku.

Anak yang cenderung Off maka akan terganggu proses perkembangan potensi berpikir kreatif dan berpikir logisnya; jika hal ini tidak segera kita atasi maka kelak anak yang dibesarkan dalam kondisi semacam ini akan menjadi generasi yang pasif, masa bodoh dan tidak kritis terhadap permasalahan karena softwere kecerdasan yang seharusnya berkembang saat ia sedang dalam kondisi on telah menjadi tumpul karena ia sering berada dalam kondisinya off.

Sementara Prilaku anak yang sering cenderung off ini kelak akan menyebabkan ia akan menjadi orang yang minder, tidak punya percaya diri, temperamental dan prilaku2 buruk lainnya.

Gejala on & off inilah yang dideteksi menjadi sumber pokok munculnya prilaku bermasalah bagi anak-anak dirumah ataupun disekolah.

Wahai para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada; mari bersama-sama kita perbaiki sikap kita dalam mendidik dan mengajar anak-anak kita, mari kita perbaiki juga pola asuh kita dirumah agar anak kita selalu dalam posisi On & On agar kelak mereka bisa menjadi generasi kritis, kreatif, dan peduli pada nasib bangsanya...!

Silahkan di share jika artikel ini di rasa bermanfaat.

Terimakasih

by ayah edy
www.ayahkita.com

PENTINGNYA MEMILIH PASANGAN YANG PALING COCOK DENGAN KITA



MASA PDKT ADALAH MASA YANG HARUSNYA KITA GUNAKAN UNTUK MENGUKUR SEBERAPA COCOK DIA DENGAN KITA.

Jika anda saat ini sedang PDKT, cobalah ajak dia untuk membahas hal-hal tentang pengelolaan rumah tanga, parenting dan pengasuhan anak.

Jika ia menghindar, maka lebih baik pikir-pikir lagi sebelum melanjutkan untuk lebih serius.

Karena jika dari awal sudah tidak peduli, maka kelak ketika sudah berumahtanggapun sepertinya akan tidak peduli dengan masalah2 rumah tangga, dan dia akan membiarkan kita sedirian mengahadapi segala persoalan yang ada.

-ayah edy-
wwww.ayahkita.com


APAKAH KITA TERMASUK ORANG TUA MAL PRAKTEK ?



Mau jadi Dokter ada sekolahnya. Dan untuk bisa praktek jadi Dokter tidak hanya harus sekolah saja tapi juga harus lulus ujian.

Dokter yang praktek tanpa lulus sekolah kedokteran akan disebut sebagai Mal Praktek.

Sementara kita jadi orang tua tidak pernah sekolah jadi orang tua, jika seandainya saat ini kita sekolahpun belum tentu lulus semua pelajaran terutama pelajaran kesabaran.

Lantas ketika menikah dan punya anak tiba-tiba saja kita praktek jadi orang tua.

Kira-kira akan disebut apakah orang tua yang praktek mengasuh anak tanpa belajar dan lulus ilmu parenting tsb ?

Ah seandainya saja kita segera menyadari hal ini, maka kita akan segera berhenti memarahi anak kita setiap hari dan segera belajar parenting mulai hari ini juga.

-ayah edy-
www.ayahkita.com


PELAJARAN BERHARGA DARI GURU KECILKU DIMAS

PELAJARAN BERHARGA DARI DIMAS ANAKKU TERCINTA DAN GURU KECILKU YANG TEGUH MEMEGANG KOMITMEN.

Sahabatku para ayah bunda, bacalah kisah ini sampai akhir, please.....

Untuk mengajari anakku tentang seks edukasi dan organ reproduksi aku berusaha mencari berbagai buku tentang anatomi tubuh, dan setelah putar-putar mencari di toko buku maka Inilah buku paling murah (mahal murah sesungguhnya relatif berbanding manfaatnya) yang pernah saya temukan di toko buku Gramedia.

