SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Sabtu, 21 April 2018

SALAH PILIH PROFESI

(THE RIGHT MAN IN THE WRONG PLACE)
SALAH PILIH PROFESI..?

APAKAH ANDA SALAH SATUNYA...?

 apa kabar.... ayah bunda tercinta,

Pernahkah anda merasa bosan di tempat kerja, atau mungkin merasa bahwa pikiran anda makin hari kok makin buntu dan sebagainya.... berikut ini mari kita dengarkan cuplikan pembicaraan dari dua orang karyawan yang berhasil kami  rekam.....

A:  Hei..! kamu kenapa.. kok dari tadi aku lihat mukanya ditekuk gitu..?

B:   Iya nich, aku lagi gak mood aja...,  dah bosen kerja disini, begini-begini aja gak ada kemajuan.!

A:  Emangnya kamu mau kemana..?  dah punya rencana..?

B:  Enggak juga sich.. gak tau aku juga bingung,  padahal aku juga dah pindah-pindah kerja melulu tapi gak pernah nemuin tempat yang cocok.  Pindah-pindah terus juga gak enak, capek...!

A:  Ya udah kalo gitu ya dinikmatin aja,  apa lagi sekarang lagi jaman susah gini; mau apa lagi....

B:  Gak tau ah... aku jadi serba salah...

Ayah bunda yang baik....
Ketidakpuasan ditempat kerja adalah hal yang sangat fenomenal dalam kehidupan para pekerja dan eksekutif.   Memang benar banyak faktor yang menyulut munculnya rasa tidak puas ditempat kerja;  seperti,  gaji yang kecil, bos yang otoriter, suasana saling sikut dan lain sebagainya. 

Akan tetapi terkadang meskipun segalanya sudah kita dapatkan, masih banyak juga para pekerja atau eksekutif yang  belum merasa puas dan bahagia ditempat kerjanya.  Mengapa hal ini bisa terjadi...?  Tentu saja tidak hanya anda yang bingung, orang lainpun sering kali dibuat bingung oleh fenomena semacam ini.

Yang menyedihkan sering kali rasa tidak puas ini menular dari tempat kerja dan menjalar sampai kerumah. Tidak jarang hal ini menjadi pemicu rusaknya hubungan keluarga yang sebenarnya tidak perlu terjadi dan bisa diatasi.

Apa sebenarnya akar permasalahannya..?

Seorang ahli Pendidikan sering menyebut fenomena ini sebagai penyimpangan Multiple Intelligence.  Apa maksudnya...?

Mulple Intelligence mengajarkan pada anak sejak dini untuk mencari dan menggali keunggulan spesifik dari dirinya.  Keunggulan ini biasanya ditandai dengan beberapa hal pokok;

1. Rasa ketertarikan yang tinggi dan terus-menerus terhadap satu bidang tertentu.

2. Rasa bahagia yang amat sangat untuk mengerjakannya, meskipun harus dilakukan berulang-ulang dan dalam waktu yang cukup lama.

3. Kemampuan belajar yang cepat dan penguasaan yang tinggi dalam bidang tersebut.

4. Totalitas dalam melakukannya.

Ayah bunda yang baik....
Cobalah kita perhatikan dan perhatikan lagi lebih teliti  anak-anak kita; mereka pasti punya ketertarikan yang kuat pada satu bidang terntu, dan ketertarikan itu biasanya berlainan antara satu anak dengan anak lainnya. 

Ayah bunda yang baik....
Coba ingat-ingat lagi apakah anak anda juga cepat sekali menguasai bidang yang menjadi ketertarikannya tadi.....?  Dan perhatikan apa bila dia sudah asik dengan kegiatannya, dia bisa tahan berjam-jam melakukannya.  Inilah yang oleh ahli Multiple Intelligence disebut sebagai tanda-tanda awal Potensi Dasar Anak.  Apa bila kita sudah dapat melihat tanda-tanda ini maka mestinya kita terus berusaha menggali dan mendukungnya.

Sementara sistem pendidikan yang ada di negeri kita hingga saat ini belum beberbasiskan pada penggalian potensi diri untuk mencari dan mengembangkan keunggulan spesifik anak.

Sehingga setiap anak mulai sejak awal pendidikan sampai menentukan profesinya tidak didasarkan pada potensi yang unggul dari dirinya melainkan ditentukan oleh faktor-faktor lain.  Apa saja faktor-faktor tersebut pada umumnya....
1. Keinginan orang tuanya
2. Pengaruh teman-teman dan lingkungan
3. Bidang kerja/Profesi yang dinilai baik secara financial
4. atau malah “apa sajalah yang penting bekerja.”

Ya....... inilah yang terburuk jika kita sudah berpikiran “yang penting bisa bekerja”.   Maka jangan kaget atau kecewa jika pada akhirnya anda tidak puas ditempat kerja.

Karena anda memang belum berada ditempat yang tepat, tempat anda saat ini bukanlah tempat yang seharusnya anda berada.

Jadi apa yang sesungguhnya terjadi pada anda adalah The Right Person in the wrong place !  ya...Anda adalah orang hebat, hanya anda berada ditempat yang tidak tepat !

Ayah bunda yang baik....
Anda harus segera menjadi The Right Person in The Right Place !

Maka segeralah mencari kembali siapa diri anda, apa keunggulan anda, apa sesungguhnya yang membuat anda bahagia, temukanlah itu semua dan mulailah kembali dengan sebuat totalitas, meskipun anda harus memulainya dari nol besar,  jadilah yang terbaik, sesungguhnya uang, karir, dan ketenaran hanyalah efek positif dari “menjadi yang terbaik”

Lihatlah tokoh-tokoh kelas dunia sebut saja, Maradona sang pemain bola legendaris dari Argentina, Rudi Hartono sang juara bertahan 8 kali All England,  The Beatles sang Band Legendaris dari Liverpool, Leonardo Da Vinci sang Jenius legendaris dari Italia.

Perhatikanlah dengan seksama;  betapa meraka begitu bahagia melakukan profesinya; betapa mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi dibidangnya, betapa mereka memiliki totalitas yang luar biasa, dan betapa mereka memiliki ketenaran yang tak habis oleh zaman. Tanpa perlu mereka minta, tentu saja kesuksesan financial akan juga mengikuti dengan setia.

Ayah bunda yang baik.....
Ayo temukanlah kembali siapa diri anda, mulailah hidup baru anda dengan melakukannya secara benar.  Hidup ini adalah pilihan dan pilihan itu sepenuhnya ditangan anda.

Saya sudah melakukannya... bagamana dengan anda..?

ayah edy guru parenting Indonesia
www.ayahkita.blogspot.com

SURAT CINTA AYAH EDY


SURAT CINTA ORANG TUA UNTUK ANAKNYA YANG MENGINJAK AKIL BALIG
(ABG dan REMAJA)

Pesan Cinta Ayah Edy untuk Anak-anak Indonesia
Anak-anakku terkasih

Ketahuilah bahwa rasa sayang sesungguhnya bukanlah ditunjukkan dengan berhubungan seksual.

Rasa sayang sesungguhnya adalah sebuah rasa untuk menjaga apa yang kita sayangi dengan sebaik-baiknya, tanpa berusaha merusaknya. Ibarat menyayangi binatang peliharaan atau bunga kesayangan, kita pasti sudah merasa bahagia dengan memandanginya, tanpa perlu memetik bunganya.

Tuhan telah mencontohkan dengan jelas kepada kita. Tuhan menunjukkan rasa sayangnya pada kita dengan memberi planet terbaik untuk kita tinggali dengan berbagai pesona keindahannya. Planet yang paling baik di antara planet-planet yang ada di tata surya kita.

Anakku, rasa sayang dan cinta tidak identik dengan seks. Begitu banyak orang di dunia ini memberikan cinta dan kasih sayangnya tanpa perlu melakukan hubungan seks.

Seks sesungguhnya diciptakan Tuhan untuk para pasangan yang sudah menikah guna melanjutkan kelangsungan hidup manusia di Bumi yang Tuhan ciptakan dan bukan dijadikan sesuatu untuk coba-coba yang kelak akan kamu sesali sendiri.

Anakku, ketahuilah bahwa seks adalah sebuah bentuk pertanggungjawaban manusia kepada Tuhan dan bukan unjuk kasih sayang dan cinta manusia pada pacarnya. Ingatlah selalu kalimat ini baik-baik ya Nak,

SEKS ADALAH PERTANGGUNG JAWABAN PADA TUHAN DAN BUKAN UJUK KASIH SAYANG MANUSIA PADA PACARNYA.

Itulah mengapa Tuhan meminta kita untuk menikah terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan seks. Karena Tuhan ingin kita melakukannya dengan penuh tanggung jawab.

Itu pula mengapa Tuhan menciptakan berbagai macam penyakit kelamin yang mematikan jika kita melakukan hubungan seks di luar tanggung jawab dan tidak sesuai apa yang diinginkan oleh Tuhan.

Seks yang diminta oleh seorang pasangan yang belum menikah, sesungguhnya bukanlah bentuk ‘unjuk KASIH SAYANG YANG SEJATI’ melainkan hanya upaya pemuasan nafsu yang MENGATASNAMAKAN rasa sayang dan cinta.  Itulah nak fakta yang perlu kamu ingat selalu.

Anakku, janganlah terjebak dengan permainan kata-kata ini dari pacarmu ya.

Mengapa?

Karena hanya orang yang tidak bertanggung jawablah yang akan mengatakan bahwa seks adalah unjuk rasa cinta dan sayang pada pasangan mereka yang belum mereka nikahi. 
Percayalah pada Ayah nak, sudah banyak anak yang datang pada ayah dan menyesali mengapa mereka bisa terperdaya oleh permainan kata-kata ini.  Tapi apa mau dikata jika nasi sudah terlanjur jadi bubur. 

Mereka terpaksa harus menikah dalam usia yang masih mudah dan belum waktunya mengurus anak, padahal mestinya pada masa-masa itu hidupmu penuh dengan tantangan untuk mencapai cita-cita besarmu. 

