SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Rabu, 23 November 2016

HUKUM TABUR TUAI

 Alex penemu pinicilin yg telah menyelamatkan jutaan nyawa manusia

KITA MENERIMA "MENUAI" APA YANG KITA PERNAH TABURKAN.....

Sesungguhnya apa yang kita terima adalah hasil dari apa yang kita taburkan....

Jadi tidak usah kaget jika saat ini kita sering mengalami hal-hal buruk dalam kehidupan kita..., pasti ini adalah hasil dari apa yang selama ini kita taburkan.

Ketika kita menabur kebaikan dalam hidup kita, maka kita akan menuai kebaikan...
dan ketika kita menabur keburukan maka kita akan menuai keburukan dalam hidup kita.

Itulah hukum alam yang tidak pernah keliru dan terus berlaku dari zaman ke zaman...

Berikut sebuah kita sejarah yang bisa memberikan ilustrasi dari hukum tabur tua tersebut:

Dahulu kala, ada seorang petani Skotlandia. Namanya Fleming.

Suatu hari, saat sedang mencari nafkah untuk keluarganya, ia mendengar teriakan minta tolong dari rawa-rawa di dekatnya. Ia menaruh peralatannya dan berlari ke rawa-rawa tersebut.

Di sana, ada seorang anak lelaki yang ketakutan karena terjebak dalam lumpur hisap, sedang menjerit dan berjuang untuk melepaskan dirinya. Fleming menyelamatkan anak tersebut dari sesuatu yang bisa membuatnya mati pelan-pelan secara mengerikan.

 Hari berikutnya, sebuah kereta kuda datang ke rumah petani Skotlandia itu. Seorang bangsawan berpakaian elegan melangkah keluar dan memperkenalkan dirinya sebagai ayah dari anak yang diselamatkan sang petani bernama Fleming.

 "Aku ingin membayarmu," kata sang bangsawan. "Kamu telah menyelamatkan nyawa anakku."

 "Tidak usah, aku tidak bisa menerima bayaran untuk apa yang telah aku lakukan kemarin," sebuah pertolongan bukanlah untuk mendapatkan bayaran". petani skotlandia itu menjawab.

Saat itu juga, anak dari petani itu keluar dari pintu gubuknya.

"Apakah itu anakmu?" tanya si bangsawan. "Ya," sang petani menjawab dengan bangga.

Sang bangsawan berkata, "Aku akan membuat sebuah kesepakatan.

Biarkan aku mengambil anakmu dan memberikannya pendidikan yang baik baginya. Jika anak ini seperti ayahnya, ia akan menjadi seorang lelaki yang suatu saat nanti  sangat bisa kamu banggakan."

Singkat cerita,  anak petani itu berhasil dalam pendidikannya. Ia lulus dari St. Mary's Hospital Medical School di London, dan menjadi terkenal di seluruh dunia dengan nama Sir Alexander Fleming, penemu Penicillin.

Beberapa tahun setelahnya, anak dari bangsawan itu diserang penyakit Pneumonia.

Apa yang menyelamatkannya? Penicillin...

Siapa nama bangsawan itu yang telah menyekolahkan Alex Fleming...?
Lord Randolph Churchill...

Nama anaknya yg telah diselamatkan oleh Alex Fleming?
Sir Winston Churchill..., Perdana menteri Inggris yang sangat terkenal dan dihormati.

 "Apa yang kamu tabur itulah yang kamu tuai".

Jika kamu menabur hal buruk, maka kamu akan menuai hal buruk juga. Apabila kamu menabur kebaikan, maka kamu akan menuai kebaikan juga.

Jadi mulailah menabur hal-hal baik dalam hidup kita sekarang juga, agar kelak kita bisa menuai kebaikan demi kebaikan di sepanjang hidup kita.

-ayah edy-
www.ayahkita.com

 Winston Churchill Perdana Menteri Inggris yang sangat di hormati



Senin, 21 November 2016

TIPE MANUSIA KOTORAN NYAMUK



Ada yang tahu atau pernah lihat kotoran nyamuk...?

Jika ingin lihat coba ambil kain/pakaian yang biasa kita gantung atau sampirkan di gantungan baju.

Lihatlah apa bila ada titik-titk putih di kain atau pakaian berwarna hitam itu lah kotorang nyamuk dan apa bila ada noda titik-titik kecil berwarna hitam diatas kain putih atau terang, itu juga kotorang nyamuk.

Uniknya kotorang nyamuk selalu tampak di jenis kain apapun, karena ketika kainnya putih terang dia berubah menjadi hitam, dan ketika pakainya gelap hitam berubah menjadi titik-titik putih...

Aneh bukan...?

Ah mungkin saja ini adalah cara Tuhan mengajari manusia agar manusia tidak jadi orang yang seperti KOTORAN NYAMUK.

Atau yang dalam istilah sekarang disebut sebagai HATERS....

Pada umumnya para HATERS ini mirip sekali seperti kotoran nyamuk. Akan berwarna hitam di kain putih dan berwarna putih di kain hitam. Tidak membuat si kain jd lebih baik melainkan hanya mengotori kain yg ada saja.

Sayangnya ketika sudah menempel kotoran ini susah sekali untuk dibersihkan.

Bayangkan jika kain itu adalah negeri kita yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, apakah perbuatan yang  kita lakukan selama ini telah telah membuat negeri kita menjadi lebih baik, atau hanya sekedar mengotori dengan pikiran-pikiran kita yang pada akhirnya membuat kain tersebut tidak lagi berharga.

Yuk mari kita reflesksi diri,  jangan sampai tanpa sadar kita juga ternyata pernah seperti ini, syukur-sukur kalau sekarang sudah tidak lagi...

Salam syukur penuh berkah..
ayah edy
www.ayahkita.com .