Buku tentang anatomi tubuh manusia bergambar yang saya gunakan untuk memperkenalkan pada anak-anak saya tentang alat dan fungsi organ reproduksi pada manusia.

Juga saya gunakan untuk melatih anaksaya bereaksi benar melalui otak kiri Sains Biologi Kedokteran, dalam bereaksi terhadap gambar organ-organ seksual manusia. (karena kedua anak kami homeschooling)

Dan alhamdulliah sejauh pengamatan kami anak-anak kami berekasi sangat positif sekali ketika melihat gambar-gambar porno di Internet.

Bahkan Pekan lalu kami mendapat undangan menghadiri PENTAS TARI BALET, di Gedung Kesenian Jakarta,  Awalnya anak-anak kami ajak, karena penarinya juga anak--anak.

Tapi ternyata acara di selingi tentang kisah orang dewasa yang berpacaran dengan orang dewasa laki-laki perempuan yang menari belet berdua.

Tiba2 saja Dimas anak kami yang ke-2 langsung melorot dari kursinya dan tidur di lantai karpet bawah di baris kursi yang mirip dengan Cinema 21.

Karena kami belum sempat berbincang kamipun hanya memberikan seulas senyum sambil mengatakan nanti setelah selesai acara kita diskusi ya.

Dan ketika saat pulang, di mobil kami bertanya, mengapa Dimas berlaku seperti itu dan tiduran di lantai kotor.

Dia berkata,  "Dimas tidak suka acaranya tidak sopan banyak kata-kata yang tidak sopan menggunakan "Elu dan Gua", banyak om tante berpakaian tidak sopan dan berpelukan, Dimas tidak mau lihat itu semua dan lebih baik tidur di lantai karpet saja."

"Ayah Jahat mengapa Dimas di ajak nonton acara seperti ini ! " teriaknya keras.

Serasa di tampar muka saya oleh Dimas, saya sungguh tidak menyangka alasan Berbaring di lantai karpet selama pertunjukan berlangsung adalah karena hal tersebut.

Lalu saya berkata,  "Ayah sungguh2 minta maaf ya Nak, ayah tidak tahu bahwa acaranya seperti ini, karena ayah di undang untuk menghadiri pentas tari balet untuk anak-anak dan bukan orang dewasa, dan ini baru pertama kalinya ayah di undang, jadi ayah tidak tahu acaranya akan seperti ini."

"Lain kali jika terjadi hal yang seperti ini lagi ayah janji kita akan langsung keluar ruangan dan pulang."

Dan setelah sampai di rumah saya ulangi lagi permintaan maaf saya sambil memeluk Dimas anakku erat-erat sambil berbisik "Sekali lagi maafkan kesalahan ayah ya Nak" dan iapun mengangguhkan kepalanya tanpa berkata apapun.

Satu lagi pelajaran berharga dari guru kecilku yang bernama Dimas.

Sekali lagi maafkanlah ayahmu ya Nak dan ampuni aku ya Allah....,  InsyaAllah kejadian ini tidak akan pernah terulang lagi.

-ayah edy-
www.ayahkita.com

Sabtu, 16 Januari 2016

MATEMATIKA TANPA AGAMA AKAN MELAHIRKAN MANUSIA-MANUSIA KIKIR ?



Sebuah pertanyaan yang membuka kesadaran kita semua.

Liliek Damasetyawati
Sangat stuju dan benar skali Ayah.Tapi bagaimana dengan sebagian orang sebenarnya punya segalanya tetapi berlagak tidak tahu atau tidak punya/ pelit info dan tdk mau berbagi,  ada lho yg begitu Ayah..
mat pagi.....

Unlike · Reply · Message · 3 · 3 hrs

Komunitas AYAH EDY
Dulu kita di sekolah diajari matematika jika 10 - 2 = 8 dan jika 10 : 2 = 5 (lebih kecil lagi hasilnya) Jadi kita terlatih untuk takut berbagi.