Izinkan Ayah berpesan kepadamu, anakku. Jika pasanganmu mengajak berhubungan seks sebelum nikah, maka ajaklah ia berkenalan terlebih dahulu dengan kedua orang tuamu. Maukah ia melakukannya?

Jika ia mau, cobalah tanya baik-baik padanya: Apakah ia memiliki rencana hubungan pacaran jangka panjang hingga jenjang pernikahan? Jika tidak, kemungkinan besar ia hanya ‘iseng-iseng’ padamu, Nak.

Ingatlah selalu,  jika dia ragu atau tidak mau melakukannya dengan berbagai alasan, itulah bukti bahwa sesungguhnya ajakan itu adalah atas nama nafsu belaka dan bukan karena cinta pada dirimu.

Ingatlah Nak, jika kamu melakukan hubungan seks sebelum menikah maka kamu telah mengkhianati orang tuamu yang telah menjagamu sejak bayi hingga kamu sebesar ini.

Kamu juga telah mengkhianati Tuhanmu yang telah membuat parasmu sedemikian indah. Dan yang jauh lebih penting untuk kamu pertimbangkan adalah: Jika sampai hal terburuk terjadi padamu --misalnya kamu hamil di luar nikah lalu pasanganmu kabur dan tidak mau menikahimu— sanggupkah kami membayangkan perasaanmu saat itu, perasaan orang tuamu saat itu dan mungkinkah kamu akan mampu meraih mimpi-mimpi besarmu?

Jika pasanganmu adalah cinta sejatimu, ajaklah ia menunjukkan rasa sayangnya dengan cara yang lebih baik. Misalnya dengan cara bersama-sama mengunjungi rumah yatim piatu untuk berbagi cinta pada anak-anak yang tidak bisa mengecap kasih sayang orangtua.  Inilah arti cinta sesungguhnya yang bisa kamu test pada pasanganmu.

Jika ia adalah pasangan sejatimu, ia pasti akan menyambut ide ini dengan gembira. Namun bila ia menolak dengan berbagai alasan dan malah mengajakmu ke tempat lain agar bisa bermesra-mesraan, maka pertimbangkanlah dengan akal sehatmu:

Apakah pasangan semacam ini yang kamu idamkan? Apakah pasangan semacam inilah yang akan kamu pilih untuk menjadi pendamping hidupmu kelak ?

Mungkin saat ini kamu menertawakan pesan ini atau berkata ‘ah basi’, ‘ah jadul’ atau ‘ah...ah’ lainnya. Namun ingatlah selalu, jika kamu mengabaikan pesan ini dan kelak sesuatu yang buruk terjadi padamu, maka datanglah pada ayahmu,

Nak.  Ingatlah untuk datang pada ayahmu bila suatu saat kamu menangis dan hancur karena telah mengabaikan pesan ayahmu ini.

Meskipun ayahmu bisa menerima dirimu apa adanya, tapi sadarilah bahwa kita tidak akan mampu mengubah apa yang sudah terjadi padamu Nak.

Jagalah dirimu baik-baik, Nak. Ingatlah selalu pesan ayah bahwa CINTA YANG SESUNGGUHNYA ADALAH BERUSAHA MENJAGA DAN MELINDUNGI ORANG YANG KITA CINTAI, DAN BUKAN MALAH MERUSAKNYA.

Ayah percaya kamu tidak akan mengkhianati Tuhan, mengkhianati orangtua yang telah menyayangimu tanpa syarat sejak kamu lahir dan ayah yakin kamu tidak akan mengkhianati cita-cita besar hidupmu sendiri.

Jangan takut kehilangan orang yang kamu cintai jika ia hanya mengajakmu untuk melampiaskan nafsunya. Karena Tuhan sesungguhnya telah menyiapkan pengganti terbaik bagi hidupmu, yaitu orang yang sungguh tepat bagimu.

Percayalah pada ayah, bila kamu mengabaikan pesan ini, besar kemungkinan kamu akan mengalami hal yang paling menyakitkan dalam hidupmu.

Jadi tanamkanlah pesan ini baik-baik dalam batin bawah sadarmu agar ia bisa beraksi tepat saat kamu membutuhkannya.

Anakku, jadilah anak yang benar-benar bisa membedakan cinta dan nafsu.

Dan jangan mau menjadi korban iklan alas seksual atau promo-promo dari pihak yang hanya ingin meningkatkan keuntungan semata melalui omzet penjualan mereka dengan menjadikan dirimu sebagai kelinci percobaanya.

Selamat beraktivitas, anakku. Hadapilah segala godaan yang datang padamu dengan akal sehat dan tegar.

Ayak tidak akan mempu selalu berada disisimu untuk melindungi dirimu dari hal-hal semacam ini, jadi ayah titip keselamatanmu pada kamu ya nak terutama pada saat ayah tidak berada disisimu.

Ayah percaya sekali padamu. Pasti kamu bisa.!!

Dari Ayah yang senantiasa mencintai dan menyayangimu

by ayah edy wiyono
Dipetik dari buku Problematik Orang Tua ABG dan Remaja.

BOTOL SAMBAL VS BOTOL KECAP

BOTOL HANYA BISA MENGELUARKAN APA YANG ADA DIDALAMNYA

Saya sangat suka sekali tulisan ini dan rasanya perlu di ulang-ulang bacanya biar kita bisa paham maksudnya.

Sahabatku,

Suatu hari ada seorang wanita muda yang datang kepada guru bijak dan bertanya;

Guru mengapa ya kok ada orang yang kerjanya di MEDSOS setiap hari itu menghujat orang lain dengan kata-katanya yang pedas dan kasar ya...???

Mengapa sy tidak pernah mendengar sekalipun ia memuji orang lain melalui status postingannya di fb atau twitter, kalaupun memuji itu malah bentuknya seperti sindiran yang menyakitkan.

Dengan lembut sang guru bijak berkata;

Begini ya nak, jika kamu hanya punya kecap maka yang kamu bisa berikan pada orang lain itu ya kecap yang manis....

Begitupun jika kamu cuma punya sambal, yang kamu bisa berikan pada orang lain itu ya cuma sambal yang pedas....

Jadi jika ada orang yang selalu berkata-kata pedas pada orang lain, mungkin yang dia punya ya cuma itu dalam hati dan piikirannya.

Dan tidak ada yang lainnya lagi yg bisa dia berikan pada orang lain.

Persis seperti botol ia hanya bisa mengeluarkan apa yang ada didalamnya.

Nah pertanyaannya sekarang, kamu sendiri punya apa yang ingin kamu bagi dan berikan pada orang lain...?

Kata-kata yang manis atau yang pedas ?

Karena sesungguhnya kamu tidak bisa membagi atau memberi apa yang kamu tidak miliki dalam diri dan pikiran kamu.

Wanita muda itu tiba-tiba saja terdiam dan merenungkan apa yang baru saja dia dengar dari sang guru bijak...

berusaha bertanya pada batin kecilnya, terutama pada bait:

"Nah pertanyaannya sekarang, kamu sendiri punya apa yang ingin kamu bagi dan berikan pada orang lain...?"

"Kata-kata yang manis atau yang pedas ?"

"Postingan Kebencian atau Kebaikan...?"

"Karena sesungguhnya kamu tidak bisa membagi atau memberi apa yang kamu tidak miliki dalam diri dan pikiran kamu."

www.ayahkita.blogspot.com
ayah edy
Pimpinan Sekolah MKG
Singaraja, Bali.

Silahkan di share jika bisa memberi inspirasi kebaikan bagi para penebar status dan postingan kebencian....

sumber gambar: bukalapak.com

ORIENT EXPRESS POLITIK CERDAS


Tak sengaja nonton film di pesawat

Judulnya lihat di gambar.

Wow ! 

Menurut saya ini film yang luar biasa mengajak saya untuk berpikir dan membuka mata.

Pembukaan film berkisah tentang Intrik politik dan adu domba Pemimpin Agama Besar Dunia oleh seorang... (ah temukan sendiri deh.. siapa pelakunya.)

Menyadarkan kita bahwa politik itu harus jeli dan cerdas untuk melihat intrik dan tujuannya serta siapa aktor intelektual atau pelaku utamanya. 

Politik bukan hanya yang sekedar kita lihat dan baca melalui gambar /meme atau tulisan di medsos

Wah pokoknya seru dan bagus banget deh sampai akhir film kita terus diajak berpikir dan menganalisis, tidak hanya menggunakan akal tapi juga nurani....

saya saat ini  sedang cari filmnya untuk bisa nobar dan diskusi bareng dengan anak2 saya di rumah. 

Karena mereka sangat senang film2 yang ngajak berpikir dan menganalisa seperti ini.  Katanya penuh pembelajaran dan banyak pesan moralnya.

Selamat mencari......  tolong bantu share jika bermanfaat

BERPIKIR SEDERHANA


Terlalu banyak orang yang berpikir ruwet untuk menyelesaikan masalah yang sebenarnya sangatlah sederhana....

Itulah ciri-ciri orang yang selalu mengeluh dan tidak pernah bersyukur diberi otak yang membantu membuat berbagai masalah jadi simple, jika ia mau menggunakannya. 

Vala Afshar

KOTORAN SAPI



Ketika rumah kita dilempari kotoran beraroma menyengat, selalu ada dua pilihan.

Menyirami kotoran itu dengan air bersih yang kita miliki, atau mengambil kotoran itu dengan tangan sendiri lalu membuangnya kembali pada sang pelempar.

Di pilihan pertama, kotorannya lenyap dan rumah kita kembali bersih.

Sedang di pilihan kedua, kotoran tidak lenyap seluruhnya, namun justru meluas ke bagian tubuh kita sendiri.

Apalagi bila kotoran teronggok di halaman rumah itu dengan marah kita serakkan di mana-mana, menendangnya ke mana-mana, seluruh tubuh dan rumah kita terciprat kotoran dan aromanya.

