SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Selasa, 26 Juli 2016

WASPADA DAMPAK NEGATIF GAME POKEMON GO BAGI ANAK KITA



*Di Tengah banyaknya Sinyalemen bahwa keranjingan pokemon go sudah membahayakan*, antara lain karena nilai2 Jepang yg dibawa belum tentu cocok dgn nilai lokal, maka perlu juga diteliti asal usul tokoh kucing Pokemon ini. 



Dan berikut Ini hasil penelitian dari salah satu lembaga Riset terpercaya :

Pokemon itu adalah kucing keturunan generasi ke 3 dari kucing Jepang yang bernama Doraemon.
dan ternyata DORAEMON itu adalah kucing yang berasal dari Indonesia tepatnya dari tanah Jawa, nama aslinya DORA-EMAN, yg artinya TIDAK ADA yg SAYANG....., itulah mengapa pada akhirnya dia dibawa ke Jepang

Sebenarnya kucing DORA-EMAN itu sampai saat ini masih punya banyak saudara di Jawa yang namanya sesuai dengan karakternya masing-masing.

●☞ Yang bodoh namanya DORAMUDENG.
●☞ Yang minggat/kabur namanya DORABALI.
●☞ Yang suka keluyuran namanya DORAMULIH.
●☞ Yang suka begadang namanya DORATURU.
●☞ Yang suka ngawur namanya DORANGGENAH.
●☞ Yang pikun namanya DORAELING.
●☞ Yang suka gatal2 badan namanya DORAADUS.
●☞ Yang suka omong namanya DORAMENENG.
●☞ Yang sukanya berantem namanya DORAAKUR.
●☞ Yang kurus namanya DORAMANGAN.
●☞ Yang macet-macetan MUDIK namanya DORAKAPOK. _persis sampèyan 😛_
●☞ Yang susah makan DORALUWE.

Yg mau nya pulsa gratisan DORAMBAYAR
Yang sering off line kehabisan pulsa namanya DORAONLINE
Yang sering pasang-pasang status foto selfi di fb namanya DORAEKSIS

●☞ Yang baca TULISAN ini sambil senyum~senyum sendiri namanya DORAWARAS.
●☞ Yang nggak pada ketawa namanya DORANGERTI.

Note: Yang suka bikin status-status kayak gini namanya DORADUWEGAWEAN

Mari kita berikan senyum kita yang terindah untuk keluarga tercinta.

Sebuah kisah kehidupan yang perlu dipahami setiap pria.



MENGAPA PRIA INI LEBIH MEMENTINGKAN IBUNYA DARI PADA ISTRINYA..?

Mungkin ada pembaca yang tersentuh oleh cerita ini kami bersyukur, tapi mungkin juga malah ada yang tersinggung, kami mohon maaf sebelumnya.

Suatu hari di arena Java Jazz, ada seorang pria yang kehilangan ISTRI-nya karena terpisah keramaian para penonton.

Pria tersebut tanpa sengaja bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang menangis sendirian karena terpisah juga dari IBU-nya.

Akhirnya mereka sepakat untuk sama-sama mencari...

Si Pria itu bertanya:
"Ayahmu ga ikut?"

Si Anak itu menjawab dengan nada sedih:
"Ayah sudah gak ada oom.."

Si Pria kembali bertanya sembari kasihan:
''Ibumu ciri-cirinya seperti apa, Nak?''

Si Anak menjawab:
''Ibu saya tinggi
Badannya langsing,
Kulitnya putih bersih,
Pakai celana jeans,
Wajahnya cantik mirip Dian Santro
Bentuk tubuhnya kira-kira mirip Julia Perez
Dan pakai sepatu hak seperti Syahrini.
Orangnya baik, ramah dan mudah bergaul om".

Si Anak balik bertanya:
''Kalau istri om sendiri ciri-cirinya seperti apa?''

Si Pria menjawab:
''ah, sudahlah nak,  IBUMU jauh lebih penting dari ISTRI oom,  ayo kita cari ibumu dulu saja ya....!"

 
Healaaahhhhh serius amat sih bacanya..... kan sudah akhir pekan..?
....... \󾠏_🍼   
.... .   ))            
.............  ,>\_    !!!!!! 
Selamat berakhir pekan ya..temans … ƧΘßβ 󾁋

Share story from pria bernama Iwan Setiawan.

JANGAN-JANGAN ANAK BUNDA MENGALAMI TEKANAN KEJIWAAN DI SEKOLAH



Suatu hari ada orangtua yang bertanya tentang anaknya yang sulit sekali diajak pergi ke sekolah. Jika dipaksa, dia tidak mau turun dari mobil. Bahkan belakangan ini sering mengeluh kepalanya pusing, sakit perut, dan sebagainya.

“Apakah anak saya berbohong atau apa?” tanya ibu yang sedang kebingungan itu kepada saya. Kebetulan anaknya yang berusia 5 tahun itu diajak juga untuk bertemu dengan saya. Lalu saya jelaskan bahwa dalam kasus ini sepertinya si anak tidak berbohong, apalagi jika sebelumnya tidak pernah mengeluh seperti itu. Saya melihat ini cenderung pada gejala stres anak menghadapi sekolahnya atau dikenal juga sebagai gejala psikosomatis.

Setiap anak memiliki keunikan masing-masing sehingga guru dan sekolah harus bisa memfasilitasi masing-masing keunikan anak tersebut, agar mereka bisa berhasil dalam proses belajar.
Akhir catcher

Pada ibu ini, saya jelaskan bahwa dulu sistem pendidikan menganut prinsip bahwa setiap anak adalah sama dan seragam sehingga setiap anak harus bisa mengikuti keinginan gurunya. Namun, setelah dilakukan penelitian selama 30 tahun terhadap anak, ditemukan bahwa masing-masing anak itu unik, baik secara fisik, psikologis, maupun cara otaknya bekerja.

Oleh karena itu, sistem pendidikan modern telah mengubah prinsip dasar sistem pengajarannya. Bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing, maka guru dan sekolah harus bisa memfasilitasi masing-masing keunikan anak tersebut, agar mereka semua bisa berhasil dalam proses belajar. Ya, semua anak harus bisa berhasil.

Lalu, si ibu tadi menyanggah, “Padahal saya sudah sekolahkan dia di sekolah yang mahal lho.”

“Nah, itu masalahnya,” jawab saya lebih lanjut, “mahal tidak menjamin jalannya prinsip pendidikan yang sesuai dengan fitrah anak. Bahkan banyak juga yang di atas kertas sudah mencanangkan sistem pendidikan modern, tetapi di lapangan masih saja para gurunya menerapkan sistem dan cara belajar lama.

Nah, di sinilah kuncinya. Untuk mengetahui apakah sebuah sekolah bagus atau tidak, kita bisa perhatikan dari dua aspek.

Yang pertama adalah anak kita semakin kritis dan berani mengungkapkan pendapat dan yang kedua adalah perilakunya santun dan peduli.”

Biasanya sekolah yang baik akan membuat murid-murid betah bersekolah atau bahkan membuat mereka lebih senang bersekolah dibandingkan libur.

Setelah saya memberi penjelasan kepada ibunya, anaknya saya ajak bicara. Di luar dugaan dia berani menjawab dengan jelas sekali.




Saya awali pertanyaan seperti ini,
“Sayang, apa kamu suka bersekolah?” Dia diam tidak menjawab.
“Apakah kamu ada masalah di sekolah?” Dia mengangguk.
“Apakah kamu ada masalah yang membuat kamu sekarang tidak suka bersekolah?” Dia mengangguk lagi.
“Apakah masalahnya dengan teman atau guru?”
“Dengan guru.” Dia mulai menjawab.
“Apakah semua guru, beberapa guru, atau hanya satu guru?”
“Hanya satu.” Jawabnya.
“Boleh Ayah tahu namanya?”
“Ibu X.” Jawab anak itu lagi.

Lalu, saya menoleh ke ibunya, “Ibu dengar penjelasan langsung anak Ibu?”

Akhirnya, si ibu pun mengangguk, “Ya, Ayah. Mungkin anak saya benar. Karena sejak ganti guru dia menjadi berubah seperti ini. Lalu, saya harus bagaimana Ayah?”

“Sekolah yang baik adalah sekolah yang guru-gurunya menjadi favorit bagi murid-muridnya, jadi pertama, coba ajak pihak sekolah untuk bekerja sama.

Jelaskan hasil pembicaraan kita ini pada sekolah dan kita lihat responsnya. Jika masalah ini ditanggapi positif, kemudian ada usaha dan tindakan perbaikan maka itu sekolah yang peduli namanya.”

“Lalu, jika tidak ditanggapi dan tidak ada perbaikan bagaimana?”

“Ya, saya pikir Ibu bisa mengambil kesimpulan sendiri.

Menurut saya, saat ini sudah saatnya kita memilih sekolah yang peduli pada permasalahan tiap siswanya.

Karena kunci keberhasilan siswa adalah pada kepedulian pihak orangtua dan sekolah.

Pendidikan itu tidak akan berhasil tanpa kepedulian dari orangtua dan pihak sekolah.” Jelas saya panjang lebar.

Sebuah pengalaman dalam memberikan konseling pada seorang ibu yang anaknya mengalami Stress setiap kali mau berangkat kesekolah.

di tulis ulang oleh Ayah Edy, dari buku ayah edy punya cerita.

www.ayahkita.blogspot.com

Buku Harian Seorang Dokter Anak



KISAH BUKU HARIAN SEORANG DOKTER ANAK YANG TELAH MENGINSPIRASI SAYA UNTUK MENJADI SEORANG AYAH EDY

Para orangtua dan guru yang saya cintai di mana pun Anda berada,

Dialah Mel Levin, seorang dokter anak yang telah lebih dari 20 tahun mengabdikan dirinya untuk pendidikan anak.

Setiap hari dia selalu membuat catatan harian untuk permasalahan anak yang pernah dihadapi dan ditanganinya, yang isinya begitu menyentuh perasaan terdalam kita.

Mari kita simak tulisannya yang begitu menyentuh perasaan ini ...
Saya adalah seorang dokter anak yang terobsesi tidak hanya untuk membuat tubuh seorang anak sehat, tetapi juga membantunya mencapai sukses dalam mengarungi hidupnya.

 Selama beberapa tahun menghadapi berbagai macam situasi, saya menemukan banyak anak-anak yang merasa putus asa karena walaupun mereka bertekad untuk belajar dengan baik, tetap saja dianggap mengecewakan guru dan orangtuanya.

Saya menyimpulkan bahwa membantu anak-anak seperti ini juga menjadi bagian dari tanggung jawab seorang dokter anak.

Anak-anak yang tak mampu mengoperasikan pikiran mereka sesuai harapan, sangatlah menderita.

Sementara, orangtua mereka pun tentu dibuat sulit tidur memikirkan anaknya yang dikatakan tidak mampu belajar oleh sekolah. Guru sering merasa kesal dan kadang merasa putus asa melihat kemunduran muridnya tanpa bisa mengerti apa penyebabnya.




Sebagian anak harus membayar mahal fitrah berpikir yang mereka bawa sejak lahir. Bukan salah mereka jika memiliki otak yang sulit memahami perintah, seperti mengeja dengan benar, menulis dengan baik, membaca dengan cepat, mengerjakan secara sistematis, terutama dalam soal hitungan.

Padahal ketika mereka dewasa, sebagian besar banyak yang menjadi orang sukses, tetapi pada masa sekolah, mereka dievaluasi tanpa belas kasihan.

