SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY

SATU-SATUNYA SITUS RESMI AYAH EDY
Bagaimana caranya..? Gabung di FB: komunitas ayah edy, download talkshow di www.ayahedy.tk

Kamis, 18 Agustus 2016

MERIAHNYA ACARA HUT KEMERDEKAAN RI

Cuma Indonesia yang punya begini ya....
Meriahnya 17 Agustusan di Indonesia....
orang-orang asingpun ikut berpartisipasi....

 Bapak Presiden RI ikut berpartisi pasi

 
Orang Asing pun tidak mau ketinggalan

Tidak akan anda temukan di negara manapun di dunia

Anak-anak orang asingpun gak mau ketinggalan acara 

Tak akan terlupakan seumur hidup mereka

Mas dari Ausy ini rela diposisi kunci





MENGAPA ADA ORANG TUA YANG SUKSES TAPI JUGA ADA YANG GAGAL MENDIDIK ANAKNYA...?



Hampir setiap minggu saya memberikan program parenting, yakni sebuah program yang bertujuan untuk melatih para orangtua agar bisa memahami dan mendidik anaknya dengan cara yang lebih tepat sehingga kelak mereka akan menjadi orangtua yang dicintai oleh anaknya dan anaknya pun akan sukses mencapai potensi terbaik yang dimilikinya.

Dalam program parenting biasanya saya selalu menyampaikan bahwa dengan cara kita mendidik maka kita bebas untuk menentukan apakah kita akan menjadi orangtua yang ditakuti atau menjadi orangtua yang dicintai oleh anak kita. Secara pribadi saya katakan, jika saya menjadi anak tentunya mendambakan sebuah cara mendidik yang menjadikan saya patuh kepada orangtua karena saya mencintainya bukan karena saya takut kepadanya.

Tipe peserta parenting program beragam. Ada yang pasif, tetapi ada pula yang kritis dan berani berkata jujur.

Pernah seorang peserta menyela presentasi saya dan mengatakan, “Ayah Edy, maaf ya ... menurut saya program ini sepertinya enggak perlu, jujur saja, orangtua saya dulu tidak pernah ikut parenting program semacam ini, tapi kok ya saya juga jadi orang gitu lho. Lalu Anda sendiri bagaimana, apakah orangtua Anda dulu juga ikut program parenting gitu, lho?”

Wah, rupanya peserta saya ini selain kritis, berani, jujur, juga ternyata cukup gaul gitu, lho!

Saya menjawab bahwa saya bahagia sekali dengan adanya pernyataan spontan seperti itu yang disampaikan secara terbuka di depan umum. Karena selama ini sesungguhnya saya khawatir dan sudah menduga pasti ada orangtua yang berpikiran semacam ini. Namun, mungkin mereka tidak mau menyampaikan secara terbuka, melainkan hanya disimpan di dalam hati. Ini tentunya akan menjadi faktor penghambat terbesar bagi usahanya untuk menjadi orangtua yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Saya teringat salah seorang praktisi pendidikan anak pernah mengatakan bahwa kesalahan besar para orangtua dalam mendidik anak adalah dengan selalu melihat ke belakang dan bukannya melihat ke depan. Ibaratnya, seperti orang yang berjalan, jika kita selalu melihat ke belakang, kira-kira apa yang akan terjadi? Menurutnya lagi, ada dua kemungkinan besar penyebab mengapa walaupun orangtua kita dulu tidak mengikuti program parenting, tetapi anaknya tetap bisa mencapai sukses.

1. Naluri yang tepat dari orangtua
Setiap orangtua memiliki naluri mendidik anak, yang pada umumnya sebagian besar diwarisi secara turun-temurun dari orangtuanya, dan selanjutnya akan berkombinasi dengan tipologi kepribadiannya sendiri, serta lingkungan sekitar yang membentuknya.

Para orangtua yang mewarisi tradisi mendidik yang baik dari orangtuanya, ditambah dengan pola kepribadian seimbang, serta lingkungan yang baik pula akan melahirkan pola mendidik yang baik pada anaknya. Namun faktanya, tidak semua orangtua memiliki kepribadian seimbang dan tidak semua orang mewarisi cara mendidik yang baik dari orangtuanya. Itu artinya tidak semua orangtua memiliki naluri mendidik yang tepat jika hanya mengandalkan pengalaman masa lalunya.

Seorang peneliti perilaku pernah melakukan penelitian terhadap beberapa pemimpin yang otoriter dan tiran, seperti Hitler dan Pol Pot. Dia menemukan bahwa perilaku para pemimpin tiran itu adalah warisan turun-temurun dari pola didik keluarganya, artinya bahwa cara mendidik yang salah pun ternyata akan berlangsung secara turun-temurun dari generasi ke generasi kecuali ada satu generasi yang mau berusaha untuk mengakhirinya. Dan bagaimana mengakhirinya itulah mengapa program parenting diselenggarakan.

2. Kondisi lingkungan sekarang yang sangat jauh berbeda dengan zaman kita kecil dahulu

Seorang ahli pendidik mengatakan bahwa orangtua berperan 70% dalam proses membentuk pola perilaku anak. Jika orangtua tidak melakukan perannya dengan baik, lingkunganlah yang mengambil peran 70% tadi. Jadi, betapa beratnya tantangan orangtua saat ini yang harus berjuang berebut peran dengan lingkungannya.

Namun, saya yakin kita sepakat bahwa kondisi lingkungan masa kini sangat jauh sekali perbedaannya dengan kondisi lingkungan 30 tahun yang lalu, saat sebagian besar para orangtua dibesarkan.

Mari kita perhatikan perbedaannya. Kondisi lingkungan zaman Kartini dibesarkan tentu sangat jauh berbeda dengan zaman orangtua kita dibesarkan. Begitu juga kondisi lingkungan zaman kita dulu dibesarkan sangatlah berbeda dengan lingkungan zaman anak-anak kita saat ini.

Sementara, menurut penelitian, lingkungan merupakan faktor pembentuk terbesar ketiga terhadap pola perilaku anak setelah orangtua dan guru. Dan lingkungan akan menjadi faktor pembentuk perilaku pertama manakala orangtua dan guru tidak lagi berperan secara efektif.

Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan pergeseran yang terjadi antara generasi kita dan generasi anak kita.

Zaman kita dulu dibesarkan, ya ... masih ingat, ada berapa stasiun TV pada saat itu? Kemudian dari stasiun yang ada kala itu, program-program seperti apa yang banyak ditayangkan dan dicontoh oleh kita?
Bandingkan dengan zaman anak kita dibesarkan, ada berapa stasiun TV yang ada saat ini? Kemudian dari sekian banyak stasiun yang ada, program-program macam apakah yang banyak ditayangkan dan dicontoh oleh anak-anak kita sekarang?

Mari kita perhatikan lagi fakta berikut ini: Penyalahgunaan obat terlarang zaman kita dahulu dibesarkan baru merambah tingkatan perguruan tinggi dan remaja dengan usia rata-rata 25 tahun ke atas. Namun saat ini, penyalahgunaan obat-obat terlarang tersebut sudah merambah ke tingkat anak-anak usia sekolah dasar dan bahkan berhasil menembus masuk ke dalam sekolah.

Lalu, betapa mudahnya anak kita membeli surat kabar berisi berita kekerasan dengan harga yang sangat murah. Betapa video-video porno bebas beredar di tempat-tempat orang berkumpul menunggu angkutan umum dan harganya pun terjangkau oleh uang jajan anak-anak kita.

Wahai para orangtua yang berbahagia, mari sama-sama kita renungkan .... Apakah kita para orangtua dan guru masih mengambil peran utama dalam membentuk perilaku anak-anak kita saat ini? Ataukah justru peran utama itu secara tidak sadar ternyata sudah diambil alih oleh lingkungan.

Kita hidup pada zamannya dan anak kita hidup pada zamannya maka didiklah anak-anak kita sesuai zamannya.

Saya teringat sebuah pesan yang disampaikan oleh seorang yang agung dan bijaksana, begini kira-kira isinya: “Didiklah anakmu sesuai zamannya karena mereka kelak akan hidup di zaman yang berbeda dengan kita.”

Sungguh luar biasa bahwa hal ini telah dicetuskan oleh seorang yang bijak lebih dari 1300 tahun yang lalu, jauh sebelum para pendidik besar zaman ini memperjelas apa maksud mulia yang terkandung di dalamnya.

Wahai para orangtua yang berbahagia, kini semuanya berpulang kepada kita.

Apakah kita ingin tetap mendidik anak-anak dengan berpegang pada kesuksesan masa lalu kita atau kita akan mendidik mereka berdasarkan pandangan jauh ke depan bagi masa depannya.

Semoga kita termasuk ke dalam orangtua dan guru yang optimis.[]

Mari kita belajar Parenting.....

Ayah Edy

TOKOH-TOKOH BERJASA YANG MUNGKIN TIDAK BANYAK DI KETAHUI OLEH KITA


DULU KETIKA SELURUH KOMPONEN BANGSA BERSATU TANPA MENGENAL PERBEDAAN SUKU, AGAMA, RAS DAN GOLONGAN, KITA BISA MEMILIKI NEGARA YANG KITA SEBUT INDONESIA.

