SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Senin, 11 Desember 2017

EFEK MARAH DAN KEBENCIAN BAGI TUBUH KITA


ARTIKEL YG BAGUS SEKALI DAN PERLU DIBACA OLEH SEMUA ORANG TUA DAN GURU DI INDONESIA.

PIKIRAN NEGATIF, DENDAM DAN KEBENCIAN TERNYATA TIDAK BAIK BAGI KESEHATAN KITA

1st
MARAH selama 5 menit akan menyebabkan sistem imun tubuh kita mengalami depresi selama 6 jam.

2nd
DENDAM & MENYIMPAN KEPAHITAN akan menyebabkan imun tubuh kita mati..

Dari situlah bermula segala penyakit, seperti STRESS, KOLESTEROL, HIPERTENSI, SERANGAN JANTUNG, RHEMATIK, ARTHRITIS, STROKE (perdarahan/penyumbatan pembuluh darah).

3rd
Jika kita sering membiarkan diri kita STRESS, maka kita sering mengalami GANGGUAN PENCERNAAN.

4th
Jika kita sering merasa KHAWATIR, maka kita mudah terkena penyakit NYERI PUNGGUNG.

5th
Jika kita MUDAH TERSINGGUNG, maka kita akan cenderung terkena penyakit INSOMNIA (susah tidur).

6th
Jika kita sering mengalami KEBINGUNGAN, maka kita akan terkena GANGGUAN TULANG BELAKANG BAGIAN BAWAH.

7th
Jika kita sering membiarkan diri kita merasa TAKUT yang BERLEBIHAN, maka kita akan mudah terkena penyakit GINJAL.

8th
Jika kita suka ber-NEGATIVE THINKING, maka kita akan mudah terkena DYSPEPSIA (penyakit sulit mencerna).

9th
Jika kita mudah EMOSI & cenderung PEMARAH, maka kita bisa rentan terhadap penyakit HEPATITIS.

10th
Jika kita sering merasa APATIS (tidak pernah peduli) terhadap lingkungan, maka kita akan berpotensi mengalami PENURUNAN KEKEBALAN TUBUH.

11th
Jika kita sering MENGANGGAP SEPELE  orang lain, maka hal ini bisa mengakibatkan penyakit DIABETES.

12th
Jika kita sering merasa KESEPIAN, maka kita bisa terkena penyakit DEMENSIA SENELIS (berkurangnya memori dan kontrol fungsi tubuh).

13th
Jika kita sering BERSEDIH dan merasa selalu RENDAH DIRI, maka kita bisa terkena penyakit LEUKEMIA (kanker darah putih).

****

Mari kita selalu BERSYUKUR atas segala perkara yang telah terjadi karena dengαn bersyukur, maka HATI ini menjadi BERGEMBIRA dan menimbulkan ENERGI POSITIF dalam tubuh untuk mengusir segala penyakit tersebut dΐ atas.


SIAPA MAU ANAKNYA PINTAR DAN BERKARAKTER..?


TOLONG BACA TULISAN INI

SEORANG FILUSUF ETIKA MORAL MALAH BANYAK MELAHIRKAN PARA SCIENTEIST/ILMUAN DUNIA.

Kok bisa ?

Melanjutkan dari ulasan kami mengenai ucapan para guru di Australia mengenai Budaya Mengantri jauh lebih penting dari pelajaran Sains bagi murid2nya.

Saya ingin berbagi sedikit mengenai pengalaman kami dalam membaca berbagai buku yang menurut kami baik dan berguna.

Terlepas kita nanti akan setuju, sepaham atau sama sekali tidak setuju itu adalah masalah pilihan kita masing-masing, tapi alangkah indahnya jika kita membuka diri terlebih dahulu dan membaca uraian ini;

Terimakasih untuk kesedianya.

Saya yakin bukanlah sebuah kebetulan bahwa saat ini anda membaca artikel ini, saya yakin ada tangan Tuhan yang telah menuntun jari jemari kita untuk bisa sampai disini. Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini.

Keluarga Indonesia yang berbahagia,

Saya selalu tertarik membaca sejarah bagaimana Ilmuan2 besar dari Barat dan Timur di lahirkan.

Apakah mereka mendapatkan pelatihan khusus tentang ilmu sains sejak kecil atau dengan cara apa mereka bisa seperti ini.

Dibarat kita bisa melihat bahwa Seorang Socrates yang di juluki Bapaknya Para Filusuf Barat melahirkan Pemikir Besar yang bernama PLato dan Bagaimana seorang Plato bisa melahirkan Aristoteles yang mendapat julukan Bapaknya Ilmu Pengetahuan ( The Father of Sciences).

Saya juga kagum bangaimana dunia Islam bisa melahirkan ilmuan terkenal seperti Ibnu Abdul Jabbar, Ibnu Sina, Ibnu Al Qindi pada zamannya.

Sebelum membaca sejarah saya berpikir bahwa mungkin Tokoh tokoh ilmuan besar ini dulu sejak kecil di didik untuk sebanyak belajar ilmu Sains hingga akhrinya mereka berhasil menjadi para Scientist Hebat yang Mendunia.

Pemikiran inilah yang mungkin banyak diyakini orang saat ini;

itulah sebabnya mengapa orang begitu berlomba2 menekan anaknya untuk belajar sebanyak2nya tentang Ilmu Science.

Meskipun sering kali bukan membuahkan hasil yang di inginkan melainkan hanya membuat stress anaknya dan akhirnya malah mogok sekolah atau lebih buruk lagi mengalami penyimpangan prilaku remaja.

Setelah saya mempelajari sejarah, ternyata justru yang terjadi malah kebalikannya; Socrates pada zamannya mendapat julukan sebagai Filusuf Etika Moral dan bukan Filusuf Sains.

dan ternyata yang di ajarkan terlebih dahulu pada muridnya Plato adalah filsafat Etika Moral dan bukan ilmu Sains...

dan Plato selalu di ajarkan tentang apa maksud baik Tuhan menciptakan alam semesta ini berikut kita sebagai manusia.

Melalui hal tersebut maka terbukalah pertanyaan2 alam semesta yang pada akhirnya menjadikan Plato sebagai pemikir besar alam semesta pada zamannya.

Cara yang sama inilah yang di kembangkan oleh Plato pada muridnya yang bernama Aristoteles, mengajarkan Filsafat Etika Moral untuk membongkar rahasia alam semesta;

dan cara ini juga yang telah menjadikan Aristoteles mendapatkan Gelar Bapaknya Ilmu Pengetahuan Barat.

Nah... jadi semakin menarik bukan...,

Lalu bagaimana dengan Tokoh2 seperti Ibnu Al Qindy ?

Beliau sama juga seperti Ibnu Sina dan Ibnu Abdul Jabbar, beliau terlebih dulu membedah Al Qur'an sebagai pijakan Akhlak dan Moral untuk menuntun beliau membedah rahasia Alam Semesta Raya juga Rahasia Alam Semesta kecil yang ada dalam tubuh manusia. Hingga menjadikan beliau Tokoh Ilmuan Kedokteran, Matematika dan Ilmu Falaq yang di segani dunia pada zamannya.

Sejak saat itulah akhirnya saya menyadari bahwa dasar dari semua ilmu dan rahasia alam semesta ini adalah Akhlak dan Etika Moral yang kita bisa pelajari dan kembangkan melalui ajaran agama atau kitab suci kita masing-masing.

Ah sayangnya mungkin tidak banyak diantara kita yang membaca sejarah ini, dan mengambil pelajaran berharga didalamnya.

Kebanyakan kita, termasuk saya juga berpikir bahwa jika ingin anak kita menjadi orang hebat maka ajarilah sebanyak2nya ilmu sains sejak dini.

Ya Tuhan ternyata selama ini saya salah menduga, dan Alhamdullilah Engkau telah menunjukkan jalan kesadaran bagiku.

Semoga ini bisa memberikan pelajaran bagi kita semua, jika pun tidak, kami tetap bersyukur bahwa setidaknya saya sebagai orang tua dari anak-anak saya telah di ijinkan oleh Tuhan untuk mengetahui sejarah pendidikan orang-orang hebat pada zamannya.

Mari kita renungkan bersama.

ayah edy
guru parenting Indonesia
www.ayahkita.com

MENGAPA KITA HARUS SALING MEMBENCI

Tolong bacalah tulisan ini sampai selesai 2 menit saja, mudah-mudahan bisa mengubah hidup kita dan anak-anak kita 20 tahun mendatang.

Sahabat keluarga Indonesia,

Dulu orang kulit putih dan kulit hitam di Amerika saling membenci dan memusuhi satu sama lain.

Dan seperti pada umumnya dari zaman ke zaman selalu saja ada alasan SARA (kalau tidak RAS, SUKU ya AGAMA) yang digunakan untuk menanamkan rasa kebencian kita pada orang lain.

Dan kali ini bukan masalah agama, melainkan soal RAS, antara Kulit Putih (yang nenek moyangnya dari daratan Eropa) dengan Kulit Hitam (yang nenek moyangnya berasal dari Afrika)

Dari generasi ke generasi orang-orang kulit putih selalu menanamkan kebencian pada anak-anak mereka bahwa orang-orang kulit hitam itu bodoh, jorok, malas, kasar, kriminal dan suka menyakiti.

Bahkan orang tua merekapun tidak mau saling bergaul, pemukiman tempat mereka tinggal juga terpisah antara kulit hitam dan kulit putih, bagitu juga tempat ibadah mereka meskipun mereka menganut agama yang sama.

Maka jadilah sejak kecil anak-anak orang kulit putih tidak menyukai dan tidak mau dekat dengan anak-anak kulit hitam.

Dan kebencian ini terbawa hingga mereka dewasa, lalu kemudian mereka akan menanamkan kebencian yang sama pada anak-anak mereka, begitulah tradisi ini berlangsung terus dari generasi ke generasi. Bahkan pandangan kebencian inipun menjadi sebuah kebiasaan dan tradisi umum yang tumbuh di masyarakat kulit putih.

Begitu juga sebaliknya dengan orang tua kulit Hitam, orang tua mereka juga selalu menanamkan pada anak-anak mereka bahwa orang-orang kulit putih itu sombong, suka menindas, kejam dan serakah dan suka merendahkan/menghina orang kulit hitam.

Maka jadilah sejak kecil anak-anak orang kulit hitam tidak menyukai dan tidak mau dekat dengan anak-anak kulit putih. Kebencian ini tertanam hingga dewasa dan kemudian mereka akan mawariskan kebencian yang sama pada anak-anak mereka. Dan inilah yang menjadi awal permusuhan abadi antara orang kulit putih dan kulit hitam di Amerika.

Apa yang selanjutkan terjadi adalah ketika mereka bertemu mereka akan saling mengejek, saling mengganggu, menyakiti dan bahkan saling membunuh.

Peristiwa permusuhan ini digambarkan dengan amat sangat baik dan jelas melalui salah satu film yang berjudul Die Hard 3 yang dibintangi oleh Bruce Willis (seorang polisi kulit putih yang masuk ke daerah mayoritas orang kulit hitam)

Ketika saya pertama kali membaca artikel ini dulu sekali, saya segera tersadar, paham dan prihatin bahwa betapa banyaknya orang tua yang tanpa sadar telah mewariskan kebencian semacam ini pada anaknya, sehingga anaknya kemudian mewariskan kembali kebencian yang sama pada anaknya....