Setelah melihat betapa pedihnya kegagalan di usia dini itu, saya berkomitmen mencurahkan segenap perhatian untuk membantu anak-anak ini, orangtua, serta para gurunya.

Semuanya terjadi disebabkan ketidaktahuan kita tentang sistem kerja otak yang berbeda-beda yang dimiliki oleh masing-masing anak.




Sering kali dalam setiap perjalanan ke rumah, saya menangis jika mengingat cerita anak-anak yang menjalani proses sekolah sebagai suatu hal yang membuat mereka merasa tertekan dan terhina.

Banyak di antara mereka harus menerima label sebagai anak yang menderita kelainan tetap, yang sering disebut sebagai ADD atau LD.




Sementara itu, sebagian lainnya mau tidak mau dipaksa untuk menelan obat-obat penenang, agar mereka bisa lebih tenang.
Namun, ternyata siksaan itu belumlah cukup.

Banyak pelajar yang sungguh-sungguh tertekan dan mengalami depresi berat akibat masyarakat yang keranjingan melakukan berbagai tes, yang katanya untuk membuat masa depan mereka lebih baik. Namun, nyatanya malah lebih banyak membuat mereka menjadi anak yang gagal dan bermasalah.

Saya tidak ingin berdiam diri untuk membiarkan hal ini berlangsung terus pada anak kita, dari generasi ke generasi. Saya sungguh terpukul saat menerima surat dari seorang anak yang isinya seperti ini:

Dr. Levin, saya adalah anak tolol yang tidak pernah bisa melakukan segalanya dengan baik, Ibu Guru saya selalu berteriak-teriak kepada saya. Rasanya memang benar bahwa saya adalah anak yang paling tolol di kelas, mungkin saya memang dilahirkan demikian.






Sesungguhnya tak seorang anak pun boleh merasa seperti ini, saya tidak akan pernah membiarkan hal ini terjadi dan terjadi lagi kepada anak-anak di negeri ini.

Apalagi dengan seluruh hasil pengetahuan dan penelitian yang banyak saya ketahui, telah membuktikan bahwa ini semua bukan salah mereka. Ini semua adalah salah kita yang tidak bisa memahami dan menciptakan sistem pembelajaran yang sesuai dengan cara otak mereka bekerja.

Para orangtua dan guru yang berbahagia, mari kita renungkan tulisan yang begitu menyentuh perasaan ini. Tidakkah kita merasa bahwa selama ini telah banyak berbuat salah kepada anak-anak kita dan anak didik kita?

Tulisan Dokter Mel Levin, yang di salin ulang dalam buku Ayah Edy Punya Cerita.

Semoga bisa menjadi renungan bagi kita semua.

ayah edy
www.ayahkita.com

Pelajaran berharga dari seorang ayah



Aku menghabiskan satu jam lebih di sebuah bank dengan ayahku.

Beliau hendak mentransfer sejumlah uang. Aku tak bisa menahan diri untuk bertanya. “Kenapa tidak aktifkan saja internet banking?”

“Kenapa kita mesti melakukan itu?” Ayahku balik bertanya.

“Ya, supaya kita tidak perlu menghabiskan sejam hanya untuk transfer. Kita bahkan bisa belanja online, dan segala sesuatunya akan menjadi sangat mudah.” Aku begitu bersemangat memperkenalkannya pada dunia internet banking.

Ayahku lantas bertanya, “Jadi kita tidak harus keluar rumah?”

“Ya, ya betul,” kataku bersemangat.

Aku bercerita bahkan sayuran pun bisa dikirim sampai depan pintu. Dan bagaimana perusahaan besar seperti Amazon dan Alibaba mampu mengirim apapun yang kita inginkan dan kita pesan!

Jawaban orangtuaku membuat lidahku tercekat.

“Sejak ayah masuk ke bank hari ini, ayah sudah bertemu dengan 4 teman, mengobrol sebentar dengan pegawai bank yang sudah mengenal keluarga kita dengan baik. Kamu tahu, Nak, ayah dan ibumu kan tinggal sendirian. Temanlah yang kami perlukan.”

Ayahku melanjutkan. “Saat ini, bagi ayah, pertemuan dengan orang lain terasa penting. Dua tahun lalu, Ayah jatuh sakit. Pemilik warung langganan dan anaknya menjenguk ayah, duduk di ruang keluarga, menemani mengobrol dan menghibur kami.

Ketika ibumu jatuh waktu jalan pagi beberapa hari lalu, petugas keamanan keliling melihatnya dan segera mengantarkan ibu ke rumah, sebab ia tahu di mana kami tinggal.”

“Apakah ayah dan ibu akan mengalami sentuhan manusia jika segala sesuatunya menjadi online?

Ayah ingin mengenal pribadi yang sedang berelasi dengan ayah. Bukan sekedar ‘seller’. Ini menciptakan ikatan dan rasa aman. Nak, teknologi memang penting tapi bukanlah inti kehidupan. Ingat untuk meluangkan waktu bersama orang-orang yang kamu cintai dan orang-orang yang ada di sekitarmu, bukan dengan gadget.”

Selamat berakhir pekan bersama orang-orang yang kita cintai dan ada disekitar kita.

sumber cerita:  https://iphincow.com/2016/07/12/luangkan-waktumu/#more-1352

Antara Manusia dan Botol....



APAKAH YANG KITA ISIKAN KEDALAM OTAK DAN PIKIRAN KITA...?

Apakah pengetahuan berharga ? Atau isyu-isyu sampah yang membuat kotor pikiran kita ?

Harga & Kualitas Manusia itu ditentukan oleh isinya, seperti juga botol air mineral...

1. Kalau diisi air mineral, harganya 4 ribuan…

2. Kalau diisi jus buah, harganya 10ribu…

3. Kalau diisi Madu Asli, harganya bisa puluhan ribu.

4. Kalau diisi minyak wangi chanel harganya bisa ratusan ribu atau bahkan jutaan.

5. Kalau diisi air got, hanya akan dibuang dalam tong sampah karena langsung tiada harganya dan tidak ada yang membutuhkannya.

Botol yg sama tetapi harganya berbeda sebab apa yang terisi di dalamnya adalah berbeda…

Orang yang sama juga sering kali berbeda nasibnya, karena isi pikirannya berbeda-beda.

Nah jika selama ini banyak orang yang tidak menghargai kita atau hidup kita selalu penuh masalah, mari kita periksa pikiran kita, apakah yang selama ini sudah kita masukkan ke dalamnya?

Apakah ilmu dan pengetahuan berharga ?
Atau hanya isu-isu, fitnah dan kebencian yang mengotori jiwa ?

ide cerita dari www.kisahinspirasi.com

ANAK-ANAK INDONESIA YANG MENEMBUS DUNIA DI ERA PASAR BEBAS

SETELAH STELLA KE AUSY, DONNY KE BELANDA, CANTIKA KE JEPANG, NIKKI KE SWISS, NIA MENJADI DIRECTOR OF CHOREOGRAPHY DI LA, ANDRI MENDAPAT BEA SISWA DI JEPANG, KINI GILIRAN HAIKAL DAPAT BEA SISWA DI INGGRIS.

 Haikal dan Keluarga

Haikal dan kedua orang tuanya baru bertemu bebarapa bulan lalu dengan kami untuk menetapkan tujuan dan mimpi hidupnya.

Alhamdulillah baru saja tadi pagi kami dapat kabar dari Pekanbaru bahwa Haikal mendapat beasiswa di salah satu perguruan tinggi di Inggris.


Kami predisikan masih akan ada banyak lagi anak2 Indonesia yang mendunia seperti Mas Alung dari Bondowoso, Mas Fajar dari Bekasi, Valerie, Anza, Zafran dari Jakarta, Yefta dari Solo dan lainya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu, menyusul sukses sahabat2 mereka terdahulu yang sudah dengan dada tegak dan pandangan lurus terfokus mengejar mimpi tertinggi mereka.

 Nia Alvita Director of Choreography di LA

Tentu saja kunci sukses ini berpulang pada peran kedua orang tua untuk sepenuh hati mendukung mimpi besar anaknya dan menjalankan prosesnya secara tepat.

Meskipun bukanlah orang tuanya, sungguh saya merasa amat bersyukur dan bahagia yang tak terkirakan mendengarkan berita demi berita kesuksesan anak-anak kita, yang awalnya datang pada kami dalam kegalauan, keraguan dan bahkan MOGOK SEKOLAH, sebagian besar mereka datang karena ragu akan masa depan mereka, ragu akan pilihan jalan hidup yang paling tepat. Ya Tuhan, betapa bahagianya menjadi seorang ayah bagi anak2 yang berhasil meraih mimpi besarnya.

 Mas Andri ke Osaka, Jepang

Semoga Allah SWT yang Maha Kuasa selalu membimbing setiap langkah kita sebagai orang tua untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpi tertingi dari putera-puteri kita tercinta.

Selamat ya Mas Haikal semoga Tuhan selalu membimbing setiap langkahmu Nak...
Salam syukur dan bahagia dari ayah.
Jika kita mau pasti bisa !!!
Bukan jika kita bisa sih pasti mau.
Jika berbagai upaya sudah kita lakukan dengan sebaik-baiknya, tapi belum juga bisa mengubahnya.....?
Lantas saya harus bagaimana lagi ayah....?????

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL

Cara sederhanaku merayakan hari anak, berkunjung ke tetangga, bincang-bincang di rumahnya dan selfie ya nak...

Inilah silaturahmi yang sering kali kita lupakan silaturahmi pada para tetangga sendiri.....

Selamat hari anak Nasional ya...


MAU BELOK KIRI ATAU BELOK KANAN ???



Saya bertanya pada seorang bijak,

"Guru, saya ini sering bingung melihat fenomena ini, padahal saya sudah selalu berusaha membuat status postingan yang baik untuk di baca, tapi mengapa ya selalu ada orang yang berterima kasih tapi ada yang malah menghujat, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju.?"

Sang guru tiba-tiba tersenyum dan kemudian tertawa lepas....

"Nak,  Hidup ini seperti orang yang ada di ujung jalan pertigaan yang sedang mencari alamat tujuan, selalu ada pilihan kalau tidak belok kiri ya belok kanan....."

"Jadi ya terserah pada pikiran orang tersebut, apakah dia mau belok kiri atau belok kanan,  yang penting adalah kita sudah memberikan petunjuk yang menurut kita benar agar dia tidak tersesat...."

" Jadi tidak usah bingung, ya terserah orang tersebut kalau dia tidak mau mengikuti petunjuk kita."

"Itulah mengapa selalu ada orang yang sampai tujuan dengan mudah dan cepat tapi ada juga orang yang nyasar...nyasar....hingga "kepentok" dulu baru sadar, dan berhasil menemukan alamat tujuannya."

Saya pun akhirnya ikut tersenyum lega dan tertawa lepas bersama sang guru......

.... bener juga ya....,
kita ini hanyalah seseorang yang memberikan petunjuk alamat tujuan bagi orang lain... terserah orang tersebut apakah dia mau ikuti petunjuk kita atau tidak.  Dan itu bukan masalah kita tapi masalah dia.

Di tulis oleh Ayah Edy
Dari pengalaman pribadi bertemu dengan guru bijak

Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Salam syukur penuh berkah,
ayah edy
www.ayahkita.com

KITA MENIKAH UNTUK SALING MELENGKAPI DAN BUKAN SALING MENGHAKIMI



Sahabat ayah bunda tercinta,

Percaya atau tidak ?
Disadari atau tidak ?

