SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Senin, 02 Mei 2016

KUALITAS SISTEM PENDIDIKAN SUATU NEGARA BERBANDING LURUS DENGAN KUALITAS BANGSANYA


ESENSI SEBUAH PENDIDIKAN ADALAH JIWANYA DAN BUKAN HANYA RAGANYA.

.....Bangunlah dulu Jiwanya baru bangun raganya.... begitulah menurut bapak WR Supratman. Karena isi/content jauh lebih penting dari pada Casing atau bungkusnya. 

INILAH ESENSI SEBUAH PENDIDIKAN

Negara Finlandia diakui oleh dunia memiliki sistem pendidikan yg terbaik diseluruh dunia.

Dari hasil penuturan Syed Abdul Rahman Alsagoff
Foundar Arabic School in SINGAPORE
Sekolah tertua yg didirikan oleh Swasta di Singapura; Sumber; Channel News Asia , 6 Mei 2009

Mengatakan bahwa ternyata di Finlandia itu tidak ada:

1. Akreditasi (Pemeringkatan) Semisal Sekolah terakreditasi A atau B
TIDAK ADA AKREDITASI Sekolah oleh pemerintah semisal sekolah terakreditasi A atau Sekolah Unggulan, yg ada akreditasi oleh Masyarakat; Jadi masyarakat melihat langsung apakah anak mereka yg didik di sekolah tersebut menjadi semakin baik, beretika dan cerdas atau malah sebaliknya. Jadi sekolah tidak dinilai oleh satu pihak saja, yakni Pemerintah, melalui Stnadar tunggal yg bisa saja keliru (dan jika keliru maka seluruh bangsa akan menganggung akibatnya) ; melainkan langsung oleh usernya yakni masyarakat. Jadi sekolah berusaha untuk menjadi yg terbaik dengan memberikan bukti langsung kepada masyarakat yg menilainya. Fungsi pemerintah lebih sebagai konselor atau Konsultan Pembimbing bagi sekolah dan mengembangkan sistem sekolahnya bukan Lembaga Akreditasi. Mencatat sekolah2 yg dianggap berhasil oleh masyarakat dan membantu sekolah2 yg belum dianggap berhasil.

2. Tidak ada kurikulum tunggal yg ditetapkan oleh Pemerintah pusat, Setiap sekolah diberikan kebebasan mengembangkan kurikulum sendiri sesuai dengan potensi unggul daerahnya masing2. Jadi sepertinya jika sekolah itu di terletak di Bali mungkin yg lebih di utamakan adalah kurikulum pengembangan Budaya, Seni Tari, Ukir, Pahat dan sejnisnya. Jika dikalimantan mungkin tentang Batuan berharga, Gambut, Batubara, dan Budidaya Hutan, Jika di Maluku mungkin Perikanan dan budidaya kelautan dan sejenisnya. Wow !!! Pastinya akan banyak para ahli lokal yg pandai memanfaatkan potensi daerahnya.

3. Tidak ada standar kelulusan berdasarkan ujian negara, melain berbasiskan pada proses hasil pembelajaran dari hari ke hari dari masing-masing anak, tanpa dibandingkan melalui sistem Rangking. Jadi tujuan pembelajaran adalah untuk menjadikan anak yg terbaik sesuai bidang yg diminati dan kemampuannya sendiri-sendiri bukan untuk mengejar peringkat dalam satu kelas atau satu sekolah. (karena prinsip pendidikan adalah mencerdaskan semua anak bukan untuk Merangking mereka dari yg terpintar hingga yg terbodoh)

4. Dan yg paling mengesankan adalah tidak ada standar Nasional KECUKUPAN MINIMAL untuk Nilai masing2 pelajaran (karena tiap anak memiliki kecepatan belajar yg berbeda2 dan kemampuan berbeda untuk bidang pelajaran yg berbeda).

Yang ada justru STANDAR NASIONAL ETIKA MORAL ANAK.

Jadi setiap sekolah wajib mendidik setiap murid mereka memenuhi STANDAR ETIKA MORAL NASIONAL sebagai Pondasi Dasar membantuk Bangsa Yang Kuat dan Cerdas.

Jadi meskipun sekolah mereka memiliki kurikulum yg berbeda2 dengan spesialisasi kecakapan Bidang yg berbeda di sesuaikan dengan potensi daerahnya masing2,  Namun setiap sekolah harus bisa menjamin bahwa setiap muridnya memiliki ETIKA MORAL YG STANDAR SECARA NASIONAL.

Wah.... sepertinya kok tidak terlalu sulit ya untuk mengikuti dan menjadi Negara Indonesia, untuk bisa menjadi Negara dengan Sistem Pendidikan Terbaik di Dunia. Tentunya jika kita mau !!

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Seandainya anak kita bersekolah dengan sistem seperti ini sudah kebayang ya akan menjadi sangat luar biasa !!!.

Bersekolah akan menjadi hal yg menarik, menyenangkan sekaligus menantang dan tidak lagi membosankan dan menekan kejiwaan anak.

Dengan adanya Etika Moral yg di Standardisasi secara Nasional pastinya tidak akan ada lagi TAWURAN MASAL PELAJAR, Genk Nero, Genk Motor, dan sejenisnya di Jalanan. Anak akan menjadi respect pada guru dan orang tua, lebih beretika di sekolah, di jalan dan dirumah.

Dengan adanya sistem yg mengedepankan kecakapan individual dan tidak ada lagi sistem ujian dengan standar soal dan jawaban yg sama pastinya tidak akan ada lagi contek mencontek.

Tiap siswa akan tampil menjadi terbaik pada bidang kecakapan masing-masing yg memang menjadi bakat dan kelebihannya dan bukan dipacu dan ditekan untuk meningkatkan nilai atau bidang yg menjadi kelemahanya dengan cara ikut Bimbll atau Les siang, malam, pagi, sore.

Sekaligus masing2 anak-anak, Guru dan Orang Tuanya gak Stress lagi oleh Momok Nasional yg bernama Ujian Nasional, karena mereka di nilai bukan dari Ujian Akhir melainkan melalui proses perkembangan belajar dan penguasaan dari hari ke hari, sekaligus mereka juga dikembangkan berdasarkan kemampuan dan kecakapan bidang masing-masing, tidak untuk di Rangking, yg bisa berakibat sangat memalukan jika mereka termasuk 10 besar dari bawah.

Berkaca pada Syed Abdul Rahman Alsagoff sang Founder Arabic School di Singapore yg mau dan bisa melakukan perubahan dengan memulainya dari dirisendiri dan sekolahnya sendiri, kitapun mestinya bisa melakukan hal yg sama di Indonesia.

Jika Singapura bisa Indonesia Pasti Bisa !!!

Jika kita mau pasti bisa !!! dan bukan sebaliknya, Jika bisa sich sebenarnya kita mau !!!!

Ya Persis memulai perubahan mulai dari diri sendiri dan sekolah kita sendiri !!!

SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL !

Ayah Edy
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
Singaraja, Buleleng, Bali
merangkap orang tua Homeschooling di Jakarta.

Sabtu, 30 April 2016

Berapa banyakkah sahabat sejati yang kita punya ?



Begini cara mengetahuinya......

Jika sudah tahu siapa saja mereka...

....maka segera peluklah jika ia berada didekat kita saat ini,

atau segera hubungilah dan katakan betapa bahagia dan berterimakasihnya kita padanya telah mau menjadi sahabat dalam suka dan duka....

-ayah edy-
www.ayahkita.com

BELAJAR DARI AYAM



Ada seekor Induk ayam sedang berdialog dengan anak-anaknya,

Anak :
“Mak kita kok di panggilnya sama semua sih "ayam" gak kayak anak manusia masih kecil sudah punya nama dan di panggil sesuai namanya yang bagus-bagus, ada yang Adul, Adel, Udin, Joy,  Jojo, Caca, Naila, Nadira dll.

Induk :
"Nak, kalau masih hidup memang manusia banyak nama panggilannya, tapi nanti ketika mereka mati semuanya dipanggilnya sama yaitu; Jenazah."