Sabtu, 19 November 2016

KECERDASAN SESEORANG DIUKUR DARI KETINGGIAN CARA BERPIKIRNYA DAN BUKAN EMOSINYA



KETINGGIAN PEMAHAMAN SESEORANG DI UKUR DARI CARA MENANGGAPI MASALAH APAKAH DENGAN KECERDASAN ATAU EMOSI DAN EGONYA

Ditulis oleh Sandy Nakata via komen fp ayah edy parenting.

Ada seorang Atheis yang memasuki sebuah masjid, dia mengajukan 3 pertanyaan yang hanya boleh dijawab dengan akal.

Artinya tidak boleh dijawab dengan dalil, karena dalil itu hanya dipercaya oleh pengikutnya, jika menggunakan dalil (naqli) maka justru diskusi ini tidak akan menghasilkan apa-apa...

Pertanyaan atheis itu adalah:

1. Siapa yang menciptakan Allah?? Bukankah semua yang ada di dunia ada karena ada penciptanya?? Bagaimana mungkin Allah ada jika tidak ada penciptanya??

2. Bagaimana caranya manusia bisa makan dan minum tanpa buang air?? Bukankah itu janji Allah di Syurga?? Jangan pakai dalil, tapi pakai akal....

3. Ini pertanyaan ketiga, kalau iblis itu terbuat dari Api, lalu bagaimana bisa Allah menyiksanya di dalam neraka?? Bukankah neraka juga dari api??

Tidak ada satupun jamaah yang bisa menjawab, kecuali seorang pemuda.

Pemuda itu menjawab satu per satu pertanyaan sang atheis :

1. Apakah engkau tahu, dari angka berapakah angka 1 itu berasal?? Sebagaimana angka 2 adalah 1+1 atau 4 adalah 2+2?? Atheis itu diam membisu..

"Jika kamu tahu bahwa 1 itu adalah bilangan tunggal. Dia bisa mencipta angka lain, tapi dia tidak tercipta dari angka apapun, lalu apa kesulitanmu memahami bahwa Allah itu Zat Maha Tunggal yg Maha mencipta tapi tidak bisa diciptakan??"

2. Saya ingin bertanya kepadamu, apakah kita ketika dalam perut ibu kita semua makan? Apakah kita juga minum? Kalau memang kita makan dan minum, lalu bagaimana kita buang air ketika dalam perut ibu kita dulu?? Jika anda dulu percaya bahwa kita dulu makan dan minum di perut ibu kita dan kita tidak buang air didalamnya, lalu apa kesulitanmu mempercayai bahwa di Syurga kita akan makan dan minum juga tanpa buang air??

3. Pemuda itu menampar sang atheis dengan keras. Sampai sang atheis marah dan kesakitan. Sambil memegang pipinya, sang atheis-pun marah-marah kepada pemuda itu, tapi pemuda itu menjawab : "Tanganku ini terlapisi kulit, tanganku ini dari tanah..dan pipi anda juga terbuat dari kulit dari tanah juga..lalu jika keduanya dari kulit dan tanah, bagaimana anda bisa kesakitan ketika saya tampar?? Bukankah keduanya juga tercipta dari bahan yang sama, sebagaimana Syetan dan Api neraka??

Sang athies itu ketiga kalinya terdiam...

Sahabat, pemuda tadi memberikan pelajaran kepada kita bahwa tidak semua pertanyaan yang terkesan mencela/merendahkan agama kita harus kita hadapi dengan kekerasan.

Dia menjawab pertanyaan sang atheis dengan cerdas dan bernas, sehingga sang atheis tidak mampu berkata-kata lagi atas pertanyaannya..

Itulah pemuda yang Islami, pemuda yang berbudi tinggi, berpengetahuan luas, berfikiran bebas...tapi tidak liberal... tetap terbingkai manis dalam indahnya Aqidah...

Ada yang berkata bahwa pemuda itu adalah Imam Abu Hanifah muda. Rahimahullahu Ta'ala...

Dan konon atas jawaban ini pemuda yang Atheis itupun mulai mau mempelajari agama dan Tuhan.

MEMBEDAKAN ORANG PINTAR DENGAN ORANG YANG MERASA DIRI SUDAH PINTAR..?


Seorang anak muda bertanya pada sang guru bijak....

Wahai guru yang arif dan bijaksana.....

"Jujur saat ini sekarang sedang bingung melihat semua orang yang mengaku bahwa dirinya pintar. Dan tidak ada yang mengaku bodoh."

"Bagaimana kita bisa membedakan orang yang benar-benar pintar dan baik dari orang yang seolah-olah pintar dan baik, wahai guru yang bijaksana...?"

"sederhana sekali nak " jawab sang guru sambil tersenyum lembut.

"Orang yang benar-benar pintar itu selalu mengajak kita untuk menciptaka rasa kasih sayang, perdamaian dan kedamaian di hati. "

"Orang bodoh yang berpura-putra pintar dan baik itu selalu mengajak kita menciptakan permusuhan dan ketidak damaian dimanapun ia berada."

"Karena orang benar-benar pintar itu sadar bahwa permusuhan itu akan selalu membawa kehancuran namun kasih sayang dan perdamaian itu akan selalu membawa kebaikan bagi siapapun. sementara orang yang masih bodoh belum menyadari hal ini. "

"Mudah sekali membedakannya bukan...?"

"Jadi ingatlah selalu hal ini ya anakku, agar setiap kali kamu bertemu dengan orang lain tidak perlu bingung lagi."
 
 

Kamis, 17 November 2016

KEBENCIAN YANG DIWARISKAN TURUN TEMURUN


 
PERMUSUHAN "ABADI" ANTARA ORANG KULIT PUTIH DAN KULIT HITAM...?

Tolong bacalah tulisan ini sampai selesai 2 menit saja, mudah-mudahan bisa mengubah hidup kita dan anak-anak kita 20 tahun mendatang.