Hingga akhirnya kita secara turun-temurun terus saling membenci sepanjang masa tanpa pernah tahu asal usul masalahnya dan tanpa pernah mengerti mengapa kita harus saling membenci.

Sampai kapankah kita akan terus begini....?
Sampai kapankan kita akan berhenti saling membenci...?

Jawabannya sangatlah sederhana, Ya....
Sampai para orang tua mereka mau berhenti mewariskan kebencian pada anak-anak mereka masing-masing.

Dan berkat upaya para orang tua-orang tua inilah akhirnya tingkat kebencian dan permusuhan antara orang Kulit Putih dan Kulit Hitam di Amerika lambat laun mulai berkurang, dan saat ini bahkan mulai banyak perkawinan antara orang kulit putih dan kulit hitam, banyak orang kulit Hitam yang menjadi tokoh favorit kulit putih semisal Oprah, mereka mulai bisa hidup berdampingan dengan damai....

Dan ternyata tidak ada yang namanya PERMUSUHAN ABADI, jika kita semua mau berubah...

Sahabat orang tua tercinta,
Berikut ini adalah kisah nyata salah satu orang tua yang telah memutuskan untuk berhenti MEWARISKAN KEBENCIAN pada anak mereka yang telah mengubah kehidupan kedua RAS tersebut menjadi jauh lebih baik.

Kisah nyata di AS.

Ada seorang wanita kulit putih yg hendak melakukan perjalanan dg seorang putranya yg berusia 6 tahun. Mereka menaiki taksi yg dikemudikan oleh seorang pria kulit hitam.
Karena si anak tak pernah melihat orang kulit hitam sebelumnya, maka hatinya sangat ketakutan & bertanya pd ibunya:

“Ibu, apakah orang ini bukan penjahat?
Mengapa kulitnya begitu hitam?”

Sopir tadi sangat sedih mendengarnya...

Saat itu pula, sang ibu berkata pd anaknya: “Paman sopir ini bukan orang jahat, dia adalah orang yg sangat baik.”

Anak terdiam sejenak, lalu bertanya lagi:

“Jika dia bukan orang jahat, lalu apakah dia pernah melakukan sesuatu yg buruk, sehingga kulitnya begitu hitam?”

Mendengar perkataan anak ini, mata pria kulit hitam itu berkaca2, tapi dia ingin tahu bagaimana wanita kulit putih itu menjawab pertanyaan tsb.

Ibu ini menjawab:

“Dia adalah pria yg sangat baik, juga tak pernah berbuat jahat."

"Tahukah kamu, bukankah bunga2 di kebun rumah kita ada yg berwarna merah, putih, kuning, orange & warna lainnya?”

“Benar bu!”

“Bukankah biji benih dari semua bunga tsb berwarna hitam?”

Anak ini berpikir sejenak, “Benar bu! Semuanya berwarna hitam.”

“Benih hitam itulah yg telah memekarkan bunga2 berwarna-warni yg indah, sehingga dunia menjadi penuh warna-warni juga, bukankah begitu anakku?”

“Benar bu!”

nak ini seakan tiba2 tersadarkan & berkata:

“Kalau begitu pasti paman sopir ini bukan orang jahat! karena kulit hitamnya itu seperti biji bunga-bunga tadi ya.."

"Terima kasih paman sopir! Anda telah membuat dunia menjadi penuh warna-warni, saya akan berdoa untukmu.”

"Anak polos ini lalu mulai komat-kamit berdoa, sopir taksi kulit hitam ini pun tak kuasa menahan diri lagi untuk tidak menangis."

Mari kita renungkan.....

Apakah selama ini kita termasuk orang tua yang TANPA SADAR telah mewariskan kebencian pada anak kita dari generasi ke generasi....?

Apakah hari ini kita telah menjadi tersadarkan...?
Apakah kita ingin mengubah keadaan ini....?

Mari berhenti menanamkan kebencian pada anak-anak kita....

Dan mari tanamkan rasa cinta kasih, dan saling mencintai antara sesama umat manusia, agar hidup kita menjadi lebih damai, sejahtera dan tidak lagi di penuhi oleh rasa kebencian dan rasa saling curiga antara sesama yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Semoga Tuhan berkenan membuka hati kita semua para orang tua.

Jika kisah ini dirasa bermanfaat, maka segera bagikan pada siapapun orang yang kita kenal dan membutuhkannya.

di tulis ulang oleh Ayah Edy
Untuk Para Orang Tua Indonesia
www.ayahkita.blogspot.com

sumber gambar: @theknowledge on twitter.




GEDE PRAMA DAN KELUARGA


Pak Gede pernah bertutur 

Saya banyak berjumpa dengan orang-orang yang ketika muda waktunya di habiskan hanya untuk cari uang dan harta hingga lupa waktu, lupa diri dan keluarga.

Dan ketika mereka sudah tua, uangnya dihabiskan hanya untuk mencari terapis bagi anak-anak mereka dan kesehatan mereka yang bermasalah.

Sadarilah bahwa hidup ini bukan semata hanya untuk mengumpulkan uang dan harta, melainkan untuk mengumpulkan kenangan  demi membangun kebahagiaan kita bersama keluarga.

-Gede Prama-
Guru Compassion 

Sahabatku,

Sudahkah kita bermain bersama dengan anak kita malam ini ?

Sudahkah kita membacakan dongeng pengantar tidur anak kita malam ini?

Sudahkah kita kecup kening anak kita yang telah tertidur lelap saat kita pulang?

Ayo lakukanlah sesuatu saat ini juga untuk membangun kebahagian bersama keluarga, karena waktu kita tidak akan pernah bisa kita putar ulang kembali, sesal kemudian tiada berguna. 

Salam syukur penuh berkah,
ayah edy
Guru Parenting Indonesia 
www.ayahkita.com

BERAPA JUMLAH ANAK YANG PANTAS KITA MILIKI..?


Ada pertanyaan bagus di kolom komen sbb:

"Kenapa Ayah gk nambah anak lagi yah....?"

Ini jawaban saya :

Anak adalah tanggung jawab dunia akhirat bukan asal mampu melahirkan dan memberi makan. 

Ukurlah kemampuan kita masing2 u bisa mempertanggung jawabkan titipanNya kelak di akhirat 

Punya anak bukan sekedar mampu memberi makan dan membuat tubuhnya tambah besar semata 

Tapi mampukah kita mendidik aklaknya agar ia kelak memiliki jiwa besar yg penuh kasih sayang u menjadi orang yg membawa manfaat bukan Mudharat dan kerusakan ?

Sebelum menambah anak,  coba Tanyalah pada diri kita masing2,

Sudah mampukah kita menjadi contoh org tua teladan yg baik bagi mereka? 

Sudah bahagiakah mereka hidup bersama kita? Coba ingat2 dulu sdh kah kita jd anak yg bahagia?  Jika tdk jangan ulangi lagi pada anak kita.

Sudah mampukah kita saat ini  mendidik mereka menjadi anak yg berperilaku baik dan terpuji..?

Sudahkah kita mampu berlaku adil membagi waktu dan perhatian kita pada anak,  yg menjadi haknya,  dgn pekerjaan dan aktivitas harian  lainya..?

Sudah Mampukah kita mendidiknya tanpa harus dengan marah dan bentakan? 

Yuk Mari kita pikirkan dan ukur kemampuan kita dulu..,  

Jangan sampai kita malah jadi orang tua yg lalai dan berdosa pada anak kita.

Begitu banyak org tua yg lalai dan berdosa pada anaknya namun tdk menyadarinya dan malah  menyalahkan anaknya. Padahal orang tua itu teladan bagi anak dan anak hanyalah peniru ulung perilaku orangnya 

Ingat lah selalu bahwa setiap anak akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak.

Pertanyaannya adalah seberapa byk anak kah yg kita mampu pertanggungjawabkan di akhirat kelak..?

.. maka sejumlah itulah ukuran kemampuan anak yg pantas untuk kita miliki.

DAMPAK BURUK JIKA KITA SERING MEMBENTAK ANAK



“Tahukan bunda di dalam setiap kepala seorang anak terdapat lebih dari 10 trilyun sel otak yang siap tumbuh. Satu bentakan atau makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga. Satu cubitan atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. Sebaliknya 1 pujian atau pelukan akan membangun kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak saat itu juga.”

Membentak bisa berpengaruh buruk pada anak-anak, karena bisa membuat renggang ikatan batin dengan anak, selain itu bentakan tidak mengajarkan apa-apa untuk perkembangan si kecil. Saat usia anak masih di bawah 10 tahun, mereka tidak akan melawan atau balas membentak. Tetapi karena sikap pasif mereka itu, Anda jadi tidak bisa mengukur seberapa besar dampak psikologis yang ditimbulkan karena membentak. Anak cenderung untuk meniru perilaku orangtuanya. Seorang anak yang selalu dibentak, diomeli, atau dimarahi, akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dia sah-sah saja berkomunikasi dengan menggunakan bentakan, omelan, atau kemarahan.

Beberapa dampak negatif membentak anak adalah:

1. Anak saat dewasa menjadi minder & takut mencoba hal baru. Jiwanya selalu merasa bersalah sehingga hidupnya penuh keraguan dan tidak percaya diri.

2. Anak akan memiliki sifat pemarah, egois, judes karena dia dibentuk dengan kemarahan oleh orang tuanya. Jika ada hal yang tidak berkenan dihatinya karena sikap kawannya, dia cenderung agresif dan memarahi rekannya. Padahal masalahnya hanya sepele.

3. Anak akan memilki sifat menantang, keras kepala dan suka membantah nasehat atau perintah orang tuanya.

4. Anak akan memiliki pribadi yang tertutup dan suka menyimpan unek-unek nya, takut mengutarakan, karena takut dipersalahkan.

5. Anak menjadi apatis, sering tidak peduli pada suatu hal.

Dari beberapa artikel dan penelitian disebutkan bahwa, satu bentakan merusak jutaan sel-sel otak anak kita. Hasil penelitian Lise Gliot, berkesimpulan pada anak yang masih dalam pertumbuhan otaknya yakni pada masa golden age (2-3 tahun pertama kehidupan, red), suara keras dan membentak yang keluar dari orang tua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Sedangkan pada saat ibu sedang memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak terbentuk indah.

Penelitian Lise Gliot ini sendiri dilakukan sendiri pada anaknya dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan sebuah monitor komputer sehingga bisa melihat setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan otak anaknya. “Hasilnya luar biasa, saat menyusui terbentuk rangkaian indah, namun saat ia terkejut dan sedikit bersuara keras pada anaknya, rangkaian indah menggelembung seperti balon, lalu pecah berantakan dan terjadi perubahan warna. Ini baru teriakan,” ujarnya. Dari hasil penelitian ini, jelas pengaruh marah terhadap anak sangat mempengaruhi perkembangan otaknya. Jika ini dilakukan secara tak terkendali, bukan tidak mungkin akan mengganggu struktur otak anak itu sendiri. “Makanya, kita harus berhati-hati dalam memarahi anaknya,” Tidak hanya itu, marah juga mengganggu fungsi organ penting dalam tubuh. Tak hanya otak, tapi juga hati, jantung dan lainnya.

