SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Selasa, 09 Desember 2014

MENGASUH DAN MENDIDIK ANAK BUKANLAH HANYA TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB PARA BUNDA, MELAINKAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB AYAH DAN BUNDA



Tahukah kita jika prilaku anak-anak usia dini kita sudah separah ini ?
(Jika kita merasa peduli tentang hal ini, Tolong dishare ke sebanyak-banyaknya orang tua dan guru, tksh)

Malam minggu yang lalu sy sedang berjalan kaki menyusuri perkampungan di sekitar perumahan, yang disana ada beberapa tempat2 yang agak gelap.

Sy terbelalak begitu melewati satu tempat, melihat banyak anak-anak laki dan perempuan kira-kira seusia SD kelas 6 sedang berduaan sepasang-sepasang. Dan yang membuat saya terbelalak adalah cara mereka berduaan adalah bak adegan film cinta, dimana yang laki-laki memangku pasangan wanitanya berhadap-hadapan dan ..... sy tak mampu lagi menceritakannya.

Saya sempat berhenti di tempat tersebut beberapa saat dan mereka rupanya risih juga ada saya disana memandangi mereka. Dan mereka mulai beringsut berdiri.

Saya hanya gelang-gelang kepala.... kira-kira ini orang tua si anak perempuan dan laki-lakinya tahu gak ya bahwa anak-anak mereka sedang disini dan melakukan ini?

Sahabatku para orang tua Indonesia, sungguh prihatin melihat peristiwa ini terjadi tak jauh dari perumahan penduduk.

Saya mengajak para orang tua disini mari, kita bangun kedekatan kita pada anak, mari kita batasi atau kalau bisa hilangkan tayangan2 tv yang di contoh oleh anak kita untuk melakukan adegan-adegan seperti ini. Sebagaimana kami telah memutus saluran tv dan menggantinya dengan dvd edukasi dan beberapa game adukasi bagi anak-anak kami.

Mari kita pilihkan mereka sekolah yang peduli akhlak dan etika moral, mari kita batasi anak keluar rumah jika tidak ada urusan yang penting dan berguna, mari kita biasakan agar anak keluar rumah selalu bersama orang tuanya.

Sebagai sesama pendidik, mari saya mengajak perbanyaklah cerita moral di kelas sebelum mengajar agar anak-anak kita terbangun etika moralnya dan bukan hanya meminta mereka mengerjakan soal-soal yang kelak nanti setelah dewasa tidak berguna bagi kehidupan mereka. Bagaimanapun akhlak jauh lebih baik daripada pelajaran apapun

"Tidak ada pemberian orangtua yang paling berharga kepada anaknya dari pada pendidikan akhlak mulia."
(HR Bukhori)

Kurikulum 2013 sudah tidak lagi mementingkan angka nilai melainkan lebih kepada pembentukan akhlak, etika prilaku anak, jadi mulailah ubah cara dan pola mendidik kita di kelas. Jangan lagi anak di bebani oleh tugas2 yang tidak penting bagi kehidupannya kelak seperti kurikulum KTSP sebelumnya

Ingatlah selalu, "Tidak ada cara yang lebih mudah untuk menghancurkan sebuah bangsa melainkan hancurkanlah generasi muda bangsanya."

Mari kita selamatkan anak-anak kita dari pergaulan yang merusak semacam ini.

Ingatlah wahai para orang tua, menyelamatkan keluarga dan anak kita adalah PERINTAH Yang Maha Kuasa, Ku anfusakum wa ahlikum naaro; "Selamatkanlah diri dan keluargamu dari panasnya api neraka (perbuatan2 yang membawa kita dan anak kita ke neraka)"

"Ingatlah selalu bahwa setiap orang tua adalah pemimpin bagi keluarganya, dan kelak di akhirat ia akan dimintai pertanggungjawaban atas anak-anak yang ia pimpinnya. "

Mari kita bangun Indonesia yang kuat dari keluarga
Kalau bukan kita siapa lagi? kalau bukan sekarang kapan lagi?