Para bunda pada umumnya agak kesulitan dalam hal menemukan alamat dan lokasi suatu tempat di luar rumah, atau menentukan arah timur, barat dan selatan kompas.  Bahkan untuk sekedar memberikan petunjuk arah rumahnya sendiri juga sering kali membingungkan teman atau sahabatnya yang hendak berkunjung ke rumahnya.

Itulah mengapa sering kali kita temukan banyak para bunda yang sepertinya ragu atau bingung ketika membawa kendaraan dan sedang mencari alamat atau lokasi tertentu.

Tidak hanya itu, bahkan untuk sekedar memarkirkan mobil saja para bunda juga sering mengalami kesulitan dibandingkan para ayah, itulah mengapa sekarang banyak di sediakan Ladies Parking di tempat2 umum atau perbelanjaan.

Dan sebaliknya para Ayah pada umumnya agak kesulitan dalam hal menemukan lokasi barang-barang di rumahnya sendiri dan bahkan di kamar tidurnya sendiri.  Semisal dimana letak kunci gudang, dimana kaos kaki olah raga yg dipakai minggu lalu..., dimana baju tidur..., dimana obat mata, solasi..solasi dimana ?, gunting kuku dimana?, Mah... odolnya sudah habis (sambil teriak dari kamar mandi)...., dan....

Apa lagi hayo... yang pernah bunda alami di rumah....?

Saya sampai pernah merenung, duh...., betapa repotnya seorang ayah jika di tinggal istrinya pergi walau hanya 1 atau 2 hari saja ya....

Sampai satu ketika saya pernah berujar pada istri saya, "tualah bersama ku, agar kita bisa terus hidup berbahagia dan saling melengkapi, sampai kelak Tuhan memanggil kita".  (hik...hik... jadi sekarang kami masih muda ternyata ya)

Tahukah bunda mengapa hal ini bisa terjadi secara alamiah.... ? 

Salah satu dugaan saya adalah mungkin Tuhan ingin setiap pasangan Ayah dan Bunda untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing, dan saling membimbing dan membutuhkan satu sama lain.  Agar ikatan rumah tangga semakin kuat dan harmonis.

Jadi mulai hari ini juga, mari kita berhenti bertengkar setiap hari tentang hal-hal  yang sekarang sudah kita sadari bersama penyebabnya.




Karena mungkin Tuhan memaksudkan agar para ayah bisa membimbing dan menuntun para bunda untuk menghadapi berbagai persoalan di luar rumah, dan para bunda bisa bisa menciptakan surga di rumahnya bagi para ayah.



Selamat beraktifitas dengan lebih bahagia..... ya ayah bunda.

Salam syukur penuh berkah,
ayah edy
www.ayahkita.com

di tulis oleh ayah edy  dari pengalaman pribadi
Ayah Edy dan pengalaman teman-teman ayah bunda lainya.

MENGAJARKAN KONSEP UANG DAN BEKERJA PADA ANAK-ANAK KAMI

Dimas baca buku parenting tulisan ayahnya

We love you Dimas & Dido

Saat ini kami kebetulan ada yang bantu-bantu di rumah, maklum karena sedang renovasi rumah jadi rumahnya jadi sering kotor, meskipun sudah dibersihkan setiap pagi dan sore.

Sudah cukup lama kami tidak ada yang bantu2 di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah mulai dari ngepel, cuci baju, strika, cuci piring, dll bersama anak-anak.  Dan inilah yang menjadi pekerjaan rutin anak-anak kami di rumah.

Namun kali ini kami memutuskan untuk memilikinya lagi untuk sementara kami merenovasi rumah kami.

Dan dalam konsep keluarga kami tidak pernah kami memberi uang jajan pada anak-anak kami, terlebih karena anak kami tidak suka jajan karena memang tidak pernah diajari jajan dan tidak diberi uang jajan.


Dido & Dimas masak Cah Jamur untuk makan siang

Dalam mengajari konsep uang pada anak-anak kami,  mereka kami latih dan biasakan belajar mengumpulkan setiap rupiah dengan bekerja, mengerjakan apa saja mulai dari memasak, mencuci mobil, cuci baju, cuci piring, ngepel, masak, cabut rumput taman dsb.




Sejak kecil Dido dan Dimas sudah biasa bekerja membantu ayah

Sampai besar sudah terbiasa cari uang sendiri via cuci mobil ayah

Mereka mengumpulkan uang sekoin demi sekoin dari hasil jerih payah keringat mereka sendiri mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Wal hasil disamping belajar konsep bekerja, berusaha dan berpenghasilan, mereka juga banyak belajar matematika ketika mengkonfersikan koin-koin yang di kumpulkannya menjadi pecahan yang lebih besar.

Menghitung koin untuk di tukar dengan pecahan yang labih besar

Yang mengejutkan adalah, ketika Asisten Rumah Tangga kami datang tiba-tiba anak saya Dimas berkata, kalau gitu sekarang Dimas kerja apa dong ayah untuk bisa dapat uang dan kumpulin buat beli Buku Komik2 Sains dan apa saja yang Dimas mau beli ?????

Tenang nak, ayo kita buat daftar pekerjaan baru yang masih tersisa, untuk di kerjakan ya ....

Ah sy sungguh bersyukur bahwa sudah tumbuh reflek dasar pada anak-anak kami bahwa untuk mendapatkan uang itu harus bekerja dulu dan tidak hanya meminta dan menadahkan tangan pada orang tuanya.

Oh iya saya masih ingat dulu pernah Omnya memberikan angpau saat hari raya,  Tapi Dimas dan Dido tidak mau terima, dan malah bertanya,  "Ini uang untuk apa ?  Aku tidak mau terima uang ini, kata ayahku kalau mau dapat uang itu harus bekerja dulu".

Om nya terbengong-bengong baru melihat ada anak yang diberi amplop berisi uang sebesar Rp. 500.000,- menolak dan di kembalikan.

Tapi kemudian kami jelaskan pada Omnya bahwa kami mendidik anak-anak kami untuk terbiasa menerima uang yang jelas sumbernya dan dari hasil kerja kita.  Agar kelak ia tidak terbiasa dengan budaya korupsi atau gratifikasi, menerima sesuatu yang bukan hasil jerih payahnya.

Ayah bunda mungkin ada yang khawatir nanti anak kami akan menjadi anak yang "mata duitan" dan tidak mau membantu orang tua kalau tidak di bayar.

Alhamdullilah itu semua tidak terjadi, karena setiap uangnya sudah di kumpulkan kami akan berdiskusi tentang untuk apa uang itu di belanjakan, sebagian ada yang untuk kebutuhan pribadi, sebagian di tabung dan sebagian untuk amal, dan bahkan untuk Qur'ban.

Anak-anak juga kami jelaskan bahwa ada bekerja ada menolong, jika menolong itu tidak ada bayarannya dan jika bekerja baru ada bayarannya, untuk membedakannya adalah ketika kami berkata tolong maka anak-anak kami tidak akan mengharapkan imbalan.  Dan alhamdulilah Dimas dan Dido adalah anak-anak yang suka menolong orang tuanya, dan bahkan suka menolong orang lain juga.

Anak-anak kami menjadi jauh lebih mudah diberikan pengertian, mungkin salah satunya karena ia kami HomeSchoolingkan, jadi tidak ada pengaruh buruk dari lingkungan pergaulan teman-temannya yang sering kali suka jajan karena banyak diberi jajan dan kemudahan uang oleh orang tua mereka.


Merapikan kebun dan menghias dengan tanaman

Jadi alhamdulillah apa yang sering di khawatirkan para orang tua tentang ini sama sekali tidak terjadi pada anak-anak kami hingga saat ditulisnya status ini.

Saya yakin apa yang kami lakukan dalam mendidik anak-anak kami ini baik menurut kami dan baik untuk masa depan mereka.



Berlatih memasak dan meracik makanan sendiri

Tapi saya juga sadar pasti ada yang setuju dan tidak setuju dengan apa yang kami lakukan. 

Bagi yang tidak setuju sah-sah saja  dan monggo di baca tulisan kami berikut ini :  

https://www.facebook.com/141694892568287/photos/a.144983902239386.35784.141694892568287/1097859320285168/?type=3&theater

Ditulis oleh Ayah Edy
Dari pengalaman pribadi selama 12 tahun mendidik dan mengasuh anak-anak kami.

Salam syukur penuh berkah,
ayah
www.ayahkita.com

PANDANGILAH GAMBAR INI BAIK-BAIK

Temukanlah penyebab mengapa anda tidak bahagia.......


NASIHAT BIJAK SEORANG ASTRONOT PADA ISTRINYA



Tahu gak kamu jika bobot benda 100 kg di bumi kemudian di bawa ke Planet Mars hanya tinggal 38 kg.

Jadi gak usah sedih ya sayang, sebenarnya kamu gak gemuk kok, cuma mungkin kebetulan salah pilih planet saja untuk tinggal.

Beitulah seorang Astronot yang sedang menghibur istrinya yang sedang sedih, karena dinyatakan oleh dokter kelebihan berat badan.

Selamat beraktivitas ya ayah bunda, mari kita isi hari kita dengan senyum cerah ceria....


PRINSIP UTAMA HOME SCHOOLING



Belajar tidaklah terikat oleh tempat, waktu dan guru.....

Belajar bisa kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja....
Belajar itu sepanjang hidup mulai dari buaian hingga ke liang lahat.....

Karena setiap waktu adalah kesempatan, setiap tempat adalah ruang kelas, setiap peristiwa adalah pelajaran dan setiap orang adalah guru.

Itulah pemikiran yang kami tanamkan pada anak-anak kami tentang arti dan makna belajar, melalui pilihan Home Education.  atau yang lebih di kenal dengan Homeschooling.

Ayah Edy
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
merangkap Orang tua HomeSchooling.
Singaraja, Buleleng, Bali
www.ayahkita.com

Informasi HS berkomunitas Klik:  www.rumahinspirasi.com

Kamis, 07 Juli 2016

PASAR BEBAS DUNIA PELUANG ATAU ANCAMAN BAGI ANAK-ANAK KITA ?



Saya yakin banyak Ayah Bunda yang telah mengerti soal Pasar Bebas. Tapi saya juga yakin, sebagian lagi mungkin baru sebatas mendengar tentang Pasar Bebas, tapi tak benar-benar memahami dampaknya pada diri kita atau anak-anak kita kelak.

Padahal, Pasar Bebas bukan main-main dan bukan sekadar isu yang bisa kita abaikan.

Begitu seriusnya masalah Pasar Bebas ini, sejak 2006 saya bahkan sudah mulai berkampanye soal persiapan menghadapinya.

Tanpa persiapan yang matang, anak-anak kita akan tergilas dalam persaingan ketat di era Pasar Bebas. Saya takkan heran bila banyak anak Indonesia yang akhirnya menjadi ‘budak’ di negerinya sendiri. Karena itu, ayo kita ‘melek Pasar Bebas’ sejak sekarang!

Apa sih Pasar Bebas?

Pasar Bebas adalah suatu kondisi ekonomi ketika jual beli produk antar individu atau perusahaan di beberapa negara ditentukan sepenuhnya oleh pasar. Pemerintah tidak melakukan intervensi atau membuat peraturan yang mempengaruhi perdagangan atau harga produk. Tidak ada pajak ekspor impor, bea masuk atau biaya tambahan seperti yang biasa terjadi dalam perdagangan internasional.