Padahal Agama kita mengajari jika 1:1 = 70 kali lipat balasan kebaikan yang akan kita terima.

Tapi sayangnya kita semua lebih bangga jika anak kita lebih paham MATEMATIKA ketimbang lebih paham agama.

Mungkin ini bisa menjelaskan dan menjawab pertanyaan bunda,

Tksh byk ya bun pertanyaan bunda telah membuat sy sadar bahwa jauh lebih penting mengajarkan pendidikan akhlak dan agama kepada anak-anak dan murid-murid kita.

Like · Reply · 19 · Commented on by Ayah Edy Parenting · 3 hrs · Edited

Ayah Gimana sih agar anakku tuh gak sosmed-an terus pagi, siang sore malem....?



Shanti sedang galau. Putrinya Irsa sudah berusia 16 tahun dan sedang ‘mekar-mekarnya’. Irsa cantik dan supel. Kawannya banyak. Satu lagi, Irsa sangat eksis di sosmed (social media).

Sebut saja Facebook, Twitter, Path, Instagram, pasti ada akun Irsa. Tidak cuma sekadar punya akunnya, Irsa juga aktif membuat status, nge-tweet dan mengunduh foto-foto. Friends Irsa di Facebook atau followers-nya di Twitter bukan hanya teman atau keluarga yang dikenal Irsa, tapi juga banyak orang asing yang entah siapa. Tiada hari tanpa sosmed bagi Irsa. Tiada kegiatan yang luput diberitakan via sosmed.

“Pokoknya Kak Irsa eksis berat, deh!” kata Tita, putri kedua Shanti.
Awalnya, Shanti sama sekali tak keberatan.

Namun belakangan ini ia sering membaca berita tentang penipuan, penculikan bahkan pemerkosaan remaja yang berawal dari sosmed. Si penjahat pura-pura menjadi kawan baru yang asyik di sosmed. Ketika si remaja sudah percaya, penjahat lalu meminta nomor ponsel dan pertemanan dilanjutkan dengan saling mengirim pesan.

Langkah berikutnya, si penjahat mengajak targetnya kopi darat alias ketemuan. Saat bertemu itulah, si penjahat melancarkan rencananya. Bisa terjadi bermacam-macam kejahatan.

Shanti ngeri membayangkannya. Ingin rasanya ia menyuruh Irsa menutup semua akun sosmednya. Namun, mana mungkin Irsa mau? Kalau Irsa tak mau berhenti main sosmed, Shanti merasa perlu membuat peraturan agar putrinya tidak kebablasan.

Apa ya, rambu-rambu yang harus diberikan pada Irsa?

Jawaban Ayah Edy:

Ayah Bunda yang penuh kasih

Langkah pertama dalam membuat rambu-rambu bersosmed adalah mencari informasi seputar kasus-kasus terkait. Coba saja googling di internet. Selanjutnya, berbagilah informasi itu pada anak kita. Lakukanlah sharing, bukan briefing. Misalnya begini:
“Kak Irsa, sini deh. Lihat deh, ada kasus, nih. Seram, deh.”

“Apa sih, Ma?”
“Ini..., ada penculikan anak SMA. Si penculiknya kenal korbannya dari sosmed.”

Selanjutnya, setelah sama-sama membaca berita itu, lontarkan pertanyaan pada anak:
“Kok bisa ya, Kak? Menurut kamu, gimana?”

Pertanyaan sangat penting, karena dengan pertanyaan kita bisa tahu pikiran anak kita. Tahan mulut Anda untuk segera berkata, “Tuuuh..., makanya nggak usah main-main sosmed deh” atau “Tuuuh, makanya kalau main sosmed jangan berteman dengan orang asing.” Cukup lontarkan pertanyaan dan dengarkan apa jawaban anak kita.