-ayah-
www.ayahkita.com

MARI KITA BELAJAR PARENTING
dengan cara mengUnduh CD talkshow ayah edy secara gratis

Tinggal Klik: www.ayahedy.tk

Atau klik:
https://onedrive.live.com/?cid=3a914018e2d83d92&id=3A914018E2D83D92%21131

via face book klik:
https://www.facebook.com/groups/548259441862337/files/

MARI BERHENTI MEMBENTAK ANAK dan gunakan The Power of “BERBISIK”



Allo ayah Edy namaku Lilian (bukan nama sesungguhnya) mami dari dua anak, anakku yg pertama, Bella (bukan nama sesungguhnya) sudah hampir 5 tahun, duh nakalnya minta ampun, hampir setiap hari aku harus teriak2 marahin.. aku jadi sering snewen sendiri tapi kadang2 aku jg suka merasa kasihan, apa gak ada cara lain selain marah dan teriak untuk buat dia nurut. Habis ia baru mau mendengarkan kalo aku sudah teriak dengan suara keras… Duh gimana ya... please ayah… help me… stress juga ya ngurus anak, ternyata lebih gampang urus kerjaan di kantor rasanya.

Bu Lilian yg baik,
Rasanya memang mengurus pekerjaan di kantor lebih mudah dari pada mengurus anak, ucapan ini sudah sering sekali saya dengar dari banyak orang tua. Tentu saja ini terjadi jika kita tidak mau belajar bagaimana menjadi orang tua yg baik, mengapa perlu belajar karena jelas sekali, jika kita ingin jadi Dokter ada sekolahnya, ingin jadi Pilot juga ada sekolahnya tapi jadi orang tua belum ada sekolahnya, lantas dari mana kita bisa belajar mengelola anak kita secara benar..? Padahal anak-anak kita sejatinya adalah Mahakarya dari Tuhannya. Jadi melalui fan page ini saya mengajak para orang tua di tanah air untuk menjadikan Komunitas Ayah Edy sebagai alternatif pengganti sekolahnya para orang tua.

Hal yg ibu Lilian alami sebenarnya sering juga di alami oleh ibu-ibu lainnya, hal ini terjadi karena pamahaman kita yang sangat minim tentang berbagai macam tipe anak. Pada dasarnya setiap anak terlahir unik tidak pernah ada yg sama dan memiliki tipe dan ciri masing-masing. Sekilas saya melihat bahwa mungkin Bella adalah tipe anak yang aktif, kreatif, suka bergerak, dan bicara. Itulah mengapa ia sering sulit mendengar ucapan orang tuanya pada saat ia sedang bergerak. Sebenarnya Bella sama sekali tidak bermaksud untuk membuat orang tuanya kesal apalagi marah, apa yang ia lakukan semata adalah untuk mengembangkan sistem syarafnya terutama sistem syaraf motoriknya agar kelak berkembang sempurna saat ia tumbuh besar.

Kesalahan yang paling sering dilakukan oleh para orang tua dalam mendidik anaknya adalah mengabaikan faktor-faktor penting dalam teknik berkomunikasi sehingga akhirnya seolah-olah anaknya seperti anak nakal yang tidak mau mendengar orang tuanya. Nah apa saja faktor-faktor tersebut:
1. Faktor berkomunikasi berhadapan empat mata tanpa masing-masing melakukan aktivitas lainnya, seperti bicara sambil berkomputer ria atau bicara sambil anaknya bermain. Stop semua aktivitas apapun saat kita hendak bicara dengan anak.
2. Faktor membuat kesepakatan bersama, membuat aturan main yang jelas beserta konsekuensinya.
3. Faktor menggunakan suara datar serta bahasa yg mudah dimengerti anak, tanpa disertai bentakan atau teriakan.
4. Faktor mengingatkan anak dengan menggunakan “Bisikan”

Nah untuk lebih jelasnya berikut kami jelaskan teknik penerapannya yang mungkin bisa ibu kembangkan sesuai situasi dan kondisi yg ibu hadapi:

1. Pada saat ibu ingin bicara maka segeralah memintanya untuk berhenti bergerak dengan cara memegang kedua tangannya, kemudian memintanya untuk duduk/berdiri sejenak dan menghadapkan wajah pada kita sehingga perhatiannya terpusat pada kita.

2. Setelah dia berhenti bergerak, katakan padanya “perhatikan sebentar, Mami mau bicara 2 menit saja, dengarkan baik-baik ya...” sambil tetap pegang kedua tangannya.