Kini jika kita tidak bersatu maka bisa jadi justru kita akan kehilangan negara yang dulu pernah di perjuangkan oleh para pendiri bangsa ini...

Mari kita bersatu untuk membangun Indonesia Tercinta.

Mari kita kenang kembali detik-detik Prokamasi yang mungkin tidak banyak dikethaui oleh kita

● _“Sekarang, Bung. Sekarang! Malam ini juga!”_ kata Chaerul Saleh kepada Bung Karno.
_”Kita harus segera merebut kekuasaan!”_ tukas Sukarni Kartodiwirjo berapi-api.
_”Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami!”_ seru para pemuda di rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

●Para pemuda, termasuk Wikana, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro datang ke rumah Bung Karno pada 15 Agustus 1945 pukul 22.00. Mereka mendesak Soekarno agar segera merumuskan naskah proklamasi begitu Jepang dikalahkan Sekutu pada 14 Agustus 1945.

●Tapi Bung Karno menolak keinginan mereka. Ia dan Bung Hatta ingin proklamasi dilakukan melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di mana Bung Karno menjadi Ketuanya.

●Para pemuda bersikeras agar Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan. Mereka beranggapan PPKI buatan Jepang. Mereka tidak ingin Bung Karno dan Bung Hatta terpengaruh Jepang dan tidak ingin kemerdekaan RI seolah-olah hadiah dari Jepang.

●Mereka lalu membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke rumah Djiaw Kie Siong di Rengasdengklok, Karawang, pada 16 Agustus 1945 pukul 03.00 dinihari, untuk merumuskan naskah proklamasi.

●Rengasdengklok dinilai aman, sedangkan di Jakarta para tentara Jepang bersiaga penuh.
_“Saya dan Guntur yang masih bayi ikut ke Rengasdengklok. Kami dijemput Sukarni dan Winoto Danuasmoro dengan mobil Fiat hitam kecil. Di dalam mobil sudah ada Bung Hatta,”_ cerita Fatmawati.

●Pada 16 Agustus 1945 tengah malam Achmad Soebardjo menjemput Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok. Sesampainya di Jakarta mereka disediakan tempat berkumpul di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda.

●Hubungan para nasionalis dekat dengan Maeda, Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang.
Ada 29 orang yang berkumpul di rumah Maeda pada malam itu.
Mereka adalah Ir.Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantoro (Mas Suwardi Soerjaningrat), Mr. Iwa Kusumasumantri, Mr. Teuku Mohammad Hassan, Otto Iskandar Dinata, R.Soepomo, BM Diah, Sukarni, dan beberapa tokoh lainnya.

●Selama mereka berunding merumuskan naskah proklamasi, Maeda naik ke lantai atas rumahnya.
Usai menulis naskah proklamasi bersama Mohammad Hatta dan Achmad Soebardjo, Soekarno membacakannya di hadapan para peserta rapat yang berkumpul di ruang tamu.

●Rapat baru selesai pada 17 Agustus 1945 pukul 03.00 dini hari, tanggal 9 Ramadhan.

●Setelah mendapat persetujuan dari semua hadirin, Bung Karno segera meminta Mohamad Ibnoe Sajoeti Melik mengetik naskah proklamasi.
Sajoeti mengetik naskah ditemani wartawan Boerhanoeddin Mohammad Diah (BM. Diah).

●Tiga kata dari konsep naskah proklamasi yang ditulis tangan oleh Bung Karno diketik Sajoeti dengan beberapa perubahan kata.
Kata ‘tempoh’ diubah menjadi ‘tempo’, kata ‘Wakil-wakil bangsa Indonesia’ diubah menjadi ‘Atas nama bangsa Indonesia’.
Begitu pula dalam penulisan hari, bulan, dan tahun.

●Tulisan tangan asli Bung Karno kemudian dibuang di tempat sampah oleh Sajoeti tapi dipungut oleh B.M. Diah, seorang penyiar Radio Hosokyoku dan wartawan Asia Raja.

●Begitu naskah proklamasi selesai diketik, Soekarno dan Mohammad Hatta segera menandatanganinya di atas piano di rumah Maeda.
Bung Hatta berpesan kepada para pemuda yang bekerja di kantor-kantor berita agar menyebarkan berita kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia.

●Hari Jumat, pukul 05.00 pagi, pada 17 Agustus 1945, mereka ke luar dari rumah Laksamana Maeda dengan bangga karena teks Proklamasi selesai ditulis.

●Bung Karno pulang ke Jalan Pegangsaan Timur 56 (kini Jalan Proklamasi), Jakarta. Ia sedang sakit malaria.
Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun naskah proklamasi.

●Pukul 08.00, dua jam sebelum upacara pembacaan teks Proklamasi, Bung Karno masih berbaring di kamarnya.
Ia minum obat kemudian tidur lagi.

●Pukul 09.00 Bung Karno terbangun. _“Saya greges (tak enak badan),”_ kata Bung Karno.
Ia kemudian berpakaian rapi, memakai kemeja dan celana putih.
Bung Hatta dan beberapa orang sudah menunggunya. Fatmawati sudah menyiapkan bendera merah putih.

●Pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 Bung Karno, Bung Hatta, dan para pemuda berkumpul di halaman depan rumah Bung Karno. Latief Hendraningrat menjadi pemimpin upacara bendera.

●Mereka mendengarkan Bung Karno membaca teks proklamasi dengan hikmad, terharu, dan bangga.
Beberapa orang menangis terharu. Lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman dinyanyikan dengan semangat meski tanpa iringan musik. Bendera merah putih dinaikkan.

●Setelah upacara yang singkat itu Bung Karno kembali ke kamar tidurnya. Tubuhnya masih demam. Tapi ia sangat bangga.

★Sebuah negara baru telah dilahirkan. Pagi itu Indonesia merdeka.

Merdeka !!! Merdeka !!! Merdeka !!!

DAN SEJAK ITULAH KITA MEMILIKI NEGERA YANG BERNAMA INDONESIA, NEGERA YANG BERDAULAT PENUH SEPERTI NEGARA-NEGARA LAINNYA DI DUNIA.

a share from WA group.
 TOKOH-TOKOH PENTING DIBALIK LAHIRNYA PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945




KOREA DAN INDONESIA MERDEKA HANYA SELANG 2 HARI SAJA....?



Indonesia dan Korea Selatan merdeka pada hari yang berdekatan.
-Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945,
-Korea Selatan merdeka pada tanggal 15 Agustus 1945.

Walaupun hanya beda 2 hari, Korea Selatan yang dahulu "LEBIH MISKIN"  dari Indonesia.

Tapi sekarang  Korea berhasil menempati urutan papan atas Negara Maju. di Dunia.  Padahal kita memulai titik start membangun bangsa hanya selisih dua hari saja.

Hmmm .... hanya berbeda 2 hari tapi bisa berbeda segalanya … ! 
Kok bisa ya...?

Mari kita cermati beberapa persamaan dan perbedaan Pola Pikir dan Pola Hidup Bangsa Korea dan Bangsa Indonesia.

Orang Korea tidak merayakan 15 Agustus-an seperti kita di Indonesia.

Mereka hanya mengibarkan bendera, sudah.
Tidak ada umbul-umbul, spanduk, lomba-lomba, apalagi peringatan yang meriah.

Apakah tanpa semua itu mereka tidak cinta negaranya?

Jawabannya, pasti tidak!

Orang Korea, tidak ada yang tidak cinta negaranya.

Jika di Indonesia sejak zaman Orde Baru di tiap kantor dipasang foto presiden dan wakil presiden, di Korea mereka hanya memasang bendera negaranya. Mengapa...?

Bagi mereka, "Siapapun presidennya, negaraku tetap Korea". 

Bagi mereka, Presiden dan Wakil Presiden bukanlah Negara tapi hanya pengemban Tugas Negara.

Presiden adalah milik semua bangsa Korea dan bukan hanya sebagian golongan saja.  Jadi semua bangsa bersatu membangun Korea siapapun presidennya.

Setelah kemerdekaan Korea dari Jepang, mereka masih harus melewati fase perang saudara hingga akhirnya pecah menjadi Korea Utara dan Korea Selatan.

Saat itu, orang Korea teramat miskin, hingga makan nasi (yang merupakan kebutuhan pokok) saja susah.

Sehingga setiap bertemu, satu sama lain mereka akan bertanya “밥을 먹었어요?” (“Sudah makan nasi?”), jika belum maka akan diajak makan.  Begitulah solidaritas kebangsaan yang dimiliki oleh setiap orang di KOREA.

Begitu pula dengan kerja keras, sudah tidak diragukan lagi hasil nyata dari kerja keras Korea Selatan saat ini. Kita bisa lihat dari banyaknya produk berteknologi canggih yang membanjiri dunia termasuk Indonesia.