Memang kapan terjadinya?

Sejak 2010, ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area) sudah dimulai. Sedangkan 2015 nanti, kita akan mulai bersaing dalam AEC (ASEAN Economy Community) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dengan AEC, ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi internasional. Baik barang, jasa, investasi dan tenaga kerja bisa bebas masuk ke seluruh negara-negara ASEAN.

Lalu, mengapa kita harus peduli?

Pasar Bebas adalah soal persaingan kualitas. Di dalam Pasar Bebas, konsumen yang ingin membeli satu jenis produk akan memiliki begitu banyak pilihan dengan harga yang bersaing.

Bila ada dua produk sejenis dengan perbedaan harga yang tipis, mana yang Anda pilih? Hampir bisa dipastikan, Anda akan memilih produk dengan kualitas yang lebih baik.

Ini baru soal produk. Bagaimana soal Sumber Daya Manusia (SDM)?
Secara teroretis, AEC ‘menjanjikan’ peningkatan kesejahteraan bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya. Di antaranya karena akses pasar yang lebih besar dan terbukanya peluang penyerapan tenaga kerja yang lebih luas.

Pertanyaan besarnya, apakah SDM kita sudah siap? Apa kita mampu menjadi tuan di negeri sendiri?

Coba kita pikirkan sejenak. Tahukah Ayah Bunda, berapa jumlah pengangguran di Indonesia sekarang?

Menurut data Badan Pusat Statistik, angka pengangguran di Indonesia hingga Februari 2013 lalu mencapai 7,17 juta orang. Di antara yang 7,17 juta itu, tak sedikit pengangguran yang lulusan sarjana, pandai baca tulis, punya rapor tanpa nilai merah, serta selalu lulus ujian di sekolah.

Tapi mengapa angka pengangguran tetap tinggi? Padahal sebelum 2010, para pencari kerja hanya bersaing di ‘kandang sendiri’.

Maksudnya, persaingan hanya terjadi antar anak Jakarta dengan anak Bandung, anak Yogya, anak Surabaya, anak Padang, anak Medan, anak Makassar, anak Denpasar dan sebagainya.

Tapi ketika era Pasar Bebas sudah benar-benar berlangsung, para pencari kerja akan bersaing dengan calon tenaga kerja dari Malaysia, Singapura, Fillipina, India... Siapkah anak-anak kita kelak? Jangan sampai mereka hanya menjadi kroco di negerinya sendiri.

Bagaimana agar anak kita sukses di era Pasar Bebas?

Bicara Pasar Bebas berarti bicara tentang kualitas dan spesialisasi. Orang akan bertanya, ‘Apa keahlianmu?’, ‘Apa spesialisasimu?’, serta ‘Kualitasmu di level apa?’.

Karena itu, persiapkan anak-anak kita sehingga memiliki kualitas keahlian yang spesifik. Bukan menjadi seorang yang saya istilahkan ‘generalis’.

Saya sendiri contohnya. Saya menyebut diri saya seorang ‘generalis permainan’. Maksudnya, saya bisa bermain karambol, bulutangkis, catur, biliar, pingpong dan basket. Tapi kualitas saya hanya sampai level RT. Jadi juara RT saat 17 Agustusan juga sudah bersyukur. Tak satu pun yang saya kuasai bisa membawa saya bersaing sampai tingkat nasional, apalagi internasional.

Tapi coba lihat Tiger Woods, pemain golf yang pernah menjadi pemain nomor 1 di dunia. Ia hanya menguasai golf, tapi kualitasnya world class. Kira-kira, apakah Tiger Woods bisa menjadi pegolf kelas dunia bila jadwalnya sejak kecil seperti ini?

Hari                          Aktivitas

Senin & Rabu           Golf
Selasa & Kamis       Tenis
Jumat & Sabtu         Basket

Howard Gardner, pencetus teori Multiple Intelligences yang telah melakukan riset selama 30 tahun menyimpulkan bahwa setiap anak memiliki satu kelebihan yang akan membawa dia menjadi top of the top bila kelebihan itu terus diasah dan dikembangkan.

Coba sebut satu nama orang top. Sebut nama siapa saja –dari dalam maupun luar negeri-- saya yakin orang itu adalah ‘spesialis’.

Addie MS? Orkestra, musik klasik.

Rudy Hadisuwarno? Penataan rambut.

Susi Susanti? Bulutangkis.

Jadi cukup satu bidang saja yang dibutuhkan, tapi kuasai bidang itu sampai mencapai kualitas teratas. Fokuskan anak pada satu bidang yang menjadi minat terbesar dan potensi terunggulnya, lalu asah semaksimal mungkin agar mencapai kualitas world class. Dengan begitu, ia akan mampu bersaing, tidak hanya di tingkat ASEAN, tapi di tingkat dunia.

Terus, apa sistem pendidikan kita sekarang mendukung?
Sayangnya, tidak (atau belum).

Sistem pendidikan di Indonesia mengharuskan seorang siswa mendapat nilai bagus di semua mata pelajaran. Anak dituntut untuk bisa semua. Kita pikir, jika anak dijejali banyak pelajaran, ia akan sukses.

Yang terjadi justru sebaliknya. Ketika anak dijejali terlalu banyak pelajaran, ia hanya akan menjadi orang yang berkemampuan rata-rata. Mungkin banyak hal yang ia ketahui, tapi tak satu pun yang dikuasainya secara mendalam.

Awalnya, semua negara menjalani sistem pendidikan semacam ini. Inilah level pertama sistem pendidikan: Dengan asumsi bahwa semakin banyak yang diketahui seseorang, semakin sukses dia.
Namun riset Dale Carnegie Institute menyatakan fakta-fakta ini:
Orang yang banyak tahu (tapi tidak ada yang mendalam) akan menjadi bawahan.

Di atas mereka, adalah orang-orang yang spesifik di bidangnya.
Posisi paling atas atau biasanya sang owner, adalah orang yang spesialis dan kreatif.

Jepang sudah melakukan Revolusi Pendidikan pada 1930-an dan menghasilkan anak-anak berkualitas internasional.

Negara-negara Eropa melakukan Revolusi Pendidikan pada 1980-an.

Setiap anak dituntut mendapat nilai bagus di semua mata pelajaran. Sekolah dari pagi sampai sore. Sepulang sekolah, digempur kursus dan les sebanyak-banyaknya.

Orang tua bayar mahal, dan anak-anak kelelahan fisik maupun mental. Bukankah ini yang terjadi sekarang? Tapi apa hasilnya, negara kita bukan tambah maju tapi semakin jauh tertinggal, tidak usah jauh dengan negara Korea, dengan Singapura saja kita masih tertinggal jauh.

Kita sudah ketinggalan puluhan tahun. Mampukah kita mengejarnya?

Jawaban saya: Kita pasti mampu! Jika kita mau pasti kita mampu !
Ini rumus mengejar ketertinggalan:

1. Betapa pun jauhnya kita tertinggal, yang penting KITA SADAR BAHWA KITA KETINGGALAN. Dan kita harus tahu seberapa jauh ketertinggalan kita. Misalnya, 30 tahun.

2. KAPAN MULAI MENGEJAR DAN HARUS SEBERAPA CEPAT

BERLARI. Bila kita tahu kita tertinggal sangat jauh, berarti kita harus berlari lebih kencang dan memulainya dari sekarang.

Kalau kita mau, kita pasti bisa!

Jadi, Pasar Bebas itu sebenarnya ‘peluang’ atau ‘ancaman’ sih?
Semua tergantung persiapan.

Bila Ayah Bunda mempersiapkan diri dan anak-anak sebaik mungkin, apalagi sedini mungkin, tentu tak perlu takut menghadapi era Pasar Bebas. Dengan persiapan matang, Pasar Bebas akan menjadi peluang di mana anak-anak Indonesia mempertunjukkan kebolehannya masing-masing pada dunia.

Akan dibahas tuntas oleh Ayah Edy melalaui Parenting Seminar yang akan di adakakan di Convention Hall Denpasar Bali. Agustus Mendatang.

klik infonya di link berikut ini:   https://www.facebook.com/141694892568287/photos/a.144983902239386.35784.141694892568287/1072415489496218/?type=3&theater

APAKAH SESUNGGUHNYA YANG MEMBUAT MANUSIA BAHAGIA...?


Dikisahkan ada sepasang suami istri setiap hari kemana-mana selalu dengan mobil mewah. Mereka adalah pasangan yang begitu sibuk dengan berbagai aktivitas. Maklum sang suami adalah seorang pengusaha sukses dan istri adalah wanita karir. Dan anak merekapun disekolahkan di tempat yang terbaik dengan segala fasilitas yang serba mewah. Tentunya si anak juga disediakan sopir yang mengantarnya kemana saja ia pergi.

Mereka adalah orang terkenal di sekitar tempat tinggal mereka dan hampir semua orang mengenalnya termasuk mengenal semua kendaraan yang mereka pakai. Mereka memang tidak tinggal dilingkungan khusus orang kaya. Para tetangga masih banyak hidup sederhana. Tidak masalah mereka tetap dapat hidup rukun berdampingan. Dan masing-masing mempunyai kehidupan sendiri.

Seperti biasanya keluarga ini berangkat pagi dan baru pulang menjelang malam dan itu berlangsung entah sudah berapa lama.

Tiba-tiba suatu ketika saat mereka baru pulang kerja melihat tetangganya yang sedang asyik bersenda-gurau dengan keluarganya.

”Pak, lihat betapa bahagianya mereka kata si istri orang kaya tersebut. Jam segini mereka sudah ada dirumah, bercengkrama dengan keluarga sedangkan kita masih sibuk dengan segudang pekerjaan” Ucap sang istri ketika melintasi sebuah keluarga sederhana yang sedang berbincang-bincang diteras rumah.

”Iya...ya...ma. kapan yach Ma kita bisa seperti mereka yang setiap saat bisa menikmati waktu santai dengan keluarga”

Dan suaminya pun mengiyakan sambil menarik nafas dalam-dalam. Begitu terasa ada beban yang begitu berat menghimpit dada mereka berdua.

”Kadang-kadang mama rasanya ingin meninggalkan semua ini pa..dan hidup bahagia seperti mereka” ucap sang istri dengan suara berat.

Sementara disisi lain, dari teras rumah keluarga yang dianggap berbahagia tadi juga merasakan hal yang sama, Begitu sang istri melihat mobil tetangganya melitas di depan rumahnya tiba2 dia berkata.

”Pak, kapan yach kita bisa seperti mereka? Kemana-mana selalu naik mobil mewah. Ibu yakin hidup mereka pasti sangat bahagia” Ucap istri Sang peimilik rumah sederhana sambil menunjuk mobil yang baru melintasi depan rumahnya.

”Bapak bisa merasakan hal yang sama bu, kapan yah kita menjadi orang kaya seperti mereka, bapak selalu ingin berkerja keras hingga larut malam dan mendapat penghasilan lebih besar tapi sayangnya tidak ada yang harus dikerjakan” Pandangannya menerawang jauh kedalam.

Dilain waktu anak orang kaya itu tidak kalah gelisahnya ketika menyaksikan anak-anak sebayanya diantar jemput sama orang tua mereka kesekolah sambil berboncengan motor dengan bahagianya, tidak seperti dirinya yang selalu diantar jemput sama sopir.