3. Bicaralah pelan-pelan tapi jelas maksudnya, apa yg anda inginkan bukan apa yg anda tidak inginkan “misalnya mama ingin kamu berhenti bermain remote tv mulai sekarang dan seterusnya !” penting untuk mengatakan kapan waktunya dimulai dan hingga kapan.

4. Tanyakan apakah ia mengerti apa yang anda katakan. Pastikan ia mengangguk atau mengatakan ya atau mengerti. Jauh lebih baik jika ia kita minta mengulang pesan yang kita sampaikan. Misalnya: “Coba kamu ulangi apa permintaan mami tadi” sambil kita bimbing.. “Mami ingin Bella berhenti bermain...dst”. Pujilah dengan mengatakan “Bagus Sekali”.

5. Jelaskan padanya aturan main konsekuensi jika ia melanggarnya, mis: “Jika kamu mainkan lagi maka kamu tidak boleh menonton film kesukaanmu hari ini,” atau apapun yang menurut ibu layak untuk sepakati.

6. Usahakan jika terjadi pelanggaran pertama anda tidak teriak malainkan datang kepadanya, pegang tangannya dan gunakan “The Power of Berbisik”. isi bisikannya bukan berupa ancaman melainkan mengingatkannya akan kesepakatan yg sudah kita buat. Mis. “Sssstttt... Bella sini dech mami bisikin”, “Bella sayang apakah kamu masing ingin nonton film kesukaan mu hari ini?” “Mami ingatkan Bella agar Bella nanti malam tetap bisa nonton film lho.”

7. Jika terjadi pelanggaran terus maka tidak perlu banyak bicara, laksanakan tindakan, amankan TVnya atau bagaimana caranya agar ia tidak nonton TV malam ini dan pastikan agar ia juga mengetahui bahwa maminya adalah orang yg tegas dan konsisten.



Saya selalu menerapkan aturan main yg jelas, membahas dan membuat kesepakatan bersama anak, lalu setelah itu hanya tinggal mengingatkannya dengan cara “BERBISIK”. Dan sejauh ini The Power of Berbisik betul-betul bekerja dengan baik untuk bisa mengelola prilaku anak saya. Saya saat ini jauh lebih jarang menggunakan teriakan melainkan lebih sering menggunakan bisikan.

Teknik ini juga sangat ampuh apa bila anak kita berusaha membuat ulah di tempat-tempat umum. Selamat mencoba berbisik dan berhenti berteriak...

Silahkan sharing pada siapa saja jika dirasa berguna dan bermanfaat

Salam,
-ayah edy-
www.ayahkita.com
Silahkan unduh talkshow parenting ayah edy 100% Gratis:

Tinggal Klik:
1. www.ayahedy.tk
2. https://onedrive.live.com/?cid=3a914018e2d83d92&id=3A914018E2D83D92%21131
3. via fb: https://www.facebook.com/groups/548259441862337/files/

Membeli buku ayah edy secara on line bisa tinggal klik:
1. https://www.facebook.com/NBTravelnTour
2. klik like
3. tulis pesanan buku di inbox

MENGAPA AKU MEMILIH TIDAK ADA TV DIRUMAHKU

Sahabat keluarga tercinta,

Mengapa aku, istriku, dan kedua anakku memilih untuk tidak memiliki tayangan tv di rumahku?

Dan kami menggantinya dengan buku-buku komik biografi orang2 terkenal dan program edukasi komputer dan majalah sains dan pengetahuan.

Begitu juga dengan Bunda Emma Sarah S Dawa salah seorang sahabat komunitas kita disini, melalui komentar singkat beliau sbb:

"ALHAMDULILLAH...d rumah kami tidak ada TV ,bukan karena kami ta mampu membelinya ,tapi karena kami belum mampu menjaga anak kami dari pengaruh buruk TV ."

Sebagai gantinya adalah membelikan buku2 utk anak kami
34 mins · Unlike · 2


Mari kita saksikan sebuah tayangan pesan moral anak-anak kita pada para orang tuanya yang masih menjadikan tv sebagai alat hiburan keluarga dirumah,

https://www.facebook.com/video.php?v=10205350188184200



Silahkan di share jika dirasa berguna dan bermanfaat.