Persis saat kita dilempari kata-kata buruk yang terasa menyengat.

Membalas dengan kata-kata yang sama buruknya, hanya turut mengotori batin kita sendiri. 

Membersihkannya dengan senyum keikhlasan dari dalam, rupanya di kemudian hari jauh lebih bermanfaat.

"Seperti halnya aku memberi buah pada para lebah yang mengisap nektarku, kawan", kata pohon jambu di tepi jalan sembari menjatuhkan sebiji buahnya yang segar.

Ditulis oleh Dr Mustika  W
Bakungsari, Kuta Bali

KAMPANYE ORANG JEPANG


Di Jepang kampanye tdk dengan menjelek2kan pihak Lawan

Karena Kampanye Hitam dan Hoax tdk laku di Negeri ini

Konon org Jepang punya kepercayaan, siapa yg menjelek-jelekkan orang lain maka dialah yg sesungguhnya memiliki perangai yg jelek.

BEGINI CARA CALON ANGGOTA DPR MEREKA BERKAMPANYE

Mungkin fotonya kurang jelas, tapi kalau Anda perhatikan ada orang yang sedang memberi hormat dan menyapa pengemudi kendaraan atau pejalan kaki di ujung zebra cross.

Beliau adalah satu dari sekian banyak kandidat senator di Jepang. Hanya bermodal setelan jas, baliho yg dibawa sendiri, beberapa selebaran yang itupun hanya diberikan pada orang yang TERTARIK dengan program yang beliau tawarkan.

Bukan saja sebagai cara agar para kandidat ini bisa dikenal, tapi juga agar para pemilih bisa mengenal kandidatnya secara personal.

Apakah pemilunya sudah dekat? Tidak, masih sekitar 2-3 tahun lagi, sekitar 2021.

Masyarakat Jepang biasanya memilih dengan melihat visi dan misi dari para kandidat itu,

Kemudian persentase kemungkinan berhasilnya program yang dijalankan oleh kandidat tersebut didasari oleh pengalaman yang dimiliki oleh yang bersangkutan.

Makanya kampanye bersifat terstruktur, terencana, personal, low cost dan cenderung sepi.

Tapi sepi dalam artian minim, bahkan tanpa massa dan dangdutan saja lho ya.

Apakah Indonesia kelak bisa seperti ini?

InsyaAllah bisa.

Selama orang orang cerdas dan melek politik di negeri kita memiliki niat untuk memberi pemahaman berpolitik kepada masyarakatnya 😇

Share from Wahyudi  M

Tolong bantu di share jk memang menurut kamu bermanfaat

WEBINAR AYAH EDY DAN TIGARAKSA SATRIA


Terimakasih kami ucapkan untuk ayah bunda peserta Webinar bersama Ayah Edy dan PT Tigaraksa Satria hari ini...

Semoga bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh keluarga.

Sampai jumpa di Web Seminar berikutnya.


SEKOLAH AYAH EDY


Assalamu'alaikum..
Selamat malam Ayah Edy..

Perkenalkan saya Henny, follower FP Ayah dari Lombok NTB.

Maaf ingin konsultasi jika Ayah ada waktu, sekolah kami mulai tahun ajaran baru ini insya Allah akan mendidik akhlak utk siswa baru di 1-2 bulan pertama, baru setelahnya belajar pelajaran sebaimana sekolah pada umumnya.

Oh iya, saya mengajar di SMPIT Tunas Cendekia Mataram.

Saya mohon saran Ayah, setelah kita memberikan teori dan praktik di awal utk adab/kebiasaan baik, bagaimana mengontrol adab yg sudah kita ajarkan agar sampai menjadi budaya keseharian siswa?

Terima kasih yg mendalam utk jawaban Ayah. 🙏🙏

===============
Jawaban ayah edy:

Waalaikumsalam
Selamat Malam bunda Henny.

Untuk mengontrol adab anak harus mengontrol terlebih dahulu adab orang tua karena orang tua adalah contoh pertama bagi anak.

Disekolah kami semua calon orang tua wajib mengikuti tes kelayakan sebagai orang tua dalam mendidik anak, teori dan praktek.

Setiap orang tua dianjurkan untuk membaca buku ini sebelum tes.

Lalu para guru wajib memberikan contoh adab karena guru adalah contoh kedua bagi anak disekolah.

Orang tua kami beri raport tentang Perkembangan Adab Orang Tua atau Parent Performance Report setiap 3 bulan.

Bagi orang tua yg raportnya merah kami panggil kesekolah untuk kami bimbing.  Jika tidak juga berubah dalam waktu 6 bulan kami beri surat peringatan, 3 kali surat peringatan kami keluarkan.

Kita tidak akan bisa mengubah adab anak jika orang tuanya tidak mau berubah.
Setelah perlahan adab anak berubah baru mulai kita adakan pembelajaran......

Biasanya anak itu hanya perlu waktu beberapa minggu atau paling parah perlu 3 bulan untuk bisa berubah adabnya. Yang sulit itu mengubah adab orang tuanya.

Apa bila ada anak baru pindahan yang bergabung ke sekolah perlu masuk kelas KARANTINA adab, untuk menyesuaikan diri juga tidak memberikan pengaruh buruk bagi anak2 yang adabnya sudah bagus.

Setelah adab masa karantina dianggap layak, maka anak tersebut boleh digabungkan bersama anak lainya dalam satu kelas.


==================
teruskanlah membaca......

Proses pendidikan adab ditempat kami tidak ada teori langsung praktek, melalui contoh yang diberikan oleh guru.  Yang kami kontrol ketat adalah adab para gurunya.  Karena jika para guru nya memiliki adab yang baik maka kami dengan mudah bisa mendidik adab anak dan orang tuanya.

Para guru yang beradab baik adalah kunci keberhasilan sistem pendidikan disekolah kami.

Sekolah kami sangat lembut dalam membimbing tapi sangat ketat dan cermat dalam menilai adab para guru dan orang tua. Bahkan cara bercanda para guru saja kami monitor, serta kami juga menjadi pembimbing langsung dalam proses "pacaran" atau pemilihan calon pasangan hidup para guru2 kami.

Dengan pendekatan keayahan terhadap anaknya,  Alhamdullilah hampir setiap guru kami selalu mengkonsultasikan calon pasangan hidupnya langsung dengan saya, apakah cocok sebagai soulmate atau tidak.   Bahkan hampir semua guru memperkenalkan calon pasangannya pada kami untuk sama2 diajak berkonsultasi pada ayah edy katanya.   Jadi sebelum menikah kami tahu persis siapa calon suami para guru kami.

Dan para guru juga rupanya sangat bahagia bisa mengkonsultasikan calon pasangannya pada kami (khusus langsung dengan ayah edy)

Bagi kami adab itu dimulai dari kami para pemimpin sekolah dan para guru, baru ke orang tua murid dan murid. 

Di Bali kami baru buka sekolah 3 tahun sudah mengeluarkan lebih dari 5 orang guru karena masalah adabnya tidak bisa diubah dan 3 orang tua untuk alasan yang sama.

Percayalah kita tidak akan bisa mengubah adab seorang anak tanpa melibatkan kedua orang tua atau keluarganya dirumah.

Ketika adab menjadi dasar pendidikan seorang anak maka itulah sesungguhnya pendidikan yang akan menghasilkan generasi bangsa yang cerdas dan berhati mulia.

Karena adab itu jauh lebih utama dari Ilmu

Adab harus diajarkan dan dibiasakan setiap hari sampai menjadi perilaku sehari-hari.

Semoga uraian ini bisa membantu.

Karena pertanyaan ini sangat bagus saya mohon izin untuk mensharenya di fb.  barangkali saja juga bisa berguna untuk sekolah lainnya yang ingin menjadikan Adab sebagai pondasi dasar di sekolahnya masing-masing.



==============
Bunda Henny Nov

Silahkan, Ayah..
Terima kasih yg sebesar2nya atas penjelasannya.
Kami sedang mulai membangun pondasi pendidikan di sekolah kami dengan adab.
Berharap suatu saat kami bisa berkunjung ke sekolah Ayah.

=========
Ayah edy:

Semoga kita bisa berjumpa langsung.  Terimakasih untuk pertanyaannya yang sangat berharga bagi pendidikan anak2 bangsa. 

Tanpa adab Indonesia akan terus menjadi seperti apa yang kita lihat saat ini atau bahkan lebih buruk lagi.

Kamis, 05 April 2018

INDAHNYA MENJADI SEORANG GURU



Beberapa minggu ini saya sedang bahagia sekali.....

Pasalnya adalah karena anak-anak yang kira-kira 7 atau 10 tahun lalu pernah saya bimbing, satu persatu menghubungi saya. 

1 anak menghubungi baru pulang dari Inggris dan sedang mempersiapkan untuk menikah dan saya diminta untuk bisa hadir dipernikahannya.

1 lagi Doni dari Belanda baru pulang dan ingin segera ketemu dan ingin banyak cerita tentang pengalaman studinya di Belanda. 

Dan terakhir kemarin malam saya dapat kabar dari New York, dari Valerina, yang mendapat beasiswa di sekolah Desain yang ada di New York. 

Orang tuanya bercerita, ia baru saja ikut Kontes Desain yang diselenggarakan oleh satu perusahan Home Appliance International di AS, dan hari ini terpilih menjadi salah satu Desainer Indonesia termuda yang karyanya akan dipamerkan di New York. 

Tadi malam tanpa sadar saya menitikkan air mata mendapat kabar ini....
Betapa luar biasannya kemampuan anak-anak Indonesia di Panggung International. 

Betapa bahagianya orang tua mereka...... melihat kesuksesan anak-anak mereka. 

Dan betapa bahagianya saya sebagai seorang guru.

Sauatu saat nanti InsyaAllah akan ada lebih banyak anak bimbingan yang menghubungi saya untuk bertemu dan bercerita tentang pengalaman mereka....,   Amiinnn. 