Pesan dari Presiden Korea saat itu,
“Let’s work harder and harder. Let’s work much harder not to make our sons and daughters sold to foreign countries.”

"Ayo kita bekerja lebih keras dan lebih keras, Ayo kita bekerja lebih keras untuk tidak membuat anak-anak kita dijual ke luar negeri"

Dan kemudian ditutup oleh quote ini,
“Now, we promise that we will hand over a good country to our sons and daughters, we will give you the country worthy to be proud as well.”

"Sekarang, kita berjanji bahwa kita akan menyerahkan sebuah negara yang baik untuk putra dan putri kita, kita akan memberikan negara yg layak untuk dibanggakan oleh anak-anak kita"

Lihatlah betapa nasionalisnya orang Korea, ketika mereka merantau di negara asing semisal Indonesia,  mereka hanya mau membeli produk-produk bermerek "Korea" kecuali jika memang tidak ada produk Korea yang di jual di negera tersebut.

Bisakah kita Indonesia seperti Korea...???
Bisakah kita bersatu dan berpikir seperti mereka..???
Bisakah kita memiliki Nasionalisme seperti bangsa Korea...???

Jika tidak, jangan Mimpi Indonesia bisa menjadi negara Maju seperti Korea.

Tolong sebarkan pesan ini untuk seluruh anak bangsa

Terimakasih untuk anda yang telah ikut membangunkan anak bangsa melalui artikel ini.

Salam Kemerdekaan INDONESIA

tulisan ini di share dari sahabat Yayoek,
Anggota Resimen Mahasiwa, Batalion 8 UI 1989-1994

INTI GERAKAN INDONESIAN STRONG FROM HOME




"Bagaimana kita bisa mengubah negeri ini menjadi lebih baik, jika mengubah keluarga kita sendiri saja belum mampu..?"

"Bagaimana kita bisa mengubah keluarga kita jadi lebih baik, jika mengubah diri kita sendiri kita menjadi lebih baik saja belum mampu..?"

"Jadi jika ingin bangsa ini berubah menjadi lebih baik, tidak usahlah terlalu banyak teori yang rumit-rumit,  mulailah dari keluarga kita lebih dahulu....dan mulailah dari diri sendiri. "

Itulah inti dari GERAKAN INDONESIAN STRONG FROM HOME

"MENGUBAH NEGERI MULAI DARI KELUARGA DAN DIRI SENDIRI."

-ayah edy-
www.ayahkita.com


Selasa, 26 Juli 2016

WASPADA DAMPAK NEGATIF GAME POKEMON GO BAGI ANAK KITA



*Di Tengah banyaknya Sinyalemen bahwa keranjingan pokemon go sudah membahayakan*, antara lain karena nilai2 Jepang yg dibawa belum tentu cocok dgn nilai lokal, maka perlu juga diteliti asal usul tokoh kucing Pokemon ini. 



Dan berikut Ini hasil penelitian dari salah satu lembaga Riset terpercaya :

Pokemon itu adalah kucing keturunan generasi ke 3 dari kucing Jepang yang bernama Doraemon.
dan ternyata DORAEMON itu adalah kucing yang berasal dari Indonesia tepatnya dari tanah Jawa, nama aslinya DORA-EMAN, yg artinya TIDAK ADA yg SAYANG....., itulah mengapa pada akhirnya dia dibawa ke Jepang

Sebenarnya kucing DORA-EMAN itu sampai saat ini masih punya banyak saudara di Jawa yang namanya sesuai dengan karakternya masing-masing.

●☞ Yang bodoh namanya DORAMUDENG.
●☞ Yang minggat/kabur namanya DORABALI.
●☞ Yang suka keluyuran namanya DORAMULIH.
●☞ Yang suka begadang namanya DORATURU.
●☞ Yang suka ngawur namanya DORANGGENAH.
●☞ Yang pikun namanya DORAELING.
●☞ Yang suka gatal2 badan namanya DORAADUS.
●☞ Yang suka omong namanya DORAMENENG.
●☞ Yang sukanya berantem namanya DORAAKUR.
●☞ Yang kurus namanya DORAMANGAN.
●☞ Yang macet-macetan MUDIK namanya DORAKAPOK. _persis sampèyan 😛_
●☞ Yang susah makan DORALUWE.

Yg mau nya pulsa gratisan DORAMBAYAR
Yang sering off line kehabisan pulsa namanya DORAONLINE
Yang sering pasang-pasang status foto selfi di fb namanya DORAEKSIS

●☞ Yang baca TULISAN ini sambil senyum~senyum sendiri namanya DORAWARAS.
●☞ Yang nggak pada ketawa namanya DORANGERTI.

Note: Yang suka bikin status-status kayak gini namanya DORADUWEGAWEAN

Mari kita berikan senyum kita yang terindah untuk keluarga tercinta.

Sebuah kisah kehidupan yang perlu dipahami setiap pria.



MENGAPA PRIA INI LEBIH MEMENTINGKAN IBUNYA DARI PADA ISTRINYA..?

Mungkin ada pembaca yang tersentuh oleh cerita ini kami bersyukur, tapi mungkin juga malah ada yang tersinggung, kami mohon maaf sebelumnya.

Suatu hari di arena Java Jazz, ada seorang pria yang kehilangan ISTRI-nya karena terpisah keramaian para penonton.

Pria tersebut tanpa sengaja bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang menangis sendirian karena terpisah juga dari IBU-nya.

Akhirnya mereka sepakat untuk sama-sama mencari...

Si Pria itu bertanya:
"Ayahmu ga ikut?"

Si Anak itu menjawab dengan nada sedih:
"Ayah sudah gak ada oom.."

Si Pria kembali bertanya sembari kasihan:
''Ibumu ciri-cirinya seperti apa, Nak?''

Si Anak menjawab:
''Ibu saya tinggi
Badannya langsing,
Kulitnya putih bersih,
Pakai celana jeans,
Wajahnya cantik mirip Dian Santro
Bentuk tubuhnya kira-kira mirip Julia Perez
Dan pakai sepatu hak seperti Syahrini.
Orangnya baik, ramah dan mudah bergaul om".

Si Anak balik bertanya:
''Kalau istri om sendiri ciri-cirinya seperti apa?''

Si Pria menjawab:
''ah, sudahlah nak,  IBUMU jauh lebih penting dari ISTRI oom,  ayo kita cari ibumu dulu saja ya....!"

 
Healaaahhhhh serius amat sih bacanya..... kan sudah akhir pekan..?
....... \󾠏_🍼   
.... .   ))            
.............  ,>\_    !!!!!! 
Selamat berakhir pekan ya..temans … ƧΘßβ 󾁋

Share story from pria bernama Iwan Setiawan.

JANGAN-JANGAN ANAK BUNDA MENGALAMI TEKANAN KEJIWAAN DI SEKOLAH



Suatu hari ada orangtua yang bertanya tentang anaknya yang sulit sekali diajak pergi ke sekolah. Jika dipaksa, dia tidak mau turun dari mobil. Bahkan belakangan ini sering mengeluh kepalanya pusing, sakit perut, dan sebagainya.

“Apakah anak saya berbohong atau apa?” tanya ibu yang sedang kebingungan itu kepada saya. Kebetulan anaknya yang berusia 5 tahun itu diajak juga untuk bertemu dengan saya. Lalu saya jelaskan bahwa dalam kasus ini sepertinya si anak tidak berbohong, apalagi jika sebelumnya tidak pernah mengeluh seperti itu. Saya melihat ini cenderung pada gejala stres anak menghadapi sekolahnya atau dikenal juga sebagai gejala psikosomatis.

Setiap anak memiliki keunikan masing-masing sehingga guru dan sekolah harus bisa memfasilitasi masing-masing keunikan anak tersebut, agar mereka bisa berhasil dalam proses belajar.
Akhir catcher

Pada ibu ini, saya jelaskan bahwa dulu sistem pendidikan menganut prinsip bahwa setiap anak adalah sama dan seragam sehingga setiap anak harus bisa mengikuti keinginan gurunya. Namun, setelah dilakukan penelitian selama 30 tahun terhadap anak, ditemukan bahwa masing-masing anak itu unik, baik secara fisik, psikologis, maupun cara otaknya bekerja.

Oleh karena itu, sistem pendidikan modern telah mengubah prinsip dasar sistem pengajarannya. Bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing, maka guru dan sekolah harus bisa memfasilitasi masing-masing keunikan anak tersebut, agar mereka semua bisa berhasil dalam proses belajar. Ya, semua anak harus bisa berhasil.

Lalu, si ibu tadi menyanggah, “Padahal saya sudah sekolahkan dia di sekolah yang mahal lho.”

“Nah, itu masalahnya,” jawab saya lebih lanjut, “mahal tidak menjamin jalannya prinsip pendidikan yang sesuai dengan fitrah anak. Bahkan banyak juga yang di atas kertas sudah mencanangkan sistem pendidikan modern, tetapi di lapangan masih saja para gurunya menerapkan sistem dan cara belajar lama.