"Berbeda dengan kita para ayam nak, nanti kalau sudah mati baru kita diberi nama masing-masing dan nama kita jadi banyak, ada yang dipanggil  Kuluyuk, Pop, Betutu, Taliwang, Opor, Penyet, Rendang, Bekakak, dan bahkan ada juga Kentucky, Texas dan banyak lagi nama-nama lainnya yang diberikan pada kita, sesuai manfaat kita pada manusia setelah mati nak."

Anak:
"Oh gitu ya mak !"

Induk  :
"Iya makanya sekarang jadilah kamu ayam yang sehat dan berguna biar nanti kalau sudah mati mendapat nama dan di kenang orang sesuai rasa dan manfaat kita bagi manusia. "

"Begitu juga manusia, jika mereka jadi orang yang bermanfaat dan memberikan manfaat bagi orang lain setelah mati niscaya ia akan tetap di kenang bukan hanya  sekedar sebagai Jenazah melainkan akan diberi gelar semisal  Proklamator Kemerdekaan, Bapak Pendidikan Indonesia, Bapak Bangsa dsb. "

Nah para sahabatku,  sebagai manusia pernahkah kita berpikir akan di kenang sebagai apa dan siapakah kita kelak ketika sudah meninggal ? paling tidak oleh anak kita dan orang-orang terdekat kita.

Mari kita renungkan bersama.

Di tulis ulang oleh Ayah Edy
Untuk Komunitas Ayah Edy Parenting
www.ayahkita.com

TERIMALAH ANAK KITA APA ADANYA KARENA IA SUDAH SEMPURNA APA ADANYA SESUAI YANG DIINGINKAN TUHANNYA.



Jika kami sedang berseminar pendidikan, yg umumnya di hadiri 300-600 peserta orang tua dan guru, maka jika kami tanya MANA YG LEBIH PENTING AKHAK ATAU PINTAR.... hampir seluruh ruangan kompak menjawab.... AKHLAK... MORAL....!!!!!

Wah senang sekali sy mendengar teriakan yg hampir kompak ini. Tapi masalahnya ini hanya sekedar TERIAKAN DI RUANG SEMINAR saja atau memang datang dari Pikiran yg sudah "tersadarkan" atau "tercerahkan"....?

Namun sedihnya fakta di lapangan...., tetap saja setelah kembali dari seminar... Para guru dan orang tua sama... kembali ribut dan gusar akan hasil ujian murid2nya, nilai..nilai raportnya. Begitu pula orang tua.... sibuk menekan anaknya untuk belajar dan mengerjakan setumpuk PR (yg sebenarnya hanya menghapal).

Juga sibuk menekan anaknya untuk ikut berbagai BIMBEL dan Kursus agar menjadi anak yg PINTER, JUARA DAN KALAU BISA JENIUS...

Padalah jelas-jelas.... Tokoh2 anutan masing2 agama di dunia, mulai Dari Krishna, Kristus, pangeran Sidarta dan Nabi Muhammad SAW.... tak satupun yg memusingkan nilai2 pencapaian IQ apa lagi untuk menjadi Jenius....

Semua tokoh agama besar ini mengajarkan kita untuk memiliki akhlak, moral dan karakter yg mulia. Untuk bisa mencapai hidup bahagia dan sukses di dunia dan akhirat.

Mengapa ini tidak di jadikan sebagai point utama mencapai sukses hidup dunia dan akhirat oleh mayoritas orang tua dan pendidik...?

Mari kita simak kisah sejarah berikut ini:

James Sidis terlahir dengan nama lengkap William James Sidis pada tanggal 1 april 1898 Di Amerika Serikat, James Sidis merupakan manusia paling jenius yang pernah ada di muka bumi dengan IQ (tingkat Kecerdasan) di atas 250-300. Kejeniusannya mengalahkan Da Vinci, Einstein, Newton dan ilmuwan lainnya. Nama James Sidis nyaris luput dari hingar bingar pemberitaan tentang para jenius di jagat ilmu pengetahuan.

Keajaiban Sidis diawali ketika dia bisa makan sendiri dengan menggunakan sendok pada usia 8 bulan. Pada usia belum genap 2 tahun, Sidis sudah menjadikan New York Times sebagai teman sarapan paginya. Semenjak saat itu namanya menjadi langganan headline surat kabar. menulis beberapa buku sebelum berusia 8 tahun, diantaranya tentang anatomy dan astronomy. Pada usia 11 tahun Sidis diterima di Universitas Harvard sebagai murid termuda. Harvardpun kemudian terpesona dengan kejeniusannya ketika Sidis memberikan ceramah tentang Jasad Empat Dimensi di depan para professor matematika.

James Sidis lulus cumlaude sebagai sarjana matematika di usia 16. Selanjutnya Ia melanjutkan kuliahnya namun sempat tersendat karena dibully oleh sekelompok mahasiswa yang tidak menyukainya. Di usia 17 Sidis menerima tawaran sebagai asisten dosen sambil melanjutkan ke program doktor namun sayang Ia tidak menyelesaikan studinya dengan alasan merasa frustasi oleh sistem pembelajaran dan perlakuan kakak kelasnya. Saat itu Ia sempat mengeluh, “ Aku tidak tahu kenapa mereka memberiku pekerjaan ini dan menempatkanku sebagai orang spesial, aku sebenarnya tidak layak sebagai dosen. “

dunia dan bisa menerjamahkannya dengan amat cepat dan mudah. Ia bisa mempelajari sebuah bahasa secara keseluruhan dalam sehari !!!! Keberhasilan William Sidis adalah keberhasilan sang Ayah, Boris Sidis yang seorang Psikolog handal berdarah Yahudi. Boris sendiri juga seorang lulusan Harvard, murid psikolog ternama William James (Demikian ia kemudian memberi nama pada anaknya) Boris memang menjadikan anaknya sebagai contoh untuk sebuah model pendidikan baru sekaligus menyerang sistem pendidikan konvensional yang dituduhnya telah menjadi biang keladi kejahatan, kriminalitas dan penyakit.

Di tahun 1919, Sidis ditangkap dan ditahan selama 18 bulan karena keterlibatannya dalam demo Socialist May Day di Boston. Saat itu Ia membuat pernyataan menentang wajib militer pada perang Dunia I. Penangkapannya itu sempat menghebohkan media masa sebagaimana saat Ia mengawali kiprahnya sebagai bocah jenius. Sejak keluar dari penjara, Sidis kemudian menghilang bak ditelan bumi dan setelah sekian lama jejaknya terendus oleh seorang reporter yang bertemu dengan seorang pemulung besi tua nan papa, ternyata dialah ‘ William James Sidis. ‘

Siapa yang sangka William Sidis kemudian meninggal pada usia yang tergolong muda, 46 tahun - sebuah saat dimana semestinya seorang ilmuwan berada dalam masa produktifnya. Sidis meninggal dalam keadaan menganggur, terasing dan amat miskin. Ironis. Orang kemudian menilai bahwa kehidupan Sidis tidaklah bahagia. Popularitas dan kehebatannya pada bidang matematika membuatnya tersiksa. Beberapa tahun sebelum ia meninggal, Sidis memang sempat mengatakan kepada pers bahwa ia membenci matematika - sesuatu yang selama ini telah melambungkan namanya.

Dalam kehidupan sosial, Sidis hanya sedikit memiliki teman. Bahkan ia juga sering diasingkan oleh rekan sekampus. Tidak juga pernah memiliki seorang pacar ataupun istri. Gelar sarjananya tidak pernah selesai, ditinggal begitu saja. Ia kemudian memutuskan hubungan dengan keluarganya, mengembara dalam kerahasiaan, bekerja dengan gaji seadanya, mengasingkan diri. Ia berlari jauh dari kejayaan masa kecilnya yang sebenarnya adalah proyeksi sang ayah. Ia menyadarinya bahwa hidupnya adalah hasil pemolaan orang lain. Namun, kesadaran memang sering datang terlambat.