Saya ingat dulu waktu saya berpindah profesi dari seorang pekerja professional lalu memilih menjadi guru, banyak teman saya yang melihat saya sebagai manusia aneh, dan bahkan ada beberapa teman sejawat yang sudah memiliki jabatan tinggi di kantornya yang menyebut saya "Edy Gendeng", pasalnya karena saya diajak kembali kerja bareng mereka tapi ndak pernah mau,selalu menolak secara halus dengan berbagai alasan yang menurut mereka tdk masuk akal dan lebih memilih jadi Ayah Edy dan gurunya anak2. Itulah mungkin yang membuat mereka berkesimpulan saya ini "Gendeng".  

Hi...hi.. tak apalah dibilang Gendeng yang penting aslinya seger, waras, sehat wal afiat.

Sy ingat ketika pertama kali membangun TIM guru disekolah saya, saya selalu mengajak mereka all out, totalitas, sepenuh jiwa dalam membimbing anak-anak murid kita untuk bisa menjadi yang terbaik di kehidupannya. Jadilah guru yang terbaik atau tidak sama sekali. 

Dan benar saja 10 tahun perjalanan kami tidaklah sia-sia, anak-anak yang kami bimbing ternyata masih terus ingat pada gurunya.  Dan itulah harga yang tidak bisa dinilai dengan apapun.  Hubungan emosional Guru dan Murid yang tidak pernah putus oleh jarak dan waktu. 

Saya membayangkan, anak-anak yang kami bimbing paruh waktu saja bisa seperti ini, apa lagi murid-murid sekolah kami yang kami bimbing sejak dari TK hingga kelak mereka SMA dan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi untuk menggapai profesi impian mereka masing-masing. 

Dan untuk lebih memperluas bimbingan kami pada anak-anak Indonesia, kami sedang merintis sebuah lembaga yang akan kami berinama Talent Center yang InsyaAllah akan berlokasi di Denpasar Bali.  

Semoga melalui lembaga ini akan ada lebih banyak anak yang bisa kami bimbing, dan akan ada lebih banyak anak-anak Indonesia yang bisa meraih mimpi besarnya. 

Ah... , Betapa bersyukurnya saya memiliki panggilan jiwa sebagai seorang guru, betapa indahnya kehidupan menjadi seorang guru.

Ah ternyata aku mulai bertambah tua rupanya ya.... 
karena salah satu diantara mereka ada yang sudah married. 

Terimakasih ya nak telah ingat pada gurumu. 

Salam syukur penuh berkah,
ayah edy
Guru Parenting Indonesia 
www.ayahkita.com

Jumat, 30 Maret 2018

ATHEIS


Dalam sebuah perkuliahan terjadi dialog antara seorang professor sebagai dosen dan mahasiswanya,

Professor bertanya “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”
“Apakah kejahatan itu ada?”
“Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?”

Seorang Professor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini.

“Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab,

“Betul, Beliau yang menciptakan semuanya”.

“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya sang professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

Professor itu menjawab,

“Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip agama bahwa Tuhan ada dalam diri setiap kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan?”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.

Professor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Professor, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si Professor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya,

“Professor, apakah dingin itu ada?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada.
Apakah kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab,

“Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.
Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas.

Suhu -460F (0 derajad Celcius) adalah ketiadaan panas sama sekali.
Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut.

"Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas tsb.”

Mahasiswa itu melanjutkan,

“Professor, apakah gelap itu ada?”

Professor itu menjawab, “Tentu saja gelap itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab,

“Sekali lagi anda salah.  Gelap itu juga tidak ada.
Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya.
Cahaya bisa kita pelajari namun gelap tidak bisa kita pelajari.”

“Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna.”

“Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap."

"Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap sesungguhnya dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya,

“Professor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab,

“Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Dengan penuh keyakinan mahasiswa tadi kembali menjawab.

“Sekali lagi Anda salah, Professor !!!"

"Kejahatan itu tidak ada !!"

"Seperti juga GELAP, Kejahatan sesungguhnya terjadi karena ketiadaan Cahaya Tuhan dalam diri kita"

"Seperti juga dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan dalam dirinya.”

“Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Professor itupun terdiam tanpa bisa berkata apapun.

Dan perlahan terdengar tepuk tangan dari seisi kelas tersebut.


Sabtu, 24 Maret 2018

TANDA-TANDA KEMUNDURAN SEBUAH BANGSA


Jika kita peduli pada nasib anak kita, maka bacalah dengan sabar dan seksama sampai akhir artikel ini. 

Suatu ketika di bulan Juli tahun 90-an, di negara bagian Massachusetts, Amerika Serikat tengah berlangsung sebuah konfrensi besar pendidikan, dihadiri oleh sebagian besar kalangan pendidikan, mulai dari pengamat, praktisi, pakar hingga penentu kebijakan dibidang pendidikan.

Tema yang diambil. kali itu adalah mengenai “Evaluasi Sistem Pendidikan dalam Menghasilkan Generasi Unggul”

Tema ini sengaja diangkat, karena ternyata berdasarkan penelitian, selama 60 terakhir sistem pendidikan lebih banyak menghasilkan generasi yang gagal dan bahkan cenderung bermasah ketimbang yang unggul

Banyak sekali tokoh-tokoh yang diminta bicara menyampaikan pikiran, pandangan juga hasil penelitian mereka.

Dari semua pembicara, ada salah seorang yang pemaparannya begitu dahsyat, tajam dan mengena, hingga mendapatkan simpati dan dukungan yang luar biasa dari hampir semua peserta konferensi tersebut.

Tepuk tangan yang riuh serta dukungan antusiasme terus mengalir hingga sang pembicara ini turun. Apa saja yang di paparkan oleh si pembicara ini...? marilah kita simak cuplikan utama dari pemaparannya;

“Saudara-saudaraku tercinta sebangsa dan setanah air, saya sungguh prihatin melihat perkembangan generasi kita dari tahun ke tahun, sehingga saya begitu tertantang untuk membuat suatu pengamatan untuk mengetahui akar pemasalahannya.”

“Lebih dari 30 tahun saya melakukan pengamatan terhadap para pelajar dan para lulusan sekolah di tiap jenjang mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. dan ternyata dari tahun-ke tahun menunjukkan suatu peningkatan grafik jumlah anak-anak yang bermasalah ketimbang anak-anak yang berhasil.”

Salah satu yang membuat saya menangis adalah ketika saya mengunjungi beberapa Lembaga Pemasyarakatan yang ada di beberapa negara bagian; yang dulu pada tahun 60an mayoritas di huni oleh orang-orang yang berusia antara 40-60an, namun apa yang terjadi pada tahun 90, penjara-penjara kita penuh di isi oleh anak remaja antara usia 14 s/d 25 tahun. Jumlah peningkatan yang drastis juga terjadi pada penjara anak dan remaja.

Fenomena apakah gerangan yang sedang terjadi di negara kita......? Akan jadi apakah kelak negara ini jika kita semua tidak mengambil peduli dan merasa bertanggung jawab...?

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air....., Dari pengamatan panjang yang saya lakukan akhirnya saya mengetahui bahwa sumber dari semua masalah ini ada pada Harmonisasi hubungan Keluarga dan Sistem Pendidikan kita.

Sebagian besar anak-anak yang bermasalah ternyata juga memiliki orang tua yang bermasalah atau keluarga yang berantakan dan yang memperparah ini semua adalah bahwa Lembaga yang kita agung-agungkan selama ini, yang kita sebut sekolah ternyata sama sekali tidak mampu menjadi jalan keluar bagi anak-anak yang mengalami permasalahan di rumah.

Sekolah yang mestinya bertanggung jawab pada pendidikan anak (kerena mengklaim sebagai lembaga pendidikan) ternyata sama sekali tidak melakukan proses pendidikan, melainkan hanya menjadi lembaga yang memaksa anak untuk mengikuti kurikulum yang kaku dan sudah ketinggalan zaman. Guru-guru yang diharapkan menjadi pengganti orang tua yang bermasalah tapi ternyata tidaklah lebih baik dari pada orang tua si anak yang bermasalah tadi. Guru lebih suka memberikan pelajaran dari pada mendidik dan melakukan pendekatan psikologis untuk bisa membantu memecahkan masalah anak-anak muridnya. Guru-guru juga lebih suka saling melempar tanggungjawab ketimbang merasa ikut bertanggung jawab sebagai seorang pendidik.

Dan yang sungguh menyakitkan adalah ternyata Pemerintah kita khusunya yang bertanggung jawab pada bidang pendidikan hanya mementingkan masalah nilai, angka-angka dan Ujian-Ujian Tulis. Pemerintah seolah menutup mata terhadap menurunya prilaku moral, rusaknya anak-anak sekolah dan meningkatnya prilaku kekerasan di kalangan remaja.

Ukuran keberhasilan pendidikan lebih diletakkan pada menjawab soal-soal ujian dan target-target perolehan nilai, bukan pada Indikator Moral dan Pengembangan Karakter Anak. Sehingga pada akhirnya kita mendapati banyaknya anak-anak yang mendapat nilai tinggi namun moralnya justru begitu rendah.

Inilah saya pikir yang menjadi biangkeladi dari permasalahan meningkatnya jumlah anak-anak yang menjadi penghuni penjara di hampir seluruh negara bagian di negara kita.

Saya melihat bahwa sesunguhnya jauh lebih penting mengajarakan anak kita Nilai Kejujuran dari pada Nilai matematika, Fisika dan sejinisnya, yang pada umumnya telah membuat anak kita stress dan mulai membeci sekolahnya. Sungguh jauh lebih penting mengajarkan pada mereka tentang kerjasama dan saling tolong menolong ketimbang persaingan merebut posisi juara di kelas. Sekolah kita hanya mampu membuat 3 anak sebagai juara ketimbang membuat mereka semua menjadi juara. Sekolah kita memang tanpa sadar telah dirancang untuk mencetak anak yang gagal jauh lebih banyak dari yang berhasil.  Sekolah kita juga telah dirancang untuk lebih banyak memberi lebel anak yang bermasalah ketimbang memberi lebel anak yang berpotensi unggul di bidangnya.