RENUNGAN KEHIDUPAN BAGI PARA ORANG TUA



Saya banyak berjumpa dengan orang-orang yang ketika muda waktunya di habiskan hanya untuk cari uang dan harta hingga lupa waktu, lupa diri dan keluarga.

Dan ketika mereka sudah tua, uangnya dihabiskan hanya untuk mencari terapis bagi anak-anak mereka dan kesehatan mereka yang bermasalah.

Sadarilah bahwa hidup ini bukan semata hanya untuk mengumpulkan uang dan harta, melainkan untuk mengumpulkan waktu demi membangun kebahagiaan kita bersama keluarga.

-Gede Prama-
Guru Compassion

Sahabatku,
Sudahkah kita bermain bersama dengan anak kita malam ini ?
Sudahkah kita membacakan dongeng pengantar tidur anak kita malam ini?
Sudahkah kita kecup kening anak kita yang telah tertidur lelap saat kita pulang?

Ayo lakukanlah sesuatu saat ini juga untuk membangun kebahagian bersama keluarga, karena waktu kita tidak akan pernah bisa kita putar ulang kembali, sesal kemudian tiada berguna.

Salam syukur penuh berkah,
ayah edy
www.ayahkita.com

PESAN DR TAREQ AL HABEEB UNTUK PARA ORANG TUA

SEMOGA INI BISA MENJADI BAHAN RENUNGAN DAN EVALUASI DIRI BAGI KITA PARA ORANG TUA

Pesan Dr Tareq Al Habeeb pada para orang tua,

Lebih kurang jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut, jika ada kesalahan kata atau kalimat kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

1. Jika anakmu sering berbohong , itu karena kamu terlalu banyak menghukumnya.

2. Jika anakmu tidak percaya diri, itu karena kamu tidak pernah mendukung/memuji dan lebih banyak menghinanya.

3. Jika anakmu jarang bicara padamu, , itu karena kamu jarang bicara padanya.

4. Jika anakmu mencuri , itu karena kamu tidak mengajarinya cara berbagi yang adil.

5. Jika anakmu menjadi penakut itu karena kamu terlalu banyak melindunginya dan menakut-nakutinya.

6. Jika anakmu tidak hormat pada orang lain itu karena kamu suka bicara keras dan kasar pada anakmu

7. Jika anakmu cepat marah, itu karena kamu tidak pernah mendengarkan dan menghargainya.

8. Jika anakmu kikir, itu karena kamu tidak suka berbagi dengannya

9. Jika anakmu suka membully itu karena kamu sering melakukan kekerasan padanya.

10. Jika anakmu tidak tegar dan lemah, itu karena kamu sering mengancam dan mencelanya

11. Jika anakmu suka iri hati, itu karena kamu berlaku tidak adil dan suka menolak eksistensinya.

12. Jika anakmu suka iseng dan menggangu, itu karena kamu jarang memeluk, mencium dan memujinya.

13. Jika anakmu tidak menuruti nasehatmu , itu karena kamu terlau banyak menuntut.

14. Jika anakmu tidak pandai bergaul, itu karena kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu.

Share from a friend.... and please share for a friend


PENTING DIBACA OLEH PARA ORANG TUA YANG MENGALAMI VERTIGO Maag Akut dan Kronis, Migrain (Sakit Kepala Sebelah), Asam Urat (kaku sendi), Trigleserida, Kolesterol Tinggi (gampang lelah), gampang masuk angin dan terkena Flu.



Sahabatku apa kabarnya malam ini?

Saya dulu selalu punya keluhan Vertigo yang disebabkan oleh Maag Kronis dan Akut, tengah malam sering merasa perih dan kembung di lambung, mau tidak mau harus bangun cari makanan, pagi2 sekali sering mual karena jika terlambat sarapan langsung kumat.

Selain itu pundak sebelah kanan sering terasa kaku, dan telapak kaki terasa sakit saat menapak dan bahkan jari-jari tangan sering nyeri di persendian. Kata dokter ini adalah karena kadar kolesterol, trigliserida dan asam urat yang melampaui ambang batas normal. Plus sebentar2 terkena Flu dan Batuk.

Dulu saya sering mengkonsumsi obat untuk mengurangi rasa sakit tersebut, dan efeknya lari ke pinggang, mungkin karena obat2an pada akhirnya akan membuat ginjal kita tidak sehat.