Mengharukan memang usaha Sidis. Ada keinginan kuat untuk lari dari pengaruh sang Ayah, untuk menjadi diri sendiri. Walau untuk itu Sidis tidak kuasa. Pers dan publik terlanjur menjadikan Sidis sebagai sebuah berita. Kemanapun Sidis bersembunyi, pers pasti bisa mencium. Sidis tidak bisa melepaskan pengaruh sang ayah begitu saja. Sudah terlanjur tertanam sebagai sebuah bom waktu, yang kemudian meledakkan dirinya sendiri.

Tapi mengapa kita masih juga belum menyadarinya....?

Mari kita renungkan...

Ditulis ulang oleh
Ayah Edy
Praktisi MI & Holistic Learning
www.ayahkita.com

Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
Singaraja, Buleleng, Bali
Office telp: 0362 -330-1705
fb. Maha Karya Gangga
Twitter: @MahaKaryaGangga

REALITAS SEKOLAH DAN PENDIDIKAN

Apa pelajaran berharga yang kami bisa dapat dari Ujian Akhirmu Nak?
Tanya orang tua pada anaknya.

Dan anaknyapun menjawab singkat....

"inilah pelajaran yang aku dapat...."



lalu kemudian "isi pelajaran" itupun hampir semuanya dia lupakan beberapa hari atau beberapa minggu kemudian.  Karena memang isinya cuma sekedar hapalan untuk diingat saat ujian berlangsung saja.

-ayah edy-
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
Singaraja, Buleleng
Bali

PENTAS DRAMA KEHIDUPAN



Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama yang pesertanya adalah para siswa dan siswi yang belajar disekolah tersebut. Setiap anak mendapat peran, dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang mereka perankan. Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru berjanji akan memberikan hadiah menarik kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas.

Semua orangtua murid ikut hadir dan menyemarakkan acara itu. Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan sangat bagus sekali.

Ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul dan topinya, ada juga yang menjadi nelayan, dengan jala yang disampirkan di bahu.

Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah dan kasar, sementara di sudut lain, terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan riuh dari para orangtua dan guru kerap terdengar, di sisi kiri dan kanan panggung.

Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Itu berarti, sudah saatnya Pak Guru mengumumkan siapa pemeran terbaik yang berhak mendapat hadiah.
Setiap anak tampak berdebar dalam hati, berharap merekalah yang terpilih menjadi pemain drama terbaik dalam pentas tersebut.

Dalam komat-kamit mereka berdoa, supaya Pak Guru akan menyebutkan nama mereka, dan mengundangnya ke atas panggung untuk menerima hadiah. Tak ketinggalan para orangtua pun ikut berdoa, membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.

Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan
sebuah nama. Ahha... ternyata, anak yang berhak mendapatkan hadiah sebegai pemeran terbaik adalah anak yang menjadi pak tua pemarah dan kasar tadi.

Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. "Aku menang...2x", teriaknya. Ia pun bergegas menuju panggung, diiringi kedua orangtuanya yang tampak begitu bangga. anaknya berhasil menjadi juara dan pemeran terbaik di pentas itu.

Tepuk tangan terdengar sangat riuh dari seluruh peserta. Sang orangtua segera berdiri menatap kesekiling hadirin.dengan penuh kebanggaan.

Di atas panggung pak Guru telah menyambut mereka. Dan setelah hadiah di serahkan Pak Guru bertanya kepada sang "bintang panggung cilik ini, " Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang tua yang pemarah dan kasar terlihat sangat bagus dan alami sekali. Apa rahasianya ya, sehingga kamu bisa tampil sebaik ini? Sekarang coba kamu ceritakan kepada kita semua, apa yang bisa membuat kamu bisa berperan sebaik ini..."

Sang anak dengan PDnya menjawab, "Terima kasih atas hadiahnya Pak Guru, Pertama-tama Sebenarnya saya harus berterima kasih kepada Ayah saya. Karena, dari Ayah-lah setiap hari saya banyak belajar cara-cara berteriak dan menjadi seorang pemarah. Dari Ayahlah, saya meniru semua perilaku yang saya perankan ini.

Kemudian sambil mengenang anak itu kembali berbicara, "Saya sering melihat dan mendengar bagaiamana Ayah berteriak kepada saya juga kepada ibu saya dan ini terjadi hampir setiap hari, maka sebenarnya peran yang Pak Guru berikan untuk menjadi seorang tua yang pemarah dan kasar, terasa sangat mudah sekali bagi saya."

Tampak sang Ayah yang mulai tercenung, wajahnya mulai memerah dan tertunduk malu, tanpa disadarinya terlihat bulir-bulir kecil air mata mulai membasahi kedua pipinya. Segera suasana menjadi senyap seketika.

Usai anak itu bercerita suasana menjadi bertambah senyap. Begitupun dengan kedua orangtua si anak ini yang masih berdiri di atas panggung, mereka tampak tak kuat lagi untuk menahan malu. Tiba-tiba Sang ayah segera menekuk lututnya dan memeluk anaknya erat-erat sambil dengan suara bergetar ia berkata “Maafkan ayah ya nak...., maafkan ayah ya sayang....

Jika sebelumnnya orang tua ini merasa bangga dengan prestasi anaknya, namun kini keadaannya berubah 180 derajad.. Mereka seakan-akan sedang berdiri di depan kursi terdakwa, di muka pengadilan dengan disaksikan oleh ribuan penonton,.

Orang tua anak ini seakan mendapat tamparan yang luar biasa atas apa yang dilakukannya, dan semoga saja hari ini ia bisa mendapatkan pelajaran hidup yang paling berharga bagi dirinya.

Dipetik dari buku ayah edy punya cerita

www.ayahkita.com

BINGUNG MEMILIH SEKOLAH YANG TEPAT UNTUK ANAK..?



Menjelang kelulusan Sakti dari SMP, Cindy dan Victor bingung. Sakti adalah putra semata wayang mereka.

Yang membuat bingung adalah ke mana mereka harus menyekolahkan Sakti?

Benar, pilihan sekolah zaman sekarang teramat banyak. Haruskah Sakti masuk SMA atau SMK? Mengejar SMA negeri atau swasta? Sekolah dengan penekanan agama atau tidak? Jurusan IPA atau IPS? Apa yang harus ditekankan dalam pendidikan Sakti?
Kalau Cindy bertanya pada Sakti, jawaban putranya hanya, “Yaaa... terserah Mama. Aku sih ikut saja.”

Cindy bisa saja menyuruh Victor mengincar sekolah sarat prestasi, misalnya. Atau sekolah yang sebagian besar lulusannya masuk PTN. Tapi ia penasaran, bagaimana sih sebenarnya memilih sekolah yang tepat untuk anak remaja kita?

Jawaban Ayah Edy:

Ayah Bunda yang bijaksana,

Persoalan memilih sekolah yang tepat ini sebenarnya sudah dibahas dalam buku saya sebelumnya, Memetakan Potensi Unggul Anak. Rumus memilih sekolah yang tepat sebenarnya sama saja bagi anak segala usia, yakni temukan dulu minat, bakat dan potensi unggulnya, kemudian barulah pilihkan sekolah terbaik untuk mengembangkan potensi itu. Semakin dini kita menemukan potensi anak, tentu semakin bagus.

Dalam kasus Sakti yang sudah duduk di kelas 3 SMP, rumusnya pun tetap sama. Karena itu, tanyakan dulu padanya apa aktivitas atau bidang yang menjadii kesukaan atau minat terbesarnya.

Misalnya begini:
“Sakti, kamu mau jadi apa sih?”
“Engak Tau’...”

Naaah, kalau jawabannya cuma ‘nggak tau’, maka berhentilah menuntut anak untuk belajar dan mengerjakan tugas2 sekolah yang “berjibun banyaknya”, karena inilah yang telah memblok otaknya hingga ia bngung mau jadi apa, karena di sekolah setiap pelajaran harus bagus, padahal tidak semua pelajaran menarik baginya.

Mulai hari ini ajak anak kita untuk bicara dan membuat recana jalan-jalan mengunjungi berbagai objek pameran dan berbagai macam profesi mulai di dalam kota, luar kota, dalam negeri hinga luar negeri.