Sahabat keluarga Indonesia,

Dulu orang berkulit putih dan kulit hitam di Amerika saling membenci dan memusuhi satu sama lain.

Dan seperti pada umumnya dari zaman ke zaman selalu saja ada alasan SARA (kalau tidak RAS, SUKU ya AGAMA) yang digunakan untuk menanamkan rasa kebencian kita pada orang lain.

Dan kali ini bukan masalah agama, melainkan soal RAS, antara Kulit Putih (yang nenek moyangnya dari daratan Eropa) dengan Kulit Hitam (yang nenek moyangnya berasal dari Afrika)

Dari generasi ke generasi orang-orang kulit putih selalu menanamkan kebencian pada anak-anak mereka bahwa orang-orang kulit hitam itu bodoh, jorok, malas, kasar, kriminal dan suka menyakiti.

Bahkan orang tua merekapun tidak mau saling bergaul, pemukiman tempat mereka tinggal juga terpisah antara kulit hitam dan kulit putih, bagitu juga tempat ibadah mereka meskipun mereka menganut agama yang sama.

Maka jadilah sejak kecil anak-anak orang kulit putih tidak menyukai dan tidak mau dekat dengan anak-anak kulit hitam. 

Dan kebencian ini terbawa hingga mereka dewasa, lalu kemudian mereka akan menanamkan kebencian yang sama pada anak-anak mereka, begitulah tradisi ini berlangsung terus dari generasi ke generasi. Bahkan pandangan kebencian inipun menjadi sebuah kebiasaan dan tradisi umum yang tumbuh di masyarakat kulit putih.

Begitu juga sebaliknya dengan orang tua kulit Hitam, orang tua mereka juga selalu menanamkan pada anak-anak mereka bahwa orang-orang kulit putih itu sombong, suka menindas, kejam dan serakah dan suka merendahkan/menghina orang kulit hitam.

Maka jadilah sejak kecil anak-anak orang kulit hitam tidak menyukai dan tidak mau dekat dengan anak-anak kulit putih. Kebencian ini tertanam hingga dewasa dan kemudian mereka akan mawariskan kebencian yang sama pada anak-anak mereka. Dan inilah yang menjadi awal permusuhan abadi antara orang kulit putih dan kulit hitam di Amerika.

Apa yang selanjutkan terjadi adalah ketika mereka bertemu mereka akan saling mengejek, saling mengganggu, menyakiti dan bahkan saling membunuh.

Peristiwa permusuhan ini digambarkan dengan amat sangat baik dan jelas melalui salah satu film yang berjudul Die Hard 3 yang dibintangi oleh Bruce Willis (seorang polisi kulit putih yang masuk ke daerah mayoritas orang kulit hitam)


Ketika saya pertama kali membaca artikel ini dulu sekali, saya segera tersadar, paham dan prihatin bahwa betapa banyaknya orang tua yang tanpa sadar telah mewariskan kebencian semacam ini pada anaknya, sehingga anaknya kemudian mewariskan kembali kebencian yang sama pada anaknya....

Hingga akhirnya kita secara turun-temurun terus saling membenci sepanjang masa tanpa pernah tahu asal usul masalahnya dan tanpa pernah mengerti mengapa kita harus saling membenci.

Sampai kapankah kita akan terus begini....?
Sampai kapankan kita akan berhenti saling membenci...?

Jawabannya sangatlah sederhana, Ya....
Sampai para orang tua mereka mau berhenti mewariskan kebencian pada anak-anak mereka masing-masing.

Dan berkat upaya para orang tua-orang tua inilah akhirnya tingkat kebencian dan permusuhan antara orang Kulit Putih dan Kulit Hitam di Amerika lambat laun mulai berkurang, dan saat ini bahkan mulai banyak perkawinan antara orang kulit putih dan kulit hitam, banyak orang kulit Hitam yang menjadi tokoh favorit kulit putih semisal Oprah, mereka mulai bisa hidup berdampingan dengan damai....


Dan ternyata tidak ada yang namanya PERMUSUHAN ABADI, jika kita semua mau berubah...

Sahabat orang tua tercinta,
Berikut ini adalah kisah nyata salah satu orang tua yang telah memutuskan untuk berhenti MEWARISKAN KEBENCIAN pada anak mereka yang telah mengubah kehidupan kedua RAS tersebut menjadi jauh lebih baik.


Kisah nyata di AS.

Ada seorang wanita kulit putih yg hendak melakukan perjalanan dg seorang putranya yg berusia 6 tahun. Mereka menaiki taksi yg dikemudikan oleh seorang pria kulit hitam.
Karena si anak tak pernah melihat orang kulit hitam sebelumnya, maka hatinya sangat ketakutan & bertanya pd ibunya:

“Ibu, apakah orang ini bukan penjahat?
Mengapa kulitnya begitu hitam?”

Sopir tadi sangat sedih mendengarnya...

Saat itu pula, sang ibu berkata pd anaknya: “Paman sopir ini bukan orang jahat, dia adalah orang yg sangat baik.”

Anak terdiam sejenak, lalu bertanya lagi:

“Jika dia bukan orang jahat, lalu apakah dia pernah melakukan sesuatu yg buruk, sehingga kulitnya begitu hitam?”

Mendengar perkataan anak ini, mata pria kulit hitam itu berkaca2, tapi dia ingin tahu bagaimana wanita kulit putih itu menjawab pertanyaan tsb.

Ibu ini menjawab:

“Dia adalah pria yg sangat baik, juga tak pernah berbuat jahat."

"Tahukah kamu, bukankah bunga2 di kebun rumah kita ada yg berwarna merah, putih, kuning, orange & warna lainnya?”

“Benar bu!”

“Bukankah biji benih dari semua bunga tsb berwarna hitam?”

Anak ini berpikir sejenak, “Benar bu! Semuanya berwarna hitam.”