Mungkin saja, dia sudah mengetahui kasus-kasus semacam ini lebih dahulu. Mungkin saja dia menjawab:
“Iya Ma, temanku juga pernah hampir jadi korban.”
“O ya? Masa sih? Ceritanya bagaimana, Kak?”

Simak cerita anak baik-baik. Orangtua sering tak tahan dan langsung menimpali (atau menasehati) panjang lebar retetetetetet bagai senapan mesin.

Atau bila ia tak bercerita apa-apa atau tak pernah mendengar kasus semacam itu, pancinglah ia dengan cerita Anda:
“Kemarin, teman Mama juga hampiiir saja...” (ssst... nggak perlu cerita asli. Sekali-kali mengarang bebas demi kebaikan anak juga boleh, kok)

“Hampir apa, Ma?”
“Yaaa... begitu deh.”
“Begitu deh apa sih Ma?”
“Ngeri deh, pokoknya!”
“Si tante itu juga hampir jadi korban...”
“Terus? Gimana ceritanya?”

Nah, inilah salah satu teknik berkomunikasi dengan anak. Jangan langsung full. Berikan ia sepotong-sepotong. Jika ia bertanya ‘terus?’, berarti ia mendengarkan dan tertarik pada cerita kita.

Selanjutnya, putar-putar terus dan akhiri kembali dengan pertanyaan:
“Menurut kamu bagaimana, Sayang?” Tanyakan juga padanya, “Lalu, supaya kejadian seperti itu tidak terjadi pada kita, harus bagaimana ya Nak?”

Mungkin dia akan menjawab: “Yaaa..., jangan mau dong kalau diajak ketemu orang asing.”

Tanyakan lagi, “Kalau Kakak di sosmed bagaimana? Berteman dengan orang yang tak dikenal, nggak?”

Bangunlah sistem self-defense anak dengan pertanyaan-pertanyaan. Dampingi anak dalam ‘menyusun’ peraturannya sendiri.

Berdiskusilah dengannya. Anak-anak kita itu pintar lho. Mereka lebih jago dan lebih gaul dari orangtuanya. Lihat saja, soal gadget atau sosmed, biasanya mereka lebih mahir.

Orangtuanya tak perlu sok pintar. Semakin kita ‘bodoh’, semakin pandai mereka. Maksudnya, daripada menasehati blablabla (yang cenderung malah diabaikan anak), bertanyalah pada mereka dan diskusikan bersama.

Dipetik dari buku ayah edy menjawab problematika orang tua ABG dan Remaja

www.ayahkita.blogspot.com

MENYIKAPI ORANG TUA YANG ANTI PERUBAHAN ?

Berikut ini ada sebuah pertanyaan dari seorang sahabat yang meminta tanggapan kami atas sebuah tulisan berikut ini.

Nisyum Spaer with Ayah Edy Wiyono.
7 hrs ·

Bagaimana tangapan Ayah Edy Wiyono tentang ibu-ibu masa kini??

artikel yang ditanyakan diatas selengkapnya bisa di baca di link ini: https://www.facebook.com/nisyum.spaer/posts/1237843182910257?pnref=story

=================================================
Dan inilah tanggapan kami,

Setidaknya ada 3 cara untuk menjadi manusia yang lebih baik,

Yang pertama belajar dari pengalaman sendiri (tapi ini bersiko dan sering kali menyakitkan, juga butuh waktu lama)

Yang kedua belajar dari pengalaman orang lain, ini lebih efektif dan lebih tidak menyakitkan.

Yang ketiga belajar dari pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain sebagai pembanding. Ini adalah jalan tengah.

Tulisan diatas bagi saya pribadi analoginya sama seperti orang yang gemar minum soft drink atau minuman bersoda, yang katanya bisa untuk mengatasi masuk angin, lalu ada info baru dan pengalaman dari orang lain  bahwa soda itu berefek pada oesteoporosis atau pengeroposan Tulang.