Sering-seringlah pada saat liburan untuk mengajak dia jalan-jalan. Ke mana? Ke pameran, show seni, teknologi, museum, berbagai event atau gelanggang olahraga. Pancing dia dengan pertanyaan ‘kamu suka itu nggak?’, ‘kamu mau jadi ini, nggak’, ‘kamu mau coba itu, nggak’.

Ketika minat, bakat dan potensi anak sudah jelas terlihat, barulah kebutuhan akan sekolah yang tepat itu muncul. Bila anak ingin jadi chef atau photographer, ya tak perlu ngotot memasukkan dia ke jurusan IPA, misalnya.

Saya pernah menjadi pembicara di satu sekolah. Selesai acara, seorang siswa menghampiri saya.

“Ayah Edy, tahu ngga? Saya sukaaa... banget buat kue-kue kering (Pastry). Tapi mama memaksa saya masuk IPA. Saya sedih dan stres. Nggak tahu harus bagaimana. Aku juga lagi sebel banget sama mama, karna mama juga nggak datang ke acara hari ini,” tuturnya sedih. Di depan saya, dia spontan langsung menelepon mamanya. “Mamaaaa... ke mana sih? Kok nggak datang ke sekolah hari ini?”

Jadi kita harus mendefinisikan ulang apa makna ‘tepat’. Orang-orang berpikir sekolah X adalah sekolah yang ‘tepat’ karena itu adalah sekolah unggulan, favorit dan sebagainya

Ya sekolah itu mungkin tepat untuk anak yang tepat. Namun bagi anak kita belum tentu tepat. Kata ‘tepat’ harus mengacu pada minat dan bakat anak masing-masing. Kenali dahulu potensi anak Ayah Bunda, baru cari sekolahnya. Ingat, tidak ada satu pun sekolah yang tepat bagi semua anak kecuali sekolah tersebut mampu menyesuaikan diri dengan perbedaan masing-masing anak. .

Jika anak Anda dua orang atau lebih, maka sekolah yang tepat bagi mereka pun mungkin berbeda-beda.  Jangan pernah di pukul rata apa lagi di banding-bandingkan satu anak dengan sekolahnya.

Tidak ada anak-anak yang tidak tepat dengan sekolanya yang ada adalah SEKOLAH YANG TIDAK TEPAT BAGI ANAK KITA, karena anak kita adalah sudah sempurna sebagaimana adanya, sebagai hasil maha karya Tuhan yang Maha Sempurna.

Dipetik dari buku AYAH EDY menjawab Persoalan Orang Tua ABG dan Remaja.

by ayah edy
Denpasar, Bali
www.ayahkita.com

JANGAN-JANGAN ANAK KITA MENGALAMI STRESS DI SEKOLAHNYA ?



Belakangan ini Sarah pusing melihat perubahan sikap Robby, putra sulungnya. Sejak masuk SMA unggulan, Robby bukannya senang, malah tampak stres. Bicaranya ketus pada orangtua, adik-adik, bahkan asisten rumah tangga mereka. Bila ditanya, jawabnya cuma ‘tau’, ‘bodo’, ‘terserah’, mengangguk, menggeleng, angkat bahu.

Ia juga terlihat kelelahan. Setiap hari berangkat pagi dengan kondisi masih mengantuk. Sorenya pulang dengan kondisi tak berenergi. Sarah paham. Di sekolah unggulan ini, beban akademisnya memang berat.Jadi selain bersekolah, Robby juga harus ikut pelajaran tambahan. Belum lagi ekskul dan kursus-kursus lainnya. “Mungkin dia lelah,” batin Sarah.

Awalnya Sarah tak mau mengambil tindakan apa-apa. Pikirnya, Robby mungkin masih beradaptasi dengan beban pelajaran di sekolahnya yang baru. Bagaimanapun, beban anak SMA pasti lebih berat dari sewaktu masih SMP kan? Namun ketika Galang –suaminya- menegur, barulah Sarah berpikir ulang.

“Robby kenapa sih, Bun? Aku khawatir dia stres,” ucap Galang.
“Ah, masa sih stres?” jawab Sarah.

“Lho, jangan salah. Anak-anak bisa saja stres, apalagi remaja seperti Robby. Apa dia stres karena sekolah?”
“Hmmm, sepertinya sih begitu.”
“Lalu, bagaimana dong?” desak Galang.

“Ya nggak apa-apa, Yah. Mungkin sedang adaptasi. Toh teman-temannya saja bisa, kok,” tukas Sarah.
“Bunda bagaimana sih? Masa anak kita dibandingkan dengan anak lain?”

“Ih, siapa yang membanding-bandingkan?” Sarah mulai sewot.
Ayah Edy, bagaimana dooong....?”

Jawaban Ayah Edy:
Ayah Bunda yang penuh perhatian,

Ayah Bunda bertanya ‘bagaimana jika anak stres di sekolah’. Bila saya menjawab pertanyaan terbuka seperti itu sama saja bila Anda pergi ke dokter dan mengeluh ‘Dok, kepala saya pusing’, biasanya dokter tidak akan langsung memberikan obat. Mengapa karena penyebab pusing kan bermacam-macam jadi yang jauh lebih penting adalah melakukan proses diagnosis yang tepat tentang apa telah menyebabkan kepala pusing.

Coba deh kita ingat-ingat lagi pada saat kita pusing. Pada saat kita tidak punya uang juga pusing, terlalu banyak uang juga pusing bagaimana mengamankannya, kurang tidur juga pusing, kebanyakan tidur juga pusing. Karena penyebabnya beragam, obatnya tentu tak bisa disamakan. Kalau Anda pusing karena sedang “bokek” (Uang pas-pasan), tentu salah bila dokter memberi obat sakit kepala.

Sama saja dengan anak yang stres. Cari tahu dulu apa penyebab stresnya. Untuk itu, lakukanlah proses telusur atau diagnoss yang telah kitas bahas di Curhat 9. Telusurilah penyebab stres anak dengan ‘wawancara’ atau mungkin ‘sharing’.

Nah, bila sudah dipastikan penyebab stresnya adalah beban sekolah yang berat, sebaiknya Ayah Bunda tidak mengeluarkan kalimat ‘Ah, teman-temannya saja bisa kok.’

Coba saya tanya, beranikah Ayah Bunda dibanding-bandingkan oleh pasangan kita dengan tetangga sebelah? Relakah Ayah Bunda bila ditanya oleh anak ‘Tetangga sebelah beli mobil baru.
Kok Ayah Bunda nggak bisa?’ atau ‘Rumah tetangga sebelah besar. Kok rumah kita kecil?’ Sakit kan, ditanya seperti itu?
Sebagai orangtua, saya lebih mementingkan minat dan bakat anak daripada sekolahnya. Percayalah, sehebat apa pun sekolahnya takkan menjamin kehidupan anak kelak.

Coba lihat, banyak anak yang dahulu nilai rapornya pas-pasan, tapi setelah dewasa malah jadi orang sukses. Saya juga sering menemukan kawan-kawan yang dulu di cap “bandel” di sekolah tapi sekarang malah jadi pejabat/pengusaha (yang tidak ‘bandel’).
Dan yang sering kali terjadi dan menjadi fenomena yang menarik adalah sering kali terjadi bahwa para karyawan mereka adalah anak-anak yang nilai rapornya dulu bagus-bagus di kelasnya, yang rajin nyatat dan bukunya sering di pinjam.

Artinya, pikiran kita harus diubah. Jangan jadikan sekolah sebagai alat  ukur satu-satuya bagi sukses anak. Namun justru sebaliknya anaklah yang kita jadikan sebagai alat ukur sekolah apakah sekolah tersebut bermutu atau tidak.

Mengapa ? Anak kita adalah ciptaan Tuhan yang Maha Sempurna. Ciptaan Tuhan yang Maha Sempurna pasti juga sempurna. Karena anak kita sudah sempurna sebagaimana adanya maka  tentu kita bisa menjadikan mereka alat ukur bagi sekolah. Bukan sebaliknya.

Jadi bila anak tidak cocok dengan satu sekolah (karena beban akademisnya), pilihkanlah yang cocok. Sekolah yang harus memahami anak, bukan anak yang memahami sekolahnya.