“Benih hitam itulah yg telah memekarkan bunga2 berwarna-warni yg indah, sehingga dunia menjadi penuh warna-warni juga, bukankah begitu anakku?”

“Benar bu!” 


Anak ini seakan tiba2 tersadarkan & berkata:

“Kalau begitu pasti paman sopir ini bukan orang jahat! karena kulit hitamnya itu seperti biji bunga-bunga tadi ya.."

"Terima kasih paman sopir! Anda telah membuat dunia menjadi penuh warna-warni, saya akan berdoa untukmu.”

"Anak polos ini lalu mulai komat-kamit berdoa, sopir taksi kulit hitam ini pun tak kuasa menahan diri lagi untuk tidak menangis."


Mari kita renungkan.....

Apakah selama ini kita termasuk orang tua yang TANPA SADAR telah mewariskan kebencian pada anak kita dari generasi ke generasi....?

Apakah hari ini kita telah menjadi tersadarkan...?
Apakah kita ingin mengubah keadaan ini....?

Mari berhenti menanamkan kebencian pada anak-anak kita....

Dan mari tanamkan rasa cinta kasih, dan saling mencintai antara sesama umat manusia, agar hidup kita menjadi lebih damai, sejahtera dan tidak lagi di penuhi oleh rasa kebencian dan rasa saling curiga antara sesama yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Semoga Tuhan berkenan membuka hati kita semua para orang tua.

Jika kisah ini dirasa bermanfaat, maka segera bagikan pada siapapun orang yang kita kenal dan membutuhkannya.

di tulis ulang oleh Ayah Edy
Untuk Para Orang Tua Indonesia
www.ayahkita.blogspot.com

Minggu, 13 November 2016

TIDAK SEMUA KOMENTAR PERLU DI TANGGAPI




Saya selalu berusaha menulis dan membuat postingan yang edukatif dan menginspirasi,

Namun sebarapa baiknyapun isi postingan yang kami buat selalu saja ada yang komentar negatif dan bahkan cenderung menghujat.

Dulu kami sering menanggapi komentar semacam ini dengan itikad baik untuk menjelaskan dan lebih mencerahkan.

Namun hasilnya malah menjadi semacam debat kusir, karena mungkin dari komentator tidak bisa lagi menerima pencerahan.

Namun saat ini saya tidak lagi menanggapi komentar-komentar dari orang-orang yang seperti itu dan lebih tertarik mengamatinya saja serta mengintip apa isi posting-posting yang ada di akunnya..

Hal ini terjadi ketika saya membaca sebuah kisah yang inspiratif yang terus saya ingat sampai saat ini.

Yuk mari kita baca perlahan-lahan sampai akhir ya...,

==================
Suatu hari ada seorang ahli Matematika yang terkenal bijak dan cerdas bernama Ibnu Abdul Jabbar, beliau memiliki beberapa murid yang juga cerdas dan pandai yang terkenal oleh masyarakat sekitarnya.

Suatu hari, ada salah satu muridnya bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik pada saat ia berbelanja di pasar.

Pasalnya sang murid ingin membeli kurma, harga 1 kg kurma adalah 2 dinar dan ia ingin membeli 6 kg kurma. Sehingga iapun membayar senilai 12 Dinar. (mata uang saat itu)

Tapi kata si penjual salah, uangnya kurang, menurutnya ia harus membayar 14 Dinar.

Si penjual menjelaskan kalau 1 x 2 x 6 = 14
Dengan susah payah, si Murid menjelaskan berkali-kali pada si penjual bahwa
1 x 2 x 6 itu sama dengan 12 dan bukan 14.

Namun betapapun si murid berusaha menjelaskan, si penjual di pasar tetap ngotot bahwa jumlah yang harus di bayar adalah 14 Dinar.

Si penjual tersebut akhirnya menantang murid pandai tsb untuk meminta Ibnu Adbul Jabbar sebagai juri, untuk menentukan siapa yg benar diantara mereka.

Si penjual pasar mengatakan :
"Jika saya yg benar 1 x 2 x 6 = 14, maka engkau harus mau dicambuk 10 kali oleh Ibnu Adbul Jabbar.

Tetapi kalau kamu yg benar (1 x 2 x 6 = 12), maka saya bersedia kepala saya di penggal.

Haaaaaa...hhaa.." Demikian si penjual pasar menantang dengan sangat yakin akan pendapatnya. disaksikan oleh orang satu pasar.

"Wahai Ibu Adbul Jabbar yang bijak dan pandai tolong katakan , mana yg benar diantara kita ?" ujar si penjual pasar pada sang Ahli Matematika dengan gaya sok pintarnya.

Ternyata Ibnu Abdul Jabbar memvonis cambuk 10x bagi murid nya yang menjawab (1 x 2 x 6 = 12)

Si murid pun protes pada Sang Guru karena ia tahu jawabannyalah yang benar,  dan gurunya juga tahu bahwa jawabannyalah yang benar. Tapi mengapa justru ia yang di cambuk..?

Setelah selesai mencambuk muridnya, Ibnu Abdul Jabbar pun kemudian berkata,

Ketahuilah muridku, "Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk KETIDAK bijakan mu yg mau-maunya berdebat dan bertengkar dengan orang bodoh yg tidak tahu kalau (1 x 2 x 6 = 12)"

Guru melanjutkan : "lebih baik aku melihatmu dicambuk dan menjadi sadar dan lebih bijak dari pada kita harus harus melihat 1 nyawa terbuang sia2 karena sebuah KEBODOHAN DARI ORANG YANG TIDAK MUNGKIN BISA DIUBAH LAGI AKAL DAN PIKIRANNYA".

Mungkin salah satu pesan moral yang bisa kita petik adalah:

Jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yg tidak berguna dengan orang yang tidak paham, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah dari pada orang yg memulai perdebatan, sebab dengan sadar kita membuang waktu & energi untuk hal yang tidak perlu...