Sy pun berdoa pada Tuhan apakah kiranya jalan keluar yang baik dan bebas efek samping untuk mengatasi keluhan ini semua, sementara waktu dan kesehatan bagi saya adalah hal yang sangat utama.

Dan akhirnya Tuhanpun memberikan sebuah artikel pada saya tentang manfaat jus MELON di campur Perasan Lemon tanpa diberi tambahan gula atau pemanis. Diminum sehari 3 kali seperti kita minum air putih biasa.

Mulanya saya ragu karena sy sering di sarankan oleh ahli Medis untuk menghindari makanan atau minuman yang asam, sementara perasan lemon itu bukan main asamnya. Terlebih lagi harus di minum sebelum makan.

Saya tadinya sempat ragu apakah artikel ini menjerumuskan atau memang menolong saya, tapi pantang bagi saya untuk meyakini sesuatu yang belum saya coba dan buktikan sendiri.

Pada awalnya saya coba perasan Lemonnya sedikit saja, khawatir ada hal-hal yang tidak saya inginkan, dan memang benar saja, awalnya terasa perih di lambung saat saya coba, "tapi rupanya belakangan sy ketahui itu disebabkan karena lemonnya mengenai sisi lambung saya yang luka".

Sehari, dua hari tiga hari terus saya coba dan perlahan2 dosis perasan lemonnya saya tambah (masih tetap tampa pemanis), dan tak terasa sekarang sudah 3 bulan saya melakukan itu.

Jika tidak ada lemon (karena harganya lagi mahal sekali) bisa di ganti dengan jeruk Nipis lokal. Bisa juga diminum dengan air hangat. 3 x sehari rutin selama 1 bulan dan lihat saja hasilnya.

Alhamdullilah segala keluhan saya yang berhubungan dengan Maag sudah tidak terjadi lagi, tidur malam nyenyak tanpa terganggu oleh perut yang perih. Vertigo sudah 3 bulan ini tidak pernah terjadi lagi. Pundak Enteng, Pinggang agak enak, dan mata saya jadi terang.

Oh iya jangan lupa kumur air putih setelahnya biar gigi tidak terasa ngilu, atau jika lupa minum air putih kita bisa gunakan air liur kita untuk melumasi gigi-gigi. Karena ternyata air liur itu bisa menjaga kesehatan gigi.

Siapa di antara kita yang sudah mencobanya ?

Yuk kita berbagi pengalaman disini, untuk membantu para orang tua yang mengalami keluhan yang sama. Karena kesehatan adalah segala-galanya, apa lagi jika anak-anak kita masih aktif dan membutuhkan perhatian kita secara penuh.

Selamat mencoba dan berbagi cerita..

Salam syukur penuh berkah,
ayah edy
www.ayahkita.com

ANAK-ANAK STEVE JOBS TIDAK BOLEH PAKAI IPAD


Unik juga ya, ternyata Bos Pembuat I Pad malah tidak mengijinkan anak-anaknya bermain Ipad, mengapa ?

Baca selengkapnya disini:
http://blog.sfgate.com/sfmoms/2014/09/15/steve-jobs-didnt-let-his-kids-use-ipads/