Kalau anak bermasalah dengan nilai atau beban pelajaran, nasehat terbaik dari orangtua adalah: “Nak, tak usah terbebani oleh nilai pelajaran yang kamu tidak suka. Yang penting kamu naik kelas. Namun tolong beri Ayah Bunda nilai bagus dalam satu atau dua pelajaran yang kamu paliiing... suka. Kalau kamu suka bahasa, berilah kami nilai 10 dalam bahasa. Nilai yang lain tidak usah tinggi-tinggi amat.”  Karena tidak ada orang sukses yang menekuni bidang yang TIDAK DISUKAINYA.

Masalahnya, KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) tiap pelajaran di setiap sekolah berbeda-beda. Nilai KKM matematika di sekolah X mungkin 70, sementara di sekolah Z malah 75, 80 atau bahkan 85. Jadi bila KKM di sekolah anak terlalu tinggi, pindahkanlah anak ke sekolah dengan KKM yang lebih realistis untuk diraihnya.

Kalau sudah dipilihkan sekolah dengan KKM yang relatif rendah, tapi anak masih ‘terengah-engah’, pilihannya homeschooling atau sekolah alam jika di sekitar tempat kita ada SEKOLAH ALAM.

Apa anak tidak minder bila dipindahkan ke sekolah dengan KKM lebih rendah?

Ayah Bunda, pikiran atau pertanyaan seperti ini justru menanamkan nilai-nilai keminderan pada anak. Ia akan menyimpulkan ‘Oh, jadi kalau belajar di sekolah yang KKM-nya rendah harus minder’ atau ‘Oh, jadi kalau belajar di sekolah yang bukan unggulan harus minder’. Siapa bilang?

Yang harus ditanamkan pada anak adalah otentitisitas, kejujuran atau keaslian diri. Jadi seperti dirimu. Selain itu, ajarkan juga anak-anak menjadi magnet. Kalau anak menjadi magnet yang kuat, ia akan menarik semua orang dan tidak ditarik atau ikut-ikutan orang lain.

Nah, bagaimana mengajarkan anak supaya punya magnet?

Caranya, anak harus tahu apa yang ia inginkan, apa minat dan bakatnya. Begitu anak menemukan potensi emasnya, bimbing dia mengasah potensi itu sehingga menjadi yang terbaik di bidangnya. Saat itulah ia menjadi magnet. Bila bidangnya di sepakbola, jadilah seperti David Bechkam. Bila ingin jadi pembicara publik, jadilah seperti Mario Teguh.

Bila ingin jadi pengusaha roti, jadilah seperti Johnny Andrean pemilik Bread Talk. Buat orang-orang lain yang mengantri. Itulah magnet. Baca penjelasan yang lebih lengkap dan detail pad buku kami yang berjudul Memetakan Potensi Ungul anak.

Ditulis ulang dari buku Ayah Edy Menjawab Persoalan Orang Tua ABG dan Remaja.

by ayah edy
www.ayahkita.com

ORANG MISKIN TIDAK BOLEH SUKSES ?



Ketika kami tampikan kisah-kisah orang sukses dalam sebuah acara parenting seminar, ada beberapa orang tua yang lantas menyela "Bagaimana jika kita yang orang susah, melarat, miskin dan punya apa-apa, trus apa mungkin bisa sukses..?"

Saya langsung ingat dua kisah, yakni kisah sy sendiri yang masa kecilnya tinggal di rumah kontrakan satu petak, yang dibayar bulanan di lorong sempit daerah banjir di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Ibu sy tiap hari ke pasar jualan di pasar, tapi ibu sy selalu berkata "Jangan pernah berhenti bermimpi untuk menjadi orang sukses ya Nak !" , "itulah mengapa sejak kamu lahir ibu beri nama kamu Edy Wiyono yang bermakna Edy itu Baik, Sukses dan Bahagia dan Wiyono itu (selalu akan kesampaian)"

Dan kisah satu lagi yang lebih dramatis adalah; kisah seorang anak di Bali yang sempat bertemu kami di Bakungsari Kuta, Bali. biasa di panggil Ni Wayan Sepi.

Ia adalah anak seorang pemulung yang berhasil meraih beasiswa sekolah dari  Anna Frank foundation di Belanda.

Ibunya selalu membangun percaya diri dan motivasi pada anaknya. Lihatlah tayangan videonya di kick Andy, Ni Wayan Sepi begitu PERCAYA DIRI meskipun ia hanya anak seorang pemulung.

Silahkan simak kisah tertulisnya di : https://indonesiaproud.wordpress.com/2011/02/17/ni-wayan-mertiayani-gadis-miskin-yang-juara-foto-internasional-anne-frank-belanda/


Dan simak pula videonya di acara kick Andy : https://www.youtube.com/watch?v=bAa4CqYCsLE

INGATLAH SELALU BAHWA:

Rumus sukses itu adalah 1% Mimpi Besar + 99% Kerja Keras dan Doa. (Thomas Alva Edison)

Sukses tidak pandang bulu apakah kita anak orang miskin atau orang kaya sepanjang kita punya 1 mimpi besar dan 99% Doa dan Kerja keras pasti akan ada jalan dan tercapai !!!

di tulis oleh ayah edy untuk komunitas

www.ayahkita.com

JALAN HIDUP TIAP ANAK



Setiap anak terlahir sudah membawa jalan hidupnya masing-masing, apapun profesi yang menjadi keinginan dan potensi terbesarnya adalah anugerah Tuhan bagi dirinya. Berhentilah memaksakan keinginan kita karena hanya untuk mengejar gensi semata atau karena dulu tidak berhasil kita capai....

Izinkanlah anak kita mengambil bidang profesi yang dicintainya.....

Mari kita belajar dari Christiano Ronaldo....

CR-7 dulu dan sekarang........

Dulu:
Saya masih ingat ketika guru saya berkata bahwa kalau menggantungkan hidup kamu dari bola, kamu gak akan bisa makan.

Sekarang:
Klik: http://www.yudhe.com/9-mobil-mewah-koleksi-cristiano-ronaldo/

RENUNGAN KEHIDUPAN


Terkadang kita perlu mengalah untuk bisa mencapai tujuan mulia kita, itulah yang disebut sebagai kebijaksanaan.


MITOS-MITOS DALAM DUNIA PENDIDIKAN



Benarkah cara belajar yang terbaik untuk siswa adalah dengan duduk tegak dan menulis diatas meja.

Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada.....

Kali ini saya akan mengajak anda untuk merenungkan hasil penelitian tentang Anak yang Sulit Belajar yang dibuat oleh Rita dan Keneth Dunn dari Saint John University, New York, pada tahun 1993.

Rita dan Keneth Dunn, adalah para peneliti untuk anak yang mengalami kesulitan belajar disekolah, yang sebelumnya anak-anak ini selalu diberi julukan sebagai anak bermasalah. apakah itu ADD, ADHD, Learning disability dan lain sebagainya .  Hasil penelitian ini oleh Barbara Prashnig di kombinasikan dengan hasil penelitian dari pakar-pakar pendidikan lainnya seperti Gergori Luzanov, Howard Garner, Tony Buzan, Bobbi De Potter dll yang kemudian diberi nama yang cukup unik yaitu Mitos-mitos besar seputar pendidikan dan bejalar.

Ayah bunda tercinta....,

Barbara Prashnig sendiri adalah seorang praktisi pendidikan yang sudah berkeliling dunia untuk melakukan reformasi sistem pembelajaran, setelah dia banyak mengukir kesuksesan dalam mereformasi sistem pembelajaran di negara-negara lain barulah pada akhirnya negaranya sendiri mau untuk menerima konsep-konsep reformasi diajukannya, Dan dia baru berhasil menerapkannya di Selandia Baru pada bulan November 2001.

Sekarang mari kita simak satu demi satu apa saja Mitos-mitos terbesar seputar pendidikan dan pembelejaran tersebut.

Ayah bunda tercinta....

Kali ini kita sampai pada mitos yang pertama yang mengatakan bahwa Cara belajar yang terbaik untuk siswa adalah dengan duduk tegak dan menulis diatas meja.