Lihatlah fakta di lapangan, betapa banyaknya anak-anak yang dinyatakan oleh sekolah sebagai anak lambat belajar, tidak bisa berkonsentrasi, Diseleksia, Hiperaktif dsb.  Hingga ada seorang pengamat pendidikan yang pernah menyindir "sesungguhnya anaknya yang hiperaktif atau sekolahnya yang "Hiper Pasif".  Bayangkan anak-anak kita telah di paksa untuk duduk di kursi yang keras selama berjam-jam dari pagi hingga petang, tanpa adanya pergerakan sedikitpun.  Yang sesungguhnya tidak hanya membahayakan mental mereka bahkan juga fisik mereka.  Berapa banyak anak-anak kita yang katanya termasuk golongan anak-anak pandai harus menderita "bungkuk" di usia mereka yang masih relatif muda karena proses belajar yang hiper pasif ini.

Saya pikir sudah saatnya kita sadar akan hal ini semua. Saudara-saudaraku tercinta, sungguh berdasarkan penelitian yang saya lakukan telah menunjukkan bahwa jauh lebih penting mengajari anak kita tentang moral, attitude, dan Character Building dari pada hanya mementingkan nilai-nilai yang tinggi. Karena kehidupan lebih mengharapkan orang-orang yang bermoral dan berkarakter untuk membangun tatanan kehidupan yang jauh lebih baik. Orang-orang yang mencintai sesama, menolong sesama dan menjaga kelestarian lingkungan tempat mereka hidup.

Berdasarkan penelitian saya terhadap sejarah bangsa-bangsa yang mengalami kemunduran atau kehancuran, saya telah menemukan ciri-ciri yang sangat jelas untuk bisa kita jadi kan Indikator dan petunjuk bagi kita apakah negara kita juga sedang menuju ke titik kemajuan atau justru ke hancuran.

Paling tidak saya telah menemukan ada 10 tanda-tanda dari suatu bangsa yang akan mengalami kemunduran dan bahkan kehancuran; dan jika ternyata ke sepuluh tanda ini muncul di negara kita maka sudah saatnyalah kita untuk melakukan perubahan besar-besaran terhadap sistem pendidikan bagi anak-anak kita.

Mari kita teliti bersama kesepuluh tanda-tanda tersebut, apakah telah muncul dinegara kita;

1. Peningkatnya prilaku kekerasan dan merusak dikalangan remaja, Pelajar
2. Penggunaan kata atau bahasa yang cenderung memburuk (seperti ejekan, Makian, celaan, bhs slank dll)
3. Pengaruh Teman Jauh lebih kuat dari pada orang tua dan guru.
4. Meningkatnya prilaku penyalahgunaan sex, merokok dan obat-obat telarang dikalangan pelajar dan remaja.
5. Merosotnya prilaku moral dan meningkatnya egoisme pribadi/mementingkan dirisendiri.
6. Menurunya rasa bangga, cinta bangsa dan tanah air (Patriotisme).
7. Rendahnya rasa hormat pada orang lain, orang tua dan guru.
8. Meningkatnya prilaku merusah kepentingan Publik.
9. Ketidak Jujuran terjadi dimana-mana
10. Berkembangnya rasa saling curiga, membenci dan memusuhi diantara sesama warga negara (kekerasan SARA)

Bagaimana kesimpulan kita....? Apakah kita melihat ke 10 tanda tersebut telah muncul di negeri tercinta kita ini...? atau mungkin malah sudah muncul pada anak-anak kita tercinta dirumah...?

Saudaraku...., dengan melihat fakta dan kenyataan yang ada, wahai para pendidik dan pengambil kebijakan di bidang pendidikan serta segenap kita semua; Apakah kita masih akan mementingkankan angka-angka sebagai Indikator kesuksesan Pendidikan di sekolah-sekolah..? 

Semoga logika dan nurani kita masih mampu bicara untuk mendobrak sistem pendidikan yang selama ini terbukti telah menghasilkan lebih banyak kegagalan bagi anak-anak tercinta.

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air...., Jika kita tidak juga mau bertindak...., maka saya tidak tahu berapa banyak lagi penjara-penjara yang harus kita bangun bagi anak-anak kita tercinta, yang semestinya ini semua bisa kita cegah dari sekarang..!

Thomas Lickona.

Saudara-saudaraku sebangsa-dan setanah air di Indonesia....., Mari kita renungkan cerita ini.

Lebih dari18 Tahun yang lalu mereka sudah menyadari kesalahan besar yang terjadi pada sistem pendidikan di negaranya, lalu bagaimana dengan sistem pendidikan kita di Indonesia....?

Kejadian kekerasan Genk pelajar putri di Salatiga dan Kalimantan mestinya menjadi cambuk keras buat kita para pendidik dan penentu kebijakan pendidikan di Tanah Air, untuk berani mengambil langkah besar dalam mengevaluasi dan membenahi kembali Sistem Pendidikan yang telah mendidik mereka.

Akankah peristiwa tragis yang terjadi di Amerika akan kita biarkan untuk terjadi lagi pada anak-anak kita di Indonesia..?

BERSAMA-SAMA.., MARI KITA BANGUN INDONESIA YANG KUAT MELALUI ANAK-ANAK KITA TERCINTA !

ayah edy
Pendiri Gerakan Indonesian Strong from Home 
Guru Parenting Indonesia
Pendiri dan Pengelola Komunitas Parenting terbesar di Indonesia. 

Minggu, 18 Maret 2018

JANGAN BILANG JANGAN PADA ANAK

MENGAPA KATA "JANGAN" SEBAIKNYA DIHINDARI DALAM PARENTING DAN MENDIDIK ANAK ?

(Sebaiknya baca sampai selesai dan saksikan videonya sebelum berkomentar)

Salah satu alasan utama adalah apa bila kata jangan tidak di ikuti dengan alasan yang jelas dan masuk akal maka justru membuat orang penasaran dan ingin mencobanya.

Berikut sebuah video yang mengujicoba efek kata jangan pada "rasa penasaran" orang  silahkan Copy Paste link ini : https://www.youtube.com/watch?v=YSBAnb1Fanc

Sisi lain adalah, apa bila kata jangan di gunakan dalam keadaan darurat maka otak kita hampir tidak bisa meresponsnya.

Jika tidak percaya, cobalah ikuti perintah saya ini:

"Jangan bayangkan ibu anda !!"

Coba rasakan apa yang sedang anda bayangkan setelah membaca perintah itu ?

"Mari kita coba sekali lagi "Jangan bayangkan Jeruk Lemon yang asam dan kecut"

Apa yang anda rasakan ?

Apakah anjuran untuk menghindari kata jangan itu bertentangan dengan ajaran agama ?  Ada sebagian orang yang bilang begitu, tapi apakah benar demikian.



Nah ini menarik sekali untuk di ketahui...

Berikut salah satu ulasan lengkapnya mengenai hal tersebut.

http://ayahkita.blogspot.com/2014/09/benarkah-parenting-bertentangan-dengan.html


SALAH PILIH PROFESI


(THE RIGHT MAN IN THE WRONG PLACE)
SALAH PILIH PROFESI..?

APAKAH ANDA SALAH SATUNYA...?

 apa kabar.... ayah bunda tercinta,

Pernahkah anda merasa bosan di tempat kerja, atau mungkin merasa bahwa pikiran anda makin hari kok makin buntu dan sebagainya.... berikut ini mari kita dengarkan cuplikan pembicaraan dari dua orang karyawan yang berhasil kami  rekam.....

A:  Hei..! kamu kenapa.. kok dari tadi aku lihat mukanya ditekuk gitu..?

B:   Iya nich, aku lagi gak mood aja...,  dah bosen kerja disini, begini-begini aja gak ada kemajuan.!

A:  Emangnya kamu mau kemana..?  dah punya rencana..?

B:  Enggak juga sich.. gak tau aku juga bingung,  padahal aku juga dah pindah-pindah kerja melulu tapi gak pernah nemuin tempat yang cocok.  Pindah-pindah terus juga gak enak, capek...!

A:  Ya udah kalo gitu ya dinikmatin aja,  apa lagi sekarang lagi jaman susah gini; mau apa lagi....

B:  Gak tau ah... aku jadi serba salah...

Ayah bunda yang baik....
Ketidakpuasan ditempat kerja adalah hal yang sangat fenomenal dalam kehidupan para pekerja dan eksekutif.   Memang benar banyak faktor yang menyulut munculnya rasa tidak puas ditempat kerja;  seperti,  gaji yang kecil, bos yang otoriter, suasana saling sikut dan lain sebagainya. 

Akan tetapi terkadang meskipun segalanya sudah kita dapatkan, masih banyak juga para pekerja atau eksekutif yang  belum merasa puas dan bahagia ditempat kerjanya.  Mengapa hal ini bisa terjadi...?  Tentu saja tidak hanya anda yang bingung, orang lainpun sering kali dibuat bingung oleh fenomena semacam ini.

Yang menyedihkan sering kali rasa tidak puas ini menular dari tempat kerja dan menjalar sampai kerumah. Tidak jarang hal ini menjadi pemicu rusaknya hubungan keluarga yang sebenarnya tidak perlu terjadi dan bisa diatasi.

Apa sebenarnya akar permasalahannya..?

Seorang ahli Pendidikan sering menyebut fenomena ini sebagai penyimpangan Multiple Intelligence.  Apa maksudnya...?

Mulple Intelligence mengajarkan pada anak sejak dini untuk mencari dan menggali keunggulan spesifik dari dirinya.  Keunggulan ini biasanya ditandai dengan beberapa hal pokok;

1. Rasa ketertarikan yang tinggi dan terus-menerus terhadap satu bidang tertentu.

2. Rasa bahagia yang amat sangat untuk mengerjakannya, meskipun harus dilakukan berulang-ulang dan dalam waktu yang cukup lama.