Lalu ada info atau ada yang mengajak atau menyarankan untuk menggunakan Air Seduhan Jahe plus Madu jika masuk angin, dengan resiko lebih kecil atau malah tanpa efek samping.

Apakah kita akan galau, atau "cuek" tetap pada kebiasaan lama kita terus gunakan softdrink?

Apakah ia tetap ingin dengan kebiasaan lamanya meminum soft drink menunggu sampai benar2 mengalami osteoporosis/pengeroposan tulang dulu baru mau ganti minum jahe?

atau segera mengambil keputusan yang lebih baik?
Nah tentu saja keputusannya terserah orang yang diberi saran tsb.

Analogi lain sama juga dengan para perokok, yang apa bila kita beri saran atau ajak berubah, pasti akan keluar sejuta alasan untuk tidak mau berubah dan tetap pada kebiasaan lamanya, apapun resikonya, itu artinya ia memilih jalan yang pertama, mengalami dulu terkena kanker baru mau berubah dan berhenti merokok.

Saya sendiri selama ini melakukan keduanya belajar dari pengalaman sendiri juga dari pengalaman orang lain,  tapi yang jauh lebih sering adalah belajar dari pengalaman orang lain sebagai referensi untuk menjadi lebih baik.  Karena menurut saya lebih efektif, efisien dan minim resiko.

Namun kita perlu juga sadari bahwa tiap orang memiliki pilihan bebas, untuk memilih cara apa yang ia ingin lakukan, tentu saja berikut resikonya.

Sy sendiri sebagai pendidik mencoba mempelajari semua hal untuk membuat kita lebih baik dengan resiko yang paling kecil, lalu kemudian membagikan pengalamannya.

Tapi sekali lagi jika tidak mau mengikuti ya itu pilihan masing-masing, tak ada kuasa bagi kita untuk mengubah orang lain atau siapapun menjadi lebih baik kecuali atas keputusan orang itu sendiri.

Bagi saya pribadi sebisa mungkin saya selalu berprinsip bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.

Belajar itu mulai dari buaian hingga liang lahat, belajar dari siapapun dan kapanpun tiada kata akhir.

Silahkan tentukan pilihan kita masing-masing dalam menjalani hidup ini dan mengasuh buah hati tercinta.

Salam hangat,
ayah edy


FENOMENA ANAK SINESTESIA ?

sy pernah memimbimbing salah satu anak yang katanya termasuk memiliki fenomena "Sinestesia".

Yang selama ini potensi emas yang dimilikinya hanyut dan hampir terpendam karena bersekolah di sistem sekolah yang terlalu banyak pelajaran, terlalu banyak tes dan ujian juga terlalu banyak PR dan Tugas harian.

Dan ketika ia kami bimbing dan pada akhirnya orang tuanya memutuskan untuk memindahkan sekolah anaknya ke sekolah yang sesuai saran kami yakni sekolah yang sedikit mata pelajaran, fokus pada potensi emas anak dengan cara belajar lebih banyak membuat project2. maka....

Luar biasa hasilnya,  ternyata ia segera berubah menjadi seorang anak yg sangat cerdas atau bahkan jenius dibidang seni.

Dalam usia yang masih SMP (sekarang sudah SMA akhir) ia sudah berhasil menciptakan karya-karya seni terbaik disekolahnya (di Indonesia) untuk di pamerkan di salah satu galery di Singapura.

Ia juga pandai mendesain Packaging Product untuk segala jenis produk termasuk makanan.  Serta menjadi murid dengan kemampuan seni terbaik di sekolahnya (padahal 70-80% siswanya adalah orang asing dan anak-anak expatriat)

Yang menariknya adalah ia mendapat penilaian terbaik dan tertinggi pada salah satu lembaga penilai karya seni di AS.

Dan kini ia sudah di terima disalah satu Perguruan Tinggi yang memiliki Jurusan Seni terbaik di dunia dan siap-siap untuk memasuki pentas dunia.