Ayah bunda tercinta....

Penelitian menunjukkan bahwa ternyata anak-anak akan jauh lebih sukses dalam belajar jika kondisi ruangannya tidak terlalu formal dan ramah tubuh.

Ketika seseorang anak duduk di kursi yang keras, kira-kira 75 persen dr berat badannya ditopang oleh tulang yang lebarnya hanya sepuluh sentimeter persegi, dan ini berdampak pada tekanan yang berat terhadap syaraf-syaraf tulang belang, akibat tekanan pada jaringan syaraf tulang belakang tersebut, akan menyebabkan seorang anak cepat merasa  kelelahan, tidak nyaman dan sering mengubah-ubah posisi duduknya. yang semua ini pada akhirnya akan sangat mengganggu konsentrasi seorang anak dalam belajar.

Ayah bunda tercinta....

oleh karena itu maka Perhatikanlah bila ada sebagian putra-putri kita yang lebih menyukai cara belajar informal seperti sambil bersandar di sofa, atau bahkan berbaring di lantai, atau juga sambil mendengarkan musik  janganlah kita melarangnya, bisa jadi justru dengan cara itu, anak kita malah lebih bisa berkonsentrasi.

ditulis oleh Ayah Edy
Praktisi Pendidikan Multiple Intelligence & Holistic Learning.
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
Singaraja, Buleleng, Bali
Office telp: 0362 -330-1705
fb. Maha Karya Gangga
Twitter: @MahaKaryaGangga

APAKAH ANAK KITA DI DIAGNOSIS ADHD ATAU ADD ???



Ayah bunda tercinta......

Pernahkan anak anda dinyatakan sebagai ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder), ya karena terlalu banyak bergerak dan tidak bisa duduk diam untuk berkonsentrasi..?

Atau mungkin dinyatakan ADD (Attention Deficit Disorder) karena sering melamun pada saat diajak bicara atau belajar disekolah...?

Atau Diseleksia karena kesulitan membaca..? dan sebagainya.

Lalu apa yang disarankan pada anda.....apakah anak anda yang ADHD diminta untuk mengkonsumsi obat-obat penenang seperti Dexdrin dan sejenisnya agar bisa sedikit lebih tenang.

Ayah bunda tercinta.....,

Ternyata pengetahuan terkini yang didasarkan pada penelitian ilmu otak atau Neoro Science dan Holistic Learning, manyatakan bahwa sebenarnya anak-anak itu semua sama sekali tidak bermasalah dan tidak mengindap penyakit seperti yang selama ini telah dilebelkan pada mereka.

Sebenernya mereka adalah anak-anak yang normal-normal saja; hanya saja mereka memiliki cara yang berbeda dalam belajar dan merekam informasi kedalam otaknya.   Dan akan jauh lebih tepat jika mereka mendapatkan sistem pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan cara otaknya bekerja dan bukannya diminta untuk mengkonsomsi obat-obatan penenang.

Anak ADHD bukanlah anak bermasalah; melainkan anak yang belajar dengan lebih banyak menggunakan Indra Peraba dan gerakan tubuhnya baik motorik halus atau kasar.

Anak ADD adalah anak yang banyak menggunakan organ visual imaginasi dalam memproses informasi sehingga ia nampak seperti anak yang melamun pada saat belajar.

Anak yang Learning disability atau Diseleksia adalah anak yang dominan menggunakan otak kanan dalam memproses informasi; anak diseleksia membaca gambar bukan membaca bunyi (fonetik) sehingga cara belajarnyapun berbeda.  Sementara sekolah mengajar mereka hanya dengan cara membaca bunyi bukan membaca gambar, maka jadilah mereka bermasalah.

Sesungguhnya tidak ada anak yang bermasalah; kecuali anak yang memang mengalami kelainan dan cacat otak secara fisik.  Ketidak tahuan kitalah yang selama ini telah membuat mereka seolah-olah menjadi anak yang bermasalah. Begitu kata Thomas Amstrong dalam bukunya The Myth of ADD Child.

Tahukah anda jika Hans Christian Andersen, Albert Einstein, Thomas Edison,  Jend. George Patton, Peter Daniels & Nelson Rockefeller, Keanu Reeves, John Lenon dll dulunya juga dinyatakan sebagai anak-anak yang memiliki masalah dengan ADHD dan Diseleksia.



ditulis oleh Ayah Edy
Praktisi Pendidikan Multiple Intelligence & Holistic Learning.
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
Singaraja, Buleleng, Bali
Office telp: 0362 -330-1705
fb. Maha Karya Gangga
Twitter: @MahaKaryaGangga

HATI-HATI ! JANGAN SAMPAI KITA SALAH MENILAI ANAK YANG BERMASALAH DENGAN BELAJAR DI SEKOLAH ATAU DI RUMAH SEBAGAI ANAK YANG BODOH



Ayah bunda tercinta....

Tahukah anda bahwa otak berpikir anak kita itu terbagi atas otak kiri dan otak kanan;  Kedua otak itu ternyata memiliki kemampuan kerja yang berbeda satu sama lainnya;

Otak kiri bekerja dengan sistem simbol sedang otak kanan bekerja dengan sistem gambar.  Otak kiri berkerja secara sikuensial sementara otak kanan bekerja secara acak, Otak Kiri bekerja dengan fungsi logika sementara otak kanan bekerja dengan fungsi kreatif dan seni.  Otak kiri belajar dari detail untuk mendapatkan gambaran besar sedangkan otak kanan belajar dari gambaran besar ke detail.

Dan ternyata dalam urutan proses  juga terjadi perbedaan yang besar antara anak otak kiri dan anak otak kanan.
Otak kiri berkerja langsung mengeksekusi sebuah informasi, baru kemudian merekamnya dalam pikiran sementara sebaliknya otak kanan merekamnya terlebih dulu dalam pikiran baru mengeksekusinya. Oleh karena itu anak otak kanan pada awalnya sering dinilai agak lebih lambat dalam berpikir.  Namun jika dia telah berhasil merekamnya justru ia jauh lebih cepat mengeksekusinya dibanding anak yang berotak kiri.

Pada kenyataannya kemampuan berpikir anak ditentukan oleh otak mana yang lebih dominan apakah ia lebih dominan otak kiri atau lebih dominan otak kanan.

Permasalahan sering muncul pada anak-anak kita yang kebetulan cara berpikir otaknya lebih didominasi oleh otak kanan.  Sesuai dengan cara otak kanan bekerja;  biasanya anak-anak ini disekolah sering mengalami berbagai macam permasalahan umum seperti;

1. Suka melamun di kelas padahal ia sedang melakukan perekaman informasi sebelum melakukan eksekusi.

2. Jika diajak bicara matanya tidak menatap kita atau tidak memperhatikan; padahal ia sedang melakukan proses perekaman dan sesungguhnya dia memperhatikan apa yang kita sampaikan
.
3. Terlambat bicara dibanding rekan seusianya yang dominan otak kiri;  hal ini terjadi karena otaknya bekerja dengan sistem dua langkah Merekam dahulu baru mengesekusi.

4. Sulit mengeja; karena pada umumnya sekolah mengajarkan mengeja suku kata sementara otak anak kanan bekerja dengan sistem kata utuh atau full words.

5. Sulit berhitung diawal-awal karena sekolah mengajarkannya dengan sistem simbol dan logika langsung, sementara anak otak kanan belajar dengan sistem gambar dan imajinasi faktual.

6. Sulit mengerjakan tes-tes yang dibatasi waktu karena anak otak kanan bekerja berdasarkan kreatifitas dan seni, dimana pada umumnya proses kreatif dan seni tidak bisa dibatasi waktu.

7. Kesulitan dalam tes lisan; karena anak otak kanan perlu waktu “Melakukan Proses Visualisasi masalah” sebelum menjawabnya; biasanya anak otak kanan setiap kali ditanya selalu menatap keatas atau memejamkan mata.  Sementara guru pada umumnya selalu meminta jawaban langsung yang cepat.