Orang-orang semacam ini hadir dengan komentarnya bukan untuk membuat diri belajar menjadi lebih paham dan mengerti tentang kebenaran, melainkan hanya sekedar ingin Eksis dan agar terlihat pintar dan paham saja. Padahal yang terjadi justru sebaliknya, dia tidak paham itulah mengapa ia berdebat.

Ada saatnya kita diam, untuk menghindari perdebatan/pertengkaran sia-sia.

Ingat ! Diam bukan berarti kalah, bukan? Diam untuk menjadi lebih bijak dan paham.

Memang bukan hal yg mudah, tetapi jangan sekali-kali berdebat dengan orang bodoh yg tidak menguasai permasalahan…

Dan semoga kita bisa menjadi lebih bijak.

Selamat pagi dan selamat beraktivitas ..

Dari kisah inspirasi yang di share oleh seorang teman di group ya... tksh.

di tulis ulang oleh
-ayah edy-
www.ayahkita.blogspot.com

Sabtu, 05 November 2016

TETES EMBUN PAGI YANG MENYEJUKKAN HATI DAN MENYEGARKAN JIWA



Suatu hari kami berkesempatan berbincang2 dengan Sang Guru Compassion yakni guru yang selalu mengajarkan kita untuk berbuat welas asih, di acara talkshow perpisahan dan penutup kami di Radio Smart fm setelah kami 7 tahun lebih bersiaran tetap di radio ini.

Sambil menunggu waktu talkshow live, kami duduk bersebelahan agar saya bisa belajar dari Sang Guru mumpung beliau ada disini.

Kebetulan kami berdua saat itu menghadap televisi yang sedang menyiarkan berita demi berita nasional yang sedang heboh.

Lalu saya mulai terpancing untuk mengomentari tayangan demi tayangan yang disajikan yang isinya tentang hujat menghujat dan perbuatan yang tidak pantas dilakukan.

Mulailah sy terpancing emosi dan mengeluarkan komentar-komentar pedas, lalu saya mencoba menengok pada wajah teduh sang Guru dan menanyakan apa komentar beliau menanggapi isu ini.

Beliau hanya tersenyum..., dengan wajah damainya beliau hanya berkata, “ Ya, ini semua sudah sempurna sebagaimana adanya.”

Lalu muncul berita berikutnya yang tak kalah hebohnya, kembali saya terpancing lagi untuk memberikan komentar pedas.

Ketika saya menengok padanya, beliau kembali tersenyum dengan wajah tenangnya berkata pelan; “ Tidak apa, tidak ada yang salah, semua ini sudah sempurna seperti apa adanya.”

Berkali-kali mendapat jawaban yang sama dan tidak memuaskan hati saya, karena beliau tidak ikut berkomentar sebagai mana pada umumnya orang segera ikutan berkomentar pedas seperti saya, maka saya yang awam ini jadi penasaran, apa sih maksudnya ? yang seperti ini kok dibilang sempurna ?

Bertanyalah saya pada Sang Guru, apa maksud dari kata2 beliau tadi;

Lalu dengan wajah teduh dan damainya beliau mulai membuka kata demi kata;

"Ya kesempurnaan itu terjadi apa bisa ada dualitas ada keduanya; ada siang dan ada malam, ada hitam dan ada putih, ada api dan ada air, ada sehat dan ada sakit, ada kuat ada lemah, ada lapar ada juga kenyang, ada kita di sini dan ada mereka di sana"



“Mana yang lebih baik Api atau Air ?” beliau tiba2 bertanya pada saya.

Lalu saya berkata; “Tentu saja menurut saya air lebih baik dari pada api, air menyejukkan mendinginkan.”

"Nah disitulah apa bila kita belum memahami dualitas”.

”Ambil contoh Air, air itu dibutuhkan ketika api ada, Menyejukan itu dibutuhkan ketika ada panas, nah apakah orang2 di kutub utara lebih menyukai air yang dingin atau api yang hangat?.”

”Begitu pula malam datang meneduhkan dan mendinginkan bumi dan siang datang untuk menghidupkan bumi dengan panasnya matahari, Kebaikan itu baru kelihatan jika ada kejahatan. Seperti polisi juga dibutuhkan jika ada penjahat., KPK eksis karena ada para koruptor dst.”

“Itulah artinya semuanya sudah sempurna berada di perannya masing2, tinggal kita sebagai manusia yang diberi kuasa oleh Tuhan untuk memilih peran, maka silahkan tentukan kita mau mengambil peran apa?; apakah peran Api atau air, peran jahat atau baik.?”

"Justru jika tidak ada salah satunya maka peran lawannya menjadi tidak lagi dibutuhkan dan berguna.”

Lalu saya bertanya lagi “ lalu bagaimana jika peran kejahatan ternyata jauh lebih banyak dari peran kebaikan, orang jahat jadi lebih banyak dari orang baik?”

“Ya tentu saja jika itu terjadi kita harus segera menambah jumlah dan kualitas orang2 yang memainkan peran kebaikan.”

“Nah begitulah juga peran anda dan kita disini, kita ada karena ada mereka disana yang merupakan kebalikan dari peran kita bukan? “

“Semakin banyak peran yang bukan kita maka semakin dibutuhkanlah keberadaan kita”

“Itulah mengapa kita tidak perlu lagi menghujat malainkan bersyukur, karena merekalah maka peran kita menjadi begitu berarti di tengah orang banyak.”

"Jadi barhentilah menghujat, tapi belajarlah melampaui dualitas tadi."

Sadarilah sebenarnya jauh lebih mudah mengambil peran sebagai kita yang ada disini ketimbang mereka yang sedang memainkan peran itu disana lho.. (melihat ke televisi)

Maksudnya seperti apa ? tanya saya lagi

”Oh Iya dengan memainkan peran kita ini kan, kita cenderung menjadi orang yang lebih banyak menuai pujian, meskipun akan selalu ada sekali2 cemoohan (kembali lagi itulah dualitas); tapi coba bayangkan jika kitalah yang sedang menjalankan peran mereka disana ?"