Steve Jobs didn’t let his kids use iPads

Steve Jobs was the father of two teenage girls and a son when he passed away in 2011. These kids grew up with a visionary father who co-founded one of the best-known tech companies. Jobs led the world into the digital age with gadgets that transformed the way we listen to music, watch movies, communicate, live our lives.
You would imagine that his children’s rooms would have been filled with iPods, iPhones and iPads.
That’s not the case.
In an article in the Sunday New York Times, reporter Nick Bilton says he once asked Jobs “So, your kids must love the iPad?”
Jobs response: “They haven’t used it. We limit how much technology our kids use at home.”
The Times article examines the growing trend among the California Silicon Valley tech set to limit children’s technology use. Many of the people behind the social media platforms, gadgets and games that are consuming our kids’ time and minds aren’t actually allowing their own children to waste an entire Saturday afternoon playing Minecraft on the iPad.
A quote in The Times from Chris Anderson, father of five and chief executive of 3D Robotics, pretty much defines why Anderson and his colleagues are limiting technology at home. “My kids accuse me and my wife of being fascists and overly concerned about tech, and they say that none of their friends have the same rules,” says Anderson, formerly the editor of Wired. “That’s because we have seen the dangers of technology firsthand. I’ve seen it in myself, I don’t want to see that happen to my kids.”
Some of these Silicon Valley engineers and execs are even going to the extreme of sending their kids to computer-free schools. A Times story from 2011 reported that engineers and execs from Apple, eBay, Google, Hewlett-Packard and Yahoo are sending their kids to a Waldorf elementary school in Los Altos, Calif., where you won’t find a single computer or screen of any sort. Also, kids are discouraged from watching television or logging on at home.
Alan Eagle, who works in executive communications at Google and has a degree in computer science from Dartmouth, has a fifth grader who attends the school and he told the Timesthat she “doesn’t know how to use Google.”
The thinking is that technology interferes with creativity and young minds learn best through movement, hands-on tasks, and human-to-human interaction. Students at this school are gaining math, patterning, and problem-solving skills by knitting socks. They aren’t exposed to fractions through a computer program. Instead they learn about halves and quarters by cutting up food
Are you surprised by any of this? Bilton certainly was when he had that conversation with Jobs in 2010. Bilton spoke with the Apple boss many times and says learning that Jobs was a low-tech parent was the most shocking bit of information that he ever heard.
I’m not surprised. As a parent who carries my iPhone with me everywhere so I can attempt to juggle work and three kids, I know how addictive those nifty little phones are. Whenever I’m driving and halt at a red light, I have to stop myself from picking up the phone to check that text that I just heard come through. It takes incredible discipline that I fear most teenagers don’t have.





Senin, 08 Desember 2014

PENTINGKAH ANAK-ANAK DI PERKENALKAN DENGAN DUNIA DIGITAL SEJAK USIA DINI ?

KETIKA KITA SIBUK DENGAN CALISTUNG MEREKA SIBUK MENGEMBANGKAN AKTIVITAS FISIK DAN KREATIFITAS ANAK


Ketika sekolah-sekolah lain memasukkan komputer dalam kurikulum dan berlomba membangun sekolah digital, Waldorf School of the Peninsula justru melakukan sebaliknya. Sekolah ini dengan sengaja menjauhkan anak-anak dari perangkat komputer.

Sekolah Waldorf justru fokus pada aktivitas fisik, kreativitas, dan kemampuan ketrampilan tangan para murid. Anak-anak tak diajarkan mengenal perangkat tablet atau laptop. Mereka biasa mencatat dengan kertas dan pulpen, menggunakan jarum rajut dan lem perekat ketika membuat prakarya, hingga bermain-main dengan tanah setelah selesai pelajaran olahraga.

Guru-guru di Waldorf percaya bahwa komputer justru akan menghambat kemampuan bergerak, berpikir kreatif, berinteraksi dengan manusia, hingga kepekaan dan kemampuan anak memperhatikan pelajaran.

Quote: Para petinggi di dunia IT ini membela keputusan sekolah Waldorf untuk tak memperkenalkan komputer ke anak-anak mereka:
 



Spoiler for #2
Banyak yang menganggap bahwa kebijakan yang di buat Waldorf itu keliru. Meski metode pembelajaran yang mereka gunakan sudah berusia lebih dari satu abad, perdebatan soal penggunaan komputer dalam proses belajar-mengajar masih terus berlanjut.

Menurut para pendidik dan orangtua murid di Sekolah Waldorf, sekolah dasar yang baik justru harus menghindarkan murid-muridnya dari komputer. Ini disetujui oleh Alan Eagle (50), yang menyekolahkan anaknya Andie di Waldorf School of the Peninsula:

“[Anak saya baik-baik saja, meskipun] tak tahu bagaimana caranya menggunakan Google. Anak saya yang lain, yang sekarang di kelas dua SMP, juga baru saja dikenalkan pada komputer,” tutur Eagle, yang bekerja untuk Google.


Eagle tak mempermasalahkan ironi antara statusnya sebagai staf ahli di Google dan kondisi anak-anaknya yang gaptek.

“Misalkan saja saya seorang sutradara yang baru menelurkan sebuah film dewasa. Meski film itu didaulat sebagai film terbaik yang pernah ada di dunia sekalipun, saya toh tak akan membiarkan anak-anak saya menonton film itu kalau umur mereka belum 17 tahun.”