3. Kemampuan belajar yang cepat dan penguasaan yang tinggi dalam bidang tersebut.

4. Totalitas dalam melakukannya.

Ayah bunda yang baik....
Cobalah kita perhatikan dan perhatikan lagi lebih teliti  anak-anak kita; mereka pasti punya ketertarikan yang kuat pada satu bidang terntu, dan ketertarikan itu biasanya berlainan antara satu anak dengan anak lainnya. 

Ayah bunda yang baik....
Coba ingat-ingat lagi apakah anak anda juga cepat sekali menguasai bidang yang menjadi ketertarikannya tadi.....?  Dan perhatikan apa bila dia sudah asik dengan kegiatannya, dia bisa tahan berjam-jam melakukannya.  Inilah yang oleh ahli Multiple Intelligence disebut sebagai tanda-tanda awal Potensi Dasar Anak.  Apa bila kita sudah dapat melihat tanda-tanda ini maka mestinya kita terus berusaha menggali dan mendukungnya.

Sementara sistem pendidikan yang ada di negeri kita hingga saat ini belum beberbasiskan pada penggalian potensi diri untuk mencari dan mengembangkan keunggulan spesifik anak.

Sehingga setiap anak mulai sejak awal pendidikan sampai menentukan profesinya tidak didasarkan pada potensi yang unggul dari dirinya melainkan ditentukan oleh faktor-faktor lain.  Apa saja faktor-faktor tersebut pada umumnya....
1. Keinginan orang tuanya
2. Pengaruh teman-teman dan lingkungan
3. Bidang kerja/Profesi yang dinilai baik secara financial
4. atau malah “apa sajalah yang penting bekerja.”

Ya....... inilah yang terburuk jika kita sudah berpikiran “yang penting bisa bekerja”.   Maka jangan kaget atau kecewa jika pada akhirnya anda tidak puas ditempat kerja.

Karena anda memang belum berada ditempat yang tepat, tempat anda saat ini bukanlah tempat yang seharusnya anda berada.

Jadi apa yang sesungguhnya terjadi pada anda adalah The Right Person in the wrong place !  ya...Anda adalah orang hebat, hanya anda berada ditempat yang tidak tepat !



Ayah bunda yang baik....
Anda harus segera menjadi The Right Person in The Right Place !

Maka segeralah mencari kembali siapa diri anda, apa keunggulan anda, apa sesungguhnya yang membuat anda bahagia, temukanlah itu semua dan mulailah kembali dengan sebuat totalitas, meskipun anda harus memulainya dari nol besar,  jadilah yang terbaik, sesungguhnya uang, karir, dan ketenaran hanyalah efek positif dari “menjadi yang terbaik”

Lihatlah tokoh-tokoh kelas dunia sebut saja, Maradona sang pemain bola legendaris dari Argentina, Rudi Hartono sang juara bertahan 8 kali All England,  The Beatles sang Band Legendaris dari Liverpool, Leonardo Da Vinci sang Jenius legendaris dari Italia.

Perhatikanlah dengan seksama;  betapa meraka begitu bahagia melakukan profesinya; betapa mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi dibidangnya, betapa mereka memiliki totalitas yang luar biasa, dan betapa mereka memiliki ketenaran yang tak habis oleh zaman. Tanpa perlu mereka minta, tentu saja kesuksesan financial akan juga mengikuti dengan setia.

Ayah bunda yang baik.....
Ayo temukanlah kembali siapa diri anda, mulailah hidup baru anda dengan melakukannya secara benar.  Hidup ini adalah pilihan dan pilihan itu sepenuhnya ditangan anda.

Saya sudah melakukannya... bagamana dengan anda..?

ayah edy guru parenting Indonesia
www.ayahkita.blogspot.com

BERDEBAT VS BERDISKUSI

ORANG YANG TIDAK MAMPU MENGAMBIL HIKMAH DARI MASALAH, MAKA HIDUPNYA AKAN TERUS DIRUNDUNG MASALAH.
Dan sebaliknya......

Teruslah membaca....

"BELAJAR MENGAMBIL HIKMAH DARI SETIAP KEJADIAN"

Seorang guru bijak pernah memberi pesan, bahwa sesungguhnya kehidupan ini hanyalah berisikan pelajaran yang harus di cerna oleh pikirin sehat kita dan bukan dengan ego dan kepentingan kita.

Barang siapa yang tak mampu mengambil pelajaran dari kehidupan ini maka hidupnya akan selalu dipenuhi persoalan dan dirundung masalah.

Dan mengingat pesan bijak dari beliau, saya jadi sering merenungkan setiap kejadian dan mengambil hikmah pelajarannya. Agar bisa hidup lebih baik dan tidak selalu dirundung masalah.

Seperti misalnya, akhir-akhir ini di media sering kali kita semua melihat perdebatan demi perdebatan, lalu sy merenung dan dari renungan apa pelajaran dari orang-orang yang gemar berdebat ini?

Dan akhirnya saya bisa mengambil sebuah pelajaran berharga dari sebuah perdebatan.

Orang yang sedang berdebat sering kali mengaku dirinya sedang berdiskusi, padahal jelas sekali perbedaan dari keduanya, diskusi adalah untuk mencari sebuah solusi yang lebih baik dan membangun win-win solution, sementara berdebat adalah untuk tujuan saling menjatuhkan.

Dan Diskusi itu lebih mirip seperti orang yang sedang Belajar sementara berdebat itu lebih dekat pada BERTENGKAR.

Hikmah lain yang juga saya dapat adalah:

Orang yang sedang berdebat itu sesungguhnya bukan sedang memperjuangkan KEBENARAN, melainkan sedang memperjuangkan Ego dan kepentingan pribadinya. dengan berbagai argumen PEMBENARAN yang seolah-olah jika tidak dicerna oleh akal sehat mirip sebuah KEBENARAN.

Salah dan benar yang mereka perdebatkan sesungguhnya sangat tergantung dari kepentingan pribadi mereka masing-masing, mirip seperti Penjual Es Buah dan Penjual Payung yang memperdebatkan soal HUJAN.

Jika kita ingin mendapatkan kebenaran bagaimana caranya?

Sesungguhnya kebenaran itu baru datang pada saat kita yang berdebat berhenti berdebat dan ganti untuk MERENUNG dan berani melepaskan semua kepentingan ego dan pribadinya, mirip seperti Tukang Es yang akhirnya tersadarkan, "Ah dari pada ia terus berdebat dengan Penjual Payung lebih baik ia ganti berjualan Payung di musim hujan dan sebaliknya juga dengan Tukang payung yang ganti menjual Es dimusim panas." Dan akhirnya mereka telepas dari masalah mereka masing-masing dan mendapatkan hasil yang lebih menguntungkan.

Masihkah kita ingin berdebat atau segera merenungkan setiap masalah utuk mendapatkan hikmah positifnya.

Suit memang untuk melakukannya, karena memang sejak kecil kita tidak pernah dilatih untuk merenung dan lebih banyak melihat orang tua kita saling berdebat setiap harinya.

Tapi saya yakin jika kita mau pasti bisa !

www.ayahedy.tk
www.ayahkita.com

GURU KEHIDUPAN

PARA GURU KEHIDUPAN DI SEKITAR KITA, 
YANG TIDAK KITA SADARI.....?

Sahabatku,

Bayangkanlah jika semua orang yang ada di bumi ini "ternyata" adalah GURU yang dikirim Tuhan pada kita dan kita adalah satu-satunya murid yang harus belajar dari mereka, maka akan damailah hidup kita. Dan terbebaslah kita dari rasa marah dan sakit hati.

Orang yang suka memarahi dan menghina kita adalah Guru yang sedang di Tugasi Tuhan untuk melatih kesabaran kita agar kita menjadi rendah hati serendah-rendahnya hingga tidak ada lagi orang yang bisa merendahkan kita.

Orang yang sulit sekali meminjami kita uang sebagai guru yang dikirim Tuhan untuk melatih kita agar menjadi lebih kreatif dan mandiri untuk berusaha lebih keras mendapatkan income.

Orang yang kikirnya minta ampun adalah guru yang sedang dikirim Tuhan untuk melatih kita agar kita bisa bermurah hati pada orang lain yang membutuhkannya.

Orang yang entah kenapa benci sekali dengan kita adalah guru yang sedang dikirim Tuhan untuk mengajari kita agar kita bisa memberikan cinta pada orang lain.

Orang yang mengomel dan ngoceh terus di samping kita adalah guru yang sedang dikirim Tuhan untuk mengajari kita agar menjadi orang yang lebih mau mendengarkan dan tidak banyak bicara.

Orang yang pinjam uang dan membawa lari uang kita adalah guru yang dikirim Tuhan untuk mengajari kita tentang arti Ikhlas yang sesungguhnya dan sekaligus mengajari kita untuk selalu berhati-hati dengan orang yang baru kita kenal.

Maling yang masuk kerumah kita adalah guru yang sedang dikirim Tuhan untuk menyadarkan kita agar kita berbenah diri sebagai orang tua dalam mendidik anak-anak kita agar kelak anak kita tidak menjadi maling seperti dia.

Silahkan di lanjutkan.... dan silahkan temukan dan tulis di kolom komentar Siapakah guru-guru kita yang lainya yang berada di sekitar kehidupan kita saat ini yang mungkin belum sempat kita sadari bahwa sesungguhnya Dia adalah guru yang di kirim Tuhan untuk melatih kita agar bisa bertumbuh dan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Nah... mari coba kita bangun kebiasaan berpikir seperti ini...., agar apapun yang terjadi pada kita akan menjadi sebuah pelajaran berharga dan siapapun yang melakukan pada kita adalah PARA GURU yang dikirim Tuhan bagi kita untuk melatih kita agar selalu bertumbuh menjadi orang yang lebih baik dan bijaksana.


Semoga Tuhan Alam Semesta selalu menuntun dan membimbing setiap langkah kita dalam menyelesaikan misi hidup kita di bumi ini dengan sebaik-baiknya.