”Jadi bagaimana agar saya bisa menuju kesana, menjadi lebih memahami dualitas kehidupan ini ?” Tanya saya pada sang Guru.

”Jika kita ingin melampaui dualitas, baik dan buruk dan tidak ingin lagi sering menghujat orang lain, maka belajarlah merasakan lapar sebelum merasakan kenyang, belajarlah di hujat sebelum di puji, cintailah siang jangan membenci malam, pahamilah dan terimalah peran mereka masing2 sebagaimana kita menerima peran kita sendiri.”

”Karena sesungguhnya mereka adalah guru-guru bagi kita yang sedang mengajarkan kita untuk bisa merasakan apa arti dihujat, apa arti bersabar, ya memahami kehidupan ini secara utuh bukan hanya separonya saja.”

”Ingat sering2 lah melatih diri dan belajar dan merasakan menjadi orang yang di hujat dan di cemooh agar kamu bisa tidak ikut-ikutan menghujat."

" Persis sebagaimana para guru besar dunia dari timur dulu, bagaimana para guru ini di hujat tanpa balas menghujat, dihina tanpa balik menghina, diludahi tanpa balik meludahi, dibilang gila tanpa harus membalas memaki, di tampar pipikirinya di berikan pipi kanannya,  hingga pada akhirnya para guru ini mamahami apa hakekat hidup yang sesungguhnya. ”



"Lalu bagaimana caranya ?"  tanya saya pada sang guru.

” Caranya bisa bermacam-macam, tapi yang paling mudah cobalah melontarkan sesuatu yang memungkinkan orang lain untuk menghujatmu, menghakimi mu, tapi sadarilah bahwa ini bukanlah dirimu yang sesungguhnya, melainkan hanya bersandiwara untuk melatih diri melepaskan dari penghakiman karena dualitas kehidupan ini.” Jawab sang guru dengan lembut.

”Setelah itu apa yang dilakukan ? bagaimana kita bisa kuat menghadapi cemoohan, hinaan, hujatan dan hal-hal yang tidak biasa kita terima ?” tanya saya lagi pada Guru.

Sejenak beliau mulai terdiam, dan berkata "lakukan seperti ini"

"Atur nafas... rileks... rileks...dan semakin rileks, lalu bayangkan kamu sedang di hakimi dan
....terima....terima....terima... karena dengan menerima ia akan berproses
....rasakan...rasakan...rasakan.. karena dengan merasakan kamu akan mengerti berada di posisi ini
.... lepaskan..lepaskan...lepaskan..” karena dengan melepaskan semua perasaan yang menyakitkan akan pergi "

”Lakukan ini berulang-ulang hingga kamu terbiasa..“ dan semua perasaan negatif itu lepas dan sirna satu demi satu."

"Wah... sepertinya sulit betul ya, untuk bisa menjadi teduh, damai dan bijaksana seperti guru ?" , kata saya.

”Pada awalnya mungkin terasa sulit tapi jika sudah di latih dan di latih lagi maka lama kelamaan akan menjadi lebih mudah karena terbiasa."

"Jadi latihlah dirimu dan sering2lah merasakan atau berada di posisi lawan dari peranmu yg sekarang ini, agar kita benar2 terlatih untuk tidak lagi mudah terpancing dan terusik oleh isu apapun dan ikut2an menghakimi orang lain. Melainkan MEMPERKUAT PERANMU SENDIRI untuk menjadi apa, siapa dan melakukan apa di bumi ini"

"Apakah kita ingin menjadi orang yang merusak atau memperbaiki hidup dan kehidupan ini itu adalah pilihan kita sendiri berikut konsekuensinya masing-masing".

”Jika kamu bisa melakukan itu secara spontan, maka damailah di hati dan damailah di bumi.” Beliau menyudahi penuturannya.

Ya Tuhan... mendengarkan penuturan ini rasanya diri saya masih terasa jauh sekali dari samudera keteduhan batin dan jiwa, rupanya saya masih harus mendaki jauh sekali menuju ke puncak kebijaksanaan tertinggi sebagaimana yang dituturkan Sang Guru Compassion.



Semoga Tuhan membimbing setiap langkah ku untuk mendaki satu demi satu anak tangga pelajaran menuju tataran Guru Compassion.

Bagikanlah artikel ini untuk bisa menjadi penyejuk hati dan penyegar jiwa bagi para sahabat dan keluarga kita.

ditulis oleh Ayah Edy para sahabat keluarga Indonesia,
Guru dan Pimpinan Sekolah MKG
web resmi: www.ayahkita.blogspot.com

Kamis, 03 November 2016

PESAN TUHAN MELALUI AIR by Masaru Emoto


Para orang tua dan guru yang saya cintai.....

Pernahkah pada saat kita sedang emosi membentak anak kita...?

atau pernahkan anda sempat berfikir atau bahkan terucap kata-kata yang negatif pada anak kita seperti; Bodoh, Malas, Nakal, dan sejenisnya...?


Jika ya.... itu wajar..karena kita juga manusia... itu kata sebuah cuplikan lagu yang cukup terkenal baru-baru ini...

Hanya saja mulai saat ini kita mungkin perlu lebih berhati-hati lagi dalam ucapan dan tindakan terhadap anak-anak kita; karena setiap ucapan kita itu ternyata direspon langsung oleh anak kita dan dapat menjadi bagian dari doa dan kebenaran.

Para orang tua dan guru yang berbahagia....

Begitulah pesan tersembunyi yang disampaikan oleh Masaru Emoto sorang peneliti Air, dari negeri sakura, yang hasil penelitiannya dituangkan dalam sebuah Artikel di salah satu Web Sitenya yang berjudul The Hidden Message in Water.