Anak Indonesia gitu lho.... !!!

Sy sejak dulu yakin sekali  jika kita tidak salah mengarahkan mereka, anak Indonesia itu sungguh luar biasa tidak hanya di negerinya sendiri bahkan untuk tingkat dunia.

Tapi sayangnya kami belum mendapat izin dari orang tuanya untuk menampilkan foto-fotonya bersama kami untuk sementara ini.

Apakah Sinestesia ?

Silahkan search di google agar para orang tua lebih banyak belajar dengan mencari informasi sendiri.....

Selamat berselancar....

Anakku selalu memaksa dan tarik-tari baju, mengamuk untuk dibelikan sesuatu di tempat umum




TANYA:

Ayah, Please Help...me...

Nama saya Indah Laksmi, bunda dari 1 orang anak laki-laki kini 18 bulan. Anak saya ini aktif sekali, benar-benar tidak bisa diam. Seringkali saya terus mengingatkan diri saya bahwa dia aktif berarti dia sehat dan cerdas, dan dia sedang proses eksplorasi.

Yang mengkhawatirkan adalah lebih ke emosinya. Ketika anak saya marah atau tidak mendapatkan apa yg dia inginkan, apakah dilarang atau dia tidak berhasil melakukan sesuatu, dia selalu berteriak-teriak. Saya masih berpikir mungkin karena dia belum bisa bicara/komunikasi, jadi dia mengekspresikannya dengan teriak-teriak.

Tapi, lama-lama mengkhawatirkan juga Ayah padahal ketika dia berteriak pun saya dan ayahnya tidak menuruti kemauannya, karena bisa lama sekali dia nangis plus teriak-teriak.

Pertanyaan saya lebih pada, apa ya yg bisa saya lakukan lagi (kegiatan/aktifitas) untuk anak saya yg aktif dan juga apa yg bisa saya lakukan agar anak saya tidak perlu berteriak-teriak ketika ngambek/marah?

Terima Kasih.
Indah Laksmi

Bu Indah yang baik hati,

Anak kita membawa kesempurnaan dari Tuhan dalam setiap prilakunya, dan sebenarnya Tuhan memberikan tanda-tanda akan potensi yang tersimpan dalam diri buah hati kita. Apa yang ibu lakukan dalam melihat prilakunya yang aktif sebagai pertanda anak ibu sehat dan cerdas sungguh sangat baik sekali, begitu juga dengan emosinya yang meledak-ledak serta suka teriak itu juga sesungguhnya sebuah pertanda bahwa anak ibu adalah tipe anak yang verbal dan memiliki tekad yang kuat sebagai sorang pemimpin yang selayaknya kita syukuri.

Namun demikian buah hati kita juga perlu kita ajari bagaimana mewujudkan prilakunya sebagai calon pemimpin masa depan dengan cara yang lebih positif.

Anak yang aktif pada dasarnya adalah anak yang memiliki energi fisik diatas anak rata-rata, yang dia butuhkan adalah bukannya larangan demi larangan dari kita orang tuanya, melainkan ide-ide kreatif untuk menyalurka energi kreatifnya tersebut, oleh karena itu mari setiap saat kita cari ide-ide kreatif apa yang cocok untuk menyalurkan energi anak kita, supaya aktifitas pembelajarannya menjadi jauh lebih positif dan sehat. Saya memberikan kesemptan kepada anak saya untuk melakukannya di rumah.

Apa yang saya lakukan dirumah adalah membuat kesepakatan bersama istri bahwa rumah kita akan kita jadikan sebagai lahan ekplorasi bagi anak-anak, dan saya juga mengajak istri untuk tidak berharap hidup “normal” seperti umumnya standar normal orang dewasa yang penuh dengan keindahan dan kerapihan hingga anak-anak berusia 8-12 tahun. Oleh karena itu kami untuk sementara ini berusaha untuk tidak memiliki barang atau pernik-pernik yang “antik” yang menyebabkan kami melarang anak-anak kami untuk memainkannya.