Dalam batin anak itu berkata ”Alangkah bahagianya jadi seperti mereka, kemana-mana selalu diantar orang tua mereka, sedangkan kedua orang tuaku tidak pernah melakukannya. Mereka terlalu sibuk dengan bisnis mereka. Aku iri dengan mereka”

Anak itu mengeluh dan menitikkan air mata di dalam mobilnya.

Sementara sambil berlalu anak yg sedang di bonceng orang tuanya di motor tadi berpikir dalam hatinya,

”Aku ingin seperti anak yang ada di mobil bagus itu. Kemana-mana ada yang antar kalau hujan tidak kehujanan dan kalau panas tidak kepanasan."

Begitu pula anak-anak yg sedang berjalan kaki dan di antar orang tuanya, mereka dalam hati juga berpikir

"ah seandainya aku bisa jadi seperti anak orang kaya itu, selalu diantar mobil kemana-mana dan tidak perlu capek berjalan kaki berkilo-kilo meter dan berbecek-becek ria seperti ini”

Ayah Bunda yang tercinta.......,

Cerita diatas menggambarkan bahwa manusia pada umumnya selalu melihat orang lain lebih baik dan bahagia daripada darinya.

Dan kita juga sering mendengar bahwa ”Manusia memang tidak pernah ada puasnya”

Omongan ini benar bagi orang-orang yang memang dikendalikan oleh pikiran yg tidak bersyukur, karena kalau kita mau mengikuti pikiran kita maka tidak akan merasa cukup.

Sebelum kaya ingin menjadi kaya setelah kaya ingin menjadi lebih kaya lagi. Dan saat merasa dirinya benar-benar kewalahan mempertahankan segala efek yang ditimbulkan oleh kekayaannya dirinya merasa lelah, merasa tidak ada waktu lagi untuk berkumpul dengan keluarga.

Contoh lainnya misalnya sebelum menjadi orang terkenal ingin menjadi orang yang terkenal begitu terkenal, dirinya mengeluh lagi, merasakan ruang geraknya menjadi terbatas dan tidak memiliki privacy lagi.

Karena kemanapun mereka pergi selalu ada orang yg memandangi, meminta tanda tangan atau ingin berfoto dengannya.

Saat menjadi pengangguran seseorang hidup begitu stress, ketika mendapatkan pekerjaan, mengeluh lagi karena kerjaannya tidak cocok, gajinya terlalu kecil, jam kerjanya dan kantornya terlalu jauh, merasakan tidak ada waktu bersantai dan seterusnya.

Pengangguran ingin menjadi karyawan, karyawan ingin menjadi bos sedangkan bos selalu stress merasakan beban yang dipikul terlalu berat dan merasakan dirinya selalu bekerja keras sementara dia memandang anak buahnya enak-enakan saja kerja, dan akhirnya ia marah pada semua orang.

Apasih yg kira..kira bisa mengatasi kondisi semacam ini...?

Salah satunya adalah Memiliki Rasa Syukur terhadap apa yang sudah kita miliki dan tidak membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, setiap manusia pasti mempunyai masalah dan beban masing-masing yang tidak diketahui oleh orang lain.

Orang hanya bisa melihat sisi luarnya saja dalam hati siapa yang tahu.?

Kita melihat orang lain hidupnya lebih enak sementara orang lain melihat hidup kita enak.

Kita ingin menjadi seperti mereka demikian juga sebaliknya, ketahuilah kita tidak bisa menjadi orang lain.

Jadi nikmatilah apa yg ada, apa yg kita miliki, karena yg kita miliki adalah apa yg terbaik bagi kita menurut Tuhan.

Namun manusia bersyukur bukan berarti orang yg mudah menyerah kepada keadaan.

Manusia yang bersyukur adalah manusia yang selalu lapang dada menerima hasil dari usahanya yang optimal. Sedangkan manusia yang menerima nasibnya tanpa ada usaha adalah manusia yang putus asa.

Apapun dan berapapun yang didapatkan dari hasil usahanya bagi manusia yang bersyukur selalu berkecukupan.

Karena Manusia yang selalu bersyukur tahu berapapun yang di dapatkan dalam dunia ini jika mengikuti hawa nafsu tidak akan pernah ada cukupnya.

Kalau sudah seperti itu kenapa kita harus memaksakan diri untuk mengejar sesuatu yang memang tidak pernah cukup ?

Mari kita ingat selalu sebuah pepatah kuno yang mengatakan bahwa

“Kekayaan bisa mendatangkan kesenangan tapi tidak kebahagian".

Itulah mengapa kita banyak melihat orang kaya yang hidupnya tidak bahagia, bolak-balik konsul pada psikolog atau keluar masuk rumah sakit karena terkena penyakit yang disebabkan oleh stress.

"Kebahagiaan hanya datang dari Rasa Bersyukur dan Berkecukupan atas apa yg kita miliki."

Itu pulalah mengapa kita banyak melihat hidupnya sangat bersahaja tapi bisa tertawa dengan lepas dan tidur dengan nyeyak.  Hidup sehat tanpa perlu berbagai jaminan asuransi kesehatan bagi diri dan keluarganya.

Mari kita sambut dengan ceria hidup ini dan ucapkanlah syukur dan terimakasih pada Tuhan setiap hari atas semua yg telah kita miliki dan kita bisa lakukan....

Sahabatku yang dirahmati Allah SWT,

Tersenyumlah selalu maka hidup ini akan menjadi jauh lebih indah dan penuh arti.

JADI SIAPAKAH SESUNGGUHNYA ORANG YANG LEBIH BAHAGIA MENURUT KISAH TERSEBUT DI ATAS ?

Ditulis ulang oleh
-ayah edy-
Pendiri Gerakan Membangun Indonesia yang kuat dari keluarga
www.ayahkita.blogspot.com
www.ayahedy.tk

ANAK IBU BUKAN AUTIS TAPI SALAH POLA ASUH DAN MENGALAMI DISFUNGSI SOSIAL.



PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN DI AWAL-AWAL AKU MENDIRIKAN SEKOLAHKU

Para orang tua dan guru yang berbahagia... Pada suatu hari datanglah seorang ibu ke sekolah kami;  dia mengeluhkan anaknya yang sudah berusia 3 tahun lebih namun kemampuan dan tingkah lakunya tidak seperti anak-anak lain seusianya; Sebutlah  Chintya nama anak ini.

Ibunya kemudian mulai membuka cerita tentang anaknya dengan raut wajah yang sedemikan bersedih;  air mata sudah siap mengalir dari sela-sela sudut matanya.

Diusia yang sudah 3 tahun lebih anaknya kok belum juga mau bicara atau tepatnya belum bisa bicara;  juga tidak berminat untuk melakukan apa-apa.  Jika dirumah katanya;  anaknya selalu pergi menuju kamar mandi dan berdiam diri disana;  terkadang bermain dengan botol-botol sabun atau shampo yang ada disana.  Chintya tidak mau bersosialisasi dan selalu sembunyi bila ada orang.  Dia menjadi anak yang sangat tertutup dan mengisolasi diri.

Sang ibu sedihnya bukan kepalang melihat fenomena ini;  sudah berbagai usaha dicobanya tapi tidak pernah berhasil katanya;  bahkan saat inipun sang anak sedang menjalani terapi disalah satu Rumah Sakit yang cukup ternama; karena diduga menderita Autis.  Namun setelah menjalani teriapi  tak sedikutpun mengalami peningkatan.

Saya begitu tertegun mendengar panuturan sang ibu yang begitu panjang lebar tentang anaknya;  dan yang jauh lebih membuat saya tertegun adalah si anak sendiri;  Anaknya begitu cantik dan imut;  dari wajahnya terpancar sinar cerah yang menampaknya kecerdasan.  Meskipun saya bukan pakar Autis tapi saya tidak melihat adanya tanda-tanda autis pada anak ini.

Apa gerangan yang terjadi pada Chintya dan apa pula gerangan yang dialaminya hingga ia seperti ini..?

Singkat cerita akhirnya anak ini berhasil menjadi salah satu murid di sekolah kami.

Para orang tua dan guru yang berbahagia....Tiga bulan sudah Chintya bersama kami,  dan ternyata banyak mengalami kemajuan dan peningkatan yang luar bisa.  Chintya sang penyindiri di kamar mandi kini sudah mulai mau keluar dan bersosialisasi, meskipun masih sangat terbatas,  ia mulai menunjukkan minatnya pada beberapa benda disekitarnnya;  dan Chintya suatu hari pernah membuat beberapa guru menitikan air mata ya.... air mata bahagia.  Betapa terharunya guru-guru saat mendengar untuk pertama kalinya Chintya kecil mau berbicara meskipun hanya sepatah kata,  dan ini terus bertambah dari waktu ke waktu dengan sepatah kata lainnya.

Tidak hanya para ibu guru;  ibunyapun tak kalah bahagia dan tak kuasa menahan tangis melihat anak yang sangat dicintainya mulai mau bicara.

Hingga saat ini menjelang satu tahun sudah bersama kami; Chintya kecil telah tumbuh bersama anak lain dan seperti anak lainnya;  Chintya yang dulu sangat pemalu dan pasif saat ini sudah lebih berani mendekat kepada siapapun dan mulai menunjukan rasa ingin tahunya yang besar.

Para orang tua dan guru yang berbahagia.....Lalu mengapa hal ini semua bisa terjadi...?  Mengapa Chintya bisa seperti ini...?  dan mengapa akhirnya dia bisa berubah...? Adakah diantara anak anda yang mengalami fenomena semacam ini...?

Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa Chintya telah mengalami pola asuh yang tidak tepat dari lingkungan terdekatnya,  ya orang tuanya.

Orang tua Chintya telah menerapkan pola asuh yang extra ketat  atau kami menyebutnya “Close Bar”.  (silahkan baca buku 37 Kebiasaan orang tua yang menghasilakan prilaku buruk anak, di tulis oleh ayah edy)

Orang tuanya teramat sayang dan khawatir sehingga Chintya selalu dilarang untuk melakukan ini dan itu;  Chintya selalu dibantu untuk melakukan berbagai hal; tidak ada kebebasan bagi dirinya untuk bereksplorasi;  sampai akhirnya ia memutuskan untuk “mogok” tidak mau malakukan apapun; dan al hasil seluruh panca indranya tidak terlatih serta tidak berfungsi secara normal.

Ketidak tahuan orang tua mengenai tipologi anaknya dan tipologinya sendiri telah menjadi penyebab utama pola asuh yang keliru dan akibatnya sangat fatal.   Hingga saat ini kami terus mengajak orang tua Chintya untuk merubah pola asuhnya secara perlahan-lahan.  Dan ternyata kerja keras kami bersama orang tuanya telah membuahkan hasil yang luar biasa.

Para orang tua dan guru yang berbahagia;  seringkali kita tidak sadar bahwa apa yang terjadi pada anak kita sesungguhnya adalah bersumber dari kita sendiri;  namun sayangnya sering kali justru anak kitalah yang jadi sasaran segala kesalahan yang kita buat.   Kasus ini telah membuktikan sekaligus mengajak kita untuk menyadari segala kekeliruan yang kita buat pada anak kita.

Masa depan anak kita sepenuhnya berada ditangan kita;  Mari..kita besarkan putra-putri kita dengan cara yang benar sesuai fitrah penciptaan mereka dan amanat Tuhannya.

 by Ayah Edy

Dipetik dari buku Ayah Edy Punya Cerita, diterbitkan oleh Noura Book, tersedia disemua toko buku.