Masaru Emoto adalah orang ilmuan luar biasa yang telah berhasil menemukan bahwa sesungguhnya Air dapat bereaksi terhadap ucapan dan tulisan sesuai dengan isi ucapan atau tulisannya.

Melalui lensa mikroskop khusus yang diciptakannya, kita bisa melihat bahwa apa bila kita mengucapkan sesuatu atau menuliskan sesuatu di dekat air maka melalui lensa itu dapat dilihat air tersebut berubah, membentuk gambar sesuai dengan kata atau tulisan yang kita buat. Dan yang menarik adalah hasilnya tetap sama meskipun diucapkan dalam berbagai bahasa.


Apa bila kita mengucapkan terima kasih atau syukur maka air tersebut akan berubah membentuk kristal-kristal kecil yang demikian indahnya seindah kristal yang terbuat dari berlian; sementara apa bila kita ucapkan kata-kata negatif seperti “kamu bodoh!” maka air tersebut dibawah lensa mikroskop akan berubah membentuk gambar yang buruk dan tak beraturan.


Luar Biasa...! Sungguh suatu usaha keras yang tidak sia-sia, meskipun Masaru Emoto memerlukan waktu lebih dari 20 tahun untuk menemukannya. Dan.berkat hasil temuannya ini kini Masaru Emoto telah di undang untuk berbicara ke berbagai negara didunia.


Smart Parents...
Ada sesuatu yang penting yang perlu diketahui oleh kita para orang tua tentang fakta-fakta yang berhasil ditemukan oleh Masaru Emoto berhubungan dengan kodrat kita dan anak-anak kita melalui air ini, mari kita simak pemaparannya.

Sesungguhnya apa yang saya temukan itu adalah sebuah keajaiban; sepertinya melalui air Tuhan ingin mengirimkan pesan-pesan tersembunyi kepada kita seluruh manusia.

Bayangkan bahwa kita telah mendapatkan bukti secara ilmiah bahwa air bisa merespon hal-hal yang positif ataupun negatif yang diterimanya; baik melalui kata-kata, tulisan, perlakuan dan pikiran. Jadi jelas-jelas bahwa semua itu; baik ucapan, tulisan, perlakuan dan pikiran akan direspon langsung oleh tubuh kita dan tubuh setiap orang yang menerimanya..

Saya juga telah menemukan fakta bahwa rata-rata 70% tubuh manusia terdiri atas air.

Mari kita lihat lebih dalam lagi; Ketika kita mulai hidup sebagai Janin, 99%nya adalah air, dan pada saat dilahirkan kira-kira 90% dari tubuh kita adalah air, ketika kita mencapai usia dewasa kira-kira 70% dari tubuh kita terdiri dari air sampai menjelang ajal kemungkinan kita masih memiliki 50% kandungan air dalam tubuh. Jadi dapat kita simpulkan bahwa kita adalah mahluk yang sebagian besar terbuat dari air.


Ketika yang melihat kenyataan ini dan mengaitkan dengan hasil temuan saya; maka saya mulai melihat kaitan dan bukti ilmiah; mengenai bagaimana prilaku seseorang itu bisa terbangun. Dan kini mulai terkuak sudah awal sebuah jawaban dari pertanyaan, mengapa dunia ini memiliki lebih sedikit orang-orang yang berwatak dan berprilaku positif..?, dan semoga temuan saya ini akan bisa membuka pintu hati banyak orang diseluruh dunia.

Smart Parents...
sungguh sebuah pemaparan yang luar biasa...., Secara implisit Masaru Emoto ingin mengajak kita untuk mengevaluasi diri apakah selama ini kita lebih banyak mengucapkan dan memikirkan sesuatu yang positif atau sebaliknya, karena pada akhirnya secara kolektif itu akan sangat menentukan komposisi prilaku umat manusia didunia ini.

Secara spesifik; Masaru Emoto juga mengingatkan kepada kita; bahwa berdasarkan komposisi tubuh; pada usia dini, manusia jauh lebih banyak memiliki kandungan air bahkan hingga mencapai 90%. Itu berarti respon anak-anak terhadap ucapan, pikiran dan tindakan negatif yang diterimanya jauh lebih besar mempengaruhi dirinya dalam membangun konsep diri yang positif.

Jadi apabila kita menginginkan anak-anak kita kelak tumbuh menjadi baik dan bahagia, maka selalu penuhilah kehidupannya dengan kasih sayang, cinta dan rasa syukur; karena kristal-kristal air yang paling indah dan sempurna, muncul dari air yang di beri ucapan Sayang, Cinta dan Syukur......

Begitulah pesan yang sangat dalam dan menyentuh dari Masaru Emoto untuk kita para orang tua diseluruh dunia.

Para orang tua yang berbahagia...

Mari kita hentikan segala ucapan dan pikiran negatif pada anak-anak kita, dan mulai hari ini, mari kita didik dan kita besarkan anak-anak kita dengan segenap cinta kasih dan rasa syukur atas segala kelebihan dan kekurangannya.



Segera share pesan ini pada siapa saja yang membutuhkannya demi untuk kebaikan anak kita dan sesama.

ditulis oleh Ayah Edy Wiyono​
Untuk para orang tua Indonesia.

Mari kita HETIKAN TRADISI KEKERASAN INI DALAM KELUARGA KITA....


Rabu, 02 November 2016

FASE EGO SENTRIS YANG TIDAK TUNTAS DI USIA TK & SD AKAN TERBAWA TERUS HINGGA REMAJA DAN DEWASA



Apakah fase Ego Sentris itu ?

mari kita simak kisah berikut ini.

Suatu ketika ada seorang ibu yang memiliki anak berusia 16 tahun datang kepada saya, untuk mengeluhkan prilaku anaknnya katanya sangat bermasalah.