Benda apa saja yang tersisa dirumah adalah yang boleh untuk di eksplorasi, bahkan rumahnya pun kami pilih yang boleh di eksplorasi, kami sudah Ikhlas rumah kami di jadikan penyaluran energi kreatif anak-anak kami mulai dari bangun pagi hingga tidur malam hari.

Cara berikutnya adalah dengan membawanya ke tempat “Kids Play Ground” yang belakangan ini marak di sediakan di pusat-pusat perbelanjaan dsb.

Sedangkan masalah emosinya yang sering meledak-ledak dengan teriakan, pada dasarnya berkaitan dengan tipe sifat dasarnya yakni Verbal & Keras (Watak Seorang Pemimpin), yang biasanya diwarisi dari salah satu orang tuanya. Oleh karena itu cara kita mendidikpun harus di sesuaikan dengan tipenya yang pemimpin tsb. yakni; Bicara singkat, tidak perlu panjang lebar, gunakan metoda reward and punishment. Lebih lengkapnya ibu bisa membaca buku kami yang berjudul 37 kebiasaan ortu yang menghasilkan prilaku buruk anak, diterbitkan oleh Grasindo.

Namun demikian melihat usianya yang baru 18 bulan, sebenarnya apa yang terjadi pada buah hati ibu adalah proses yang sangat alamiah yang dialami setiap anak yang sedang berada di fase Ego Sentris, dimana dia merasa bahwa dirinya adalah pusat kehidupan sehingga orang-orang disekitarnya harus mengikutinya.

Pada fase ini anak juga belum begitu jelas memahami komunikasi, dia sedang dalam upaya mempelajari lingkungannya dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan respon yang diterima dari lingkungannya. Oleh karena itu cara mendidik kita terhadap prilakunya akan membuat dia memilih apakah akan mengulangi lagi prilaku yang sama atau menggantinya dengan prilaku baru. Ambil contoh pada saat ia teriak-teriak akan sesuatu apakah kita segera terpancing untuk memenuhinya..? jika “Ya” maka ia akan belajar bahwa cara itu efektif dan akan diulanginya lagi.

Kemudian pada saat ia teriak-teriak sementara ibu berusaha tidak memenuhinya dengan tujuan untuk mendidiknya, namun sayangnya lama kelamaan karena tidak tega akhirnya ibu mengalah. Apa kira-kira yang di pelajarinya..... ya persis..! dia berpikir..., jadi kalo kemauanya tidak dipenuhi maka aku harus menangis dan kalo menangis juga belum di kabulkan maka aku tambah dengan berteriak-teriak yang keras. Dan bisa sampai disini ibu tidak tega dan mengalah maka ia akan berfikir bahwa cara ini ternyata sangat efektif. Tentu saja ia akan mengulanginya lagi di lebih banyak kesempatan.

Begitulah cara anak kita belajar pada fase-fase pertama kehidupannya. Jadi apa bila ibu sudah mengambil sikap untuk tidak menuritinya maka tetaplah konsisten, biarkan ia menangis hingga akhirnya berhenti sendiri dan mulai menunjukkan tanda-tanda berdamai dengan kita. Katakan padanya jika kamu seperti ini lagi kamu tidak akan mendapat apa yang kamu inginkan tapi jika kamu mau bicara baik-baik maka ibu akan pertimbangkannya. Arahkan selalu anak kita yang berteriak-teriak untuk bicara dan mau menyampaikan secara baik.