MEMBANTU ANAK OTAK KANAN BELAJAR



Bersabarlah untuk terus mau membaca artikel ini hingga akhir, sebagai latihan bersabar dalam mendidik anak-anak kita......

APAKAH ANAK KITA DIANGGAP SERING MEMBUAT MASALAH DISEKOLAHNYA ?

APAKAH ANAK KITA SULIT SEKALI MENGIKUTI PELAJARAN SEKOLAHNYA?

APAKAH ANAK KITA TIDAK SUKA MENULIS DAN LEBIH SUKA MENGAMBAR DI BUKU PELAJARANNYA ?

Jangan-jangan anak kita termasuk anak-anak yang dominan otak kanannya.

Coba cek ciri-ciri dibawah ini, seberapa cocok dengan anak kita..?

Ciri-ciri umum:

1. Terlambat bicara dibandingkan anak seusianya

2. Sulit Membaca terutama membaca bersuara

3. Sulit mengeja suku kata

4. Sulit mengerjakan soal-soal matematika logika/rumus-rumus terkadang lebih mudah soal cerita

5. Sering memandang ke atas dan terlihat seperti melamun

6. Kurang suka mencatat (karena proses mencatat menghambat proses visualisasi)

7. Sering membaca terbalik-balik

8. Sering membaca melompat dan beberapa kata tertinggal atau terlompati

9. Bisa membaca dari belakang atau dengan urutan terbalik

10. Jika berbicara tidak runtut dan sistematis

11. Sulit mengungkapkan keinginannya dalam bentuk kata/kalimat

12. Sering bicara tidak nyambung dengan pertanyaan

13. Cepat hafal tempat/lokasi dan rute perjalanan

14. Kadang suka berkhayal dan menceritakan fantasinya

15. Konsentrasi rendah pada pekerjaan yang kurang disukainya

16. Konsentrasi tinggi dan lama pada hal-hal yang menarik minatnya.

17.  Menulis terbalik dengan efek cermin (bisa terbaca dengan menggunakan cermin)

===========================================
BEBERAPA DIANTARA TOKOH-TOKOH OTAK KANAN
1. Leonardo Da Vinci
2. Thomas Alva Edison
3. Albert Einstein
4. Jenderal George Patton (ahli Stategi tempur )
5. Keanu Reeve (Aktor Laga The Matrix)
6. Amir Khan (Aktor & Sutradara film taare zameen par)
7.  Pablo Picaso  Pelukis terkenal dari Italia
8.  Vincent Van Gogh Pelukis terkenal dari Belanda
9.  Walt Disney
10. Affandi & Basuki Abdullah Maestro lukis Indonesia.
11.  Dimas, anak ke-2 kami.
Dan banyak lagi yang lainnya......

===================
Cara Bekerja otak kanan:

1. Kreatif --> ingin mengetahui hal-hal baru dan menemukan cara-cara baru yang tidak konvensional, melihat alternatif solusi dari berbagai permasalahan.

2. Spasial Tiga Dimensi, mampu melihat dan membayangkan  sesuatu secara tiga dimensi; bisa melihat dari kanan ke kiri, atas ke bawah dan sebaliknya. serta membolak balik huruf, angka dan gambar.

3. Memori Fotografi, mampu merekam informasi dalam bentuk gambar-gambar baik dalam bentuk diam atau seperti film yang bergerak.  Memiliki papan layar di otaknya.

4. Art -->  melihat sebuah pekerjaan sebagai proses seni yang mengandalkan rasa dan estetika yang sering kali tidak bisa dibatasi oleh waktu dan bekerja berdasarkan inspirasi dan mood.

5. Deduktif --> terlebih dahulu harus melihat gambaran besarnya atau hasil akhirnya baru bergerak menyusun langkah demi langkah dan tahapan prosesnya.

6. Random -->  Menyusun dan mengolah informasi secara acak, sehingga penyampaian informasinyapun cenderung tidak sistematis.

7. Visual --> Bekerja dalam bentuk gambar; sering kali sulit menuangkan ide gambarnya tersebut kedalam kalimat atau kata-kata yang dipahami.

8. Global --> Lebih menyukai gambaran umum dan kurang menyukai hal-hal detail.

9. Konklusif --> Menarik kesimpulan umum dari kepingan-kepingan informasi.

10. Eksekusi 2 langkah --> Merekam informasi baru memaknainya.

11. Inspirational --> bekerja berdasarkan datangnya inspirasi bersifat dadakan dan tidak terencana.

=======================================
Perbandingan Cara Kerja Otak Kiri vs Otak Kanan:
a. Simbol  vs  Gambar
b. Runtut/Sekuen  vs  Acak/Random
c. Logika  vs  Kreatif/Seni
d. Detail ke Global  vs  Global ke detail.
e. Setahap demi setahap vs Langsung
f. Proses then memori  vs  memori then proses
g. Duplikasi vs imaginasi
h. Teratur vs acak dan melompat-lompat
i. Analisis mengurai vs Analisis Kesimpulan
j. Tenggat Waktu vs Bebas Waktu
k. Rencana vs Inspirasi
l. Objek Hitam Putih vs Objek yang berwarna warni

===========================================
2. Perbedaan Kombinasi Kontinum Otak dan Indera dominan
a. Otak Kiri Visual --> Cenderung Diam, Tegas, Berpikir Runtut, Logika bagus

b. Otak Kiri Auditori --> Cenderung Bicara, Suka berdebat, Logika bagus, cepat menghafal

c. Otak Kiri Kinestetik --> Cenderung diam, Lincah bergerak, Berpikir runtut, logika bagus

d. Otak Kanan Visual --> Suka menghayal, kuat mengingat, cenderung diam, sulit mengeja, suka menggambar, kurang suka mencatat.

e. Otak Kanan Auditori --> Suka bicara, Bicara acak, Bicara khayalan, suka berhandai-handai..., sulit mengeja tapi suka bicara,

f. Otak Kanan Kinestetik --> Cenderung diam, terus bergerak, bergerak tak beraturan, sering melakukan hal-hal yang penuh resiko, pandai membuat sesuatu karya tangannya

------------------------------------------------------------------------
Ditulis oleh Ayah Edy tahun 2004 berdasarkan literatur dan referensi sbb:
===========================================

1. Priscilla Vail, Smart Kids with the school problem.1980

2. John Philo Dixon, The Spatial Child, 1983, Peletakan dasar-dasar gaya belajar.

3. David Elkind The hurried child; growing up to fast too soon, 1989

4. Alvin Toffler; The Future  Shock, New York, 1991

5. Thomas G West, In the mind’s eye, Visual Thinker, Gifted Child with Learning Difficulties, 1991

6. Howard Gardner, The Frame of Minds, 1993, Dasar-dasar Multiple Intelligence

7. Ronald Kotulak, Inside of The Brain ; Revolutionary Discoveries of How the mind works. 1994

8. Temple Grandin, Thinking in a pictures, 1996

9. Thomas Amstrong, The Myth of the ADD Child, 1997

10. Ronald D Davis, The Gift of Dyslexia, Why some of the smartest people can’t read, and how can they learn. 1997

11. Barbara Meister Vitale, Unicorns are Real, The Right Brain Approach Learning, 1997

12. Jeffrey Freed & Laurie Parsons, Right Brain Children in left Brain World. 2006

===========================
MARI KITA TEMUKAN POTENSI EMAS DALAM DIRI ANAK-ANAK KITA MELALUI PROGRAM OBSREVASI ANAK yanga akan kami selenggarakan di Liburan Desember mendatang di Singaraja, Bulelelng, Bali.

info lengkap: https://www.facebook.com/141694892568287/photos/a.144983902239386.35784.141694892568287/996768320394269/?type=3&theater

========================================

Membantu Anak Otak Kanan belajar:

1. Gunakan tempat yang tenang
2. Temukan minatnya dan mulai mengajari apapun melalui hal yang menarik minatnya. Jika ia suka mobil bicaralah mulai dari mobil dsbnya.
3. Jika ia ingin belajar sambil bergerak-gerak maka ijinkanlah ia malakukan itu
4. Jelasakan untuk apa kita harus mempelajari sesuatu agar dia bisa melihat gambaran besar dan tujuan akhirnya.
5. Gunakan alat peraga dan contoh-contoh ilustrasi untuk mengambarkan apa yang sedang anda jelaskan misalnya konsep tambah, kurang dan bagi.
6. Latihlah kecepatan untuk Visualisasi dan kemampuan merekam gambar .

a. Latihan tahap dasar visualisasi;  misalnya membayangkan sebuah aktivitas yang dilakukan seperti; berangkat ke sekolah, mengerjakan sesuatu dirumah dsb, persis seperti proses hipnoteraphy. Bayangkan kamu sekarang malangkah menuju lemari es, bayangkan sekarang kamu buka, tolong ambilkan mama jeruk dan susu, kemudian tuangkan susunya kedalam gelas, bawa gelas berisi susu dan jeruk itu ke kamar mama.  Jika anak anda sudah bisa mengulangi prosesnya secara runtut artinya dia sudah mulai terlatih kemampuan visualisasinya.

b. Latihan tahap lanjutan visualisasi mengingat gambar;  Minta dia melihat gambar dan anda sebutkan namanya; minta ia memejamkan mata; tanya apakah gambar itu sudah muncul di bayangan pikirannya.

c. Latihan Lanjutan Visualisasi mengingat Angka dan urutannya,  Latihan ini dimulai dengan mengingat angka 1 s/d 10 satu demi satu, perlihatkan gambar angka 1 s/d 10 satu persatu, kemudian setelah ia berhasil mengingatnya minta anak anda untuk mengurutkan dari depan kebelakang, setelah itu minta ia mengurutkannya dari 10 ke 1,  jika berhasil maka dia sudah mulai terlatih untuk menggunakan kemampuan unggulnya.

d. Latihan Lanjutan Visualisasi mengingat Huruf dan urutannya,  Latihan ini dimulai dengan pengenalan huruf satu demi satu; dengan metode mata terpejam,  apabila ini sudah terekam maka mintalah anak anda untuk mengurutkan 10 huruf pertama dari depan dan dari belakang. Terus berlanjut.

7. Latihan membaca Dasar
Latihan Membanca dimulai dari latihan mengeja; mengeja adalah kemampuan dasar dalam membangun kepercayaan diri anak otak kanan.
a. Latihan Mengeja
i. Menggunakan suku kata berwarna warni. misalnya:  pe sa wat contoh lainnya misalnya :  KU TI LANG dan sebagainya, pada saat latihan mengeja warna maka tulislah huruf itu dengan ukuran yang lebih besar, kemudian perlihatkan pada anak anda lalu mintalah anak anda untuk memejamkan mata atau mengingat tiap suku kata beserta warnanya.  Kita harus bersabar untuk melatih ingatan fotografis anak kita. untuk awal-awalnya anak kita perlu waktu kira-kira 20 detik untuk mengingat tiap suku kata.  Namun makin lama makin cepat karena terbiasa.

Setelah anak mengingatnya maka mintalah ia untuk mengejanya secara lisan boleh sambil tetap menatap ke atas, karena menatap ke anda akan mengganggu proses pengambilan gambarnya. Terus dukung dan pujilah setiap usaha kerasnya.

Kalo sudah berhasil maka mintalah anak anda untuk mengeja terbalik misalnya Lang Ti Ku untuk Kutilang.  Anda akan terkejut bahwa anak anda bisa mengeja terbalik sama cepatnya dengan mengeja normal.