Bayangkan katanya; anak saya ini sudah tidak bisa di atur lagi, bahkan jika dia bicara ke saya, sering memaki-maki dengan perkataan yang kotor, dan bahkan pernah beberapa kali dia memukul saya....,

Sambil menagis si ibu ini terus melanjutkan ceritanya... Selain itu saya sama sekolah juga sering di panggil, karena anak ini sering memukul atau bahkan berkelahi disekolah.

Aduh saya sepertinya sudah tobat dengan perilaku anak saya ini....., saya tidak tahu lagi harus bagaimana....? rasanya saya sudah putus asa....., setiap kali saya mengadukan hal ini pada suami, malah yang saya dapat adalah kemarahan tambahan dari suami saya...

Sungguh pada akhirnya saya juga jadi bingung harus mulai dari mana untuk bisa membantu ibu ini......, yang pasti ini semua merupakan sebuah proses panjang dari suatu kesalah pengasuhan dan pendidikan dari kedua orang tuanya.

Para orang tua dan guru yang berbahagia

namun kali ini saya tidak ingin membahas tentang bagaimana cara memperbaiki perilaku anak ini, melainkan, saya lebih ingin untuk mengajak para orang tua untuk tahu bagaimana mencegah agar hal yang sama tidak terjadi pada anak kita dirumah.

Para orang tua yang berbahagia,

Tahukah kita bahwa kita hanya punya kesempatan mendidik anak kita untuk menjadi anak baik sangat terbatas sekali. Yakni sejak usia mereka balita hingga kira-kira di usia sekolah SMP akhir. Setelah itu kebanyakan anak akan sangat sulit sekali di ubah menjadi baik. Kecuali dengan cara-cara tertentu yang agak sedikit ekstrim.

Namun demikian sesungguhnya tiap orang tua dapat mencegahnya sebelum ini terjadi; yakni dengan menggunakan kesempatan emas mendidik anak teserbut.

Menurut penelitian Ibu Dawna Markova, diketahui bahwa prilaku anak itu mulai dibentuk sejak usia Balita; yakni mulai fase Ego Sentris dimana anak merasa paling benar, paling penting sendiri, tidak bisa memahami hak dan keberadaan orang lain.

Diharapkan pada fase ini peran orang tua adalah untuk mengajari anaknya untuk bisa berbagi dan memahami hak orang lain.

Kemudian berlanjut pada fase berikutnya yang di sebut sebagai gank age awal yakni usia SD yang di tandai dengan keinginan anak untuk di terima oleh orang lain atau kelompoknya; dengan cara meniru-niru prilaku teman-teman di kelompoknya.

Pada fase ini peran orang tua di harapkan dapat mengajak anak berdiskusi mengenai nilai-nilai baik dan buruk dari sebuah prilaku yang ditiru oleh anaknya sampai ia paham betul. Tentunya tanpa harus memarahi anak, karena pada fase ini anak sering kali tidak tahu kalau yang ditirunya itu buruk, karena mereka memang belum memiliki acuan tentang baik dan buruk.

Setelah itu ia fasenya akan beranjak memasuki usia Gank Age Tengah pada usia SMP. Pada fase ini biasanya seorang anak tidak hanya masih meniru budaya kelompoknya tapi bahkan mulai tumbuh keinginan untuk tampil beda agar mendapat perhatian dari anggota kelompoknya atau orang-orang di sekitarnya;

oleh karena itu anak-anak SMP kita yang tidak terkelola mulai menujukkan prilaku-prilaku seperti mengubah model rambut agar tampak agak nyentrik, kemudian menggunakan gelang, anting atau mulai mencoba merokok, tawuran dsbnya sampai yang terparah adalah perbuatan kriminal dan narkoba.

Ini semua pada awalnya hanya dengan tujuan untuk menonjolkan diri di depan teman-temannya untuk mencari-cari perhatian namun pada akhirnya justru malah ke bablasan.



Pada fase ini orang tua dan guru diharapkan dapat membantu anak untuk menemukan keunggulan alaminya, agar ia bisa mendapat perhatian dari hal tersebut; seperti misalanya anak yang kuat di sport di dorong untuk masuk kursus/club sport, bagi anak yang suka tampil bicara berikan kesemptan untuk mengikuti lomba-lomba puisi, pidato,debat, untuk anak yang suka kekerasan dimasukkan ke klub bela diri dsb.

Jadi mereka tahu apa yang menjadi keunggulan alami yang bisa dipamerkan pada kelompoknya untuk mendapatkan perhatian. Tidak harus mencari-cari yang pada akhirnya sering menjerumuskan mereka ke prilaku-prilaku terlarang.

Dan apa bila masa SMP ini tidak berhasil kita kelola dengan baik prilaku anak kita maka setelah itu akan sulit untuk mengubahnya. Kenapa....? karena setelah itu dia akan memasuki fase identitas; yakni sebuah fase penetapan nilai dan konsep diri seorang anak.

 Jika dia menganggap hal negatif seperti kebut-kebutan adalah hal yang oke bagi dirinya; maka dia akan mengakuinya itu sebagai hal baik, dan akan sulit bagi kita untuk mengubahnya..

Jadi sekali lagi mari kita kawal masa-masa perkembangan anak kita mulai dari BALITA hingga menjelang SMA.

Jika anda berhasil melakukannya maka selamatlah anak kita; dan anda mulai bisa melepas dia untuk berpisah melanjutkan studinya di perguruan tinggi dengan relatif aman.

Namun jika tidak dia akan cenderung terus membuat masalah dimanapun dia berada.

Itulah mengapa kita sering menemukan orang dewasa yang orangnya selalu saja membuat ulah dan membuat orang lain jengkel, atau yang sering disebut sebagai trouble maker. merasa diri paling benar, dan suka memaksakan kehendak dengan cara-cara kekerasan.

Apakah diantara kita ada yang pernah menemui orang-orang seperti ini di sekitar kita ?

Mudah-mudahan tidak ya ayah bunda ?

By ayah edy