Nah jika kita tidak cepat mengetahui cara mendidik kita yang tanpa sadar ternyata keliru , maka prilaku buruk ini akan terus terbawa oleh anak hingga besar, dan semakin bertambah usianya akan semakin sulit untuk mengubahnya, untuk itulah saya menuliskan dalam buku tersebut satu persatu apa saja cara mendidik kita yang keliru dan hal-hal yang perlu kita lakukan untuk mendidik secara tepat. Mengingat banyaknya poin-poin yang perlu di pelajari, paling tidak ada 37 poin, sepertinya kami tidak mungkin menuliskannya pada kolom in satu demi satu maka kami anjurkan ibu untuk memiliki, mempelajari dan mempraktekkan apa yang ada di buku tersebut.

Banyak orang tua yang telah berhasil dalam waktu yang relatif singkat, kuncinya adalah jika kita mau pasti bisa, betapapun sulitnya ternyata mengubah prilaku kita sendiri dalam mendidik anak.

Mari kita bangun Indonesia yang Kuat dari keluarga melalui anak-anak kita tercinta !

Selamat mencoba !

Ayah Edy
www.ayahkita.blogspot.com
www.ayahedy.tk (download parenting gratis)

Parenting itu indah... ketika kita mulai melihat hasilnya...



inilah salah satu pengalaman sahabat komunitas kita

-----------------------------------------------
Afidatul Lailya to Ayah Edy Wiyono
January 14, 2014 at 9:15am ·

Slmt pagi ayah.....

Sykur alhmdllh smg smpai hr ini ayah dan slrh kluarga Indonesia sht sll amiin.

Sy mau crta sdkt ayah. Trmksh atas ilmu2 parenting yg di share ayah slma ini lambat laun trnyta bnr2 bs merubah kehdpn kluaga kami. Mulai dr sy sndiri, suami sampai anak kami akhdan yg brusia 4.5th.

Satu contoh pagi ini kebetulan hari libur dan ada temannya yg datang ingin mengajak bermain gamehouse. Tanpa sy ngomel2 seperti dulu dia sdh bisa mmbuat keputusan sndiri kapan mau bermain atau beraktifitas apapun.

Lalu sy mendengar temannya memaksa buruan dong..

Dg santai akhdan menjawab "sabarlah.. aku mau makan dan mengaji dulu. Habis itu kita main. Kalau mau bersabar nanti di sayang sama Allah".

Mendengar kalimatnya yg begitu dewasa hati sy sejuk sekali ayah.

Masih banyak contoh perubahan2 sikap dirumah kami yg membuat hari2 kami penuh hikmah.
10 Likes2 Comments

BEDA KEPALA KITA DENGAN KEPALA KOREK API ?



Jangan jadikan kepala kita seperti kepala KOREK API

Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api, tapi satu batang korek api juga dapat membakar jutaan pohon.

Jadi, satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif.

Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak, oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar.

Kita mempunyai kepala, dan juga otak

Jadi kita tidak perlu terbakar amarah hanya karena gesekan kecil.

Ketika burung hidup, ia makan semut. Ketika burung mati, semut makan burung.

Waktu terus berputar sepanjang zaman. Siklus kehidupan terus berlanjut.

Jangan merendahkan siapapun dalam hidup, bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita.

Kita mungkin berkuasa tapi WAKTU lebih berkuasa daripada kita.

Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita. Waktu kita jatuh, kita baru tahu siapa sesungguhnya teman kita.

Waktu kita sakit, kita juga baru tahu bahwa sehat itu sangat penting, jauh melebihi HARTA.

Ketika kita tua, kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan, dan setelah di ambang ajal, kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Hidup tidaklah lama, sudah saatnya kita bersama-sama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA, saling menghargai, saling membantu dan memberi, juga saling mendukung.

Jadilah teman perjalanan hidup yg tanpa pamrih dan syarat.

Believe in "Cause and Effect" Apa yang ditabur, itulah yang akan kita tuai.

Jadilah kepala manusia sebagai kepala yang bijak dan jangan pernah jadikan kepala kita sepert pentol korek api.

di share oleh Mas Gunawan P