Quote:Tanpa perangkat komputer atau kabel, kelas-kelas di Waldorf punya tampilan klasik dengan papan tulis dan kapur warna-warniQuote:

 

Spoiler for #3
Sekolah Waldorf tampil dengan gaya ruangan kelas yang klasik. Tak banyak perangkat elektronik, layar-layar komputer, atau kabel-kabel yang menghiasi ruangan. Berhias dinding-dinding kayu, kamu hanya akan menemukan papan tulis penuh coretan kapur warna-warni. Ada rak-rak penuh berbagai jenis ensiklopedia hingga meja-meja kayu dengan tumpukan buku-buku catatan dan pensil.

Andie yang duduk di kelas 5 mendapat pelajaran membuat kaos kaki. Ketrampilan merajut dipercaya membantu anak-anak belajar memahami pola dan hitungan. Menggunakan jarum dan benang bisa mengasah kemampuan memecahkan masalah dan belajar koordinasi. Saat pelajaran bahasa di kelas 2, anak-anak akan diajak berdiri melingkar. Mereka diminta mengulang kalimat yang diucapkan guru secara bergiliran. Gilirannya ditentukan dengan melempar penghapus atau bola. Ternyata, metode belajar ini bisa jadi salah satu cara untuk mensinkronkan tubuh dan otak.

Guru kelas Andie, Cathy Waheed, mengajarkan anak-anak mengenal pecahan dengan metode yang sangat sederhana. Yup, Waheed menggunakan buah apel, kue pai, atau roti yang dipotong-potong lalu dibagikan pada murid-muridnya.

“Saya yakin dengan cara ini mereka bisa lebih mudah mengenal hitungan pecahan,” ujar Waheed, yang merupakan lulusan Ilmu Komputer dan sempat bekerja sebagai teknisi

Quote:Menurut guru-guru Waldorf, mengajarkan siswa memakai komputer tak akan membuat mereka bertambah pintar. Sampai saat ini belum ada penelitian yang bisa menjelaskan kaitan keduanya.:


Spoiler for #4
Selain dari pengajar dan orang tua murid, para ahli pendidikan pun menegaskan:

“Penggunaan komputer di ruang kelas sebenarnya tidak ada alasan ilmiahnya. Sampai saat ini toh belum ada penelitian yang membuktikan bahwa keterampilan menggunakan komputer akan berpengaruh pada nilai tes atau prestasi mereka.”


Nah, apakah belajar hitungan pecahan dengan memotong apel atau merajut jauh lebih baik? Bagi Waldorf, pertanyaan ini sulit dibuktikan. Sebagai sekolah swasta, Waldorf tak berpedoman pada tes-tes dasar yang serupa dengan sekolah-sekolah lain. Mereka pun memang mengakui bahwa murid-muridnya tak akan dapat nilai setinggi anak-anak sekolah negeri jika diminta mengerjakan soal-soal tes umum. Bukan karena mereka bodoh, namun karena murid-murid Waldorf memang tak dijejali teori-teori matematika dasar sesuai kurikulum.

Namun, ketika diminta membuktikan efektivitas pendidikan di Waldorf, Association of Waldorf School di Amerika Utara menayangkan hasil penelitian yang tak main-main:

“94% siswa lulusan SMA Waldorf di Amerika Serikat di antara tahun 1994 sampai 2004 berhasil masuk di berbagai jurusan di kampus-kampus bergengsi seperti Oberlin, Berkeley, dan Vassar.”


Selain faktor minimnya teknologi, kualitas pengajar yang baik di Waldorf juga dinilai berpengaruh pada keberhasilan sekolah tersebut mengirim anak-anaknya ke universitas-universitas bergengsi di Amerika. Waldorf memang tak sembarangan dalam memilih guru. Selain berpendidikan tinggi, mereka harus memiliki jam terbang yang mumpuni. Wajar saja jika Waldorf kemudian berhasil mengembangkan anak didik mereka menjadi hebat dan berprestasi.

Kualitas inilah yang kemudian membuat para orangtua percaya pada metode pengajaran Waldorf. Salah satu orangtua tersebut adalah Pierre Laurent (50), pendiri startup yang sebelumnya bekerja di Intel dan Microsoft. Bahkan saking terkesannya dengan metode Waldorf, Monica Laurent, istri Pierre, bergabung menjadi guru di sekolah ini sejak tahun 2006.