Tambah tingkat kesulitan dengan mencari kata yang lebih panjang seperti ka ri ka tu ris atau gunakan beberapa kata sekaligus pe sa wat te le pon geng gam

Variasikan kegiatan dengan menghitung huruf misalnya ada berapa huruf “a” pada kata Pesawat Telepon Genggam. dan ada berapa huruf  “e” nya.

Catatan penting;  Katakan pada anak anda jangan berusaha mengeja; sebelum ia berhasil membayangkan kata-kata tersebut di dalam pikirannya.

Setelah betul-betul lancar barulah perlahan-lahan anda meminta anak anda mengeja dari buku dengan metode visualisasi dipercepat atau langsung.

ii. Permainan Mengeja – Mencari kata di kamus atau peta
Pilihlah satu kata untuk anak kita lalu minta ia untuk mengejanya maju mundur mis;  Se la Tan menjadi Tan La Se selanjutnya mintalah ia untuk memilihkan kata buat kita dan kita mengejanya juga maju mundur, bila berhasil maka masing-masing pihak mendapat poin 1 dsb.

Bisa juga katanya di ambil dari kota yang ada di peta,  jadi selain belajar kata anak juga belajar ilmu bumi.

iii. Permainan Mengeja – Tebak Kata
Ambilah sebuah kata dari kamus atau peta, kemudian mintalah anak anda untuk menebak;  misalnya  Inggris;  jika ia menebak;  apakah ada huruf “i” didalam kata tersebut; maka kita jawab ya ada satu di awal kata dan satu diurutan ke lima.  Apakah ada huruf “g” nya. ya ada dua buah di tengah.  “Nah anak kita cuma boleh bertanya 2 kali setelah itu dia harus menebak kata apa itu.

iv. Variasi lain Mengeja  untuk anak yang cenderung Kinestetik
1. Penggunakan huruf dengan objek timbul; biarkan dia meraba dan mengeja apa yang dirabanya.
2. Tuliskan huruf di punggungnya suruhlah ia untuk menebak hurufnya.
3. Buatlah huruf-huruf dangan bantuan ranting, atau biji-bijian atau sejenisnya.

4. Mintalah anak anda mengetik di komputer lalu eja dengan benar jika berhasil maka kemudian print hasil ketikannya dan mintalah ia untuk menempelnya di dinding ruang tidurnya.

by Ayah Edy Wiyono​
Pusat Solusi Parenting Indonesia
Praktisi Multiple Intelligence & Holistic Learning
www.ayahkita.blogspot.com

Mengapa disekolah, kami lebih mendidik anak untuk menjadi lebih Bijaksana dan bukannya menjadi lebih cerdas ?



Dan semboyan sekolah kami adalah Above all is a wisdom ?

Mari kita simak alasannya:

SI CERDAS DAN SI BIJAK

Suatu hari disebuah desa dekat Hutan ada seorang anak muda yang cerdas, yang sering mengamati burung2 di hutan tersebut.

Saking cerdasnya hanya dengan kicauannya saja, anak tersebut selalu tepat menyebutkan jenis apa burung tersebut, dan bahkan tidak hanya itu dari kepakan sayap saja, dari kejauhan ia bisa menduga burung apa gerangan yang ada di atas pohon di hutan tsb.

Karena cerdasnya ia oleh penduduk desa di panggil sebagai "si Cerdas".

Namun demikian di desa itu juga terkenal ada seorang pertapa yang terkenal sangat bijak; dan karena pemikirannya yang bijak di panggilan pertapa tersebut "si Bijak."

Suatu ketika si anak ini ingin bahwa penduduk desa lebih menghormati dirinya dari pada si Bijak pertapa tadi, maka akhirnya ia mengajak penduduk desa untuk ramai2 mendatangi si bijak bersama anak tersebut untuk menguji pemikiran siapa yang lebih baik di antara mereka.

Pagi2 sekali si Cerdas sudah pergi ke hutan untuk menangkap seekor burung kecil, lalu burung di pegang dan di bawa ketempat tinggal sang pertapa.

Rupanya disana sudah banyak sekali penduduk dusun tersebut berkumpul untuk menunggu datangnya Si Cerdas untuk menunjukkan kebolehannya di depan Si Bijak, sang pertapa.

Wah senang sekali hati si anak cerdas ini;
"Sekaranglah saatnya penduduk kampung bisa melihat siapa diantara kita yang lebih hebat dan lebih patut di hormati di kampung ini". Pikirnya dalam batin.

Terlihat disana Sang pertapa sedang duduk santai memejamkan mata, sambil duduk bersila di atas pertapaanya dengan posisi teratai.

Tiba2 dari kejauhan di depan sang pertapa anak ini berteriak;
"Hai pertapa aku ingin mengujimu apakah memang benar jika kamu itu tahu segalanya? "

Mendengar teriakan yang sangat keras itu Sang Pertapa perlahan membuka matanya yang terpejam, dan tersenyum lembut sambil berkata; "Ada apa anakku ?"

Lalu sekali lagi anak itu berteriak: "Aku ingin membuktikan apakah memang benar kamu adalah orang yang bisa mengetahui segalanya ?"

Lalu Sang pertapa kembali tersenyum lembut.....tanpa berujar apapun.

"Kalau memang kamu tahu segalanya; ini di tanganku aku sedang memegang seekor burung kecil"
(tangan anak itu di sembunyikan di belakang pinggangnya hingga tak terlihat oleh Sang Pertapa).

"Coba kamu tebak apakah burung yang ada di genggaman tanganku ini dalam keadaan hidup atau mati ?"

Lalu pertapa itu kembali tersenyum lembut.....

"Ayo cepat tebak !", teriak si anak muda dengan tidak sabar.

"Ayo tebak, jangan hanya tersenyum2 saja, ayo segera buktikan jika memang tebakanmu kali ini benar, agar penduduk desa ini bisa segera mengetahui kamu atau aku yang lebih hebat."
Teriak si anak dengan lantangnya.

Sambil tersenyum lembut; Sang pertapa menjawab;
"Tentu saja burung yang ada di tanganmu itu dalam keadaan mati Nak"

"Ha...ha....ha...., anak itu tertawa dengan puas, lihatlah ternyata kali ini kamu salah!, dan betapa bodohnya kamu, tidak bisa menjawab pertanyaanku yang sangat mudah ini." Teriak anak si anak cerdas, sambil melepas burung kecil itu untuk terbang bebas ke angkasa.

Dan penduduk desa itupun segera saja bersorak2 mengelu-elukan si Anak cerdas ini.

"Dasar orang tua bodoh, menjawab masalah seperti ini saja kamu tidak bisa dan jalas2 salah." Teriak anak tersebut sambil melihat kepada penduduk desa yang menyaksikan unjuk kebolehan tersebut.

Sambil tersenyum Pertapa Bijak itu berkata;

"Anakku sayang; tidak apa nak, kali ini aku menjadi terlihat bodoh didepan semua orang yang hadir disini"

"Aku memilih terlihat bodoh untuk membuat burung itu tetap hidup di genggaman tanganmu, aku memilih menjadi terlihat bodoh agar burung tersebut bisa segera engkau lepaskan dan terbang kembli ke sarangnya di atas pohon sana agar bisa segera memberi makan anak-anaknya."

"Bukankah sejak pagi engkau telah menangkap burung itu, dan sejak pagi pula anak-anak burung itu menunggu orang tuanya kembali untuk memberinya makan?"

"Aku memilih terlihat bodoh karena aku sadar bahwa nasib burung kecil itu dan anaknya sangat tergantung dari jawabanku kepadamu."

Dan sejenak penduduk desa tertegun mendengar jawaban sang pertapa bijak tersebut, dan setelah memahami arti ucapan dari sang pertapa; maka serentak penduduk desa tersebut berbaris dan memberi hormat yang tulus pada sang pertapa bijak tersebut.

Begitu pula si anak cerdas tadi, perlahan2 iapun menyadari betapa hebatnya pemikiran si kakek tua ini.

Dan terlihat iapun membungkukkan badannya untuk memberi hormatnya pada Sang pertapa bijak tadi.

Nah... bagi anda sendiri pelajaran apakah yang bisa kita dapatkan dari kisah ini...?

ayah edy
Pimpinan sekolah Maha Karya Gangga
Singaraja, Buleleng, Bali
web: www.ayahkita.com

Mengapa ibu adalah Madrasah pertama & utama bagi anak ?



Teori terdahulu menyebutkan karakteristik dan sifat2 bawaan seorang anak diwariskan dari ibu dan bapaknya dalam proporsi 50 : 50. Artinya, ayah dan ibu memberikan sumbangan yang sebanding dan setara dalam diri seorang anak.

Akan tetapi, penelitian biologi molekuler terbaru menemukan bahwa seorang ibu mewariskan 75% unsur genetikanya kepada anak, sedangkan bapak hanya 25%. Oleh karena itu, sifat baik, kecerdasan, dan kesolehan seorang anak sangat ditentukan oleh sifat baik, kecerdasan dan kesolehan ibunya.

Apa yang disabdakan Rasulullah Muhammad SAW, ternyata memiliki kesesuaian dengan fakta ini.

Bahwa ibu adalah Madrasah pertama bg anak, Madrasah dalam arti yg lebih luas lagi, yg berperan besar dlm proses tumbuh kembang anaknya mulai sejak dalam kandungan hingga dilahirkan dan kelak menjadi remaja.

Mari kita lihat lebih jauh. Di dalam sel-sel manusia terdapat sebuah organel yang memiliki fungsi sangat strategis, namanya mitokondria.

Organel berbentuk bulat lonjong ini berongga, selaputnya terdiri atas dua lapis membran. Membran dalam bertonjolan ke dalam rongga (matriks) dan mengandung banyak enzim pernapasan.

Tugas utama mitokondria adalah memproduksi bahan kimia tubuh bernama ATP (adenosin triphosphat). Energi yang dihasilkan dari reaksi ATP inilah yang kemudian menjadi sumber energi bagi manusia.

Mitokondria bersifat semiotonom krn 40% kebutuhan protein dan enzim dihasilkan sendiri oleh gennya.

Mitokondria adalah salah satu bagian sel yang memiliki DNA sendiri, selebihnya dihasilkan gen di inti sel.

Sekali lagi, dan ini sangat menarik, mitokondria hanya diwariskan oleh ibu, tidak oleh bapak. Mengapa? Krn mitokondria berasal dr sel telur bukan dari sel sperma. Itulah sebabnya, investasi seorang ibu dalam diri anak mencapai 75%.

Kita dapat berkata, inilah “organel cinta” seorang ibu yang menghubungkan kita dengan Allah dan kesemestaan.

Tanpa kehadiran mitokondria, hidup menjadi hampa, tidak ada energi yang mampu menggelorakan semangat.

Tanpa mitokondria, kita tdk dpt melihat, mendengar, hingga akhirnya tdk bs membaca, mencerna dan merasa.

Oleh karena itu, kita jangan heran jika kontak batin antara ibu dan anaknya sangat kuat dan intens. Jarak sejauh apapun tidak bisa menghalangi sensitivitas hati seorang ibu.