Kelekatan hubungan anak dan orang tua sangat berpengaruh bagi perkembangan otak dan psycologisnya, tdk usah khawatir anak jadi cengeng dan manja. So.. Semoga saya tidak membentak lagi terutama pada umur 1-6 tahun si anak karena ini adalah "the golden age" yang dapat merusak kecerdasan emosionalnya.

Mari yuk selalu memberi pujian tulus dan pelukan kasih sayang kepada anak-anak kita agar kelak menjadi anak yang cerdas berjiwa penuh kasih sayang.

(sumber: ecahyono, forum.detik.com , life viva )

PENDIDIKAN YANG MENUMPULKAN OTAK




MELIHAT DAN MENEMUKAN SISI LAIN YANG TIDAK TERLIHAT OLEH ORANG-ORANG KEBANYAKAN.

Banyak yg melihat apel jatuh hanya sebagai apel jatuh, tapi hanya Newton yg melihat gravitasi disana.

Banyak yg mengira petir hanya petir, tapi B. Franklin melihat listrik disana.

Sebagian besar hanya menyangka air hanya minuman, tapi ia yg cerdas berhasil mengubahnya mjd bahan bakar.

Mmg diperlukan keberanian dan kecerdasan lebih utk sampai di titik ini.

Namun sayangnya sistem pendidikan kita tidak mengasah otak anak untuk mampu berpikir seperti ini, karena sistem pendidikan kita adalah sistem yang membuat anak sebanyak-banyaknya menghapal pelajaran untuk kelak di muntahkan pada saat tes dan ujian akhir. Dan tragisnya setelah itu semuanya dilupakan begitu saja.

Sang guru pasti akan marah jika melihat anak-anak hanya bermain dibawah pohon apel atau rambutan, katanya ia tidak belajar. Padahal justru itulah arti belajar yang sesungguhnya menemukan sisi lain yang tidak berhasil di lihat oleh anak-anak kebanyakan.

Orang tua mungkin akan marah dan teriak-teriak jika anaknya bermain layang-layang di tengah hujan dan badai petir, katanya itu bukan bereksprimen tapi bermain yang membahayakan jiwanya, Padahal justru karena itulah arti belajar yang sesungguhnya menemukan sisi lain dari petir yang tidak bisa dilihat oleh anak-anak kebanyakan.

Dialah Benjamin Franklin yang menemukan listrik dibalik sambaran petir di benang layang-layangnya, Benjamin yang kemudian dinobatkan sebagai salah satu Presiden Amerika Serikat. Yang wajahnya masih terpampang di alat tukar dollar AS hingga saat ini.

"Saya berani melakukan ini karena tidak ada orang lain yang berani melakukannya, saya selalu tertarik untuk menemukan ada apa dibalik petir yang manyambar-nyambar dikala hujan"
-Benjamin Franklin-

Terinpirasi dari tulisan Dr. Mustika Wayan

Beliau berkomentar,

"Selamat pada anda semua yang sudah sampai pada pemahaman ini dan bisa menemukan pesan besar dari tulisan ini."

Bagi yang belum paham, mungkin kita perlu belajar lagi untuk bisa menjadi orang-orang yang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang-orang kebanyakan.

ayah edy
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga.
Singaraja, Buleleng Bali
www.ayahkita.com

KISAH WO JIN YU


Sungguh, dalam mengasuh dan mendidik anak, Aku Sering Merasa bahwa anakkulah guru kehidupan bagiku

Berikut adalah pengalaman seorang guru Les Piano tentang salah seorang muridnya yang bernama Wo Jin Yu .

Suatu ketika dia mendapatkan seorang murid yang bernama Wo jin yu yang berusia 12 tahun, Pada saat pertama kali mendaftar les ia di antar oleh ayahnya.

Pada hari pertama mengikuti kursus seperti biasa sang guru piano mengatakan bahwa ia senang sekali menerima Wo sebagai muridnya, karena usia Wo masih sangat muda dan itu akan sangat baik sekali karena pada usia dini biasanya seseorang akan sangat mudah sekali untuk di ajari seuatu terutama musik katanya.

Maka sejak hari itu Wo kecil mulai belajar bermain piano, namun saya melihat sepertinya dia kaku sekali, jari-jemarinya sulit sekali di gerakkan, selain itu sang guru piano juga mendapati bahwa Wo sangat tidak peka dengan bunyi-bunyi nada. Tapi tak apalah pikirnya karena mungkin ini hari pertamanya.

Namun demikian sepertinya Wo terus berusaha dengan keras untuk memainkan jari-jarinya di atas piano tersebut dengan bunyi yang tidak beraturan dan agak memekakan terlinga.

Beberapa bulan Wo telah mencoba mempelajari segala yang saya wajibkan untuk dipelajarinya, namun sepertinya tidak ada kemajuan yang begitu berarti. Sampai suatu ketika sempat terlontar kata dari saya bahwa sepertinya Wo tidak memiliki bakat yang cukup untuk menjadi seorang pianis yang baik.

Namun Wo mengatakan bahwa ia ingin bisa bermain piano karena ibunya ingin sekali ia bisa bermain piano. Dan Wo mengatakan bahwa ia sesungguhnya kurang menyukai piano namun ia begitu mencintai Ibunya. Sehingga ia akan terus berusaha untuk bisa bermain piano.

Karena sepertinya sulit sekali saya mengajarinya untuk bermain piano, suatu ketika saya katakan padanya bahwa mungkin ia bisa mempelajari alat musik lainya, Namun Wo dengan tegas mengatakan Tidak, saya harus bisa bermain piano, suatu saat ibu saya akan bisa mendengar saya bermain piano dengan baik. katanya mantap.

Setiap hari semangat Wo untuk bermain piano semakin tinggi dan ia terlihat semakin bekerja keras untuk bermain piano. Belakangan saya mengetahui bahwa dirumah pun ia terus berlatih piano siang dan malam.

Setiap hari Wo selalu di antar jemput oleh ayahnya. Namun sudah beberapa hari ini sepertinya Wo tidak datang untuk berlatih piano lagi, ada apa gerangan, dalam bathin saya bertanya-tanya.

Tapi saya berpikir tak apalah mungkin saja pada akhirnya dia menyadari bahwa memang dia tidak berbakat untuk bermain piano dan memutuskan untuk berhenti. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak menghubunginya.

Enam bulan setelah kejadian itu saya membagikan brosus pada para murid piano saya untuk memberitahukan bahwa dua minggu lagi akan di adakan konser musik piano di balai kota yang akan dimainkan oleh anak-anak murid asuhan saya.

Namun saya agak terkejut ketika tiba-tiba Wo datang dan menyatakan ia ingin ikut serta dalam pertunjukan konser tersebut.

Lalu saya katakan sebenarnya pertunjukan konser itu hanya untuk murid-murid les saya saja, dan karena Wo sudah lama tidak les maka sepertinya Wo tidak bisa mengikutnya.

Namun dengan nada serius dan setengah memaksa Wo meminta saya agar ia bisa mengikutinya. Ia berkata bahwa selama enam bulan ini ia tidak bisa datang Les karena ibunya sedang sakit dan ia tidak mau meninggalnya sendirian di rumah.

Lalu dia juga meyakinkan saya bahwa meskipun tidak ikut les ia terus berlatih keras siang dan malam untuk bisa bermain piano.

Dan dengan nada memelas dia berkata… Tolonglah bu beri saya kesempatan untuk bisa ikut serta dalam pertunjukan tersebut.

Saya berpikir jika Wo ikut mungkin bisa merusak pertunjukan yang ada nanti, tapi entah mengapa dari dalam batin saya kok seperti ada dorongan kuat untuk memberikan kesempatan pada anak ini untuk mengikutinya hingga pada akhirnya saya pun mengijinkan Wo untuk ikut.

Malam pertunjukan datang. Balai Kotapun dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi.

Saya menempatkan Wo pada urutan terakhir persis sebelum saya tampil ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir dari konser malam itu.

Saya rasa jika terjadi kesalahan yang buat oleh Wo di akhir acara nanti saya bisa menutupinya dengan permainan saya.

Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah. Murid-murid telah berlatih dan hasilnya sangat bagus.

Lalu tibalah kini giliran Wo naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya agak berantakan saya berpikir dalam hati. “Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?” dan. “Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini saja..?”

Wo menarik kursi piano dan mulai bicara. Saya terkejut ketika Wo menyatakan bahwa dia telah memilih untuk memainkan karya Mozart’s Concerto #21 in C Major.

Jantung saya berdebar keras menantikan apa yang akan terjadi karena saya tahu itu adalah tidak mudah apa lagi bagi seorang anak seperti Wo.

Namun tiba-tiba saja terdengar alunan nada yang begitu indah, terlihat ayunan jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari nari dengan indah dan gesitnya. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo… dari allegro ke virtuoso. sungguh sangat mengagumkan!

Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur anak 12 tahun sebagus dan seindah itu! Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar, dan tanpa sadar telah membuat semua orang terpana seolah tidak percaya pada apa yang mereka saksikan dan mereka dengar…

namun taklama setelah itu terdengar tepuk tangan yang riuh dan sangat meriah.

Segera saja mata saya berlinangan air mata, saya segera naik ke panggung dan memeluk Wo dengan penuh rasa haru dan sukacita.

”Saya belum pernah mendengar kau bermain piano seindah itu, Wo! Bagaimana kau melakukannya?”

Melalui pengeras suara Wo menjawab, “Bu Yun Yi.. masih ingatkah ibu ketika saya berkata bahwa mama saya sedang sakit?

Ya, sebenarnya mama saya sedang sakit kanker dan dia baru saja meninggal tadi pagi.

Tahukah ibu bahwa sebenarnya… mama saya itu tuli sejak lahir jadi aku yakin malam inilah pertama kali ia bisa mendengar suara aku bermain piano.

Permainanku malam ini sengaja aku persembahkan khusus bagi mama ku sebelum ia pergi menemui Tuhannya.”

Tak satupun dari para penonton yang hadir malam itu yang kuasa untuk menahan airmatanya, bahkan dari beberapa sudut ruangan terdengar beberapa isak tangis penuh keharuan.

Ketika panitia membawa Wo turun dari panggung ke ruang istirahat, saya segera menyadari meskipun mata saya masih merah dan bengkak penuh keharuan, namun saya begitu bersyukur betapa hidup saya jauh lebih berarti karena pernah menerima Wo sebagai murid saya.

Selama ini saya selalu merasa saya adalah guru bagi mereka, tapi malam ini saya merasa menjadi seorang murid yang telah di beri pelajaran berharga oleh Wo.

Dialah sesungguhnya gurunya, guru kehidupan bagi saya dan sayalah muridnya.

Karena malam ini Wo mengajarkan pada saya arti sebuah kerja keras, cinta kasih dan keberhasilan.