Quote:Waldorf memegang filosofi bahwa belajar-mengajar bukan perkara sederhana. Ini tentang bagaimana seharusnya menjadi manusia.





Spoiler for #5

Sebenarnya menurut Waldorf, memilih menggunakan teknologi komputer atau tidak bisa jadi sifatnya subyektif atau perkara pilihan. Terserah saja, menurut kebijakan sekolah masing-masing. Namun yang harus dicatat: ketika anak sudah dibiarkan lekat dengan komputer sejak dini, bisa saja ia akan ketergantungan dan sulit melepaskan gawai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Ann Flynn — petinggi National School Boards Association yang membawahi sekolah-sekolah negeri di Amerika — tetap bersikeras bahwa pelajaran komputer itu penting. Sementara Paul Thomas, mantan guru dan profesor pendidikan yang sudah menulis lebih dari 12 buku tentang metode pendidikan publik, lebih setuju pada Waldorf. Baginya, pendekatan yang minim teknologi di dalam kelas justru sangat bermanfaat.

“Mengajar adalah pengalaman manusia. Teknologi justru bisa jadi gangguan ketika mengenal huruf dan angka, belajar hitungan, dan berpikir kritis, “ ungkap Thomas.

Quote:Keahlian di bidang IT adalah modal untuk bersaing di dunia kerja. Tapi, haruskah itu menjadi alasan untuk mengenalkan komputer pada anak sejak dini?





Spoiler for #6
“Komputer itu sangat mudah. Kami di Google sengaja membuat perangkat yang ibaratnya bisa digunakan tanpa harus berpikir. Anak-anak toh tetap bisa mempelajari komputer sendiri jika usia mereka sudah dewasa.”
– Alan Eagle.

Singkatnya, Eagle menjelaskan bahwa komputer itu mudah dan bisa dipelajari lewat kursus kilat sekalipun. Jadi buat apa “membunuh” kreativitas alami anak dengan memaksa mereka mempelajari komputer sejak dini?

Bukan berarti anak-anak di Waldorf dan Silicon Valley sama sekali tak melek teknologi. Siswa-siswa kelas V di Waldorf mengaku sering menghabiskan waktu mereka dengan menonton film di rumah. Seorang siswa yang ayahnya bekerja sebagai teknisi di Apple mengaku sering diminta mencoba game baru ciptaan sang ayah. Sementara seorang murid biasa berkutat dengan flight control system di akhir pekan bersama orang tuanya.

Justru anak-anak ini sudah mendapat pengetahuan teknologi dalam porsi yang pas, mengingat kebanyakan orangtua mereka adalah penggiat industri teknologi. Berkat didikan di Waldorf, anak-anak Silicon Valley mengaku tak nyaman saat melihat orang-orang di sekitarnya sibuk dengan gadget mereka.

“Aku lebih suka menulis dengan kertas dan pulpen. Ini membuatku bisa membandingkan tulisanku saat kelas I dengan yang sekarang. Kalau aku menulis di komputer ‘kan… gaya tulisannya sama semua. Dan kalau komputermu tiba-tiba rusak atau mendadak mati listrik, pekerjaanmu jadi tak selesai ‘kan?” ungkap Finn Heilig, yang ayahnya bekerja di Google.

Quote:Quote:PenutupQuote:Sekali lagi, metode pendidikan tanpa komputer bukannya bermaksud menutup akses anak untuk mengenal teknologi. Kelak, di usia tertentu mereka tetap punya kesempatan untuk mempelajarinya. Sementara di masa kanak-kanak, mereka berhak mendapat kesempatan menjadi sebenar-benarnya anak-anak.

Bagaimana nasib adik-adikmu atau anak-anakmu sendiri kelak? Apakah lebih baik mereka dikenalkan dengan gadget dan perangkat teknologi sejak dini, atau lebih baik menunggu sampai saat yang benar-benar tepat?


YANG PALING MENARIK ADALAH BAHKAN STEVE JOBS TIDAK MENGIJINKAN ANAK-ANAKNYA BER IPAD RIA

http://blog.sfgate.com/sfmoms/2014/09/15/steve-jobs-didnt-let-his-kids-use-ipads/