Hal ini memperlihatkan adanya energi cinta yang menembus dimensi. Teori superstring yang kita ambil dr ilmu fisika bs sedikit memperjelas hal ini. Para ilmuwan di MIT, yang tergabung dalam kelompok 18, menemukan sebuah supersimetri, yaitu sebuah persamaan matematika yang menciptakan ruang di alam semesta tt terdiri atas 57 bentuk dalam 248 dimensi. Konsep supersimetri menyebutkan, andai dunia ini dibagi2 menjadi bentuk apapun, sebenarnya hanya ada satu titik yang melingkupinya.

Artinya, ilmu pengetahuan menemukan bahwa jarak itu tdk bs membatasi jiwa dan ruh yang bersemayam dalam satu titik yang sama.

Jika kita menggunakan konsep ini, dimana pun berada, hati seorang ibu selalu berada di titik yang sama.

Itulah sebabnya, apa yang dirasakan anak dan apa yang dirasakan ibu, bioelektriknya berada pada titik yang sama.

Mitokondrianya berada dalam posisi yang sama sehingga titik pertemuannya pun sama. Dengan kata lain, perasaan seorang ibu kepada anaknya bagaikan perasaan dia terhadap dirinya sendiri.

(The Secret of Mother).

Share from a friend
for Ayah Edy communities

MENGAPA SETIAP GURU DAN ORANG TUA PERLU MEMBACA BUKU INI..?


Berdasarkan catatan sejarah, dahulu zaman Presiden Soekarno, kebanyakan orang Malaysia menuntut ilmu di perguruan-perguruan tinggi di Indonesia. Dahulu, kebanyakan petani-petani Vietnam belajar ilmu pertanian di Institut Pertanian di Indonesia.

Namun, saat ini segalanya serba terbalik, mereka tidak lagi mau belajar di Indonesia karena perguruan-perguruan tinggi yang ada di negara mereka jauh lebih maju daripada yang ada di negara kita.

Dan yang juga membuat prihatin adalah pertanian di negara-negara yang dulu belajar dari Indonesia, sekarang sudah jauh lebih maju dari negara kita. Dan setiap produk pertanian, perikanan, dan peternakan terbaik selalu diberi embel-embel kata Siam atau Bangkok. Sebut saja Labu Siam, Sepat Siam, Jambu Bangkok, Ayam Bangkok, dan berbagai Bangkok-Bangkok lainnya.

Ada apa dengan negara kita? 

Ada apa dengan dunia pendidikan kita? 

Mengapa kita bisa tertinggal jauh dari negara-negara yang dulunya justru belajar dari kita? 

Tidakkah kita menyadari ini semua? Tidakkah kita peduli?

Seorang pengamat pendidikan mengatakan bahwa awal kehancuran dari suatu bangsa ditandai oleh kehancuran generasi mudanya. Dan awal kehancuran dari generasi muda dimulai dari pendidikan di sekolah dan di rumahnya, yang pada akhirnya membentuk pola pikir, cara pandang, dan budaya suatu generasi.

Hal ini pernah terjadi di Eropa. Dahulu kala, Inggris dan Spanyol adalah bangsa yang memiliki kemampuan seimbang dalam berbagai bidang. Namun, setelah beberapa generasi, Inggris jauh mengungguli Spanyol dalam berbagai bidang. Hal ini disebabkan, salah satunya, budaya yang berkembang pada masyarakatnya sangat jauh berbeda.

Di Spanyol, budaya yang berkembang adalah budaya melankolis, telenovela yang sehari-hari mencekoki anak-anak dan generasi mudanya dengan kisah-kisah percintaan, perselingkuhan, saling menjatuhkan, pertengkaran, tipu muslihat, dan sebagainya.

Sementara di Inggris, kisah-kisah yang dibangun adalah budaya kepahlawanan dan petualangan sehingga jiwa para generasi mudanya menjadi jauh lebih sehat dan selalu menyukai tantangan hidup.

Kembali lagi kepada seorang pengamat pendidikan dari Amerika yang mengingatkan tentang terjadinya pergeseran budaya pada anak kita atau pada generasi muda.

Hal ini janganlah dianggap enteng karena tanda-tanda ini bisa menjadi petunjuk awal kehancuran suatu bangsa. Paling tidak terdapat sepuluh tanda gejala kemunduran dan kehancuran suatu bangsa yang disampaikan oleh Thomas Lickona. 

Apa saja tanda-tanda tersebut?
1. Meningkatnya perilaku kekerasan di kalangan remaja dan masyarakat.
2. Penggunaan bahasa yang kasar, kotor, dan ejekan.
3. Pengaruh teman dan lingkungan melebihi pengaruh keluarga.
4. Meningkatnya penyalahgunaan obat terlarang dan perilaku seks bebas.
5. Lenyapnya nilai moral dan kebenaran dalam kehidupan masyarakat.
6. Menurunnya rasa kebangsaan dan cinta tanah air.
7. Rendahnya rasa hormat anak kepada orangtua dan para guru.
8. Meningkatnya tayangan-tayangan media massa yang merusak mental anak.
9. Kecurangan (korupsi dan manipulasi) terjadi di mana-mana.
10. Meningkatnya kecurigaan dan kebencian di antara sesama warga negara.

Mari kita renungkan sepuluh tanda kehancuran suatu bangsa di atas, apakah tanda-tanda itu sebagian muncul di Indonesia? 

Atau mungkin malah semuanya? 

Bagaimana menurut Anda?

Jika ternyata jawaban kita adalah “ya” lalu apa yang dapat kita lakukan?

Thomas Lickona juga menyampaikan bahwa dari sistem pendidikanlah semua persoalan bermuara. Oleh karena itu, marilah kita benahi sistem dan cara mendidik anak-anak kita di rumah dan di sekolah.

Jika membenahi sistem pendidikan tampaknya sulit bagi kita, paling tidak mari kita mulai dari rumah sendiri, dari hal-hal kecil yang kita bisa dan mari mulai saat ini juga.

Bersama-sama mari kita bangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga!
Let’s make Indonesian Strong from Home!

Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Selamat membaca dan mendapatkan inspirasi!

Salam hangat, Ayah Edy
Penulis dan Penggagas Program Indonesian Strong from Home
www.ayahkita.blogspot.com


Mana yang lebih baik uang Rp 100.000 atau Rp 1.000 an ?



Uang kertas Rp1,000 dan Rp 100,000 dibuat dari kertas yg sama dan diedarkan oleh Bank Indonesia (BI).

Ketika dicetak, mereka bersama, tetapi berpisah di bank dan beredar di masyarakat.

Bagaimanapun, 4 bulan kemudian mereka bertemu secara tidak sengaja di dalam dompet seorang pemuda.

Maka mereka pun ngobrol:
Uang Rp 100,000 bertanya kepada Rp 1,000 ; "Kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan berbau amis?"

Rp 1,000 menjawab; "Karena begitu aku keluar dari bank, terus ke tangan orang bawah dari kalangan buruh, penjaja, penjual ikan dan di tangan pengemis.

" Lalu Rp 1,000 bertanya balik kepada Rp 100,000; "Kenapa kau begitu baru, rapi dan masih bersih?"

Rp 100,000 menjawab; "Karena begitu aku keluar dari bank, terus disambut perempuan cantik, dan beredarnya pun di restoran mahal, di kompleks pasar raya mall bergengsi dan juga hotel berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet."

Lalu Rp 1,000 bertanya lagi;

"Pernahkah engkau berada di tempat ibadah?

" Rp 100,000 menjawab;
"Belum pernah"

Rp 1,000 pun berkata lagi;
"Ketahuilah walaupun aku hanya Rp 1,000 tetapi aku selalu berada di seluruh tempat ibadah, dan di tangan anak-anak yatim piatu dan fakir miskin bahkan aku bersyukur kepada Tuhan semesta alam.

Aku tidak dipandang sebagai sebuah nilai, tetapi adalah sebuah manfaat bagi lebih banyak orang.

Lantas menangislah Rp 100,000 karena merasa besar, hebat, tinggi, lebih baik dan lebih rapi tetapi tidak begitu bermanfaat selama ini.

Apa hikmah yang bisa kita petik dari obrolan mereka ?

di tulis ulang oleh Ayah Edy untuk komunitas,
a sharing from group WA

www.ayahkita.com

Sepotong kisah dari Ibnu Arabi dalam Futuhat al-Makkiyah



Di satu pagi, seorang santri menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi. “Wahai Tuan Guru, semalam aku mengkhatamkan Alquran dalam sholat malamku.”

Sang Guru tersenyum. “Bagus Nak. Nanti tolong hadirkan bayangan diriku di hadapanmu saat kau baca Alquran itu. Rasakanlah seolah-olah aku sedang menyimak apa yang engkau baca.”

Esok harinya, sang murid datang dan melapor pada gurunya. “Tuan Guru,” katanya, “Semalam aku hanya sanggup menyelesaikan separuh dari Alquran itu.”

“Engkau sungguh telah berbuat baik,” ujar sang guru sembari menepuk pundaknya. “Nanti malam lakukan lagi dan kali ini hadirkan wajah para sahabat Nabi yang telah mendengar Alquran itu langsung dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Bayangkanlah baik-baik bahwa mereka sedang mendengarkan dan memeriksa bacaanmu.”

Pagi-pagi buta, sang murid kembali menghadap dan mengadu. “Duh Guru,” keluhnya, “Semalam bahkan hanya sepertiga Alquran yang dapat aku lafalkan.”

“Alhamdulillah, engkau telah berbuat baik,” kata sang guru mengelus kepala si santri. “Nanti malam bacalah Alquran dengan lebih baik lagi, sebab yang akan hadir di hadapanmu untuk menyimak adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri. Orang yang kepadanya Alquran diturunkan.''

Seusai shalat Shubuh, sang guru bertanya, “Bagaimana shalatmu semalam?” “Aku hanya mampu membaca satu juz, Guru,” kata si santri sambil mendesah, “Itu pun dengan susah payah.”

“Masya Allah,” kata sang guru sambil memeluk sang santri dengan bangga. “Teruskan kebaikan itu, Nak. Dan nanti malam tolong hadirkan Allah di hadapanmu. Sungguh, selama ini pun sebenarnya Allah-lah yang mendengarkan bacaanmu. Allah yang telah menurunkan Alquran. Dia selalu hadir di dekatmu. Jikapun engkau tidak melihat-Nya, Dia pasti melihatmu. Ingat baik-baik. Hadirkan Allah, karena Dia mendengar dan menjawab apa yang engkau baca.”

Keesokan harinya, ternyata santri itu jatuh sakit. Sang Guru pun datang menjenguknya. “Ada apa denganmu?” tanya Sang Guru.

Sang santri berlinang air mata. “Demi Allah, wahai Tuan Guru,” ujarnya, “Semalam aku tak mampu menyelesaikan bacaanku. Walaupun, Cuma al-Fatihah aku tak sanggup menamatkannya. Ketika sampai pada ayat, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin” lidahku kelu. Aku merasa aku sedang berdusta. Di mulut aku ucapkan “Kepada-Mu ya Allah, aku menyembah” tapi jauh di dalam hatiku aku tahu, aku sering memperhatikan yang selain Dia. Ayat itu tak mau keluar dari lisanku. Aku menangis dan tetap saja tak mampu menyelesaikannya.”

“Nak...,” kata sang guru sambil berlinang air mata, “Mulai hari ini engkaulah guruku. Dan sungguh aku ini muridmu. Ajarkan padaku apa yang telah kau peroleh. Sebab meski aku membimbingmu di jalan itu, aku sendiri belum pernah sampai pada puncak pemahaman yang kau dapat di hari ini.

#Copast dr grup WA