Begitulah gambaran umum mengenai perbedaan anak otak kiri dan anak otak kanan;

Sering kali kita melihat anak-anak otak kanan sebagai anak yang bermasalah padahal Tuhan telah menciptakan mereka sesuai dgn tujuan masing-masing;

anak yang dominan otak kiri akan menjadi calon-calon ahli dalam ilmu management, kepeminpinan dan organisasi,

sementara  dilain pihak Tuhan juga telah menciptakan anak-anak yang berotak kanan sebagai anak-anak dengan kemampuan spesialisasi bidang yang sangat unggul,  sebagian dari mereka akan menjadi maestro dibidang Seni sekaliber Leonardo Da Vinci dan Shakes Pierre atau Picaso, sebagian lagi akan menjadi ilmuan dan penemu sekaliber Thomas Alva Edison atau  mungkin Ahli Strategi militer sekaliber Jend George Patton.

Wahai para orang tua dan guru mari bersama-sama kita cetak anak-anak kita menjadi Maestro Indonesia yang berkelas dunia.  Tuhan telah memberikan benihnya tinggal bagaimana kita menyemainya.....

ditulis oleh Ayah Edy
Praktisi Pendidikan Multiple Intelligence & Holistic Learning.
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
Singaraja, Buleleng, Bali
Office telp: 0362 -330-1705
fb. Maha Karya Gangga
Twitter: @MahaKaryaGangga

BAGAIMANA JIKA ANAK KITA MINTA BERHENTI BERSEKOLAH ?



Cuplikan sebuah komentar dari Posting sebelumnya di : https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1033267810077653&id=141694892568287

Yulia Kurniawati
Aamiin allahuma aamiin... Keponakan saya demikian keadaannya, sekolah rasanya malas"an.. Katanya gitu" aja. Tapi selalu mencoba menggambar dan selalu mencoba hal" yg baru. Saya khawatir ikut"an temannya / sampai terjerumus narkoba. Maaf, keponakan saya laki" sdh SMK jurusan DKV kls XI mta berhenti sekolah.. Mohon diberi sedikit solusinya ayag Edy.. Matur nuwun
Like · Reply · Message · 1 · 32 mins

AYAH EDY Parenting
Belajar tidak harus di sekolah, berhenti bersekolah tidak berarti harus berhenti belajar, ingat Bill Gate juga berhenti bersekolah tapi dia lanjut belajar di rumah dan menghasilkan program yang kemudian kita kenal sebagai microsoft dan akhirnya menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Maka Contohlah Bill Gate.

Ingat Mark Zuckerberg yang membuat face book yang kita pakai sekarang ini, juga berhenti bersekolah.

Begitu juga Thomas Edison di keluarkan dari sekolah malah jadi Pemilik General Electric perusahaan listrik terbesar di AS.

Di Indonesia Ada Andrie Wongso, Bob Sadino, bu Menteri Susi, Sudono Salim dan ribuan lainnya.

Mungkin HOME SCHOOLING BISA MENJADI SOLUSI TERBAIKNYA

Coba pelajari home schooling di www.rumahinspirasi.com

BERHENTILAH MEMAKSAKAN DAN MENEKAN ANAK KITA UNTUK MEMILIH JURUSAN SEKOLAH YANG TIDAK SESUAI MINAT DAN BAKATNYA



Karena ini hanya akan menghancurkan masa depannya serta memicu permusuhan diantara orang tua dan anak, juga akan memicu lahirnya penyimpangan perilaku anak dan remaja.

Jika kita belum sanggup melakukannya maka saksikanlah film ini, InsyaAllah mata dan pintu hati kita akan segera terbuka dan tersadarkan.

- ayah edy -
www.ayahkita.com

PILAR-PILAR PENDIDIKAN BERSTANDAR INTERNASIONAL



Ayah bunda yang berbahagia....

Beberapa penemuan dari penelitian yang dilakukan membuktikan bahwa jika anak-anak diberikan kesempatan untuk bergerak dalam proses belajar mereka, maka siswa akan terlibat lebih aktif dan cenderung menyerap lebih banyak, memperhatikan lebih cermat dan meraih nilai tes lebih tinggi dibandingakan apa bila mereka hanya harus duduk diam dan mendengarkan atau mencatat.

Dawna Markova berpendapat bahwa  sistem pendidikan yang meminta anak untuk duduk diam mendengarkan atau mencatat, telah menghasilkan suatu generasi muda yang cenderung pasif, lamban dan tidak kreatif dalam menghadapi kehidupan dan tantangan zaman yang cenderung sebaliknya.

Ayah bunda yang berbahagia....

oleh karena itu sistem pendidikan masa depan telah menetapkan sistem pembelajaran sekolah pada 5 pilar besar,  dimana proses pembelajaran yang berstandarkan internasional harus dapat membuat para siswanya untuk;

Lean to know yakni membuat siswa bergerak mencari informasi sendiri melalui berbagai media yang ada baik didalam atau diluar lingkungan sekolah,

learn to do, mereka mempraktekkan langsung apa yang dipelajari disekolah dikehidupan nyata dan menacatat hasilnya masing-masing untuk diperbandingkan dan dikaji lebih lanjut,

Learn to be, mereka mengetahui rangkaian panjang dan tujuan akhir dari sebuah proses pembelajaran dan apa gunanya bagi profesi mereka kelak di dalam kehidupan nyata.

Learn through life yakni menjadikan kehidupan sebagai proses pembelajaran seumur hidup bagi siswa, yang tidak terikat hanya pada kurikulum dan ruang sekolah yang sungguh sangat sempit dan terbatas.

Dan yang terakhir adalah Learn to live together; para siswa diajak untuk bergerak mencari tahu berbagai perbedaan yang ada didunia ini baik diantara individu, bangsa, agama dsb. agar mereka bisa menciptakan kedamaian dan keserasian diantara perbedaan yang ada baik dengan manusia maupun dengan alam lingkungannya.

Sudahkan kita memiliki pilar-pilar pendidikan yang berorentasi ke masa depan disekolah tempat anak-anak kita bersekolah...?

ditulis oleh Ayah Edy
Praktisi Pendidikan Multiple Intelligence & Holistic Learning.
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
Singaraja, Buleleng, Bali
Office telp: 0362 -330-1705
fb. Maha Karya Gangga
 Maha Karya Gangga​

BENARKAH ANAK YANG BELAJARNYA SAMBIL BERGERAK ITU ANAK HIPERAKTIF ?



Ayah bunda yang berbahagia....

Penelitian cara belajar yang berbasiskan otak (Brain Base Learning System) menunjukkan bahwa dalam mencerna informasi dalam suatu proses pembelajaran otak menggunakan indra yang berbeda-beda dari Panca Indera yang dimiliki oleh masing-masing anak.  Ada anak yang dominan menggunakan Indra Penglihatan, ada yang pendengaran tapi ada juga anak yang otaknya menggunakan indra gerak untuk memproses dan mencerna informasi.

Anak-anak dengan sistem kombinasi kerja otak yang semacam ini membutuhkan ruang untuk bergerak bagi dirinya, otaknya hanya bisa bekerja manakala dia dalam keadaan bergerak.  Oleh karena itu anak-anak dengan tipe ini sering belajar sambil berlari, sambil bermain, sambil melompat, memanjat dan sebagainya.  Dalam istilah yang lebih populer anak dengan tipe belajar semacam ini disebut sebagai anak kinestetik.

Jika ternyata anak kita dirumah kebetulan ada yang bertipe belajar kinestetik maka ia akan sangat menderita jika diminta belajar sambil duduk manis, mencatat atau tidak bergerak sama sekali.  Perhatikanlah baik-baik, jika kita melarangnya bergerak ia tetap saja akan menggerakan anggota tubuhnya baik sebagian atau secara keseluruhan.

Dalam seminarnya Rita Dunn pernah mengatakan bahwa “Sesungguhnya bukan anak kita  yang hiperaktif melainkan sistem pembelajarnyalah yang hiper pasif .coba bayangkan , seorang anak yang bukan tipe inipun sesungguhnya akan sangat menderita jika diminta duduk dikursi yang sangat keras selama berjam-jam dari pagi hingga siang hari.....  begitu katanya.