Nah, di sinilah kuncinya. Untuk mengetahui apakah sebuah sekolah bagus atau tidak, kita bisa perhatikan dari dua aspek.

Yang pertama adalah anak kita semakin kritis dan berani mengungkapkan pendapat dan yang kedua adalah perilakunya santun dan peduli.”

Biasanya sekolah yang baik akan membuat murid-murid betah bersekolah atau bahkan membuat mereka lebih senang bersekolah dibandingkan libur.

Setelah saya memberi penjelasan kepada ibunya, anaknya saya ajak bicara. Di luar dugaan dia berani menjawab dengan jelas sekali.




Saya awali pertanyaan seperti ini,
“Sayang, apa kamu suka bersekolah?” Dia diam tidak menjawab.
“Apakah kamu ada masalah di sekolah?” Dia mengangguk.
“Apakah kamu ada masalah yang membuat kamu sekarang tidak suka bersekolah?” Dia mengangguk lagi.
“Apakah masalahnya dengan teman atau guru?”
“Dengan guru.” Dia mulai menjawab.
“Apakah semua guru, beberapa guru, atau hanya satu guru?”
“Hanya satu.” Jawabnya.
“Boleh Ayah tahu namanya?”
“Ibu X.” Jawab anak itu lagi.

Lalu, saya menoleh ke ibunya, “Ibu dengar penjelasan langsung anak Ibu?”

Akhirnya, si ibu pun mengangguk, “Ya, Ayah. Mungkin anak saya benar. Karena sejak ganti guru dia menjadi berubah seperti ini. Lalu, saya harus bagaimana Ayah?”

“Sekolah yang baik adalah sekolah yang guru-gurunya menjadi favorit bagi murid-muridnya, jadi pertama, coba ajak pihak sekolah untuk bekerja sama.

Jelaskan hasil pembicaraan kita ini pada sekolah dan kita lihat responsnya. Jika masalah ini ditanggapi positif, kemudian ada usaha dan tindakan perbaikan maka itu sekolah yang peduli namanya.”

“Lalu, jika tidak ditanggapi dan tidak ada perbaikan bagaimana?”

“Ya, saya pikir Ibu bisa mengambil kesimpulan sendiri.

Menurut saya, saat ini sudah saatnya kita memilih sekolah yang peduli pada permasalahan tiap siswanya.

Karena kunci keberhasilan siswa adalah pada kepedulian pihak orangtua dan sekolah.

Pendidikan itu tidak akan berhasil tanpa kepedulian dari orangtua dan pihak sekolah.” Jelas saya panjang lebar.

Sebuah pengalaman dalam memberikan konseling pada seorang ibu yang anaknya mengalami Stress setiap kali mau berangkat kesekolah.

di tulis ulang oleh Ayah Edy, dari buku ayah edy punya cerita.

www.ayahkita.blogspot.com

Buku Harian Seorang Dokter Anak



KISAH BUKU HARIAN SEORANG DOKTER ANAK YANG TELAH MENGINSPIRASI SAYA UNTUK MENJADI SEORANG AYAH EDY

Para orangtua dan guru yang saya cintai di mana pun Anda berada,

Dialah Mel Levin, seorang dokter anak yang telah lebih dari 20 tahun mengabdikan dirinya untuk pendidikan anak.

Setiap hari dia selalu membuat catatan harian untuk permasalahan anak yang pernah dihadapi dan ditanganinya, yang isinya begitu menyentuh perasaan terdalam kita.

Mari kita simak tulisannya yang begitu menyentuh perasaan ini ...
Saya adalah seorang dokter anak yang terobsesi tidak hanya untuk membuat tubuh seorang anak sehat, tetapi juga membantunya mencapai sukses dalam mengarungi hidupnya.

 Selama beberapa tahun menghadapi berbagai macam situasi, saya menemukan banyak anak-anak yang merasa putus asa karena walaupun mereka bertekad untuk belajar dengan baik, tetap saja dianggap mengecewakan guru dan orangtuanya.

Saya menyimpulkan bahwa membantu anak-anak seperti ini juga menjadi bagian dari tanggung jawab seorang dokter anak.

Anak-anak yang tak mampu mengoperasikan pikiran mereka sesuai harapan, sangatlah menderita.

Sementara, orangtua mereka pun tentu dibuat sulit tidur memikirkan anaknya yang dikatakan tidak mampu belajar oleh sekolah. Guru sering merasa kesal dan kadang merasa putus asa melihat kemunduran muridnya tanpa bisa mengerti apa penyebabnya.




Sebagian anak harus membayar mahal fitrah berpikir yang mereka bawa sejak lahir. Bukan salah mereka jika memiliki otak yang sulit memahami perintah, seperti mengeja dengan benar, menulis dengan baik, membaca dengan cepat, mengerjakan secara sistematis, terutama dalam soal hitungan.

Padahal ketika mereka dewasa, sebagian besar banyak yang menjadi orang sukses, tetapi pada masa sekolah, mereka dievaluasi tanpa belas kasihan.

Setelah melihat betapa pedihnya kegagalan di usia dini itu, saya berkomitmen mencurahkan segenap perhatian untuk membantu anak-anak ini, orangtua, serta para gurunya.

Semuanya terjadi disebabkan ketidaktahuan kita tentang sistem kerja otak yang berbeda-beda yang dimiliki oleh masing-masing anak.




Sering kali dalam setiap perjalanan ke rumah, saya menangis jika mengingat cerita anak-anak yang menjalani proses sekolah sebagai suatu hal yang membuat mereka merasa tertekan dan terhina.

Banyak di antara mereka harus menerima label sebagai anak yang menderita kelainan tetap, yang sering disebut sebagai ADD atau LD.




Sementara itu, sebagian lainnya mau tidak mau dipaksa untuk menelan obat-obat penenang, agar mereka bisa lebih tenang.
Namun, ternyata siksaan itu belumlah cukup.

Banyak pelajar yang sungguh-sungguh tertekan dan mengalami depresi berat akibat masyarakat yang keranjingan melakukan berbagai tes, yang katanya untuk membuat masa depan mereka lebih baik. Namun, nyatanya malah lebih banyak membuat mereka menjadi anak yang gagal dan bermasalah.

Saya tidak ingin berdiam diri untuk membiarkan hal ini berlangsung terus pada anak kita, dari generasi ke generasi. Saya sungguh terpukul saat menerima surat dari seorang anak yang isinya seperti ini:

Dr. Levin, saya adalah anak tolol yang tidak pernah bisa melakukan segalanya dengan baik, Ibu Guru saya selalu berteriak-teriak kepada saya. Rasanya memang benar bahwa saya adalah anak yang paling tolol di kelas, mungkin saya memang dilahirkan demikian.






Sesungguhnya tak seorang anak pun boleh merasa seperti ini, saya tidak akan pernah membiarkan hal ini terjadi dan terjadi lagi kepada anak-anak di negeri ini.

Apalagi dengan seluruh hasil pengetahuan dan penelitian yang banyak saya ketahui, telah membuktikan bahwa ini semua bukan salah mereka. Ini semua adalah salah kita yang tidak bisa memahami dan menciptakan sistem pembelajaran yang sesuai dengan cara otak mereka bekerja.

Para orangtua dan guru yang berbahagia, mari kita renungkan tulisan yang begitu menyentuh perasaan ini. Tidakkah kita merasa bahwa selama ini telah banyak berbuat salah kepada anak-anak kita dan anak didik kita?

Tulisan Dokter Mel Levin, yang di salin ulang dalam buku Ayah Edy Punya Cerita.

Semoga bisa menjadi renungan bagi kita semua.

ayah edy
www.ayahkita.com

Pelajaran berharga dari seorang ayah



Aku menghabiskan satu jam lebih di sebuah bank dengan ayahku.

Beliau hendak mentransfer sejumlah uang. Aku tak bisa menahan diri untuk bertanya. “Kenapa tidak aktifkan saja internet banking?”

“Kenapa kita mesti melakukan itu?” Ayahku balik bertanya.

“Ya, supaya kita tidak perlu menghabiskan sejam hanya untuk transfer. Kita bahkan bisa belanja online, dan segala sesuatunya akan menjadi sangat mudah.” Aku begitu bersemangat memperkenalkannya pada dunia internet banking.

Ayahku lantas bertanya, “Jadi kita tidak harus keluar rumah?”

“Ya, ya betul,” kataku bersemangat.

Aku bercerita bahkan sayuran pun bisa dikirim sampai depan pintu. Dan bagaimana perusahaan besar seperti Amazon dan Alibaba mampu mengirim apapun yang kita inginkan dan kita pesan!

Jawaban orangtuaku membuat lidahku tercekat.

“Sejak ayah masuk ke bank hari ini, ayah sudah bertemu dengan 4 teman, mengobrol sebentar dengan pegawai bank yang sudah mengenal keluarga kita dengan baik. Kamu tahu, Nak, ayah dan ibumu kan tinggal sendirian. Temanlah yang kami perlukan.”