Share from buku Ayah Edy punya cerita
December 4, 2011 ·


Rabu, 06 Desember 2017

ANAK-ANAK YANG TERSESAT


Ayah bunda, tulisan saya ini memang agak panjang, dan hanya diperuntukkan bagi para orang tua yang tidak ingin anaknya tersesat mengambil jurusan sekolah, sebagaimana yang ditulis dalam kisah nyata ini.
Jadi jika ingin dapat manfaatnya silahkan baca perlahan-lahan sampai akhir...

Selamat membaca,

Beberapa waktu lalu, sepasang suami-istri datang menemui saya. Begitu kami duduk berhadap-hadapan, saya bisa melihat kegundahan yang terbayang jelas di wajah mereka.


“Kami bingung, Ayah Edy,” kata sang istri.


Nah, kalimat itu lagi. Selama delapan tahun ini, menghadapi orangtua-orangtua yang bingung memang menjadi makanan saya sehari-hari. Ada yang bingung karena anaknya dianggap bermasalah di sekolah, ada yang bingung karena anaknya mogok belajar, ada yang bingung karena anaknya susah diatur.


Benak saya mulai mereka-reka, kebingungan yang mana yang sedang dialami pasangan suami-istri ini.


“Anak kami (sebut saja bernama Intan) saat ini sudah kuliah tingkat akhir di Fakultas Hukum. Seharusnya ini semester terakhirnya.


Seharusnya dia sedang dalam proses menyelesaikan skripsi. Tapi boro-boro menyelesaikan skripsi, anak kami malah tidak mau meneruskan kuliahnya.


Dia tidak mau bekerja di bidang hukum. Padahal, kampusnya sudah memberi ultimatum, kalau semester ini skripsinya tidak selesai juga, dia harus drop out,” sang istri bercerita agak tersendat, menahan emosi.


Ah, rupanya kebingungan jenis ini yang sedang mereka alami. Kebingungan yang dirasakan oleh anak-anak—dan orangtua—yang ‘tersesat’.


Suaminya melanjutkan. “Kami sudah coba membujuknya dengan segala cara, Ayah. Kami sudah katakan, tanggung kalau dia berhenti sekarang. Toh tinggal sedikit lagi, dia bisa mendapat gelar Sarjana Hukum.


Dia cuma perlu bertahan sebentar lagi saja. Kalau dia keluar sekarang, berarti waktu bertahun-tahun yang dia habiskan di Fakultas Hukum, ya, sia-sia. Percuma saja. Belum lagi biaya yang kami keluarkan. Sia-sia semua.”


Saya mengangguk-angguk. Masih belum berkata sepatah pun. Biar mereka mengeluarkan seluruh unek-unek yang mengganjal selama ini.“Tapi anak kami itu susah dibujuk.


Katanya, dia tidak cocok di Fakultas Hukum. Kalau pun dia bisa lulus, dia tidak akan mau bekerja di bidang itu. Dia tidak suka. Itu bukan bidangnya,” tutur sang suami, menambahkan. Wajahnya terlihat semakin gundah.


Istrinya kembali angkat bicara. “Kalau dia tidak cocok kuliah di sana, kenapa baru sekarang sih, dia memberitahu kami? Kenapa tidak dari dulu? Kalau sudah begini, kan serba salah. Serba nanggung. Kalau pun dia keluar, terus dia mau sekolah di mana? Nanti kalau sudah kuliah di tempat lain, lalu dia merasa tidak cocok lagi, apa mau mogok lagi? Drop out lagi? Berarti kami harus keluar biaya lagi. Dia harus membuang waktu lagi. Lah kapan kerjanya?”


Ibu ini sudah tak bisa menyembunyikan emosinya lagi.
***


Ayah-Bunda tercinta ....


Bila saya diibaratkan seorang dokter, kasus yang saya hadapi ini mungkin sudah stadium lanjut.


Bayangkan, si anak sudah menghabiskan bertahun-tahun waktu hidupnya untuk mempelajari bidang yang tak ia sukai. Ia sudah tersiksa selama ratusan, bahkan ribuan jam dalam kelas-kelas yang tidak diminatinya. Ia belajar tanpa tahu akan jadi apa ia kelak.


Dan di ujung masa kuliahnya, ketika ia seharusnya tinggal selangkah lagi menyambut gerbang kelulusan, kesadaran mengentaknya. Ia tak suka, tak mau, dan tak cocok belajar dan bekerja dalam bidang itu.


Atau jangan-jangan, ia sudah lama memendam rasa tidak suka itu. Mungkin ia sudah lama menyadari kalau bidang itu memang bukan untuknya. Namun bisa jadi, ia sungkan memberitahu orangtuanya.


Takut melihat reaksi mereka. Atau mungkin ia tak tahu, bidang apa sebenarnya yang ia minati. Ia tak tahu apa sebenarnya cita-citanya.


Izinkan saya bertanya, akrabkah Anda dengan kisah nyata ini?


Saya tak heran bila Anda menjawab ‘ya’. Kasus semacam ini memang bukan hanya satu atau dua.


Kasus ini sangat banyak terjadi di antara kita. Ini mungkin terjadi pada anak Anda, keponakan, anak kawan, anak tetangga, atau ... jangan-jangan pada diri Anda sendiri?


Saya yakin kita sering melihat seorang anak yang didorong untuk belajar, belajar, belajar terus. Sejak SD sampai SMA, ia dituntut memperoleh nilai baik dalam semua ulangan dan mata pelajaran.


Karena, walaupun nilai bahasa Indonesianya delapan, jika matematikanya lima, ia bisa terancam tidak naik kelas. Ia akan dianggap lemah dalam bidang itu. Dan karena nilai matematikanya belum memenuhi standar, ia akan digempur oleh les tambahan untuk mendongkrak nilainya.


Menjelang kelulusan SMA, ketika semua anak harus menentukan universitas dan jurusan apa yang akan mereka pilih, ia kebingungan. Ia tak tahu apa cita-citanya. Ia juga tak tahu bidang apa sebenarnya yang ia minati.


Ketika ia bertanya kepada orangtuanya, jawaban mereka hanya, “Pilih dong, Nak, jurusan-jurusan favorit. Pilih fakultas yang begitu lulus, kamu bisa gampang mencari kerja, punya gaji tinggi. Jadi kamu bisa hidup senang.” Lalu orangtuanya menyebutkan beberapa jurusan.


Bukannya tertarik, si anak malah semakin bingung karena tak satu pun jurusan tadi yang benar-benar memikatnya.


Si anak lalu bertanya kepada teman-temannya. Ternyata banyak teman ‘segengnya’ yang memilih Jurusan X. “Kamu pilih Jurusan X juga, dong. Supaya kita bisa terus bareng-bareng pas kuliah nanti.”


Akhirnya, si anak memilih mengikuti teman-temannya. Atau, ia mungkin mengikuti saran orangtuanya. Namun, apa pun yang dipilih, ia tak memilih sesuai kata hatinya. Ia tak memilih bidang yang paling sesuai dengan potensi terunggulnya—yang hingga saat itu masih terpendam.


Di tengah-tengah masa kuliah, si anak semakin menyadari bahwa ini bukan jalannya, tetapi nasi sudah jadi bubur. Apa yang bisa ia lakukan?


Sebagian anak—seperti contoh kasus tadi—akhirnya mungkin tak tahan dan berterus terang kepada orangtuanya. Ia mogok melanjutkan kuliahnya.


Namun sebagian lagi mungkin memilih untuk melanjutkan kuliahnya walaupun tak meminati bidangnya. Bisa jadi, ia tak mau merepotkan orangtuanya yang telah mengeluarkan banyak biaya untuk studinya. Atau kemungkinan lain, kalaupun ia mundur dari kuliahnya saat ini, ia tak tahu bidang apa yang cocok baginya.
***


INGATLAH SELALU bahwa Perilaku anak sehari-hari adalah petunjuk tentang potensinya.


Tanpa Pemetaan, Sekolah adalah Expenses


Ayah dan Bunda terkasih, mengapa kerumitan ini bisa terjadi?
Jawaban satu-satunya adalah karena kita luput atau abai mengenali potensi terunggul anak-anak kita. Perilaku anak sehari-hari adalah petunjuk tentang potensinya. Tapi orangtua terkadang lebih sibuk mengkursuskan anak ini-itu atau bertanya, “Ada PR atau enggak?”, “Ujian sudah siap atau belum?”


(seorang anak kecil lelaki yang manjat pohon. Ibunya cemas di bawah pohon dan bilang ke suaminya,”Owala, anak kita tiap hari manjat pohon jadi apa gedenya nanti, Pak? Masa jadi spiderman?”)


Padahal setiap anak terlahir sesuai fitrahnya. Masing-masing anak menyimpan potensi unggul yang bila dikembangkan akan menjadi penghidupan sekaligus kehidupan yang ia jalani kelak.


Berapa banyak anak-anak yang hanya sibuk sekolah dan mengejar nilai, tanpa tahu apa minat dan cita-citanya, serta tak tahu harus kuliah di bidang apa? Lalu ketika ia bingung, orangtua hanya menasihati agar ia mengambil bidang favorit sehingga kelak mudah mencari pekerjaan bergaji tinggi?


Akhirnya, tanpa mengetahui sedikit pun tentang potensi terunggul anak, kita cemplungkan anak ke dalam bidang, entah apa yang kita pikir terbaik baginya. Syukur-syukur kalau si anak ternyata memang cocok dengan bidang itu. Bagaimana bila tidak? Yang terjadi adalah kasus di atas.


Lalu, bagaimana sebaiknya?
Bagaimana seharusnya Ayah dan Bunda meminimalisir kesalahan macam itu?


Mudah saja. Seharusnya, proses ini dibalik. Kita cari tahu dulu minat si anak, apa potensi terunggulnya, dan cita-citanya yang paling spesifik. Setelah itu, barulah bisa ditentukan sekolah atau jurusan apa yang paling tepat sesuai potensi dan cita-citanya itu.


Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita mengetahui potensi terunggul anak? Mungkin selama di sekolah, hampir semua nilai anak kita tinggi. Bahasa Inggris bagus, matematika bagus, IPA bagus, IPS bagus. Jadi, yang mana potensi unggulnya? Atau sebaliknya, mungkin selama ini ia hanya anak ‘rata-rata’. Anak yang setiap tahun selalu naik kelas, nilai-nilainya tak pernah merah, tetapi juga tak ada yang benar-benar menonjol.


Bingung?


Tenang saja. Ada cara yang terbukti efektif untuk mengetahui potensi buah hati kita, yaitu dengan “Pemetaan Potensi Unggul Anak”.


Tanpa pemetaan potensi, sedikitnya ada tiga akibat yang bisa terjadi. Antara lain, seperti digambarkan oleh kasus tadi: Sekolah menjadi expenses alias biaya. Biaya yang dimaksud salah satunya tentu bisa berarti uang.


Bayangkan berapa puluh juta—atau bahkan ratusan juta—yang telah keluar untuk menyekolahkan seorang anak bertahun-tahun, mengkursuskan ini itu, belum lagi ongkos transportasi sehari-hari.


Lalu bagaimana kalau kasus Intan terjadi pada anak Anda? Umumnya, orangtua hanya punya satu anggaran pendidikan untuk satu anak. Ketika terjadi hal di luar dugaan seperti ini, sanggupkah Anda menganggarkan biaya pendidikan lagi untuk anak?