Selamat berakhir pekan bersama keluarga tercinta

Salam syukur,
-ayah edy-
www.ayahkita.com

Silahkan Share ke sebanyak-banyaknya orang yang kita cintai jika artikel ini berguna dan bermanfaat bagi kita semua.

SALAH MEMILIH JURUSAN KULIAH


ANAK YANG MERASA SALAH MEMILIH JURUSAN KULIAHNYA..?

Ayah bunda, tulisan saya ini memang agak panjang, dan hanya diperuntukkan bagi para orang tua yang tidak ingin anaknya tersesat mengambil jurusan sekolah, sebagaimana yang ditulis dalam kisah nyata ini.
Jadi jika ingin dapat manfaatnya silahkan baca perlahan-lahan sampai akhir...

Selamat membaca,

Beberapa waktu lalu, sepasang suami-istri datang menemui saya. Begitu kami duduk berhadap-hadapan, saya bisa melihat kegundahan yang terbayang jelas di wajah mereka.

“Kami bingung, Ayah Edy,” kata sang istri.

Nah, kalimat itu lagi. Selama delapan tahun ini, menghadapi orangtua-orangtua yang bingung memang menjadi makanan saya sehari-hari. Ada yang bingung karena anaknya dianggap bermasalah di sekolah, ada yang bingung karena anaknya mogok belajar, ada yang bingung karena anaknya susah diatur.

Benak saya mulai mereka-reka, kebingungan yang mana yang sedang dialami pasangan suami-istri ini.

“Anak kami (sebut saja bernama Intan) saat ini sudah kuliah tingkat akhir di Fakultas Hukum. Seharusnya ini semester terakhirnya.

Seharusnya dia sedang dalam proses menyelesaikan skripsi. Tapi boro-boro menyelesaikan skripsi, anak kami malah tidak mau meneruskan kuliahnya.

Dia tidak mau bekerja di bidang hukum. Padahal, kampusnya sudah memberi ultimatum, kalau semester ini skripsinya tidak selesai juga, dia harus drop out,” sang istri bercerita agak tersendat, menahan emosi.

Ah, rupanya kebingungan jenis ini yang sedang mereka alami. Kebingungan yang dirasakan oleh anak-anak—dan orangtua—yang ‘tersesat’.

Suaminya melanjutkan. “Kami sudah coba membujuknya dengan segala cara, Ayah. Kami sudah katakan, tanggung kalau dia berhenti sekarang. Toh tinggal sedikit lagi, dia bisa mendapat gelar Sarjana Hukum.

Dia cuma perlu bertahan sebentar lagi saja. Kalau dia keluar sekarang, berarti waktu bertahun-tahun yang dia habiskan di Fakultas Hukum, ya, sia-sia. Percuma saja. Belum lagi biaya yang kami keluarkan. Sia-sia semua.”

Saya mengangguk-angguk. Masih belum berkata sepatah pun. Biar mereka mengeluarkan seluruh unek-unek yang mengganjal selama ini.“Tapi anak kami itu susah dibujuk.

Katanya, dia tidak cocok di Fakultas Hukum. Kalau pun dia bisa lulus, dia tidak akan mau bekerja di bidang itu. Dia tidak suka. Itu bukan bidangnya,” tutur sang suami, menambahkan. Wajahnya terlihat semakin gundah.

Istrinya kembali angkat bicara. “Kalau dia tidak cocok kuliah di sana, kenapa baru sekarang sih, dia memberitahu kami? Kenapa tidak dari dulu? Kalau sudah begini, kan serba salah. Serba nanggung. Kalau pun dia keluar, terus dia mau sekolah di mana? Nanti kalau sudah kuliah di tempat lain, lalu dia merasa tidak cocok lagi, apa mau mogok lagi? Drop out lagi? Berarti kami harus keluar biaya lagi. Dia harus membuang waktu lagi. Lah kapan kerjanya?”

Ibu ini sudah tak bisa menyembunyikan emosinya lagi.
***

Ayah-Bunda tercinta ....

Bila saya diibaratkan seorang dokter, kasus yang saya hadapi ini mungkin sudah stadium lanjut.

Bayangkan, si anak sudah menghabiskan bertahun-tahun waktu hidupnya untuk mempelajari bidang yang tak ia sukai. Ia sudah tersiksa selama ratusan, bahkan ribuan jam dalam kelas-kelas yang tidak diminatinya. Ia belajar tanpa tahu akan jadi apa ia kelak.

Dan di ujung masa kuliahnya, ketika ia seharusnya tinggal selangkah lagi menyambut gerbang kelulusan, kesadaran mengentaknya. Ia tak suka, tak mau, dan tak cocok belajar dan bekerja dalam bidang itu.

Atau jangan-jangan, ia sudah lama memendam rasa tidak suka itu. Mungkin ia sudah lama menyadari kalau bidang itu memang bukan untuknya. Namun bisa jadi, ia sungkan memberitahu orangtuanya.

Takut melihat reaksi mereka. Atau mungkin ia tak tahu, bidang apa sebenarnya yang ia minati. Ia tak tahu apa sebenarnya cita-citanya.

Izinkan saya bertanya, akrabkah Anda dengan kisah nyata ini?



Saya tak heran bila Anda menjawab ‘ya’. Kasus semacam ini memang bukan hanya satu atau dua.

Kasus ini sangat banyak terjadi di antara kita. Ini mungkin terjadi pada anak Anda, keponakan, anak kawan, anak tetangga, atau ... jangan-jangan pada diri Anda sendiri?

Saya yakin kita sering melihat seorang anak yang didorong untuk belajar, belajar, belajar terus. Sejak SD sampai SMA, ia dituntut memperoleh nilai baik dalam semua ulangan dan mata pelajaran.

Karena, walaupun nilai bahasa Indonesianya delapan, jika matematikanya lima, ia bisa terancam tidak naik kelas. Ia akan dianggap lemah dalam bidang itu. Dan karena nilai matematikanya belum memenuhi standar, ia akan digempur oleh les tambahan untuk mendongkrak nilainya.

Menjelang kelulusan SMA, ketika semua anak harus menentukan universitas dan jurusan apa yang akan mereka pilih, ia kebingungan. Ia tak tahu apa cita-citanya. Ia juga tak tahu bidang apa sebenarnya yang ia minati.

Ketika ia bertanya kepada orangtuanya, jawaban mereka hanya, “Pilih dong, Nak, jurusan-jurusan favorit. Pilih fakultas yang begitu lulus, kamu bisa gampang mencari kerja, punya gaji tinggi. Jadi kamu bisa hidup senang.” Lalu orangtuanya menyebutkan beberapa jurusan.

Bukannya tertarik, si anak malah semakin bingung karena tak satu pun jurusan tadi yang benar-benar memikatnya.

Si anak lalu bertanya kepada teman-temannya. Ternyata banyak teman ‘segengnya’ yang memilih Jurusan X. “Kamu pilih Jurusan X juga, dong. Supaya kita bisa terus bareng-bareng pas kuliah nanti.”

Akhirnya, si anak memilih mengikuti teman-temannya. Atau, ia mungkin mengikuti saran orangtuanya. Namun, apa pun yang dipilih, ia tak memilih sesuai kata hatinya. Ia tak memilih bidang yang paling sesuai dengan potensi terunggulnya—yang hingga saat itu masih terpendam.

Di tengah-tengah masa kuliah, si anak semakin menyadari bahwa ini bukan jalannya, tetapi nasi sudah jadi bubur. Apa yang bisa ia lakukan?

Sebagian anak—seperti contoh kasus tadi—akhirnya mungkin tak tahan dan berterus terang kepada orangtuanya. Ia mogok melanjutkan kuliahnya.

Namun sebagian lagi mungkin memilih untuk melanjutkan kuliahnya walaupun tak meminati bidangnya. Bisa jadi, ia tak mau merepotkan orangtuanya yang telah mengeluarkan banyak biaya untuk studinya. Atau kemungkinan lain, kalaupun ia mundur dari kuliahnya saat ini, ia tak tahu bidang apa yang cocok baginya.
***

INGATLAH SELALU bahwa Perilaku anak sehari-hari adalah petunjuk tentang potensinya.

Tanpa Pemetaan, Sekolah adalah Expenses

Ayah dan Bunda terkasih, mengapa kerumitan ini bisa terjadi?
Jawaban satu-satunya adalah karena kita luput atau abai mengenali potensi terunggul anak-anak kita. Perilaku anak sehari-hari adalah petunjuk tentang potensinya. Tapi orangtua terkadang lebih sibuk mengkursuskan anak ini-itu atau bertanya, “Ada PR atau enggak?”, “Ujian sudah siap atau belum?”

(seorang anak kecil lelaki yang manjat pohon. Ibunya cemas di bawah pohon dan bilang ke suaminya,”Owala, anak kita tiap hari manjat pohon jadi apa gedenya nanti, Pak? Masa jadi spiderman?”)

Padahal setiap anak terlahir sesuai fitrahnya. Masing-masing anak menyimpan potensi unggul yang bila dikembangkan akan menjadi penghidupan sekaligus kehidupan yang ia jalani kelak.

Berapa banyak anak-anak yang hanya sibuk sekolah dan mengejar nilai, tanpa tahu apa minat dan cita-citanya, serta tak tahu harus kuliah di bidang apa? Lalu ketika ia bingung, orangtua hanya menasihati agar ia mengambil bidang favorit sehingga kelak mudah mencari pekerjaan bergaji tinggi?

Akhirnya, tanpa mengetahui sedikit pun tentang potensi terunggul anak, kita cemplungkan anak ke dalam bidang, entah apa yang kita pikir terbaik baginya. Syukur-syukur kalau si anak ternyata memang cocok dengan bidang itu. Bagaimana bila tidak? Yang terjadi adalah kasus di atas.

Lalu, bagaimana sebaiknya?
Bagaimana seharusnya Ayah dan Bunda meminimalisir kesalahan macam itu?