Ayahku melanjutkan. “Saat ini, bagi ayah, pertemuan dengan orang lain terasa penting. Dua tahun lalu, Ayah jatuh sakit. Pemilik warung langganan dan anaknya menjenguk ayah, duduk di ruang keluarga, menemani mengobrol dan menghibur kami.

Ketika ibumu jatuh waktu jalan pagi beberapa hari lalu, petugas keamanan keliling melihatnya dan segera mengantarkan ibu ke rumah, sebab ia tahu di mana kami tinggal.”

“Apakah ayah dan ibu akan mengalami sentuhan manusia jika segala sesuatunya menjadi online?

Ayah ingin mengenal pribadi yang sedang berelasi dengan ayah. Bukan sekedar ‘seller’. Ini menciptakan ikatan dan rasa aman. Nak, teknologi memang penting tapi bukanlah inti kehidupan. Ingat untuk meluangkan waktu bersama orang-orang yang kamu cintai dan orang-orang yang ada di sekitarmu, bukan dengan gadget.”

Selamat berakhir pekan bersama orang-orang yang kita cintai dan ada disekitar kita.

sumber cerita:  https://iphincow.com/2016/07/12/luangkan-waktumu/#more-1352

Antara Manusia dan Botol....



APAKAH YANG KITA ISIKAN KEDALAM OTAK DAN PIKIRAN KITA...?

Apakah pengetahuan berharga ? Atau isyu-isyu sampah yang membuat kotor pikiran kita ?

Harga & Kualitas Manusia itu ditentukan oleh isinya, seperti juga botol air mineral...

1. Kalau diisi air mineral, harganya 4 ribuan…

2. Kalau diisi jus buah, harganya 10ribu…

3. Kalau diisi Madu Asli, harganya bisa puluhan ribu.

4. Kalau diisi minyak wangi chanel harganya bisa ratusan ribu atau bahkan jutaan.

5. Kalau diisi air got, hanya akan dibuang dalam tong sampah karena langsung tiada harganya dan tidak ada yang membutuhkannya.

Botol yg sama tetapi harganya berbeda sebab apa yang terisi di dalamnya adalah berbeda…

Orang yang sama juga sering kali berbeda nasibnya, karena isi pikirannya berbeda-beda.

Nah jika selama ini banyak orang yang tidak menghargai kita atau hidup kita selalu penuh masalah, mari kita periksa pikiran kita, apakah yang selama ini sudah kita masukkan ke dalamnya?

Apakah ilmu dan pengetahuan berharga ?
Atau hanya isu-isu, fitnah dan kebencian yang mengotori jiwa ?

ide cerita dari www.kisahinspirasi.com

ANAK-ANAK INDONESIA YANG MENEMBUS DUNIA DI ERA PASAR BEBAS

SETELAH STELLA KE AUSY, DONNY KE BELANDA, CANTIKA KE JEPANG, NIKKI KE SWISS, NIA MENJADI DIRECTOR OF CHOREOGRAPHY DI LA, ANDRI MENDAPAT BEA SISWA DI JEPANG, KINI GILIRAN HAIKAL DAPAT BEA SISWA DI INGGRIS.

 Haikal dan Keluarga

Haikal dan kedua orang tuanya baru bertemu bebarapa bulan lalu dengan kami untuk menetapkan tujuan dan mimpi hidupnya.

Alhamdulillah baru saja tadi pagi kami dapat kabar dari Pekanbaru bahwa Haikal mendapat beasiswa di salah satu perguruan tinggi di Inggris.


Kami predisikan masih akan ada banyak lagi anak2 Indonesia yang mendunia seperti Mas Alung dari Bondowoso, Mas Fajar dari Bekasi, Valerie, Anza, Zafran dari Jakarta, Yefta dari Solo dan lainya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu, menyusul sukses sahabat2 mereka terdahulu yang sudah dengan dada tegak dan pandangan lurus terfokus mengejar mimpi tertinggi mereka.

 Nia Alvita Director of Choreography di LA

Tentu saja kunci sukses ini berpulang pada peran kedua orang tua untuk sepenuh hati mendukung mimpi besar anaknya dan menjalankan prosesnya secara tepat.

Meskipun bukanlah orang tuanya, sungguh saya merasa amat bersyukur dan bahagia yang tak terkirakan mendengarkan berita demi berita kesuksesan anak-anak kita, yang awalnya datang pada kami dalam kegalauan, keraguan dan bahkan MOGOK SEKOLAH, sebagian besar mereka datang karena ragu akan masa depan mereka, ragu akan pilihan jalan hidup yang paling tepat. Ya Tuhan, betapa bahagianya menjadi seorang ayah bagi anak2 yang berhasil meraih mimpi besarnya.

 Mas Andri ke Osaka, Jepang

Semoga Allah SWT yang Maha Kuasa selalu membimbing setiap langkah kita sebagai orang tua untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpi tertingi dari putera-puteri kita tercinta.

Selamat ya Mas Haikal semoga Tuhan selalu membimbing setiap langkahmu Nak...
Salam syukur dan bahagia dari ayah.
Jika kita mau pasti bisa !!!
Bukan jika kita bisa sih pasti mau.
Jika berbagai upaya sudah kita lakukan dengan sebaik-baiknya, tapi belum juga bisa mengubahnya.....?
Lantas saya harus bagaimana lagi ayah....?????

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL

Cara sederhanaku merayakan hari anak, berkunjung ke tetangga, bincang-bincang di rumahnya dan selfie ya nak...

Inilah silaturahmi yang sering kali kita lupakan silaturahmi pada para tetangga sendiri.....

Selamat hari anak Nasional ya...


MAU BELOK KIRI ATAU BELOK KANAN ???



Saya bertanya pada seorang bijak,

"Guru, saya ini sering bingung melihat fenomena ini, padahal saya sudah selalu berusaha membuat status postingan yang baik untuk di baca, tapi mengapa ya selalu ada orang yang berterima kasih tapi ada yang malah menghujat, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju.?"

Sang guru tiba-tiba tersenyum dan kemudian tertawa lepas....

"Nak,  Hidup ini seperti orang yang ada di ujung jalan pertigaan yang sedang mencari alamat tujuan, selalu ada pilihan kalau tidak belok kiri ya belok kanan....."

"Jadi ya terserah pada pikiran orang tersebut, apakah dia mau belok kiri atau belok kanan,  yang penting adalah kita sudah memberikan petunjuk yang menurut kita benar agar dia tidak tersesat...."

" Jadi tidak usah bingung, ya terserah orang tersebut kalau dia tidak mau mengikuti petunjuk kita."

"Itulah mengapa selalu ada orang yang sampai tujuan dengan mudah dan cepat tapi ada juga orang yang nyasar...nyasar....hingga "kepentok" dulu baru sadar, dan berhasil menemukan alamat tujuannya."

Saya pun akhirnya ikut tersenyum lega dan tertawa lepas bersama sang guru......

.... bener juga ya....,
kita ini hanyalah seseorang yang memberikan petunjuk alamat tujuan bagi orang lain... terserah orang tersebut apakah dia mau ikuti petunjuk kita atau tidak.  Dan itu bukan masalah kita tapi masalah dia.

Di tulis oleh Ayah Edy
Dari pengalaman pribadi bertemu dengan guru bijak

Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Salam syukur penuh berkah,
ayah edy
www.ayahkita.com

KITA MENIKAH UNTUK SALING MELENGKAPI DAN BUKAN SALING MENGHAKIMI



Sahabat ayah bunda tercinta,

Percaya atau tidak ?
Disadari atau tidak ?

Para bunda pada umumnya agak kesulitan dalam hal menemukan alamat dan lokasi suatu tempat di luar rumah, atau menentukan arah timur, barat dan selatan kompas.  Bahkan untuk sekedar memberikan petunjuk arah rumahnya sendiri juga sering kali membingungkan teman atau sahabatnya yang hendak berkunjung ke rumahnya.

Itulah mengapa sering kali kita temukan banyak para bunda yang sepertinya ragu atau bingung ketika membawa kendaraan dan sedang mencari alamat atau lokasi tertentu.

Tidak hanya itu, bahkan untuk sekedar memarkirkan mobil saja para bunda juga sering mengalami kesulitan dibandingkan para ayah, itulah mengapa sekarang banyak di sediakan Ladies Parking di tempat2 umum atau perbelanjaan.

Dan sebaliknya para Ayah pada umumnya agak kesulitan dalam hal menemukan lokasi barang-barang di rumahnya sendiri dan bahkan di kamar tidurnya sendiri.  Semisal dimana letak kunci gudang, dimana kaos kaki olah raga yg dipakai minggu lalu..., dimana baju tidur..., dimana obat mata, solasi..solasi dimana ?, gunting kuku dimana?, Mah... odolnya sudah habis (sambil teriak dari kamar mandi)...., dan....

Apa lagi hayo... yang pernah bunda alami di rumah....?

Saya sampai pernah merenung, duh...., betapa repotnya seorang ayah jika di tinggal istrinya pergi walau hanya 1 atau 2 hari saja ya....