Syukur-syukur kalau Anda menjawab ‘sanggup’. Syukur-syukur kalau anak Anda cuma satu, sehingga Anda tak perlu memikirkan biaya pendidikan adik-adiknya.


Bila seseorang bersekolah sesuai potensi, biaya yang dikeluarkan akan menjadi INVESTASI, tetapi bila tidak, akan menjadi EXPENSES.


Namun bagaimana kalau Anda tak sanggup?Apakah itu berarti Anda akan memaksa anak untuk menyelesaikan kuliahnya—walaupun itu berarti menyiksanya lebih lama lagi?


Lalu setelah kelulusan yang ‘dipaksakan’, anak Anda akan kebingungan mencari pekerjaan (karena ia tak menyukai bidang studinya), lalu akhirnya terdampar dalam jenis pekerjaan lain yang jauh berbeda dari bidangnya selama ini?


Berapa banyak lulusan Teknik Arsitektur yang bekerja di media?
Berapa banyak lulusan Biologi yang bekerja di bank?


Berapa banyak lulusan Pertanian yang bekerja sebagai Public Relation? Atau bisa jadi, ia memilih pekerjaan sesuai bidang studinya.


Tentu mungkin saja. Namun bagaimana pun, bila bidang itu bukanlah potensi unggulnya dan ia tak menyukainya, ia hanya akan menjadi pekerja yang pas-pasan.


Intinya, bila seseorang bersekolah atau mengambil kursus sesuai potensi, biaya yang dikeluarkan akan menjadi INVESTASI, tetapi bila tidak, akan menjadi EXPENSES.


Selain materi, expenses juga berarti waktu. Bila ditimbang-timbang, kerugian karena hilangnya waktu bertahun-tahun mungkin bahkan lebih berat daripada kehilangan uang.


Ada ungkapan, ‘It’s never too late to follow your passion’. Tak pernah terlambat untuk mengikuti passion Anda. Kita selalu bisa memulai di usia berapa pun.


Namun bayangkan apa jadinya bila potensi terunggul dipupuk sejak kecil?


Baca lanjutannya di buku Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak Sejak Dini.


Bisa di baca2 dulu saat kita mampir ke Gramedia atau toko buku lainnya.


by ayah edy
web resmi: www.ayahkita.blogspot.com



sumber gambar: kementrian humor indonesia fb.

KEBENARAN VS PEMBENARAN


Asslamulaikum wr.wb
Selamat pagi para sahabat semua yang dicintai Tuhan,

Saya banyak membaca dan melihat film-film dokumenter tentang kekejaman tentara NAZI dibawah pimpinan Furhrer Adolf Hitler.

Digambarkan mereka membunuh semua orang yang dianggap menentang dan lawan semudah membunuh binatang mulai dari bangsa sendiri hingga bangsa-bangsa lain.

Banyak masyarakat dunia menentangnya dan melawannya mati-matian. 

Tapi menariknya adalah bahwa di pihak Nazi mereka merasa apa yang mereka lakukan BENAR.

Sementara para negara-negara penentang NAZI ini juga merasa apa yang mereka lakukan BENAR.

Kok bisa dua-duanya merasa benar...?

Jadi sesungguhnya siapa yang benar...? 

Bingungkan...?

Karena bingung akhirnya saya coba tanyakan ke Guru Bijak saya;

Dan jawaban beliau sungguhlah sangat sederhana;

"Kebenaran bagi mereka adalah tergantung keyakinan mereka masing-masing. " 

"Padahal ketika kita melihat dari keyakinan kita masing2 saat ini biasanya yang muncul adalah PEMBENARAN."
-------------------------------------------------
"Orang yang yang mencari "KEBENARAN" biasanya akan memilih untuk diam dan banyak merenung, orang yang mencari pembenaran, biasanya akan memilih untuk bicara,  berargumen hingga berdebat untuk mempertahankan PEMBENARAN PENDAPATNYA.
-----------------------------------------------

"Jadi berhati-hatilah dengan keyakinanmu"

"Karena begitu banyak orang di dunia yang melakukan kesalahan tapi merasa diri benar."

"Dan tak kalah banyak orang yang merasa membela KEBENARAN padahal mereka salah"

"Jadi sekali lagi, "berhati-hatilah dengan keyakinanmu"

"Dan biasanya kebenaran baru bisa tampak di Akhir."

"itulah kenapa ada pribahasa orang Jawa

"Becik ketitik olo ketoro" 

(Pada akhirnya yang benar akan kelihatan yang salah akan kelihatan.)

Begitu tutur beliau tentang kebenaran.

Sahabat ku yang baik,
yang sedang membaca tulisan ini,

Menurut sejarah lagi, Puncak dari kekejaman tentara Nazi, ini mulai mendekati masa-masa akhir, setelah tentara Royal Navy Inggris dibawah komando Winston Churchil mencegat kapal perang Angkatan Laut Jerman "Bismarck" dan mereka bertempur mati-matian non stop lebih dari 2 hari hingga akhirnya Bismark berhasil ditenggelamkan.

Dan kekalahan ini terus berlanjut pada front-front pertempuran Nazi lainnya. Hingga akhirnya NAZI mengakui kekalahannya.

****
guru saya bertanya;

"Lalu apa yang terjadi setelah itu..?"

Saya menjawab

"Ya semua orang yang saling bertempur jadi sadar, dan BERSATU, berdamai, berhenti berperang, berhenti mengekspansi negara lain dan berhenti membunuhi manusia tak berdosa atas nama perang."

"Hingga akhirnya masyarakat dunia membuat sebuah lembaga PERDAMAIAN DUNIA yang sekarang di kenal sebagai PBB."

Dan guru saya berujar lagi; 

"Nah apakah sekarang kamu sudah bisa melihat kebenarannya dari dua kubu yang bertikai ini...?"

Kalau belum

Coba baca lagi tulisan ini dari atas perlahan-lahan dengan menggunakan hati nuranimu. 
Sampai mata batinmu terbuka dan bisa melihatnya.

by Ayah Edy dari inspirasi sang Guru kehidupan, belajar melihat kebenaran dari PEMBENARAN.

sumber gambar: http://lelakibugis.net/semua-tentang-sudut-pandang/


MEMETAKAN POTENSI EMAS ANAK SEJAK DINI


MENGAPA TUHAN TIDAK MENCIPTAKAN POHON YANG SEPERTI INI...?

Mengapa negeri ini rapuh? Karena banyak pohon beringin ingin jadi pohon jeruk, dan pohon jeruk ingin jadi pohon mangga.

-Gede Prama-

Ayah Bunda yang berbahagia,

Setiap orang, setiap anak, lahir dengan membawa bibit unggul masing-masing.

Ada anak yang memiliki bibit dokter. Maka bila dirawat dengan tepat, kelak ia akan tumbuh menjadi ‘pohon dokter’ yang hebat.

Ada pula anak yang menyimpan bibit penyanyi. Jika dibesarkan dengan baik, kelak ia akan menjadi ‘pohon penyanyi’ yang luar biasa.

Masalahnya, anak tidak lahir dengan stempel di dahinya: ‘Bibit insinyur’, ‘bibit balerina’, ‘bibit pianis’ atau ‘bibit arsitek’. ?

Tapi syukurlah, mereka lahir dengan petunjuk-petunjuk yang bisa kita ‘baca’.

Anak berbibit penari mungkin sejak kecil langsung berjoget ketika mendengar musik. 
Orangtualah yang harus pandai-pandai mengenali petunjuk ini.

Namun sayangnya, kerap kali kita luput atau bahkan mengabaikan petunjuk-petunjuk ini.

Anak dengan ‘bibit penari’ kita paksa tumbuh menjadi ‘pohon akuntan’.

Atau anak dengan ‘bibit pembalap’ kita paksakan menjadi ‘pohon pengacara’. Akibatnya, terciptalah akuntan atau pengacara yang tanggung, dan tidak mencintai profesinya, bahkan yang terburuk adalah menjalankan profesinya bukan karena panggilan jiwa melainkan hanya untuk menimbun harta,  karena memang bukan itu bibit unggul mereka bukan takdir hidupnya.

Ayah Bunda,

Mengapa kita perlu belajar MEMETAKAN POTENSI UNGGUL YANG DIMILIKI OLEH MASING-MASING ANAK KITA...?,

Supaya orang tua sadar tentang hal ini dan mampu menggali potensi unggul setiap anaknya hingga suatu saat akan berujar pada anaknya

 “Jadilah, tumbuhlah sebagai pohonmu sendiri, Nak.”

Dalam dalam proses belajar MEMETAKAN POTENSI UNGGUL ANAK kita bisa melakukan melalaui 3 cara,

1. Membaca buku ayah Edy yang berjudul MEMETAKAN POTENSI UNGGUL ANAK SEJAK DINI

2. Jika anak kita berusia TK dan SD, bisa mengikuti program Observasi Anak Liburan Sekolah tanggal 18-30 Desember di Lovina, Singaraja, Bali.

3.  Jika anak kita berusia SMP 3 ke atas bisa mengikuti workshop Belajar Memetakan Potensi Anak Sejak Dini (angkatan ke-2 tanggal 17 Desember 2017 di Denpasar)

 kita akan banyak berbincang tentang minat, bakat, potensi dan potensi unggul. Mari kita perinci satu demi satu.

Dalam proses MEMETAKAN POTENSI UNGGUL/EMAS ANAK KITA,  Filosofinya adalah, bila anak kita ditakdirkan berbibit mangga, jangan biarkan ia tumbuh menjadi pohon jeruk hanya karena jeruk sedang laris.

Jangan biarkan anak dengan bibit guru menjadi pohon artis, hanya karena profesi artis menjanjikan keberhasilan instan.

Karena setiap profesi itu adalah panggilan jiwa yang memiliki tujuannya masing-masing, yang juga merupakan bagian Takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sayangnya, kebanyakan yang terjadi di Indonesia, kita sering mengecilkan beberapa jenis bakat.

Yang kita agung-agungkan biasanya bakat dalam bidang Sains seperti matematika, fisika atau kimia.

Bakat melukis biasanya kita anggap sekadar sampingan atau hobi. Padahal, jika seorang anak berbakat melukis, ya itulah bakat utamanya.

Begitupun dengan bakat penyanyi, saya ingat Mas Dwiki Darmawan pernah bercerita saat seminar bareng bersama kami di Jakarta,  Beliau bercerita betapa ia ingin jadi seorang musisi, namun tidak direstui oleh orang tuanya dan malah diarahkan untuk sekolah Tinggi di bidang Ekonomi.   Namun kekuatan pendirian Mas Dwiki Darmawan, telah menjadikan dirinya menjadi POHONNYA sendiri, yakni Pohon Musisi.

Bayangkan, apa jadinya Picasso bila dulu ia dipaksa kursus matematika mati-matian dan mengesampingkan bakat lukisnya? Apa Picasso akan tetap menjadi pelukis legendaris yang kita kenal hingga sekarang?

Minat dan bakat/potensi biasanya berimpitan.

Seorang anak berbibit penyanyi biasanya bersuara merdu dan cepat menghapal lagu. Suaranya itulah bakatnya. Sedangkan minat adalah keinginannya untuk bernyanyi atau menjadi penyanyi.