Mudah saja. Seharusnya, proses ini dibalik. Kita cari tahu dulu minat si anak, apa potensi terunggulnya, dan cita-citanya yang paling spesifik. Setelah itu, barulah bisa ditentukan sekolah atau jurusan apa yang paling tepat sesuai potensi dan cita-citanya itu.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita mengetahui potensi terunggul anak? Mungkin selama di sekolah, hampir semua nilai anak kita tinggi. Bahasa Inggris bagus, matematika bagus, IPA bagus, IPS bagus. Jadi, yang mana potensi unggulnya? Atau sebaliknya, mungkin selama ini ia hanya anak ‘rata-rata’. Anak yang setiap tahun selalu naik kelas, nilai-nilainya tak pernah merah, tetapi juga tak ada yang benar-benar menonjol.

Bingung?

Tenang saja. Ada cara yang terbukti efektif untuk mengetahui potensi buah hati kita, yaitu dengan “Pemetaan Potensi Unggul Anak”.

Tanpa pemetaan potensi, sedikitnya ada tiga akibat yang bisa terjadi. Antara lain, seperti digambarkan oleh kasus tadi: Sekolah menjadi expenses alias biaya. Biaya yang dimaksud salah satunya tentu bisa berarti uang.

Bayangkan berapa puluh juta—atau bahkan ratusan juta—yang telah keluar untuk menyekolahkan seorang anak bertahun-tahun, mengkursuskan ini itu, belum lagi ongkos transportasi sehari-hari.

Lalu bagaimana kalau kasus Intan terjadi pada anak Anda? Umumnya, orangtua hanya punya satu anggaran pendidikan untuk satu anak. Ketika terjadi hal di luar dugaan seperti ini, sanggupkah Anda menganggarkan biaya pendidikan lagi untuk anak?

Syukur-syukur kalau Anda menjawab ‘sanggup’. Syukur-syukur kalau anak Anda cuma satu, sehingga Anda tak perlu memikirkan biaya pendidikan adik-adiknya.

Bila seseorang bersekolah sesuai potensi, biaya yang dikeluarkan akan menjadi INVESTASI, tetapi bila tidak, akan menjadi EXPENSES.

Namun bagaimana kalau Anda tak sanggup?Apakah itu berarti Anda akan memaksa anak untuk menyelesaikan kuliahnya—walaupun itu berarti menyiksanya lebih lama lagi?

Lalu setelah kelulusan yang ‘dipaksakan’, anak Anda akan kebingungan mencari pekerjaan (karena ia tak menyukai bidang studinya), lalu akhirnya terdampar dalam jenis pekerjaan lain yang jauh berbeda dari bidangnya selama ini?

Berapa banyak lulusan Teknik Arsitektur yang bekerja di media?
Berapa banyak lulusan Biologi yang bekerja di bank?

Berapa banyak lulusan Pertanian yang bekerja sebagai Public Relation? Atau bisa jadi, ia memilih pekerjaan sesuai bidang studinya.

Tentu mungkin saja. Namun bagaimana pun, bila bidang itu bukanlah potensi unggulnya dan ia tak menyukainya, ia hanya akan menjadi pekerja yang pas-pasan.

Intinya, bila seseorang bersekolah atau mengambil kursus sesuai potensi, biaya yang dikeluarkan akan menjadi INVESTASI, tetapi bila tidak, akan menjadi EXPENSES.

Selain materi, expenses juga berarti waktu. Bila ditimbang-timbang, kerugian karena hilangnya waktu bertahun-tahun mungkin bahkan lebih berat daripada kehilangan uang.

Ada ungkapan, ‘It’s never too late to follow your passion’. Tak pernah terlambat untuk mengikuti passion Anda. Kita selalu bisa memulai di usia berapa pun.

Namun bayangkan apa jadinya bila potensi terunggul dipupuk sejak kecil?

Baca lanjutannya di buku Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak Sejak Dini.

Bisa di baca2 dulu saat kita mampir ke Gramedia atau toko buku lainnya.



Atau kita bisa menolong anak kita dengan ikut Program Pemetaan Potensi Anak di Bali info lengkap lihat kolom komentar

by ayah edy
web resmi: www.ayahkita.blogspot.com

HOAX DI SOSIAL MEDIA


Dulu saya pikir setiap berita yang dibuat di media dan di share di sosmed itu benar,  oleh karena itu dulu saya sering menshare berita tanpa mencari dulu kebenarannya.

Lalu dari komen-komen yang masuk ternyata banyak sekali berita yang dibuatu itu tidak benar, bohong bahkan fitnah.

Perlahan saya belajar bahwa ketika kita teliti sebuah berita atau gambar yang dishare, ternyata lebih banyak yang bohong dan fitnah ketimbang yang benar.

Dasar pembuatan berita bohong itu motifnya bermacam-macam mulai dari kebencian hingga profesi yang di bayar (ternyata)

Bahkan setelah saya banyak browsing, ternyata model berita bohong, fitnah atau Hoax (dalam istilah sosmed) tidak hanya terjadi di Indonesia bahkan terjadi di hampir seluruh dunia.

Bahkan ini sudah menjadi Industri yang memberi penghasilan yang konon katanya sangat besar sekali.

Dan tidak hanya berkembang sebagai Industri, bahkan sebagian sudah di jadikan alat pengganti peralatan PERANG untuk menghancurkan negara lain.

Lalu siapakah yang menyuburkan Industri mereka ini...?

Yang paling utama adalah kita yang telah ikut-ikutan menyebarkannya tanpa sadar atau melakukan cek and re cek kebenaran berita tersebut.

Ketika kita menyebarkan berita bohong, fitnah atau Hoax yang disengaja maka sesungguhnya kita sudah menjadi bagian Marketing atau sales bagi mereka.

Mereka sangat senang sekali dengan orang-orang yang seperti ini.  Mereka dibayar mahal, sementara kita menjadi marketing dan sales gratis bagi mereka. Belum lagi dosa yang kita tanggung akibat menebarkan kebohongan dan fitnah.

Penyebab utama dari berkembangnya Industri ini adalah disebabkan karena banyaknya orang yang malas membaca dan orang yang memiliki cara berpkir yang sempat hingga gampang sekali diajak untuk melakukan kebencian.



Karena kurangnya minat baca dan wawasan yang sempit mereka berpikir bahwa dengan membantu menyebarkan kebohongan dan fitnah itu akan membantu, padahal justru akan mengadu-domba anak bangsa yang pada akhirnya akan menghancurkan negeri kita sendiri.

Sudah banyak contoh negara yang hancur karena masyarakatnya tanpa sadar menyuburkan industri Hoax ini. Apakah negeri kita mau hancur seperti negeri-negeri yang hancur tersebut.

Renungkanlah dengan hati yang jernih agar tidak gampang emosi....

Ingat kita adalah orang tua yang dicontoh oleh anak kita, teladan bagi anak kita, apa jadinya jika orang tuanya saja gemar menyebar berita bohong, fitnah dan kebencian.

Silahkan pilih mau terus menjadi marketing Industri kebohongan dan fitnah atau berhenti sekarang juga.

Perhatikan gambar Mie dibawah ini, begitu halusnya kebohongan itu bisa di buat...

KAK DILAH MENEMBUS UNIVERSITAS TERBAIK DI PERANCIS


Sahabat ayah bunda yang dimuliakan Tuhan.

Alhamdullilah, hari ini saya dapat kabar dari salah satu orang tua yang pernah mengikuti bimbingan Pemetaan Potensi Emas Anak, yang bertemu saya karena tidak suka sekolah.

Hari ini anaknya diterima disalah satu universitas terbaik di Eropa.

Bahagia rasanya hati saya, semoga kelak akan ada lebih banyak anak-anak Indonesia yang bisa mewujudkan mimpi terbesarnya melalui pendidikan terbaik yang bisa diraihnya.

Dilla telah 3 kali bertemu mengikuti bimbingan sejak SMP kelas 3, dan terakhir bertemu kira-kira 3 bulan yang lalu.

Berikut SMS yang dikirim oleh Bunda Lala pada kami.

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ayah edi saya ibu lala, orang tua dari fadillah putri ( dilla) , mau memberi kabar kalau dilla anak saya di terima kuliah di université Lyon 2 lumière

Terima kasih advice dan supportnya buat dila khususnya , dan pencerahannya buat kami sbg orang tua .

Semoga ini menjadi yg terbaik buat dilla meraih cita citanya
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

JANGAN SOMBONG


Jangan merasa Paling Tinggi karena selalu ada yang lebih Tinggi dari kita
-Dweyne Johnson -



Amitabh Bacchan a bollywood actor says “At the peak of my career, I was once travelling by plane. 

The passenger next to me was elderly gentleman dressed in a simple shirt  and pants. He appeared to be middle class, and well educated. 

Other passengers perhaps recognising who I was, but this gentleman appeared to be unconcerned of my presence. He was reading his paper, looking out of the window, and when tea was served, he sipped it quietly. 

Trying to strike a conversation with him I smiled. The man courteously smiled back and said 'Hello'. 

We got talking and I brought up the subject of cinema and movies and asked, 'Do you watch films?' 

The man replied, 'Oh, very few. I did see one many years ago.' 

I mentioned that I worked in the movie industry.

 The man replied.." oh, that’s nice. What do you do?'  

I replied, 'I am an actor ' 

The man nodded, 'Ooh that's wonderful!' And that was it...  

When we landed, I held out my hand and said, " It was good to travel with you. By the way, my name is Amitabh Bacchan !' 

The man shook my hand and smiled, "Thank you... nice to have met you..I am J. R. D. Tata!"

(Mr TATA is a billionaire industrialist that owns TATA Group of Companies).

I learned on that day that no matter how big you think you are, there is always someone bigger than you.

Because In Life There Are Many Situations Where Knowledge Fails, But Behavior Can Handle almost everything.

Show Respect Stay Humble... 🙏

Shared from Mr Radhea