Sampai satu ketika saya pernah berujar pada istri saya, "tualah bersama ku, agar kita bisa terus hidup berbahagia dan saling melengkapi, sampai kelak Tuhan memanggil kita".  (hik...hik... jadi sekarang kami masih muda ternyata ya)

Tahukah bunda mengapa hal ini bisa terjadi secara alamiah.... ? 

Salah satu dugaan saya adalah mungkin Tuhan ingin setiap pasangan Ayah dan Bunda untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing, dan saling membimbing dan membutuhkan satu sama lain.  Agar ikatan rumah tangga semakin kuat dan harmonis.

Jadi mulai hari ini juga, mari kita berhenti bertengkar setiap hari tentang hal-hal  yang sekarang sudah kita sadari bersama penyebabnya.




Karena mungkin Tuhan memaksudkan agar para ayah bisa membimbing dan menuntun para bunda untuk menghadapi berbagai persoalan di luar rumah, dan para bunda bisa bisa menciptakan surga di rumahnya bagi para ayah.



Selamat beraktifitas dengan lebih bahagia..... ya ayah bunda.

Salam syukur penuh berkah,
ayah edy
www.ayahkita.com

di tulis oleh ayah edy  dari pengalaman pribadi
Ayah Edy dan pengalaman teman-teman ayah bunda lainya.

MENGAJARKAN KONSEP UANG DAN BEKERJA PADA ANAK-ANAK KAMI

Dimas baca buku parenting tulisan ayahnya

We love you Dimas & Dido

Saat ini kami kebetulan ada yang bantu-bantu di rumah, maklum karena sedang renovasi rumah jadi rumahnya jadi sering kotor, meskipun sudah dibersihkan setiap pagi dan sore.

Sudah cukup lama kami tidak ada yang bantu2 di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah mulai dari ngepel, cuci baju, strika, cuci piring, dll bersama anak-anak.  Dan inilah yang menjadi pekerjaan rutin anak-anak kami di rumah.

Namun kali ini kami memutuskan untuk memilikinya lagi untuk sementara kami merenovasi rumah kami.

Dan dalam konsep keluarga kami tidak pernah kami memberi uang jajan pada anak-anak kami, terlebih karena anak kami tidak suka jajan karena memang tidak pernah diajari jajan dan tidak diberi uang jajan.


Dido & Dimas masak Cah Jamur untuk makan siang

Dalam mengajari konsep uang pada anak-anak kami,  mereka kami latih dan biasakan belajar mengumpulkan setiap rupiah dengan bekerja, mengerjakan apa saja mulai dari memasak, mencuci mobil, cuci baju, cuci piring, ngepel, masak, cabut rumput taman dsb.




Sejak kecil Dido dan Dimas sudah biasa bekerja membantu ayah

Sampai besar sudah terbiasa cari uang sendiri via cuci mobil ayah

Mereka mengumpulkan uang sekoin demi sekoin dari hasil jerih payah keringat mereka sendiri mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Wal hasil disamping belajar konsep bekerja, berusaha dan berpenghasilan, mereka juga banyak belajar matematika ketika mengkonfersikan koin-koin yang di kumpulkannya menjadi pecahan yang lebih besar.

Menghitung koin untuk di tukar dengan pecahan yang labih besar

Yang mengejutkan adalah, ketika Asisten Rumah Tangga kami datang tiba-tiba anak saya Dimas berkata, kalau gitu sekarang Dimas kerja apa dong ayah untuk bisa dapat uang dan kumpulin buat beli Buku Komik2 Sains dan apa saja yang Dimas mau beli ?????

Tenang nak, ayo kita buat daftar pekerjaan baru yang masih tersisa, untuk di kerjakan ya ....

Ah sy sungguh bersyukur bahwa sudah tumbuh reflek dasar pada anak-anak kami bahwa untuk mendapatkan uang itu harus bekerja dulu dan tidak hanya meminta dan menadahkan tangan pada orang tuanya.

Oh iya saya masih ingat dulu pernah Omnya memberikan angpau saat hari raya,  Tapi Dimas dan Dido tidak mau terima, dan malah bertanya,  "Ini uang untuk apa ?  Aku tidak mau terima uang ini, kata ayahku kalau mau dapat uang itu harus bekerja dulu".

Om nya terbengong-bengong baru melihat ada anak yang diberi amplop berisi uang sebesar Rp. 500.000,- menolak dan di kembalikan.

Tapi kemudian kami jelaskan pada Omnya bahwa kami mendidik anak-anak kami untuk terbiasa menerima uang yang jelas sumbernya dan dari hasil kerja kita.  Agar kelak ia tidak terbiasa dengan budaya korupsi atau gratifikasi, menerima sesuatu yang bukan hasil jerih payahnya.

Ayah bunda mungkin ada yang khawatir nanti anak kami akan menjadi anak yang "mata duitan" dan tidak mau membantu orang tua kalau tidak di bayar.

Alhamdullilah itu semua tidak terjadi, karena setiap uangnya sudah di kumpulkan kami akan berdiskusi tentang untuk apa uang itu di belanjakan, sebagian ada yang untuk kebutuhan pribadi, sebagian di tabung dan sebagian untuk amal, dan bahkan untuk Qur'ban.

Anak-anak juga kami jelaskan bahwa ada bekerja ada menolong, jika menolong itu tidak ada bayarannya dan jika bekerja baru ada bayarannya, untuk membedakannya adalah ketika kami berkata tolong maka anak-anak kami tidak akan mengharapkan imbalan.  Dan alhamdulilah Dimas dan Dido adalah anak-anak yang suka menolong orang tuanya, dan bahkan suka menolong orang lain juga.

Anak-anak kami menjadi jauh lebih mudah diberikan pengertian, mungkin salah satunya karena ia kami HomeSchoolingkan, jadi tidak ada pengaruh buruk dari lingkungan pergaulan teman-temannya yang sering kali suka jajan karena banyak diberi jajan dan kemudahan uang oleh orang tua mereka.


Merapikan kebun dan menghias dengan tanaman

Jadi alhamdulillah apa yang sering di khawatirkan para orang tua tentang ini sama sekali tidak terjadi pada anak-anak kami hingga saat ditulisnya status ini.

Saya yakin apa yang kami lakukan dalam mendidik anak-anak kami ini baik menurut kami dan baik untuk masa depan mereka.



Berlatih memasak dan meracik makanan sendiri

Tapi saya juga sadar pasti ada yang setuju dan tidak setuju dengan apa yang kami lakukan. 

Bagi yang tidak setuju sah-sah saja  dan monggo di baca tulisan kami berikut ini :  

https://www.facebook.com/141694892568287/photos/a.144983902239386.35784.141694892568287/1097859320285168/?type=3&theater

Ditulis oleh Ayah Edy
Dari pengalaman pribadi selama 12 tahun mendidik dan mengasuh anak-anak kami.

Salam syukur penuh berkah,
ayah
www.ayahkita.com

PANDANGILAH GAMBAR INI BAIK-BAIK

Temukanlah penyebab mengapa anda tidak bahagia.......


NASIHAT BIJAK SEORANG ASTRONOT PADA ISTRINYA



Tahu gak kamu jika bobot benda 100 kg di bumi kemudian di bawa ke Planet Mars hanya tinggal 38 kg.

Jadi gak usah sedih ya sayang, sebenarnya kamu gak gemuk kok, cuma mungkin kebetulan salah pilih planet saja untuk tinggal.

Beitulah seorang Astronot yang sedang menghibur istrinya yang sedang sedih, karena dinyatakan oleh dokter kelebihan berat badan.

Selamat beraktivitas ya ayah bunda, mari kita isi hari kita dengan senyum cerah ceria....


PRINSIP UTAMA HOME SCHOOLING



Belajar tidaklah terikat oleh tempat, waktu dan guru.....

Belajar bisa kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja....
Belajar itu sepanjang hidup mulai dari buaian hingga ke liang lahat.....

Karena setiap waktu adalah kesempatan, setiap tempat adalah ruang kelas, setiap peristiwa adalah pelajaran dan setiap orang adalah guru.

Itulah pemikiran yang kami tanamkan pada anak-anak kami tentang arti dan makna belajar, melalui pilihan Home Education.  atau yang lebih di kenal dengan Homeschooling.

Ayah Edy
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
merangkap Orang tua HomeSchooling.
Singaraja, Buleleng, Bali
www.ayahkita.com

Informasi HS berkomunitas Klik:  www.rumahinspirasi.com

Kamis, 07 Juli 2016

PASAR BEBAS DUNIA PELUANG ATAU ANCAMAN BAGI ANAK-ANAK KITA ?



Saya yakin banyak Ayah Bunda yang telah mengerti soal Pasar Bebas. Tapi saya juga yakin, sebagian lagi mungkin baru sebatas mendengar tentang Pasar Bebas, tapi tak benar-benar memahami dampaknya pada diri kita atau anak-anak kita kelak.

Padahal, Pasar Bebas bukan main-main dan bukan sekadar isu yang bisa kita abaikan.