Namun, minat dan bakat juga dua hal yang berbeda. Anak bisa berminat terhadap sesuatu, tapi ia sebenarnya tak berbakat di sana.

Minat adalah urusan hati. Ketika kita mengerjakan aktivitas yang diminati, kita biasanya senang. Saya senang main basket, Anda senang main basket. Tapi bukan berarti kita berbakat basket seperti Michael Jordan.

Banyak anak Indonesia yang ‘merasa’ berbakat jadi pemain bola. Padahal alat ukur bakat bukan ‘perasaan’. Perasaan hanya alat ukur minat. 

Bakat berhubungan erat dengan hasil. Anak yang berbakat basket, ketika diajari basket maka hasilnya akan signifikan. Anak yang berbakat matematika, ketika diajari matematika maka kemajuannya akan pesat. Untuk menilai seorang anak berbakat atau tidak dalam satu bidang, kita perlu penilaian dari seorang ahli dalam bidang itu.

POTENSI UNGGUL: Banyak anak zaman sekarang yang memilliki bakat/potensi lebih dari satu. Seorang anak bisa jago melukis, cemerlang bermain piano dan pandai matematika sekaligus. Potensi unggul adalah potensi yang terbaik di antara semua potensi yang ia miliki.

Potensi unggul inilah yang harus Ayah Bunda temukan dalam diri setiap anak. Dan dalam buku ini, saya akan memperkenalkan dan membahas satu cara mudah untuk mengungkapnya, yaitu dengan Pemetaan Potensi Unggul. 

Nah tertarik untuk belajar MEMETAKAN POTENSI UNGGUL ANAK KITA....?

PILIH CARA YANG PALING COCOK UNTUK KITA BERIKUT INI:

1. Membaca buku ayah Edy yang berjudul MEMETAKAN POTENSI UNGGUL ANAK SEJAK DINI, bukuunya bisa di baca di Gramedia atau bisa di pesan on line via:  https://web.facebook.com/permalink.php?story_fbid=2017756441829290&id=1538959983042274

2. Jika anak kita berusia TK dan SD, bisa mengikuti program Observasi Anak Liburan Sekolah tanggal 18-30 Desember bisa mengghubungi atau WA nomer berikut ini: 0856-9497-5174 / 0856-1997-244 Office telp: 0362 -330-1705 pada jam kerja (Senin-Jum'at).

3.  Jika anak kita berusia SMP 3 ke atas bisa mengikuti workshop Belajar Memetakan Potensi Anak Sejak Dini (angkatan ke-2 tanggal 17 Desember 2017 di Denpasar)
Bisa WA dan menghubungi nomer ini:  Phone: +6285243415508 / +6281999483941
Email: agps.found@gmail.com

Posting by Ayah Edy Management

sumber gambar:
https://9gag.com/gag/4509912/fruit-bearing-trees-is-more-fun-in-the-philippine



KISAH MAS AUDY


Awal pertama kali aku melakukan pemetaan potensi emas anak

Suatu ketika ada seorang ibu membawa puteranya yang kira-kira usia SMP kelas 3 untuk bertemu dengan saya.

Katanya ingin berkonsultasi tentang perilaku anaknya yg bermasalah.

Masalahnya katanya lumayan berat, ia diduga Autis Ringan, Nilainya selalu dibawah rata-rata bahkan cenderun do re mi. 

Dan sering sekali "berantem" disekolahnya.    Padahal ia bersekolah di sekolah swasta yang cukup tinggi biayanya.

Ketika datang, dan saya sambut di depan Sekolah kami,  Tiba-tiba saja si Anak ini marah-marah dan tunjuk-tunjuk wajah saya, sambil berteriak 

"Mama siapa lagi orang ini !!"  "Mau apa kita kesini?", 

"Mama jahat, selalu ajak saya ke orang-orang seperti ini !!!"

Kira-kira itu kalimat yang bisa saya ingat yang keluar dari teriakan si anak tadi.

Sepertinya anak ini benci sekali melihat saya dan sayapun tidak tahu apa salah saya.

Namun marah dan kebencian itu tidak saya balas dengan kebencian, melainkan dengan suara lembut.......

Siapa nama Mas...? tanya saya,  dia tidak menjawab, dan masih memandang saya dengan penuh kebencian.

"Baik lah kata saya,  jika memang tidak ingin berkenalan, tidak apa, jika tidak ingin bertemu Ayah juga tidak apa, silahkan Mas dan Papa tunggu diluar dulu, Ayah mau bicara-bicara sama mama di dalam ya...."

Saya balas kemarahan dan kebenciannya pada saya dengan mengirimkan perasaan kasih sayang padanya.

lalu Saya mohon izin padanya untuk mengajak Mamanya masuk ke ruangan saya.

Akhirnya Bundanya masuk ke ruang sekolah kami, dan bundanya mulai lebih dahulu membuka pembicaraan.

Beliau mohon maaf atas perilaku kasar anaknya.

Mengapa ini terjadi, karena ibunya ternyata sudah membawa sebut saja "Mas Dodi" anaknya ke lebih dari 10 terapis tumbuh kembang anak. 

Dan anjuran terapis terakhirnya adalah untuk mengirim anaknya bersekolah di Sekolah ABK.

Dan rekomendasi ini benar2 membuat anaknya marah besar pada ibunya dan pada setiap orang yang disebut sebagai Terapis.

Setelah orang tuanya puas bercerita, lalu kami jelaskan duduk permasalahannya, bahwa hasil pengamatan kami anak ibu "Mas Dodi" bukan autis melainkan Lebih Dominan Otak kanannya.

Mengapa ia dianggap bermasalah disekolah, karena sekolah kita menggunakan pedekatan dan sistem ujian berbasis Dominan Otak Kiri.

Sehingga anak yang dominan otak kanan cenderung tidak bisa mengikuti dan dianggap bermasalah.

Ketika si anak terus dianggap bermasalah, maka jadilah ia benar-benar bermasalah dan terus membuat masalah di sekolah dan di rumahnya.

Lama sekali kami bicara dan memberikan masukan cara mengelola anak otak kanan,  dan saya ingat kala itu ibunya mengatakan, mulai hari ini saya bertobat, mencubiti anak saya, bertobat memarahi dan menghukumnya.

Dan saya akan segera pindahkan sekolahnya sesuai saran Ayah Edy.

Ayah bunda yang berbahagia,

Rupanya anak ini "nguping" curi dengar pembicaraan kami dari sela-sela jendela....

Dan percaya atau tidak, wajahnya yang semula Ketus dan penuh kebencian pada saya, tiba2 saja berubah menjadi ramah. 

Dan bahkan meminta izin masuk untuk ikut berdialog bersama kami bertiga.

Sampai pulang anak ini telah berubah menjadi anak yang ramah dan ibunyapun telah berubah menjadi ibu yang paham dan tidak lagi marah dan membenci puteranya.

Selang 3 bulan berjalan sejak pertemuan, rupanya semua nasihat kami dilakukan sepenuh jiwa raga oleh orang tuanya, dan anaknyapun sudah dipindahkan sekolahnya ke tempat yang baru yang lebih memahami anak.

Puncak dari semua kisah ini adalah....,  anak yang dulu nilainya Do Re Mi (1, 2 dan 3) kini telah berhasil mencapai nilai 7, 8 dan 9 diberbagai mata pelajaran.

============================
Dan yang membuat saya menitikkan air mata adalah ketika Ibunya bercerita bahwa pasca pertemuan dengan kami, anaknya bercita-cita untuk menjadi seorang Dokter,  yang akan membantu anak-anak Indonesia yang dinyatakan bermasalah seperti dirinya.
----------------------------------------------------------

8 tahun lebih sudah berlalu........, dan kami dengar-dengan anak yang dinyatakan Autis Ringan dan Bermasalah itu katanya masuk Fakultas Kedokteran....

Ya.... Tuhan....,   saya bukanlah orang tuanya, tapi rasa bahagianya seperti tidak bisa terukur dengan apapun mendengar berita ini.

Ya Tuhan saya jadi semakin yakin bahwa anak-anak bermasalah itu lebih butuh kasih sayang dan bukan hukuman.

Anak-anak bermasalah itu lebih banyak bersumber dari orang tua dan lingkungan dan bukan dari dirinya.

Semoga kisah lama "true story" ini bisa memberikan pelajaran bagi kita semua para orang tua Indonesia.

Bahwa marah, kebencian dan hukuman tidak akan pernah membuat anak atau seseorang menjadi lebih baik.

Tolong bantu di share ya ayah bunda, mudah-mudahan bisa berguna bagi yang lainnya.

Salam syukur penuh berkah,
Ayah edy
Guru Parenting Indonesia
www.ayahkita.blogspot.co.id


ANAKKU HAMPIR TIDAK PERNAH BERTENGKAR SAMA SEKALI


Tadi pagi kami kedatangan tamu dari teman2 media yang ingin shooting keluarga kami dalam rangka Hari Ayah katanya....

Isinya obrolan dan sedikit wawancara saya dan anak-anak...

Ada satu yang menarik, anak saya Dimas di wawancara,  ada satu pertanyaan yang menggelitik, Dimas ditanya apakah suka berantem sama ayah.... kalo berantem biasanya masalah apa...?

Dimas anak saya diam, mikir dan tidak menjawab, kelihatannya dia agak bingung...?

Ditanya berulang-ulang dengan pertanyaan yang sama Dimas tetap saja diam dan makin kebingungan....

(rupanya mungkin si Mba pikir Dimas takut bicara karena ada saya dan takut dimarahi kalu bilang pernah berantem dengan ayahnya, karena ini didepan kamera dan akan disiarkan di media)

Lalu kami jelaskan bahwa kami tidak pernah berantem sama anak, bahkan Dimas dengan kakaknya saja dia hampir sama sekali tidak pernah berantem.. mereka akur setiap hari.

Jadi jika Dimas ditanya berantem dia gak tahu harus jawab apa, lha wong berantem saja sepertinya tidak pernah, kami alhamdullilah rukun dan akur-akur saja.  Kalau ada masalah ya kita bicara dan dialog gak pernah sampai berantem/bertengkar....

Ah... rupanya si mba penanya agak kurang familiar dan belum terbiasa dengan konsep keluarga yang tidak lagi ada "berantem atau pertengkaran" antara orang tua dan anak atau antara anak dengan anak (adik kakak).

Setelah usai acara liputan tsb, saya dengan Istri saya senyum-senyum sendiri, mengetahui bahwa ada orang yang merasa aneh dan gak percaya, jika di rumah kami tidak lagi ada pertengkaran antara orang tua dan anak.

Semoga kami bisa tetap istiqomah mewarikskan pola didik yang damai dan berdialog dalam keluarga kami, agar kelak ketika anak-anak kami jadi orang tua mereka juga bisa melakukan hal yang sama di keluarganya.

Salam syukur penuh berkah.
ayah Edy

ANAK PINTAR BERKARAKTER


SEJARAH MENCATAT.....

Pendidikan Akhlak dan Etika Moral lah yang menghasilkan Para Ilmuan dan bukan sebaliknya.....

Itulah mengapa sekolah kami di Bali menetapkan kebijakan, tidak mengajarkan pelajaran apapun sebelum ahlaknya dan etikanya baik.