Ayah bunda yang berbahagia....

Tidakkah kita masih ingat bahwa dulu kita juga pernah merasakannya hal yang sama,  duduk berjam-jam dikursi yang keras, yang ternyata masih juga dirasakan oleh anak-anak kita hingga saat ini...

Mari kita renungkan  bersama ucapan Rita & Kenneth Dunn , Apakah anaknya yang hiper aktif atau sistem sekolah kitalah yang hiper pasif...?

ditulis oleh Ayah Edy
Praktisi Pendidikan Multiple Intelligence & Holistic Learning.
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
Singaraja, Buleleng, Bali
Office telp: 0362 -330-1705
fb. Maha Karya Gangga

Mari kita belajar dari alam......



Diwaktu-waktu senggang yang kita miliki apakah yang kita pilih untuk menjadi kesibukan kita....???

Mari kita renungkan.....


SEBUAH PERJALANAN PANJANG UNTUK MEMBANGUN INDONESIA YANG KUAT DARI KELUARGA

EDISI 13 TAHUN PERJALANAN AYAH EDY MENEBAR PARENTING DI BUMI TERCINTA INDONESIA MELALUI GERAKAN MEMBANGUN INDONESIA YANG KUAT DARI KELUARGA

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, dan terimakasih kami haturkan kepada seluruh relawan dan keluarga Indonesia yang mendukung GERAKAN MEMBANGUN INDONESIA YANG KUAT DARI KELUARGA.

Semoga Allah SWT akan selalu membimbing setiap langkah kita untuk membangun Indonesia yang kuat dari keluarga.

Kalau bukan kita mau berharap pada siapa lagi?
Kalau bukan sekarang mau kapan lagi?

Mari kita simak kilasan foto-foto 14 tahun ayah edy menebar Parenting di Bumi Indonesia Tercinta.

Klik:

https://web.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1034848769919557&id=141694892568287

Jakarta, 28 Mei 2003-2016


TIPS KESEHATAN BAGI YANG PUNYA KELUHAN PUSING KEPALA DAN SAKIT PINGGANG

TIPS KESEHATAN DARI SHINSHE TRADISIONAL CINA, BAGI ANDA YANG SERING MENGELUH SAKIT DI KEPALA DAN DI PINGGANG YANG SUDAH BOSAN MINUM OBAT TERUS MENERUS.

Seorang teman bercerita ia baru saja berobat ke shinshe (pengeobatan tradisional China), karena akhir-akhir ini dia sering banget mengeluh badannya terasa sakit semua, pinggang pegal, kepala pusing, nyeri sebelah dan sudah bosan minum obat sakit kepala dll.

Sambil dipegang pergelangan tangannya, si Shinse minta dia bercerita tentang pekerjaannya.

Setelah Shinshenya tahu apa saja pekerjaan teman saya ini, lalu inilah nasehatnya:

“Begini ya..., mulai hari ini lu olang mesti banyak2 olah laga, istilahat yg cukup, belhenti ngelokok, banyakin minum dan kalo kelja bekel ail putih hangat”

“Mulai besok lu olang jangan kelja naik mobil pribadi lagi ya.., naik angkot, busway atau ojek aja".

"Lu juga musti kulangin makan daging sapi, ayam dan seafood, ganti sama sayulan, dan tiap hali banyakin makan tahu tempe aja."

" intinya lu olang mesti kulangin jajan/makan dan banyak diet ya !“

Kawan saya inipun jadi tertegun sambil berpikir, kemudian penasaran tanya sama si Shinshenya.

“Jadi sebenernya masalah saya ini apa sih koh?”

Sambil geleng-geleng kepala si Shinshe menjawab:

“ Masalah lu olang cuma satu, Gaji lu kekecilan.., pengelualan lu kegedean, utang  lu kebanyakan..!”
........................
.........................
.......................
Ah tapi untungnya sekarang sudah hari Jum’at ya kan..?
jadi besok bisa santaaiiii di rumah... sambil ikutin nasehat Si Shinshe he...he....

Yuk...mana senyum Jum’at nya....??????

Tetap semangat ya !
-ayah edy-


PENGALAMAN PRIBADI


Semua masalah kesehatan kita ternyata bersumber  dari pola makan dan pola hidup yg salah.

Ketika kita mau mengubah pola makan dan pola hidup kita menjadi lebih baik maka hasilnya satu per satu masalah kesehatan kita akan kembali membaik dan badan kitapun segera terasa sehat dan bugar kembali seperti sedia kala.

 Demikian juga dengan masalah perilaku anak kita yang buruk, ternyata  bersumber dari pola asuh dan pola didik  yg salah dari kita orang tuanya.

Ketika kita mau berubah dan memperbaiki pola asuh dan pola didik kita yang salah selama ini maka satu per satu masalah perilaku buruk anak kita pun akan kembali membaik seperti sedia kala

di tulis oleh Ayah Edy untuk komunitas ISFH
www.ayahkita.blogspot.com

ANAK YANG BERMASALAH ATAU ORANG TUA YANG BERMASALAH ?

Di tahun-tahun pertama pertumbuhan anaknya...

PARA ORANG TUA sibuk dengan berbagai macam cara dan upaya, hingga TERAPI untuk membuat anaknya bisa bicara.

Tapi sayangnya setelah anak-anak mereka pandai bicara..

PARA ORANG TUA justru sibuk dengan berbagai macam cara untuk membuat anaknya DIAM..!

Bukankah kita ini sesunguhnya orang tua yang paling aneh dan membingungkan bagi anak-anak kita..?

Renungkanlah

Ayah Edy
www.ayahkita.com


MANAKAH YANG TERBAIK DIANTARA KETIGA ORANG INI ?



Seorang Guru ditanya tentang 2 keadaan manusia:

1. Manusia rajin sekali ibadahnya, namun sombong, angkuh dan selalu merasa suci dan suka mencaci maki.
2. Manusia yg sangat jarang ibadah, namun akhlaknya begitu mulia, rendah hati, santun, lembut dan cinta dgn sesama.

Lalu Sang Guru menjawab:
Keduanya baik, karena...

Boleh jadi suatu saat si ahli ibadah yg sombong itu menemukan kesadaran tentang akhlaknya yg buruk dan dia bertaubat lalu ia akan menjadi pribadi yg baik lahir dan batinnya.

Dan yg kedua bisa jadi sebab kebaikan hati-nya, Allah akan menurunkan hidayah lalu ia menjadi ahli ibadah yg juga memiliki kebaikan lahir dan batin.

Kemudian orang tsb bertanya lagi, lalu siapa yg tdk baik kalau begitu ya guru...???

Sang Guru menjawab:

"Yg tdk baik adalah orang ketiga,
Orang yg selalu mampu menilai orang lain, namun lalai untuk menilai diri sendiri".

- Cafe Rumi Jakarta
share from Frans Pekasa

HOME SCHOOLING ITU BUKAN SEOLAH DI RUMAH


Kita keliru jika berpikir bahwa Homeschooling itu seperti sebuah sekolah yang ada kantornya yang bertuliskan HOMESCHOOLING dan ada cabangnya di berbagai kota.

Kita juga keliru jika berpikir bahwa Homescholing itu adalah sekolah di rumah. 

Home Schooling itu bukan sekolah di rumah, melainkan sekolah yang menjadikan orang tua sebagai gurunya dan semua tempat dan seisi alam ini sebagai kelasnya dan menjadikan setiap peristiwa di kehidupan ini sebagai kurikulum dan mata pelajarannya.

Sosialisasi itu akan baik jika lingkungan sosial anak-anak sekolahnya baik dan para gurunya peduli pada akhlak setiap anak tapi jika tidak maka sosialisasi justru meracuni anak kita.


Coba ingat2 kembali saat kita masih sekolah dulu, darimana kita pertama kali tahu tentang hal-hal yang negatif semisal majalah porno, film porno, merokok, pacaran atau tawuran pelajar, berkata kotor sejenisnya..?

-ayah edy-
Orang tua Homeschooling untuk kedua puteranya
Merangkap Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga​
di Singaraja, Buleleng, Bali