Begitu seriusnya masalah Pasar Bebas ini, sejak 2006 saya bahkan sudah mulai berkampanye soal persiapan menghadapinya.

Tanpa persiapan yang matang, anak-anak kita akan tergilas dalam persaingan ketat di era Pasar Bebas. Saya takkan heran bila banyak anak Indonesia yang akhirnya menjadi ‘budak’ di negerinya sendiri. Karena itu, ayo kita ‘melek Pasar Bebas’ sejak sekarang!

Apa sih Pasar Bebas?

Pasar Bebas adalah suatu kondisi ekonomi ketika jual beli produk antar individu atau perusahaan di beberapa negara ditentukan sepenuhnya oleh pasar. Pemerintah tidak melakukan intervensi atau membuat peraturan yang mempengaruhi perdagangan atau harga produk. Tidak ada pajak ekspor impor, bea masuk atau biaya tambahan seperti yang biasa terjadi dalam perdagangan internasional.

Memang kapan terjadinya?

Sejak 2010, ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area) sudah dimulai. Sedangkan 2015 nanti, kita akan mulai bersaing dalam AEC (ASEAN Economy Community) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dengan AEC, ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi internasional. Baik barang, jasa, investasi dan tenaga kerja bisa bebas masuk ke seluruh negara-negara ASEAN.

Lalu, mengapa kita harus peduli?

Pasar Bebas adalah soal persaingan kualitas. Di dalam Pasar Bebas, konsumen yang ingin membeli satu jenis produk akan memiliki begitu banyak pilihan dengan harga yang bersaing.

Bila ada dua produk sejenis dengan perbedaan harga yang tipis, mana yang Anda pilih? Hampir bisa dipastikan, Anda akan memilih produk dengan kualitas yang lebih baik.

Ini baru soal produk. Bagaimana soal Sumber Daya Manusia (SDM)?
Secara teroretis, AEC ‘menjanjikan’ peningkatan kesejahteraan bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya. Di antaranya karena akses pasar yang lebih besar dan terbukanya peluang penyerapan tenaga kerja yang lebih luas.

Pertanyaan besarnya, apakah SDM kita sudah siap? Apa kita mampu menjadi tuan di negeri sendiri?

Coba kita pikirkan sejenak. Tahukah Ayah Bunda, berapa jumlah pengangguran di Indonesia sekarang?

Menurut data Badan Pusat Statistik, angka pengangguran di Indonesia hingga Februari 2013 lalu mencapai 7,17 juta orang. Di antara yang 7,17 juta itu, tak sedikit pengangguran yang lulusan sarjana, pandai baca tulis, punya rapor tanpa nilai merah, serta selalu lulus ujian di sekolah.

Tapi mengapa angka pengangguran tetap tinggi? Padahal sebelum 2010, para pencari kerja hanya bersaing di ‘kandang sendiri’.

Maksudnya, persaingan hanya terjadi antar anak Jakarta dengan anak Bandung, anak Yogya, anak Surabaya, anak Padang, anak Medan, anak Makassar, anak Denpasar dan sebagainya.

Tapi ketika era Pasar Bebas sudah benar-benar berlangsung, para pencari kerja akan bersaing dengan calon tenaga kerja dari Malaysia, Singapura, Fillipina, India... Siapkah anak-anak kita kelak? Jangan sampai mereka hanya menjadi kroco di negerinya sendiri.

Bagaimana agar anak kita sukses di era Pasar Bebas?

Bicara Pasar Bebas berarti bicara tentang kualitas dan spesialisasi. Orang akan bertanya, ‘Apa keahlianmu?’, ‘Apa spesialisasimu?’, serta ‘Kualitasmu di level apa?’.

Karena itu, persiapkan anak-anak kita sehingga memiliki kualitas keahlian yang spesifik. Bukan menjadi seorang yang saya istilahkan ‘generalis’.

Saya sendiri contohnya. Saya menyebut diri saya seorang ‘generalis permainan’. Maksudnya, saya bisa bermain karambol, bulutangkis, catur, biliar, pingpong dan basket. Tapi kualitas saya hanya sampai level RT. Jadi juara RT saat 17 Agustusan juga sudah bersyukur. Tak satu pun yang saya kuasai bisa membawa saya bersaing sampai tingkat nasional, apalagi internasional.

Tapi coba lihat Tiger Woods, pemain golf yang pernah menjadi pemain nomor 1 di dunia. Ia hanya menguasai golf, tapi kualitasnya world class. Kira-kira, apakah Tiger Woods bisa menjadi pegolf kelas dunia bila jadwalnya sejak kecil seperti ini?

Hari                          Aktivitas

Senin & Rabu           Golf
Selasa & Kamis       Tenis
Jumat & Sabtu         Basket

Howard Gardner, pencetus teori Multiple Intelligences yang telah melakukan riset selama 30 tahun menyimpulkan bahwa setiap anak memiliki satu kelebihan yang akan membawa dia menjadi top of the top bila kelebihan itu terus diasah dan dikembangkan.

Coba sebut satu nama orang top. Sebut nama siapa saja –dari dalam maupun luar negeri-- saya yakin orang itu adalah ‘spesialis’.

Addie MS? Orkestra, musik klasik.

Rudy Hadisuwarno? Penataan rambut.

Susi Susanti? Bulutangkis.

Jadi cukup satu bidang saja yang dibutuhkan, tapi kuasai bidang itu sampai mencapai kualitas teratas. Fokuskan anak pada satu bidang yang menjadi minat terbesar dan potensi terunggulnya, lalu asah semaksimal mungkin agar mencapai kualitas world class. Dengan begitu, ia akan mampu bersaing, tidak hanya di tingkat ASEAN, tapi di tingkat dunia.

Terus, apa sistem pendidikan kita sekarang mendukung?
Sayangnya, tidak (atau belum).

Sistem pendidikan di Indonesia mengharuskan seorang siswa mendapat nilai bagus di semua mata pelajaran. Anak dituntut untuk bisa semua. Kita pikir, jika anak dijejali banyak pelajaran, ia akan sukses.

Yang terjadi justru sebaliknya. Ketika anak dijejali terlalu banyak pelajaran, ia hanya akan menjadi orang yang berkemampuan rata-rata. Mungkin banyak hal yang ia ketahui, tapi tak satu pun yang dikuasainya secara mendalam.

Awalnya, semua negara menjalani sistem pendidikan semacam ini. Inilah level pertama sistem pendidikan: Dengan asumsi bahwa semakin banyak yang diketahui seseorang, semakin sukses dia.
Namun riset Dale Carnegie Institute menyatakan fakta-fakta ini:
Orang yang banyak tahu (tapi tidak ada yang mendalam) akan menjadi bawahan.

Di atas mereka, adalah orang-orang yang spesifik di bidangnya.
Posisi paling atas atau biasanya sang owner, adalah orang yang spesialis dan kreatif.

Jepang sudah melakukan Revolusi Pendidikan pada 1930-an dan menghasilkan anak-anak berkualitas internasional.

Negara-negara Eropa melakukan Revolusi Pendidikan pada 1980-an.

Setiap anak dituntut mendapat nilai bagus di semua mata pelajaran. Sekolah dari pagi sampai sore. Sepulang sekolah, digempur kursus dan les sebanyak-banyaknya.

Orang tua bayar mahal, dan anak-anak kelelahan fisik maupun mental. Bukankah ini yang terjadi sekarang? Tapi apa hasilnya, negara kita bukan tambah maju tapi semakin jauh tertinggal, tidak usah jauh dengan negara Korea, dengan Singapura saja kita masih tertinggal jauh.

Kita sudah ketinggalan puluhan tahun. Mampukah kita mengejarnya?

Jawaban saya: Kita pasti mampu! Jika kita mau pasti kita mampu !
Ini rumus mengejar ketertinggalan:

1. Betapa pun jauhnya kita tertinggal, yang penting KITA SADAR BAHWA KITA KETINGGALAN. Dan kita harus tahu seberapa jauh ketertinggalan kita. Misalnya, 30 tahun.

2. KAPAN MULAI MENGEJAR DAN HARUS SEBERAPA CEPAT

BERLARI. Bila kita tahu kita tertinggal sangat jauh, berarti kita harus berlari lebih kencang dan memulainya dari sekarang.

Kalau kita mau, kita pasti bisa!

Jadi, Pasar Bebas itu sebenarnya ‘peluang’ atau ‘ancaman’ sih?
Semua tergantung persiapan.

Bila Ayah Bunda mempersiapkan diri dan anak-anak sebaik mungkin, apalagi sedini mungkin, tentu tak perlu takut menghadapi era Pasar Bebas. Dengan persiapan matang, Pasar Bebas akan menjadi peluang di mana anak-anak Indonesia mempertunjukkan kebolehannya masing-masing pada dunia.

Akan dibahas tuntas oleh Ayah Edy melalaui Parenting Seminar yang akan di adakakan di Convention Hall Denpasar Bali. Agustus Mendatang.

klik infonya di link berikut ini:   https://www.facebook.com/141694892568287/photos/a.144983902239386.35784.141694892568287/1072415489496218/?type=3&theater

APAKAH SESUNGGUHNYA YANG MEMBUAT MANUSIA BAHAGIA...?