Sahabatku, bacalah kisah sejarah ini sebagai pelajaran bagi kita semua.

SEORANG FILUSUF ETIKA MORAL YANG MELAHIRKAN PARA ILMUAN..?

Kok bisa ?

Melanjutkan dari ulasan kami mengenai ucapan para guru di Australia mengenai Budaya Mengantri jauh lebih penting dari pelajaran Sains bagi murid2nya.

Saya ingin berbagi sedikit mengenai pengalaman kami dalam membaca berbagai buku yang menurut kami baik dan berguna.

Terlepas kita nanti akan setuju, sepaham atau sama sekali tidak setuju itu adalah masalah pilihan kita masing-masing, tapi alangkah indahnya jika kita membuka diri terlebih dahulu dan membaca uraian ini;

Terimakasih untuk kesedianya.

Saya yakin bukanlah sebuah kebetulan bahwa saat ini anda membaca artikel ini, saya yakin ada tangan Tuhan yang telah menuntun jari jemari kita untuk bisa sampai disini. Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini.

Keluarga Indonesia yang berbahagia,

Saya selalu tertarik membaca sejarah bagaimana Ilmuan2 besar dari Barat dan Timur di lahirkan.

Apakah mereka mendapatkan pelatihan khusus tentang ilmu sains sejak kecil atau dengan cara apa mereka bisa seperti ini.

Dibarat kita bisa melihat bahwa Seorang Socrates yang di juluki Bapaknya Para Filusuf Barat melahirkan Pemikir Besar yang bernama PLato dan Bagaimana seorang Plato bisa melahirkan Aristoteles yang mendapat julukan Bapaknya Ilmu Pengetahuan ( The Father of Sciences).

Saya juga kagum bangaimana dunia Islam bisa melahirkan ilmuan terkenal seperti Ibnu Abdul Jabbar, Ibnu Sina, Ibnu Al Qindi pada zamannya.

Sebelum membaca sejarah saya berpikir bahwa mungkin Tokoh tokoh ilmuan besar ini dulu sejak kecil di didik untuk sebanyak belajar ilmu Sains hingga akhrinya mereka berhasil menjadi para Scientist Hebat yang Mendunia.

Pemikiran inilah yang mungkin banyak diyakini orang saat ini;

itulah sebabnya mengapa orang begitu berlomba2 menekan anaknya untuk belajar sebanyak2nya tentang Ilmu Science.

Meskipun sering kali bukan membuahkan hasil yang di inginkan melainkan hanya membuat stress anaknya dan akhirnya malah mogok sekolah atau lebih buruk lagi mengalami penyimpangan prilaku remaja.

Setelah saya mempelajari sejarah, ternyata justru yang terjadi malah kebalikannya; Socrates pada zamannya mendapat julukan sebagai Filusuf Etika Moral dan bukan Filusuf Sains.

dan ternyata yang di ajarkan terlebih dahulu pada muridnya Plato adalah filsafat Etika Moral dan bukan ilmu Sains...

dan Plato selalu di ajarkan tentang apa maksud baik Tuhan menciptakan alam semesta ini berikut kita sebagai manusia.

Melalui hal tersebut maka terbukalah pertanyaan2 alam semesta yang pada akhirnya menjadikan Plato sebagai pemikir besar alam semesta pada zamannya.

Cara yang sama inilah yang di kembangkan oleh Plato pada muridnya yang bernama Aristoteles, mengajarkan Filsafat Etika Moral untuk membongkar rahasia alam semesta;

dan cara ini juga yang telah menjadikan Aristoteles mendapatkan Gelar Bapaknya Ilmu Pengetahuan Barat.

Nah... jadi semakin menarik bukan...,

Lalu bagaimana dengan Tokoh2 seperti Ibnu Al Qindy ?

Beliau sama juga seperti Ibnu Sina dan Ibnu Abdul Jabbar, beliau terlebih dulu membedah Al Qur'an sebagai pijakan Akhlak dan Moral untuk menuntun beliau membedah rahasia Alam Semesta Raya juga Rahasia Alam Semesta kecil yang ada dalam tubuh manusia. Hingga menjadikan beliau Tokoh Ilmuan Kedokteran, Matematika dan Ilmu Falaq yang di segani dunia pada zamannya.

Sejak saat itulah akhirnya saya menyadari bahwa dasar dari semua ilmu dan rahasia alam semesta ini adalah Akhlak dan Etika Moral yang kita bisa pelajari dan kembangkan melalui ajaran agama atau kitab suci kita masing-masing.

Ah sayangnya mungkin tidak banyak diantara kita yang membaca sejarah ini, dan mengambil pelajaran berharga didalamnya.

Kebanyakan kita, termasuk saya juga berpikir bahwa jika ingin anak kita menjadi orang hebat maka ajarilah sebanyak2nya ilmu sains sejak dini.

Ya Tuhan ternyata selama ini saya salah menduga, dan Alhamdullilah Engkau telah menunjukkan jalan kesadaran bagiku.

Semoga ini bisa memberikan pelajaran bagi kita semua, jika pun tidak, kami tetap bersyukur bahwa setidaknya saya sebagai orang tua dari anak-anak saya telah di ijinkan oleh Tuhan untuk mengetahui sejarah pendidikan orang-orang hebat pada zamannya.

Mari kita renungkan bersama.

ayah edy
guru parenting Indonesia
www.ayahkita.com

BERHENTI MARAH DAN MEMBENCI


PIKIRAN NEGATIF, DENDAM DAN KEBENCIAN TERNYATA TIDAK BAIK BAGI KESEHATAN KITA

1st
MARAH selama 5 menit akan menyebabkan sistem imun tubuh kita mengalami depresi selama 6 jam.

2nd
DENDAM & MENYIMPAN KEPAHITAN akan menyebabkan imun tubuh kita mati..

Dari situlah bermula segala penyakit, seperti STRESS, KOLESTEROL, HIPERTENSI, SERANGAN JANTUNG, RHEMATIK, ARTHRITIS, STROKE (perdarahan/penyumbatan pembuluh darah).

3rd
Jika kita sering membiarkan diri kita STRESS, maka kita sering mengalami GANGGUAN PENCERNAAN.

4th
Jika kita sering merasa KHAWATIR, maka kita mudah terkena penyakit NYERI PUNGGUNG.

5th
Jika kita MUDAH TERSINGGUNG, maka kita akan cenderung terkena penyakit INSOMNIA (susah tidur).

6th
Jika kita sering mengalami KEBINGUNGAN, maka kita akan terkena GANGGUAN TULANG BELAKANG BAGIAN BAWAH.

7th
Jika kita sering membiarkan diri kita merasa TAKUT yang BERLEBIHAN, maka kita akan mudah terkena penyakit GINJAL.

8th
Jika kita suka ber-NEGATIVE THINKING, maka kita akan mudah terkena DYSPEPSIA (penyakit sulit mencerna).

9th
Jika kita mudah EMOSI & cenderung PEMARAH, maka kita bisa rentan terhadap penyakit HEPATITIS.

10th
Jika kita sering merasa APATIS (tidak pernah peduli) terhadap lingkungan, maka kita akan berpotensi mengalami PENURUNAN KEKEBALAN TUBUH.

11th
Jika kita sering MENGANGGAP SEPELE  orang lain, maka hal ini bisa mengakibatkan penyakit DIABETES.

12th
Jika kita sering merasa KESEPIAN, maka kita bisa terkena penyakit DEMENSIA SENELIS (berkurangnya memori dan kontrol fungsi tubuh).

13th
Jika kita sering BERSEDIH dan merasa selalu RENDAH DIRI, maka kita bisa terkena penyakit LEUKEMIA (kanker darah putih).

****

Mari kita selalu BERSYUKUR atas segala perkara yang telah terjadi karena dengαn bersyukur, maka HATI ini menjadi BERGEMBIRA dan menimbulkan ENERGI POSITIF dalam tubuh untuk mengusir segala penyakit tersebut dΐ atas


PAK GEDE PRAMA DAN KELUARGA


Pak Gede pernah bertutur

Saya banyak berjumpa dengan orang-orang yang ketika muda waktunya di habiskan hanya untuk cari uang dan harta hingga lupa waktu, lupa diri dan keluarga.

Dan ketika mereka sudah tua, uangnya dihabiskan hanya untuk mencari terapis bagi anak-anak mereka dan kesehatan mereka yang bermasalah.

Sadarilah bahwa hidup ini bukan semata hanya untuk mengumpulkan uang dan harta, melainkan untuk mengumpulkan kenangan  demi membangun kebahagiaan kita bersama keluarga.

-Gede Prama-
Guru Compassion

Sahabatku,

Sudahkah kita bermain bersama dengan anak kita malam ini ?

Sudahkah kita membacakan dongeng pengantar tidur anak kita malam ini?

Sudahkah kita kecup kening anak kita yang telah tertidur lelap saat kita pulang?

Ayo lakukanlah sesuatu saat ini juga untuk membangun kebahagian bersama keluarga, karena waktu kita tidak akan pernah bisa kita putar ulang kembali, sesal kemudian tiada berguna.

Salam syukur penuh berkah,
ayah edy
Guru Parenting Indonesia
www.ayahkita.com

Minggu, 03 Desember 2017

JANGAN SAMPAI SALAH PILIH GURU AGAMA

BELAJARLAH DARI AHLINYA JIKA TIDAK TUNGGULAH KEHANCURANNYA

Sahabatku tercinta,

Saya percaya bahwa Islam itu indah, teduh, damai, penuh kasih sayang dan Rahmatan Lil alamin atau membawa berkah bagi alam semesta  atau Blessing for All Universes.......

Tentu saja asalkan kita mau belajar dari orang-orang dan para guru agama Islam yang benar-benar memahami esensi dari keindahan Ajaran Islam.

Dan saya yakin jika tidak teduh, damai, indah dan tidak membawa berkah bagi semua orang dan seluruh alam kemungkinan itu bukanlah Islam yang sesungguhnya.

Itulah mengapa saya selalu memilih pada siapa saya belajar agama dan memahami ajaran Islam.

Inilah salah seorang guru yang kami maksudkan tersebut, tempat kita bs belajar tentang keindahan ajaran Islam

================================

Suatu ketika terjadi dialog antara Seorang Guru Agama dengan muridnya;

"Yang disebut agama itu sebenarnya apa, Kiai?" Tanya seorang santri kepada KH Ahmad Dahlan.

KH Ahmad Dahlan justru mengambil Biola dan memainkan tembang/lagu "Asmaradhana” hingga membuat para santrinya terbuai.

Lalu beliau bertanya, "Apa yg kalian rasakan setelah mendengar alunan musik tadi?"

"Aku rasakan keindahan, Kiai," jawab salah satu muridnya..

"Seperti mimpi rasanya" sambung Sangidu." Semua persoalan seperti mendadak hilang.

Tentram" tambah Jazuli, santri lainnya.

"Damai sekali" tukas Hisman, ucap salah santri yang berada disana..

"Nah, itulah agama" Jawab KH Ahmad Dahlan.

"Orang beragama adalah orang yg merasakan keindahan, rasa tenteram, damai karena hakikat agama itu sendiri seperti musik. Mengayomi dan menyelimuti."

Setelah itu salah seorang santri (Hisman) mencoba biola tersebut, dan menghasilkan suara “menderit” dan memekakkan telinga membuat semua orang merasa tidak nyaman dan sakit mendengarnya.

"Wah, suaranya berantakan ya kiai..?" tanya Hisman sambil tersipu malu...

"Nah, begitu juga agama. Jika Kita tak mempelajarinya dgn baik, maka agama hanya akan membuat diri sendiri dan lingkungan terganggu" jawab beliau.

"Oooo begitu….

"Jadi utk bisa beragama dgn Baik itu, kita tidak boleh ikut2-an saja, tapi harus mengerti ilmunya juga."

"Seperti tadi, hanya karena melihat Kiai bermain biola, jgn langsung berpikir bahwa kita juga pasti bisa main biola." tambah Jazuli..

"Kesimpulan yg bagus" jawab beliau..

"Ada kesimpulan lain?"

"Dalam beragama, kita tdk bisa hanya mengandalkan keinginan, hanya karena merasa bahwa keinginan itu baik dan benar menurut kita. Misalnya, tadi saya merasa punya keinginan baik utk bermain biola, tapi ternyata keinginan saya malah mengganggu saya dan orang lain" ulas Hisman.

"Kesimpulan yg jeli! Terima kasih." Puji beliau.

Semoga dgn menjalani agama yg kita imani, kita mampu menghormati orang lain dan membawa kedamaian dalam hidup bersama.

MARI BELAJAR DARI PARA GURU AGAMA YANG MENGAJARKAN KETEDUHAN, KEINDAHAN DAN KEDAMAIAN DI HATI.

Dan segera bagiknalah artikel ini pada siapapun, semoga ada lebih banyak orang yang tercerahkan dan hidup kita menjadi lebih rukun, harmonis dan damai.

a share original story from pak Pindo Bintoro Mn dari Kisah Butir-butir Mutiara dari Sang Pencerah.

PENTINGNYA BELAJAR PARENTING


APA SIH PENTINGNYA BELAJAR PARENTING ?

PARENTING MAMPU MEMUTUS MATA RANTAI KESALAHAN MEDIDIK YG SUDAH DILAKUKAN TURUN-TEMURUN
DARI GENERASI KE GENERASI

sahabat tercinta,

Hampir setiap minggu saya memberikan program Parenting dari kota ke kota; yakni sebuah program yang bertujuan untuk melatih para orang tua agar bisa memahami dan mendidik anaknya dengan cara yang lebih tepat sehingga kelak ia akan menjadi orang tua yang dicintai oleh anaknya; dan anaknyapun akan sukses mencapai potensi terbaik yang dimilikinya.

Dalam program parenting biasanya saya selalu manyampaikan bahwa dengan cara kita mendidik; maka kita bebas untuk menentukan apakah kita akan menjadi orang tua yang ditakuti atau menjadi orang tua yang dicintai oleh anak kita. 

Secara pribadi saya katakan jika saya menjadi anak; tentunya saya mendambakan sebuah cara mendidik yang membuat saya mencintai dan hormat pada kedua orang tua saya dan bukan karena segan apa lagi takut pada orang tua sendiri.

Suatu ketika kami menyelenggarakan sebuah acara anak dalam bentuk outbound yang mewajibkan orang tuanya mengikuti program parenting bersama kami, karena ternyata dari hasil observasi kami pada anak-anak kami mendapatkan banyak sekali data dan fakta anak-anak yang "perilakunya bermasalah" itu setelah kami telusuri berasal dari cara mendidik orang tuanya yang tidak depat dan keliru.

Namun pada parenting program kali ini rupanya saya beruntung sekali mememiliki peserta yang luar biasa kritis dan berani berkata jujur; sehingga ditengah-tengah penyampaian materi saya, tiba-tiba salah seorang peserta menyela dengan sebuah komentar..

Begini katanya.....

Ayah Edy... Maaf ya.... menurut saya program ini  sepertinya perlu gak perlu...,  Jujur saja, orang tua saya dulu tidak pernah ikut parenting program semacam ini tapi kok ya saya juga jadi orang gitu lho..,  lalu anda sendiri bagaimana apakah orang tua anda dulu juga ikut program parenting gitu lho.....?

Wah rupanya peserta saya ini selain kritis, berani, jujur dia juga ternyata cukup gaul gitu lho....!

Ya....saya katakan bahwa saya bahagia sekali dengan adanya pernyataan spontan semacam ini yang disampaikan secara terbuka didepan umum; karena selama ini sesungguhnya saya khawatir dan sudah menduga pasti ada orang tua yang berpikiran semacam ini; dan sungguh akan sangat disayangkan jika orang tersebut ternyata tidak mau menyampaikan secara terbuka, melainkan hanya disimpan di dalam hati;  maka ini tentunya akan menjadi faktor penghambat terbesar bagi usahanya untuk menjadi orang tua yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Ya.... saya katakan, saya jadi teringat bahwa salah seorang praktisi pendidikan anak pernah mengatakan;  bahwa kesalahan terbesar kita para orang tua dalam mendidik anak adalah dengan selalu melihat kebelakang dan bukannya melihat kedepan.  Oleh karenanya seperti orang yang berjalan; jika kita melihatnya selalu kebelakang maka anda bisa prakirakan apa akibatnya...

Menurutnya lagi; ada 2 kemungkinan besar mengapa meskipun waktu itu orang tua kita tidak mengikuti program parenting; namun anaknya tetap bisa mencapai sukses;

1. Naluri yang tepat dari orang tua

Setiap orang tua memiliki Naluri mendidik anak masing-masing; yang pada umumnya sebagian besar caranya diwarisi secara turun-temurun dari orang tuanya, yang selanjutnya akan berkombinasi dengan tipologi kepribadiannya sendiri dan lingkungan sekitar yang membentuknya. 

Untuk orang tua yang mewarisi tradisi mendidik yang baik dari orang tuanya;  ditambah dengan pola kepribadian yang seimbang  serta lingkungan yang baik pula; maka akan melahirkan pola mendidik yang baik pada anaknya. 

Namun faktanya tidak semua orang tua memiliki kepribadian yang seimbang; dan tidak semua orang mewarisi cara mendidik yang baik dari orang tuanya;  itu artinya tidak semua orang tua memiliki naluri mendidik yang tepat jika hanya mengandalkan pengalaman masalalunya.

Seorang peniliti prilaku pernah melakukan penelitian terhadap beberapa pemimpin yang otoriter dan tiran seperti Hitler dan Pol pot di Vietnam;

Ia menemukan bahwa prilaku para pemimpin tiran itu ternyata adalah warisan turun-temurun dari pola didik keluarganya; artinya adalah bahwa cara mendidik yang salahpun ternyata akan berlangsung secara turun-temurun dari generasi ke generasi kecuali apa bila ada satu generasi yang mau berusaha untuk mengakhirinya. 

Dan bagaimana mengakhirinya itulah mengapa program parenting diselenggarakan.

2. Kondisi Lingkungan sekarang yang sangat jauh berbeda dengan jaman kita kecil dahulu Seorang ahli pendidik mengatakan bahwa orang tua berperan 70% dalam proses membentuk pola prilaku anak; akan tetapi apa bila orang tua tidak melakukan perannya dengan baik maka lingkunganlah yang mengambil peran 70% tadi.

Jadi betapa beratnya tantangan orang tua saat ini yang harus berjuang berebut peran dengan lingkungannya.

Tentu saja dalam hal ini saya yakin kita sepakat bahwa Kondisi Lingkungan saat ini sangat jauh sekali perbedaanya dengan kondisi lingkungan 30 tahun yang lalu dimana sebagian besar para orang tua dibesarkan.

Mari kita perhatikan perbedaannya; bagaimana kita melihat sejarah bahwa kondisi lingkungan jaman Kartini dibesarkan sangat jauh berbeda dengan jaman orang tua kita dibesarkan; begitu juga kondisi lingkungan jaman kita dulu kita dibesarkan sangatlah berbeda dengan lingkungan jaman anak-anak kita kini saat ini.

Sementara menurut penelitian bahwa lingkungan merupakan faktor pembentuk terbesar ketiga terhadap pola prilaku anak setelah Orang tua dan Guru.  Dan Lingkungan akan menjadi faktor pembentuk prilaku pertama mana kala orang tua dan guru tidak lagi berperan secara efektif.

Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan pergeseran yang terjadi antara generasi kita dan generasi anak kita;

Zaman kita dulu dibesarkan;  ya... masih ingat, ada berapa stasion TV yang ada pada saat itu..?  kemudian dari Stasion yang ada kala itu program-program seperti apa yang banyak ditayangkan dan dicontoh oleh kita jaman itu. 

Bandingkan dengan jaman anak kita dibesarkan; ada berapa station TV yang ada saat ini...?; kemudian dari sekian banyak stasion yang ada;  program-program macam apakah yang banyak ditayangkan dan dicontoh oleh anak-anak kita jaman ini melalui tayangan televisi kita ?

Mari kita perhatikan lagi fakta berikut ini.......,

Penyalahgunaan obat terlarang jaman kita dulu dibesarkan; baru merambah tingkatan perguruan tinggi dan remaja dengan usia rata-rata 25 tahun keatas.  Namun saat ini penyalahgunaan obat-obat terlarang tersebut sudah merambah ke tingkat anak-anak usia sekolah dasar dan sudah berhasil menembus masuk kedalam sekolah pula.

Lalu perhatikan lagi saat ini betapa mudahnya anak kita membeli surat kabar dengan berita kekerasan dengan harga yang sangat murah; Betapa Video-video porno bebas beredar tempat-tempat orang berkumpul menunggu angkutan umum dan harganya terjangkau pula oleh uang jajan anak-anak kita....

Wahai para orang tua yang berbahagia......

mari sama-sama kita renungkan.... apakah kita para orang tua dan guru masih mengambil peran utama dalam membentuk prilaku anak-anak kita saat ini.  Ataukah justru peran utama itu secara tidak sadar ternyata sudah diambil alih oleh Kondisi Lingkungan......

Saya jadi teringat akan sebuah pesan yang di sampaikan oleh Seorang Bijak dari negeri timur tengah....begini kira-kira isinya.....:

"Didiklah anakmu sesuai zamannya, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan kita."

Sungguh Luar Biasa; bahwa hal ini telah dicetuskan lebih dari 1300 tahun yang lalu, jauh sebelum para pendidik besar jaman ini memperjelas apa maksud mulia yang terkandung didalamnya.

Wahai para orang tua yang berbahagia, 

Kini semuanya terpulang pada kita apakah kita ingin tetap mendidik anak-anak kita dengan berpegang pada kesuksesan masa lalu kita atau kita akan mendidiknya berdasarkan pandangan yang jauh kedepan bagi masa depannya.

Apakah ingin menjadi orang tua yang dihormati dan dicintai atau ingin menjadi orang tua yang ditakuti.

Sampai jumpa kembali diprogram parenting kita berikutnya......

Tulisan ini sy tulis kira2 7 tahun yang lalu, dan sy share kembali hari ini.

Salam syukur penuh berkah,
ayah edy
guru Parenting Indonesia
www.ayahkita.com