Dikisahkan ada sepasang suami istri setiap hari kemana-mana selalu dengan mobil mewah. Mereka adalah pasangan yang begitu sibuk dengan berbagai aktivitas. Maklum sang suami adalah seorang pengusaha sukses dan istri adalah wanita karir. Dan anak merekapun disekolahkan di tempat yang terbaik dengan segala fasilitas yang serba mewah. Tentunya si anak juga disediakan sopir yang mengantarnya kemana saja ia pergi.

Mereka adalah orang terkenal di sekitar tempat tinggal mereka dan hampir semua orang mengenalnya termasuk mengenal semua kendaraan yang mereka pakai. Mereka memang tidak tinggal dilingkungan khusus orang kaya. Para tetangga masih banyak hidup sederhana. Tidak masalah mereka tetap dapat hidup rukun berdampingan. Dan masing-masing mempunyai kehidupan sendiri.

Seperti biasanya keluarga ini berangkat pagi dan baru pulang menjelang malam dan itu berlangsung entah sudah berapa lama.

Tiba-tiba suatu ketika saat mereka baru pulang kerja melihat tetangganya yang sedang asyik bersenda-gurau dengan keluarganya.

”Pak, lihat betapa bahagianya mereka kata si istri orang kaya tersebut. Jam segini mereka sudah ada dirumah, bercengkrama dengan keluarga sedangkan kita masih sibuk dengan segudang pekerjaan” Ucap sang istri ketika melintasi sebuah keluarga sederhana yang sedang berbincang-bincang diteras rumah.

”Iya...ya...ma. kapan yach Ma kita bisa seperti mereka yang setiap saat bisa menikmati waktu santai dengan keluarga”

Dan suaminya pun mengiyakan sambil menarik nafas dalam-dalam. Begitu terasa ada beban yang begitu berat menghimpit dada mereka berdua.

”Kadang-kadang mama rasanya ingin meninggalkan semua ini pa..dan hidup bahagia seperti mereka” ucap sang istri dengan suara berat.

Sementara disisi lain, dari teras rumah keluarga yang dianggap berbahagia tadi juga merasakan hal yang sama, Begitu sang istri melihat mobil tetangganya melitas di depan rumahnya tiba2 dia berkata.

”Pak, kapan yach kita bisa seperti mereka? Kemana-mana selalu naik mobil mewah. Ibu yakin hidup mereka pasti sangat bahagia” Ucap istri Sang peimilik rumah sederhana sambil menunjuk mobil yang baru melintasi depan rumahnya.

”Bapak bisa merasakan hal yang sama bu, kapan yah kita menjadi orang kaya seperti mereka, bapak selalu ingin berkerja keras hingga larut malam dan mendapat penghasilan lebih besar tapi sayangnya tidak ada yang harus dikerjakan” Pandangannya menerawang jauh kedalam.

Dilain waktu anak orang kaya itu tidak kalah gelisahnya ketika menyaksikan anak-anak sebayanya diantar jemput sama orang tua mereka kesekolah sambil berboncengan motor dengan bahagianya, tidak seperti dirinya yang selalu diantar jemput sama sopir.

Dalam batin anak itu berkata ”Alangkah bahagianya jadi seperti mereka, kemana-mana selalu diantar orang tua mereka, sedangkan kedua orang tuaku tidak pernah melakukannya. Mereka terlalu sibuk dengan bisnis mereka. Aku iri dengan mereka”

Anak itu mengeluh dan menitikkan air mata di dalam mobilnya.

Sementara sambil berlalu anak yg sedang di bonceng orang tuanya di motor tadi berpikir dalam hatinya,

”Aku ingin seperti anak yang ada di mobil bagus itu. Kemana-mana ada yang antar kalau hujan tidak kehujanan dan kalau panas tidak kepanasan."

Begitu pula anak-anak yg sedang berjalan kaki dan di antar orang tuanya, mereka dalam hati juga berpikir

"ah seandainya aku bisa jadi seperti anak orang kaya itu, selalu diantar mobil kemana-mana dan tidak perlu capek berjalan kaki berkilo-kilo meter dan berbecek-becek ria seperti ini”

Ayah Bunda yang tercinta.......,

Cerita diatas menggambarkan bahwa manusia pada umumnya selalu melihat orang lain lebih baik dan bahagia daripada darinya.

Dan kita juga sering mendengar bahwa ”Manusia memang tidak pernah ada puasnya”

Omongan ini benar bagi orang-orang yang memang dikendalikan oleh pikiran yg tidak bersyukur, karena kalau kita mau mengikuti pikiran kita maka tidak akan merasa cukup.

Sebelum kaya ingin menjadi kaya setelah kaya ingin menjadi lebih kaya lagi. Dan saat merasa dirinya benar-benar kewalahan mempertahankan segala efek yang ditimbulkan oleh kekayaannya dirinya merasa lelah, merasa tidak ada waktu lagi untuk berkumpul dengan keluarga.

Contoh lainnya misalnya sebelum menjadi orang terkenal ingin menjadi orang yang terkenal begitu terkenal, dirinya mengeluh lagi, merasakan ruang geraknya menjadi terbatas dan tidak memiliki privacy lagi.

Karena kemanapun mereka pergi selalu ada orang yg memandangi, meminta tanda tangan atau ingin berfoto dengannya.

Saat menjadi pengangguran seseorang hidup begitu stress, ketika mendapatkan pekerjaan, mengeluh lagi karena kerjaannya tidak cocok, gajinya terlalu kecil, jam kerjanya dan kantornya terlalu jauh, merasakan tidak ada waktu bersantai dan seterusnya.

Pengangguran ingin menjadi karyawan, karyawan ingin menjadi bos sedangkan bos selalu stress merasakan beban yang dipikul terlalu berat dan merasakan dirinya selalu bekerja keras sementara dia memandang anak buahnya enak-enakan saja kerja, dan akhirnya ia marah pada semua orang.

Apasih yg kira..kira bisa mengatasi kondisi semacam ini...?

Salah satunya adalah Memiliki Rasa Syukur terhadap apa yang sudah kita miliki dan tidak membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, setiap manusia pasti mempunyai masalah dan beban masing-masing yang tidak diketahui oleh orang lain.

Orang hanya bisa melihat sisi luarnya saja dalam hati siapa yang tahu.?

Kita melihat orang lain hidupnya lebih enak sementara orang lain melihat hidup kita enak.

Kita ingin menjadi seperti mereka demikian juga sebaliknya, ketahuilah kita tidak bisa menjadi orang lain.

Jadi nikmatilah apa yg ada, apa yg kita miliki, karena yg kita miliki adalah apa yg terbaik bagi kita menurut Tuhan.

Namun manusia bersyukur bukan berarti orang yg mudah menyerah kepada keadaan.

Manusia yang bersyukur adalah manusia yang selalu lapang dada menerima hasil dari usahanya yang optimal. Sedangkan manusia yang menerima nasibnya tanpa ada usaha adalah manusia yang putus asa.

Apapun dan berapapun yang didapatkan dari hasil usahanya bagi manusia yang bersyukur selalu berkecukupan.

Karena Manusia yang selalu bersyukur tahu berapapun yang di dapatkan dalam dunia ini jika mengikuti hawa nafsu tidak akan pernah ada cukupnya.

Kalau sudah seperti itu kenapa kita harus memaksakan diri untuk mengejar sesuatu yang memang tidak pernah cukup ?

Mari kita ingat selalu sebuah pepatah kuno yang mengatakan bahwa

“Kekayaan bisa mendatangkan kesenangan tapi tidak kebahagian".

Itulah mengapa kita banyak melihat orang kaya yang hidupnya tidak bahagia, bolak-balik konsul pada psikolog atau keluar masuk rumah sakit karena terkena penyakit yang disebabkan oleh stress.

"Kebahagiaan hanya datang dari Rasa Bersyukur dan Berkecukupan atas apa yg kita miliki."

Itu pulalah mengapa kita banyak melihat hidupnya sangat bersahaja tapi bisa tertawa dengan lepas dan tidur dengan nyeyak.  Hidup sehat tanpa perlu berbagai jaminan asuransi kesehatan bagi diri dan keluarganya.

Mari kita sambut dengan ceria hidup ini dan ucapkanlah syukur dan terimakasih pada Tuhan setiap hari atas semua yg telah kita miliki dan kita bisa lakukan....

Sahabatku yang dirahmati Allah SWT,

Tersenyumlah selalu maka hidup ini akan menjadi jauh lebih indah dan penuh arti.

JADI SIAPAKAH SESUNGGUHNYA ORANG YANG LEBIH BAHAGIA MENURUT KISAH TERSEBUT DI ATAS ?

Ditulis ulang oleh
-ayah edy-
Pendiri Gerakan Membangun Indonesia yang kuat dari keluarga
www.ayahkita.blogspot.com
www.ayahedy.tk